Nama Abadi dan Agung Bagi-Nya

Lalu teringatlah mereka kepada zaman dahulu kala, zaman Musa, hamba-Nya itu:

Di manakah Dia yang membawa mereka naik dari laut
bersama-sama dengan penggembala kambing domba-Nya?

Di manakah Dia yang menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati mereka;
yang dengan tangan-Nya yang agung menyertai Musa di sebelah kanan;
yang membelah air di depan mereka untuk membuat nama abadi bagi-Nya;
yang menuntun mereka melintasi samudera raya seperti kuda melintasi padang gurun?

Mereka tidak pernah tersandung, seperti ternak yang turun ke dalam lembah. Roh TUHAN membawa mereka ke tempat perhentian. Demikianlah Engkau memimpin umat-Mu untuk membuat nama yang agung bagi-Mu.
(Yesaya 63:11-14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lihatlah. Yesaya bahkan menyebutnya hingga dua kali. Ia mengatakan bahwa Allah membelah air di depan bangsa Israel untuk “membuat nama abadi bagi-Nya.” Yesaya kemudian melanjutkan bahwa Allah memimpin umat-Nya untuk “membuat nama yang agung bagi-Mu.” Inilah kebenaran yang sangat penting untuk kita sadari. Alasan utama Allah menyelamatkan kita bukanlah untuk kebaikan apalagi kemuliaan kita. Alasan utama Allah menyelamatkan umat-Nya adalah untuk kemuliaan nama-Nya.

Tentu ini juga ada kaitannya dengan mengapa Tuhan kita, Yesus Kristus, mengajar setiap kita untuk berdoa dengan memulainya dengan mengutarakan, “Bapa kami yang di sorga dikuduskanlah nama-Mu.” Tidak hanya itu, jika kita menelusuri firman-Nya, kita akan menemukan bahwa nama dan kemuliaan Allah merupakan prioritas yang terbesar bagi-Nya. Ia mengatakan kepada umat-Nya, “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. (Keluaran 20:7).

Allah sangat menjaga nama-Nya. Allah tidak pernah main-main dengan nama-Nya. Dan jika itu merupakan hal yang teramat sangat penting bagi Allah kita, bukankah itu juga seharusnya menjadi kepedulian utama di dalam hidup setiap kita?

Bagaimanakah dengan kita? Apakah kemuliaan Allah lebih penting bagi kita dibanding popularitas kita di hadapan orang-orang? Apakah nama Allah lebih penting bagi kita ataukah nama baik kita sendiri? Apakah kita berusaha memuliakan nama Allah di hadapan dunia dengan tekad yang sama sebagaimana kita menjaga nama baik kita di hadapan orang-orang? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita renungkan dan jawab di dalam hidup ini.

Sproul (4)

Namun, di kala kita merenungkan hal tersebut, janganlah kita lupa untuk merenungkan firman yang Yesaya sampaikan setelah ayat di atas. Yesaya melanjutkan:

“Pandanglah dari sorga dan lihatlah dari kediaman-Mu yang kudus dan agung! Di manakah kecemburuan-Mu dan keperkasaan-Mu, hati-Mu yang tergerak dan kasih sayang-Mu? Janganlah kiranya Engkau menahan diri!

Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.” (Yesaya 63:16)

Apakah yang Tuhan mau katakan di dalam ayat ini? Ya, Allah sangat peduli dan hati-hati dengan nama-Nya. Dan tahukah engkau, nama Allah adalah “Penebus kami” sejak dahulu kala. Lihatlah Allah kita. Bahkan ketika Ia sangat memikirkan nama-Nya yang agung dan kudus itu, Ia tetap memikirkan kita, umat-Nya. Allah kita tidak sama dengan para penguasa dunia ini yang hanya peduli dengan nama baiknya sendiri. Ia tidak membuat nama bagi diri-Nya seorang diri. Nama-Nya adalah “Penebus kami”. Lihatlah, di dalam nama-Nya, ada kita. Bukankah itu hal yang sangat istimewa?

Tetapi kita tidak hanya ada di dalam nama-Nya. Dengarlah firman-Nya berkata:

Yesaya 49 16

“Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku;
tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”
(Yesaya 49:16)

Dan kita tahu bagaimana Ia menggenapi firman dan janji-Nya itu. Ia melukiskan kita di telapak tangan-Nya dengan paku yang menembus kedua tangan-Nya ketika Ia disalib di Bukit Kalvari untuk menanggung dan menebus dosa-dosa kita.

Bagaimana mungkin tangan yang selalu menyembuhkan itu bisa dilukai?
Bagaimana mungkin tangan yang Maha Kuasa itu bisa diam tak berdaya?
Bagaimana mungkin tangan yang membelah Laut Teberau itu bisa dipaku di kayu salib?

