Penjajah Paling Kejam

Dahulu memang kamu hamba dosa…
(Roma 6:17)

Kata Yesus kepada mereka:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”
(Yohanes 8:34)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dosa adalah penjajah paling kejam, paling kuat, dan paling tekun. Ia tidak pernah membiarkan orang-orang yang dijajahnya beristirahat melainkan ia akan selalu memperbudak mereka. Ia tidak akan pernah melepaskan mereka dan tidak akan membiarkan mereka mampu melarikan diri. Semua yang ia jajah, ia pastikan akan mati Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
(Efesus 2:1)

Tetapi sekuat-kuatnya dosa menjajah, ada Satu yang lebih kuat darinya. Ketika Ia menyelamatkan yang tertindas, melepas yang terbelenggu, merawat yang tersakiti, memberi minum yang kehausan, memberi makan yang lapar, mencelikkan yang buta, dan membangkitkan yang mati, tak ada satupun yang dapat dilakukan oleh dosa untuk menghentikan-Nya. Ia tidak berdaya di hadapan-Nya sebab Dia adalah Sang Juruselamat yang Mahakuasa.

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.
(Yohanes 8:36)

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus,
karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.
(Matius 1:21)

Oh, Tuhan Yesus, selamatkanlah kami dari belenggu dosa kami.
Dengarlah seru dosa kami.

(John Owen)

Amin

Advertisements

Tangga Menuju Surga

Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!”

Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?”

Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”

Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

(Yohanes 1:47-51)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sulit dipungkiri, perbincangan antara Tuhan Yesus dengan Natanael di atas merupakan perbincangan yang cukup membingungkan. Bukanlah hal yang mudah untuk memahami hubungan antara orang Israel sejati dengan tidak adanya kepalsuan tetapi itulah yang Tuhan Yesus katakan mengenai Natanael. Respon Natanel juga cukup membingungkan. Tuhan Yesus hanya berkata bahwa Ia melihatnya di bawah pohon ara tetapi itu sudah cukup bagi Natanael untuk memercayai bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Raja orang Israel.

Yohanes, rasul yang menulis Injil ini, berkata:

“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.”
(Yohanes 21:25)

Di dalam kata penutup Injil Yohanes, Yohanes berkata bahwa jika ia harus menuliskan seluruh kisah perjalanannya bersama Tuhan Yesus di dalam tiga setengah tahun masa pelayanan mereka, maka dunia ini tidak akan dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. Dengan demikian, kisah-kasih yang akhirnya Yohanes pilih untuk diceritakan dalam Injil yang ditulisnya ini pastilah merupakan ekstrak dan intisari dari tiga setengah tahun kebersamaannya bersama Kristus. Tidak ada basa basi di dalam Injil Yohanes; semua kisah yang diceritakan merupakan emas. Dan jika kisah perbincangan antara Tuhan dengan Natanael ini dicatat oleh Yohanes, maka tentulah perbincangan ini memiliki arti yang sangat penting sekalipun seperti yang telah dikatakan sebelumnya, perbincangan ini sulit untuk dipahami.

Namun, sekalipun keseluruhan makna di balik perbincangan ini cukup sulit untuk dimengerti, ada satu pesan luar biasa yang dapat kita petik. Pesan ini disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika Ia berkata:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat
langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
(Yohanes 1:51)

Sangatlah jelas bahwa Tuhan Yesus memetik apa yang ditulis oleh Musa mengenai penglihatan yang dilihat oleh Yakub ketika ia berada di Betel. Perkataan Tuhan Yesus ini dapat dibandingkan dengan apa yang Musa catat di dalam Kitab Kejadian:

“Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit,
dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.”
(Kejadian 28:12)

Apakah yang Tuhan Yesus maksud?
Ya, inilah rahasia besar di balik peristiwa penglihatan Yakub di Betel:
Tuhan Yesus adalah wujud sesungguhnya dari tangga yang Yakub lihat itu.

