Roh yang Membangkitkan Kuasa, Kasih, dan Kedisiplinan

Roh yang Membangkitkan Kuasa, Kasih, dan Kedisiplinan

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,
melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
(2 Timotius 1:7)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

https://www.youtube.com/watch?v=u8NstGw3LYw

Di dalam video yang menarik ini, ditunjukkan bahwa jika sebuah potongan kertas diputar dengan kecepatan putar yang cukup oleh sebuah pemutar listrik, maka gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh perputaran kertas tersebut dapat cukup kuat bahkan untuk memotong barang yang terbuat dari kayu dan plastik. Menakjubkan, bukan?

Kertas yang lemah dan sangat mudah dikoyak, oleh energi listrik, justru menjadi sebaliknya, dapat memotong kayu dan plastik. Hal ini seharusnya membangkitkan kekaguman kita akan Allah dalam karya ciptaan-Nya di dalam semesta. Lebih dari itu, hal ini juga seharusnya semakin menguatkan iman percaya kita akan Allah dalam karya penyelamatan dan pertolongan-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Allah tidak memberi kita roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (atau disiplin/pengendalian diri). Tiga komponen itulah yang paling kita butuhkan untuk hidup, yakni kuasa, kasih, dan kedisiplinan, dan Allah telah menyediakan ketiganya di dalam Roh-Nya yang kudus yang diam di dalam kita.

Jika energi listrik dapat membuat kertas yang lemah mengoyak kayu, maka kuasa Roh Allah, yang melebihi seluruh energi listrik yang ada di dalam jagad raya ini, dapat membuat kita yang lemah ini  menerobos segala pergumulan dan kemustahilan dalam hidup ini. Oleh sebab itu, janganlah kita hidup di dalam ketakutan dan kekuatiran akan hari esok tetapi hendaklah kita hidup di dalam iman dan pengharapan dengan tetap bersandar penuh pada kuasa dan hikmat Roh-Nya.Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
(Galatia 5:25)

Amin

Hanya oleh Roh Kudus

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria,
melonjaklah anak yang di dalam rahimnya
dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus.
(Lukas 1:41)

Di dalam hidupku, aku sudah beberapa kali membaca ayat Lukas 1:41. Namun, ketika aku membaca petikan ucapan Dr. Brown ini aku menjadi benar-benar takjub dengan kebenaran Allah. Aku tidak pernah menyadarinya sebagaimana aku menyadarinya saat ini. Benar juga, orang pertama yang mengenal Yesus secara rohani adalah seorang anak yang bahkan belum lahir, yaitu Yohanes Pembaptis yang masih berada di dalam kandungan. Pernyataan itu seakan-akan menyihirku. Ada luapan perasaan unik yang timbul di hatiku. Aku merasa terharu, sedih, sukacita, bersemangat, terpukau, dan rendah di saat yang sama.

“Apa yang hendak Allah ajarkan kepada kita melalui kebenaran ini?”
Ahaaa…,” kata hatiku. “Allah pasti ingin mengajarkan di sini sesuatu mengenai kerendahan hati. Salah satu topik yang datang lagi dan lagi di dalam Alkitab adalah kerendahan hati dan pasti bagian ini merupakan salah satunya.”

Ya, satu perikop ini pasti mengandung kebenaran yang luas, namun hal pertama yang langsung tertangkap olehku ketika membaca bagian ini adalah tentang kerendahan hati karena memang kerendahan hati merupakan atmosfer yang melingkupi seluruh kisah Natal. Kristus dengan rendah hati datang ke dunia, terlahir di kandang domba, oleh seorang anak dara, yang bukanlah seorang yang berada. Kabar sukacita ini diberitakan pertama-tama bukan kepada para raja, melainkan kepada kaum yang tidak diduga-duga, yaitu para gembala. Tema kerendahan hati menyelimuti sepanjang peristiwa Natal dan di bagian inipun tema kerendahan hati sekali lagi dikumandangkan dengan nyaring, setidaknya di telingaku.

