Allah sebagai Bapa Kita

Dan tiba-tiba sedang ia (Petrus) berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata:

Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya
dan mereka sangat ketakutan.

Lalu Yesus datang kepada mereka
dan menyentuh mereka sambil berkata:

Berdirilah, jangan takut!

Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. (Bacalah Matius 17:1-8)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Matt17_1_TransfigurationOfChrist_Bloch

Ini merupakan salah satu peristiwa paling megah di seluruh Alkitab, yaitu di mana hadirat Allah Bapa dapat dirasakan oleh indera manusia yang fana dan berdosa. Dalam hal ini, suara-Nya mampu didengar oleh Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Tidak biasanya Bapa berbicara secara langsung kepada manusia, apalagi di masa Perjanjian Baru. Alkitab mencatat hanya ada tiga peristiwa dalam era Perjanjian Baru di mana Allah Bapa berkata-kata dan suara-Nya terdengar. Peristiwa pertama adalah ketika Tuhan kita Yesus Kristus dibaptis di Sungai Yordan. Pada saat itu, langit terkoyak, Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati ke atas Tuhan Yesus kemudian Allah Bapa bersuara dan mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:13-17; Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:32-34).

Peristiwa yang lain hanya tercatat di dalam Kitab Injil Yohanes. Pada saat itu, Tuhan kita dan murid-murid-Nya sedang berada dalam kerumunan orang yang berangkat untuk merayakan hari raya Paskah. Tiba-tiba beberapa orang datang kepada Filipus dan mengatakan bahwa mereka ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Filipus kemudian menyampaikan hal itu kepada Andreas dan mereka berdua datang untuk menyampaikannya kepada Yesus. Mendengar hal itu, Tuhan Yesus memberikan respon yang aneh. Ia tidak secara langsung menanggapi apa yang disampaikan Filipus dan Andreas. Ia justru menjelaskan bahwa sebentar lagi Anak Manusia akan dimuliakan dan sebelum itu, Ia harus menderita. Ia berkata, “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara Bapa dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” (Yohanes 12:27-28). Orang banyak mendengar suara Allah itu namun banyak dari mereka mengira suara itu hanyalah suara guntur atau suara malaikat.

Peristiwa yang ketiga adalah peristiwa yang telah disinggung di atas. Peristiwa ini, di dalam pembahasan Alkitab atau teologi, banyak disebut dengan peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung. Pada saat itu, Tuhan kita mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus untuk naik ke sebuah gunung yang tinggi untuk berdoa. Sesampainya di atas gunung itu, seperti biasanya, Tuhan Yesus berdoa seorang diri sementara ketiga murid-Nya telah tertidur. Kemudian, Juruselamat kita berubah rupa. Wajah-Nya bersinar seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Itu merupakan fenomena yang sungguh luar biasa. Kemuliaan sorgawi terpancar dari Tuhan kita. Tak seorangpun dari kita dapat membayangkannya. Kemudian daripada itu, datanglah Musa dan Elia kepada Tuhan Yesus dan berbincang-bincang dengan Dia. Melihat hal itu, Petrus yang telah terbangun kemudian berbicara kepada Tuhan dan menawarkan kepada mereka sebuah kemah, masing-masing untuk Tuhan Yesus, Musa, dan Elia.

Dan selagi Petrus berkata-kata, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka. Jika kita mencoba membayangkan kejadian itu dengan lebih hati-hati, kita akan mengerti betapa menakutkannya momen itu. Namun, ada satu hal yang lebih menakutkan dibanding awan besar yang terang benderang. Dan itu adalah Allah yang bersuara dari dalam awan itu. Ia berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Kita mungkin tidak dapat membayangkan peristiwa itu dengan baik. Banyak di antara kita mungkin sama sekali tidak tergerak hatinya ketika membaca kisah ini. Tetapi apapun yang kita rasakan tiap kali membaca dan merenungkannya, firman Allah dengan sangat jelas mengatakan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya  dan mereka sangat ketakutan.” Alkitab mencoba mendeskripsikan kepada setiap kita betapa mengerikannya peristiwa itu bagi manusia biasa, seperti Petrus, Yohanes, dan Yakobus sekalipun mereka sudah sangat sering melihat hal-hal luar biasa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Itulah yang akan terjadi ketika manusia yang berdosa berhadapan dengan Allah Bapa. Peristiwa yang mirip juga terjadi ribuan tahun sebelumnya, yaitu ketika TUHAN memberikan Hukum Taurat kepada Bangsa Israel. Firman Allah mencatat bahwa pada saat itu bangsa Israel menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap menyertai hadirat TUHAN. Oh, betapa mengerikannya hari itu. Menyaksikan kedahsyatan TUHAN, umat Israel pun merasa sangat takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. Merekapun berkata kepada Musa, “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” (Keluaran 20:18-19).

Demikianlah firman Allah memberikan kesaksian tentang Allah Bapa kepada kita. Mengenai-Nya, Yohanes mencatat, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yohanes 1:18). Tuhan Yesus pun pernah berkata, “Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.” (Yohanes 6:46). Bahkan, Bapa sendiripun berkata kepada Musa yang ingin melihat kemuliaan-Nya, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” (Keluaran 33:20).

Itulah Allah Bapa. Ia adalah Satu dengan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus namun di dalam ekonomi Allah Tritunggal, Bapa memiliki atribut yang berbeda dalam hal keterpisahannya dengan umat manusia. Banyak orang telah melihat Tuhan Yesus, termasuk di dalam masa Perjanjian Lama. Abraham melihat-Nya di dekat pohon Tarbantin di Mamre (Kejadian 18) sebelum Ia membinasakan Sodom dan Gomora, Musa melihat-Nya di dalam semak duri di Gunung Horeb (Keluaran 3), Yosua melihat-Nya di dekat Yeriko sebagai seorang lelaki dengan pedangnya yang terhunus (Yosua 5), Yesaya melihat-Nya dan para serafimnya (Yesaya 6), bahkan Yakub bergulat dengan-Nya di seberang Sungai Yabok (Kejadian 32:22-32). Dan yang pasti, dalam kedatangan-Nya yang pertama dua ribu tahun yang lalu sebagai manusia Mesias, ada begitu banyak orang yang telah melihat, mendengar, memeluk, bahkan menyalibkan-Nya. Demikian pula dengan Roh Kudus. Di Sungai Yordan, Ia terlihat sebagai burung merpati. Di hari Pentakosta, Ia hadir dalam rupa lidah-lidah api. Keberadaan-Nya dapat dilihat secara fisik. Dan yang lebih luar biasa lagi, Ia kini tinggal di dalam setiap orang percaya (1 Korintus 6:19 dan 1 Yohanes 4:4) sekalipun mereka adalah orang-orang yang berdosa dan tidak layak.

Tetapi berbeda dengan Allah Bapa. Kala itu, Petrus, Yohanes, dan Yakobus telah hidup cukup lama bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Mereka percaya kepada-Nya (sekalipun iman mereka masih jauh dari sempurna). Mereka juga tentu telah disertai oleh Roh Kudus (Yohanes 14:17), sebab tak seorangpun dapat percaya kepada Tuhan Yesus tanpa Allah Roh Kudus. Namun, sekalipun demikian, ketika Allah Bapa datang dalam awan-Nya yang dahsyat dan ajaib dan berbicara kepada mereka dengan suara-Nya yang megah, mereka tersungkur dan sangat ketakutan, tidak berdaya sama sekali.

Sproul

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Untuk apakah semua pembahasan ini? Apakah ini benar-benar penting? Tentu saja. Tidak ada hal yang lebih penting, berharga, dan mendesak di dunia ini selain pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah merupakan prioritas utama bagi seluruh umat manusia, apalagi bagi orang Kristen. Namun, kita tidak dapat mengenal Allah sesuka hati kita. Kita tidak dapat mengenal Allah dengan cara-cara yang kita ciptakan sendiri. Kita tidak dapat mengenal Allah dengan berimajinasi atau membayangkan yang indah-indah atau yang lembut-lembut tentang-Nya kemudian memutuskan bahwa seperti itulah Allah. Tidak. Itu bukanlah pengenalan akan Allah. Itu hanyalah penyembahan berhala sebab kita menciptakan allah versi kita sendiri.

Jadi, bagaimanakah pengenalan akan Allah itu? Pengenalan yang sejati akan Allah harus selalu bermula dari firman-Nya (kemudian dengan doa dan hidup kudus, tetapi keduanya tidak akan dibahas di sini). Dan firman-Nya hanya ada di dalam Alkitab, bukan dalam kata-kata motivasi, bukan pula dari suara hati yang seringkali kita sangka adalah suara Tuhan. Ketahuilah, suara hati sangatlah mungkin menipu diri kita (Yeremia 17:9). Lagipula, siapa yang dapat menjamin bahwa suara hati itu tidak mungkin salah? Tak satupun orang Kristen dapat berkata bahwa “suara Tuhan” yang timbul di hatinya adalah kebenaran yang mutlak. Akan selalu ada keraguan di dalam hati kita mengenai mutlak tidaknya kebenaran yang suara itu sampaikan kepada kita. Tetapi satu hal yang pasti, semua orang Kristen yang sejati dapat berkata bahwa Alkitab adalah kebenaran yang mutlak. Tak satupun keraguan timbul di hati kita mengenai kebenaran yang Allah suarakan melalui Alkitab-Nya. Oleh sebab itu, biarlah kita pasti akan hal ini: Pengenalan yang sejati akan Allah harus selalu bermula dari apa yang Alkitab katakan dan bukan dari suara hati atau perasaan kita sendiri. Dan jika Alkitab menjelaskan Allah Bapa sebagaimana apa yang telah disinggungkan (walau hanya sedikit) di sini, maka hendaklah kita mengoreksi segala sikap dan pengertian kita yang salah mengenai-Nya dan mulai menghormati, menyembah, berdoa, dan memuliakan, mengenal, menikmati, dan mencintai-Nya sebagaimana apa yang dituturkan oleh firman Allah.

Itulah alasan pertama mengapa hal ini menjadi sangat penting bagi kita. Kita ingin mengenal Bapa sebagaimana adanya Dia, bukan sebagaimana yang kita bayangkan akan Dia. Namun, ada satu hal lagi, yang menurutku lebih penting. Mengapa kita perlu membenahi pemahaman kita akan Bapa melalui peristiwa Tuhan Yesus ber-transfigurasi dan ditinggikan di atas gunung ini? Dan inilah jawabannya:

Lalu Yesus datang kepada mereka
dan menyentuh mereka
sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!
(Matius 17:7)

Oh, itu merupakan salah satu peristiwa yang paling indah di dalam seluruh Alkitab. Janganlah terburu-buru membacanya. Cobalah membacanya kembali dan bayangkanlah apa yang terjadi saat itu. Dapatkah kau membayangkannya?