Sama seperti tangga itu yang muncul dari langit dan memanjang hingga ke bumi, Tuhan Yesus datang dari Sorga dan turun ke dunia untuk melawat umat manusia. Sama seperti malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga yang Yakub lihat itu, kita akan melihat malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Sang Anak Manusia.

Tuhan Yesuslah tangga itu. Ialah tangga yang menghubungkan Kerajaan Allah di atas dengan umat manusia yang ada di bumi di bawah. Ia bukanlah tangga yang didirikan oleh manusia dari bawah ke atas. Orang-orang Babel berpikir bahwa dengan usaha mereka mereka dapat mencapai langit. Orang-orang munafik mengira bahwa dengan amal ibadah mereka mereka dapat beroleh Kerajaan Surga. Namun, keduanya gagal sebab tidak ada satupun tangga yang didirikan oleh manusia yang tingginya dapat mencapai langit atau surga.

Hanya Kristuslah tangga yang menghubungkan dunia dengan sorga. Hanya Kristuslah tangga yang menghubungkan manusia dengan Allah. Ia tidak dibangun oleh manusia dari bawah ke atas. Sebaliknya, Ia adalah tangga yang diutus oleh Allah dari atas ke bawah, yakni dari surga yang kekal ke dalam dunia yang fana. Ia tidak didirikan oleh kerja keras manusia; Ia dianugerahkan oleh inisiatif dan kasih karunia Allah. Oleh karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka Ia telah mengutus Kristus, satu-satunya Tangga Menuju Sorga, sehingga Ia dapat membawa orang-orang berdosa ke hadirat Allah di dalam Kerajaan-Nya.

Kisah hidup Yakub sebagai nenek moyang bangsa Israel bertitik sentral pada penglihatan yang dialaminya di Betel. Dan dari perbincangan antara Tuhan Yesus dengan Natanael ini, kita tahu bahwa ternyata pusat dari hidup Yakub bukanlah Yakub sendiri, melainkan Kristus. Ya, Kristus adalah pusat dari kisah hidup Yakub. Dan jika Roh Kudus membuka mata hati setiap kita, maka kita akan sadar bahwa Kristus pulalah pusat dari Kitab Kejadian. Kristuslah pusat dari seluruh firman Allah. Kristuslah pusat dari alam semesta. Kristuslah pusat dari sejarah dunia. Kristuslah pusat dari hidupku dan hidupmu.

Kristus adalah Tangga yang Yakub lihat di Betel.
Suatu saat kelak, seluruh mata akan melihat bahwa Ia adalah Tangga Menuju Sorga.

Amin

Mata Air

Jawab Yesus kepadanya:

“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya,
ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.

Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya,
akan menjadi mata air di dalam dirinya,
yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
(Yohanes 4:13-14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Air di sumur Yakub merupakan lambang dari apa yang dunia ini dapat berikan kepada kita. Dunia dapat memberi kita hiburan, pendidikan, makanan, minuman, humor, tempat-tempat rekreasi, pekerjaan, uang dan lain sebagainya, yang mana semuanya itu baik dan perlu. Namun, sebagaimana air sumur Yakub tidak dapat memuaskan dahaga kita selama-lamanya, apa yang dunia beri kepada kita tidak akan dapat memuaskan kebutuhan jiwa kita. Kita akan haus lagi, lapar lagi, bosan lagi, mencari hal-hal lain lagi, dan demikianlah seterusnya.

Tetapi tidak demikian halnya dengan air yang Tuhan Yesus beri kepada kita. Ia mengaruniakan air yang hidup, yang memberi hidup kepada jiwa kita. Minumlah air dunia, maka kita akan haus lagi. Minumpah air hidup, maka kita akan hidup hingga kekekalan.

Air hidup itu adalah Roh Kudus (Yohanes 7:39). Sekali Ia dikaruniakan kepada kita dan tinggal di dalam kita, Ia selama-lamanya akan menetap pada kita dan kita di dalam-Nya. Bak air yang terus menerus memancar dan membual, Ia akan terus menerus bekerja di dalam hidup kita.

Ia akan terus memancar.

