Ketika Allah Bekerja, Kita Bekerja

Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN;
kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri
, demikianlah firman TUHAN;

bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!
(Hagai 2: 5-6)

~~~

TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda,
dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar,
dan semangat selebihnya dari bangsa itu
,

maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.
(Hagai 1:14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dua firman di atas nampaknya menunjukkan suatu kontradiksi. Di satu bagian dikatakan bahwa TUHAN memerintahkan Zerubabel dan rekan-rekannya untuk menguatkan hati mereka (Hagai 2: 5-6). Namun, di bagian lain, dikatakan bahwa TUHAN-lah yang menguatkan hati Zerubabel dan rekan-rekannya (Hagai 1:14). Jadi, bagian manakah yang benar? Apakah mereka yang menguatkan hati mereka ataukah TUHAN yang menguatkan hati mereka? Bukankah kedua hal ini menunjukkan kontradiksi di dalam Alkitab? Tidak, kita percaya bahwa firman Allah itu sempurna (Mazmur 19:8, Yakobus 1:25) dan di dalamnya tidak terdapat kontradiksi. Justru sebaliknya, kedua firman ini menunjukkan kepada kita realita pekerjaan Allah di dalam hidup umat-Nya.

Ketika Allah menciptakan alam semesta ini, menebus dosa manusia dan menganugerahkan kelahiran baru, serta menciptakan dunia yang baru kelak, Ia bekerja seorang diri, tidak seorangpun menjadi asisten-Nya dalam karya-karya tersebut. Namun, hampir di seluruh karya-Nya yang lain, Ia selalu bekerja bersama-sama dengan umat-Nya. Hal ini tidak berarti bahwa Allah bergantung kepada manusia, melainkan bahwa Ia begitu mengasihi umat-Nya dan Ia ingin mendatangkan kebaikan bagi mereka melalui partisipasi aktif mereka di dalam karya-karya yang Ia kerjakan di dunia ini (Roma 8:28).

Hal itulah yang ditunjukkan di dalam kedua firman yang sekilas nampak bertentangan ini. Memang benar bahwa Zerubabel dan teman-temannya menguatkan hati mereka. Namun, sama benarnya dengan itu, TUHAN-lah yang menguatkan hati mereka dan menggerakkan mereka. Inilah keindahan karya Allah; Ia tidak bekerja seorang diri dan membiarkan umat-Nya berpangku tangan, namun Ia juga tidak duduk diam saja di sorga dan membiarkan umat-Nya melakukan seluruhnya dengan hikmat dan kekuatan mereka sendiri. Ketika Allah bekerja, Ia menggerakkan umat-Nya untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, ketika Allah bekerja, umat-Nya pun bekerja bersama-Nya, itulah cara Allah bekerja.

Itulah juga yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam ayat yang cukup terkenal, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12-13)”. Inipun merupakan perintah yang aneh sebab Paulus mendorong kita untuk mengerjakan keselamatan kita namun di kalimat yang sama ia menegaskan bahwa sebenarnya Allahlah yang mengerjakan semua itu di dalam diri kita. Jadi, siapakah yang bekerja, kita atau Allah? Kini kita tahu jawabannya, Allah bekerja dengan menumbuhkan kemauan dan kemampuan di dalam kita sehingga kita pun terdorong untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Kita bekerja karena Ia terlebih dahulu bekerja di dalam kita.

Bagaimanakah kita mengetahui bahwa Allah sedang bekerja di dalam dan melalui hidup kita? Kita dapat mengetahuinya melalui pekerjaan yang kita lakukan. Jika Allah bekerja, maka itu akan terbukti dengan kita turut bekerja. Jika kita tidak bekerja, maka itu membuktikan bahwa Allah tidak sedang bekerja di dalam atau melalui hidup kita.

