Siapa yang Boleh Datang kepada Tuhan

“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN?
Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”

“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya,
yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan,
dan yang tidak bersumpah palsu.

Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN
dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia,
yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.”

(Mazmur 24:3-6)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Daud menanyakan pertanyaan paling penting di dalam hidup manusia: “Siapakah yang boleh datang kepada Allah dan tetap berdiri teguh di hadapan-Nya?” Dan karena Daud merupakan orang yang bergaul karib dengan Allah, ia tahu jawaban atas pertanyaannya itu. Ia tahu apa yang menjadi isi hati Allah. Inilah jawab Daud:

  • Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya: yakni orang yang hatinya bersih dari nafsu, pikiran, dan tujuan-tujuan yang tidak berkenan di hadapan Allah serta menyatakan perbendaharaan hati yang murni itu ke dalam perbuatan yang baik, sikap yang terpuji, dan etos kerja yang menjadi teladan.
  • Orang yang tidak tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan: yakni mereka yang menutup telinga, mata, dan hatinya dari bisikan iblis, rayuan dan godaan dunia, ajaran sesat para nabi dan profesor palsu, serta dari suara kedagingannya sendiri. Ia tahu bahwa semua itu adalah sumber penipuan yang memang pada awalnya terlihat sedap dan terdengar nikmat namun berakhir kepada kebinasaan. Hanya satu sumber hikmat dan otoritas baginya, yakni firman Allah.
  • Orang yang tidak bersumpah palsu: yakni mereka yang menyatakan iman dan pengabdian kepada Allah dan hingga akhir setia dan tekun untuk memelihara iman dan pengabdian tersebut sebagai harta paling berharga di dalam hidupnya.
  • Orang-orang yang menanyakan Dia dan mencari wajah-Mu: yakni mereka yang hidupnya ditandai dengan doa dan perenungan firman Tuhan. Namun, doa dan perenungan mereka tidaklah mekanik atau dijalankan hanya karena kebiasaan. Ada kehidupan di dalam doa dan perenungan mereka. Hati mereka menyimpan dan tangan mereka erat menggenggam janji Tuhan sementara mata mereka mereka buka untuk memandang wajah Tuhan di dalam setiap aspek hidup mereka. Mereka hidup coram Deo; mereka hidup di hadapan hadirat Allah.

Itulah deskripsi Daud tentang orang yang dapat datang kepada Allah dan bertahan di hadirat-Nya. Namun, kita tahu bahwa kita tidak memenuhi deskripsi tersebut. Kita memiliki cacat, kekurangan, dan noda di sana-sini.

Tangan kita tidak bersih; hati kita apalagi, kita tahu betapa jahatnya hati kita. Kita tidak berlari dari penipuan; seringkali kita dengan senang hati menyerahkan mata, telinga, dan hati kita kepada penipuan iblis, dunia, ajaran sesat, dan kepada hawa nafsu daging kita sendiri. Kita memang telah bersumpah kepada Allah untuk tetap percaya dan setia kepada-Nya namun kesaksian hidup kita seringkali menunjukkan cacat di dalam sumpah kita. Sumpah kita palsu atau dalam bahasa yang Yakobus gunakan, iman kita mati sebab perbuatan kita tidak menyatakan iman tersebut (Yakobus 2:17; 26). Kita memang berdoa dan kita memang membaca firman Tuhan namun di dalam prakteknya, kita seringkali mengandalkan hikmat dan kekuatan kita sendiri.

spurgeon-3

Di dalam semua itu, kita tidak dapat datang kepada Allah. Kita tidak akan mampu bertahan di hadapan hadirat-Nya yang kudus sebab Ia adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12:29) sementara kita adalah ranting yang tidak berbuah (Yohanes 15:2). Tak satupun dari kita mampu melakukannya. Hanya ada satu Pribadi yang dapat melakukannya. Hanya ada satu Pribadi yang memenuhi semua deskripsi yang Daud berikan tanpa noda dosa setitikpun. Dialah yang kepada-Nya Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan (Matius 3:17).”

Dialah Tuhan kita, Yesus Kristus. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengasihi Allah tanpa cacat sedikitpun. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengabdi dan taat kepada Allah tanpa satupun cela. Namun, justru Dialah yang menderita karena dosa manusia sebab demikianlah Allah berkenan untuk menjadikan Dia Jalan Keselamatan bagi mereka yang berdosa, yakni bagi mereka yang tidak punya harapan sedikitpun untuk “naik ke atas gunung TUHAN dan berdiri di tempat-Nya yang kudus”. Rasul Paulus berkata:

Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Korintus 5:18-21)

Percayalah kepada Yesus, hai orang-orang berdosa! Percayalah kepada-Nya, hai orang-orang yang mau naik ke atas gunung Tuhan dan berdiri di tempat-Nya yang kudus! Dan berilah dirimu didamaikan dengan Allah melalui Kristus yang menjadi Jembatan Perdamaian bagimu dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa telah diperlakukan oleh Allah layaknya orang berdosa karena kita, supaya di dalam Kristus kita dibenarkan oleh Allah dan di dalam Kristus, Allah memperhitungkan kita sebagai orang-orang yang empunya deskripsi yang Daud tuturkan sebab deskripsi itu ada pada Kristus dan deskripsi itupun dikenakan kepada kita sebagai jubah kebenaran yang dirajut dari benang iman.

