Hati yang Rendah Hati adalah Istananya Allah

Kemegahanmu tidaklah baik.
(1 Korintus 5:6)

Banyak orang menjadi sombong akan kecantikan mereka. Tubuh hanyalah debu dan darah yang digabung menjadi satu. Salomo berkata, “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia.” Amsal 31:30. Namun, beberapa orang sangatlah sombong akan kesia-siaan! Patutkah debu membanggakan dirinya sendiri?

Banyak orang menjadi sombong karena karunia dan kemampuan yang mereka miliki. Dandanan dan perhiasan itu tidak membuat mereka berkenan di mata Allah. Seorang malaikat adalah makhluk yang memiliki kemampuan yang luar biasa; namun ambillah kerendahan hati dari seorang malaikat – dan ia akan menjadi seorang iblis. Allah mengasihi orang yang rendah hati. Bukanlah kelahiran agung kita, melainkan kerendahan hati kita, yang kepadanya Allah berkenan.

Oh, marilah kita menyelidiki adakah ragi kesombongan di dalam kita. Manusia secara kodratnya adalah seonggok daging yang sombong. Dosa kesombongan ini mengalir di dalam darah. Benih dosa kesombongan ini terdapat juga di dalam orang-orang Kristen yang paling tekun – namun orang yang saleh tidak akan membiarkan diri mereka berada di dalam dosa ini. Mereka berjuang untuk membunuh rumput liar ini dengan mematikannya.

Semakin tinggi nilai seseorang, semakin rendah hati dia. Bulu-bulu itu tidak bernilai dan mereka beterbangan di atas, sementara emas yang berharga tempatnya ada di bawah, yakni di dalam tanah. Sama dengan itu, orang kudus tidak mengejar tempat yang tinggi di atas, melainkan di bawah. Pandanglah Sang Juruselamat yang rendah hati – dan biarkanlah bulu-bulu kesombongan itu berlepasan.

Hati yang rendah hati adalah istananya Allah. “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya:

Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus
tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati
,
untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati
dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”
(Yesaya 57:15).

Hati yang rendah hati bermegah di dalam ini – yakni bahwa hati yang demikian adalah ruang di mana Allah yang agung dan mulia berada!

~~~~~~

Only the Humble

sproul

Humble yourselves therefore under the mighty hand of God,
that He may exalt you in due time.
(1 Peter 5:6)

As only the small particle in the flow will pass through the dense filter,
only the humble will pass through the arduous life in this world,
as well as the narrow gate of the Lord (Matthew 7:13-14).

Blessed is the man whose heart is humble
for he is like the Lord (Matthew 11:29)
and God’s grace is upon him (James 4:6).

O Lord Jesus, the Humble One, my Strength, my Wisdom, and my Glory,
grant me such a lowly heart as Yours.

For Your name’s sake i pray
Amen

Ketika Mengandalkan Manusia

Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat:

“Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan,
dan bawalah hasilnya kepadaku,
supaya aku tahu jumlah mereka.”

Lalu Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat. Di antara seluruh orang Israel ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang.

Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel.

Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel, maka tewaslah dari orang Israel tujuh puluh ribu orang.

(1 Tawarikh 1-2, 5, 7, 14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Daud adalah seseorang yang sangat dekat dengan Allah. Ia berkali-kali menyaksikan pertolongan Allah di dalam hidupnya. Ia pernah menaklukkan singa dan beruang seorang diri ketika masih menjadi gembala muda, menewaskan Goliat, bertahan dari pengejaran Saul bahkan dapat membunuhnya jika ia mau, dan menang di dalam berbagai-bagai pertempuran, semua karena Allah. Ia percaya akan kasih dan setia Allah kepadanya. Ia tahu pasti bahwa ia tidak dapat bersandar pada kekuatannya sendiri; Allah adalah kekuatannya dan kota bentengnya (Mazmur 59:10).