Oh, itulah tangan dari Sang Juruselamat yang padanya terlukis kita semua. Sungguh, di dalam nama-Nya, ada kita. Di kedua telapak tangan-Nya, terlukis kita. Di ruang mata-Nya, ada tembok-tembok kita. Kita ada di dalam benak-Nya. Kita ada di dalam hati-Nya.

Siapakah Dia?
Ia adalah Yesus dan nama Yesus berarti Juruselamat (Matius 1:21).

Ia adalah “Penebus kita” sejak dahulu kala.
Itulah nama abadi bagi-Nya. Itulah nama agung bagi-Nya.

Lewis

Haleluya.
Terpujilah nama-Nya senantiasa.

Amin

4. Dipuaskan-Nya Jiwa yang Lapar dan Dahaga

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya,
karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,
sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga,
dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.
(Mazmur 107:8-9)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lewis (2)

Setiap orang yang hidup di dalam dosa, adalah orang-orang yang jiwanya dahaga dan lapar. Mereka mungkin tidak mengakuinya, mereka mungkin tidak menyadarinya, tetapi itulah kebenaran mengenai setiap orang yang hidupnya jauh dari Allah. Tidak ada kepuasan yang sejati di dalam hidup mereka, yang ada hanyalah sensasi nikmat sejenak, yang dipicu oleh hiburan dan kenikmatan dunia, yang akan segera berubah menjadi kebosanan, kehampaan, bahkan kehancuran dan penyesalan. Tidak ada sukacita di dalam jiwa mereka, yang ada hanyalah kegembiraan yang bergantung pada keadaan dan yang, seperti uap, akan segera sirna oleh hembusan angin dan panas terik kehidupan. Tidak ada kasih yang sejati dan ilahi di dalam hati mereka, yang ada adalah hawa nafsu, cinta akan diri sendiri, dan kebenaran diri sendiri (self-righteousness). Itulah yang membuat jiwa mereka dahaga. Itulah yang membuat jiwa mereka lapar.

Martyn Lloyd Jones dengan keyakinan yang sangat teguh mengatakan demikian:

MLJ 2

Ya. Manusia lebih besar dari harta. Manusia lebih besar dari tahta. Manusia lebih besar dari cinta yang buta. Manusia lebih besar dari cita-citanya. Manusia lebih besar dari negaranya. Manusia lebih besar dari rokok, alkohol, narkoba, komik, dan drama. Manusia lebih besar dari popularitas, persahabatan, percintaan, dan seks. Manusia bahkan lebih besar dari dunia ini. Semua itu akan binasa tetapi, oh, jiwa manusia itu kekal adanya. Apa yang tidak kekal tidak dapat memenuhkan yang kekal. Semua itu tidak dapat memuaskan manusia. Allah telah menciptakan di dalam hati manusia rongga yang seperti Dia. Dan satu-satunya yang dapat memenuhi rongga itu adalah Ia sendiri. Ya, Allah menciptakan manusia untuk Allah dan Allah untuk manusia.

Manusia butuh kepuasan
Manusia butuh sukacita
Manusia butuh kasih
Manusia butuh hidup
Mereka butuh Allah

Itulah sebabnya ketika Allah hadir, sebagaimana firman di dalam Mazmur 107, Ia tidak hanya melepaskan umat-Nya dari kecemasan mereka dan membawa mereka ke jalan yang lurus. Ketika Allah datang untuk menolong umat-Nya, Ia pasti akan memuaskan jiwa mereka yang dahaga. Ketika Allah datang untuk menyelamatkan umat-Nya, Ia pasti mengenyangkan jiwa mereka yang lapar dengan kebaikan. Itulah yang telah Ia lakukan. Itulah yang sedang Ia lakukan. Itulah yang akan Ia lakukan. Inilah yang menjadi kesaksian dari hamba-hamba Allah di seluruh bagian Alkitab. Dengarlah kesaksian mereka:

Daud mengatakan:
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan,
sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.
(Mazmur 103:5)

Yesaya membawa pesan-Nya:
TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. (Yesaya 58:11)

Yeremia pun bersaksi:
Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan,
dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
(Yeremia 31:14)

Maria, bunda Tuhan kita, bernyanyi:
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.
(Lukas 1:53)

Dan yang paling kusukai, adalah apa yang Daud katakan:

Ayat - Mazmur 4 8

Ya, Allah menaruh sukacita di hati anak-anak-Nya lebih banyak bahkan dibanding kesenangan yang dirasakan oleh orang-orang dunia di hari mereka kelimpahan “gandum” dan “anggur”. Orang-orang yang tidak mengenal Allah mungkin berlimpah dengan gandum. Makanan mereka cukup, uang mereka cukup, pekerjaan mereka baik, dan lain sebagainya. Mereka juga mungkin kelimpahan dengan anggur. Mereka menyukakan hati mereka dengan kenikamatan-kenikmatan dunia. Mereka merokok, mengonsumsi obat-obatan terlarang, berfoya-foya, pergi ke sana kemari, menonton film-film penuh dosa, seks di luar nikah, dan apapun yang mendatangkan kesenangan bagi kedagingan manusia. Mereka bisa saja berlimpah dengan semua itu. Mereka mungkin saja merasakan kesenangan dari semua itu. Namun, semua itu tidak hanya sementara dan akan segera berubah menjadi kehampaan, kebosanan, dan kehancuran. Semua itu, bahkan dalam keadaannya yang berlimpah-limpah, tidak dapat mendatangkan kepuasan, kedamaian, dan sukacita sebesar yang Allah taruh di dalam hati umat-Nya. Itulah yang Daud serukan. Itulah yang seluruh umat Tuhan rasakan di zaman Alkitab.

Tetapi kesaksian tentang kebaikan-Nya tidak selesai sampai di zaman Alkitab saja. Kasih setia-Nya Ia lanjutkan hingga saat ini bagi umat-Nya. Kita bisa melihatnya dari kesaksian orang-orang kudus di sepanjang sejarah gereja:

Handel, salah seorang komposer terbesar sepanjang masa yang menggubah karya agung “Messiah” berkata:

Handel

Blaise Pascal, ilmuwan saleh yang ternama, berkata:
There is a God-shaped vacuum in the heart of every man, and only God can fill it.

David Brainerd, penginjil New England ke orang-orang Indian berkata:
God was so precious to my soul that the world with all its enjoyments appeared vile.
I had no more value for the favor of men than for pebbles.

Charles Spurgeon, Prince of Preachers, dengan yakin mengatakan:

Spurgeon (4)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Mazmur 42 1

Ya, demikianlah kasih setia Allah. Ia memuaskan hasrat umat-Nya dengan kebaikan. Ia mengenyangkan jiwa mereka dengan kebajikan. Ia menaruh sukacita-Nya ke dalam hati mereka. Namun, itu semua belumlah keseluruhan dari pemberian Allah kepada umat-Nya. Di atas segala kebaikan, kebajikan, dan sukacita yang Ia anugerahkan, Allah masih memiliki Satu pemberian yang terakhir, yang terbaik, dan yang terutama untuk orang-orang yang Ia selamatkan.  Kau mungkin bertanya di dalam hatimu, “Apakah pemberian itu?” tetapi itu bukanlah pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang benar adalah ini: Siapakah pemberian itu?

Dan Yesaya memberikan jawaban-Nya kepada kita:

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita;
lambang pemerintahan ada di atas bahunya,
dan namanya disebutkan orang:
Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
(Yesaya 9:5)

Seorang Putera, ya, seorang Putera. Bukan sekadar kebaikan, kebajikan, atau sukacita di hati, melainkan seorang Putera, Dialah pemberian yang terbaik yang dianugerahkan Allah kepada kita. Ia adalah seorang Putera tetapi Ia bukanlah Pribadi sembarangan. Ia adalah Penasehat Ajaib. Ia adalah Raja Damai. Ia adalah Bapa yang Kekal atau Bapa dari kekekalan. Ia adalah Allah yang perkasa. Siapakah gerangan? Jika kita masih samar-samar mengenal-Nya, Yohanes memberikan kita lebih jauh tentang Dia.

Ayat - Yohanes 3 16

Siapakah Dia? Ya, Dia adalah Sang Anak Allah. Tidakkah itu luar biasa? Tidak ada satu ayahpun yang dengan rela hati memberikan anaknya kepada orang-orang jahat. Namun, Allah sangatlah berbeda dengan manusia. Ia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal, yang tentang-Nya Ia berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan,” bagi dunia yang penuh dengan orang-orang berdosa ini, yang di dalamnya termasuk aku dan engkau. Mengapa Ia mau memberikan Putera-Nya kepada dunia ini? Hanya satu jawabannya, yakni karena kasih, atau yang lebih tepat lagi, karena kasih-Nya yang begitu besar akan dunia ini.

Apa?
Allah begitu mengasihi dunia ini?
Ya, Ia sangat mengasihi dunia ini.

Bukankah Ia murka terhadap dunia yang penuh dosa ini?
Ya, Ia selalu murka dengan dunia ini.
Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, tak pernah sedetikpun Allah tidak murka dengan dunia ini.

Namun, kenyataan bahwa Allah murka, bahkan sangat murka,
tidak berarti bahwa Ia tidak sabar
tidak berarti bahwa Ia tidak berbelaskasihan
tidak berarti bahwa Ia lupa akan kasih sayang
tidak berarti bahwa Ia tidak mengasihi dengan kasih yang kekal

Tidak
Sekalipun Allah murka, di dalam itupun Ia mengasihi dunia ini dengan kasih yang amat besar.
Sekalipun Allah murka, Ia memberikan Putera yang Ia kasihi untuk dunia ini.