Dapakah kau membayangkan apa yang para murid pikirkan ketika Tuhan Yesus menyentuh pundak mereka?

Dapatkah kau merasakan apa yang Petrus, Yohanes, dan Yakobus rasakan ketika mereka mendengar suara dari Dia yang paling mereka cintai dan andalkan berkata kepada mereka:
Berdirilah, jangan takut!

Dapatkah kau membayangkan bahwa kau adalah salah satu dari mereka, kemudian kau mengangkat kepalamu, dan kau tidak melihat seorangpun kecuali Tuhan Yesus seorang diri Apakah yang akan kau lakukan jika kau adalah satu dari mereka? Kalau aku, aku akan langsung memeluk Tuhan Yesus dan berkata: “Waah, Tuhan. Tadi itu menakutkan sekali. Jangan jauh-jauh dariku, ya Tuhan.

Namun, kalaupun aku adalah satu dari mereka, aku yakin jawaban Tuhan Yesus padaku tetap akan sama. Ia tetap akan berkata kepadaku, “Jangan takut.”

Lihat dan dengarlah Dia. Bapa sendiri berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Bapa mau kita mendengarkan apa yang dikatakan Anak-Nya kepada kita. Lalu, apa yang dikatakan Sang Anak Allah kepada kita? Tentu saja, Ia berkata kepada kita, “Berdirilah. Jangan takut.” Apa artinya itu? Itu berarti bahwa Allah Bapa mau kita tidak takut kepada-Nya, dalam artian Ia tidak mau kita takut karena kita memandang-Nya sebagai Allah yang murka yang membenci dan menista kita serta ingin membinasakan kita.

Tidak. Ketakutan yang demikian tidak lagi perlu ada di dalam hati kita. Dahulu, sebelum kita benar-benar menjadi orang Kristen, kita sepatutnya merasakan kengerian yang demikian terhadap-Nya (tetapi itupun tidak kita lakukan karena kebutaan kita). Namun, setelah Allah membuka hati kita, dan melahirkan kita kembali oleh Roh Kudus-Nya, dan membuat kita percaya kepada-Nya melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita tidak perlu lagi takut kepada-Nya. Yohanes mencatat, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18)

Mengapa kita tidak perlu takut kepada Bapa? Jawabannya sungguh amat jelas. Kita tidak lagi perlu ketakutan terhadap Allah sebab Allah telah menjadi Bapa kita.

Paulus mengatakannya:
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi,
tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.
Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15)

Petrus bersukacita atasnya:
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Petrus 1:3)

Yohanes mencatatnya:

Ayat - Yohanes 1

Yudas, saudara Yakobus, meyakininya:
Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus, kepada mereka, yang terpanggil,
yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus. (Yudas 1:1)

dan yang lebih indah lagi,
Tuhan Yesus sendiri mengatakannya:

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku
supaya mereka sempurna menjadi satu,
agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku
dan bahwa Engkau mengasihi mereka,
sama seperti Engkau mengasihi Aku
.
(Yohanes 17:23)

Mengapa perkataan Tuhan ini sungguh teramat sangat luar biasa? Sebab di sini kita mendengar firman yang keluar dari mulut Tuhan kita sendiri bahwa:
Allah Bapa mengasihi kita sama seperti seperti Ia mengasihi Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus

Bukankah itu luar biasa? Bahkan paman kandungmu tidak akan mengasihimu dengan kasih yang sama seperti yang ia miliki dan berikan kepada anak kandungnya sendiri. Namun di sini kita mengerti, bahwa jika kita sungguh-sungguh telah terlahir kembali dari Allah, dan kita berada di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, maka sebagaimana Allah Bapa begitu mencintai Anak-Nya, demikianlah Ia akan mencintai kita dengan kasih yang sama.

Bukankah itu too good to be true?
Tidak. Bagi orang-orang percaya, itu tidak too good to be true.
Bagi setiap anak Tuhan, itu adalah truth.

Dan truth itu hanya akan menjadi milikku dan milikmu
jika kita ada di dalam The Way, The TRUTH, and The Life
dan Dia adalah Tuhan Yesus Kristus yang pernah berkata:

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
(Yohanes 14:6)

dan yang juga berkata kepada setiap orang percaya,

Berdirilah, jangan takut!

Apakah kau percaya kepada-Nya?
Apakah Dia adalah Tuhanmu?
Apakah Dia adalah Juruselamat yang menebus segala dosamu?

Percayalah kepada-Nya
dan kau akan diberikan mahkota sorgawi sebagai anak Allah bersama-Nya.

Packer

Amin

Memaknai Pentakosta dengan Kacamata Tritunggal

Memaknai Pentakosta dengan Kacamata Tritunggal

Ada banyak cara manusia mencoba menjelaskan Allah Tritunggal. Dan dari analogi-analogi yang manusia buat, hampir semuanya sangat tidak menggambarkan ketritunggalan Allah. Perlu kita ketahui bahwa bagaimanapun cara berpikir yang manusia miliki, mustahil manusia bisa menjelaskan Tritunggal secara sempurna.

Aku yakin bahwa sampai kapanpun manusia tak akan sanggup menjelaskan sistem luar angkasa dengan sempurna. Mustahil manusia bisa menemukan semua bintang yang ada di luar sana, menghitung jumlah satelit dan asteroid, mengetahui struktur atom dan komposisi kimia yang menyusunnya, dan lain sebagainya. Mustahil! Dan jika itu saja tidak sanggup manusia jelaskan, tentu saja mustahil manusia bisa menjelaskan dengan sempurna siapa Allah yang merupakan Pencipta dari semua itu.

Manusia bisa menerima kenyataan bahwa mereka tidak mengerti alam semesta
Tetapi tidak bisa terima dengan kenyataan bahwa Allah yang benar adalah Allah Tritunggal
Manusia merasa tak harus mengerti sepenuhnya kebesaran alam semesta
Tetapi manusia merasa harus mengerti sepenuhnya siapa Allah

Jika Dia tidak bisa masuk di akal dan nalarku, berarti Dia bukan Allah!
Karena Allah Tritunggal tidak masuk akal, berarti Dia bukan Allah!
Itulah manusia yang menyedihkan

Ada banyak cara manusia mencoba menjelaskan Allah Tritunggal. Dan dari sekian banyak analogi yang tidak sempurna tersebut, aku mendapati ada satu analogi yang menurutku paling mendekati realitas Tritunggal.

Firman Tuhan berkata bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Manusia merupakan cerminan dari Allah. Dengan demikian, apabila kita ingin mengetahui seperti apakah Allah Tritunggal itu, maka kita harus menyelidikinya pertama-tama melalui realitas manusia.

Esensi utama dari manusia adalah pikiran (HEAD) dan perasaaan (HEART). Sebenarnya, manusia jauh lebih detail dan rumit dibanding sekadar pikiran dan perasaan. Akan tetapi, anggaplah semua hal yang kompleks tersebut sudah digabung sedemikian rupa, kemudian dikemas, dan dipresentasikan ke dalam dua hal tersebut. Nah, jika esensi dari manusia adalah manusia itu sendiri, lengkap dengan head dan heart, dan jika realitas manusia menggambarkan realitas Allah, maka dapat kita simpulkan bahwa esensi dari Allah Tritunggal adalah Allah itu sendiri, lengkap dengan head dan heart yang ada pada-Nya.

Kini pertanyaan besarnya:
Seperti apakah head dan heart dari Allah?
Atau yang lebih tepatnya, SIAPAKAH ‘head’ dan ‘heart’ dari Allah?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Christ, The Head of Triune God

Pada mulanya adalah Firman;
Firman itu bersama-sama dengan Allah
dan Firman itu adalah Allah.
(Yohanes 1:1)

Kristus merupakan Firman Allah. Kristus merupakan Pikiran-Pikiran Allah. Allah Bapa tidak menciptakan Firman-Nya. Firman itu sudah ada bersama-sama dengan Bapa dari sejak semula dan Firman itulah Sang Kristus.

Kolose 1 : 15-16, berkata:
Ia (Kristus) adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung,
lebih utama dari segala yang diciptakan,
karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu,

Ayat ini merupakan ayat yang digunakan oleh Saksi Yehuwa untuk menentang keilahian Kristus. Mereka dengan salah menyoroti bagian “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,” dan memaknai ayat itu sebagai pernyataan bahwa Yesus merupakan ciptaan. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang ayat ini sampaikan. Kolose 1 ayat 15-23 justru merupakan salah satu bagian dalam Alkitab yang paling kuat menegaskan bahwa Yesus Kristus merupakan salah satu Pribadi dalam Allah Tritunggal.

Ayat ini mengatakan bahwa di dalam Kristus, Allah menciptakan segala sesuatu. Lalu, mengapa kita tidak menemukan nama Yesus Kristus disebut dalam proses penciptaan alam semesta yang tercatat dalam Kitab Kejadian? Jawabannya sederhana, yakni karena pada zaman Perjanjian Lama, nama Yesus adalah Firman Allah.

Ber-FIRMAN-lah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. (Kejadian 1:3)
Nah, apakah kau bisa menemukan Kristus dalam ayat ini?

Firman Allah, itulah Kristus Sang Anak Allah. Bagaimana orang-orang yang hidup di era Perjanjian Lama yang tidak mengenal siapa Kristus bisa menerima keselamatan? Aku percaya, jawabannya sama dengan keselamatan yang diperoleh oleh orang-orang pada masa Perjanjian Baru. Bedanya hanyalah orang-orang Perjanjian Baru mengenal Allah Anak dalam Yesus Kristus sementara orang-orang Perjanjian Lama mengenal-Nya sebagai Firman Allah. Barangsiapa percaya dan taat pada Firman Allah (Kristus), mereka akan menerima keselamatan.

Tentu saja baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, proses penganugerahan keselamatan tidak akan berlangsung tanpa Roh Kudus. Lalu siapakah Roh Kudus?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Holy Spirit, The Heart of Triune God

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa,
terbukalah langit dan TURUNLAH ROH KUDUS dalam rupa burung merpati ke atas-Nya.
Dan terdengarlah suara dari langit:
“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”
(Lukas 3:21)

Peristiwa Yesus dibaptis mungkin merupakan bagian dalam Alkitab yang paling mempertontonkan realitas Allah sebagai Allah Tritunggal. Ketika Yesus keluar dari air dan berdoa, Allah Bapa ber-FIRMAN dan Firman itu adalah tentang YESUS. Apakah kau menangkap apa yang kumaksud di sini? Tepat sekali. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting yang menggambarkan “Yesus sebagai Firman Allah”.

