Iman dan Berkat

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram:

“Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
(Kejadian 12:1-3)

Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.
(Galatia 3:7)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apabila diambil intisarinya, maka janji TUHAN kepada Abraham dapat disimpulkan menjadi dua hal:

  • Aku akan memberkati engkau, dan
  • Aku akan menjadikanmu berkat bagi banyak orang.

Abraham adalah bapa orang beriman (Galatia 3:7). Dengan demikian, setiap orang Kristen, yang adalah anak-anak Abraham, yakni orang-orang yang memiliki iman, akan menunjukkan karakteristik iman yang sejati yang ada pada Abraham.

Dan seperti apakah iman yang sejati itu? Iman yang sejati tidak hanya berbicara tentang percaya kepada Allah atau percaya bahwa Allah akan memberkati. Iman yang sejati juga adalah iman yang bekerja secara aktif (Yakobus 2:17, Galatia 5:6). Hanya dengan bekerjalah iman membuat seseorang menjadi berkat bagi banyak orang.

Oh Tuhan, tumbuhkanlah di dalam hati kami iman yang percaya kepada Engkau dan bekerja bagi Engkau untuk orang lain.

Oh Tuhan, mekarkanlah di dalam hidup kami iman yang menjadi wadah untuk menerima berkat dari-Mu serta menjadi saluran yang meneruskan berkat-Mu kepada orang lain.

Demi kemuliaan Kristus, yang adalah Sumber Iman kami (Ibrani 12:2).
Amin

Advertisements

TUHAN yang Akan Berperang Bagimu

Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, dan berseru:

“Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu:

Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini,
sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel.

Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu.

Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya. Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan suara yang sangat nyaring.

(2 Tawarikh 20:14-19)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setiap dari kita pasti sering menghadapi masalah, entahkah itu masalah dengan pasangan, atasan, rekan kerja, rekan bisnis, teman, studi, dan lain sebagainya. Tidak jarang, kita sampai pada titik di mana kita merasa bahwa diri kita terlalu lemah untuk menghadapi masalah itu seorang diri dan bahwa kita telah kehabisan akal.

Hal itulah yang raja Yosafat dan bangsa Yehuda alami dalam perikop ini. Bani Moab dan Bani Amon dalam pasukan yang sangat besar sedang bersiap-siap untuk menyerang mereka (1 Tawarikh 20:1-2). Mendengar kabar tersebut, Yosafat menjadi takut (1 Tawarikh 20:3), menyadari bahwa ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapi mereka, dan mengaku bahwa ia tidak tahu apa yang harus ia dan bangsanya lakukan (1 Tawarikh 20:12).

Takut, tidak berdaya, dan kehabisan akal, bukankah ketiga hal itu sering kita rasakan ketika kita menghadapi problema di dalam hidup kita? Hal itulah yang dialami Yosafat tetapi syukur kepada Allah, ia mengambil keputusan untuk mencari TUHAN (1 Tawarikh 20:3) dan menujukan matanya kepada-Nya (1 Tawarikh 20:12).

Penggalan firman di atas adalah respon Allah terhadap kerendahan hati Yosafat. Perhatikanlah apa yang Allah sampaikan (1 Tawarikh 20):

  • Ia berkata bahwa Yosafat dan seluruh Yehuda tidak perlu takut dan terkejut (ayat 15).
  • Ia berjanji bahwa Ia sendiri yang akan maju berperang demi Yehuda (ayat 15).
  • Ia mengatakan bahwa bangsa Yehuda tidak usah bertempur (ayat 17).
    Mereka cukup percaya kepada TUHAN dan melihat hasil perbuatan-Nya.
  • Ia berjanji akan memberi mereka kemenangan (ayat 17).
  • Ia sekali lagi mengingatkan mereka bahwa mereka tidak perlu takut dan terkejut (ayat 17).
  • Ia berjanji akan selalu menyertai mereka (ayat 17).

Janji TUHAN ini tidaklah eksklusif hanya bagi Yosafat dan kerajaannya. Janji berkat ini juga tersedia bagi setiap kita, tidak peduli sebesar apapun masalah yang kita hadapi, asalkan kita, seperti yang raja Yosafat lakukan, mencari TUHAN dan menujukan mata kita kepada-Nya.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat,
supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.
(1 Petrus 5:6)

Amin

Dua Jalan Hidup

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, …
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
(Matius 6:25 & 27)

Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.
(Amsal 3:1-2)

~~~~~~~~~~~~~~~

Saya percaya Tuhan sudah menetapkan batas waktu yang fix untuk setiap orang yang kemudian akan menjadi usianya selama ia hidup di bumi ini.

Di dalam keadilan-Nya, Tuhan menetapkan bahwa kekuatiran manusia, yang merupakan buah dari keraguan akan Allah, tidak akan dapat menambahkan satu hastapun pada jalan hidupnya (Matius 6:25 & 27). Justru sebaliknya, kekuatiran akan mengubah sebagian dari waktu hidup manusia yang seharusnya dapat dijalaninya dengan produktif dan sukacita, menjadi suatu perjalanan yang hampa dan mati sehingga ia tidak dapat menikmati kepenuhan dari batas waktu yang Tuhan sudah beri. Orang yang kuatir akan “lebih cepat mati” sebab sebelum tubuhnya benar-benar mati, hatinya sudah lama mati.

Namun, di dalam kasih-Nya, Tuhan juga menetapkan bahwa ketaatan manusia, yang merupakan buah dari iman kepada Allah, akan membuat seseorang “panjang umur”. Usia hidup orang itu tetaplah tidak berubah sebagaimana yang sudah Allah tetapkan sejak permulaan zaman. Namun, kepada mereka yang percaya dan taat, Allah akan menganugerahkan berkat demi berkat yang membuat orang itu dapat menikmati kepenuhan batas waktu yang sudah Tuhan beri. Ia akan menjalani hidup yang bermakna, produktif, dan menjadi berkat bagi orang lain. Jika Tuhan memberinya tujuh puluh tahun untuk hidup, ia akan hidup seakan-akan ia hidup hingga seratus tahun. Ketika orang-orang lainnya hanya sekadar existing, ia tidak hanya hidup, melainkan benar-benar hidup.

Demikianlah perbedaan dua jalan hidup: jalan hidup orang yang kuatir, yakni yang meragukan Allah, dengan jalan hidup orang yang taat, yakni yang menaruh percaya dan harapnya hanya kepada Tuhan.

Amin

Tiga Komponen Terpenting dalam Iman dan Ibadah Kita

Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata:

“Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.”

(1 Raja-raja 18:36)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Doa ini Elia panjatkan di hadapan seluruh umat Israel ketika ia sedang berhadapan dengan ratusan nabi Baal untuk membuktikan siapa Allah yang sejati, TUHAN atau Baal. Di dalam doa ini, Elia menyebutkan 3 komponen penting dari pengenalan kita akan Allah, yaitu: “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang…

  1. bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel, dan
  2. bahwa aku ini hamba-Mu, dan
  3. bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.”

Allah, Hamba-Nya, dan Firman-Nya, tiga hal inilah yang menjadi komponen penting dalam iman dan ibadah kita.

Pertama-tama, kita harus mengenal Allah dan percaya bahwa Ia adalah Pencipta segala yang ada dan bahwa Ialah sumber hidup kita. Ialah juga sumber segala berkat dan karunia yang kita nikmati selama ini. Ia memiliki Hukum dan menjalankan hukum tersebut dengan suatu Perjanjian dengan umat-Nya. Barangsiapa percaya dan taat kepada Hukum dan Perjanjian tersebut akan beroleh berkat tetapi barangsiapa yang menyimpang akan jatuh ke dalam dosa yang mendatangkan penghukuman Allah kepadanya, bahkan dapat berujung kepada maut yang kekal bagi mereka yang tidak percaya kepada-Nya.

Kedua, kita harus mengenal Hamba-Nya, yakni yang menjadi perantara antara Ia dengan kita, umat-Nya. Allah adalah Allah yang tidak terlihat (Yohanes 1:18). Oleh sebab itu, Ia selalu berelasi dengan umat-Nya melalui mimpi, penglihatan, Teofani, para imam, atau para nabi. Tetapi semua itu merupakan cara-Nya berelasi di era Perjanjian Lama. Ia memiliki jalan yang baru untuk berhubungan dengan umat-Nya di zaman Perjanjian Baru ini. Dan jalan yang baru itu adalah:

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.”
(Ibrani 1:1-2)

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang
menyatakan-Nya.”
(Yohanes 1:18)

Ya, kini Allah berelasi dengan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Allah memang tidak dapat dilihat dengan mata jasmani yang telah jatuh oleh dosa, tetapi kita dapat melihat dan mengenal-Nya ketika mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagaimana yang Ia katakan, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).

Pengenalan akan “Sang Hamba Allah”, yang adalah Kristus, merupakan komponen yang sangat penting di dalam iman dan ibadah kita, bahkan sama pentingnya dengan pengenalan akan Allah sendiri. Inilah yang menjadi kehendak Allah, yakni agar kita mengenal-Nya melalui Hamba-Nya. Inilah yang menjadi kesukaan bagi Bapa, yakni agar kita mengenal dan memuliakan-Nya ketika kita memuliakan dan mengenal Anak-Nya. Inilah mengapa Tuhan Yesus berkata:

supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
(Yohanes 5:23)

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
(Yohanes 14:21)

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
(Yohanes 17:3)

Dan bagian ketiga dari komponen iman dan ibadah yang sangat krusial adalah kita harus mengenal Firman Allah. Pemazmur mengatakan:

“Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu (atau firman-Mu) melebihi segala sesuatu.”
(Mazmur 138:2)

Di dalam terjemahan Bahasa Inggris, mazmur ini bahkan lebih mencengangkan:

“I will worship toward Your holy temple, and praise Your name for Your lovingkindness and for Your truth: for You has magnified Your word above all Your name.”
(Psalms 138:2)

Allah menempatkan nama-Nya dan firman-Nya di atas segala sesuatu. Namun, Ia tidak puas hanya sampai di situ. Sekalipun mungkin kita menyanjung-nyanjung nama-Nya di dalam doa, nyanyian, dan penyembahan kita, jika kita menyalahartikan firman-Nya, Ia tidak akan berkenan dengan ibadah kita itu. Kita mungkin berpikir bahwa kita telah memuliakan Allah, tetapi jika kita tidak mengerti firman-Nya, bisa jadi kita menyembah allah yang lain, yang hanya sesuai dengan konsep, ekspektasi, dan imajinasi kita tetapi yang bertentangan dengan kebenaran dan bukan Allah yang sebenarnya. Allah tidak berkenan kepada penyembah yang demikian; yang Ia kehendaki adalah para penyembah yang mengenal dan menyembahkan di dalam “roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24).

Itulah mengapa Pemazmur mengatakan “Allah lebih mementingkan firman-Nya dibanding pendapat orang lain tentang diri-Nya (terjemahan sehari-hari dari Mazmur 138:2).” Kenallah Allah melalui pemahaman firman-Nya, maka kita dapat memuliakan nama-Nya sesuai dengan apa yang Ia kehendaki.

Dan terakhir, kita tahu bahwa perwujudan dari firman Allah adalah Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Sang Firman Allah (Yohanes 1:1; Wahyu 19:13). Tuhan Yesus Kristus bukan saja seorang Nabi yang menjadi penyambung lidah Allah kepada kita, Ia adalah Firman Allah dalam tiga dimensi. Segala kepenuhan Allah, termasuk hikmat dan firman Allah, ada di dalam Dia (Kolose 1:19).

Ketika kita melihat wajah-Nya, kita melihat wajah Allah. Ketika kita menyentuh-Nya, kita menyentuh Allah. Ketika kita mendengar firman-Nya, kita mendengar firman Allah. Sebagaimana Allah adalah sumber hidup kita, Kristus adalah sumber hidup kita. Ia berkata:

“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna.
Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”
(Yohanes 6:63)

Kiranya Roh Kudus menuntun kita agar setiap kali kita menyembah Allah, kita berlimpah dengan pengenalan akan Allah, akan Tuhan Yesus Kristus, dan akan firman-Nya. Amin.

Belajarlah Pada-Ku!

Lalu kata-Nya kepada mereka:

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.
Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya,
lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku;
tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. (Matius 26:38, Lukas 26:38)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebesar-besarnya pergumulan yang kuhadapi saat ini, Tuhan Yesus pernah jauh lebih bergumul daripada aku. Sedalam-dalamnya kesedihan yang kurasakan, Tuhan Yesus pernah jauh lebih bersedih daripada aku. Segentar-gentarnya hatiku, Tuhan Yesus pernah jauh lebih ketakutan daripada aku. Sebesar-besarnya aku membutuhkan kekuatan dan pertolongan saat ini, Ia pernah jauh lebih membutuhkan kekuatan dan pertolongan daripada aku.

Namun, di saat-saat terberat di dalam hidup-Nya itu, Ia tetap percaya dan taat akan Bapa yang sanggup menyelamatkan-Nya (Ibrani 5:7).

Oh, biarlah hatiku selalu mengenang akan Dia yang begitu lemah dan bergumul di Getsemani setiap kali aku bergumul, ketakutan, dan berduka di dalam hari-hariku. Betapa damainya hatiku setiap kali aku mengingat Dia. Betapa kagum jiwaku untuk meneladani-Nya. Dan betapa manisnya ketika di telingaku terdengar Ia berkata: “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29)

Segala kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus, Tuhan kita. Amin.

Iblis, Sang Pemakan Iman