Ia akan mengisi rongga hati yang kosong.
Ia akan menyucikan relung hati yang kotor.

Ia akan mengairi tanah hati yang gersang.
Ia akan menguatkan hati yang lemah.

Ia akan melunakkan hati yang keras.
Ia akan menyejukkan hati yang panas.

Ia akan memuaskan jiwa yang dahaga.
Ia akan menyembuhkan hati yang terluka.

Ia akan menyegarkan hati yang letih.
Ia akan menghidupkan jiwa yang mati.

Ia akan terus mengalir sampai kepada hidup yang kekal. Itulah yang tidak dapat dunia berikan bagimu tetapi yang hanya ada di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.

Amin

Satu-satunya Jalan

Petrus berkata:
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
(Kisah Para Rasul 4:12)

Yohanes berkata:
“Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”
(Yohanes 1:16-17)

Paulus berkata:
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka… Dia (Yesus) yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya (Allah) menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
(2 Korintus 5:19 & 21, dengan penambahan keterangan)

Allah berfirman:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
(Matius 3:17)

Tuhan Yesus Kristus sendiri berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
(Yohanes 14:16)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Inilah inti sari dari iman Kristen: Kebenaran dan keselamatan tidak berada pada satu daerah tertentu, atau satu bulan tertentu, atau satu bentuk ibadah tertentu. Kebenaran dan keselamatan hanya berada dengan berlimpah-limpah di dalam satu Pribadi, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17). Jika seseorang ingin benar dan berkenan di hadapan Allah, ia tidak perlu pergi ke suatu tanah suci tertentu  atau menanti suatu waktu tertentu untuk menjalankan suatu ibadah yang tertentu. Inilah yang perlu Ia lakukan: pergi kepada Yesus Kristus. Kepada Yesuslah Allah berkenan dan barangsiapa ada di dalam Yesus, iapun akan dikenan oleh Allah.

Yesuslah satu-satunya Jalan (Yohanes 14:6). Inilah inti dari Injil Yesus Kristus.

Segala kemuliaan hanyalah bagi nama-Nya. Amin.

Siapa yang Boleh Datang kepada Tuhan

“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN?
Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”

“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya,
yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan,
dan yang tidak bersumpah palsu.

Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN
dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia,
yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.”

(Mazmur 24:3-6)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Daud menanyakan pertanyaan paling penting di dalam hidup manusia: “Siapakah yang boleh datang kepada Allah dan tetap berdiri teguh di hadapan-Nya?” Dan karena Daud merupakan orang yang bergaul karib dengan Allah, ia tahu jawaban atas pertanyaannya itu. Ia tahu apa yang menjadi isi hati Allah. Inilah jawab Daud:

  • Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya: yakni orang yang hatinya bersih dari nafsu, pikiran, dan tujuan-tujuan yang tidak berkenan di hadapan Allah serta menyatakan perbendaharaan hati yang murni itu ke dalam perbuatan yang baik, sikap yang terpuji, dan etos kerja yang menjadi teladan.
  • Orang yang tidak tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan: yakni mereka yang menutup telinga, mata, dan hatinya dari bisikan iblis, rayuan dan godaan dunia, ajaran sesat para nabi dan profesor palsu, serta dari suara kedagingannya sendiri. Ia tahu bahwa semua itu adalah sumber penipuan yang memang pada awalnya terlihat sedap dan terdengar nikmat namun berakhir kepada kebinasaan. Hanya satu sumber hikmat dan otoritas baginya, yakni firman Allah.
  • Orang yang tidak bersumpah palsu: yakni mereka yang menyatakan iman dan pengabdian kepada Allah dan hingga akhir setia dan tekun untuk memelihara iman dan pengabdian tersebut sebagai harta paling berharga di dalam hidupnya.
  • Orang-orang yang menanyakan Dia dan mencari wajah-Mu: yakni mereka yang hidupnya ditandai dengan doa dan perenungan firman Tuhan. Namun, doa dan perenungan mereka tidaklah mekanik atau dijalankan hanya karena kebiasaan. Ada kehidupan di dalam doa dan perenungan mereka. Hati mereka menyimpan dan tangan mereka erat menggenggam janji Tuhan sementara mata mereka mereka buka untuk memandang wajah Tuhan di dalam setiap aspek hidup mereka. Mereka hidup coram Deo; mereka hidup di hadapan hadirat Allah.