Demikianlah besarnya kasih Allah kepada dunia ini. Ia mengaruniakan Anak-Nya untuk menyelamatkan dunia yang penuh dengan dosa ini. Ia memberikan Putera-Nya untuk melepaskan umat-Nya dari kecemasan mereka, menuntun mereka di jalan yang benar menuju “kota tempat kediaman orang”, dan untuk memuaskan jiwa mereka. Tetapi bukan Allah saja yang pribadi yang berinisiatif di sini, Sang Anak juga dengan kasih yang kekal dan yang sempurna mau memberikan diri-Nya bagi orang-orang berdosa. Dan di dalam kasih-Nya yang begitu besar, Sang Anak, yang adalah Tuhan kita Yesus Kristus, berkata kepada dunia ini:

Ayat - Yohanes 6 35

Ia juga berkata:

Ayat - Matius 11 28

Ini dia
Inilah jawabannya
Inilah yang manusia butuhkan
Inilah yang jiwaku cari dan rindukan
semoga inilah yang juga jiwamu cari dan rindukan

Pemazmur berkata, “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Orang-orang bertanya, “Ya TUHAN, dengan apakah Engkau akan memuaskan dahaga jiwa kami, dengan apakah Engkau hendak mengenyangkan jiwa kami yang lapar?” Dan di dalam kasih Tuhan kita, Yesus Kristus, menjawab: “Akulah yang akan memuaskan jiwamu yang haus. Aku, ya Aku, yang akan mengenyangkan jiwamu yang lapar.”

Dan juga, ingatlah kisah pertemuan Tuhan kita dengan perempuan Samaria. Wanita itu, seperti yang dicatat di dalam firman Tuhan, adalah seorang wanita yang pernah menikah dengan lima orang pria dan kini ia sedang tinggal satu atap dengan pria yang bukan suaminya. Ia adalah wanita yang haus akan kasih sayang, sangat haus akan relasi yang penuh kasih. Ia ingin diterima. Ia ingin diperhatikan. Ia butuh  dilindungi. Ia lapar akan sukacita dan kedamaian. Dan ia telah menghabiskan banyak waktu, terlalu banyak waktu, di dalam hidupnya untuk mencari tahu arti hidupnya berdasakan pada pasangan hidupnya.

Tetapi, apakah ia menemukan apa yang jiwanya cari-cari itu? Apakah ia beroleh kepuasan? Apakah ia mengerti arti dan tujuan hidupnya? Apakah ia benar-benar merasakan kelegaan dan sukacita? Tidak jika ia mencarinya dari apa yang dunia ini tawarkan. Lihatlah, ia telah menjalin hubungan kasih dengan banyak pria, ia bahkan hidup di dalam dosa karena ia tinggal dengan pria yang bukan suaminya, tapi belum juga ia menemukan apa yang jiwanya itu rindukan. Ia menghancurkan dirinya sendiri. Ia persis dengan apa yang sang Pemazmur katakan, “Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.”

Hingga akhirnya, Ia bertemu dengan Tuhan Yesus. Dan apakah yang Tuhan kita katakan? Inilah yang Ia katakan:

Ayat - Yohanes 4 13-14

Tidakkah janji-Nya teramat sangat indah? Oh, tidak ada satupun pribadi seperti Dia. Adakah dunia ini dapat memberikan apa yang Ia janjikan? Adakah manusia dapat mengatakan apa yang Ia katakan? Lihatlah dunia ini! Lihatlah para filsuf, para motivator, para pemikir, para penguasa dunia ini! Mereka mungkin memiliki kekuatan, kekayaan, kecerdasan, dan pengetahuan yang luar biasa. Namun, adakah di antara mereka yang bisa berkata seperti Tuhan kita?

Adakah orang yang bisa mengatakan:
Aku adalah Roti Hidup yang bila kau makan kau tidak akan pernah lapar lagi dengan makanan-makanan kotor yang dunia ini tawarkan…?

Adakah orang yang berani untuk berkata:
Marilah datang kepada-Ku siapa saja yang sedang sedih, kecewa, hancur hati, putus asa, letih,
lesu, berbeban berat, bahkan ingin bunuh diri. Apapun masalahmu, Aku dapat memberikan kelegaan kepadamu…?

Adakah orang yang cukup waras untuk mengatakan:
Barangsiapa memberi minum jiwanya dengan sukacita yang datang dari harta, tahta, popularitas, cinta, seks, prestasi, makanan, hiburan, atau bahkan dari seisi alam semesta ini…

Ia akan haus lagi…

Tapi Aku, ya Aku, dapat memberikanmu air yang jika kau meminumnya kau tidak akan pernah haus lagi untuk selama-lamanya.