Oleh sebab itu, sebagai umat Allah, kita tidak memiliki alasan untuk bermalas-malasan, tidak bekerja, tidak berdoa, tidak belajar, tidak berbuah, tidak melayani, putus asa, atau berlari dari masalah. Semua tindakan itu merupakan zona di mana Allah enggan untuk bekerja di dalam atau melalui hidup seseorang. Jika kita memilih untuk bermalas-malasan dan mengabaikan Allah, itu sama saja dengan kita secara sadar menjauhkan diri dari pertolongan dan karya-Nya di dalam hidup kita. Kita juga tidak dapat berpangku tangan di dalam hidup ini kemudian menganggap bahwa kita sedang menanti-nantikan pertolongan Tuhan. Tidak, penantian yang sejati akan Tuhan, sebagaimana kata Nabi Yesaya, tidak akan membuat kita pasif, melainkan akan memberi kita kekuatan baru dan membuat kita aktif (Yesaya 40:31).

Jadi bagaimana, apakah kita akan memilih zona nyaman dan zona aman kita yang pasif dan mengabaikan perintah Tuhan? Atau sebaliknya, kita akan datang kepada Zona Nyaman dan Zona Aman yang sejati, yaitu Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Matius 11:28, Yohanes 10:28-29). Di dalam Dia, tidak ada penantian yang pasif sebab Ia memanggil kita untuk mencari secara aktif Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6:33). Di dalam Dia, tidak ada pula kemalasan sebab Ia memanggil kita untuk bekerja dan menghasilkan buah bagi-Nya (Yohanes 15:16, Filipi 1:22).

Ibarat seorang pribadi memiliki roh dan tubuh, Allah kita adalah Roh dan kita semua adalah badan-Nya di dunia ini. Ibarat tubuh terdiri dari kepala dan anggota-anggota tubuh, Tuhan adalah Kepala (Kolose 1:18) dan kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya di bumi ini (1 Korintus 12:27, Efesus 4:16). Ia adalah Sang Kepala yang di dalam segala sesuatu bekerja dengan rancangan dan kehendak-Nya (Efesus 1:11) sementara kita adalah tubuh yang bekerja dengan taat dan bergerak sesuai perintah-Nya. Bukti bahwa tubuh menyatu dan terkoneksi langsung dengan kepala adalah jika tubuh itu bergerak sesuai dengan komando si kepala. Sama halnya dengan itu, bukti bahwa kita ada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita adalah jika kita bekerja seturut dengan kehendak-Nya yang bekerja di dalam kita.

Di dalam hidup-Nya di dunia ini, Tuhan Yesus Kristus memiliki satu moto hidup, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga (Yohanes 5:17).” Panggilan hidup kita adalah agar kita menjadi serupa dengan Dia (Roma 8:29). Oleh sebab itu, hendaklah moto hidup Tuhan Yesus ini menjadi moto hidup kita juga: Allahku bekerja sampai sekarang, maka akupun bekerja juga.

Lakukanlah sesuatu bagi kemuliaan nama Allah! Segala kemuliaan hanyalah bagi Dia. Amin.

Upah Oriented (5), “Bertahan”

Mungkin tidak ada kisah lain dalam Alkitab yang lebih kuat dalam menggambarkan “pengharapan akan upah” seperti Paulus membahasakannya. Aku mengajak kita semua merenungkan firman Tuhan berikut ini dengan lebih serius agar kita benar-benar bisa memahami bagaimana sesungguhnya memiliki pengharapan akan upah itu. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, jika kita memiliki cara pandang akan upah dengan benar dan tidak mengabaikannya, niscaya kita akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini.

Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan,
menguasai dirinya dalam segala hal.
Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana,
tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul

Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya,
supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
~ 1 Korintus 9 : 25-27


Dalam ayat ini Paulus menyampaikan setidaknya dua poin yang sangat tajam dan sangat perlu untuk kita camkan. Yang pertama, Paulus menegaskan: 
“aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya”

Dengan ini kita memahami bahwa iman seseorang tidak dibuktikan dengan seberapa lantang seseorang itu mengaku percaya, melainkan oleh bagaimana seseorang itu melatih dan menguasai dirinya untuk tetap berada di jalan Allah. Kita bisa saja mengaku percaya kepada Kristus tetapi sebelum hal itu terungkap dalam bentuk perbuatan dan pengendalian diri, tidak ada yang bisa membuktikan apakah iman yang kita miliki adalah iman yang menyelamatkan atau tidak.  Seperti kata Yakobus, iblis-pun percaya kepada Kristus tetapi walaupun percaya dia tetap tidak taat. Dari sini kita bisa memastikan bahwa iman yang tidak dinyatakan dalam ketaatan bukanlah iman yang benar.

Kita tahu bersama bahwa Paulus mengalami penderitaan yang luar biasa semenjak dia memutuskan untuk menjadi orang percaya dan memberitakan Injil. Dia bolak-balik masuk penjara, lima kali dicambuk, tiga kali didera (dipukul dengan tongkat), satu kali dilempari batu, tiga kali mengalami kapal karam, sehari semalam terkatung-katung di tengah laut, dan tidak hanya itu, dia kerap kali difitnah bahkan oleh sesama rekan pekerja. Pertanyaannya, dari mana orang ini bisa mendapatkan kekuatan yang sebesar itu untuk tetap bertahan, tetap bisa mengasihi, dan tetap bisa menjaga kekudusan hidupnya? Dan itulah yang menjadi poin kedua yang Paulus tegaskan:

“Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
…. supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Mungkin akan ada yang menggugat bahwa Paulus melakukan semua hanya karena dia ingin masuk surga, jika demikian Paulus pamrih dalam semua motivasinya. Mungkin ada banyak orang yang meyakini bahwa motivasi yang murni seharusnya hanya didasarkan pada kasih, dan bukan kepada upah. Aku juga berpikir demikian di masa yang lalu tetapi aku membaharui akal budiku setelah aku memahami bahwa kasih dan iman yang benar kepada Allah tidak boleh terlepas dari pengharapan akan upah yang sudah Ia sediakan.

Ketika seseorang memiliki kasih dan iman yang murni kepada Allah
dan mengharapkan upah yang jelas-jelas Tuhan sudah janjikan
maka orang itu akan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk bertahan dan menguasai dirinya

Bagaimana, apakah engkau mulai sependapat denganku? Jika engkau adalah orang yang dalam kesadaran penuh membuka blog ini (bukan dengan tidak sengaja) maka aku cukup percaya bahwa engkau adalah orang yang mengasihi dan beriman kepada Kristus atau setidaknya sedang ingin belajar untuk mengenal Dia. Kukatakan padamu, O dear friends, kau punya upah, upah yang besar di surga sana. Jangan rela menukarkan mahkota kehidupan, upah yang mulia itu, hanya dengan kenikmatan-kenikmatan semu dan sementara yang disajikan oleh dunia ini. Jangan mau seperti Esau yang hanya karena rasa laparnya rela melepaskan hak kesulungan yang menentukan sejarah dunia ini.

Jika penderitaan melandamu, bertahanlah, ingatlah bahwa semua ini hanya sementar dan kau punya upah yang menantimu di surga kelak. Jika dosa merayu dan menggodamu, kuasai dirimu, katakan dengan keras pada hatimu bahwa kau adalah anak Allah, seorang yang kelak akan beroleh mahkota kehidupan. Ketika kau tergoda akan dosa seksual dan segala manifestasinya, ingatkan dirimu, Tuhan sudah punya upah bagimu, seorang teman hidup yang mencintaimu. Dosa menawarkan kenikmatan, tetapi oh apalah artinya kenikmatan itu dibanding upah yang Dia sediakan?

Kasihilah Tuhan Allah-mu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatanmu
Bertekunlah
Taatlah
Latihlah dirimu dan kuasai seluruhnya


Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu,
karena besar upah yang menantinya.