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Lawanlah dia dengan iman yang teguh,…

Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.
(1 Petrus 5:8-10)

Jadi, apa yang “singa” itu makan? Apa yang dimaksud dengan “ditelannya”?

Itu kemungkinan tidak berarti ototmu, dagingmu, atau tulangmu. Itu adalah imanmu, menurutku.

Iblis saat ini berada di ruangan ini. Ia benci dengan apa yang sedang terjadi saat ini di sini. Dan ia ingin memakan imanmu. Dan ia memiliki berbagai macam cara untuk menabur pikiran-pikiran tertentu di dalam benakmu yang akan membuat apapun yang saya katakan mengenai pembangunan iman sebagai sesuatu yang konyol. Ia ingin memakan imanmu. Dan jika ia dapat memakan imanmu, mengonsumsinya, dan menghancurkannya, ia tidak peduli dengan apapun yang akan kau lakukan.

-John Piper-

Link potongan khotbah dari John Piper, “Satan Eats Faith for Breakfast”:

Berbahan Bakar dari Sukacita di dalam Kristus

Paul exhorts believers towards a life of godliness,
fueled by joy in Christ and concern for others,
not personal gain and gratification.
~Jonathan C. Edwards~

Saya sangat menyukai frase yang dipakai oleh penulis, fueled by joy in Christ, yang mengibaratkan sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar yang olehnya kita dapat mengasihi orang lain dan bergerak untuk menyatakan kasih itu dalam bentuk tindakan. Benar sekali, sukacita di dalam Tuhan adalah bahan bakar yang memasok energi ke dalam hati kita yang terkadang beku, lemah, dan malas ini. John Piper menggunakan perumpamaan yang lain. Ia mengibaratkan sukacita di dalam Tuhan sebagai air yang terus menerus tercurah ke dalam suatu wadah. Lama kelamaan, wadah itu akan terisi penuh oleh air tersebut sehingga tidak dapat tertampung lagi dan airpun mulai bertumpahan keluar dan menjadi overflow yang mengairi daerah sekelilingnya. Demikianlah sukacita di dalam Tuhan, ketika sukacita Tuhan itu berlimpah-limpah di dalam hati kita, maka sukacita itu akan menjadi overflow yang tercurah kepada orang lain.

Hal yang mirip terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Pada saat itu, saya sedang bergumul akan satu dan lain hal. Kemudian, saya membaca firman dari Lukas 1:46-56 tentang Magnificat yang dinyanyikan Maria, ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Saya terpana khususnya pada bagian awal:

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.” (Lukas 1:46-48)

Pada saat membaca firman tersebut, ada sesuatu yang aneh di dalam hati saya. Pertama-tama, saya merasa bingung dengan Maria. Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia merasa begitu bersukacita sementara ia mengandung benih yang tidak berasal dari suatu hubungan pernikahan yang sah. Tidakkah seharusnya ia juga merasa takut, bimbang, atau lainnya? Tidakkah ia gusar kalau-kalau orang-orang akan menuduhnya telah melalukan tindakan yang berdosa dan yang mungkin dapat menyeretnya dalam hukuman rajam? Tidakkah ia cemas orang-orang akan mempertanyakan perutnya yang kian membesar dan kemudian merendahkannya? Tidakkah ia …?

Tetapi Maria merasa bersukacita. Dari Magnificat-nya, tampak bahwa sukacita ilahi melimpah-limpah di dalam hatinya. Sukacita Maria itu kemudian menjadi overflow yang mengalir, yang melampaui rentang waktu dua ribu tahun dan yang akhirnya sampai dan tinggal di hati saya. Sayapun berlimpah-limpah dengan sukacita yang berasal daripada Tuhan yang terlebih dahulu mengisi dan melintasi hati Maria ini.

Dan apakah yang muncul dalam benak saya ketika saya merasa begitu bersukacita? Ya, sukacita itu berubah menjadi kasih dan menjadi bahan bakar yang menggerakkan saya untuk mengasihi dan menyatakan kasih itu di dalam sebuah tindakan.

Itulah yang saya mengerti mengenai sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar. Tentu saja kita tidak boleh puas jika sukacita atau kasih yang ada di dalam hati kita itu hanyalah sebatas feeling atau chemistry atau apapun yang memang terasa nikmat di hati namun tidak berkuasa menggerakkan tubuh kita untuk bertindak. Kita adalah orang Kristen. Kita hidup bukan oleh feeling atau chemistry atau circumstances atau yang lainnya. Kita hidup oleh iman dan kita tahu bahwa iman yang sejati itu adalah iman yang bertindak (Yakobus 2:17) dan yang bekerja di dalam kasih (Galatia 5:6) dan Allah telah menetapkan bahwa bahan bakar dari tindakan kasih itu adalah sukacita di dalam Kristus.

Amin