Lalu bagaimana dengan Roh Kudus? Pada saat itu, Allah berfirman bahwa Allah Bapa MENGASIHI Kristus dan berkenan kepada-Nya. Bersamaan dengan pengucapan firman tersebut, datanglah Roh Kudus dari langit dan turun ke atas-Nya. Akan aku ulangi pernyataan di atas dengan kalimat yang lain: Kasih Allah kepada Kristus dinyatakan-Nya melalui Firman dan melalui turunnya burung merpati.

Apa yang Allah hendak tunjukkan melalui peristiwa ini? Kehadiran Roh Kudus menunjukkan kasih dan perkenanan Allah terhadap Kristus. Tidak hanya itu, Roh Kudus juga menunjukkan penyertaan Allah. Hal ini dengan sangat jelas ditegaskan pada peristiwa pencobaan Kristus di padang gurun.

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan,
lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. (Lukas 4:1)
Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. (Lukas 4:14)

Roh Kudus merupakan Kasih Allah. Roh Kudus menunjukkan perkenanan dan penyertaan Allah yang mana keduanya berbicara tentang kasih yang Allah miliki untuk siapapun yang dikasihi-Nya. Roh Kudus adalah isi hati Allah. Roh Kudus merupakan Kasih yang menjalin relasi dalam persekutuan Allah Tritunggal. Roh Kudus merupakan Kasih yang Bapa miliki kepada Anak dan Roh Kudus merupakan Kasih yang Anak miliki kepada Bapa.

Allah adalah Kasih (1 Yohanes 4:8, 16).
Allah tidak menciptakan Kasih.
Kasih sudah ada sejak semula dan Roh Kudus-lah Kasih itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagi beberapa orang, pemahaman ini mungkin tidak bisa diterima.
Mungkin akan banyak yang berpikir seperti ini:

Jika: Kristus merupakan Firman Allah dan Roh Kudus merupakan Kasih Allah
Jika: Firman dan Kasih merupakan kata benda
Maka: Kristus dan Roh Kudus merupakan benda, energi, atau apapun selain Pribadi

Itu salah besar. Firman Allah dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa Kristus dan Roh Kudus merupakan Pribadi dan bukan sekadar energi yang keluar dari Allah seperti yang diyakini oleh aliran-aliran sesat, termasuk Saksi Yehuwa.

Pikiran manusia begitu sempit dan sangat sulit untuk out of the box. Jika Kristus merupakan Firman Allah dan firman merupakan kata benda, itu bukan berarti bahwa Kristus adalah benda, melainkan Firman itu TERNYATA merupakan Pribadi dan bukan benda. Sama halnya dengan itu, jika Allah adalah kasih dan kasih itu merupakan kata benda, bukan berarti bahwa Allah adalah benda, itu hanya berarti bahwa TERNYATA Kasih itu merupakan Pribadi dan bukan benda atau whatever. Lihatkan? Itulah mengapa aku tegaskan kata ‘ternyata’, sebab memang ternyata kita masih belum tahu apa-apa karena kita terlalu terperangkap dalam box berpikir kita yang sempit, kaku, tetapi sok tahu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lalu apakah maksud dari semua ini?

Implikasi dari ini semua adalah kita bisa mengerti sekarang bahwa di dalam realitas Keilahian kita bisa menemukan esensi dari kemanusiaan. Allah Tritunggal merupakan Pribadi Bapa dan Pribadi Anak (Firman Allah) dan Pribadi Roh Kudus (Kasih Allah). Allah Tritunggal ini kemudian menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sehingga terciptalah seorang manusia, lengkap dengan pikiran dan perasaannya.

Jika kita ingin MENGENAL Allah, maka kita bisa menemukannya di dalam Yesus Kristus sebab Kristus merupakan Firman Allah. Kristus merupakan perwujudan dari seluruh firman dan nubuatan yang ditemukan dalam Perjanjian Lama. Kristus juga merupakan esensi dari seluruh testimoni yang ditemukan dalam Perjanjian Baru.

*Jika kau ingin mengenal Allah, maka kenallah Kristus.
Jika kau ingin mengetahui isi pikiran Allah, maka lihatlah Kristus.

Kata Yesus kepadanya:
“Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?
Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;
(Yohanes 14:8-9)

Jika kita ingin MENGASIHI Allah, maka kita hanya bisa menemukannya melalui penyertaan Roh Kudus sebab Roh Kudus merupakan Kasih Allah.

Para murid telah mengenal siapa Kristus tetapi somehow mereka tidak mampu mengasihi Kristus sebagaimana mereka harus mengasihi-Nya. Sebelum Kristus naik ke sorga, Dia bertemu dengan Petrus. Dua kali Yesus bertanya apakah Petrus memiliki kasih agape (kasih yang terbesar) kepada-Nya dan dua kali Petrus menjawab bahwa Petrus mengasihi-Nya dengan kasih fileo (kasih dalam pertemanan). Pada pertanyaan ketiga, Yesus menurunkan standar-Nya dan menggantinya dengan bertanya apakah Petrus memiliki kasih fileo kepada Kristus. Mendengar Yesus mengganti pertanyaannya, dari kasih agape menjadi kasih fileo, Petrus akhirnya sadar. Dia menelusuri hatinya dan menemukan bahwa dia belum memiliki kasih agape untuk Kristus. Itulah yang membuat Petrus sangat sedih dan dalam kerendahan hati dia mengaku untuk ketiga kalinya bahwa dia hanya mengasihi Yesus dengan kasih fileo. Itu semua terjadi sebelum hari pencurahan Roh Kudus.

Apakah kalian menangkap maksudku? Kita tidak bisa mengasihi-Nya tanpa Roh Kudus. Kita hanya bisa mengasihi Allah apabila Allah telah meregenerasi hati kita. Regenerasi inilah yang kita kenal sebagai peristiwa lahir baru yang merupakan peristiwa di mana Roh Kudus MENGUBAH HATI kita melalui pengenalan kita terhadap Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat sehingga kita mampu mengasihi-Nya.

1 Korintus pasal 12 merupakan pasal yang sangat jelas menjabarkan tentang rupa-rupa karunia Roh Kudus. Ada karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, ada karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan, ada karunia untuk melakukan mukjizat, karunia untuk berbahasa roh, dan ada karunia untuk mengartikan bahasa roh. Suatu kali ada sedikit ketidakenakkan di dalam tubuh jemaat di mana karunia yang satu dianggap lebih istimewa dibanding karunia yang lain. Hal seperti itu masih terjadi hingga saat ini di mana somehow karunia berbahasa roh masih dianggap lebih istimewa dibanding karunia yang lain.

Karunia berbahasa roh memang istimewa. Akan tetapi keistimewaan karunia ini bukanlah karena karunia berbahasa roh lebih hebat atau lebih berguna dibanding karunia lain. Semua karunia roh sama hebatnya dan sama bergunanya, tidak ada yang lebih besar maupun lebih kecil. Karunia berbahasa roh lebih istimewa HANYA KARENA karunia ini lebih LANGKA, itu saja!

Seseorang yang tidak memiliki karunia berbahasa roh bukan berarti tidak memiliki Roh Kudus di dalam hatinya. Itu hanya berarti bahwa dia memiliki karunia yang lain. Justru orang yang harus berhati-hati adalah orang yang mengaku memiliki karunia berbahasa roh tersebut. Jika mereka mengada-ada dengan karunia itu, atau hanya berpura-pura memilikinya sehingga mengintimidasi saudara yang tidak memilikinya, maka dia harus mempertanggungjawabkan itu di hadapan Sang Pemilik karunia itu, yaitu Roh Kudus, di hari penghakiman kelak.

Lalu apa yang Paulus lakukan untuk menertibkan jemaat yang mulai memanas ini?
Dia berkata:
Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama.
Dan aku menunjukkan kepadamu JALAN YANG LEBIH UTAMA LAGI.
(1 Korintus 12:31)

Dan apakah ‘jalan yang lebih utama lagi’ itu?
Apakah karunia Roh Kudus yang lebih utama lagi itu?
Jawabannya ada pada perikop tepat di bawah 1 Korintus 12:31, yakni 1 Korintus 13:1-13
Dan karunia Roh Kudus itu adalah KASIH

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih,
dan yang paling besar di antaranya ialah KASIH.
(1 Korintus 13:13)

Tetapi buah Roh ialah: kasih, ….
(Galatia 5:22)

 

Dan kembali ke judul artikel ini:
Bagaimanakah kita memaknai Hari Pentakosta melalui kacamata Tritunggal?

Pentakosta berarti Hari Kelimapuluh dan ‘lima’ merupakan angka kasih karunia. Ada lima kitab taurat yang dikenal sebagai Pentateuch. Ada 4 kitab Injil plus kitab Kisah Para Rasul yang dikenal sebagai “the New Testament Pentateuch.” Rasul Yohanes, sang Rasul Kasih, menulis 5 kitab, yaitu Injil Yohanes, 1-3 Yohanes, dan Wahyu. Yesus mengadakan mujizat dengan 5 buah roti untuk memberi makan sekitar 5000 orang laki-laki. Daud menyiapkan 5 buah batu untuk melawan Goliat dan peristiwa Daud mengalahkan Goliat menggambarkan Kristus yang mengalahkan dosa dan menganugerahkan kasih karunia kepada umat-Nya (kita akan membahas ini lain kali).

Pentakosta merupakah hari kasih karunia. Aku percaya akan hal itu sebab hari pentakosta merupakan hari pencurahan Roh Kudus. Roh Kudus itulah kasih karunia itu. Melalui pencurahan Roh Kudus, manusia mengalami lahir baru dan segala sesuatunya berubah.

Kasih karunia Allah diwujudkan dalam dua hal utama. Hal pertama adalah Pengampunan Dosa. Melalui kasih karunia, manusia dibenarkan dan dosanya diampuni. Tetapi kasih karunia tidak akan menjadi kasih karunia jika dia hanya mengampuni dosa tanpa memperlengkapi orang itu untuk melawan dosa. Dan inilah hal kedua mengenai kasih karunia, yakni kasih karunia adalah pemberian kuasa untuk mengalahkan dosa. Melalui kasih karunia, manusia dimampukan untuk terlepas dari kutuk dosa. Melalui kasih karunia, kehendak bebas manusia dipulihkan sehingga dia bisa melawan dosa, memilih yang baik, dan MENGASIHI-NYA dengan kehendak bebasnya.