Sebab kamu memerlukan ketekunan,
supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

30172
~Ibrani 10 : 35 – 38~

Upah Oriented (3), “Memandang”

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,
karena apabila sudah datang waktunya,
kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
~Galatia 6 : 9

Tuhan berbicara padaku dan meredakan kegundahan dalam hatiku. Ia mengingatkan kepadaku bahwa ada upah yang menantiku di surga. Dia membuatku kembali menyadari bahwa aku tidaklah berasal dari dunia ini. Aku berasal dari surga dan suatu saat aku akan kembali ke sana. Upah itu sudah menungguku di sana. Tetapi sebelum pergi ke sana, aku punya tugas yang harus kuselesaikan di dunia ini. Oleh sebab itulah aku harus bertahan dan tidak jemu-jemunya berbuat baik. Tuhan menguatkan hatiku dan berkata, “Semua ini hanya sementara.”

Semenjak hari itu, ada bagian dari hatiku yang berubah selamanya. Aku memandang upah ilahi dengan berbeda. Aku akhirnya sadar, tidak ada yang salah dengan mengharapkan upah. Perlu digarisbawahi bahwa mengharapkan upah tidaklah sama dengan menyogok. Banyak orang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan Allah akan menghapus dosanya atau supaya dia bisa masuk surga. Banyak orang memberikan perpuluhan supaya Allah memberikan berkat materi yang berkelimpahan. Banyak orang ingin menyogok Allah. Mereka meng-klaim berkat-berkat tertentu yang tidak pernah Tuhan janjikan sebelumnya, seperti kekayaan materi, kesehatan jasmani, dan kenikmatan-kenikmatan lain yang berfokus pada aspek jasmaniah.

Tetapi tidaklah demikian dengan mengharapkan upah. Berbeda dengan menyogok Allah, mengharapkan upah didasarkan pada iman. Dan iman yang benar pasti bersumber dari apa yang benar-benar Tuhan janjikan.

Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada,
dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
~ Ibrani 11:6

Tuhan Yesus-pun melakukan hal yang sama ketika Ia berada di dunia ini. Firman Tuhan dalam Ibrani 12:2 berkata, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia.”

Kristus harus menderita selama Ia melayani di bumi. Ia merendahkan hati, mengosongkan diri-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba bahkan taat hingga mati di atas kayu salib. Semua itu Dia lakukan dengan kesadaran penuh bahwa suatu saat nanti Dia akan ditinggikan, bahkan oleh Allah Bapa sendiri (Yohanes 17:5). Kristus tidak sedang menyogok Bapa-Nya. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh Bapa-Nya dan menjadikan semua itu sebagai kekuatan untuk-Nya bertahan sebagai manusia. Dia akan setia kepada Bapa dan menantikan upah-Nya, dimuliakan oleh Allah Bapa. Itu juga yang Musa rasakan seperti dicatat dalam Ibrani 11:26.

Itulah sikap hati yang sepatutnya dalam mengharapkan upah
Mengharapkan upah ilahi di dalam iman yang benar akan benar-benar memberikan kekuatan baru
Itu akan meneguhkan hati, menyegarkan jiwa, membangkitkan semangat
Serta memampukan seseorang melewati rupa-rupa pencobaan dan penderitaan di dunia ini

Di dalam setiap firman Tuhan, ada janji. Janji itu indah, janji itu mulia. Janji itu kudus, janji itu kekal. Bukan tanpa alasan mengapa Tuhan memberikan dan mengucapkan suatu janji kepada manusia. Janji itu ada supaya manusia tahu, benar-benar tahu, bahwa semua yang dijanjikan itu benar-benar sudah Tuhan sediakan. Janjji itu Tuhan kumandangkan supaya manusia mendapatkan kekuatan dan kepastian dalam janji itu. Dia sendiri menghormati keagungan janji-Nya, hendaklah kita tidak mengabaikan janji itu. Berimanlah kepada-Nya. Berimanlah bahwa janji-Nya akan ditepati. Dan karena Dia menjanjikan upah, maka percayalah dan kejarlah upah itu, biarlah janji dan upah itu turut menjadi kekuatan baru bagimu.