Itulah deskripsi Daud tentang orang yang dapat datang kepada Allah dan bertahan di hadirat-Nya. Namun, kita tahu bahwa kita tidak memenuhi deskripsi tersebut. Kita memiliki cacat, kekurangan, dan noda di sana-sini.

Tangan kita tidak bersih; hati kita apalagi, kita tahu betapa jahatnya hati kita. Kita tidak berlari dari penipuan; seringkali kita dengan senang hati menyerahkan mata, telinga, dan hati kita kepada penipuan iblis, dunia, ajaran sesat, dan kepada hawa nafsu daging kita sendiri. Kita memang telah bersumpah kepada Allah untuk tetap percaya dan setia kepada-Nya namun kesaksian hidup kita seringkali menunjukkan cacat di dalam sumpah kita. Sumpah kita palsu atau dalam bahasa yang Yakobus gunakan, iman kita mati sebab perbuatan kita tidak menyatakan iman tersebut (Yakobus 2:17; 26). Kita memang berdoa dan kita memang membaca firman Tuhan namun di dalam prakteknya, kita seringkali mengandalkan hikmat dan kekuatan kita sendiri.

spurgeon-3

Di dalam semua itu, kita tidak dapat datang kepada Allah. Kita tidak akan mampu bertahan di hadapan hadirat-Nya yang kudus sebab Ia adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12:29) sementara kita adalah ranting yang tidak berbuah (Yohanes 15:2). Tak satupun dari kita mampu melakukannya. Hanya ada satu Pribadi yang dapat melakukannya. Hanya ada satu Pribadi yang memenuhi semua deskripsi yang Daud berikan tanpa noda dosa setitikpun. Dialah yang kepada-Nya Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan (Matius 3:17).”

Dialah Tuhan kita, Yesus Kristus. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengasihi Allah tanpa cacat sedikitpun. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengabdi dan taat kepada Allah tanpa satupun cela. Namun, justru Dialah yang menderita karena dosa manusia sebab demikianlah Allah berkenan untuk menjadikan Dia Jalan Keselamatan bagi mereka yang berdosa, yakni bagi mereka yang tidak punya harapan sedikitpun untuk “naik ke atas gunung TUHAN dan berdiri di tempat-Nya yang kudus”. Rasul Paulus berkata:

Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Korintus 5:18-21)

Percayalah kepada Yesus, hai orang-orang berdosa! Percayalah kepada-Nya, hai orang-orang yang mau naik ke atas gunung Tuhan dan berdiri di tempat-Nya yang kudus! Dan berilah dirimu didamaikan dengan Allah melalui Kristus yang menjadi Jembatan Perdamaian bagimu dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa telah diperlakukan oleh Allah layaknya orang berdosa karena kita, supaya di dalam Kristus kita dibenarkan oleh Allah dan di dalam Kristus, Allah memperhitungkan kita sebagai orang-orang yang empunya deskripsi yang Daud tuturkan sebab deskripsi itu ada pada Kristus dan deskripsi itupun dikenakan kepada kita sebagai jubah kebenaran yang dirajut dari benang iman.

Percayalah kepada Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6). Dialah Jalan menuju ke gunung TUHAN. Dialah Kebenaran yang menjadi penunjuk arah bagi kita dalam berjalan menyongsong ke tempat kudus-Nya TUHAN. Dialah Hidup yang memampukan kita untuk tetap berdiri dan tinggal di dalam rumah TUHAN yang kudus.

begg

Amin

These are True

Dalam momen terakhir di dalam hidupnya, Martin Luther ditanya oleh salah seorang temannya yang bernama Justus Jonas, “Apakah kau ingin mati dengan teguh berdiri di atas Kristus dan doktrin yang kau ajarkan?”