Percayalah kepada Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6). Dialah Jalan menuju ke gunung TUHAN. Dialah Kebenaran yang menjadi penunjuk arah bagi kita dalam berjalan menyongsong ke tempat kudus-Nya TUHAN. Dialah Hidup yang memampukan kita untuk tetap berdiri dan tinggal di dalam rumah TUHAN yang kudus.

begg

Amin

These are True

Dalam momen terakhir di dalam hidupnya, Martin Luther ditanya oleh salah seorang temannya yang bernama Justus Jonas, “Apakah kau ingin mati dengan teguh berdiri di atas Kristus dan doktrin yang kau ajarkan?”

Di zaman di mana pengaruh dan ajaran Roma Katolik masih begitu kuat, pertanyaan itu tidaklah mudah untuk dijawab. Kebanyakan orang mungkin akan ragu untuk menyerahkan keselamatannya semata-mata di atas iman kepada Yesus Kristus. “Ini adalah kesempatan terakhirku sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan penghakiman Allah. Bagaimana jika selama ini ajaran Martin Luther yang kuikuti ternyata benar-benar sesat dan ajaran Gereja Katolik Romalah yang benar? Aku pasti akan masuk ke neraka! Masih ada kesempatan bagiku untuk meninggalkan ajaran Luther dan kembali memohon keselamatan bagiku dengan jalan yang diajarkan gereja Katolik sebelum aku mati.” Mungkin itu adalah pergumulan terberat yang dialami oleh orang-orang di zaman itu yang sedang menyongsong ajalnya dan bukan tidak mungkin pergumulan itupun dirasakan oleh Martin Luther yang sedang melangkah di dalam detik-detik terakhir di dalam hidupnya.

Jika Martin Luther ragu akan keyakinannya sendiri dalam “Keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus”, maka inilah saatnya untuk segera “bertobat” dan kembali ke jalannya yang dahulu, jalan Gereja Roma. Namun, bukan itu yang Luther lakukan. Dengan penuh keyakinan, ia menjawab pertanyaan temannya itu, “Ya!”

Kemudian, sebagai kalimat terakhir yang ia suarakan di dunia ini, inilah yang Luther katakan:

luthers

Luther wafat pada 18 Februari 1546 di Eisleben.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

We are beggars. This is true.” Perkataan Luther tepat. Kita semua adalah pengemis. Kita tidak berdaya sama sekali. Kita sepenuhnya bergantung pada kuasa yang ada di luar diri kita. Berada di manakah kita saat ini? Kita ada di dalam tiga alam: alam jasmani, alam relasi, dan alam rohani. Tidak satupun di dalam ketiganya kita dapat berdiri dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri.

Kita ada di alam jasmani, suatu alam yang penuh dengan ketidakpastian, suatu alam di mana gigitan nyamuk yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita dapat membunuh kita secara perlahan dan hantaman mobil yang dikendarai oleh seorang pengemudi yang mabuk dapat membunuh kita dalam sekejap. Kita ada di alam natural, suatu alam di mana untuk mengedipkan mata atau untuk menghembuskan nafas saja kita tidak bisa tanpa pertolongan dari Pribadi yang bukanlah kita sendiri. Kita hidup di dalam suatu dunia fisik dengan segala ketidakpastian yang ada di dalamnya, yang mana semuanya itu dapat mengancam hidup kita, yang ditata dan dirajut sedemikian rupa oleh Tangan Tak Terlihat yang bukanlah tangan kita sendiri.

Kita ada di alam relasi, suatu alam yang penuh dengan orang-orang selain diri kita sendiri, suatu alam yang di dalamnya kita akan berinteraksi, berkomunikasi, dan hidup bersama orang-orang yang tidak sama dengan kita, suatu alam di mana tidak begitu sulit dan tidak membutuhkan waktu yang begitu lama bagi kita untuk kembali merasa sakit hati karena perbuatan orang lain atau sebaliknya, kembali menyakiti hati orang lain. Kita ada di alam relasi, suatu alam di mana untuk berbuat satu saja perbuatan yang baik dan mulia atau mengucapkan satu saja kata yang bijaksana dan membangun orang lain, kita sepenuhnya bergantung pada kuasa dan hikmat Pribadi yang ada di luar diri kita.

Kita ada di alam rohani, suatu alam yang hanya punya dua pilihan: Kerajaan Allah atau Kerajaan Maut. Dan kita semua berada di dalam Kerajaan Maut, terkunci tanpa ada pintu untuk keluar, dan mati. Kita ada di suatu alam yang jikalau tanpa belas kasih dan pertolongan dari Dia yang bukanlah diri kita sendiri, tiada satupun harapan dan jalan bagi kita untuk keluar darinya. Kita hidup di dalam suatu dunia roh yang mana kita tidak benar-benar “hidup” melainkan mati (Efesus 2:1) dan untuk hidup, kita membutuhkan hidup yang berasal dari Dia yang adalah Hidup itu sendiri (Yohanes 11:25, Galatia 2:19-20, Yohanes 1:4).

Oh manusia yang malang! We are beggars. We are all beggars. This is true. This is true. “This is true!” Betapa benar pernyataan itu tetapi betapa pilu hati ini untuk mengakuinya.

Namun, di tengah-tengah hati yang pilu, suara Tuhan yang merdu terdengar, sepenggal bagian firman Tuhan terbersit di dalam benak, “Tetapi Allah……..” Harapan muncul dan merekah.

“We are beggars. This is true!
But God,…”

“We are beggars. We are all beggars. This is true. This is true!

But God,
who is RICH IN MERCY, because of His GREAT LOVE with which He loved us, even when we were dead in trespasses, made us alive together with Christ (by grace you have been saved) – Ephesians 2:4-5.”