 

phil313

Upah Oriented (4), “Menanti”

Aku hanyalah manusia biasa seperti semua orang yang ada di dunia ini. Kecenderunganku sebagai daging adalah berbuat dosa dan memikirkan hal-hal yang jahat. Apabila ada sesuatu atau seseorang yang mengusikku, aku pasti akan marah atau merasa sedih, terlepas dari apakah aku akan mengekspresikannya atau tidak.

Secara jasmaniah, pastilah aku manusia biasa. Tetapi di dalam, aku berbeda. Tuhan sendirilah yang memberikan kesaksian tentang itu saat Dia berkata bahwa orang-orang yang dikasihi-Nya adalah lebih dari pemenang dan mereka memiliki Roh yang lebih besar dari semua roh yang ada di dunia ini. Roh Kudus, Allah sendiri, tinggal di dalamku dan menghasilkan buah pengendalian diri yang tumbuh di hatiku. Walaupun timbul keinginan jahat di benakku, Dia memampukanku untuk melawannya.

Di saat aku tidak ingin mengasihi orang-orang yang mengecewakanku, di saat aku ingin marah, di saat aku akan berbuat dosa, di saat aku ingin turut tertawa bersama rekan-rekanku yang sering sekali membawa guyonan seksual, Tuhan menghentikan diriku.

Dia mengingatkan diriku akan kemuliaan yang kelak akan dianugerahkan padaku.
Dia mengingatkan diriku akan surga yang adalah rumahku.
Aku tidak boleh sama dengan dunia ini.
Aku harus punya standar dan nilai yang berbeda.
Aku membangunkan diriku dan mengatakan bahwa aku punya upah di surga.
Puji Tuhan, aku tidak jadi melakukannya

Aku senang menonton film. Biasanya aku men-download beberapa film dengan internet yang relatif cepat di kosanku. Mungkin kaupun sering mengalaminya, kau melihat ada banyak sekali deretan film, ada yang kau tahu, ada yang tidak. Dan ketika kau mengarahkan pointer ke salah satu film, akan muncul sinopsis singkat. Dalam kasusku, aku sering sekali menemukan sinopsis yang di dalamnya ada satu kata yang sangat mudah terdeteksi, sex.

Sebagai seorang pria yang belum menikah apalagi yang punya internet kecepatan tinggi, aku berdusta kalau aku mengatakan bahwa aku tidak tergoda. Ini jelas bukan film porno, karena ini bukan situs porno. Aku bisa menonton film itu layaknya film Hollywood lain, sambil tetap bisa memuaskan rasa penasaranku, tanpa harus merasa bersalah secara berlebihan karena toh ini bukan film porno. Itu adalah alternatif yang menarik bagi kebanyakan pria yang mengikut Tuhan setengah-setengah. Kesetiaanku diuji di sini.

Butuh beberapa detik untukku bergumul dan berusaha menarik diri dari pencobaan seperti itu. Di satu sisi ada suara yang menegaskan kalau itu bukan film porno, lanjutkan saja sama seperti menonton film Spiderman, adegan lain anggap saja sebagai bonus. Di satu sisi suara lain terus menerus mengingatkan bahwa ketika aku meng-klik film itu sekali saja, aku akan semakin terjerumus, dan lama kelamaan aku tidak akan mampu lagi melepaskan diri darinya. Aku mungkin akan merasa puas sejenak tapi kesenangan itu akan segera disusul oleh penyesalan yang luar biasa dan malu yang teramat sangat tiap kali akan menghadap Allah dalam doa.