img_19716772555422

Namun, ketika Daud sudah berada di dalam kejayaan dan ketika “Iblis bangkit… (1 Tawarikh 21:1)” – oh alangkah ngerinya jika Iblis telah bangkit – ia menjadi sombong. Ia seakan melupakan semua campur tangan Tuhan yang membawanya ke dalam berbagai kemenangan dan kejayaan. Ia mulai mengandalkan kekuatannya sendiri dan itu mendorongnya untuk menghitung seberapa banyak orang Israel yang mampu berperang. Dahulu, ketika masih muda, ia tidak perlu mengukur kekuatan Goliat sebelum bertempur melawannya sebab ia tahu kekuatan Allah. Namun kini, ketika Daud sudah jaya, ia malah merasa perlu untuk mengukur kekuatannya supaya ia bisa siap bertempur dengan musuh-musuhnya. Ia seakan lupa bahwa TUHAN adalah kekuatannya dan kekuatan-Nya tidak perlu dihitung sebab besarnya tidak terukur dan dalamnya tidak terselami.

Yoab, panglima tentara Daud, melaporkan kepada Daud hasil sensus tersebut. “Ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang”, kira-kira sebesar itulah kekuatan perang Daud. Apakah Daud puas atau tidak dengan jumlah tersebut, firman Tuhan tidak memberitahu kita akan hal itu. Namun, keinginan Daud itu jahat di mata Allah. Di dalam murka-Nya, tujuh puluh ribu orang Israel tewas karena penyakit sampar hanya dalam tiga hari.

Daud ingin tahu seberapa banyak tentaranya. Tuhan berespon dengan menewaskan begitu banyak orang Israel di dalam waktu yang sedemikian singkat. Daud ingin mengukur kekuatannya. Tuhan menanggapi dengan melucuti kekuatan Daud. Itulah yang terjadi ketika kita bersandar kepada kekuatan kita sendiri dan berhenti mengandalkan Allah kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

spurgeon

Firman Tuhan berkali-kali berkata bahwa Ia menentang orang yang sombong dan mengasihi orang yang rendah hati (Amsal 3:34, Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Melalui Yehezkiel, Ia berkata bahwa Ia akan “merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali (Yehezkiel 17:22-24).” Melalui Zefanya, Ia berkata, “Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, yakni sisa Israel itu (Zefanya 3:12-13)”. Melalui Yeremia, Ia berfirman:

“Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya,
janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya,
janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut:
bahwa ia memahami dan mengenal Aku,
bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia,
keadilan dan kebenaran di bumi;
sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

(Yeremia 9:23-24)

Itulah isi hati TUHAN, itulah yang Ia sukai, yakni agar kita memahami dan mengenal-Nya. Ia menentang segala bentuk kesombongan, baik kesombongan karena hikmat, kekuatan, harta, bahkan kesalehan, sebab semua itu akan mencegah kita dari memahami dan mengenal-Nya. Ia benci kepada segala bentuk keangkuhan sebab karenanya kita tidak akan mengenal Dia sebagai Allah yang penuh kasih setia, keadilan, dan kebenaran di bumi.

Dan Ia tahu benar bahwa manusia, yang telah jatuh ke dalam dosa dan tinggal di dalam dunia yang telah tercemar oleh dosa, akan rentan untuk menjadi sombong dan mengandalkan diri sendiri, tidak terkecuali umat-Nya. Oleh sebab itu, di dalam hikmat dan kasih sayang-Nya yang besar kepada domba-domba-Nya, Ia mengizinkan mereka untuk menjadi lemah, bahkan menderita di dalam dunia. Semua itu Ia lakukan bukan untuk menindas mereka, melainkan untuk menguji, memurnikan, dan menguatkan iman mereka, membuat mereka berhenti mengandalkan dirinya sendiri dan berlindung kepada TUHAN, berhenti mengejar kemuliaan diri sendiri dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Kemuliaan mereka, dan, seperti apa yang Ia nyatakan melalui Yeremia, agar mereka memahami dan mengenal Dia, bahwa  Dialah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi.