Betapa indahnya pengharapan yang dari pada Tuhan, sungguh menyegarkan jiwa. Manusia adalah pengemis; itu memang benar. Itu memang benar. Namun, Tuhan adalah Juruselamat. Ia adalah Juruselamat bagi tubuh jasmani kita. Ia adalah Juruselamat bagi relasi kita. Ia adalah Juruselamat bagi roh kita. Baik di alam jasmani, alam relasi, maupun alam rohani, kita tidak dapat berdiri dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri, kita sepenuhnya bergantung kepada kuasa dan bijaksana dari Dia yang adalah Sang Juruselamat.

We are beggars.
God is The Savior.
These are true. These are true indeed.

O LORD of hosts, blessed is the man who trusts in You (Psalms 84:13).
Amen!

nell

My Righteousness? It is Him!

bunyan

At the very last day of the history of the world, on the judgment seat of the Lord, God will ask each man and woman, “Show Me your righteousness?” And there will only be three groups of people with their characteristic answers:

  1. Those who will talk to themselves, “Righteousness? I barely thought and talked about it before. What should I say to God? O, woe is me.”And then cry bitterly, “Lord, I have no righteousness. Please forgive me, forgive me, for wasting my whole life just for my own glory and happiness, for being so rebellious against You and ignorant of You and Your Word. Have mercy on me, O God.”They are those who will humble themselves in the end, but are too late.
  1. Those who boast themselves and say to Him, “Lord, such and such are my good deeds. They are my righteousness.”They are those who, in the end, will realize the vanity and the emptiness of their, so called, charity and worships. They will know that without the sweet perfume of Christ’s sacrifice, all of their offerings will become stench before Him. And as the spider’s web will undoubtedly be hopeless in stopping the falling stone, the sum of their goodness will be infinitely useless to protect them from the wrath of God.
  1. Those who humble themselves before the Lord and at the same time boldly proclaim, “Christ is my Righteousness, O God. Apart from Him I am nothing (John 15:5).”They are the true Christians, the flock of the Lord. They are the ones who will be saved and live in eternity with Him.

This is the thing that we have to know: that by our endeavors, we could never be in a right standing with God for we are all sinful men whereas God is light and in Him there is no darkness at all (1 John 1:5). We are all like dry grass whereas God is a Consuming Fire (Hebrew 11:29). We will never be able to be righteous except for one thing:

For there is one God, and one Mediator between God and men, the man Christ Jesus;
who gave Himself as a ransom for all men.
(1 Timothy 2:5)

Christ, it is through Him and in Him. He is the Way to God, the Stairway to heaven, the Meeting Place between God and sinful men. He is the only Mediator between God and the sinners, in Whom the two will be reconciled and even united in perfect love and unity. He is the Hope of the world, our only Righteousness before God.

macarthur

Blessed be His name for ever and ever.
Amen

Orang yang Baik atau Orang yang Bergantung

Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya:
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
(Lukas 5:31-32)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Augustine 2

Kebenaran yang nyata di dalam terang firman Allah dipenuhi dengan paradoks. Dan salah satu paradoks yang sangat penting untuk kita pahami adalah ini:

Orang yang merasa dirinya baik dan baik-baik saja
sesungguhnya adalah orang yang sedang berjalan ke arah kehancuran.

Demikian pula sebaliknya.

Orang yang merasa dirinya tidak baik dan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dan jahat di dalam dirinya, dan hal ini mulai membuatnya resah, ragu akan dirinya sendiri, sedih, remuk, dan ini mendorongnya untuk berdoa, terus mencari wajah Tuhan dan merendahkan diri di hadapan-Nya, dan bergantung sepenuhnya kepada kebenaran yang berasal dari pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sesungguhnya adalah orang yang telah menemukan hidup dan berjalan di atas jalan kehidupan yang sejati dan kekal.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MLJ

Itulah kebenaran mengenai hidup yang sejati. Kita hidup tidak dengan kebenaran yang berasal dari kebaikan, kekuatan, kesalehan, dan hikmat diri kita sendiri. Tidak peduli sebaik apapun kita sebagai sebagai seorang individu, atau bahkan sebagai orang Kristen, itu tidaklah sepatutnya menjadi sandaran bagi jiwa kita sebab ketika itu semua dibawa ke hadirat Allah yang Maha Kudus, semua itu meredup sama sekali dan tidak ada artinya. Kita hidup hanya dengan kebenaran yang Allah sediakan dari atas bukit Kalvari, yakni kebenaran yang tercurah dari Kristus yang tergantung di atas salib demi menebus dosa orang-orang yang percaya dan menaruh harapnya hanya kepada-Nya. Hanya Dialah Juruselamat bagi orang-orang berdosa dan satu-satunya hal yang dapat dijadikan sandaran bagi jiwa kita adalah salib-Nya yang merupakan monumen kekal dari kasih dan kemurahan hati Allah.

Di dalam hidup Kristen, tentu saja ada transformasi  hidup ke arah yang lebih baik, sekalipun seringkali perubahan itu tidak terjadi dengan kecepatan yang sama antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Namun, kita harus menyadari bahwa hidup Kristen bukanlah tentang menjadi orang yang baik, melainkan tentang menjadi orang yang sepenuhnya bergantung kepada Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Dan siapakah yang lebih bergantung kepada Allah, orang yang merasa dirinya baik dan baik-baik saja, ataukah orang yang menyadari bahwa dirinya jahat, ada yang salah di dalam dirinya, dan senantiasa membutuhkan pengampunan, penyucian, pertolongan, dan penyertaan dari Allah dan Kristus semata-mata?