Dosa itu seperti singa lapar. Jika di dekatmu ada singa lapar, hal terbaik yang harus kau lakukan adalah menjauh sejauh dan secepat mungkin. Kau tidak boleh coba-coba melihat singa itu dari dekat karena dia pasti akan menangkapmu. Itu juga yang harus kita lakukan dalam menghadapi dosa seksual di media seperti ini. Ketika dia ada di sana, jangan berani-berani mendekatinya atau berharap ter-ciprat sedikit kenikmatan darinya. Melainkan kendalikanlah diri, kuasai emosimu, larilah sejauh dan secepat mungkin!

Kira-kira seperti itulah pertempuranku di masa silam. Tetapi ketika aku memiliki paradigma yang benar tentang upah, aku rasa pertahanan hatiku semakin kokoh. Ketika sekali lagi aku menemukan film semacam itu baru-baru ini, ketika aku membaca sinopsisnya dan menemukan kata “sex” tertulis di sana, ketika keteguhan hatiku sekali lagi dicobai oleh hawa nafsuku sendiri, suara dari hatiku kembali mengingatkanku akan mahkota kehidupan yang menjadi bagianku di sorga kelak. Aku tahu aku punya upah di surga dan aku tidak akan pernah rela menukarkan upah yang indah itu dengan sesuatu yang najis seperti film murahan itu.

Dan tidak hanya itu, masih ada upah lain yang memberiku kekuatan. Firman Tuhan berkata bahwa tidaklah baik bagi seorang manusia untuk seorang diri. Tuhan menyediakan seorang penolong, seorang teman hidup bagi masing-masing orang (kecuali beberapa orang). Dan dia-lah upah yang kunantikan itu. Ketika dosa seksual ini datang merayuku, aku menguatkan hatiku, aku mengingatkan diriku bahwa aku memiliki upah, seorang isteri yang cantik dan saleh yang akan mencintai dan mendampingiku. Dia akan menerimaku lengkap dengan kelemahanku, menasehatiku, menegurku, mendoakanku, tidak akan melepaskan tangannya dariku. Dan aku akan menguduskannya layaknya seorang iman. Aku akan menjaganya, mencintai dia dengan kasih yang berbeda dari kasih yang kumiliki untuk siapapun di muka bumi ini. Oh, itu adalah pemandangan yang sangat indah. Upah yang sangat berharga. Aku akan menjauhkan diriku dari dosa seksual ini dan kujadikan itu sebagai penghormatan bagi isteriku yang akan datang kelak.

Aku yakin kaupun, O dear friends, harus memiliki prinsip dan nilai yang demikian. Jika kau adalah lelaki, sama sepertiku, aku rasa sedikit banyak aku tahu pencobaan macam apa yang ditimbulkan oleh hawa nafsumu. Lawanlah itu, perangilah itu, jangan mau diperbudak oleh dosa seks. Pandanglah kepada Allah dan (mungkin) kau bisa meyakinkan dirimu bahwa ada seorang gadis yang saleh di luar sana yang sudah Tuhan persiapkan untukmu. Harapkanlah dia. Berdoalah agar Allah menjaga hatinya sehingga dia juga mampu menjaga kekudusannya. Berharaplah bahwa suatu saat kau akan dipertemukan dengannya. Kemudian berhentilah bersentuhan dengan dosa seksual. Hormatilah calon pengantinmu dengan cara menguduskan diri dari semua tontonan dan pemandangan yang jahat dan cabul.

Lagipula, tontonan seperti itu menodai citra lelaki dan perempuan yang sejak semula diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Mempertontonkan seks sama saja dengan menodai kehormatan semua wanita di muka bumi ini. Dan tidak lupa, tindakan yang tidak malu memperlihatkan seks di depan pihak lain adalah sifat alamiah dari binatang, bukan manusia. Puji Tuhan, aku tidak menontonnya, aku tidak jadi melakukannya

tumblr_m5dyuwvaBQ1r1o6z3o1_500

Sungguh, tidak ada yang salah dalam menanti upah yang memang sudah Tuhan janjikan. Yang salah justru adalah mengabaikan janji itu dan bersandar pada kekuatan diri sendiri dalam menghadapi setiap cobaan yang datang melanda.

