Apa Dong?

IMG_281928611502881

Hufff…

Yang kedua adalah mengenai memperlihatkan kemesraan kepada dunia

Sebelum memulai ini, aku ingin memperjelas, terserah apakah engkau percaya atau tidak, bahwa aku menulis ini tanpa ada perasaan iri sama sekali kepada mereka yang sudah berpacaran. Benar, aku tidak sedang berpacaran tetapi aku sadar bahwa hal ini merupakan yang terbaik bagiku dan aku benar-benar bahagia menjalaninya. Status single, bagiku, sama sekali bukanlah hal yang rendah atau layak membuat seseorang merasa malu. Sebaliknya, keadaan ini merupakan hal yang patut disyukuri dan dinikmati. Status single juga merupakan suatu kesempatan yang luar biasa besar, untuk merencanakan dan bahkan melakukan hal-hal paling indah, istimewa, dan bersejarah dalam kehidupan seseorang.

Oh iya, sebelum aku lupa, aku ingin mengingatkan kita semua, kalau-kalau ada yang lupa atau tidak sadar, bahwa pacar bukanlah suami atau isteri dari seseorang. Status pacaran belum tentu akan berakhir di pelaminan. Semoga peringatan ini membuatmu tidak terlalu menganggap tulisanku berikut ini sebagai omong kosong.

Baiklah, aku akan melanjutkannya kembali dengan pertanyaan:

Mengapa kau melakukannya?
Apa gunanya orang lain melihat kemesraan atau perasaan cintamu kepadanya?
Bagaimana jika ada orang yang begitu sedih dalam kegalauannya melihat foto kemesraanmu?

Bukankah kau punya hal lain yang lebih berguna dan membangun orang lain untuk kau publikasikan?
Mana yang lebih baik, mempubliskasikan cintamu kepadanya, atau cinta Tuhan kepada dunia?
Mana yang lebih baik dan yang mana yang justru kau lakukan?

Aku yakin beberapa orang akan berpikiran bahwa mempublikasikan kemesraan dengan pacar dapat mengerjakan kebaikan kepada orang lain. Mungkin mereka berkata, “kami hanya memperlihatkan kasih di antara kami, bukankah kasih adalah hal yang baik untuk dilihat orang?”. Mungkin beberapa juga akan berpikir, “toh aku yakin bahwa dia akan menjadi suami/isteriku, jadi apa salahnya memperlihatkan kemesraan dan kisah cinta kami?”

Jika ada orang yang berpikir demikian untuk membenarkan perilakunya, aku punya pertanyaan:

Kalau memang Anda yakin bahwa memperlihatkan kemesraan dan kisah cinta adalah hal yang membangun orang lain, dan kalau memang Anda yakin bahwa dia akan menjadi pasangan hidup Anda, siapkah Anda terus menerus mempublish dan mengupdate kemesraan itu di dunia maya sampai Anda tua nanti? Harusnya siap dong, kalau kemesraan saat pacaran saja baik untuk dilihat orang, seharusnya kemesraan saat pernikahan justru lebih baik dan layak dong buat dilihat orang-orang di facebook.

Dan siapkah Anda untuk tidak hanya memperlihatkan momen-momen mesra saja, tetapi juga momen-momen sedih atau pertengkaran kepada dunia maya? Harusnya siap dong, kan momen sedih dan perselisihan juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam kisah cinta dan juga bisa jadi pelajaran/hikmah buat orang-orang yang melihatnya di facebook. 

Bagaimana engkau mencoba menjawabnya? Aku yakin engkau pasti tidak akan mau terus menerus mem-publish kemesraan itu. Suatu saat kau pasti akan merasa lelah dan merasa tidak harus, bahkan tidak perlu untuk mempublikasikannya. Dan aku yakin, kau pasti akan sampai kepada kesimpulan bahwa orang-orang juga pada hakikatnya sangat tidak perlu melihat kemesraanmu di home facebook mereka. Aku juga yakin bahwa kau pasti tidak akan mau memperlihatkan kepada dunia momen-momen di mana engkau berselisih paham atau bertengkar. Kau mungkin berpikir bahwa hal yang “baik” (belum tentu “benar”) untuk dilihat orang hanyalah momen-momen mesra.

Dan itu semua mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa:
Kemesraan bukanlah hal yang sepatutnya dipublikasikan baik sebelum atau setelah menikah

Hentikanlah mempublikasikan kemesraan masa pacaran karena itu akan berakhir sia-sia.
Sekali lagi, dia hanya pacar, bukan suami/isterimu.

Suatu saat nanti kau akan lelah dan berhenti mempublikasikannya. Jadi mengapa harus menunggu sampai nanti untuk mengakhiri hal yang akan menjadi kesia-siaan? Akhirilah kebiasaan itu sekarang dan sebagai gantinya, sebarkanlah hal-hal yang lebih berguna.