Aku rasa kita tahu jawabannya, bukankah begitu? Tetapi kita juga perlu tahu satu hal terakhir ini:

Jauh lebih mudah berusaha menjadi orang baik dibanding
menjadi orang yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Inilah kebenaran mengenai setiap kita, yakni bahwa untuk bergantung kepada Allahpun kita membutuhkan pertolongan-Nya. Kiranya Allah berbelaskasihan kepada kita dan menolong kita senantiasa. Segala kemuliaan hanya bagi Dia untuk selama-lamanya.

Begg

Amin.

Kristus, Hidup Kita

Bapa menciptakan kita dari ketiadaan.
Bapa memberi kita hidup.

Kristus menebus dan menyelamatkan kita dari kebinasaan.
Kristus memberi kita hidup.

Roh Kudus menganugerahkan kelahiran baru dan membangkitkan kita dari kematian.
Roh Kudus memberi kita hidup.

Apakah kesimpulan dari semua ini?
Ya, Allah bukanlah sekadar Penolong di dalam hidup kita.
Ia adalah Hidup kita.

Pemazmur pernah berkata:

Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah!
Betapa besar jumlahnya!
Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir.
(Mazmur 139:17-18a)

Pemazmur berkata benar. Allah sangat memikirkan manusia sekalipun mungkin mereka tidak pernah memikirkan-Nya. Pikiran Allah bagi umat manusia dalamnya tidaklah terselami dan jumlahnya tidaklah terhitung. Apakah engkau ingin tahu apa buktinya? Buktinya adalah ini.

Bagaimana mungkin…

Raja Damai menjadi begitu sedih di Getsemani…
Allah yang Perkasa menjadi begitu letih di via dolorosa…
Mata Air Keselamatan menjadi begitu haus di Kalvari…
Bahkan Sang Sumber Kehidupan mati di atas kayu salib

Jika bukan karena betapa besar jumlah pikiran Allah bagi kita?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Firman-Nya berkata:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
(Yohanes 3:16)

Oleh karena kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia yang penuh dengan dosa, Ia memberikan Putera-Nya untuk mati bagi mereka. Kesalahan mereka tidak diperhitungkan-Nya kepada mereka tetapi semua itu ditanggungkan-Nya kepada Anak-Nya di Golgota. Kepenuhan murka-Nya yang telah siap sedia untuk menghukum dosa mereka tidak dijatuhkan-Nya kepada mereka tetapi ditimpakan-Nya kepada Dia di Kalvari. Oh, demikianlah Allah menjunjung tinggi keadilan, kebenaran, dan kekudusan-Nya yang tidak dapat men-toleransi dosa dunia, sembari di saat yang sama Ia memperjuangkan kasih-Nya yang terdalam, yang terhangat, yang termegah, yang tak bersyarat, tak berubah, dan yang tak berakhir itu bagi orang-orang berdosa.

Ia tidak perlu bertindak seperti itu tetapi mengapa Ia melakukan semua itu? Ya, sebab Ia begitu mengasihi dunia ini, sebab pikiran-Nya begitu banyak bagi manusia, dan supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dan lebih lagi, supaya Kristus menjadi Hidup yang kekal bagi mereka.

Flavel

Demikianlah Kristus Yesus menjadi Hidup bagi kita.
Dengarlah Ia berkata:

Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
(Yohanes 6:63)

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;
Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
(Yohanes 10:10)

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:36)

Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa,
demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
(Yohanes 6:57)

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
(Yohanes 14:6)

Gray

Ya.
Kristus adalah Hidup kita.
Kristus adalah alasan hidup kita.
Kristus adalah tujuan hidup kita.
Kristus adalah permulaan hidup kita.
Kristus adalah penyempurnaan hidup kita.

Itulah kebenaran yang harus kita mengerti dan imani. Dan ketika kita memahami dan memiliki kebenaran ini di dalam hidup kita, Ia tidak menghendaki kita berdiam diri. Ia menghendaki tanggapan dari kita. Ia menginginkan perubahan di dalam hidup kita. Lalu, bagaimanakah seharusnya tanggapan kita kepada-Nya? Bagaimanakah seharusnya kita hidup? Biarlah kedua rasul ini, yakni Petrus dan Paulus, yang mengajarkan kepada kita bagaimana respon yang benar, yakni respon yang bersumber dari kesadaran dan iman bahwa Kristus adalah Hidup kita.

Pertama, kita akan melihat bagaimana respon Petrus. Pada saat itu, setelah Yesus memberi makan 5000 lebih orang hanya dengan lima roti dan dua ikan, Ia mengatakan hal yang sangat mencengangkan, yaitu bahwa Ia adalah Roti Hidup (Yohanes 6:48, 51). Tuhan Yesus menyampaikan pesan tersirat yang mengatakan bahwa roti manna yang dimakan oleh orang Israel ketika mereka masih berada di padang gurun menuju Kanaan dan roti yang dibagikan-Nya untuk memberi makan 5000 orang lebih itu hanyalah lambang dari roti yang sejati, Sang Roti Hidup, Sang Roti dari Sorga, yang adalah Ia sendiri. Tuhan kita berkata:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yohanes 6:53-58)