Ada kekuatan di dalam janji-Nya
Ada pengharapan dalam upah yang Dia janjikan

Temukanlah kekuatan dalam janji-Nya akan upah itu
Sampai akhinya kau benar-benar menemukan upah itu sendiri

Upah Oriented (2), “Kesal”

Kurasa kau akan berkata dalam hati:
“Richard, kuharap kau punya penjelasan yang baik untuk mempertanggungjawabkan statement terakhirmu itu sebab aku rasa kau mulai tersesat dan terhanyut oleh nafsu dunia.”

Tersesat? Terhanyut oleh nafsu dunia? Mungkin semua ini ada hubungannya dengan itu. Aku, manusia biasa, di dunia yang jahat ini, sangatlah manusiawi jika aku tersesat dan terhanyut oleh tipu daya dunia.

Sebagian darimu mungkin sudah merasakannya, sebagian mungkin belum, yang jelas aku sedikit demi sedikit sudah merasakannya. Seiring bertambahnya usiaku, aku melihat semakin banyak hal di dunia yang kusebut “dunia nyata” ini. Secara sekilas mata atau secara cuek bebek, mungkin semuanya terlihat baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Tetapi apabila kau mengambil waktu sendiri untuk merenung sejenak, kemudian kau mencoba untuk menjadi peka dan sadar akan keadaan di sekelilingmu, mungkin kau akan sampai kepada kesimpulan yang sama denganku…

Dunia ini, dan anak-anaknya, begitu kejam, begitu mengecewakan
Apalah yang bisa diharapkan lagi dari dunia ini

Suatu hari, entah mengapa aku berada dalam keadaan hati yang paling sensitif. Aku merasa seperti ada beban dalam hatiku. Aku tidak terlalu menikmati cuaca hati seperti itu tetapi kusadari justru dalam keadaan demikianlah mata batinku berada dalam keadaaanya yang paling sadar. Aku memikirkan banyak hal, sangat banyak hal. Sayangnya, perenungan itu membawaku kepada kesedihan, dan lebih parah, keputusasaan. Saat aku menonton televisi, hatiku menjadi hancur.

Saat aku mendengar kabar-kabar kejahatan, aku berkata dalam hati:
“Orang ini kok tega banget membunuh manusia seperti itu?
Orang ini nampaknya sudah tidak ingin lagi diperlakukan seperti manusia.”

Saat aku mendengar kabar pejabat negara yang korup, aku mengeluh:
“Orang-orang rakus ini sudah menikmati upahnya, mereka tidak perlu lagi diampuni.”

Saat aku melihat gelagat para selebritis, aku lagi-lagi geram:
“Orang-orang bodoh ini tidak sepatutnya menjadi tontonan orang banyak.
Yang semestinya ditonton oleh orang adalah sosok-sosok inspiratif dan membangun.
Mereka berkata kasar, menyelipkan seks supaya terlihat lucu, mengucapkan opini seenak jidat
Mereka merusak moral tetapi menyangka diri menghibur orang banyak?
Orang-orang bodoh ini harus disingkirkan dari televisi.”

Saat tahu ada banyak satwa yang berturut-turut mati di suatu kebun binatang, aku kesal:
“Kumohon, apa yang dikerjakan oleh para officer di sana?
Orang-orang tidak becus seperti itu tidak layak mendapat penghasilan sebagai officer.
Pecat sajalah mereka.”