IMG_206766773130877

Aku tidak mengatakan bahwa mempublikasikan kemesraan adalah hal yang buruk atau negatif
Aku juga tidak mengatakan bahwa hal itu adalah hal yang baik atau positif
Tetapi aku yakin bahwa itu adalah hal yang tidak perlu
Dan hal yang tidak perlu biasanya, jika dibiarkan, akan lebih cenderung mengarah ke hal negatif

Aku memang tidak sedang berpacaran, tetapi aku punya saran untuk mereka yang sedang berpacaran. Jika engkau benar-benar mengasihi dan mencintai dia, ujilah rasa itu dengan menguji kemampuanmu mengendalikan diri untuk tidak mengumbarnya ke hadapan media dan dunia. Biarlah kesucian cintamu teruji dalam kemampuan untuk mengumpulkan, memadatkan, mengemas rapat-rapat, kemudian mempersembahkan cinta itu hanya kepada dia seorang dan tidak membaginya kepada mata-mata yang tidak perlu melihatnya. Jika engkau tidak bisa menahan keinginanmu untuk memperlihatkan kemesraanmu kepada dunia, kau patut menguji lagi kemurnian dan ketulusan cintamu.

Aku yakin bahwa tidak menggembar-gemborkan kisah cinta,
merupakan salah satu tindakan paling penuh penghormatan kepada pasangan hidup kita kelak

Before you speak and/or publish, THINK:
T – Is it True?
H – Is it Helpful?
I – Is it Inspiring?
N – Is it Necessary?
K – Is it Kind?

Amsal - Pengetahuan

Baiklah, aku akan segera mengakhirinya. Terima kasih karena sudah membaca sejauh ini. Kau bebas untuk setuju atau tidak kepada apa yang kusampaikan. Yang pasti, sejarah akan menunjukkan kebenarannya pada akhirnya. Beberapa orang mungkin akan merasa kesal dengan penuturanku ini dan sebagai upaya konfrontasi, akan segera mempublikasikan kegalauan atau kisah kemesraannya dengan lebih intensif.

Jika kamu, yang sedang membaca setiap deretan huruf ini, berniat melakukan hal itu karena muak terhadap celotehanku, kumohon, jangan biarkan dirimu diliputi amarah. Dan ketahuilah, aku bukanlah musuhmu. Tuhan mengasihimu. Dia juga mengasihiku. Kasih itulah yang mendorongku untuk bisa mengasihimu sedemikian cukup untuk bisa “memaksaku” menggunakan waktuku untuk menulis ini. Aku tidak berniat menyerang siapapun melalui ini, sebaliknya, aku rasa inilah hal yang baik untuk kita renungkan. Adapun, kekurangan dan kelemahan dalam penyampaianku ini, semua berasal dariku, manusia yang lemah dan tidak sempurna ini. Tetapi apa yang baik, pastilah itu dari Allah.

Kasih-Nya memampukan manusia untuk bisa mengasihi. Mari kita saling mengasihi dan dengan kasih itu, kita perbaiki diri kita, lalu… mari kita ubah dunia ini.

Dan terakhir…
Janganlah bermegah karena dirimu, karena pasanganmu, atau hubunganmu.
Jikalau kita hendak bermegah, maka bermegahlah hanya dalam satu hal ini:
Salib Tuhan kita, Yesus Kristus

Ayat - Galatia

Semoga Tuhan menuntun kita selalu
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Apa Sich?

Dengan menulis ini aku sadar bahwa aku sedang menempatkan diriku pada posisi yang akan membuat beberapa orang, yang mungkin itu banyak, untuk tidak menyukai pendapatku. Mungkin engkau akan merasa aku seperti menggugatmu. Mungkin engkau akan segera tersinggung dengan apa yang kupikirkan. Mungkin engkau akan menduga bahwa tulisan ini khusus kubuat untuk satu orang yang adalah dirimu dan itu membuatmu memikirkan apa yang tidak baik mengenai aku. Mungkin engkau akan segera keluar dari blog ini dan bersumpah tidak akan membukanya lagi.

Tidak apa. Sungguh aku tidak keberatan mengenai itu. Tapi ketahuilah bahwa aku tidak bermaksud menulis ini untuk menyerang orang-orang tertentu. Aku tidak menulis ini untuk merendahkan siapapun. Tapi aku menulis ini dengan kasih, yang aku yakini selain mengandung kelembutan, juga mengandung ketegasan yang kuat di dalamnya. Aku menulis ini dengan kebenaran, yang aku tahu bahwa jika aku hendak menguji kebenaran itu, aku harus memulainya dengan memberanikan diri untuk dibenci saat mengumandangkan kebenaran itu. Dan terakhir, aku menulis ini karena aku masih memiliki kesempatan untuk mengakses dunia maya, dan aku yakin aku sedang menggunakan kesempatan ini dengan cara yang lebih baik dibanding jutaan orang di luar sana yang menggunakan kesempatan yang sama denganku hanya untuk mempublikasikan sesuatu yang tidak berguna bagi orang lain.

Baiklah, aku mulai…

Setidaknya ada 2 hal yang bertolak belakang yang membuat hatiku resah saat melihatnya di dunia maya. Hal pertama adalah ketika saudaraku seiman (dan mungkin akupun salah satunya), yang dengan cara apapun, baik secara langsung atau sedikit menjurus, yang hendak mengutarakan atau bahkan terang-terangan mengumumkan perasaan galau-nya mengenai teman hidup kepada dunia dan media. Dan hal yang kedua adalah ketika saudaraku seiman (aku tidak ambil pusing jika ini dilakukan oleh saudaraku yang lain), yang dengan metode apapun, baik secara langsung atau sedikit tapi jelas-jelas menjurus, yang hendak memperlihatkan kemesraannya dengan pacarnya, yang jelas-jelas belum tentu menjadi suami atau isterinya, juga kepada dunia dan media.

