Berbahan Bakar dari Sukacita di dalam Kristus

Paul exhorts believers towards a life of godliness,
fueled by joy in Christ and concern for others,
not personal gain and gratification.
~Jonathan C. Edwards~

Saya sangat menyukai frase yang dipakai oleh penulis, fueled by joy in Christ, yang mengibaratkan sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar yang olehnya kita dapat mengasihi orang lain dan bergerak untuk menyatakan kasih itu dalam bentuk tindakan. Benar sekali, sukacita di dalam Tuhan adalah bahan bakar yang memasok energi ke dalam hati kita yang terkadang beku, lemah, dan malas ini. John Piper menggunakan perumpamaan yang lain. Ia mengibaratkan sukacita di dalam Tuhan sebagai air yang terus menerus tercurah ke dalam suatu wadah. Lama kelamaan, wadah itu akan terisi penuh oleh air tersebut sehingga tidak dapat tertampung lagi dan airpun mulai bertumpahan keluar dan menjadi overflow yang mengairi daerah sekelilingnya. Demikianlah sukacita di dalam Tuhan, ketika sukacita Tuhan itu berlimpah-limpah di dalam hati kita, maka sukacita itu akan menjadi overflow yang tercurah kepada orang lain.

Hal yang mirip terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Pada saat itu, saya sedang bergumul akan satu dan lain hal. Kemudian, saya membaca firman dari Lukas 1:46-56 tentang Magnificat yang dinyanyikan Maria, ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Saya terpana khususnya pada bagian awal:

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.” (Lukas 1:46-48)

Pada saat membaca firman tersebut, ada sesuatu yang aneh di dalam hati saya. Pertama-tama, saya merasa bingung dengan Maria. Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia merasa begitu bersukacita sementara ia mengandung benih yang tidak berasal dari suatu hubungan pernikahan yang sah. Tidakkah seharusnya ia juga merasa takut, bimbang, atau lainnya? Tidakkah ia gusar kalau-kalau orang-orang akan menuduhnya telah melalukan tindakan yang berdosa dan yang mungkin dapat menyeretnya dalam hukuman rajam? Tidakkah ia cemas orang-orang akan mempertanyakan perutnya yang kian membesar dan kemudian merendahkannya? Tidakkah ia …?

Tetapi Maria merasa bersukacita. Dari Magnificat-nya, tampak bahwa sukacita ilahi melimpah-limpah di dalam hatinya. Sukacita Maria itu kemudian menjadi overflow yang mengalir, yang melampaui rentang waktu dua ribu tahun dan yang akhirnya sampai dan tinggal di hati saya. Sayapun berlimpah-limpah dengan sukacita yang berasal daripada Tuhan yang terlebih dahulu mengisi dan melintasi hati Maria ini.

Dan apakah yang muncul dalam benak saya ketika saya merasa begitu bersukacita? Ya, sukacita itu berubah menjadi kasih dan menjadi bahan bakar yang menggerakkan saya untuk mengasihi dan menyatakan kasih itu di dalam sebuah tindakan.

Itulah yang saya mengerti mengenai sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar. Tentu saja kita tidak boleh puas jika sukacita atau kasih yang ada di dalam hati kita itu hanyalah sebatas feeling atau chemistry atau apapun yang memang terasa nikmat di hati namun tidak berkuasa menggerakkan tubuh kita untuk bertindak. Kita adalah orang Kristen. Kita hidup bukan oleh feeling atau chemistry atau circumstances atau yang lainnya. Kita hidup oleh iman dan kita tahu bahwa iman yang sejati itu adalah iman yang bertindak (Yakobus 2:17) dan yang bekerja di dalam kasih (Galatia 5:6) dan Allah telah menetapkan bahwa bahan bakar dari tindakan kasih itu adalah sukacita di dalam Kristus.

Amin

Penderitaan Menancapkan Kita pada Kristus

spurgeon3

Paku yang dihantam oleh seorang tukang kayu yang handal tidak akan bengkok, patah, atau hancur tetapi akan tertancap dalam dan kuat pada dinding. Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang percaya. Setiap ujian, tantangan, kesukaran, hantaman, kekecewaan, kegagalan, bahaya, penderitaan, bahkan ancaman kematian tidak ditujukan pada kita untuk membuat kita bengkok, patah, atau hancur melainkan untuk membuat kita tertancap makin dalam dan kuat pada Kristus Yesus, Tuhan kita.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
(Roma 8:28)

Allah tulut bekerja dalam segala sesuatu, dan seringkali “segala sesuatu” itu mencakup berbagai-bagai penderitaan dan pergumulan yang harus kita hadapi. Kata “untuk” di dalam ayat ini merupakan kata yang sangat penting sebab oleh kata “untuk” kita memahami dan diyakinkan bahwa semua penderitaan dan pergumulan itu datang kepada kita bukan secara kebetulan, melainkan karena satu tujuan yang baik dan spesifik dari Allah. Tujuan apakah itu? Ya, untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Allah, yakni mereka yang dipanggil sesuai rencana Allah, oleh kuasa Roh Kudus, untuk diselamatkan oleh Kristus, tinggal di dalam Kristus, ikut setiap langkah Kristus, dan menjadi serupa dengan Kristus.