Mengapa Allah ingin memperlihatkan bahwa, seperti kata Dr. Brown, pribadi pertama yang me-recognize Yesus sebagai Anak Allah dan yang bukan saja me-recognize-Nya tetapi juga yang melonjak kegirangan (Lukas 1:44) ketika berada di dekat-Nya, merupakan seorang anak yang bahkan belum lahir? Apa maksud Allah di balik ini? Kita mungkin rajin datang ke gereja setiap Minggu atau aktif melayani di persekutuan, tetapi apakah kita benar-benar telah mengenal dan mengakui-Nya sebagai Anak Allah sebagaimana bayi Yohanes mengenal-Nya? Kita mungkin suka mempelajari doktrin-doktrin Kekristenan, rajin membaca buku-buku rohani, dan sebagian dari kita mungkin bahkan menjalani studi dalam bidang teologi, tetapi apakah kita melonjak kegirangan karena Kristus sebagaimana Yohanes, yang bahkan belum pernah lahir itu?

Menurutku, ini merupakan pertanyaan yang perlu kita pikirkan lagi dan lagi di dalam hidup kita. Apakah kita benar-benar telah mengenal Kristus sebagaimana Ia seharusnya dikenal? Apakah kita benar-benar berbahagia berada di dekat-Nya? Kita mungkin telah mengenal-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebagaimana yang selalu kita dengar di gereja dan di persekutuan, tetapi sudahkah kita mengenal Dia sebagai Roti Hidup kita (Yohanes 6:35, 48, 51) yang tanpa-Nya jiwa dan intelektual kita akan terus kelaparan? Sudahkah kita mengenal-Nya sebagai Pokok Anggur kita (Yohanes 15:1) yang ketika jauh dari-Nya kita merasa lemah dan tidak mampu berbuah dalam hidup? Sudahkah kita mengenal-Nya sebagai Hidup kita (Yohanes 14:6) yang membuat kita bergairah untuk memusatkan seluruh detail dari hidup kita kepada Dia? Kita mungkin merasakan sukacita ketika kita bersama dengan kawan-kawan seiman, yang selalu kita temui di gereja dan di persekutuan, tetapi sudahkah kita bergirang dan bergembira hanya karena Kristus?

Datang ke gereja setiap Minggu, ikut serta di dalam pelayanan, mempelajari doktrin-doktrin, membaca buku-buku rohani, menempuh studi di bidang teologi, dan lain sebagainya memang dapat memberi kita pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus tetapi ketika semua itu berdiri pada dirinya sendiri maka pengenalan yang akan dihantarkannya kepada kita hanyalah pengenalan yang sifatnya kognitif. Pengenalan akan Kristus yang bersifat kognitif semata tidaklah cukup untuk membuat kita benar-benar mengenal-Nya secara pribadi dan spiritual. Pengenalan yang demikian bukanlah pengenalan yang menuntun kepada keselamatan sebagaimana yang Tuhan katakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3).”

Kita butuh pengenalan yang berbeda, suatu pengenalan akan Kristus yang juga dimiliki oleh bayi Yohanes, yakni yang membuatnya menyadari hadirat Yesus dan mendorongnya untuk bersukacita. Pengenalan macam apakah itu? Firman Tuhan berkata mengenai Yohanes: “Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya (Lukas 1:15).” Ya, Yohanes menyadari Yesus dan melonjak gembira kerena-Nya sebab sejak di dalam rahim Elisabet, ia sudah penuh dengan Roh Kudus. Hal yang sama pasti juga akan terjadi dalam hidup kita ketika kita dipenuhi oleh Allah Roh Kudus.