Bagaimana, apakah engkau mulai merasa aku menyerangmu? Apakah kau merasa tersinggung? Apakah sudah mulai muncul ide untuk tidak akan pernah lagi membuka blog ini? Apapun yang engkau rasakan saat membaca ini, percayalah ini bukan tentangmu. Ketahuilah hidup ini akan jauh terasa lebih ringan dan indah jika kita berhenti menganggap bahwa segala sesuatu adalah “tentang kita” atau “hendak ditujukan kepada kita”. Ketahuilah, walau kuakui aku belum bisa mengasihimu sedemikian besarnya, tetapi sungguh aku rindu agar bisa mengasihimu, dan siapapun, sebagaimana Yesus mengasihimu. Aku berharap itu juga yang sedang kau rindukan di dalam hatimu, mengenai siapapun.

Dan jika kau setuju, kita bisa melanjutkan kembali ini semua…

Yang pertama adalah mengenai mengutarakan kegalauan kepada dunia

Mari kita menjawab pertanyaan ini:
Mengapa kau melakukannya?
Apa pengutaraan kegalauanmu kepada publik mengerjakan sesuatu untuk kebaikan orang lain?
Apa yang kau ingin orang lain pikirkan mengenaimu tentang rasa galaumu itu?

Apakah dengan memberitahu bahwa kau sedang galau, orang-orang akan melihatmu lebih hebat?
Apakah kau ingin orang mengasihanimu seakan-akan kau kurang akan kasih?
Apakah kau ingin menarik perhatian seolah-olah kau kurang diperhatikan oleh Bapamu yang di sorga?

Ataukah kau hanya ingin bercanda?
Ataukah kau merasa bahwa tindakan itu adalah salah satu tindakan “menertawai diri sendiri” seperti yang orang-orang bijak maksud saat mereka berkata “menertawakan diri sendiri adalah awal dari hikmat”?

Jika kau menjawab “iya” untuk dua pertanyaan terakhir, kumohon, kau harus mengubah selera humormu dengan humor yang lebih mendidik dan berguna bagi orang-orang yang melihat dan mendengarnya. Dan itu juga bukan tindakan menertawai diri sendiri melainkan mengasihani (juga meminta dikasihani oleh orang lain) sekaligus merendahkan diri sendiri pada saat yang sama.

Aku tidak sedang menghakimi. Jujur, aku melakukan hal yang sama beberapa tahun yang lalu dan sungguh aku tidak menemukan alasan untuk tidak menyesali pekerjaan sia-sia dan bodoh itu. Ketika aku melihat jejak-jejak kebodohanku di facebook itu, aku mendapati diriku geleng-geleng kepala. “Bagaimana mungkin aku bisa segalau ini”, “bagaimana mungkin aku mencari perhatian orang dengan cara seperti ini”, “kok aku lupa yah pernah membuat status seperti itu di facebook“, itu adalah beberapa hal yang terlintas di benakku saat aku men-scroll FB-ku ke halaman yang berasal dari tahun-tahun terdahulu. Sungguh semua itu adalah kesia-siaan dan aku yakin jika kau, di masa yang akan datang, melakukan kilas balik sepertiku, kaupun akan menyesali diri karena pernah mengutarakan kegalauan yang tidak berguna itu. Oleh sebab itu, mari selamatkan beberapa waktu yang tersisa untuk tidak melakukan hal-hal yang pasti berujung pada kesia-siaan seperti itu.

Jangan utarakan kegalauanmu untuk menarik perhatian.
Jangan pernah merasa bahwa nilai dirimu akan meningkat saat melakukannya.
Jangan sekalipun berpikir bahwa hal itu bisa berguna dan membangun orang lain.

Jangan mengasihani dirimu dengan cara yang demikian.
Jangan mengharapkan orang mengasihanimu karena hal yang demikian.

Jika kau galau, jangan utarakan itu pada benda mati seperti facebook.
Jika kau galau, jangan utarakan itu pada kerumunan orang yang tak perlu tahu akan hal itu.
Jangan jadikan Tuhan sebagai pihak ke-sekianjuta yang mendengar kegundahanmu.

Jadikanlah Dia yang pertama untuk menjadi Teman curahan hatimu!

#Bersambung

Diam dan Tersembunyi

Pernah ada masa, di mana aku ingin menunjukkan kepada dunia, terutama kepada seseorang yang saat itu sedang aku sukai,
“aku sudah melakukan hal-hal ini” 
“aku mendapatkan ini dan itu”
“aku sedang berada di sini”
aku suka sama hal-hal ini loch, aku cute kan, aku pintar kan, aku gaul kan, aku so sweet kan
“rupaku sekarang seperti ini loch”
“coba tebak apa tempramenku”
“kalau dunia ini adalah film Harry Potter, menurutmu aku akan menjadi siapa”

Aku tidak ingin menjadi manusia munafik. Aku sadar bahwa, at some point, aku masih belum berbeda dari orang-orang normal di dunia ini. Dan sebagaimana menunjukkan-diri adalah sebuah kenormalan di dunia yang fana ini, aku tahu bahwa masih ada kecenderungan hatiku untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi kemudian aku sadar
Semua itu tidak benar-benar berguna bagi mereka
Mereka tidak benar-benar perlu untuk tahu seperti apa diriku sekarang
Itu tidak akan membangun mereka
Dunia tidak akan berakhir hanya karena tidak mengetahui update tentangku
Mereka tidak akan mati jika mereka tidak mengetahui hal-hal spesifik mengenai aku