Tidak ada satupun penderitaan yang Allah biarkan masuk ke dalam hidup kita tanpa terlebih dahulu “disaring” oleh hikmat-Nya yang selalu berfokus untuk kemuliaan-Nya serta untuk kebaikan dan kebahagiaan kita. Oleh sebab itu, janganlah kita takut akan apapun. Yang Mahakuasa adalah Bapa kita. Ia adalah Tukang Kayu yang Handal. Dan Kristus adalah Batu Karang yang pada-Nya kita tertancap oleh setiap hempasan yang diizinkan oleh Allah itu.

Semakin banyak tantangan yang kita alami, semakin dalam kita tertancap pada Kristus. Semakin dalam kita tertancap pada Kristus, semakin kita dekat dan menyatu dengan-Nya. Semakin kita dekat dan menyatu dengan Kristus, semakin teguh jaya kita berdiri dan semakin kekuatan-Nya yang tiada batas itu mengalir dan tercurah kepada kita.

keller

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati
dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
(Matius 11:28-29)

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
(2 Korintus 12:9)

Amin

Tidur

Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. (Kejadian 2:20-22)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya.

Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Firman TUHAN kepada Abram: “…” (Kejadian 15:10-12)

nn

Dua kejadian di atas merupakan dua peristiwa paling penting di dalam sejarah dunia dan sejarah penyelamatan umat Allah. Dua peristiwa itu adalah peristiwa di mana Allah menganugerahkan kepada Adam seorang penolong yang sepadan, seorang pasangan hidup baginya serta peristiwa di mana Allah mengukuhkan janji-Nya untuk mengaruniakan keturunan kepada Abraham.

Di dalam ke dua peristiwa amat penting tersebut, ada kesamaan yang sangat penting untuk dimengerti oleh setiap orang percaya:

  • Keduanya diawali dengan manusia yang giat melakukan tanggung jawabnya di hadapan Allah. Hal ini ditunjukkan dengan Adam yang giat “memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan” serta Abraham yang sigap dalam mempersiapkan hewan korban yang menjadi korban untuk mengukuhkan perjanjian antara Allah dengannya.
  • Keduanya ditandai dengan manusia yang tidur setelah mereka menyelesaikan perintah dari Allah.
  • Keduanya diakhiri dengan Allah yang bertindak mengerjakan bagian-Nya, suatu perbuatan besar, perkara yang terindah.

Berbeda dengan dunia yang berada pada dua ekstrem, yakni antara kemalasan dan kecanduan bekerja, kehendak Allah bagi umat-Nya adalah supaya mereka giat bekerja dalam menjalankan panggilan Allah di dalam hidup mereka dan kemudian “tidur”. Pemazmur berkata:

“Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” (Mazmur 127:2)

Bagaimanakah dengan kita? Di tengah-tengah zaman yang restless ini, biarlah kita menyadari dan mengalami bahwa hal-hal paling besar di dalam hidup kita justru Allah anugerahkan kepada kita ketika kita rest in Him. Dan ketahuilah bahwa satu-satunya tempat peristirahatan yang sejati bagi jiwa manusia adalah Tuhan Yesus Kristus:

Come unto me, all ye that labour and are heavy laden, and I will give you rest.
(Matthew 11:28)

spurgeon

Giatlah bekerja hai jiwaku, kemudian tidurlah, tidurlah di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Amin

Pergilah!

parsons

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
(Kejadian 12:1-3)

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(Matius 28:18-20)

Kehendak Allah bagi Abraham adalah supaya Ia menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi (Kejadian 12:1-3). Kehendak Kristus bagi para rasul-Nya adalah supaya mereka juga menjadi berkat bagi semua bangsa (Matius 28:18-20).

Kita sebagai orang-orang percaya pada saat yang bersamaan merupakan anak-anak Abraham, yang adalah Bapa orang beriman (Galatia 3:7), dan murid-murid Kristus. Allah juga memiliki kehendak yang sama untuk hidup kita, sebagaimana kehendak-Nya bagi Abraham dan para rasul, yakni supaya kita menjadi berkat bagi dunia ini. Dengan demikian, panggilan Allah yang berlaku bagi Abraham dan para rasul, juga berlaku bagi kita, yaitu “Pergilah!”.