Ada banyak perbuatan besar yang dikerjakan oleh Roh sejak dari penciptaan dunia ini namun semenjak pembukaan era Perjanjian Baru, yang masih terus berlanjut sampai saat ini dan baru akan berakhir di akhir zaman, karya utama-Nya adalah untuk bersaksi di dalam hati orang-orang tentang siapa Yesus Kristus, mengerjakan di dalam hati mereka iman kepada Kristus, dan terus menerus bekerja di dalam hati mereka hingga mereka mengenal, mengasihi, dan memuliakan nama-Nya. Kita tidak mungkin dapat memandang Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita tanpa kuasa Roh Kudus (1 Korintus 12:3) dan kita juga tidak akan dapat sepenuhnya bersukacita akan Kristus jika Roh Kudus tidak ada di dalam kita untuk menghasilkan buah sukacita yang sejati itu (Galatia 5:22-23). Ya, pengenalan dan sukacita akan Kristus merupakan buah karya Roh Kudus di dalam hati setiap orang yang percaya. Aku pribadi sangat suka dengan penuturan Robert Godfrey berikut ini tentang pekerjaan Roh Kudus:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jadi, setelah menyadari semua ini apakah yang perlu kita lakukan? Setidaknya ada dua pelajaran yang dapat kita ambil, yaitu jadilah rendah hati dan penuhlah dengan Roh Kudus.

Firman ini merupakan panggilan Allah kepada setiap kita untuk menjadi rendah hati. Sadar atau tidak sadar, kita kerap jatuh ke dalam dosa kesombongan dalam perjalanan kerohanian kita. Kita seringkali berpikir bahwa kita dapat mengenal Allah dan Kristus dengan cara-cara dan kekuatan kita sendiri. Kiranya firman ini membuat kita rendah hati dan menyadari bahwa kita semua, baik yang rajin ke gereja maupun yang tidak, baik yang aktif melayani maupun yang tidak berbagian dalam pelayanan, baik yang memiliki pengetahuan doktrin dan teologi yang tinggi maupun yang awam, sama-sama mutlak membutuhkan Roh Kudus untuk mengenal Kristus dengan baik dan benar. Paulus menegaskan bahwa manusia tidak dapat mengenal Allah melalui hikmat dan kepandaiannya (1 Korintus 1:21) dan Tuhan Yesus mengajarkan bahwa manusia membutuhkan Roh Kudus untuk mengajarnya mengenai Kristus (Yohanes 15:26). Tidak hanya itu, Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa jika manusia hendak menyembah Allah, yang di dalamnya juga terdapat unsur pengenalan akan Kristus, maka ia harus menyembah-Nya di dalam roh dan kebenaran yang berarti bahwa orang itu harus berada di bawah kuasa dan pengaruh dari Roh Allah sendiri (Yohanes 4:23-24).

Oh, betapa kita membutuhkan Roh Kudus untuk mengenal Kristus dan bergirang-girang di dalam Dia. Oleh Roh Kudus, bahkan bayi yang belum lahirpun dapat me-recognize hadirat Tuhan Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus, jika Ia menghendakinya, bahkan batupun dapat berteriak-teriak memuliakan nama-Nya (Lukas 19:40). Demikianlah hikmat Allah yang bekerja di luar cara berpikir kita. Allah berkenan agar di dalam segala sesuatu, termasuk di dalam cara kita mengenal dan melayani-Nya, kita membutuhkan-Nya dan mengakui bahwa kita membutuhkan-Nya dan bukan Dia yang membutuhkan kita. Inilah kebijaksanaan Allah kita yang menentang orang yang congkak tetapi memberi anugerah kepada mereka yang rendah hati (Yakobus 4:6). Marilah kita menyadari kebutuhan kita akan Roh Kudus dan ketika kita sadar akan kebutuhan kita ini, maka kita akan sadar bahwa kita masih berkekurangan. Dan ketika kita sadar akan kekurangan kita, maka tidak akan ada tempat untuk hati yang angkuh, yang ada hanyalah kerendahan hati dan tangan yang kosong yang senantiasa terbuka untuk memohon belas kasih Tuhan.