lawson

Paulus mengerti benar kelemahan dan penderitaan yang demikian. Ia berkata, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri (2 Korintus  12:7). Paulus bahkan sampai mengulangi “supaya aku jangan meninggikan diri” sebanyak dua kali; ia tahu seperti apa jahatnya hatinya dan betapa mudahnya ia meninggikan diri seandainya Tuhan membiarkannya. Dan di dalam kesesakan yang diizinkan Tuhan terjadi itu, Paulus berdoa agar Tuhan mencabut pencobaan itu darinya. Namun, seperti apakah respon Tuhan? Ia berkata kepada Paulus:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9a)

Ia menegaskan kepada Paulus, pertama, bahwa kasih karunia-Nya kepada Paulus, dan kepada kita semua, adalah cukup. Ia tidak pernah kurang di dalam memberkati kita. Jika karunia-Nya nampak tidak cukup, itu karena kita enggan percaya dan dosa membuat kita terlalu malas untuk membuka mata kita dan melihat campur tangan-Nya. Kedua, Ia mengutarakan kebenaran mencengangkan yang hanya berlaku bagi orang percaya, yaitu bahwa kelemahan di dalam hidup orang Kristen tidak pernah final; justru sebaliknya, kelemahan merupakan gerbang atau permulaan untuk kuasa-Nya yang sempurna. Tanpa adanya kelemahan, tidak akan ada manifestasi kuasa Allah yang berlimpah-limpah di dalam hidup orang percaya. Kelemahan adalah bahan baku yang Tuhan pakai menjadi jalan masuk bagi kekuatan-Nya. Itulah sebabnya Paulus tidak pahit hati di dalam kelemahannya, malahan ia memberi tanggapan:

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
(2 Korintus 12:9b)

Paulus tidak sekadar menerima kelemahannya dengan tabah hati, ia bahkan bermegah atasnya. Dan perhatikan di sini bahwa Paulus berkata “supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. Itu merupakan responnya terhadap Tuhan yang berkata kepadanya, “sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Ini merupakan hal yang luar biasa. Mengapa? Sebab ternyata Pribadi yang berbicara kepada Paulus mengenai kelemahan bukanlah Bapa, maupun Roh Kudus, melainkan Tuhan Yesus Kristus. Dialah Allah yang Perkasa (Yesaya 9:5) yang juga pernah menjadi seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan (Yesaya 53:3) demi kita. Ia adalah Tuhan yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3) dan pada saat yang sama pernah turut mengalami kelemahan-kelemahan kita, bahkan dicobai dalam segala hal (Ibrani 4:15). Alangkah luarbiasanya Dia.

Ia pernah menjalani hidup yang penuh penderitaan. Mungkin itulah sebabnya Ia yang datang kepada Paulus. Tuhan Yesus mengerti benar seperti apa kelemahan itu sebab Ia pernah merasakannya. Bahkan, Ia mati di atas kayu salib di dalam kelemahan. Namun, di sinilah letak pentingnya. Di bukit Kalvari, Kristus menderita kelemahan yang luar biasa tetapi justru kelemahan itulah yang menjadi jalan bagi kemenangan-Nya dan juga bagi keselamatan kita. Tanpa salib Kristus, tidak ada mahkota bagi kita. Tanpa kematian Kristus, tidak ada kehidupan bagi kita. Dan jika Kristus, melalui kelemahan, menyempurnakan misi-Nya untuk keselamatan kita dan semua orang berdosa yang percaya, bukankah Ia juga dapat memakai kelemahan untuk menyempurnakan kuasa-Nya dan misi-Nya di dalam hidup kita? Tentu saja Ia dapat; bahkan Ia akan melakukannya, Ia akan mengizinkan kelemahan datang di dalam hidup kita sebab “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibrani 12:6).” Oleh sebab itu, janganlah kita mengikuti kesalahan Daud yang mengandalkan diri sendiri dan menujukan matanya kepada jumlah tentaranya tetapi…

“… marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (Ibrani 12:1-2)”

Pencobaan akan datang. Kelemahan, sudah pasti, akan datang di dalam hidup kita (Ibrani 12:7-8, 2 Timotius 3:12). Namun, biarlah kita tetap berada dalam damai sejahtera Kristus (Yohanes 14:27) sebab kita tahu, dari perkataan Tuhan Yesus sendiri, bahwa kelemahan di dalam hidup kita adalah pertanda bahwa Kristus sedang menyempurnakan manifestasi kuasa-Nya di dalam hidup kita dan menyiapkan hati kita untuk memahami dan mengenal Dia, yang adalah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi, dan yang adalah Juruselamat kita yang sejati. Haleluya.