“Pergilah!” itulah slogan orang Kristen. Itulah tema hidup kita. Tidak ada satupun orang percaya yang tidak pergi:

  • pergi dari hidup di dalam maut menuju hidup di dalam Tuhan Yesus Kristus,
  • pergi dari kegelapan menuju terang,
  • pergi dari zona nyaman menuju zona perang,
  • pergi dari golongan sendiri menuju orang-orang yang membutuhkan dan yang belum mengenal Tuhan,
  • pergi dari kemalasan menuju pelayanan,
  • pergi dari hidup untuk diri sendiri menjadi hidup bagi orang lain.

“Pergilah!” maka Allah akan menjadikan kita berkat bagi semua kaum.

“Pergilah!” maka Kristus akan menjadikan kita berkat bagi semua bangsa.

“Pergilah!” Namun, menghidupi panggilan itu tidaklah semudah mengucapkannya. Panggilan itu bukanlah panggilan untuk manusia jasmani. Panggilan itu adalah panggilan yang ajaib, panggilan yang supranatural, panggilan yang rohani, dan panggilan sorgawi. Panggilan itu hanya dapat dipenuhi jika kita beroleh kuasa dari Roh Kudus.

bright

Kiranya Allah senantiasa memenuhkan kita dengan kuasa Roh-Nya yang kudus dan yang menguduskan.
Amin.

Hari Ini

Yesus Kristus tetap sama,
baik kemarin
maupun hari ini
dan sampai selama-lamanya.
(Ibrani 13:8)

Tidak perlu dipertanyakan apakah orang Kristen percaya atau tidak pada perbuatan besar Kristus bagi umat-Nya 2000 tahun yang lalu, yaitu ketika Ia mati di kayu salib untuk menanggung segala dosa setiap orang percaya kepada-Nya, supaya di dalam Dia mereka beroleh pengampunan dosa di hadapan Allah. Tidak perlu dipertanyakan apakah orang Kristen meyakini atau tidak bahwa keselamatan mereka sepenuhnya bergantung, tidak pada perbuatan baik mereka, melainkan pada perbuatan Kristus di hari “kemarin” tersebut. Tidak perlu dipertanyakan pula apakah orang Kristen percaya atau tidak bahwa di hari “esok”, Yesus Kristus akan datang untuk kedua kalinya, mengakhiri sejarah peradaban manusia, menghapus segala penderitaan dan air mata, dan membawa mereka ke dalam Kerajaan-Nya untuk selama-lamanya.

Banyak dari kita, orang-orang yang mengaku percaya di dalam nama Kristus, tidak terlalu bermasalah dalam meyakini karya dan kuasa-Nya di masa yang lampau. Kita juga tidak sulit untuk meyakini bahwa Ia akan berkuasa sampai selama-lamanya. Kita mengimani bahwa Ia adalah adalah Tuhan atas hari kemarin dan hari esok. Kita percaya bahwa Yesus Kristus tetap sama baik kemarin dan sampai selama-lamanya. Inilah yang menjadi fondasi iman kita, bukan? Tentu saja.

Tetapi pertanyaannya, bagaimanakah iman kita akan kuasa-Nya di hari ini, ketika kita sedang mengalami suatu masalah yang membuat kita lemah?

Kita perlu menyadari bahwa iman kita di dalam Kristus tidak hanya berbicara tentang apa yang Ia perbuat bagi kita di masa yang lampau dan apa yang akan Ia lakukan bagi kita di masa yang akan datang. Perhatikanlah bahwa di dalam Ibrani 13:8, Roh Kudus tidak hanya menggerakkan sang penulis Kitab Ibrani untuk menyebut hari “kemarin” dan “sampai selama-lamanya”. Ia tidak hanya menegaskan bahwa Kristus adalah Tuhan yang sama di hari kemarin dan hari esok. Apakah yang Ia katakan? Ya, Ia juga menyebut “maupun hari ini”. Ini merupakan bagian yang sangat penting yang tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Seluruh bagian firman Tuhan, setiap detailnya, mengandung nilai kebenaran yang teramat sangat penting yang melaluinya kita beroleh hidup yang baru, dan tidak hanya itu, kita juga beroleh hikmat untuk menghidupi hidup yang baru tersebut.

Jadi, apakah artinya hal ini? Ya, ini berarti bahwa Allah ingin kita untuk meyakini bahwa Yesus Kristus yang kita imani dan kasihi sesungguhnya tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini, dan sampai selama-lamanya. Sebagaimana Ia adalah Tuhan di hari kemarin dan Tuhan sampai selama-lamanya, Ia juga adalah Tuhan atas hari ini.