Pelajaran yang kedua adalah ini: hendaklah kita senantiasa penuh oleh Roh Kudus (Efesus 5:8). Roh Kudus adalah Roh kerendahan hati yang dilambangkan dengan burung merpati. Tetapi jangan salah, memang Ia adalah Roh yang low-profile dan nampaknya cukup puas dengan berada hanya di balik layar, namun Ia adalah Roh yang lebih besar dari semua roh yang ada di dunia ini (1 Yohanes 4:4). Roh Kudus juga adalah Roh pengenalan akan Kristus. Bagaimana cara agar kita dipenuhi oleh-Nya? Tuhan Yesus memberi kita dua janji. Janji yang pertama adalah Allah akan memberi kita Roh-Nya ketika kita dengan rendah hati meminta kepada-Nya. Tuhan Yesus berkata:

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
(Lukas 11:13)

Ini merupakan janji yang luar biasa. Tidak ada satupun di dunia ini yang lebih berharga dari Roh Kudus tetapi Allah mau menganugerahkan Roh-Nya dengan begitu murah hati kepada setiap tangan yang meminta. Kiranya ini memotivasi kita untuk terus meminta kepada-Nya. Tetapi janji Kristus belum selesai sampai di situ. Tuhan Yesus juga berjanji bahwa Roh Kudus akan diberikan kepada kita ketika kita datang kepada-Nya. Dengarlah janji Tuhan kita:

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru:

“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya.
(Yohanes 7:37-39)

Demikianlah janji Tuhan kita. Oh, alangkah indahnya hubungan dan harmoni antara Tuhan Yesus Kristus dengan Roh Kudus yang juga dikenal sebagai Roh Kristus (Roma 8:9 dan 1 Petrus 1:11). Di satu sisi, Roh Kudus bersaksi dan memuliakan Kristus serta memberi spotlight kepada-Nya di hati setiap orang yang percaya. Di sisi lain, Tuhan Yesus bekerja di dalam hati setiap anak-Nya sebagai Tukang Ledeng yang ahli yang membuat sebuah sumur yang dari dalamnya akan terus menerus tercurah aliran Air Hidup yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Roh Kudus itu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin mengenal Kristus dengan pengenalan yang sejati serta bergirang karena-Nya sebagaimana Yohanes Pembaptis yang belum lahir itu? maka hendaklah kita dipenuhi oleh Roh Kudus. Apakah kita ingin dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus? maka hendaklah kita yang haus datang kepada Tuhan Yesus Kristus dan meminta kepada-Nya. Dan ketahuilah, semua ini hanya diberikan kepada orang-orang yang rendah hati.

Amin

Thank You O Blessed Spirit

Create in me a clean heart, O God,
and renew a right spirit within me.

Cast me not away from your presence,
and take not your Holy Spirit from me.

Restore to me the joy of your salvation,
and uphold me with a willing spirit.

(Psalms 51:10-12)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

watson-2

Thank You O dear Blessed Spirit for doing three great things in my heart and in my life every time I sin against my God and fail to keep His word:

  • Convicting me of my sin (John 16:8), breaking my heart over it, and waking me up to realize over and over again that in my own strength, wisdom, or piety, i can never be able to please my God or to reach His standard. It’s impossible for I am a sinful man and in my flesh there dwells no good thing (Romans 7:18).
  • Bringing my memories back to the Old Calvary, turning and opening my eyes to see my Lord hanging on the cross to bear the punishment for my sins, to cleanse me from my iniquities, and to give me new sight, new heart, and new life in Him.Thank You for reminding me again and again that though I have no righteousness whatsoever in my own good efforts, good will, noble thoughts, or ministries BUT indeed I have Righteousness, and it is He and He only. Yeah, The Lord Jesus Christ, HE is my Righteousness. And as the John Bunyan of old once said: God will never again ask me “Richard, where is your righteousness?” For my Righteousness is not found in me. It is THERE, right beside Him. My Righteousness is His own Son, The Lord and Savior, Jesus Christ.And though I am still vile and totally hopeless, in Christ, my Lord, I can go to God and call Him “Father”.
  • Lifting me up once again from my failure, humbling me lower and deeper, giving me a new chance, renewing my mind (Romans 12:2), writing Your word in my heart (Jeremiah 31:33), growing Your Fruit through the soil of my soul (Galatians 5:22-23), granting me Your Strength and Wisdom that pertain for life and godliness (2 Peter 1:3). Thank you for molding and shaping through and through into the likeness of my Beloved, Shepherd, King, Life, Lord, God, Jesus Christ, all for the goodness of men and the glory of the Father, blessed be His name.