piper

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Orang Israel yang Sejati

Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.

Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Bertanyalah orang itu kepadanya: Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”

Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”
(Kejadian 32:24-28)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MLJ (2)

Ini merupakan bagian firman Tuhan yang sangat indah di mana untuk pertama kalinya kita menemukan nama “Israel”. Setelah momen pertama ini, nama Israel masih akan disebut sebanyak 2346 kali lagi di dalam Alkitab.

Siapakah orang Israel itu sebenarnya? Ada banyak sudut pandang yang dapat memberi jawaban tentang siapa orang Israel. Ada yang akan menjawab bahwa orang Israel adalah warga Negara Israel saat ini. Ada yang akan menjawab bahwa orang Israel adalah mereka yang memiliki hubungan darah dengan Yakub yang diberi nama Israel oleh TUHAN Allah. Kedua jawaban itu benar jika ditinjau dari sudut pandangnya masing-masing. Namun, di dalam bagian firman ini, Allah memberitahu kita tentang karakteristik orang Israel yang sejati menurut sudut pandang-Nya. Seperti apakah tanda-tanda dari seorang Israel yang sejati? Firman Tuhan mengatakan bahwa:

1) Ia adalah orang yang bergumul atau bergulat dengan Allah (Kejadian 32:24). Ia berdoa kepada Allah dan Allah berbicara kepada-Nya.

2) Seperti Yakub, ia bergulat dengan-Nya “sampai fajar menyingsing” (Kejadian 32:24). Ia berdoa kepada Allah dengan tidak putus-putusnya. (1 Tesalonika 5:17)

3) Ia rendah hati dan bergantung total kepada Allah. Ia tahu bahwa ia membutuhkan-Nya. Bersama-sama dengan Yakub, ia senantiasa memohon kepada Allah hari demi hari, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku. (Kejadian 32:26)”

4) Ia menyerahkan hak penuh kepada Allah untuk “mengubah namanya” dan memberinya suatu identitas yang baru yang sangat berbeda dengan identitasnya sebelumnya. Sama seperti ada perbedaan yang jauh antara nama Yakub dan Israel, demikian pula identitas baru dari seorang Israel yang sejati sangat berbeda dengan identitasnya sebelumnya. (Kejadian 32:28)

5) Ia menerima jaminan dari Allah sendiri bahwa ia akan menang. (Kejadian 32:28)

Perjanjian Baru membuka rahasia bahwa orang Israel yang sejati, yakni keturunan Abraham yang sebenarnya di mata Allah, adalah setiap orang yang percaya dan diselamatkan di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Dengan perkataan lain, orang Kristen adalah orang Israel yang sejati. Merekalah keturunan Abraham, bukan di dalam daging, melainkan di dalam iman (Galatia 3:7). Sunat mereka bukanlah sunat lahiriah, melainkan sunat hati (Roma 2:28-29). Hukum Taurat mereka tidak ditulis di atas loh batu melainkan loh akal budi dan hati mereka (Yeremia 31:33, Ibrani 8:10, Ibrani 10:16). Bait Allah mereka bukanlah sebuah gedung seperti yang dikenal oleh orang Israel di zaman Alkitab, melainkan jemaat, gereja, atau tubuh Kristus, yang tidak lain adalah kumpulan orang-orang yang percaya dan diselamatkan di dalam Tuhan Yesus Kristus (2 Korintus 6:16). Air pentahiran mereka adalah Roh Kudus (Yehezkiel 36:25-27, Yohanes 3:5). Korban untuk keselamatan mereka bukanlah binatang; nabi, imam, dan raja mereka bukanlah manusia yang dapat melakukan salah, melainkan Tuhan kita, Yesus Kristus, yang adalah Satu dengan Bapa (Yohanes 10:30). Ya, orang Kristen yang sejati, merekalah orang Israel yang sejati.