Itu adalah perkataan yang keras bagi orang Yahudi sebab mereka tidak mengerti perkataan-Nya dan mereka jijik dengan ilustrasi daging dan darah yang Ia gunakan sebab sebagai orang Yahudi mereka tidak pernah makan darah. Perkataan-Nya memicu sungut-sungut bahkan bagi murid-murid-Nya sendiri. Alhasil, banyak dari murid-Nya yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (Yohanes 6:66). Kemudian, Tuhan Yesus berkata kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Inilah respon pertama, respon Petrus, yang juga harus menjadi respon kita akan Kristus:

Ayat - Yohanes 6 68

Respon Petrus adalah respon terbaik sepanjang masa. Ada kalanya kita harus menjawab pertanyaan bukan dengan jawaban melainkan dengan pertanyaan. Dan ada kalanya prinsip itu juga berlaku ketika Kristus bertindak sebagai pihak yang bertanya. Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus dan apakah yang Petrus lakukan? Petrus tidak menjawab-Nya, ia berani bertanya balik kepada Tuhan Yesus. Sungguh, Petrus adalah murid yang cerdas. Kristus pasti bangga padanya.
Aku rasa kau akan setuju denganku.

Itulah respon yang pertama, respon Petrus, yang adalah sebuah iman dan kesadaran yang teguh bahwa Kristus menyampaikan firman kebenaran yang menuntun kepada hidup yang kekal. Dan lebih dari itu, bukan saja Kristus menyampaikan firman Allah, Ia adalah Firman Allah (Yohanes 1:1, Wahyu 19:13).

Firman itu yang menerangi langkah kita. (Mazmur 119:105)
Firman itu menjadi sumber hikmat kita. (Mazmur 119:97-100)

Firman itu yang menjadi sumber sukacita bagi kita. (Yeremia 15:16)
Firman itu yang menjadi senjata kita. (Efesus 6:7, 1 Yohanes 2:14)

Firman itu yang memerdekakan kita. (Yohanes 8:32)
Firman itu yang menguduskan kita. (Yohanes 17:17)

Firman itu yang menimbulkan iman di dalam hati kita. (Roma 10:17)
Firman itu memberikan hidup yang baru, yang sejati, dan yang kekal kepada kita.
(1 Petrus 2:23)

Itu adalah respon yang pertama, yakni tanggapan rasul Petrus. Bagaimanakah dengan rasul Paulus? Bagaimanakah Paulus mengajarkan kita respon yang benar yang berasal dari kesadaran dan iman yang murni bahwa Kristus adalah Hidup kita? Inilah pesan dan teladan Paulus bagi seluruh umat Tuhan. Ia berkata:

Ayat - Filipi 1 21-22

Itulah respon yang benar.
Itulah respon dari seorang Kristen yang sejati.
Apakah ini yang juga menjadi respon kita?

Apakah pengakuan Petrus juga menjadi pengakuan iman kita?
Apakah teladan Paulus juga menjadi kesaksian hidup kita?

Apakah firman Kristus adalah perkataan hidup yang kekal bagi kita?
Apakah kita hidup untuk bekerja memberi buah bagi-Nya?

Tentu saja pengakuan iman Petrus dan kesaksian hidup Paulus tidak akan pernah menjadi nyata di dalam hidup kita jika kita berjuang sendirian. Kita, sebagai orang percaya, memang tidak dipersiapkan untuk mengandalkan diri kita sendiri. Kita tidak berjuang dengan kekuatan kita sendiri. Tuhan Yesus pun pernah berkata:

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
(Yohanes 15:4-5)

Ya, kita sepenuhnya bergantung kepada Kristus. Kristus adalah fondasi dan kita adalah batu-batu yang dibangun di atas-Nya. Kristus adalah Pokok dan kita adalah ranting-Nya. Kristus adalah Kepala dan kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya. Kristus adalah Gembala dan kita adalah kawanan domba-Nya. Kristus adalah Raja dan kita adalah rakyat-Nya. Kristus adalah mempelai Pria dan kita adalah mempelai wanita-Nya. Kita tidak dapat hidup tanpa-Nya.

Dan bagaimana cara agar kuasa-Nya melimpah di dalam hidup kita?
Firman Allah mengajarkan:

Kita harus makin kecil supaya Ia makin besar.
Kita harus menjadi lemah dalam diri sendiri supaya kuasa-Nya menjadi sempurna.
Kita harus mati bagi diri sendiri supaya kita dapat hidup bagi Dia.

Kristus adalah Hidup kita.
Itulah kebenaran yang harus kita imani.

Mati bagi diri sendiri, dan hidup bagi Kristus, Kerajaan-Nya, dan umat-Nya.
Itulah respon yang harus kita hidupi.

Begg2

Kiranya Allah menuntun jalan kita dengan Firman-Nya.
Kirianya Allah menguatkan langkah kita dengan Roh-Nya.

Hingga kelak ketika Kristus menyatakan diri-Nya kepada kita,
kita akan menjadi sama seperti Dia,
sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
(1 Yohanes 3:2)

Hingga saat itu tiba, oh saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan, kiranya Kristus selalu menyertai kita. Amin.

The Most Wanted Who Seeks

Allah punya kesenangan yang sangat unik.
Ia sangat senang menjadi The Most Wanted.
Dengarlah Ia berseru:

Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!
(1 Tawarikh 16:11)

Semua most wanted bersembunyi dari orang-orang yang mencarinya.
Semua most wanted tidak ingin wajahnya dikenali atau fotonya disebar.