Amen

Kobarkanlah Karuniamu

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah
yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,
melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
(2 Timotius 1:6-7)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

odb

Allah memberikan kepada kita karunia-Nya. Apakah karunia Allah itu? Karunia Allah adalah kebaikan Allah yang dicurahkan-Nya kepada manusia bukan karena manusia layak menerimanya tetapi karena Allah, menurut karakter-Nya yang penuh kasih dan menurut rencana-Nya yang kekal, memutuskan bahwa Ia akan beranugerah kepada manusia.

Allah begitu murah hati memberi karunia-Nya kepada manusia yang sama sekali tak layak menerimanya. Namun, kepada setiap orang yang telah menerima karunia tersebut, yang dijadikan-Nya umat gembalaan-Nya, Allah melakukan hal yang lebih lagi. Ia memberikan kepada mereka kesempatan, kehendak, dan kuasa untuk, tidak hanya menerima dan menikmati karunia tersebut, tetapi juga mengobarkannya.

Ya, kita memang tidak dapat melakukan apapun untuk membuat diri kita layak atau mampu menerima karunia dari Allah. Tetapi, perhatikanlah perkataan rasul Paulus, “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.” Inilah berita yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap orang yang percaya: Kita dapat memilih mengobarkan karunia tersebut atau tidak.

Kobarkanlah karunia Allah dan janganlah padamkan Roh (1 Tesalonika 5:19). Jangan pernah biarkan hatimu kuatir atau gundah oleh segala tantangan yang kau temui baik di luar maupun di dalam dirimu. Setiap dari kita sangat membutuhkan ketiga hal ini: (1) kekuatan untuk terus bekerja dan tetap bertahan, (2) kasih untuk tidak berfokus kepada diri sendiri tetapi kepada Tuhan Yesus Kristus, kepada amanat agung-Nya, dan kepada orang lain yang butuh pertolongan kita serta butuh mendengar kabar baik Injil dari mulut kita, serta (3) ketertiban untuk menggunakan waktu, kesehatan, talenta, serta sumber daya yang telah Allah percayakan kepada kita dengan bijaksana. Dan kabar baiknya adalah Allah telah menyediakan semua itu bagi kita. Perhatikanlah kata Paulus: Allah tidak memberi kita roh ketakutan melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.

Itulah karunia Allah bagi setiap kita yang percaya dan bersandar penuh kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita bisa mengobarkan karunia tersebut hingga terus menyala, membara dan membakar hati kita sepenuhnya menjadi korban persembahan yang harum bagi-Nya tetapi kita juga bisa membiarkannya begitu saja; api kecil yang hampir-hampir tiada berguna bagi Allah dan bagi jiwa-jiwa, tidak menghangatkan siapapun, tidak membakar apapun, dan terancam padam oleh terpaan angin dunia.

Yang mana yang akan kau pilih? Apakah kau akan memilih diam di dalam ketakutan dan kemalasan, berfokus hanya kepada urusan-urusan pribadimu, dan membuktikan bahwa imanmu adalah iman yang mati? Ataukah kau akan mengobarkan karunia Allah yang ada di dalammu dan pergi keluar untuk mengerjakan sesuatu demi kemuliaan-Nya yang telah memberikan segala yang baik, bahkan Anak-Nya yang adalah Keselamatan dan Hidup kita, kepada kita?

tozer

Amin

Yusuf, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus

Ayat - Zakaria

Setidaknya ada dua hal penting yang dapat kita lihat dari hubungan antara Yusuf, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah Roh Kudus.