Kini, pertanyaannya:
“Apakah tanda-tanda Israel yang sejati itu ditemukan di dalam hati dan hidup kita?”

Apakah kita berdoa dan bergumul dengan Allah? Apakah doa dan pergulatan kita dengan-Nya itu berlangsung terus menerus, hari demi hari, atau hanya sesaat saja? Apakah kita sungguh-sungguh mengaku bahwa kita membutuhkan-Nya? Apakah kita, seperti seorang pengemis, benar-benar desperate dan helpless tanpa-Nya? Pernah kita berseru kepada-Nya di dalam kerendahan hati dan ketulusan, “Jangan tinggalkan aku ya TUHAN!” atau “Aku tidak akan membiarkan Engkau pergi dariku!”? Sudahkah kita memberi kebebasan penuh kepada-Nya untuk mengganti nama, identitas, dan natur kita? Sudahkah kita berani menunjukkan kepada dunia “nama” baru kita itu atau kita hanya menyembunyikannya sebab kita malu dan takut orang-orang mengetahuinya? Sudahkah kita menerima, mengamini, bersandar, dan bersyukur akan jaminan kemenangan yang Ia janjikan?

Itulah karakteristik dari orang Israel yang sejati. Itulah tanda-tanda dari umat Allah. Pengemis yang beroleh kemuliaan di hadapan Allah, mereka  itulah umat yang dipimpin dan digembalakan oleh Raja dan Gembala Israel yang sejati, yaitu Tuhan kita, Yesus Kristus.

MacArthur

Biarlah kidung ini senantiasa menjadi seruan dari hati kita yang terdalam:

Ya Tuhan, tiap jam ‘ku memerlukanMu,
Engkaulah yang memb’ri sejahtera penuh.

 Ya Tuhan, tiap jam dampingi hambaMu;
jikalau Kau dekat, enyah penggodaku.

Ya Tuhan, tiap jam, di suka-dukaku,
jikalau Tuhan jauh, percuma hidupku.

Ya Tuhan, tiap jam ajarkan maksudMu;
b’ri janjiMu genap di dalam hidupku.

Ya Tuhan, tiap jam kupuji namaMu;
Tuhanku yang kudus, kekal ‘ku milikMu!

 Reff:

Setiap jam, ya Tuhan, Dikau kuperlukan;
‘ku datang, Jurus’lamat, berkatilah!

Pada akhirnya, kita semua, orang-orang percaya, akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan apa yang Luther ucapkan sebelum Tuhan Yesus menjemputnya pulang ke rumah-Nya untuk selamanya:

Luthers

Semoga Tuhan kita Yesus Kristus senantiasa menguatkan dan menyadarkan kita sembari Ia menggembalakan kita untuk sampai kepada pengakuan iman ini.

Terpujilah nama-Nya senantiasa.
Amin

My Two Masters

Ayat - Filipi

I have two Masters.
One is my LORD and Savior, Jesus Christ, and the other is my Pride.

I love my LORD and Savior, Jesus Christ. He is so special in the fact that, though He is God, He became a man for His people. And while He was on this earth, He was called Man of Sorrows (Isaiah 53:3) and even The Friend of Sinners (Matthew 11:19). “Man of Sorrows”, “Friend of Sinners”, what a name.

And He is so dear to me. He died so that I might have life. Though He was rich, yet for my sake He became poor, so that I through His poverty might become rich (2 Corinthians 8:9). And though He knew no sin, He became sin for me so that in Him I might become the righteousness of God (2 Corinthians 5:21). O what a Friend I have in Jesus. He is my Sleepless Guardian, my Generous Doctor, my Wise Teacher, my Watchful Shepherd, my Constant Intercessor, my Humble King, my Faithful Friend, my Everlasting Father, my Light of the world, my Great Redeemer, my Eternal Life, the Author and Finisher of my faith, my Gracious God, my all in all. O, that heavenly song of Christ Jesus, written by Charles Wesley, is indeed so true.