Ketika aku mencoba untuk merenungkannya, aku mendapati diriku tidak bisa menemukan hal positif yang dapat kujadikan sebagai alasan untuk menunjukkan diriku, dalam hal ini di social media. Buat apa mereka tahu aku di mana? Buat apa mereka tahu, jika aku ada di dunia Naruto, maka aku akan menjadi tokoh siapa? Buat apa mereka tahu update tentang aku? Baiklah, aku rasa pertanyaan terakhir cukup layak untuk ditanyakan karena akan selalu ada masa di mana kita ingin ingin mengetahui kabar terbaru dari teman-teman lama kita yang kini telah jauh terpisah dari kita. Tetapi, kalau demikian kasusnya, kalau benar orang itu adalah teman yang berarti bagi kita, bukankah seharusnya update diri bisa dilakukan dari pribadi yang satu ke pribadi yang lain secara langsung? Bukankah itu bisa dilakukan dengan menelepon atau sms? Bukankah itu akan membuatnya lebih spesial dan sebagai hasilnya, akan lebih mengakrabkan dua teman lama? Jadi, buat apa update harus dilakukan melalui media sosial?

Aku rasa,  kecenderungan update diri di media sosial seperti itu tidak memberikan dampak apapun yang positif. Kalaupun ada, pengaruh positif yang ditimbulkannya pasti sangat kecil dan tidak signifikan dibanding potensi negatif yang bisa ditimbulkannya. Orang-orang akan merasa bahwa jika mereka eksis di dunia maya, maka mereka sudah benar-benar ada di realita. Tidak lagi diperlukan adanya tatap muka langsung selama masih ada kesinambungan dalam update status.

Orang-orang akan menjadi dahaga untuk menunjukkan dirinya. Orang-orang akan haus akan “like” dan lebih banyak lagi “like”. Orang-orang akan menjadi lebih senang jika dirinya dikenal sebagai orang yang berkarakter “Hermione” daripada dikenal sebagai dirinya sendiri. Kalau demikian kasusnya, kalau kecenderungannya lebih besar ke arah yang buruk, mengapa update diri semacam itu masih harus diteruskan?

Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk sekuat tenaga menahan segala keinginan untuk memperlihatkan. Sebelum aku benar-benar terlepas dari keinginan, sekecil apapun itu, untuk memperlihatkan diriku, apalagi jika caranya seperti itu, aku rasa aku belum benar-benar dewasa.

Mungkin dunia akan menyanggahku dengan pertanyaan:
“bagaimana jika seisi dunia berpikiran sama denganmu?”
“bagaimana jika tidak ada orang yang meng-update atau mem-publish keberadaannya?”
“bukankah itu akan membuat dunia maya menjadi sangat sepi?”
“bagaimana aku bisa tahu kabar teman-temanku saat ini?”
“bagaimana aku bisa menunjukkan kepada orang yang kusukai tentang seperti apa aku sekarang?”
“bagaimana aku bisa tahu update dari orang yang aku sukai saat ini?”
“ah, sepiii….!!!”

Itulah pertanyaan yang juga kutanya pada diriku. Kalau dipikir-pikir, benar juga, dunia mungkin akan terasa lebih sepi andaikan saja tidak ada social media di dunia ini. Coba kau bayangkan bagaimana dunia ini jika tidak ada Facebook, Twitter, atau media sejenis!

Tetapi kemudian aku tersadarkan. Justru kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu adalah bukti bahwa dunia ini tidak sedang benar-benar merdeka. Namanya saja sudah dunia maya, bukan realita, perlakukanlah itu sebagai dunia maya. Mengapa harus menderita tanpanya? Mengapa harus merasa begitu susahnya untuk mengendalikan diri terhadap godaan untuk menunjukkan diri melalui media? Kalau kita yakin bahwa kita benar-benar sudah dimerdekakan, maka tunjukkanlah kualitas hidup layaknya seorang yang benar-benar merdeka dari hal apapun yang fana.

Ujilah segala sesuatu, termasuk diri kita sendiri
Mari kita tes kedewasaan kita, kemampuan kita untuk mengendalikan diri
Mari kita tes pertumbuhan kita, kemampuan kita untuk melepaskan dan merelakannya
Selama kita masih menderita tanpanya, kita masih belum merdeka sepenuhnya

Keluarlah dari belenggu “menampilkan diri
Jika kita masih terus mengikatkan diri padanya, kita tidak akan pernah bertambah dewasa
Jangan penjarakan diri di level yang rendah seperti itu
Sebab pada level di atas sana…
Masih ada sangat banyak hal indah dan tugas yang lebih besar sedang menanti

Jika tidak ada hal baik yang bisa kuberitakan…
Jika cerita yang ada di kepalaku hanyalah cerita tentangku…
Lebih baik aku diam dan tersembunyi
Lebih baik orang-orang tidak tahu update mengenai diriku
Daripada tindakankan itu hanya akan mengalihkan pandangan mereka kepada kepadaku
Padahal yang seharusnya mereka lihat adalah Allah

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, 
pikirkanlah semuanya itu…
# Filipi 4 : 8

Tuhan Yesus memberkati

What Makes You A Coward

Bryce  : Juli, can I talk to you? It was wrong, what Garrett said. I know it.
Juli     : Did you know it was wrong when he said it?
Bryce  : Yeah. I wanted to punch him. But we were in the library.
Juli     : So instead you just agreed with him and laughed. (penekanan kutambahkan)
Bryce  : Yeah
Juli     : Then that makes you a coward.