Tidak, tidak seorangpun. Tak satupun orang yang pernah ada, yang ada, dan yang akan ada di dunia ini yang dapat berbicara dengan otoritas dan kuasa seperti Dia. Bahkan pria sesaleh Ayub, nabi sebesar Musa, hakim sepekerkasa Simson, raja sekuat Daud dan sepandai Salomo, tidak akan berani mengatakannya sebab mereka memang tidak mampu. Hanyalah Dia, yakni Kristus Yesus, Sang Anak Allah, Tuhan kita, yang bisa mengatakannya dan melaksanakan apa yang Ia katakan itu. Bukankah Ia luar biasa? Oh, Ia sungguh luar biasa.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-temanku yang terkasih…

Apakah kau adalah orang yang digambarkan oleh Pemazmur?
Apakah kau sedang mengembara di padang belantara hatimu?
Apakah kau masih mencari-cari “kota tempat kediaman orang” itu?

Apakah batinmu lapar dan haus?
Apakah jiwamu lemah dan lesu di dalam dirimu?

Jika “ya” adalah jawabanmu, maka izinkanlah aku memetik perkataan Martyn Lloyd Jones, seorang hamba Tuhan yang dipakai Allah secara luar biasa di abad ke-20. Ia berkata:

MLJ 2

Apa yang Lloyd Jones katakan adalah benar. Akar dari segala kekeringan dan kehampaan di dalam hati setiap manusia adalah karena ia terpisah dari Allah. Dan apakah penyebab yang menjadikan manusia terpisah dari Allah? Hanya satu jawabannya, yaitu dosa. Dosa adalah akar dari segala masalah manusia. Dosa adalah kanker yang menggerogoti jiwa manusia. Dosalah yang menyesatkan orang-orang dan menelantarkan mereka di padang belantara. Dosalah yang merayu orang-orang dengan kenikmatan yang semu kemudian menjerat mereka di dalam hidup yang tidak akan pernah menemukan kepuasan dan kebahagiaan yang sejati. Dosalah yang memisahkan manusia dengan Allahnya. Dosalah yang membuat manusia mati.

Itulah akibat dosa di dalam hidup manusia. Bukankah itu sungguh mengerikan? Oh, itu sangatlah mengerikan. Tetapi, ada yang jauh lebih mengerikan dari pada semua itu. Apakah itu? Inilah Dia:

Allah sangat membenci dosa
Allah tidak akan pernah dapat bersatu dengan dosa
Dan Allah tidak pernah berubah

Ya, Allah tidak pernah berubah. Sama seperti Ia begitu membenci dosa di zaman dahulu sehingga Ia mengutuk seisi dunia yang awalnya Ia ciptakan dengan sungguh amat baik, mengusir Adam dan Hawa dari taman Eden, menenggelamkan seisi bumi dengan air bah di zaman Nuh, dan membinasakan Sodom dan Gomora dengan sekejap oleh hujan api, demikianlah Ia begitu membenci dosa saat ini dan untuk seterusnya hingga akhirnya Ia melemparkan dosa dan para pendosa ke dalam lautan api untuk selama-lamanya. Dan apabila Ia sangat membenci dosa, dan dosa itu tinggal di dalam hati manusia, dan yang lebih buruk lagi, dosa itu dihasilkan oleh hati manusia yang bobrok, lalu bagaimana manusia dapat datang kepada-Nya? Bagaimana manusia yang adalah pabrik dosa dapat menjalin relasi dengan-Nya?

Dan hanya satu jawaban untuk pertanyaan itu:
Manusia yang berdosa tidak akan pernah dapat datang kepada-Nya.
Manusia yang berdosa tidak akan pernah dapat menjalin relasi dengan-Nya.

Sebab Ia begitu membenci dosa.
Dan yang lebih mengerikan dari itu, Ia begitu murka terhadap para pendosa.

Daud berkata, “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. (Mazmur 24:3). Adakah manusia yang tangannya bersih sepenuhnya? Adakah manusia yang murni hatinya dan tidak pernah bernoda sedikitpun? Bukankah manusia menyerahkan dirinya untuk dibujuk, dibodohi, dan ditipu oleh iblis dan oleh dunia? Bukankah manusia sering sekali melanggar apa yang ia sumpahkan kepada Allah? Jika demikian jawabannya, maka bagaimana mungkin manusia berpikir bahwa ia dapat datang kepada Allah?

Oh, mustahil manusia yang berdosa dapat menghampiri-Nya di altar-Nya yang kudus. Itulah kabar terburuk yang seharusnya dimengerti oleh setiap manusia. Itulah masalah paling besar bagi seluruh manusia. Bukan tentang bagaimana mendapatkan IP yang baik, bukan tentang bagaimana menjadi kaya raya, bukan tentang bagaimana menjadi berkuasa, bukan tentang bagaimana disukai oleh banyak orang, melainkan tentang bagaimana manusia dapat bertemu dengan Allah dan kedapatan benar di hadapan-Nya. Itulah masalah utama umat manusia.