Pertama:
Yusuf adalah seorang pria yang penuh dengan Roh Kudus (Kejadian 41:39). Lebih dari Yusuf, Tuhan Yesus Kristus, dalam keberadaan-Nya sebagai manusia, adalah satu-satunya manusia yang dipenuhi oleh Roh Kudus secara sempurna (Lukas 4:1).

Kedua:
Oleh kuasa Roh Kudus, baik Yusuf dan Tuhan Yesus Kristus menjadi Juruselamat dunia.

Roh Kudus menganugerahkan akal budi dan bijaksana kepada Yusuf sehingga ia menimbun gandum seperti pasir di laut banyaknya dalam tujuh tahun masa kelimpahan Mesir. Kemudian, ketika tujuh tahun masa kelaparan melanda seluruh bumi, Kerajaan Mesir memiliki cadangan makanan yang berlimpah dan cukup untuk dijual kepada seluruh penduduk dunia yang berdatangan ke sana untuk membeli makanan. Melalui semua ini, Yusuf menyelamatkan dunia dari kematian jasmani (Kejadian 41:37-57).

Tidak dapat diragukan, Yusuf adalah hamba Allah yang luar biasa. Namun, apa yang Allah lakukan melalui Yusuf, hanyalah bayang-bayang dari misi penyelamatan Allah yang sesungguhnya, yakni yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Oleh kuasa Allah Roh Kudus, Kristus datang ke dunia melalui kelahiran anak dara (Matius 1:18-20). Roh Kudus menaungi-Nya dan menjadi roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN bagi-Nya (Yesaya 11:2). Roh Kudus memimpin-Nya selama Ia melayani di dunia (Lukas 4:1). Roh Kudus menguatkan-Nya ketika Ia menyerahkan diri-Nya untuk mati demi menebus dosa umat-Nya (Ibrani 9:14). Roh Kudus membangkitkan-Nya dari maut di hari yang ketiga (Roma 8:11). Roh Kudus menyertai-Nya naik ke sorga. Dan melalui Roh Kudus, Ia hidup di dalam setiap orang yang percaya (Yohanes 14:16-18). Melalui semua ini, Tuhan Yesus Kristus menyelamatkan dunia dari kematian kekal.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Stanley

Apakah maksud dari semua ini?

Roh Kudus adalah Roh Juruselamat. Kau dan aku bukanlah Yusuf. Dan yang jauh lebih pasti dari itu, kau dan aku, bukanlah Tuhan Yesus Kristus. Namun, jika kita sungguh-sungguh ada di dalam Kristus, maka di dalam kita tinggal Roh yang sama yang ribuan tahun yang lalu juga tinggal di dalam Yusuf dan Tuhan kita (Roma 8:9 dan 1 Korintus 6:19-20).

Apakah artinya itu? Ya, oleh karunia, sukacita, hikmat, kuasa, dan kasih yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus yang hidup di dalam kita, kita juga dapat menjadi “juruselamat”. Jika Allah menghendaki, kita dapat menyelamatkan lingkungan dan peradaban di sekitar kita dari kehancuran jasmani. Dan lebih dari itu, oleh anugerah-Nya di dalam tuntunan Roh Kudus, kita dapat menjadi “juruselamat” yang membawa orang-orang kepada Sang Juruselamat yang sejati yang tidak hanya akan menyelamatkan mereka dari kebinasaan kekal tetapi juga menganugerahkan kepada mereka, kehidupan yang kekal.

Janganlah kita lupa siapa kita, Teman-teman. Siapakah orang Kristen itu?
Orang Kristen adalah orang yang di dalam dirinya berdiam Roh Allah, tidak kurang dari itu.

Biarlah kebenaran ini menjadi kepastian di dalam hidup kita sehingga kita dapat menjadi pelayan Allah yang hidup hanya untuk kemuliaan nama-Nya dan kebaikan umat-Nya.

Sung

Amin