 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita
segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia,
(2 Petrus 1:3)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebagai penutup:

You have true knowledge of God in God The Son
You have true love for God in God the Spirit
~ John Piper

Melalui Kristus, kita bisa MENGENAL-Nya
Melalui Roh Kudus, kita bisa MENGASIHI-Nya
Tidak ada yang lebih baik bagi manusia selain kedua hal itu

997e9bfe97c0747db8ec417930e74d71

Selamat Hari Pentakosta!
Selamat menikmati Kasih Allah!
Selamat membagikan Kasih Allah!

Tuhan Yesus memberkati

Mengapa Kekristenan itu Benar?

Mengapa Kekristenan itu Benar?

Aku rasa pertanyaan terbesar dan paling membingungkan sepanjang masa adalah
“Siapakah Tuhan?”

Dan kita tahu bahwasanya cara manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan mempelajari agama. Tetapi coba tebak, ada banyak sekali agama. Dan jika demikian, bagaimana umat manusia bisa memegang kesimpulan bersama mengenai siapa itu Tuhan jika manusia yang satu tidak memeluk agama yang sama dengan manusia yang lain?

Sayangnya, mainstream yang ada saat ini lebih mengedepankan bagaimana mengorek dan membeberkan kesalahan-kesalahan agama lain. Aku tidak akan melakukan hal itu di sini sebab aku yakin iman Kristen tidak membutuhkan semua itu untuk menyatakan kebenarannya. Iman Kristen tidak berdiri di atas fakta-fakta yang membeberkan kesalahan agama lain melainkan di atas kebenaran yang sejati. Kebenaran yang sejati tidak harus capek-capek membuktikan kesalahan pesaingnya tetapi kebenaran yang sejati pasti akan menunjukkan kebenaran dirinya. Kebenaran akan membela dirinya dengan kebenaran itu sendiri. Kesalahan akan menghancurkan dirinya dengan kesalahan itu sendiri.

Di sini aku hanya akan membukakan satu hal dari sekian banyak alasan mengapa Kekristenan itu benar. Aku tidak akan membukakan kesalahan-kesalahan agama lain. Tulisan ini sama sekali bukan untuk menyerang siapapun yang berbeda keyakinan denganku. Izinkan aku menarik analogi bahwa apa yang aku lakukan di sini adalah sama dengan kawan-kawanku, umat Muslim, yang lima kali dalam sehari mengumandangkan adzan. Adzan itu tidak hanya didengar oleh umat Islam saja tetapi didengar oleh semua orang, termasuk aku dan tentu saja aku tidak merasa tersinggung atau terserang dengan hal itu. Nah, apa yang kutulis di sini adalah sama dengan itu. Aku mem-post ini ke dunia maya tanpa niat merendahkan keyakinan siapapun dan siapapun berhak membaca maupun mengabaikannya tanpa perlu merasa tersinggung olehnya.

Setuju?
OK, mari kita mulai!
Lalu, menurut Kekristenan, siapa itu Tuhan?

Kami percaya pada satu Tuhan, yakni Allah Tritunggal.
Satu sebagai keberadaan (being) di dalam tiga Pribadi, yakni Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
Di mana Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang berbeda dan ketiganya adalah Allah tetapi masing-masing tidak membentuk tiga Allah melainkan Satu Allah di dalam natur-Nya.

Bagi semua orang, bahkan bagi orang-orang Kristen sekalipun ini bukanlah konsep yang mudah dimengerti. Tetapi sejarah dan ilmu pengetahuan telah mengajarkan kepada kita semua bahwa jika suatu konsep sangat sulit dimengerti, bukan berarti konsep itu adalah konsep yang salah. Lagipula, hal yang membuat konsep ini begitu sulit adalah cara kita memahaminya. Kita terlalu terpaku pada satu metode pemahaman. Kita mencoba memahaminya dari sudut pandang matematika dan berkata bahwa tidak mungkin “3=1” dan “1=3”. Kita tidak mengerti lalu kita menolak dan akhirnya menganggap konsep itu salah. Padahal seharusnya tidaklah demikian.

Tidak. Jika satu metode pemahaman tidak bisa membuat kita mengerti, kita harus mencoba metode pemahaman yang lain. Jika satu sudut pandang membutakan kita untuk melihat, kita perlu mencoba melihatnya dari sudut yang lain. Itulah mengapa banyak orang berkata jika kau tidak bisa memecahkannya, cobalah berpikir out of the box. Dan camkan ini, matematika dan ilmu alam tidak akan bisa membuatmu mengerti sepenuhnya akan Dia. Dia bukan angka, Dia bukan materi, Dia adalah Pribadi. Oleh sebab itu, jangan pakai sudut pandang matematika, melainkan cobalah melihat Dia dari sudut pandang pribadi. Dan berikut adalah metode yang kutawarkan untuk menuntun pemahaman kita. Aku mengawali semua ini dengan satu pernyataan, yakni kita percaya bahwa:

(1)
 Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

OK, kita bungkus pernyataan pertama karena aku yakin tak seorangpun menentang ini kecuali ateis. Nah, seandainya kita menolak konsep Allah Tritunggal dan memilih untuk memegang keyakinan bahwa Tuhan itu Esa dalam artian Satu Pribadi, maka kita bisa menarik pernyataan kedua:

(2) Sebelum Tuhan menciptakan segala sesuatu, bahkan waktupun belum ada, Dia sendirian

Pernyataan pertama dan kedua nampaknya mudah untuk dimengerti oleh kita semua. Tetapi untuk mengenal siapa Tuhan yang benar, kita harus mengawinkan kedua pernyataan itu. Masing-masing pernyataan tidak boleh hanya benar apabila berdiri sendiri tetapi juga harus benar setelah keduanya digabungkan. Tetapi apa yang terjadi? Bisakah engkau menggabungkan kedua pernyataan itu? Aku menemukan kesulitan di sini. Tanda tanya besar muncul di dalam benakku:

Kalau benar Dia adalah Maha Pengasih dan Dia sendirian pada mulanya,
lalu siapa yang Dia kasihi sebelum Dia menciptakan segala sesuatu?

Engkau tidak bisa mengatakan bahwa Dia mencintai malaikat sebab pada saat itu malaikat belum ada. Engkau juga tidak bisa mengatakan bahwa Dia mencintai manusia, apalagi iblis, sebab manusia belum diciptakan pada mulanya. Satu-satunya hal yang bisa engkau ucapkan adalah:
(3) Pada mulanya, sebelum segala sesuatu ada, Dia mengasihi Diri-Nya sendiri

Sebagian orang mungkin tidak akan merasa janggal dengan jawaban tersebut. Tetapi izinkan aku untuk memperjelasnya. Pada mulanya, Tuhan belum menciptakan waktu. Pada saat itu, waktu belum ada. Belum ada yang namanya cepat atau lambat. Belum ada yang namanya dulu dan sekarang. Belum ada yang namanya lama atau sebentar. Satu-satunya yang ada hanyalah KEKEKALAN.

Dengan demikian, izinkan aku membahasakan ulang pernyataan sebelumnya menjadi:
(4) Pada mulanya, alias pada KEKEKALAN, Dia hanya mengasihi Diri-Nya sendiri

Aku punya dua hal mengenai ini. Pertama, aku tidak setuju bahwa Dia hanya mengasihi Diri-Nya sendiri pada mulanya. Bagaimana mungkin Dia menyebut diri Maha Pengasih jika Dia hanya mengasihi diri sendiri saat itu. Satu-satunya kesimpulan yang bisa ditarik di sini adalah bahwa sebelum segala sesuatu diciptakan berarti Dia belum menjadi Maha Pengasih dan setelah Dia menciptakan segalanya dan mengasihi ciptaan-Nya, barulah Dia bisa disebut Maha Pengasih. Tapi apakah itu benar?

Dan kedua, kini kita diperhadapkan oleh realitas kehidupan manusia. Umur kita, paling-paling hanya bisa mencapai sekitar 70-an tahun. Apakah 70 tahun itu lama atau sebentar? Itu relatif. Yang jelas, tujuh puluh tahun itu tidak ada apa-apanya dibanding kekekalan.

Katakanlah aku diizinkan Tuhan untuk hidup sampai 70 tahun. Dan aku berkata pada diriku sendiri:
“Aku hanya punya 70 tahun untuk hidup.
Aku akan menggunakan semuanya hanya untuk mengasihi diriku sendiri.
Dan tidak akan kusia-siakan satu detikpun waktuku untuk mengasihi orang lain.”

Apakah perkataanku adalah perkataan yang baik? Engkau pasti akan berkata tidak. Mana boleh manusia berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Mana boleh manusia mengasihi dirinya sendiri saja dan melupakan manusia yang lain? Tidak hanya manusia yang akan mengatakanku bersalah, Tuhanpun pasti akan mengatakan bahwa aku telah salah. Tetapi di manakah letak kesalahanku? Apakah aku salah jika aku berpikir:

“Sedangkan Tuhan di dalam KEKEKALAN saja, hanya mengasihi Diri-Nya sendiri,
kok aku, yang cuma punya 70 TAHUN SAJA, ga boleh mengasihi diriku sendiri?

Bukankah kita harus meneladani Tuhan kita? Jika Tuhan saja mengasihi Diri-Nya sendiri di dalam kekekalan, berarti kitapun seharusnya boleh mengikuti Dia dengan cara hanya mengasihi diri kita sendiri di dalam tahun-tahun kita yang pasti jauh lebih singkat jika dibandingkan kekekalan.

Lalu, bagaimana jika pemikiran seperti itu dimiliki oleh semua umat manusia? Bagaimana jika semua manusia hanya mencintai dirinya sendiri dan tidak peduli pada orang lain? Bukankah dunia ini akan musnah dan semua manusia akan dinista oleh Tuhan sebab mereka hanya mengasihi dan mementingkan diri sendiri tanpa mengasihi orang lain? Tetapi mengapa Dia menista kita jika pada mulanya, sebelum Dia menciptakan segala sesuatu, Diapun melakukan hal yang sama, yakni hanya mengasihi Diri-Nya sendiri?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana Anda keluar dari pertanyaan-pertanyaan itu?

Atau bagaimana jika kukatakan pada engkau bahwa engkau tidak perlu memusingkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tentu saja pertanyaan itu sama sekali bukanlah masalah jika dari semula kita percaya bahwa Tuhan itu adalah Allah Tritunggal.

Di dalam NATUR-NYA, Tuhan itu ESA,
tetapi di dalam PRIBADI-NYA, Tuhan itu KOMUNITAS.

Dia Maha Pengasih?
Yes.

Dia sendirian?
No.

Siapa yang Dia kasihi?
Kasih terjalin sejak mulanya di antara Tiga Pribadi dalam Satu Allah. Dan di dalam kasih itu, Allah ingin menciptakan manusia dan ingin agar manusia bisa memiliki hubungan yang intim dengan-Nya serta bersatu dalam hubungan kasih antara Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.