Lalu, jika demikian, apakah itu berarti bahwa semua manusia akan binasa? Oh, terpujilah Allah kita, sebab sekalipun Ia murka, Ia ingat akan kasih sayang (Habakuk 3:2). Walaupun Ia begitu benci dengan dosa dan Ia tidak pernah berubah, Ia mengasihi dengan kasih yang kekal (Yeremia 31:3) dan Ia tidak pernah berubah. Sekalipun Ia hendak membinasakan orang-orang yang berdosa, Ia adalah kasih (1 Yohanes 4:8) dan Ia tidak pernah berubah.

Dan sekalipun mustahil manusia dapat datang kepada Allah, dari sejak kekekalan Allah telah berencana untuk datang kepada manusia. Allah tahu bahwa dengan kekuatannya sendiri manusia tidak akan pernah dapat datang kepada-Nya. Oleh sebab itu, di dalam segala kasih dan kerendahan hati, Ia sendiri yang terlebih dahulu memberi diri-Nya untuk datang kepada manusia. Ia mengutus para malaikat-Nya, nabi-Nya, imam-Nya, raja-Nya, dan orang-orang saleh-Nya untuk memperkenalkan siapa Dia, untuk memberitakan hukum-Nya yang teguh dan kasih-Nya yang besar, untuk menyerukan mereka untuk berbalik kepada kasih sayang Allah tetapi mereka tetap saja menolak-Nya. Mereka menolak para hamba-Nya, menghina mereka, bahkan beberapa di antaranya mereka bunuh.

Tidakkah Allah marah melihat sikap umat manusia terhadap niat baik-Nya itu? Tentu saja, Ia sangat marah. Tetapi, apakah Ia berhenti? Oh, terpujilah Dia. Sekalipun manusia selalu menyakiti hati-Nya, Ia panjang sabar. Ia belum selesai dengan manusia. Dan seperti kata penulis Kitab Ibrani:

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali
dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya,
yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.
(Ibrani 1:1-2)

Ya, di zaman akhir ini, Allah datang kepada manusia melalui Putera-Nya yang Ia kasihi, yakni Tuhan kita Yesus Kristus. Dia adalah “pesan terakhir” Allah kepada manusia. Jika umat manusia di zaman akhir ini hendak mengenal Allah, maka mereka harus mengenal-Nya melalui Putera-Nya. Hanya itu jalan yang tersisa. Tetapi tidak sampai di situ, firman Allah juga berkata:

Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar
—  tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati  — .

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita,
oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
(Roma 5:7-8)

Ya, masalah utama bagi manusia adalah dosa di dalam dirinya membuatnya terpisah dari Allah dan terkutuk oleh-Nya. Masalah utama bagi Allah adalah keadilan-Nya yang sempurna membuat-Nya tidak dapat begitu saja mengampuni manusia yang berdosa dan melupakan dosa-dosa mereka. Hukum-Nya harus ditegakkan. Pengampunan-Nya membutuhkan syarat. Keadilan-Nya butuh dipuaskan. Tetapi di saat yang sama, kasih-Nya yang tiada tara harus dinyatakan demi kemuliaan nama-Nya. Dan bagaimanakah Allah menyelesaikan dilema ini? Bagaimanakah Allah di saat yang sama menunaikan keadilan dan kasih setia-Nya? Hanya satu jawabannya dan itu adalah di dalam Kristus Yesus.

Ayat - 2 Korintus 5 19-21

Ia yang tidak mengenal dosa, telah dijadikan-Nya dosa karena kita,
supaya di dalam Dia, kita dibenarkan oleh Allah.

Ia yang kaya rela menjadi miskin karena kita
supaya oleh kemiskinan-Nya, kita beroleh harta yang kekal di sorga.

Ia yang adalah Mata Air Kehidupan, mau kehausan di atas salib demi kita,
supaya oleh dahaga-Nya, kita tidak lagi haus akan air sumur dunia ini.

Ia yang adalah Kebenaran dan Penasehat Ajaib, bersedia didakwa oleh orang-orang berdosa karena kita, supaya oleh semua itu, iblis tidak punya lagi hak untuk mendakwa kita.

Ia yang adalah Allah yang perkasa, rela keletihan memikul salib demi kita,
supaya dengan letih dan lesunya Dia di Golgota, Ia menganugerahkan sumber kekuatan-Nya kepada kita, yang adalah Roh Kudus.

Ia yang adalah Raja Damai, di taman Getsemani bersusah hati dan berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.”
Semua itu karena kita, supaya oleh hati-Nya yang remuk, hati kita dibangkitkan.