Orang-orang di sekitar kita mungkin tidak meyakini dan mengakui hal tersebut namun tetaplah kenyataannya Yesus Kristus adalah Tuhan atas hari ini dan Ia tidak pernah berubah. Kuasa dan kemuliaan-Nya tetap dan tidak berkesudahan. Dan tidak hanya itu, kasih-Nya kepada umat-Nya juga tidak berubah. Sebagaimana Ia mengasihi dan memperhatikan kita ketika Ia mati di atas kayu salib untuk menebus kita, demikianlah Ia mengasihi dan memperhatikan kita hari ini, saat ini ketika kita sedang menghadapi suatu masalah. Sebagaimana Ia akan menjaga dan membela kita di hari penghakiman yang akan datang, demikianlah Ia juga akan menjaga dan membela kita hari ini, bahkan detik ini ketika kita sedang dirundung oleh duka. Itulah yang Ibrani 13:8 ingin sampaikan kepada kita.

Apakah kita benar-benar percaya akan hal ini?
Apakah kita benar-benar meyakini bahwa Yesus Kristus tetap sama bahkan untuk hari ini?
Apakah kita sungguh-sungguh beriman bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan atas hari ini?

Jika kita benar-benar percaya, maka hari ini, ya, hari ini, kita tidak memiliki alasan untuk merasa takut, malas, tidak bersukacita, tidak bergairah, tidak mengucap syukur, tidak melayani Dia, atau tidak memandang kebesaran dan kedaulatan-Nya di balik segala perkara. Jika Yesus Kristus sungguh-sungguh adalah Tuhan yang sama di hari ini, maka, tidak peduli seberapapun besarnya masalah atau musuh yang  kita hadapi hari ini, Yesus Kristus tetaplah Allah yang berdaulat dan berkuasa penuh dan kita berada di dalam genggaman-Nya. Oleh sebab itu, janganlah kita memusatkan perhatian kita kepada masalah, sebagaimana Petrus yang memusatkan perhatiannya kepada angin badai sehingga ia merasa takut dan akhirnya tenggelam, tetapi baiklah kita mengarahkan hati kita kepada Kristus yang memegang kendali absolut hari ini.

chambers-3

Tuhan Yesus tetap sama, baik kemarin, ketika Ia meredakan badai yang menderu, mengusir Iblis, memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan, menyembuhkan orang-orang sakit, membangkitkan orang-orang mati, mati untuk menanggung segala dosa kita, bangkit di hari yang ketiga, naik ke sorga, dan mencurahkan Roh Kudus-Nya untuk mendirikan gereja-Nya. Tuhan Yesus tetap sama, baik esok, ketika Ia datang kembali di dalam segala kebesaran dan kemuliaan, untuk membelenggu Iblis dan segala pengikutnya serta melemparkan mereka ke dalam lautan api, menghakimi segala yang jahat dan yang tidak percaya di dalam nama-Nya, menutup sejarah, mengubah dunia menjadi dunia yang baru, dan berkuasa di dalam Kerajaan-Nya sampai selama-lamanya bersama seluruh umat-Nya. Ia tetap sama detik ini, menit ini, jam ini, hari ini. Ia tidak berubah.

Bukankah hal ini terdengar begitu indah di telinga kita? Ia adalah Tuhan atas hari kemarin, hari esok, maupun hari ini. Jika Ia dapat melakukan hal paling megah di hari kemarin dan di hari esok, maka Ia juga dapat melakukan hal paling megah di dalam hidup kita hari ini juga. Oleh sebab itu, janganlah kita takut melainkan percaya kepada-Nya hari ini. Janganlah kita lari dari masalah melainkan bersandar kepada-Nya hari ini. Janganlah kita putus asa, seolah-olah Ia tidak ada atau tidak sama di hari ini, melainkan berharap akan kasih dan kuasa-Nya di dalam hidup kita hari ini.

Percayalah bahwa Ia tetap sama, maka Ia akan menjadikan kita tidak sama dengan diri kita yang lama. Percayalah bahwa Ia tidak pernah berubah, maka Ia akan membuat kita berubah menjadi manusia yang baru (Efesus 4:24, Kolose 3:10).

cuyler

Amin

Tetaplah Di Sana

Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik,
diamlah di negeri dan berlakulah setia,
dan bergembiralah karena TUHAN;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN
dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang,
dan hakmu seperti siang.

(Mazmur 37:4-6)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

chambers-4

Kehidupan ini tidak selalu menyenangkan untuk dijalani. Ada banyak peristiwa, banyak pekerjaan, dan banyak pribadi yang keberadaannya seringkali mengusik hati kita. Tidak jarang hal ini terjadi di dalam dunia kerja. Tugas yang kurang disukai atau kurang mencerdaskan, suasana kerja yang kurang kondusif, bos yang kurang mengayomi, dan rekan kerja yang kurang kooperatif kerap menjadi alasan orang-orang, termasuk orang percaya, tidak betah dengan pekerjaannya dan hendak segera keluar dari sana demi mencari tempat pekerjaan baru yang lebih baik.