Namun, The Most Wanted yang satu ini begitu berbeda.
Ia tidak bersembunyi, Ia berkenan ditemui oleh mereka yang ingin mendapatkan-Nya.
Ia tidak takut dikenali, Ia bahkan memerintahkan manusia untuk mencari wajah-Nya.
Ia tidak berlari menjauh, Ia berada dekat, bahkan mendekat.

Dengarlah Ia berfirman:

Ayat - Yesaya 55 6

Memang ada jarak yang begitu jauh yang memisahkan Allah dengan manusia (Yesaya 59:1-2) tetapi sekalipun demikian, Ia tidak menghalangi siapapun untuk mencari-Nya. Justru sebaliknya, Ia memanggil dan meneguhkan hati mereka untuk mencari Dia.

Ia berjanji akan memberkati mereka yang mencari-Nya:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,
maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
(Matius 6:33)

Ia berjanji akan menjawab doa orang-orang yang menanyakan Dia:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
(Matius 7:7)

Ia berjanji akan menganugerahkan hidup yang sejati  bagi tiap orang yang mencari-Nya:

Ayat - Amos 5 4

Ia bahkan berjanji akan memberikan mereka menemukan diri-Nya, Sang Most Wanted:

“apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN.”
(Yeremia 29:13-14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Belum selesai sampai di sana.
Ia bukan hanya ingin menjadi yang dicari dan ditemukan oleh mereka.
Ia juga ingin mencari dan menemukan mereka yang hilang, tersesat, dan bersembunyi.

Faktanya, sedetikpun Ia tidak pernah berhenti menjadi Sang Pencari.
Ia selalu menjadi pihak yang memanggil dan mencari.

Sekalipun Ia sangat ingin dicari oleh umat-Nya, tak seorangpun mencari-Nya (Roma 3:11).
Sekalipun Ia sangat ingin dipanggil oleh umat-Nya, tak seorangpun menanyakan Dia.

Dengarlah keluhan hati-Nya kepada mereka:

Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku;
Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku.
Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku.
Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak,
yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri.
(Yesaya 65:1-2)

Ya, itulah yang terjadi.
Dia yang seharusnya dicari-cari, tidak dicari oleh siapapun.
Ia yang wajah-Nya seharusnya dicari-cari, tidak dikenal oleh seorangpun.
Padahal mereka yang selalu ingin berlari dari wajah-Nya, dicari-Nya senantiasa.

Ia bertanya kepada Adam dan Hawa yang baru saja jatuh ke dalam dosa dan bersembunyi:
Di manakah engkau? (Kejadian 3:9)

Bukan hanya Adam dan Hawa yang Ia cari,
Ia menelusuri setiap hati untuk menemukan kita:

Ayat - Mazmur 139 1

Tetapi, itu belumlah semua yang Ia lakukan.
Ia melakukan yang jauh lebih luar biasa lagi.

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. (Yohanes 1:1-3, 14).

Siapakah Dia?
Siapakah Firman yang telah menjadi daging itu?

Oh Dia adalah Tuhan kita, Yesus Kristus,
Gembala yang baik yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yohanes 10:11),
Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).

Ia begitu murah hati.
Andreas dan Yohanes bertanya, “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” (Yohanes 1:38)
Dan Ia menjawab, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” (Yohanes 1:39)

Dengarlah Ia berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Matius 11:28)

“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!
Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci:
Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”
(Yohanes 7:37-38)

“dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”
(Yohanes 6:37)

Dan Ia tidak hanya memanggil,
Ia tidak hanya mengundang,
Ia tidak hanya menerima,
Ia melakukan hal yang lebih dari itu,
Ia mencari dan menyelamatkan yang hilang:

Ayat - Matius 18 11

Ia masuk ke Kapernaum untuk mencari perwira Roma yang hambanya sedang sakit keras.
Ia menepi ke Gerasa untuk mencari orang yang kerasukan roh jahat.

Ia datang ke Yerikho untuk mencari Zakheus, si kepala pemungut cukai.
Ia melewati Samaria untuk mencari perempuan Samaria yang berdosa.

Ia keluar dari Yerikho untuk mencari Bartimeus, si pengemis yang buta.
Ia pergi ke kolam Betesda untuk mencari orang yang sudah tiga puluh delapan tahun tak berdaya.

Ia datang ke Kalvari untuk mencari kepala pasukan prajurit yang akan menyalibkan-Nya.
Ia naik ke atas salib untuk mencari penjahat yang disalib di sebelah-Nya.

Ia datang ke tengah-tengah murid-Nya untuk mencari Tomas yang meragukan-Nya.
Ia bahkan datang ke jalan ke Damsyik untuk mencari Saulus
yang hendak membinasakan umat-Nya.

Oh, Allah macam apakah ini?
Siapakah Allah seperti Dia yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? (Mikha 7:18)

Sungguh, Ia adalah Tuhan dan Juruselamat yang baik dan penuh belas kasihan.
Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10).
Ia datang supaya mereka mempunyai hidup,
dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10).

Dialah yang sepatutnya dicari-cari
tetapi justru Dialah yang mencari-cari.

Who is He?
His name is Immanuel, which means God with us.
His name is Jesus, which means Savior.

He is The Most Wanted who seeks.
And He is seeking you.

IMG_60883308468665

Terang Dunia bagi Umat Manusia

Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar;
mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
(Yesaya 9:2)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Augustine

Nubuat Nabi Yesaya ini diawali dengan frase, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan…” Nubuat ini berbicara pertama-tama mengenai Bangsa Israel. Namun, nubuat tersebut tidak terbatas hanya untuk Bangsa Israel tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Dan memang itulah yang menjadi kesaksian sejarah dan yang dapat kita lihat di zaman ini. Dunia ini telah berada di dalam kegelapan sejak jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa. Jiwa-jiwa telah berdiam di dalam negeri kekelaman sejak dahulu kala.