Di zaman di mana pengaruh dan ajaran Roma Katolik masih begitu kuat, pertanyaan itu tidaklah mudah untuk dijawab. Kebanyakan orang mungkin akan ragu untuk menyerahkan keselamatannya semata-mata di atas iman kepada Yesus Kristus. “Ini adalah kesempatan terakhirku sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan penghakiman Allah. Bagaimana jika selama ini ajaran Martin Luther yang kuikuti ternyata benar-benar sesat dan ajaran Gereja Katolik Romalah yang benar? Aku pasti akan masuk ke neraka! Masih ada kesempatan bagiku untuk meninggalkan ajaran Luther dan kembali memohon keselamatan bagiku dengan jalan yang diajarkan gereja Katolik sebelum aku mati.” Mungkin itu adalah pergumulan terberat yang dialami oleh orang-orang di zaman itu yang sedang menyongsong ajalnya dan bukan tidak mungkin pergumulan itupun dirasakan oleh Martin Luther yang sedang melangkah di dalam detik-detik terakhir di dalam hidupnya.

Jika Martin Luther ragu akan keyakinannya sendiri dalam “Keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus”, maka inilah saatnya untuk segera “bertobat” dan kembali ke jalannya yang dahulu, jalan Gereja Roma. Namun, bukan itu yang Luther lakukan. Dengan penuh keyakinan, ia menjawab pertanyaan temannya itu, “Ya!”

Kemudian, sebagai kalimat terakhir yang ia suarakan di dunia ini, inilah yang Luther katakan:

luthers

Luther wafat pada 18 Februari 1546 di Eisleben.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

We are beggars. This is true.” Perkataan Luther tepat. Kita semua adalah pengemis. Kita tidak berdaya sama sekali. Kita sepenuhnya bergantung pada kuasa yang ada di luar diri kita. Berada di manakah kita saat ini? Kita ada di dalam tiga alam: alam jasmani, alam relasi, dan alam rohani. Tidak satupun di dalam ketiganya kita dapat berdiri dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri.

Kita ada di alam jasmani, suatu alam yang penuh dengan ketidakpastian, suatu alam di mana gigitan nyamuk yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita dapat membunuh kita secara perlahan dan hantaman mobil yang dikendarai oleh seorang pengemudi yang mabuk dapat membunuh kita dalam sekejap. Kita ada di alam natural, suatu alam di mana untuk mengedipkan mata atau untuk menghembuskan nafas saja kita tidak bisa tanpa pertolongan dari Pribadi yang bukanlah kita sendiri. Kita hidup di dalam suatu dunia fisik dengan segala ketidakpastian yang ada di dalamnya, yang mana semuanya itu dapat mengancam hidup kita, yang ditata dan dirajut sedemikian rupa oleh Tangan Tak Terlihat yang bukanlah tangan kita sendiri.

Kita ada di alam relasi, suatu alam yang penuh dengan orang-orang selain diri kita sendiri, suatu alam yang di dalamnya kita akan berinteraksi, berkomunikasi, dan hidup bersama orang-orang yang tidak sama dengan kita, suatu alam di mana tidak begitu sulit dan tidak membutuhkan waktu yang begitu lama bagi kita untuk kembali merasa sakit hati karena perbuatan orang lain atau sebaliknya, kembali menyakiti hati orang lain. Kita ada di alam relasi, suatu alam di mana untuk berbuat satu saja perbuatan yang baik dan mulia atau mengucapkan satu saja kata yang bijaksana dan membangun orang lain, kita sepenuhnya bergantung pada kuasa dan hikmat Pribadi yang ada di luar diri kita.