Dan kasih yang sejati, yang tidak mementingkan diri sendiri, dan yang tidak cemburu hanya akan ada di dalam suatu komunitas dan bukan di dalam individualitas. Itulah sebabnya, di dalam hati semua manusia tak terkecuali seorangpun, ada rasa haus akan unity in diversity. Itulah sebabnya, mengapa natur alami manusia adalah makhluk sosial yang tidak boleh dan tidak mungkin bisa hidup dengan hidup seorang diri. Itulah mengapa semua orang akan menginginkan adanya relasi.

Mengapa bisa demikian? Sebab hakekat Allah pada dasarnya adalah Maha Pengasih dan Social Being (sosial = komunitas) dan di dalam kesatuan Tritunggal terjalin relasi dan unity in diversity. Dan karena manusia adalah gambaran dari Pencipta-Nya, maka di dalam diri manusia sesungguhnya telah tertanam kode-kode yang mengandung informasi-informasi “genetik” dari Tuhan yang memiliki semua sifat itu.

Dunia dan sejarah membuktikan bahwa ada tiga hal yang terutama dan yang dibutuhkan oleh dunia ini, yakni kasih, komunikasi, dan kesatuan. And guess what? Ketiga hal tersebut sudah ada sejak pada mulanya sebab ketiganya terjalin di dalam Allah Tritunggal yang Esa di dalam Natur tetapi Komunitas di dalam Pribadi.

Kau haus akan kasih, aku haus akan kasih.
Kau rindu akan relasi, aku rindu akan relasi.
Kau butuh komunikasi, aku butuh komunikasi.
Mengapa itu ada di dalam natur kita? Sebab itu adalah natur dari Pencipta kita.

Dan satu-satunya penjelasan yang menjelaskan bagaimana hal itu bisa menjadi natur-Nya
adalah jika Tuhan yang benar adalah Allah Tritunggal

Aku berdoa bagi kita semua
Semoga Tuhan, di dalam kasih-Nya yang besar pada kita, memperkenalkan Diri-Nya pada kita secara pribadi
Sebab jika kita tidak mengenal-Nya, bagaimana kita akan sayang pada-Nya?

Amin

Allah Tritunggal

Allah adalah Maha Pengasih.
Dan jika Dia bukanlah Allah Tritunggal, berarti pada mulanya Dia sendirian.

Dan jika Dia sendirian sementara Dia adalah Maha Pengasih,
lalu siapa yang Dia kasihi pada saat sebelum segala sesuatu diciptakan?

Diri-Nya sendiri?
Jika Ia hanya mengasihi diri-Nya sendiri, bagaimana mungkin Ia menyebut diri-Nya Maha Pengasih?

Apakah seseorang yang mengasihi diri-Nya sendiri bisa disebut pengasih?
Tentu tidak.

Jadi bagaimana Allah bisa menjadi Maha Pengasih dan sendiri pada saat yang bersamaan?
Jawabannya hanya ada di dalam Allah Tritunggal, tiga Pribadi dalam Satu Allah.
Bapa dan Anak dan Roh Kudus

Unity in Diversity
Allah Tritunggal

Bertemu Saksi Yehuwa di Car Free Day

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa hari ini akan datang…

Puji Tuhan hari ini aku bangun lebih awal dari sebelumnya. Aku sebenarnya ingin kembali tidur tetapi aku memutuskan untuk tetap bangun. Aku yakin, jika kau bangun lebih awal, maka kau akan punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan harimu. Entah mengapa, satu jam di pagi buta terasa lebih panjang dibanding 1 jam di siang atau malam hari. Dan seakan teoriku benar, entah bagaimana aku rasa aku melakukan cukup banyak hal hanya dalam waktu satu jam di pagi hari tadi. Dan demikianlah aku mengawali segalanya.

Aku berangkat untuk olahraga di car free day lebih awal dibanding minggu-mingguku sebelumnya. Pada awalnya aku sempat pesimis CFD kali ini akan menjadi CFD yang biasa-biasa saja dan tidak berkesan. Ternyata, aku salah. Hal istimewa pertama yang kutemui adalah Jupe. Tepat sekali, Julia Perez. Di sana, dia bersama rekan-rekannya sedang melakukan kampanye anti narkoba. Akupun mengambil beberapa gambar dan video dari momen itu. Setelah merasa sudah cukup memotret, aku melanjutkan berlari menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Sesampai di area Bundaran HI, aku melihat ke sekeliling dan menyimpulkan bahwa tidak ada yang istimewa. Akupun memutuskan berbalik untuk pulang. Dan karena aku berangkat lebih awal, aku punya waktu lebih banyak untuk berjalan lambat sambil merenung. Ahh, aku suka sekali momen-momen di mana aku bisa merenung di car free day seperti ini.

Aku merenung dan menghayal, terhanyut dalam benakku, sangat lezat, sampai akhirnya aku melihat suatu pemandangan yang membuatku berkata dalam hati, “Wah, indah sekali!

Pemandangan apakah itu? Itu adalah dua sosok pria yang sudah cukup tua yang memegang beberapa tabloid tipis untuk dibagikan. Mereka berdiri di tepi jalan sambil memegang papan bertuliskan:
“Bacaan Umum Berdasarkan Alkitab, GRATIS.”

Aku terpukau. Mereka adalah pembawa kabar baik yang berani. Aku penasaran dari gereja manakah mereka. Sungguh gereja yang benar-benar bermisi, pikirku. Orang-orang percaya di seluruh dunia, di Indonesia terutama, harus belajar dari dua pria ini. Akupun mendekati mereka sambil berharap bisa mendapatkan buku gratis itu. Aku juga ingin mengobrol lebih banyak hal dengan mereka. “Siapa tahu aku bisa semakin dikuatkan untuk melakukan misi seperti mereka”, kataku dalam hati. Dan baru melangkahkan kaki beberapa meter dari tempat semula aku berdiri, alarm hatiku berbunyi. Aku rasa Tuhan hendak memperingatkanku.

“Hati-hati Richard. Cobalah dekati dan ajak ngobrol mereka.
Persiapkan hatimu. Bisa jadi orang-orang ini adalah Saksi-Saksi Yehuwa.”

Sebelum benar-benar berada tepat di hadapan mereka, aku masih punya beberapa meter untuk ditapaki. Dalam jarak yang pendek itu aku menguatkan hatiku dan berdoa. Oh, sungguh, detik-detik awal memang akan sangat mempengaruhi segalanya.

Setelah sampai tepat di muka mereka, akupun bertanya kepada mereka, “Wah, dari mana, Pak?”

Kami dari Saksi Yehuwa, Mas. Gereja kami di bla bla bla.” Dugaanku benar.

“Oh ya? Saksi Yehuwa? Di mana gerejanya, Pak?” saking kagetnya aku lupa kalau mereka baru saja menyebutkan asal gereja mereka. Merekapun mengulang sekali lagi di mana gereja mereka berada tapi saat menulis ini, aku sudah lupa gereja apa yang mereka sebutkan. Aku lupa mungkin karena aku tidak peduli di mana gereja itu.

Akupun meminta tabloid yang mereka bagikan secara gratis itu. Aku merasakan ada dorongan yang kuat dari dalam hatiku untuk segera membahas firman Tuhan dengan mereka. Ini adalah kali pertama, setelah aku benar-benar mengenal Allah, di mana aku berhadapan dengan Saksi-Saksi Yehuwa.

Perasaanku bercampur aduk, antara berdoa memohon tuntunan Allah, dan bersegera menghimpun semua pengetahuan dan ingatan yang kupunya mengenai doktrin yang benar. Apapun yang terjadi di hatiku kala itu, saat ini aku bisa berkata bahwa aku memang berdoa memohon tuntunan Allah tetapi nampaknya aku lebih banyak mengandalkan kekuatanku sendiri dalam perbincangan yang sebentar lagi terjalin di antara kami.

Akupun membuka lembar demi lembar dari tabloid itu, berharap bisa menemukan satu topik untuk diperbincangkan. Halaman pertama adalah tentang penciptaan dunia ini, aku pikir aku tidak akan memakai momen super langka seperti ini untuk membahas tentang penciptaan. Lagipula itu bukan core value dari iman Kristen. Halaman berikutnya adalah tentang uang, tentu saja aku skip halaman itu. Aku membuka halaman demi halaman hingga akhirnya pandanganku berhenti ke halaman yang bertajuk, “Enam Mitos Mengenai Kekristenan.”

Mulai dari sini aku mulai berhati-hati. Aku buka halaman lebih perlahan hingga akhirnya aku sampai ke suatu topik yang cukup membuat hatiku sontak. Topik itu berjudul, “Mitos 4 : Allah Itu Tritunggal.” Ketika membaca judul tersebut, aku tahu apa yang harus segera kubahas dengan kedua pria ini. Aku boleh men-skip pembahasan tentang penciptaan tapi tak akan kulewati topik mengenai Tritunggal ini sebab justru Tritunggal-lah letak perbedaan inti antara Kekristenan dengan Saksi Yehuwa.

Lagipula, aku pernah mendengar kabar bahwa pengikut Saksi Yehuwa merupakan orang-orang yang menguasai Alkitab dengan sangat baik. Sebentar lagi aku akan menguji kebenaran kabar tersebut. Dan bagiku, entah apapun kabar yang beredar tentang kehebatan Saksi Yehuwa dalam menghafal isi Alkitab, selama mereka masih memegang kepercayaan mereka itu, mereka sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang isi Alkitab.

Akupun menguatkan hatiku. Aku tidak akan gentar sekalipun mereka adalah orang paling berhikmat atau sarjana Alkitab sekalipun. Sejak kecil, Allahku sendiri yang membesarkanku dengan Alkitab ini. Allahku sendiri yang mengajariku isi Alkitab ini dengan penuh kasih. Aku tidak akan kalah di Alkitabku sendiri.

“Pak, apa maksudnya ini yah? Bisa tolong dijelaskan Pak, mengapa Saksi Yehuwa tidak percaya pada Tritunggal?”

“Silakan dibaca sendiri, Mas. Tabloidnya boleh dibawa pulang.”

Oh, tolong dijelaskan sedikit saja dong, Pak. Soalnya saya tidak mengerti nih apa maksudnya.”

“Coba silakan dibaca dulu sambil membaca Alkitabnya, Mas.” Aku cukup tercengang. Aku kira mereka akan dengan penuh semangat menjelaskannya padaku. Akan tetapi, mungkin hari ini misi utama mereka hanya untuk menyebar tabloid itu. Mereka belum siap melayani banyak pertanyaan.