Orang-orang menyangka bahwa mereka melihat. Mereka berpikir bahwa mereka telah mengetahui apa yang perlu untuk hidup ini. Namun, seperti kata firman Tuhan, “mereka memiliki mata tetapi tidak melihat (Yeremia 5:21).” Mereka memuaskan mata mereka dengan apa yang mereka anggap indah dan berharga dari apa yang dunia ini tawarkan. Mereka memenuhi pikiran mereka dengan pengetahuan-pengetahuan yang dengannya mereka berpikir bahwa mereka tidak memerlukan Allah. Bahkan, mereka berani mengatakan bahwa Allah itu tidak ada. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari keadaan mereka yang sesungguhnya. Mereka tidak mengerti dalam kondisi seperti apakah mereka berada.

Apa yang terjadi pada mereka? Jiwa mereka buta. Firman Tuhan berkata: Pikiran mereka telah dibutakan oleh kebodohan dan oleh kedegilan hati mereka sendiri (Efesus 4:17-19). Manusia membuat hatinya buta oleh dosa-dosanya sendiri. Dosa menggiring manusia ke dalam pikiran yang sia-sia. Dosa menjadikan pengertian manusia gelap. Dosa membuat bodoh, mendegilkan hati, dan menumpulkan perasaan sehingga manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk menyerahkan diri kepada hawa nafsu yang cemar. Sama seperti Firaun yang terus-menerus mengeraskan hatinya sekalipun Allah telah berkali-kali menunjukkan kuat kuasa-Nya di hadapannya, demikianlah setiap orang mengeraskan hatinya sendiri dan dengan demikian bertanggungjawab atas kebutaannya. Inilah kondisi umat manusia yang sebenarnya.

Lawson

Tidak hanya itu, firman Tuhan juga berkata bahwa pikiran orang-orang berdosa juga dibutakan oleh ilah zaman ini, yang adalah iblis, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Korintus 4:4). Setan memperparah kebutaan manusia dengan tipuan dan bujukan mereka yang membutakan. Inilah alasan dari berbagai-bagai duka dan kejahatan yang tiada henti melanda dunia ini. Lihatlah dunia ini! Kita tidak pernah hidup dalam zaman yang semaju zaman ini. Tingkat pendidikan, kesehatan, komunikasi, transportasi, dan hiburan saat ini telah jauh melampaui era-era sebelumnya. Namun, mengapa generasi saat ini menjadi jauh lebih cepat bosan dibanding generasi terdahulu? Mengapa masih tidak ada kedamaian? Mengapa masih ada kerakusan, kejahatan, terorisme, perselingkuhan, bunuh diri, dan hal-hal buruk lainnya? Kita tentu tidak akan pernah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dari dunia ini. Hanyalah firman Allah yang dapat memberikan jawaban kepada kita tentang mengapa dunia ini menjadi seperti ini. Dan inilah jawaban Alkitab yang adalah kebenaran:

Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.
(1 Yohanes 5:19)

Ya, iblis yang adalah penghulu dunia yang gelap ini (Efesus 6:12) telah menguasai dunia ini dan menipu orang-orang berdosa yang buta dan lebih jauh memusnahkan penglihatan mereka. Alhasil, manusia semakin tidak mengenal Allah, semakin tidak mengenal dirinya sendiri, dan bahkan, semakin tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang jahat. Itulah alasan mengapa umat manusia tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang sejati dari apa yang dunia ini berikan.

Piper

Namun, ada bencana yang lebih menakutkan dari semua itu. Manusia memang buta akibat kebebalan hatinya sendiri. Manusia memang buta karena hasutan ilah zaman ini. Tetapi itu belum seluruhnya. Firman Tuhan juga berkata:

Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka,
supaya mereka jangan melihat dengan mata,
dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.
(Yohanes 12:40)

Apakah yang dimaksudkan oleh Yohanes? Ya, Allah membutakan orang-orang yang berdosa. Manusia menjadi buta karena di dalam kedaulatan dan murka-Nya atas dosa, Allah telah menetapkan untuk membutakan mata hati setiap orang yang berdosa dan yang enggan merendahkan hati di hadapan-Nya. Inilah sikap keadilan Allah atas orang-orang yang tegar tengkuk dan menolak untuk mendengarkan firman-Nya.

Dalam suratnya kepada jemaat Allah di Roma, Paulus berkali-kali mengatakan bahwa Allah membiarkan atau menyerahkan orang-orang kepada keinginan hati mereka yang jahat (Roma 1:24, 26, 28) dan dengan demikian mengeraskan hati mereka dan membuat mereka buta akan firman-Nya. Bagi beberapa orang, hal ini terdengar mengerikan dan jahat. Mereka bertanya, “Bagaimana mungkin Allah bisa sejahat itu dengan membutakan orang-orang yang berdosa?” Namun, sikap yang demikian menunjukkan pengenalan akan Allah yang dangkal.