Dikutip dari: Flipped
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Membicarakan orang lain di belakang, adalah satu hal yang sangat sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kita bekerja. Dalam pekerjaan, kita bekerja di dalam tim yang terdiri dari lebih dari satu orang. Orang-orang di dalam tim itu tentu saja tidak berdiri sendiri, mereka berinteraksi dengan pihak lain.

Dan seperti yang sudah kita pahami selama ini, pikiran orang-orang sungguh luar biasa beraneka ragam. Tidak jarang kita bertemu, bahkan bekerjasama, dengan seseorang yang betul-betul berbeda dalam hal pemikiran dengan kita. Apa yang membuat kita sangat panik, mungkin menjadi satu hal yang sangat biasa bagi dia dan sebaliknya, apa yang begitu membuat dia marah, bisa jadi tidak berpengaruh apa-apa di hati kita.

Dan hal itu yang seringkali kutemui dalam pekerjaanku. Akan selalu ada orang-orang yang tidak terima, bahkan cenderung tidak menyukai orang yang lain. Dan jika kau berada di dekat orang yang seperti ini, hampir dipastikan kau akan, dan mungkin mau tidak mau harus mendengarkan semua keluh kesahnya.

“Kenapa sih dia begini.”
“Kok bisa sih orang kayak gitu jadi manager.”
“Aneh banget orang itu, jadi bos kok ga tegas.”
Dan lain sebagainya

Di satu sisi, mungkin keluh kesahnya wajar, masuk akal, dan manusiawi. Tetapi itu semua, apapun alasannya, tetap saja merupakan tindakan membicarakan orang lain di belakang orang itu. Dan itu bukanlah tindakan yang bijaksana.

Kini pertanyaan besarnya, jika hal itu terjadi padamu, jika kau harus mendengarkan celotehan dan keluh kesah dari seseorang tentang orang lain yang juga kau kenal, apa yang akan kau lakukan?

Aku pernah gagal di masa lalu. Aku meladeni keluh kesahnya dan malah jatuh ke dalam dosa menggosip. Semua itu kulakukan, sadar tidak sadar karena aku ingin bisa diterima oleh rekan yang berkeluh kesah ini. Tetapi Tuhan menegurku dan sejak saat itu aku hidup dalam kesadaran penuh bahwa aku tidak boleh lagi menggosip.

Sayangnya, aku masih jauh dari sempurna. Jika dibandingkan dengan penggalan film di atas, aku masihlah seorang pengecut. Aku memang sudah tidak lagi menggosip (sesungguhnya aku masih terus belajar) tetapi jika ada orang yang datang padaku untuk menceritakan orang lain di belakang, aku hanya bisa mendengar dia, mungkin mengangguk beberapa kali dan tertawa. Aku tidak menggosip, tetapi sayangnya, apa yang kulakukan tetap saja mendukung orang itu untuk menceritakan kejelekan orang lain.

Ah, aku masihlah pengecut

Tetapi tidak akan kubiarkan perenungan malam ini berlalu begitu saja
Mulai dari detik iniaku harus naik level
Aku harus hidup di dalam kesadaran penuh bahwa aku tidak boleh mengulang hal itu
Aku tidak boleh meladeni segala bentuk gosip dan obrolan “di belakang”
Aku tidak boleh lagi mendengar, mengangguk, dan tertawa dalam menanggapi semua itu

Jika aku tidak sanggup menghentikan gosip itu
Lebih baik aku pergi dari hadapan si penggosip

Ah, aku tahu ini tidak akan mudah
Oh Tuhan, pimpinlah langkahku
Sebab ku tak dapat jalan sendiri

Menjadi Berbeda

Menjadi Berbeda

Then the disciples went out and preached everywhere, and the Lord worked with them
and confirmed his word by the signs that accompanied it.

~ Mark 16 : 20 (NIV)

Satu hal yang sangat penting di dalam kehidupan ini
Konfirmasi

Kita bisa memikirkan ide sehebat apapun
Kita bisa menyampaikan gagasan sejelas dan sekuat apapun
Tetapi tanpa konfirmasi, semua itu akan berujung pada kesia-siaan

Tanpa konfirmasi, tidak akan terjadi perubahan
Konfirmasi-lah yang meneguhkan ide yang kita hasilkan dan pesan yang kita sampaikan
Dan konfirmasi itu akan nyata dalam suatu tindakan

Zaman Alkitab adalah zaman yang penuh dengan mujizat fisik yang Allah lakukan, baik melalui Diri-Nya sendiri maupun melalui orang-orang yang diutus-Nya. Pada firman kali ini, kita tahu bahwa para murid diperlengkapi oleh Allah untuk melakukan berbagai macam mujizat sebagai tanda-tanda mereka. Tanda-tanda itulah yang menjadi peneguhan di mata orang Israel, bahwa murid-murid Kristus itu adalah orang-orang yang berbeda.