Ia yang adalah Anak Tunggal Bapa, di atas kayu salib berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan-Ku.”
Semua itu demi kita, supaya dengan ditinggalkannya Dia oleh Bapa untuk seketika waktu lamanya, selama-lamanya Allah tidak akan pernah meninggalkan kita.

Ia yang adalah Hidup, rela mati di atas kayu salib bagi kita,
supaya oleh kematian-Nya, kita beroleh hidup yang kekal.

Di atas salib Kristus, keadilan Allah dipuaskan dan kasih setia Allah dipermuliakan. Di dalam Kristus, Allah mendamaikan orang-orang berdosa dengan diri-Nya. Rasul Paulus berkata, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. (Roma 8:1). Ya, di dalam Kristus, Allah tidak lagi melihat adanya dosa dan pelanggaran pada umat-Nya. Allah melupakan semua dosa mereka. Sejauh timur dari barat demikianlah Ia melemparkan dosa-dosa mereka dari hadapan-Nya. Ia memperlakukan mereka seolah-olah mereka tidak pernah melakukan dosa sedikitpun. Ya, tidak ada lagi penghukuman bagi mereka. Di dalam Kristus, Allah hanya melihat kebenaran dan kekudusan pada mereka. Di dalam Kristus, Allah bertemu kembali dengan manusia. Di dalam Kristus, Allah bersatu dengan manusia, sekali untuk selama-lamanya.

Carson

Kristus…
Dialah jalan keluar bagi seluruh umat manusia.
Dialah satu-satunya pengharapan bagi dunia.

Dialah Benteng yang teguh bagi mereka yang terancam.
Dialah Kota Perlindungan bagi mereka yang dikejar-kejar.

Dialah Roti Hidup bagi mereka yang lapar.
Dialah Sumber Mata Air Kehidupan bagi mereka yang haus.
Dialah Hari Sabat, hari peristirahatan, bagi mereka yang letih, lesu, dan berbeban berat.

Dialah Terang Dunia bagi mereka yang berada dalam kegelapan.
Dialah Gembala yang baik yang rela memberikan diri-Nya bagi domba-domba-Nya.

Dialah Penasehat Ajaib bagi mereka yang bingung dan tak berpengharapan.
Dialah Allah yang perkasa bagi mereka yang lemah.
Dialah Bapa yang kekal bagi “anak yatim” dan “para janda”, yang adalah kita.
Dialah Raja Damai bagi mereka yang berduka dan patah semangatnya.

Dialah Jalan bagi mereka yang tersesat di padang belantara.
Dialah Kebenaran bagi mereka yang salah.
Dialah Hidup bagi mereka yang mati.

Dialah Juruselamat bagi semua orang yang berdosa.
Dialah Tuhan yang berkuasa dan berdaulat atas seluruh umat manusia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oh, sungguh, di luar Kristus, tidak ada jalan, tidak ada kebenaran, tidak ada hidup. Di luar Kristus, yang ada hanyalah padang belantara dan jalan menuju kebinasaan.

Kini, izinkanlah aku mengajukan pertanyaan ini padamu, kawan yang terkasih:

Sudahkah Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat bagimu?

Sudahkah kau yakin sepenuhnya kepada kepada kasih-Nya yang Ia nyatakan di atas kayu salib yang menghapus segala dosamu dan mendamaikanmu dengan Allah?

Jika kau masih ragu namun kau sadar bahwa kau sangat membutuhkan keselamatan-Nya, maka seperti kata Nabi Yoel, koyakkanlah hatimu (Yoel 2:13). Sadarilah seluruh dosamu. Sadarilah pelanggaranmu. Sadarilah bahwa semua itu menyakiti hati Allah. Kemudian berbaliklah kepada-Nya dengan remuk dan rendah hati. Mohonkanlah belas kasihan dari-Nya, bukan berdasarkan kelayakan dan kebaikanmu, melainkan sepenuhnya hanya karena kasih sayang-Nya yang berlimpah-limpah (Daniel 9:18). Mintalah kepada-Nya agar melalui Roh-Nya yang kudus Ia mencelikkan matamu yang buta dan mengubah hatimu yang bobrok supaya engkau melihat dan memahami betapa besarnya kasih-Nya yang Ia nyatakan di dalam salib Kristus.

Taruhlah seluruh iman dan pengharapanmu kepada Krisus yang telah disalib, mati, lalu bangkit bagi orang-orang berdosa. Dan ketahuilah bahwa kebenaranmu di hadapan Allah tidak Ia perhitungkan berdasarkan jasa-jasamu. Kebenaranmu di hadapan-Nya hanya Ia perhitungkan berdasarkan iman percayamu kepada Kristus dan kebutuhanmu akan Dia.