Akupun menanggapi, “Oh, tapi seharusnya Bapak bisa dong membahas sedikit saja. Begini, Pak. Bapak meng-klaim di papan Bapak bahwa tabloid ini berdasarkan Alkitab. Bagaimana mungkin Bapak menyebut nama Alkitab di sini padahal yang Bapak ajarkan sama sekali bertentangan dengan Alkitab?”

Merasa tertantang olehku, salah seorang dari mereka akhirnya angkat bicara, “Tritunggal itu tidak ada di Alkitab, Mas. Makanya kami tidak percaya.” Aku kembali meragukan mitos tentang keahlian Saksi Yehuwa dalam hal Alkitab. Aku kira mereka akan memberikan argumen yang lebih biblikal dari itu sebab jawaban mereka barusan adalah tanggapan yang sangat mainstream diberikan oleh semua penolak Tritunggal. Itu adalah jawaban yang terlalu biasa dan tak kusangka Saksi Yehuwa juga menggunakannya. Tanggapan seperti itu mudah sekali ditemukan di internet dan tidak sulit untuk disanggah. Dan itulah yang kulakukan selanjutnya.

Akupun menjawab mereka, “Pak, Tritunggal tidak disebut di Alkitab tapi itu tidak berarti bahwa Tritunggal itu hanyalah konsep buatan manusia. Yesus sendiri berkata Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Ada tiga Pribadi Allah, Pak di sini. Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Mendengar aku menyebut Roh Kudus, aku yakin alarm hati mereka menyala. Mereka kemudian mengatakan, “Mas, firman Tuhan menyebutkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan kita harus percaya pada 2 Pribadi. Bapa dan Yesus, itu saja.” Aku kembali menanggapi, “Lalu di mana Roh Kudus, Pak?”

Roh Kudus itu hanya kuasa, Mas. Roh Kudus itu bukan pribadi.

Aku tentu saja tidak setuju. Aku mengingatkan kepada mereka mengenai firman Tuhan yang tercatat di Yohanes 14:16. Aku hanya menyampaikan isi ayatnya saja kepada mereka dan tidak bisa menyebut alamatnya di mana sebab aku tidak ingat. Aku rasa inilah salah satu faktor yang menyulitkanku untuk membuat mereka percaya.

Aku akan minta kepada Bapa,
dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain,
supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Aku menekankan kepada mereka, “Penolong” dan “yang lain”. Penolong jelas-jelas bukanlah sekadar kuasa atau tenaga. Penolong itu menunjukkan personal yang bekerja untuk menolong. Penolong itu pribadi dan bukan kuasa. Tetapi mendengar perkataanku, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka. Mereka menolaknya.

Mereka kemudian berkata, “Mas, baca di Kisah Para Rasul 2 : 1-3, di situ tercatat bahwa Roh Kudus itu adalah kuasa yang memampukan mereka sehingga mereka bisa berbahasa dengan bahasa yang tidak bisa dipahami.” Aku kaget dengan cara mereka memaknai firman tersebut karena sesungguhnya firman itu sama sekali tidak memberi penjelasan bahwa Roh Kudus adalah tenaga. Justru menurutku ayat itu malah menguatkan pemahaman bahwa Roh Kudus adalah Pribadi yang berkarya di balik semua kejadian itu.

Akupun menanggapi, kali ini dengan lebih santai, “Pak. Nama-Nya Roh Kudus. Namanya saja sudah Roh. Roh itu pribadi Pak, bukan kuasa. Ketika Bapak menyebut Roh, otomatis yang Bapak maksud sudah pastilah seorang pribadi, bukan kuasa. Kalau kuasa, namanya bukan roh.” Aku yakin mereka menangkap dan mengerti apa yang aku maksud. Sebab Allah adalah Roh dan Allah itu Pribadi. Iblis-pun adalah roh dan iblis adalah sesosok pribadi. Sama halnya dengan roh manusia. Mungkin itulah yang mereka pikir di benak mereka sebab nampaknya mereka mulai goyah. Tapi sekali lagi mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil melengkungkan bibir mereka seperti sabit yang menandakan mereka tidak percaya pada argumenku.

Dari sikap tersebutlah, aku yakin bahwa mitos yang menyebutkan Saksi Yehuwa sebagai orang-orang yang ahli dalam Alkitab, sesungguhnya hanyalah omong kosong. Mereka tidak ahli dalam Alkitab, mereka hanya ahli dalam 2 hal:
Mereka ahli dalam menghafal ayat-ayat tertentu yang sudah menjadi template, dan
mereka juga ahli dalam menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka melanjutkan, “Mas itu harus belajar sejarah Tritunggal dulu baru bisa berbicara tentang Tritunggal.” Mereka kemudian berniat menguji aku, mereka meminta aku menjelaskan apa definisi Tritunggal. Mereka berkata, “Coba Mas. Coba Mas jelaskan dulu apa Tritunggal yang Mas tahu. Apa definisi Tritunggal Mas? Ayo coba!”

“Aslilah, gua dites!” kataku dalam hati. Mereka jelas-jelas memandangku sebagai orang yang tidak tahu menahu mengenai Tritunggal. Mungkin inilah yang ditanamkan kepada semua umat Saksi Yehuwa, yakni bahwasanya rata-rata orang Kristen sesungguhnya tidak banyak tahu mengenai doktrin Tritunggal sebab di gerejapun topik ini jarang sekali dibahas. Jelas sekali dari raut wajahnya mereka menyangka aku tidak tahu dan berharap aku segera melakukan kesalahan ketika aku mencoba mendefinisikan Tritunggal. Akupun menjawab:

Tritunggal adalah Allah yang hadir dalam 3 Pribadi, yakni Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus. Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah tetapi ketiga-Nya tidak membentuk tiga Allah melainkan satu Allah. Tiga Pribadi tetapi dalam satu Substansi.”

“Naaaahhh, Mas!!!” mereka memotong. Aku benar-benar kaget saat itu. Jangan-jangan aku sedang ngelantur selagi menjelaskan definisi Tritunggal. Aku balik bertanya, “Saya salah, Pak? Lalu apa yang benar?”

“Tritunggal itu adalah paham yang menganggap Bapa = Anak = Roh Kudus, Mas.”

Aku tahu seharusnya aku tidak melakukan apa yang sebentar lagi menjadi reaksiku. Aku menjawab mereka, “Astaaagaaaaaa, Paaakkk. Tritunggal itu bukan itu, Paakkk.” Aku sama sekali tidak bermaksud merendahkan mereka. Reaksiku memang berlebihan, aku tahu itu. Tapi saat itu aku benar-benar kaget. Aku tidak menyangka bahwa mereka sebegitu-tidaktahunya tentang Tritunggal. Aku sangka pengetahuan mereka lebih baik dari itu tapi jawaban mereka menunjukkan betapa mereka sama sekali tidak tahu menahu mengenai konsep yang selama ini mereka perangi. Bagaimana mungkin memerangi konsep Tritunggal sementara apa itu Tritunggal saja mereka masih asal-asalan?

Rasa ibapun muncul di hatiku sebab aku rasa orang-orang ini benar-benar membutuhkan pertolongan. Mereka tidak berniat untuk menyesatkan atau menipu orang-orang. Motivasi mereka sebenarnya adalah tulus untuk mengenal Allah dan memperkenalkan Allah yang mereka percaya. Hanya saja iblis telah menipu dan menyesatkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka malah tidak mau mengenal Allah yang benar. Mereka anti akan pemberitaan kebenaran yang sejati yang disampaikan pada mereka. Oh, kita harus berdoa bagi keselamatan mereka, Teman-teman. Allah mengasihi mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka sedang perbuat.

Aku melanjutkan, “Pak, yang baru saja Bapak sebut itu namanya paham Unitarian. Bukan paham Tritunggal. Tuh kan Bapak saja sebenarnya tidak tahu mengenai Tritunggal ini tapi kok sudah berani mengajarkan kalau Tritunggal itu salah.” Dari raut wajah mereka, jelas sekali mereka mulai merasa terdesak.

Masih dalam perbincangan itu, aku tiba-tiba merasakan intervensi Allah. Sesuatu terjadi di dalam hatiku. Aku mulai merasakan mekarnya kasih, yang nampaknya belum ada sejak awal perbincangan kami. Wow, sensasi dari kasih itu benar-benar luar biasa. Aku tidak bisa menggambarkannya. Yang bisa kukatakan adalah kini aku memandang mereka dengan penuh kasih. Di hatiku, tumbuh kerinduan agar mereka percaya dan diselamatkan. Ini adalah tentang keselamatan mereka, ini adalah tentang mengenal Allah, dan bukan sekadar perdebatan mengenai doktrin Tritunggal.

Aku kemudian memandang salah seorang dari mereka. Aku memegang lengannya, dan berkata, “Pak, percayalah.” Wajah sang Bapak berubah menjadi lebih lembut. Aku seakan menangkap pancaran matanya yang seperti mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin untuk percaya pada apa yang kusampaikan. “Pak, firman Tuhan berkata, jika engkau mendengar suara-Nya, jangan keraskan hatimu. Pak, jangan keraskan hatimu. Aku mengatakan apa yang benar, Pak. Percayalah kepada Yesus Kristus. Keselamatan itu sudah tersedia, Pak asalkan kita percaya.”

Kemudian rekannya memotong apa yang kusampaikan, “Benar. Tapi kita harus percaya kepada Allah yang benar. Yesus itu bukan Allah. Yesus itu ciptaan.” Sekejap, Bapak yang baru saja kupegang, menjadi kuat kembali dalam keyakinannya. Ia menjauh dariku. Aku rasa inilah kekuatan dari berdua-dua. Mereka saling mendukung. Kita tidak bisa melakukannya sendirian, Kawan.

“Mas harus baca Kolose 1:15!” kata beliau. “Oke, Pak. Silakan yuk kita baca sama-sama.”
Akupun memegang pundak beliau, layaknya seorang teman.

Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,
yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,

Si Bapak lagi-lagi asal mengartikan ayat Alkitab. Baginya, ayat ini menegaskan bahwa Yesus adalah ciptaan. Tetapi bagiku justru sebaliknya. Ayat ini menjelaskan bahwa Yesus adalah “yang sulung” dan Yesus lebih utama dari segala yang diciptakan dan itu sama sekali tidak menjelaskan bahwa Yesus diciptakan. Lagipula terusan dari ayat itu malah lebih jelas lagi menjelaskan ke-ilahi-an Kristus. Entah mengapa, hikmat itu seperti tertutup dari benak mereka.