Mungkin sebagian dari kita berpikir, mengapa orang-orang percaya zaman ini tidak bisa melakukan mujizat fisik seperti yang dilakukan oleh para murid. Sebagian lagi bahkan mungkin berpikir bahwa jika kita tidak bisa melakukan semua itu, maka sesungguhnya kita belum percaya kepada Kristus. Bagaimanapun orang-orang akan berpikir mengenai itu, bagiku, Tuhan akan melakukan apa yang harus Dia lakukan. Tuhan akan melakukan apa yang perlu untuk ditunjukkan sebagai peneguhan kepada orang-orang yang tidak percaya di masing-masing tempat dan pada masing-masing zaman.

Dan bagiku, orang-orang di zaman ini tidak lagi membutuhkan mujizat fisik seperti yang dibutuhkan oleh orang-orang tidak percaya di masa lalu. Dunia ini tidak lagi butuh untuk melihat 5 roti dan 2 ikan diperbanyak secara luar biasa, dunia ini tidak butuh lagi untuk melihat orang mati dibangkitkan, dunia ini tidak lagi membutuhkan badai diredakan, dunia ini tidak lagi butuh untuk melihat kejadian-kejadian luar biasa yang Allah pertontonkan kepada mata dunia di masa lalu.

Kalaupun dunia butuh untuk melihat dan menikmati mujizat fisik itu, maka mujizat fisik itu haruslah kehadiran dari orang-orang yang berbeda. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang datang dengan kabar baik. Dunia ini memerlukan orang yang siap dibenci demi kebenaran yang dibawa dan disampaikannya. Dunia ini membutuhkan pebisnis, dokter, guru, pedagang, pemerintah, hakim, polisi, ilmuwan, seniman, insinyur, arsitek, siapa saja, yang takut akan Tuhan, mengutamakan kepentingan orang lain di atas kenyamanan pribadinya, dan yang benar-benar bisa diandalkan di bidangnya. Dan aku yakin, itu menjadi tanggung jawab dari orang-orang Kristen.

Orang Kristen harus hidup benar, sekalipun menjadi benar berarti hidup sebagai orang yang berbeda sepenuhnya. Itu bisa jadi harga yang mahal, pengorbanan yang besar. Tetapi hanya itu satu-satunya jalan untuk mengonfirmasi dan meneguhkan pesan Kristus yang kita bawa dalam segala tindakan kita, dalam setiap langkah kita, dan di setiap tarikan nafas kita. Menjadi berbeda, itulah konfirmasi kita di depan mata dunia.

Lakukanlah apa yang benar, jadilah baik, dan berbeda. Tetapi jangan habiskan waktu yang berharga ini untuk membuat orang-orang yakin bahwa kita adalah orang baik. Bagian kita hanyalah bertindak. Selebihnya, apakah hati orang-orang akan menyadari kebaikan kita atau tidak, itu adalah bagian dari Tuhan. Aku yakin, ketika kita melakukan bagian kita, Tuhanpun bekerja melakukan bagian-Nya, Dia akan membuka mata orang-orang di sekitar kita, dan membuat mereka sadar betapa berbeda namun indahnya kesaksian hidup dari orang-orang Kristen. Mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa mata dunia memandang kita. Jika itu kasusnya, janganlah kecil hati, tetapi yakinkanlah hati ini bahwa Allah PASTI akan melakukan apa yang PERLU untuk meneguhkan firman-Nya di hadapan orang-orang tak percaya.

Sekali lagi
Dunia tidak lagi membutuhkan mujizat yang terjadi di zaman Alkitab
Yang dunia butuhkan adalah mujizat dalam wujud orang Kristen yang hidup berbeda

Jadilah semangat
Jadilah berbeda
Mari kita konfirmasi kabar baik Kristus dengan tanda-tanda yang menyertai kita
Mari kita ubah dunia ini

Tuhan Yesus memberkati

Dunia, Ke Manakah Engkau Melangkah?

Dunia, Ke Manakah Engkau Melangkah?

Beberapa hari yang lalu aku mendengar berita yang sangat memilukan dari televisi
Berita ini seakan menarikku dari langit dan segera menghempaskanku ke dasar laut
Sakit sekali

Seorang anak kecil tega membunuh kakaknya sendiri dengan sebilah pisau dapur. Seakan berita buruk ini tidak cukup buruk, sang adik mengaku dia melakukan itu karena tidak terima diperlakukan semena-mena oleh almarhum sang kakak yang memukulnya hingga giginya putus hanya karena sang adik menolak untuk mengisi bak mandi yang akan dipakai oleh sang kakak.

Aku kaget
Aku terdiam
Aku kehabisan kata-kata
Mataku terbuka lebar-lebar
Dahiku mengerut

Aku tak ingat apakah saat itu mulutku terbuka atau tidak
Aku tidak tahu harus berpikir dan berkata apa saat itu
Yang jelas, aku hanya sempat terpikir:
“Aku malu menjadi manusia karena binatangpun tak akan melakukannya.”
“Aku telah gagal melakukan tugasku sebagai Orang Kristen.”

Aku rasanya ingin berteriak
Aku ingin menyalahkan
Tapi menyalahkan siapa?