Apakah ini pernah terjadi padamu atau mungkin kau sedang mengalaminya saat ini? Jika “iya”, pernahkah engkau berpikir bahwa “tempat pekerjaan baru yang lebih baik” itu akan benar-benar lebih baik? Yakinkah engkau bahwa tempat itu akan menghadirkan kedamaian dan sukacita yang hatimu impikan?

Firman Tuhan di dalam mazmur ini berkata, apakah yang akan membuat manusia memiliki apa yang sebenarnya hatinya inginkan:

  • Percaya kepada Tuhan (ayat 3a)
  • Melakukan yang baik (ayat 3a)
  • Diam di negeri di mana engkau berada (ayat 3b)
  • Berlaku setia (ayat 3b)
  • Bergembira karena TUHAN (ayat 4)

Itulah jalan yang Tuhan sediakan, bukan jalan untuk lari dari kenyataan seperti yang seringkali terlintas di benak kita setiap kali kita merasa terusik dengan pekerjaan atau rekan kerja kita. Tuhan tahu dan mengerti setiap ketidaknyamanan dan penderitaan yang kita alami di tempat kita berada. Tetapi Tuhan tidak buru-buru mengizinkan kita untuk pergi dari tempat yang tidak menyenangkan itu, bahkan Ia mau agar kita bersabar di sana, sebab di sana Tuhan telah meletakkan mutiara-Nya, bukan untuk kenyamanan semu kita, melainkan untuk kedewasaan karakter kita yang tercapai oleh kekuatan-Nya, bukan kekuatan kita.

Ya, Tuhan jauh lebih peduli dengan karakter kita dibanding kenyamanan kita. Ia punya waktu yang kekal untuk kenyamanan kita di sorga kelak sehingga kini Ia lebih berfokus pada karakter kita.  Ia lebih tertarik untuk membenahi kondisi di dalam hati kita terlebih dahulu dibanding bergegas mengubah situasi di permukaan kita. Perhatikanlah apa yang Ia ucapkan. Ia mau kita berbuat baik, Ia mau kita tetap tinggal di sana dan berlaku setia di sana, bukan buru-buru pergi mencari tempat baru yang belum tentu lebih baik.

nn3

Mengapa belum tentu lebih baik? Sebab kebaikan dan sukacita yang hati kita butuhkan bukanlah berasal dari suatu tempat, melainkan dari Tuhan semata. Dialah awal dan akhir dari kegembiraan kita sebagaimana Ia membuka lima poin mazmur-Nya dengan percaya kepada Tuhan dan mengakhirinya dengan bergembira karena TUHAN (Mazmur 37:3, 4).

Di dalam segala sesuatu, mulailah dengan percaya kepada Tuhan. Salomo berkata di dalam Amsalnya, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5-6)”. Iman kepada Allah akan menjadi sumber kekuatan dan hikmat bagi kita untuk melakukan yang baik, tetap diam di tempat di mana Tuhan telah menempatkan kita, dan berlaku setia. Dan setelah kita mampu menjalani semua hal itu, hendaklah kita bergembira karena TUHAN, bukan karena hal lain, sebab hanya Dialah yang telah menuntun kita menjalani semua proses yang ada.

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel:
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan,
dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
(Yesaya 30:15)

Tetapi tidak hanya itu, Ia mengerti bahwa kita tidak hanya membutuhkan sukacita dan kedamaian. Apabila kita hidup taat kepada Allah, menurut tuntunan Roh dan firman-Nya serta berdasarkan kuat kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:20), Ia tahu bahwa pada waktu-Nya, Ia juga perlu memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang (Mazmur 37:6) di hadapan orang-orang yang menurut-Nya perlu melihatnya.