Oleh sebab itu, alih-alih membahas panjang lebar di ayat yang mereka tawarkan, kali ini aku mengajukan ayat tawaranku sendiri. Aku meminta mereka untuk membuka Yohanes 17. Benar, aku mengatakan hanya Yohanes 17 sebab sesungguhnya aku lupa ayat yang mana. Tetapi walaupun begitu, ketika aku mengatakan ayat Alkitab seperti itu, mereka nampaknya cukup kaget. Mungkin mereka kaget karena tidak biasanya ada orang Kristen yang menghafal ayat Alkitab apalagi di car free day seperti ini. Teman-teman, nampaknya citra orang Kristen benar-benar sudah runtuh di benak Saksi Yehuwa. Mereka pasti mengira semua orang Kristen malas membaca Alkitab. Hendaklah ini menjadi teguran bagi kita semua.

Kamipun membaca bersama-sama Yohanes 17. Aku men-scan cepat perikop itu dan menemukan ayat yang kumaksud:

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
(Yohanes 17:5)

“Ini dia, Pak. Bapak tahu maksud ayat ini apa?” aku bertanya pada mereka. Bapak yang tadi aku pegang dengan kasih itu mulai menunjukkan wajah penasaran. Akan tetapi, Bapak yang satu lagi kemudian menanggapi, “Yesus itu mulia. Yesus memang mulia, Mas. Tapi dia bukan Allah.”

“Biarkan saya jelaskan dulu, Pak. Kalau kita membaca bahasa sebenarnya dari ayat ini, maka kita akan mengerti, sebab apa yang ayat ini sebenarnya maksudkan adalah seperti ini:

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang SAMA-SAMA Aku dan Engkau miliki sebelum dunia ada.”

Aku menegaskan kepada mereka bahwasanya kemuliaan yang Yesus maksud dalam ayat ini adalah kemuliaan yang sama-sama dimiliki oleh Bapa dan Anak. Bapa tidak memiliki kemuliaan itu sendirian. Anakpun memilikinya bersama-sama dengan Bapa. Kemuliaan yang dimiliki Anak dan Bapa sebelum dunia ada adalah kemuliaan yang sama, yang satu, yang dimiliki secara bersama-sama. Dengan demikian, ayat ini menjelaskan keilahian dari Kristus. Dan ini berarti Yesuspun adalah Allah bersama-sama dengan Bapa. Mendengarkan penjelasanku, mereka terlihat kehabisan sanggahan. Dan sekali lagi, entah mengapa, keduanya kembali melakukan hal itu. Mereka kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil melengkungkan bibir.

Dan kau tahu apa?
Setelah kira-kira 30 menit panjang lebar membahas Tritunggal, mereka kembali berkata:
Mas, Tritunggal tidak ada tertulis di Alkitab!!!

Aku serasa dilempar dari langit ketujuh dan dibanting hingga ke tubir laut. Lalu apa yang daritadi kami perbincangkan? Apa gunanya semua pembahasan itu kalau-kalau mereka pada akhirnya kembali berkeras hati dan mengatakan bahwa Tritunggal itu tidak ada tertulis di Alkitab.

Tanpa menyerah, akupun kembali ke argumen awalku, “Pak, sekalipun tidak secara terang-terangan tercantum di Alkitab, itu bukan berarti Tritunggal itu tidak benar. Lagipula, ada banyak hal di dunia ini yang sekalipun tidak ada di Alkitab tapi benar-benar ada. Jadi kita tidak bisa memakai argumen seperti itu untuk menyanggah Tritunggal, Pak.”

Akan tetapi akhirnya beliau berkata, “Yasudahlah, Mas. Kita ga bisa melanjutkan perbincangan ini”. Beliau akhirnya pergi meninggalkanku dan berkumpul dengan rekan-rekannya yang lain yang daritadi menonton perdebatan di antara kami bertiga. Aku hanya bisa terdiam bersama hatiku yang campur aduk. Aku tidak bisa memikirkan hal lain. Yang tersisa hanya serpihan kecil kasih yang Allah boleh tanamkan di dalam hatiku dan kasih itu yang akhirnya menggerakkanku untuk berkata:

“Pak, saya berdoa semoga Bapak pada akhirnya akan mengenal Allah yang sebenarnya.”

Aku tulus mengatakan hal itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan perjalananku pulang dengan perasaan yang tidak bisa kugambarkan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang hendak aku maksudkan di balik semua ini, Teman-teman?

Maksudku adalah ini:
MILIKILAH KASIH!

Allah mengasihi semua umat manusia. Allah tidak menghendaki kebinasaan manusia ciptaan-Nya. Allah ingin manusia mengenal Dia. Tetapi apa yang terjadi? Iblis tidak henti-hentinya melakukan segala cara untuk menyesatkan umat manusia. Iblis bekerja mati-matian, hari demi hari, agar sebisa mungkin tidak ada orang yang diselamatkan. Allah sangat mengasihi seluruh manusia tetapi iblis sebegitu besarnya ingin membunuh, membinasakan, dan memusnahkan iman kita hingga hancur lebur.

Dan untuk itulah kita diutus. Milikilah kasih sebab kita sudah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Kasih itulah yang memampukan kita berperang melawan iblis. Kasih itu yang mendorong kita untuk memberitakan kebenaran kepada setiap orang.

Saksi-saksi Yehuwa ini, oh, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sungguh, niatan mereka adalah mengenal Allah tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka mengabaikan Penebus mereka dan menjadikan-Nya tidak lebih dari manusia biasa. Mereka menutup mata kepada Roh Kudus, Sang Penolong yang sangat rindu menolong mereka, dan mereka hanya menganggap-Nya sebagai tenaga aktif Allah.

Janganlah kita membenci mereka. Bencilah iblis, bencilah dosa tetapi kasihilah Saksi-saksi Yehuwa. Kasihilah orang-orang berdosa dan berdoalah untuk keselamatan mereka. Lebih dari itu, berdoalah agar keselamatan itu Allah kerjakan juga melalui perantaraan setiap kita sebab memang untuk itulah kita diutus.

Dan jangan pernah lupakan, hendaknya firman Tuhan ada di dalam hati setiap kita. Bacalah firman Tuhan sebab firman itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut Allah sendiri. Firman itulah makanan dan yang menjadi penuntun kita. Tidak hanya itu, mengenal dan memahami firman Tuhan akan memberikan modal lebih untuk menolong rekan-rekan yang belum percaya. Bagaimana Saksi-saksi Yehuwa mau percaya kepada kita jika pengetahuan Alkitab kita tidak lebih baik dari mereka? Bagaimana mereka bisa dibebaskan dari pemahaman yang salah yang selama ini mereka pegang jika kita tidak memahami firman itu? Bukankah kita dipersiapkan untuk itu? Bukankah kita diutus untuk membebaskan orang-orang tawanan?

Terakhir, mari sekali lagi kita merenungkan ayat ini:

Saksi Yehuwa di Car Free Day
Setialah di dalam Tuhan, Teman-Teman
Aku berdoa untukmu, berdoalah juga untukku
Selamat hari Minggu
Tuhan Yesus memberkati

Tritunggal bagian 11 – Ekonomi Allah, Peran

Trinity-Scutum-Fidei

Di bagian terdahulu, kita sudah membahas secara singkat bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang berbeda. Bapa bukan Anak, Bapa bukan Roh Kudus, dan Anak bukan Roh Kudus tetapi Allah yang Esa adalah Bapa-Anak-Roh Kudus.

Ini memang akan sangat sulit dimengerti selama kita masih menomorsatukan pemahaman rasio kita yang terbatas di atas keberadaan Allah itu sendiri. Camkan baik, jika kita menganggap bahwa Allah itu harus bisa dimengerti oleh pikiran kita, itu berarti kita menempatkan pikiran kita lebih tinggi dibanding siapa sebenarnya Dia. Dan itu bukanlah pandangan yang benar, itu bukanlah pandangan yang membawamu kepada kebenaran.

Kamu bisa menerima bahwa Dia tidak dibatasi oleh ruang
Kamu bisa menerima bahwa Dia tidak dibatasi oleh waktu
Kamu bisa menerima bahwa Dia tidak dibatasi oleh materi
Seharusnya kamu juga bisa menerima bahwa Dia tidak dibatasi oleh nominal

Dia memang berkata bahwa Allah adalah Allah yang Esa. Dan Yesus memang seringkali menyebut bahwa Bapa-lah Allah itu. Tetapi jangan lupa bahwa firman Tuhan menjelaskan ke-Ilahi-an Yesus Kristus dan Roh Kudus. Yesus adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Dengan demikian, yang harus kita lakukan adalah merevolusi pemahaman kita akan makna kata “ESA” dan bukan mereduksi ke-Ilahi-an Yesus Kristus dan Roh Kudus. Lebih baik kita membenahi pikiran kita yang memang sangat butuh untuk dibenahi dibandingkan kita harus membenahi siapa Allah. Siapa kita sehingga kita berani membenahi Allah?

Kita selesai akan hal ini. Bapa, Anak, dan Roh Kudus merupakan tiga pribadi yang berbeda. Titik. Dan pada bagian berikut, kita akan membahas sedikit mengenai ekonomi Allah. Apa itu ekonomi Allah? Sebenarnya itu hanyalah sebuah istilah. Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, oikonomia. Oikoj itu rumah tangga dan nomoj berarti hukum atau aturan. Mempelajari ekonomi Allah berarti mempelajari “pengaturan” seperti apa yang terjadi dalam persekutuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Ekonomi Allah itupun dapat dibagi lagi menjadi setidaknya tiga hal, yakni peranan, relasi, dan apresiasi. Peranan membahas peran dari masing-masing Pribadi. Relasi ya relasi, hubungan di antara ketiganya. Dan apresiasi adalah mengenai bagaimana pribadi yang satu memandang pribadi yang lain dalam persekutuan yang tak terpisahkan itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PERANAN
Dalam Yohanes 8 : 42, Yesus berkata:

“Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah.
Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”

Ada dua hal yang perlu dicatat di sini. Yang pertama adalah Yesus “keluar” dari Allah dan bukan “diciptakan” oleh Allah Bapa. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak pesan Yesus yang menyiratkan bahwa Dia adalah Allah bersama-sama dengan Bapa.

Dan hal yang kedua adalah mengenai peranan yang sudah kita bahas tadi. Yesus menjelaskan bahwa Bapalah yang mengutus Dia. Secara mudah, kita dapat menganggap bahwa yang mengutus tentu saja lebih “tinggi” dibanding yang diutus. Pemahaman seperti ini tidak membahayakan bagi pemaknaan konsep Tritunggal sebab Yesuspun menambahkan pada Yohanes 14:28:

Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu.
Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku,
sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

Yesus sendiri menyebut bahwa Bapa lebih besar dari Diri-Nya. Sekali lagi, ini sama sekali tidak membatalkan apa yang sudah kita pahami mengenai Allah Tritunggal. Yang perlu kita lakukan bukanlah mengecilkan derajat Yesus, melainkan merevolusi pemahaman kita mengenai arti kata “besar” yang Yesus maksud. Besar apa yang dimaksud-Nya dalam hal ini?