Kita ada di alam rohani, suatu alam yang hanya punya dua pilihan: Kerajaan Allah atau Kerajaan Maut. Dan kita semua berada di dalam Kerajaan Maut, terkunci tanpa ada pintu untuk keluar, dan mati. Kita ada di suatu alam yang jikalau tanpa belas kasih dan pertolongan dari Dia yang bukanlah diri kita sendiri, tiada satupun harapan dan jalan bagi kita untuk keluar darinya. Kita hidup di dalam suatu dunia roh yang mana kita tidak benar-benar “hidup” melainkan mati (Efesus 2:1) dan untuk hidup, kita membutuhkan hidup yang berasal dari Dia yang adalah Hidup itu sendiri (Yohanes 11:25, Galatia 2:19-20, Yohanes 1:4).

Oh manusia yang malang! We are beggars. We are all beggars. This is true. This is true. “This is true!” Betapa benar pernyataan itu tetapi betapa pilu hati ini untuk mengakuinya.

Namun, di tengah-tengah hati yang pilu, suara Tuhan yang merdu terdengar, sepenggal bagian firman Tuhan terbersit di dalam benak, “Tetapi Allah……..” Harapan muncul dan merekah.

“We are beggars. This is true!
But God,…”

“We are beggars. We are all beggars. This is true. This is true!

But God,
who is RICH IN MERCY, because of His GREAT LOVE with which He loved us, even when we were dead in trespasses, made us alive together with Christ (by grace you have been saved) – Ephesians 2:4-5.”

Betapa indahnya pengharapan yang dari pada Tuhan, sungguh menyegarkan jiwa. Manusia adalah pengemis; itu memang benar. Itu memang benar. Namun, Tuhan adalah Juruselamat. Ia adalah Juruselamat bagi tubuh jasmani kita. Ia adalah Juruselamat bagi relasi kita. Ia adalah Juruselamat bagi roh kita. Baik di alam jasmani, alam relasi, maupun alam rohani, kita tidak dapat berdiri dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri, kita sepenuhnya bergantung kepada kuasa dan bijaksana dari Dia yang adalah Sang Juruselamat.

We are beggars.
God is The Savior.
These are true. These are true indeed.

O LORD of hosts, blessed is the man who trusts in You (Psalms 84:13).
Amen!

nell

My Righteousness? It is Him!

bunyan

At the very last day of the history of the world, on the judgment seat of the Lord, God will ask each man and woman, “Show Me your righteousness?” And there will only be three groups of people with their characteristic answers:

  1. Those who will talk to themselves, “Righteousness? I barely thought and talked about it before. What should I say to God? O, woe is me.”And then cry bitterly, “Lord, I have no righteousness. Please forgive me, forgive me, for wasting my whole life just for my own glory and happiness, for being so rebellious against You and ignorant of You and Your Word. Have mercy on me, O God.”They are those who will humble themselves in the end, but are too late.
  1. Those who boast themselves and say to Him, “Lord, such and such are my good deeds. They are my righteousness.”They are those who, in the end, will realize the vanity and the emptiness of their, so called, charity and worships. They will know that without the sweet perfume of Christ’s sacrifice, all of their offerings will become stench before Him. And as the spider’s web will undoubtedly be hopeless in stopping the falling stone, the sum of their goodness will be infinitely useless to protect them from the wrath of God.
  1. Those who humble themselves before the Lord and at the same time boldly proclaim, “Christ is my Righteousness, O God. Apart from Him I am nothing (John 15:5).”They are the true Christians, the flock of the Lord. They are the ones who will be saved and live in eternity with Him.

This is the thing that we have to know: that by our endeavors, we could never be in a right standing with God for we are all sinful men whereas God is light and in Him there is no darkness at all (1 John 1:5). We are all like dry grass whereas God is a Consuming Fire (Hebrew 11:29). We will never be able to be righteous except for one thing:

For there is one God, and one Mediator between God and men, the man Christ Jesus;
who gave Himself as a ransom for all men.
(1 Timothy 2:5)

Christ, it is through Him and in Him. He is the Way to God, the Stairway to heaven, the Meeting Place between God and sinful men. He is the only Mediator between God and the sinners, in Whom the two will be reconciled and even united in perfect love and unity. He is the Hope of the world, our only Righteousness before God.

macarthur

Blessed be His name for ever and ever.
Amen