Tuhan tidak menghendaki kita merasa tidak nyaman hanya supaya kita merasa tidak nyaman. Ia mengizinkan kita hidup untuk sekian waktu lamanya di dalam ketidaknyamanan karena ada maksud yang indah di belakang semua itu dan itu adalah supaya kita mampu memancarkan terang-Nya yang benderang, bukan cahaya kita sendiri yang redup dan gelap. Ia menginginkan kita tidak mengejar kemuliaan kita sendiri sebab, sadar tidak sadar, justru itulah yang seringkali menjadi alasan utama mengapa kita merasa tidak nyaman dengan peristiwa, pekerjaan, dan pribadi mengusik yang ada di sekitar kita. Ya, sifat egois, ekspektasi yang tidak seturut dengan kehendak Tuhan, dan kehausan kita akan kemuliaan dan kenyamanan pribadi, itulah yang banyak kali menjadi akar dari segala penderitaan dan ketidaknyamanan yang kita alami. Jika kita merasa tidak betah karena pekerjaan kita menuntut kita untuk melakukan dosa, itu adalah hal yang wajar dan kita memang perlu keluar dari tempat itu tetapi jika tidak ada alasan yang cukup masuk akal dari ketidakbetahan kita akan pekerjaan itu, perhatikanlah, bisa jadi itu adalah tanda dari kondisi kerohanian yang buruk.

Allah tidak mau kita berada di dalam lumpur itu; Ia mau kita bekerja demi kemuliaan-Nya. Ia menghendaki “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Ia mau cahaya keindahan Injil Kristus terpancar dari hidup, performa, kedisiplinan, dan tutur kata kita di dalam tempat kita bekerja. Itulah makna terpendam di balik mazmur Daud ketika ia berkata “kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37:6), yakni kebenaran dan hak yang merupakan buah dari karya Allah, bukan dari kekuatan kita semata. Dan sebelum Ia bertindak untuk mengerjakan semua itu, Ia memanggil kita untuk menyerahkan hidup kita kepada TUHAN dan percaya kepada-Nya terlebih dahulu.

Inilah janji TUHAN, Gembala kita, kepada setiap kita yang tidak sedang merasa nyaman di tempat di mana Tuhan telah menaruh kita demi rancangan-Nya. Ia tidak ingin kita tergesa-gesa dan pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat lain yang menurut pandangan kita lebih baik. Ia mau kita pertama-tama percaya kepada-Nya, melakukan yang baik, tetap tinggal di sana, setia, dan bergembira karena Dia. Ia ingin agar kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan sekali lagi, percaya kepada-Nya. Ia menghendaki kita tahu “…bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28)”. Inilah yang akan menjadi sumber sukacita dan kedamaian yang sejatinya hati kita rindukan.

lawson

Dan yang terakhir, Tuhan Yesus pernah berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan (Matius 11:28-29).”

Ini merupakan Mazmur 37:4-6 versi Tuhan kita. Ia berkata bahwa Ia tahu bahwa kita sedang letih, lesu, dan berbeban berat. Namun, apakah yang Ia katakan? Apakah Ia menyuruh kita untuk bergegas meninggalkan tempat yang membuat kita letih, lesu, dan berbeban berat itu? Tidak. Sebaliknya, Ia masih memberi tugas kepada kita. Ia memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Ia bahkan masih memanggil kita untuk memikul kuk yang Ia pasang dan untuk belajar pada-Nya. Apakah Tuhan sedang bercanda? Kita sedang letih, lesu, dan memiliki beban yang sangat berat tetapi Ia masih memerintahkan kita untuk memikul kuk yang Ia taruh dan untuk belajar pada-Nya, apakah Ia bercanda?

Tidak. Ia tahu bahwa akar dari segala masalah kita adalah cinta akan diri sendiri; kita ingin tujuan kita tercapai, kita ingin merasa nyaman, kita ingin terlihat mulia. Itulah sebabnya Ia mengajak kita untuk belajar dari-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Tidak hanya itu, kita tidak hanya bisa belajar dari Tuhan kita, ketika kita mulai sadar akan betapa jahatnya hati dan ekspektasi kita dibanding dengan kemurniaan hati-Nya, kita juga beroleh keberanian untuk tetap datang kepada-Nya dan memohon pengampunan dan penyucian dari-Nya sebab Ia adalah Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati. Ia berjanji tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (Yesaya 42:3). Ia berjanji tidak akan menolak siapapun yang datang kepada-Nya (Yohanes 6:37). Itulah mengapa Ia mengundang kita dan berkata, “Marilah kepada-Ku… dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Di manapun kita berada saat ini dan apapun kondisi kita, entahkah itu letih, lesu, berbeban berat, dan merasa tidak nyaman dan tertekan di tempat kita bekerja, marilah kita segera datang kepada Kristus, bukan ke tempat lain atau tempat pekerjaan yang baru, dan jiwa kita akan mendapat ketenangan. “Bergembiralah karena TUHAN maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

spurgeon-3

Amin

Ketika Mengandalkan Manusia

Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat:

“Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan,
dan bawalah hasilnya kepadaku,
supaya aku tahu jumlah mereka.”

Lalu Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat. Di antara seluruh orang Israel ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang.

Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel.

Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel, maka tewaslah dari orang Israel tujuh puluh ribu orang.