Oke, kita simpan itu dulu, yang penting kita telah memegang poin pertama dari peranan dalam ekonomi Allah Tritunggal, yakni:
Bapa “lebih besar” daripada Anak.

Lalu bagaimana dengan Roh Kudus?
Ada dua perkataan Yesus yang menyinggung hal ini.

Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang,
yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa,
Ia akan bersaksi tentang Aku. (Yohanes 15:26)

Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi.
Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu,
tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia (Roh Kudus) kepadamu. (Yohanes 16:7)

Oh ya, sebagai informasi tambahan, ada banyak orang yang mengira bahwa “Penghibur” yang dijanjikan oleh Kristus pada perkataan-Nya ini adalah tentang “nabi masa depan”. Itu tidak benar. Yesus berbicara mengenai Roh Kudus dalam hal ini. Tugas Yesus sudah selesai, kematian-Nya di kayu salib sudah menghapus dosa semua manusia. Tidak perlu ada nabi masa depan yang mengajarkan hal-hal yang baru seolah-olah ajaran Yesus perlu disempurnakan. Tidak perlu ada nabi lagi. Yang perlu adalah murid-murid Yesus yang diutus untuk memberitakan siapa Kristus dan siapa Allah Tritunggal yang telah menebus dosa seisi bumi.

Kembali ke masalah peranan. Yesus jelas berkata dalam dua perkataan itu bahwa Dia, Yesus, akan mengutus Penghibur yang adalah Roh Kudus. Dan jika kita memakai pemahaman yang baru saja kita singgung, maka dapat kita simpulkan poin kedua mengenai peranan dalam ekonomi Allah, yakni bahwa:
Anak lebih “besar” daripada Roh Kudus

Dengan demikian:
Bapa adalah Pribadi yang pertama
Anak adalah Pribadi yang kedua, dan
Roh Kudus adalah Pribadi yang ketiga

Ini terdengar seperti hierarki tetapi sesungguhnya ini bukan hierarki sama sekali. Bapa Anak dan Roh Kudus sudah ada bersama sejak dari mulanya. Bapa tidak hadir lebih dahulu di antara ketiganya. Urutan ini bukanlah mengenai siapa yang ada lebih dahulu dibanding yang lain. Ini juga bukan mengenai siapa yang lebih berkuasa atau lebih mulia di antara ketiganya. Roh Kudus bukanlah Pribadi yang paling lemah atau paling inferior dibanding Bapa dan Anak.

Ini bukan mengenai apapun, selain PERAN
Itulah peran Bapa, itulah peran Anak, itulah peran Roh Kudus, and that’s it

Kamu bisa berkata bahwa peran jantung lebih penting dibanding peran kulit. Terserah padamu, aku tidak setuju. Kamu bisa berkata bahwa peran suami lebih utama dibanding peran istri. Jujur saja, sebagai lelaki aku ingin setuju, ya setidaknya menjadi pria itu lebih keren dibanding menjadi wanita (hahahhaa, canda), tetapi sebagai manusia, aku tetap tidak setuju. Kamu bisa berkata bahwa peran gubernur lebih penting dibanding peran tukang sampah. Terserah, tetapi aku jelas tidak setuju.

Banyak orang sering membuat hierarki semacam itu. Siapa yang lebih besar dan lebih penting dibanding siapa. Tetapi sudut pandang semacam itu bukanlah sudut pandang yang mutlak. Cobalah melihat dengan cara yang berbeda dan kau akan mendapatkan kesimpulan yang benar-benar berbeda. Dan inilah poinku, jika mengenai hal-hal fana saja kita tidak boleh membuat hierarki siapa lebih penting dari siapa, apalagi mengenai Allah. Ini bukanlah mengenai Bapa yang menjadi Pribadi yang lebih penting dari ketiganya. Ini mengenai dan hanya mengenai peranan dalam ekonomi Allah. Itu saja.

Bapa dan Anak dan Roh Kudus adalah satu dalam persekutuan yang utuh dan absolut. Ketiganyalah Allah Tritunggal itu. Tidak ada yang lebih tua, tidak ada yang lebih kuat. Tetapi ketika Allah hadir dalam kehidupan manusia, Allah hadir dengan ini, yakni:
Bapa mengutus Anak dan Anak mengutus Penghibur dari Bapa

Menurutku cukup mengenai bagian peranan dalam ekonomi Allah. Di bagian selanjutnya kita akan membahas mengenai relasi dan apresiasi dalam ekonomi Allah. Pembelajaran kita selesai di sini tetapi aku harap kita semua memiliki kerinduan yang semakin dalam untuk memahaminya sendiri, tentunya di dalam tuntunan Allah.

Tuhan Yesus memberkati

Tritunggal bagian 10 (Pribadi yang Berbeda)

Di bagian sebelumnya,
kita sudah belajar tentang Pribadi Roh Kudus
Yang ternyata tidak hanya tampil dalam periode Perjanjian Baru
Tetapi juga turut bekerja dalam periode Perjanjian Lama

Kini tiba saatnya kita menjawab pertanyaan:
“Apakah benar Allah itu Tritunggal?”
“Apakah benar bahwa Bapa bukan Yesus dan keduanya bukan Roh Kudus?”

Pertanyaan yang sama pentingnya adalah:
“Apakah benar Yesus itu Allah, apakah Roh Kudus itu Allah,
Bukankah hanya Bapa, Allah sesungguhnya?”
Jika itu pertanyaan Anda,
saya sarankan Anda untuk membaca bab terdahulu dari artikel ini

Dengan demikian,
Inti persoalan yang akan kita bahas dalam bagian ini adalah
Apakah benar bahwa Allah itu adalah Tiga Pribadi yang Berbeda?

Dan ayat, yang menurutku, paling baik untuk mengawali pembahasan ini
Adalah perkataan Kristus sendiri di Yohanes 14:16
Aku akan minta kepada Bapa,
dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain,
supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
yaitu Roh Kebenaran
Dunia tidak dapat menerima Dia,
sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia.
Tetapi kamu mengenal Dia,
sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

dan Yesus juga berkata di Yohanes 15:26
Jikalah Penghibur yang akan Ku-utus dari Bapa datang,
yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa,
Ia akan bersaksi tentang Aku

Apa signifikansi semua ini untuk kita ketahui?

Mari kita mengingat-ingat
Ketika kita hendak melakukan sesuatu yang salah
Dan pada saat yang sama, kita merasakan ada satu Kuasa,
yang mengendalikan hati kita untuk berbuat sesuatu yang baik
Maka kita akan berkeyakinan seperti ini:
“Tuhan Yesus mengatakan ini padaku.”
“Tuhan Yesus melembutkan hatiku untuk tidak melakukan ini.”
“Tuhan Yesus menolongku bertahan selama ini.

Oke, aku pun yakin bahwa Yesus pasti ada dalam semua hal itu
Tetapi jangan pernah lupakan ini!
Roh Kudus-lah yang akan bersaksi di dalam hati kita tentang Kristus
Roh Kudus-lah, penolong yang Yesus janjikan untuk hidup dalam hati kita

Hal terbaik yang bisa seorang manusia lakukan dalam hidup ini adalah
Mengenal Allahnya
Sebelum memahami Tritunggal, kita tidak mengenal siapa Roh Kudus
Dan itu berarti, kita masih belum cukup mengenal Allah kita
Tetapi kini kita mengerti
Bahwa sesungguhnya Roh Kuduslah, Tokoh di balik semua ini
“Suara itu” ternyata adalah suara Roh Kudus
Ketika aku mengingat akan Yesus,
sesungguhnya Roh Kuduslah yang membisikkannya padaku

Luar biasa, bukan?
Kita memiliki Allah yang bukan hanya jauh di atas sana
Tetapi yang kediaman-Nya sangat dekat, sebab Ia ada di dalam kita
sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yohanes 14:16)

Dua ayat lagi untuk meyakinkan kita:

Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu,
namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. (Yohanes 15:24)
#Garis bawah jelas menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Bapa

Come ye near unto me, hear ye this;
I have not spoken in secret from the beginning;
from the time that it was, there am I:
and now the Lord GOD, AND his Spirit, hath sent me. (Isaiah 48:16)
#Terjemahan Inggris lebih sesuai membahasakan makna sebenarnya

Sebenarnya masih ada beberapa ayat lagi, misalnya:
Lukas 4:18
1 Petrus 1:2
1 Korintus 13:14
Ibrani 9:14
Roma 15:30, dan ayat-ayat lain
Silakan teman-teman mengeksposisinya sendiri

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku rasa sudah cukup jelas
Sekali lagi mari kita renungkan:
Allah adalah Roh

Karena itu, pemikiran kita tentang Benda
Tidak bisa kita aplikasikan untuk memikirkan Roh

“Benda ya Benda, Roh ya Roh”

Ketika kita melihat Benda
Kita bisa mengatakan, “satu ya satu” dan “tiga ya tiga”
Kita bisa mengatakan, “di situ ya di situ” dan “di sana ya di sana”
Kita bisa mengatakan, “dulu ya dulu” dan “sekarang ya sekarang”

Tetapi ketika berbicara tentang Roh, spesifiknya Roh Allah,
Kita tidak bisa memakai ide seperti itu
Dia tidak di situ saja, Dia tidak di sana saja,
Dia ada di mana-mana PADA SAAT YANG SAMA
Dia tahu masa lalu, Dia tahu masa kini, Dia tahu masa depan
Dan itu berarti Dia ada di segala zaman

Dengan demikian:
istilah waktu, tidak lagi aplikatif untuk mendefinisikan Allah

Sama dengan itu:
Istilah nominal/jumlah, tidak lagi aplikatif untuk mendefinisikan Allah. Ketika Dia berkata bahwa “Allah itu Esa/Satu”, jangan buru-buru mendefinisikan satu Roh sebagaimana satu buah benda. Satu yang menunjukkan Allah tidak sama dengan satu untuk menunjukkan satu buah benda. Dan definisi “satu” dari Tritunggal sebenarnya telah dijelaskan pula dalam Alkitab.

Sekarang tinggal bagianmu
Apakah kamu masih bersikeras menganggap “cara berpikirmu” yang benar
Atau kamu mau merendahkan hatimu
Dan mencoba memahami “Siapa Allah Esa yang Sesungguhnya”

to be continued