Jesus, my all in all Thou art,
My rest in toil, my ease in pain,
The healing of my broken heart,
In war my peace, in loss my gain,
My smile beneath the tyrant’s frown,
In shame my glory and my crown.

In want my plentiful supply,
In weakness my almighty power,
In bonds my perfect liberty,
My light in Satan’s darkest hour,
In grief my joy unspeakable,
My life in death, my Heaven in hell.

(Hymn: Thou Hidden Source of Calm Repose, by Charles Wesley)

On the other hand, my Pride is such a bad and cruel master. He always thinks only about himself, me. I dislike him. I hate him. I do not want to serve him. I want him to be gone forever from me. But, he never wants to go. O wretched man that i am, he is far stronger than my will and my intellect. Thus, i still find myself serving him daily. I hate myself for doing that. How pity I am.

But, thanks be to my LORD and Savior, for He is a Jealous God. He doesn’t want to share the throne of my heart with my Pride. He wants to be the solo Ruler of my life and my soul. He has a very strong reason to be jealous. He has bought me with a price, with His precious blood, with His life. Yeah, He deserves that position in my heart. No one in this earth, not even myself, deserves it. Only He deserves it. And you know, He is also a Lion. So He chases my Pride day after day. He wants to destroy all of him: pride of my greatness, pride of my achievements, pride of my intellectual, pride of my strength, pride of my wealth, pride of my planning and strategy for the future, pride of my talents, pride of my own security, pride of my ministry, pride of my piety. He wants to drive them all out of my heart.

Sibbes

And you know what? My Pride doesn’t stand chance against my Lord and Savior, Jesus Christ.  He is infinitely greater than David, stronger than Samson, wiser than Solomon, and smarter than Satan. My Pride doesn’t stand a single chance against the way He moves. He is mighty to save. He is mighty to break the pride. He is mighty to humble me.

My LORD determines to get rid of all of my Pride, though it means that He has to break my heart continually. I tell you what, it is hard each time He does that. It hurts me a lot anytime He reveals my sin. It embarrasses me every single time He shows to me my arrogance, my weaknesses, my impatience, my prejudices, my ambitions, my foolishness, my self-righteousness, my fears, and my lack of love, faith, and self-control. But that’s the only way to make me humble and to help me denying myself.

O it is hard. It is very hard. But at the same time, it is sweet. It is very sweet because through all of this breaking, He increases my love for Him, deepens my understanding of His way, His plan, and His power, strengthens my assurance of His love and care for me, and shapes me to be more Christ-like so that I might be a blessing for others and a faithful servant of His.

What Dr. Tim Keller said was true. Many times, Jesus’s ways of loving me are inconvenient and even heart breaking. But, I am convinced of this: that though His love is inconvenient, it is indeed life-changing. No doubt about it.

Keller

Through all of it, He also makes me understand that, like Audrey Assad‘s beautiful song, “The Way You Move”, the hardest part and the purest way of loving Christ is not “to give” but “to give up”. To give Him something that I have is quite an easy task. But, to give up to Him, or to let Him break my heart and my pride every day, it is super-hard and yet super-sweet. It is true love. O, that I may know Him… (Phillipians 3:10)

Then Jesus said to His disciples,
“If anyone desires to come after Me, let him deny himself, and take up his cross, and follow Me. For whoever desires to save his life (his own pride, greatness, life style, safety, treasure, plans, dreams, popularity, etc.) will lose it, but whoever loses his life for My sake will find it.” (Matthew 16:24-25)

Amen
Hallelujah

Kelemahan dan Kelebihan

Newton (2)
Tuhan memberi kita kelemahan bukan supaya kita kecil hati
melainkan supaya kita rendah hati.

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku,
supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.
(Mazmur 119:71)

Tuhan memberi kita kelebihan bukan supaya kita tinggi hati
melainkan supaya kita berbesar hati.