(1 Tawarikh 1-2, 5, 7, 14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Daud adalah seseorang yang sangat dekat dengan Allah. Ia berkali-kali menyaksikan pertolongan Allah di dalam hidupnya. Ia pernah menaklukkan singa dan beruang seorang diri ketika masih menjadi gembala muda, menewaskan Goliat, bertahan dari pengejaran Saul bahkan dapat membunuhnya jika ia mau, dan menang di dalam berbagai-bagai pertempuran, semua karena Allah. Ia percaya akan kasih dan setia Allah kepadanya. Ia tahu pasti bahwa ia tidak dapat bersandar pada kekuatannya sendiri; Allah adalah kekuatannya dan kota bentengnya (Mazmur 59:10).

img_19716772555422

Namun, ketika Daud sudah berada di dalam kejayaan dan ketika “Iblis bangkit… (1 Tawarikh 21:1)” – oh alangkah ngerinya jika Iblis telah bangkit – ia menjadi sombong. Ia seakan melupakan semua campur tangan Tuhan yang membawanya ke dalam berbagai kemenangan dan kejayaan. Ia mulai mengandalkan kekuatannya sendiri dan itu mendorongnya untuk menghitung seberapa banyak orang Israel yang mampu berperang. Dahulu, ketika masih muda, ia tidak perlu mengukur kekuatan Goliat sebelum bertempur melawannya sebab ia tahu kekuatan Allah. Namun kini, ketika Daud sudah jaya, ia malah merasa perlu untuk mengukur kekuatannya supaya ia bisa siap bertempur dengan musuh-musuhnya. Ia seakan lupa bahwa TUHAN adalah kekuatannya dan kekuatan-Nya tidak perlu dihitung sebab besarnya tidak terukur dan dalamnya tidak terselami.

Yoab, panglima tentara Daud, melaporkan kepada Daud hasil sensus tersebut. “Ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang”, kira-kira sebesar itulah kekuatan perang Daud. Apakah Daud puas atau tidak dengan jumlah tersebut, firman Tuhan tidak memberitahu kita akan hal itu. Namun, keinginan Daud itu jahat di mata Allah. Di dalam murka-Nya, tujuh puluh ribu orang Israel tewas karena penyakit sampar hanya dalam tiga hari.

Daud ingin tahu seberapa banyak tentaranya. Tuhan berespon dengan menewaskan begitu banyak orang Israel di dalam waktu yang sedemikian singkat. Daud ingin mengukur kekuatannya. Tuhan menanggapi dengan melucuti kekuatan Daud. Itulah yang terjadi ketika kita bersandar kepada kekuatan kita sendiri dan berhenti mengandalkan Allah kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

spurgeon

Firman Tuhan berkali-kali berkata bahwa Ia menentang orang yang sombong dan mengasihi orang yang rendah hati (Amsal 3:34, Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Melalui Yehezkiel, Ia berkata bahwa Ia akan “merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali (Yehezkiel 17:22-24).” Melalui Zefanya, Ia berkata, “Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, yakni sisa Israel itu (Zefanya 3:12-13)”. Melalui Yeremia, Ia berfirman:

“Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya,
janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya,
janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut:
bahwa ia memahami dan mengenal Aku,
bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia,
keadilan dan kebenaran di bumi;
sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

(Yeremia 9:23-24)

Itulah isi hati TUHAN, itulah yang Ia sukai, yakni agar kita memahami dan mengenal-Nya. Ia menentang segala bentuk kesombongan, baik kesombongan karena hikmat, kekuatan, harta, bahkan kesalehan, sebab semua itu akan mencegah kita dari memahami dan mengenal-Nya. Ia benci kepada segala bentuk keangkuhan sebab karenanya kita tidak akan mengenal Dia sebagai Allah yang penuh kasih setia, keadilan, dan kebenaran di bumi.

Dan Ia tahu benar bahwa manusia, yang telah jatuh ke dalam dosa dan tinggal di dalam dunia yang telah tercemar oleh dosa, akan rentan untuk menjadi sombong dan mengandalkan diri sendiri, tidak terkecuali umat-Nya. Oleh sebab itu, di dalam hikmat dan kasih sayang-Nya yang besar kepada domba-domba-Nya, Ia mengizinkan mereka untuk menjadi lemah, bahkan menderita di dalam dunia. Semua itu Ia lakukan bukan untuk menindas mereka, melainkan untuk menguji, memurnikan, dan menguatkan iman mereka, membuat mereka berhenti mengandalkan dirinya sendiri dan berlindung kepada TUHAN, berhenti mengejar kemuliaan diri sendiri dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Kemuliaan mereka, dan, seperti apa yang Ia nyatakan melalui Yeremia, agar mereka memahami dan mengenal Dia, bahwa  Dialah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi.