Aduuuuhhhhh…
Oh dunia, ke manakah engkau hendak pergi?
Tak tahukah engkau bahwa engkau sedang berjalan ke arah kebinasaan?
Tapi aku terlalu mengasihi anak-anakmu untuk membiarkannya ikut hancur bersamamu
Aku harus menyelamatkan mereka

Celakalah dia
Yang mempertontonkan hal-hal tak mendidik tapi menyangka diri sedang menghibur
Yang menjadikan orang-orang kecil nan lemah ini tersesat
Celakah dia
Alangkah baiknya jika dia bertobat dan berbalik dari jalannya yang sia-sia

Tetapi aku
Aku harus melakukan bagianku
Aku harus menyelamatkan orang-orang ini dari kehancuran

Tapi bagaimanakah caranya?

Dignity

Belum lama ini aku mendengar kabar bahwa seorang adik “jadian”
Aku sangat mengasihi saudaraku yang satu ini
Dulu kami bersama-sama saat menjadi Pengurus PMK
Aku menjadi teringat bagaimana dulu kami sering berselisih pendapat mengenai perlu tidaknya Ibadah Jumatan PMK untuk tetap diadakan
Hahahaha… good times…

Pada tahun pertamanya, dia bukanlah orang yang aktif di PMK
Tapi demikianlah rencana-Nya, dia menjadi pengurus PMK
Kau tahu, aku sempat sangat kuatir bagaimana aku bisa mengayomi adik yang tampangnya brutal ini
Tapi semua berjalan begitu indah
Aku sangat bersyukur dia ada dalam kepengurusan kami
Aku tahu aku akan selalu bisa mengandalkan dia
Aku sangat mengasihinya sebagai seorang saudara

Dan demikianlah, kini dia, akhirnya, punya pacar kembali

Dan kala itu, aku sedang keluar untuk berjalan-jalan kecil sambil menikmati malam
Aku mengenang kembali masa-masa itu
Dan aku terpikir:
“Hahahaha, puji Tuhan banget yah De kau jadi pengurus.
Coba kalau nggak, ga bakal kau nongol di PMK, ga bakal kau muncul di sekre.
Dan mungkin kau ga akan pernah bertemu wanita yang kini jadi pacarmu”

Aku tersenyum, menikmati suasana malam dan kenangan masa lampau
Aku tak sengaja membiarkan pertahananku melemah, “pikiran itu” muncul lagi
Hatiku menjadi berat, dahiku mengerut, aku menarik nafas panjang
Pikiran itu muncul lagi
“Hufff… ya Tuhan… Kapan aku boleh punya pacar?
Kok sepertinya indah yah punya seseorang
Untuk kuperhatikan dan memperhatikanku
Untuk kunasehati dan menasehatiku
Kapan tiba giliranku?”

Aku melihat sekeliling, sepi, sunyi, senyap, remang, angin sepoi-sepoi
Aku terbawa suasana
Akal sehatku meredup
Dan hatiku berkata:
“Ayo kita buat suasana semakin menjadi melankolis dengan memandang indahnya bulan”

Dan aku setuju dengan apa yang hatiku katakan
Aku menengadahkan wajahku ke langit
Berharap suasana malam akan semakin indah dan melankolis
Sembari, tentu saja, mendengarkan alunan lagu yang mengalir indah di head set-ku

Kemudian sesuatu terjadi…

“Astaga… kenapa lagu ini?”

Saat aku mulai melihat bulan yang ada tepat di atas kepalaku
Pada detik yang sama, lagu yang terputar adalah “O Sacred Head Now Wounded” 

Lagu ini
Membangunkanku
Menghentikan denyut jantungku
Mengguncang tanah yang kupijak
Aku tahu, Tuhan ingin mengatakan sesuatu padaku melalui lagu ini

“Tuhan…. kenapa harus lagu ini?”

Aku bukan tipe orang yang sedikit-sedikit mengatakan “ini suara Tuhan” tetapi aku yakin tidak ada satupun hal yang kebetulan terjadi di dunia ini, termasuk kejadian kali ini. Lagu ini terputar tidak hanya di detik yang  sama saatku mulai menatap bulan. Lagu ini bahkan terputar sampai dua kali, hanya saja lagu kedua adalah versi choir-nya. Ini bukan kebetulan, aku mengeset media player-ku untuk memutar lagu secara acak. Terlalu kecil kemungkinan dua lagu dengan judul yang sama terputar secara berurutan dan kalaupun memang terjadi, mengapa harus di saat seperti ini?
Aku menolak untuk menganggap ini semua kebetulan
Tuhan pasti hendak mengatakan sesuatu padaku

“Tuhan tidak ingin aku larut dalam kegalauan”

Kau mungkin tidak mengerti apa yang kukatakan
Renungkanlah lagu ini dan kau akan mengerti
Aku begitu menyukainya
Lagu ini menjadi perenungan yang mendalam  tiap kali aku mendengarnya

O sacred head now wounded (Oh, Kepala yang suci kini terluka)
with grief and shame weigh down (dengan kesedihan dan rasa malu direndahkan)
Now scornfully surrounded  (Kini dengan cemooh dikelilingi)
with thorns thine only crown (dengan duri yang menjadi mahkota-Mu)

How pale thou art with anguish (Betapa pucat wajah-Mu dengan penderitaan)
with sore abuse and scorn (Dengan rasa sakit, siksaan, dan cemooh)
How does that visage anguish (Betapa wajah-Mu penuh kesedihan)
which once was bright as morn (Padahal sebelumnya bersinar seterang pagi hari)