Kutuk yang Allah timpakan dengan membutakan orang-orang berdosa memang mengerikan tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa Allah jahat. Allah tidak jahat sama sekali. Allah itu baik (Mazmur 100:5). Allah itu penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih dan setia (Mazmur 86:15). Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8, 16). Namun, Ia juga adalah Allah yang kudus, benar, dan adil. Dan di dalam seluruh kepenuhan karakter-Nya itu, Ia harus menghukum orang-orang yang memberontak terhadap-Nya. Ia berhak melakukan semua itu. Ia berhak menjatuhkan hukuman menurut hikmat-Nya yang tiada tara. Ia berhak mengadili dan mengutuk semua orang yang berdosa karena Ialah yang menciptakan mereka. Sekalipun manusia, khususnya para ateis, mengatakan bahwa itu merupakan tindakan yang jahat untuk dilakukan oleh Allah yang penuh “kasih”, Allah sama sekali tidak bersalah ketika Ia mewujudkan keadilan-Nya yang murni dan penuh bijaksana. Ia memiliki hak, otoritas, dan kedaulatan penuh untuk membutakan orang-orang yang menolak-Nya sehingga mereka semakin terperosok dan tenggelam ke dalam dosa-dosa mereka yang jahat. Inilah wujud amarah dan keadilan Allah yang agung.

Owen

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Spurgeon (4)

Ya, di dalam dosa-dosanya, manusia mengalami kebutaan tiga kali lipat. Manusia dibutakan oleh diri mereka sendiri. Manusia dibutakan oleh ilah zaman ini. Manusia dibutakan oleh Allah yang murka. Sungguh mengerikan kondisi manusia yang sebenarnya. Dan berita buruknya adalah semua manusia terlahir sebagai seorang yang buta sebab semua orang telah membawa natur dosa warisan sebagai keturunan Adam, sebagaimana penuturan raja Daud:

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan,
dalam dosa aku dikandung ibuku.
(Mazmur 51:7)

Dalam keadaan yang demikian, tentu saja mustahil manusia dapat melihat dengan kekuatan dan kehendaknya sendiri. Sama seperti seorang yang buta jasmani sejak lahir tidak dapat membuat matanya melihat, demikianlah seorang yang buta rohani sejak lahir tidak akan dapat mencelikkan mata hatinya sendiri. Manusia sama sekali tidak dapat melihat. Manusia tenggelam dalam kegelapan. Manusia terperangkap dalam kekelaman. Manusia berjalan di dalam kegelapan menuju kematian yang kekal. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia teramat sangat membutuhkan Juruselamat.

Dalam kondisi yang buntu seperti itu, masihkah umat manusia memiliki pengharapan? Oh, terpujilah Allah, sebab sekalipun dunia ini dikuasai oleh kegelapan dan umat manusia mencintai kegelapan itu (Yohanes 3:19) namun Allah begitu mengasihi dunia ini (Yohanes 3:16). Walaupun manusia tidak memiliki pengharapan dari dirinya sendiri, bagi manusia masih tersedia pengharapan yang berasal dari luar dirinya, yakni dari Dia, Sang Sumber Pengharapan yang sejati. Firman Tuhan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin. (Matius 19:26).” Ya, walaupun manusia tidak mampu memulihkan mata hatinya yang telah rusak total, Allah mampu memulihkannya. Sekalipun manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, Allah yang adalah Sang Juruselamat mau dan mampu menyelamatkannya. Dan apakah yang Allah lakukan? Inilah yang Ia lakukan:

Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar;
mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
(Yesaya 9:2)

Ayat - Yesaya 9 5

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

Hanya ada satu cara untuk mencelikkan mata hati manusia yang buta. Hanya ada satu cara untuk menerangi kegelapan di dalam jiwa manusia. Dan itu hanya dapat terjadi ketika terang yang besar, yakni Terang Ilahi, melawat manusia di dalam kekelaman mereka. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan dan memberikan kepada mereka hidup yang kekal. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka (Matius 1:21). Dan itu hanya dapat terjadi ketika Anak itu, yang adalah Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai, dikaruniakan oleh Allah kepada dunia.

Kini pertanyaannya:
Siapakah Terang itu?
Siapakah Anak itu?

Oh, izinkanlah aku memperkenalkan siapa Pribadi yang terindah itu: Dia adalah Tuhan kita Yesus Kristus, yang lahir di kota kecil Betlehem dua ribu tahun yang lalu. Dialah Sang Anak Allah yang pernah berkata:

Akulah Terang Dunia

Ya, Dialah Terang Dunia bagi umat manusia. Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia (Yohanes 1:4). Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan, oleh Kristus, tidak akan lagi berjalan di dalam kegelapan. Mereka yang di diam di negeri kekelaman, oleh Kristus, akan mempunyai terang hidup. Orang-orang yang melangkah menuju kebinasaan, oleh Kristus, beroleh hidup yang kekal. Dan bukan hanya hidup yang kekal, tetapi juga:

Kebenaran dan hikmat dari Dia yang adalah Sang Penasehat Ajaib
Kemenangan dan perlindungan dari Dia yang adalah Allah yang Perkasa
Kasih sayang dan berkat kecukupan dari Dia yang adalah Bapa yang Kekal
Damai dan sejahtera dari Dia yang adalah Sang Raja Damai

Inilah pesan terindah yang datang bersama-sama hari Natal, hari kelahiran Sang Raja di atas segala raja, hari datangnya Terang yang besar. Inilah kabar baik bagi dunia. Inilah satu-satunya pengharapan bagi umat manusia. Biarlah berita sukacita ini kita sampaikan kepada keluarga kita dan kepada seluruh umat manusia, yakni bahwasanya siapa saja yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Spurgeon 1

Amin.
Selamat hari Natal 2015, teman-teman yang terkasih