lawson

Paulus mengerti benar kelemahan dan penderitaan yang demikian. Ia berkata, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri (2 Korintus  12:7). Paulus bahkan sampai mengulangi “supaya aku jangan meninggikan diri” sebanyak dua kali; ia tahu seperti apa jahatnya hatinya dan betapa mudahnya ia meninggikan diri seandainya Tuhan membiarkannya. Dan di dalam kesesakan yang diizinkan Tuhan terjadi itu, Paulus berdoa agar Tuhan mencabut pencobaan itu darinya. Namun, seperti apakah respon Tuhan? Ia berkata kepada Paulus:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9a)

Ia menegaskan kepada Paulus, pertama, bahwa kasih karunia-Nya kepada Paulus, dan kepada kita semua, adalah cukup. Ia tidak pernah kurang di dalam memberkati kita. Jika karunia-Nya nampak tidak cukup, itu karena kita enggan percaya dan dosa membuat kita terlalu malas untuk membuka mata kita dan melihat campur tangan-Nya. Kedua, Ia mengutarakan kebenaran mencengangkan yang hanya berlaku bagi orang percaya, yaitu bahwa kelemahan di dalam hidup orang Kristen tidak pernah final; justru sebaliknya, kelemahan merupakan gerbang atau permulaan untuk kuasa-Nya yang sempurna. Tanpa adanya kelemahan, tidak akan ada manifestasi kuasa Allah yang berlimpah-limpah di dalam hidup orang percaya. Kelemahan adalah bahan baku yang Tuhan pakai menjadi jalan masuk bagi kekuatan-Nya. Itulah sebabnya Paulus tidak pahit hati di dalam kelemahannya, malahan ia memberi tanggapan:

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
(2 Korintus 12:9b)

Paulus tidak sekadar menerima kelemahannya dengan tabah hati, ia bahkan bermegah atasnya. Dan perhatikan di sini bahwa Paulus berkata “supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. Itu merupakan responnya terhadap Tuhan yang berkata kepadanya, “sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Ini merupakan hal yang luar biasa. Mengapa? Sebab ternyata Pribadi yang berbicara kepada Paulus mengenai kelemahan bukanlah Bapa, maupun Roh Kudus, melainkan Tuhan Yesus Kristus. Dialah Allah yang Perkasa (Yesaya 9:5) yang juga pernah menjadi seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan (Yesaya 53:3) demi kita. Ia adalah Tuhan yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3) dan pada saat yang sama pernah turut mengalami kelemahan-kelemahan kita, bahkan dicobai dalam segala hal (Ibrani 4:15). Alangkah luarbiasanya Dia.

Ia pernah menjalani hidup yang penuh penderitaan. Mungkin itulah sebabnya Ia yang datang kepada Paulus. Tuhan Yesus mengerti benar seperti apa kelemahan itu sebab Ia pernah merasakannya. Bahkan, Ia mati di atas kayu salib di dalam kelemahan. Namun, di sinilah letak pentingnya. Di bukit Kalvari, Kristus menderita kelemahan yang luar biasa tetapi justru kelemahan itulah yang menjadi jalan bagi kemenangan-Nya dan juga bagi keselamatan kita. Tanpa salib Kristus, tidak ada mahkota bagi kita. Tanpa kematian Kristus, tidak ada kehidupan bagi kita. Dan jika Kristus, melalui kelemahan, menyempurnakan misi-Nya untuk keselamatan kita dan semua orang berdosa yang percaya, bukankah Ia juga dapat memakai kelemahan untuk menyempurnakan kuasa-Nya dan misi-Nya di dalam hidup kita? Tentu saja Ia dapat; bahkan Ia akan melakukannya, Ia akan mengizinkan kelemahan datang di dalam hidup kita sebab “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibrani 12:6).” Oleh sebab itu, janganlah kita mengikuti kesalahan Daud yang mengandalkan diri sendiri dan menujukan matanya kepada jumlah tentaranya tetapi…

“… marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (Ibrani 12:1-2)”

Pencobaan akan datang. Kelemahan, sudah pasti, akan datang di dalam hidup kita (Ibrani 12:7-8, 2 Timotius 3:12). Namun, biarlah kita tetap berada dalam damai sejahtera Kristus (Yohanes 14:27) sebab kita tahu, dari perkataan Tuhan Yesus sendiri, bahwa kelemahan di dalam hidup kita adalah pertanda bahwa Kristus sedang menyempurnakan manifestasi kuasa-Nya di dalam hidup kita dan menyiapkan hati kita untuk memahami dan mengenal Dia, yang adalah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi, dan yang adalah Juruselamat kita yang sejati. Haleluya.

piper

Amin
Tuhan Yesus memberkati