What Thou, my Lord, has suffered (Apa yang Kau derita ya Allahku)
Was all for sinners gain (Semuanya adalah untuk orang-orang berdosa)
Mine, mine, was the transgression (Punyaku, punyakulah, semua pelanggaran)
but Thine the deadly pain (Tetapi mengapa Kau yang mengalami penderitaan mematikan itu)

Lo, here I fall, My Savior (Lihatlah di sini aku sujud ya Juru Selamatku)
‘Tis I deserve thy place (Akulah yang layak berada di tempat Kau disiksa)
Look on me with thy favor (Lihatlah aku dengan kasih-Mu)
Vouchsafe me to thy grace (Bersedialah memberikanku kasih karunia-Mu)

What language shall I borrow (Bahasa apakah yang harus aku pinjam)
To thank Thee, dearest friend (Untuk berterima kasih pada-Mu, ya Sahabatku)
For this Thy dying sorrow (Engkau menderita dan sekarat dalam kedukaan)
Thy pity without end?
(Engkau mengasihani dengan tiada berakhir)

O make me Thine forever (Oh, jadikanlah aku milik-Mu)
And should I fainting be (Dan aku akan bertekuk lutut menyerah)
Lord let me never, never (Allahku, jangan pernah biarkanku, jangan pernah)
Outlive my love to Thee (Meninggalkan kasihku pada-Mu)

Dan sambil aku memandang bulan yang sendirian di tengah gelapnya langit malam
Lagu ini kurenungkan sekali lagi
Dan suara dari hatiku berkata:
“Arnold, Tuhanmu di salib loch… Tuhanmu sampai mati di salib loch…
Renungkan itu baik-baik…
Tuhanmu rela mati dibunuh, disiksa tanpa kenal rasa kasihan…
Tapi mengapa kau masih mengasihani dirimu sendiri?”

Aku hanya bisa terdiam
Astaga, for God sake, apa yang sudah kulakukan?

Dia menjadi lemah supaya aku bisa kuat
Tetapi dengan kegalauan ini aku membiarkan diriku menjadi lemah

Dia diludahi, Dia ditampar, Dia dicambuk, Dia dihajar, Dia dibunuh
Dia tidak menyayangkan diri-Nya sendiri
Tetapi aku sempat-sempatnya mengasihani diriku sendiri yang tidak punya pacar

Dia memberikan nyawa-Nya untuk aku
Tetapi yang kuminta malahan “kapan aku bisa punya pacar?”
Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih

Dia melepaskan semua kehormatan-Nya di Golgota
Supaya aku beroleh kehormatan sebagai anak Allah
Tetapi dengan kegalauan ini, aku mencoreng citra seorang anak Allah
Itu bukanlah cara seorang terhormat mengisi waktu dalam hidupnya

Tidak, aku harus bangkit
Aku tidak ingin merendahkan arti pengorbanan dan kesakitan yang Dia alami
Aku harus bangkit dan melayani Dia
Aku harus memperlihatkan kepada dunia betapa Allah-ku terhormat

Aku tidak ingin lagi mengasihani diriku sendiri
Seolah-olah kasih yang Dia berikan tidak cukup bagiku

Aku sudah ditebus-Nya
Aku diselamatkan-Nya
Aku dibenarkan-Nya
Aku dikuduskan-Nya
Aku diberikan-Nya kehormatan sebagai anak Allah

Aku harus membawa kehormatan itu kemanapun aku pergi
Aku harus membawa kehormatan itu dalam setiap masalah yang kuhadapi
Aku tidak akan merendahkannya hanya karena perasaan galau atau karena takut tidak bisa mendapatkan wanita yang kucintai

Aku bergumul tentang teman hidup?
Benar, teman hidup adalah karunia yang indah yang disediakan oleh Allah
Mengapa aku harus malu mengakui diriku menggumulkan karunia yang memang Tuhan sediakan?

Aku tidak akan malu mengakui itu
Tetapi camkan satu hal
Aku akan hidup terhormat bahkan ketika aku sangat tergila-gila pada seseorang
Aku akan menggumulkannya dengan kehormatan
Kehormatan sebagai anak Allah

Dignity
And far beyond mere dignity… It’s a dignity of being son of God…
I’m absolutely sure that it’s the bullet point of  being a better man 🙂

Dan untukmu Saudaraku
Jangan pernah mau menanggalkan kehormatanmu sebagai anak Allah
Hanya karena rasa sayangmu kepada seorang gadis
Apalagi karena perasaan galau

Dan untukmu Saudariku
Jangan pernah mau menanggalkan kehormatanmu sebagai anak Allah
Hanya karena rasa sayangmu kepada seorang pria
Apalagi karena perasaan galau

Dan jangan pernah berharap seorang anak Allah untuk menjadi bodoh,
untuk merendahkan dan mempermalukan dirinya,
untuk hidup layaknya orang yang tidak terhormat,
hanya karena kau menginginkan bukti bahwa dia benar-benar sayang padamu

Ingat, kau adalah anak Allah,
Pertama… hiduplah dengan terhormat!
Kedua…
Kalau kau ragu dia adalah anak Allah, jangan biarkan hatimu terbuka bagi dia

Tapi kalau kau yakin dia adalah anak Allah, entah kau akan menerima atau menolaknya,
maka perlakukanlah dia layaknya anak Allah!

Salam ^___^