Keluhan demi keluhan mengalir dari hatiku. Tidak hanya dari apa yang kulihat di televisi, akupun tersiksa melihat apa yang ada di hadapanku sendiri. Bekerja di lapangan tidaklah senikmat kedengarannya, kau akan bertemu dengan banyak sekali warga setempat. Dan jika kau menemukan yang seperti kasusku ini, kaupun akan geleng-geleng kepala. Mereka menutup jalan, mereka mencegat, mereka membawa senjata, mereka mengancam, mereka menuntut ini itu, mereka melakukan banyak sekali hal yang jahat. Aku tidak habis pikir, mengapa orang desa bisa menjadi sedemikian malas, jahat, rakus, sombong, dan serakah seperti orang-orang ini.

“Hatiku sedih sekali, marah sekali, aku muak melihat dunia ini
Sedikit lagi dan aku akan benar-benar putus asa
Aku hampir-hampir tidak bisa mengasihi lagi
Dunia ini berindak seakan-akan mereka tidak layak dikasihi
Dunia ini bertindak seakan-seakan mereka tidak ingin dikasihi

Ya Tuhan, apa lagi yang Engkau harapkan dariku?
Panggil saja aku pulang
Aku sudah selesai dengan dunia ini
Percuma Engkau tahan aku di sini lebih lama lagi, aku tidak bisa melakukan apa-apa
Dunia ini tidak akan berubah

Cukup sudah
Aku tidak mampu lagi mengasihi
Aku tidak mau lagi mengasihi”

Itulah tangisan batinku. Tetapi syukur hanya kepada Allah, Dia selalu punya cara untuk menolongku. Dan kali ini, Dia melakukannya dengan membenahi cara berpikirku. Dia mengubah caraku memaknai satu kata itu, ya UPAH.

Upah Oriented

Aku menghabiskan sebagian besar dari masa hidupku selama ini dengan prinsip bahwa aku tidak boleh termotivasi oleh berkat dalam segala hal yang kukerjakan. Aku harus memberikan yang terbaik dari diriku setiap kali aku mengerjakan sesuatu yang hasilnya juga akan dikecap oleh orang lain. Aku tidak ingin setiap perbuatan baik kulakukan hanya karena aku mengharapkan Allah untuk memberkati atau memberikan pahala padaku. Aku tidak mau menyuap Allahku sendiri. Aku tidak boleh mem-post tulisan di blog atau membuat status di FB hanya karena aku mengharapkan beberapa orang untuk memberikan like-nya.

Prinsip itu juga kujunjung hingga dalam pekerjaan. Aku harus terus menerus memperingatkan diriku sendiri bahwa performa-ku dalam bekerja tidak boleh ada sangkut pautnya dengan besarnya gaji yang kuterima. Normalnya, orang-orang akan merasa layak untuk diberi gaji yang lebih besar atas kontribusi yang dia berikan kepada perusahaan. Jika perusahaan itu belum menaikkan gajinya atau tidak memberikan bonus, maka orang itu akan dengan sengaja menurunkan performanya dalam bekerja. Mereka akan berkata, “saya bisa bekerja lebih baik dari ini, tetapi saya hanya akan memberikan sebaik gaji yang saya terima”. Aku tidak akan menentang pemikiran mereka. Adalah hak mereka untuk berpikir demikian. Tetapi aku, aku punya prinsipku sendiri. Bagiku, apapun yang kulakukan, haruslah sebuah mahakarya. Ya, aku harus memberikan yang terbaik dariku, sesering yang aku bisa.

Aku tidak mau bekerja dengan baik hanya karena mengharapkan upah di baliknya

Itulah prinsip dan nilai yang kupegang selama ini. Aku cukup yakin bahwa hal yang sama juga menjadi prinsip dari beberapa orang di muka bumi ini. Aku menduga, kaupun salah satu orang yang memiliki idealisme yang sama denganku. Tetapi, O dear friends, apa yang sebentar lagi kubagikan kepadamu adalah bahwa aku telah berubah. Prinsipku telah berubah.

Kini aku termotivasi oleh upah