Karena itu seperti ada tertulis:
“Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
(1 Korintus 1:31)

Orang yang berfokus pada dirinya sendiri hanya akan terjerumus ke dalam salah satu dari dua jurang ini, yaitu kecil hati atau tinggi hati. Keduanya berawal dari dosa semata-mata dan berujung pada kehancuran. Tetapi orang yang berfokus pada Allah akan beroleh dua berkat ini, yaitu kerendahan hati dan kelapangan hati di dalam Kristus. Keduanya berawal dari anugerah Allah semata-mata dan berujung pada kemuliaan.

Tozer (2)

Sombong

Setelah sekian tahun hidup di bumi ini, aku sampai kepada satu kesimpulan:
“Aku paling malas dan kesal melihat orang-orang yang sombong.”

Tetapi dari kesimpulan itu, aku beranjak ke suatu pertanyaan:
“Jika aku, orang yang tidak sempurna ini, bisa sebegitu kesalnya melihat orang-orang sombong, bagaimana dengan Allah, yang adalah sempurna dan Pencipta segala sesuatu, melihat mereka? Bagaimana Allah melihat aku yang sombong ini?”

Aku tahu seperti apa merasa muak melihat kesombongan.
Dan aku tidak mau Tuhan memiliki perasaan yang sama ketika Dia mendapatiku tidak rendah hati.

Oh, sungguh benar apa kata seorang bijak:

Calvin 2
Sebelum kita benar-benar mengenal siapa diri kita…
Sebelum kita sadar betapa hancurnya kita…
Sebelum kita tahu betapa jahat dan najisnya kita…
Sebelum kita mengakui bahwa kita tidak punya tujuan hidup…

Sebelum mata rohani kita terbuka dan kita melihat bahwa kita telanjang, luka dan borok di sekujur tubuh kita, lumpur dan kotoran melumuri wajah kita, dan makanan babi tertinggal di mulut kita…

Kita akan menetap dalam kesombongan, dalam keangkuhan.
Kita tidak akan pernah mengenal Allah dalam keadaan seperti itu.

Dan begitu pula sebaliknya
Sebelum kita benar-benar mengenal Allah…
Sebelum kita membayangkan suatu saat nanti Ia PASTI akan mengadili kita, PASTI
Sebelum kita menyadari bahwa Ia adalah Juruselamat yang mengampuni…

Sebelum mata rohani kita terbuka dan kita melihat Anak Allah tergantung di atas kayu salib, luka di sekujur tubuh-Nya, mahkota duri di kepala-Nya, telanjang, lemah, lelah, kehausan…

Kita akan menetap dalam kesombongan, dalam keangkuhan.
Kita tidak akan pernah mengenal diri kita dalam keadaan seperti itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lihatlah salib!
Dan kau akan kenal siapa dirimu
Saking jahat dan hinanya engkau, tidak ada jalan keluar lain untuk keselamatanmu
Selain dengan pengorbanan dan kematian Sang Anak Allah

Lihatlah salib!
Dan kau akan kenal siapa Allah
Karena begitu besar kasih-Nya bagi orang-orang berdosa,
Ia memilih untuk mengekspresikan kasih yang terbesar,
melalui kematian Sang Anak Allah

Lihatlah salib!
Kau akan mengenal siapa engkau
Kau akan mengenal siapa Dia
Dan kau akan menjadi seperti sang pemungut cukai dalam perumpamaan Tuhan Yesus

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh,
bahkan ia tidak berani menengadah ke langit,
melainkan ia memukul diri dan berkata:
Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
(Lukas 18:13)

Lihatlah salib!
Maka kesombongan akan kau ganti menjadi kemegahan dalam tiga hal:

1. Kemegahan dalam Injil Kristus, yang akan membuatmu ditertawakan banyak orang.
2. Kemegahan dalam Salib Kristus, yang akan membuatmu menderita.
3. Kemegahan dalam Kristus, yang akan membuatmu mengalahkan dunia.

Flavel
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan
belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati
dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
(Matius 11:28-29)

Amin