Jika kau melakukan itu, jika di dalam kerendahan hati kau datang memohon belas kasihan dan pengampunan Allah, dan jika dengan iman kau percaya bahwa Kristus Yesus mengasihimu dan menyerahkan hidup-Nya untukmu, maka percayalah, sebagaimana Tuhan kita telah berjanji, “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang (Yohanes 6:37).” Ia akan menyelamatkanmu. Ia akan memberikan mata yang baru padamu. Ia akan memberikan telinga yang baru padamu. Ia akan memberikan hati yang baru padamu. Ia akan memberikan pengharapan yang baru padamu. Ia akan memberikan hidup yang baru, yang sejati, dan yang kekal padamu karena nama-Nya. Dan kau, bersama-sama dengan sang Pemazmur akan berseru:

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya,
karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,
sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga,
dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.
(Mazmur 107:8-9)

dan dengan seluruh umat tebusan Kristus, akan mengutarakan sukacita di hatimu dan bernyanyi:

I Heard the Voice of Jesus Say

Amin

3. Dibawa-Nya Mereka Menempuh Jalan yang Lurus

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,

Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus,
sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.
(Mazmur 107:6-7)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tozer

Ketika TUHAN datang untuk menolong, Ia tidak menyelamatkan dengan setengah-setengah. Di bagian sebelumnya, Pemazmur mengatakan bahwa Allah melepaskan mereka dari kecemasan mereka. Namun, Ia belum berhenti sampai di situ. Melepaskan para pengembara tersebut dari kecemasan mereka memang merupakan suatu hal yang luar biasa yang Allah lakukan. Namun, itu saja tidak cukup. Apakah artinya orang-orang itu terbebas dari kesesakan jika mereka masih tersesat dan belum menemukan jalan yang benar? Apakah artinya terbebas dari rasa cemas jika mereka masih tidak mengetahui ke mana mereka harus berjalan? Apakah gunanya merdeka dari ketakutan sementara mereka tetap tidak akan sampai ke tempat kediaman orang yang selama ini mereka cari dan rindukan? Apakah artinya dilepaskan dari dosa, dunia, dan iblis tetapi kita tetap tidak dapat datang kepada Allah dan Kerajaan-Nya? Tentu itu semua tidak akan berarti, bukan?

Jika Allah hanya menolong setengah-setengah dan hanya melepaskan para pengembara itu dari kesesakan mereka kemudian pergi meninggalkan mereka begitu saja, maka itu sama saja dengan apa yang dunia ini tawarkan. Lihatlah dunia ini! Dunia ini melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk terlepas dari kesesakan. Dunia ini sangat ingin hidup nyaman dan begitu takut akan datangnya masalah. Mereka sangat ingin terlepas dari segala masalah. Dan ketika untuk seketika waktu lamanya mereka berhasil terbebas dari kesesakan hidup dan beroleh kenyamanan itu, mereka puas. Sekalipun mereka tidak tahu arti dan tujuan dari hidup mereka, asalkan mereka bisa hidup nyaman tanpa adanya masalah yang menyesakkan, mereka puas. Mereka puas menjalani seumur hidup mereka hanya dengan menyelesaikan masalah satu per satu dan menikmati keberhasilan tiap kali mereka terbebas dari permasalahan tersebut. Itu saja. Mereka puas menghabiskan seluruh masa hidupnya dengan hidup nyaman dan jauh dari masalah sementara mereka tidak memiliki kepastian sama sekali tentang ke manakah mereka akan pergi setelah mereka mati. Mereka puas sekalipun mereka tidak tahu posisi mereka di hadapan Allah.

Oh, betapa mudahnya dunia ini merasa puas,
betapa kecilnya standar kepuasan dunia ini.

Dalam beberapa hal, sikap mudah puas memang baik.
Namun jika kau mudah sekali puas hidup tanpa Allah,
kau ada dalam masalah yang sangat besar.

Itulah definisi hidup bagi mereka, yaitu membebaskan diri dari satu masalah, menikmati keberhasilan sejenak, kemudian berusaha membebaskan diri dari masalah yang datang berikutnya. Mereka puas dengan itu, mereka bahagia dengan semua itu. Tetapi, oh, betapa malangnya mereka, itu semua tidak akan bertahan selamanya. Cepat atau lambat mereka akan menyadari bahwa ada kekosongan di dalam hati mereka. Cepat atau lambat mereka akan menyadari bahwa mereka tidak pernah menemukan kepuasan yang sejati itu. Mereka tahu bahwa ada yang salah di dalam hidup mereka, mereka sadar ada yang hilang dari mereka, tetapi mereka tidak tahu apa yang hilang itu. Mereka tidak sadar bahwa mereka masih memiliki satu masalah yang tidak pernah mereka selesaikan.

Masalah apakah itu? Tentu saja, masalah yang belum terselesaikan itu adalah mereka masih tersesat. Itulah masalah utama manusia di dalam hidup ini. Itulah yang membuat mereka tidak pernah terlepas dari kesesakan. Itulah yang membuat tak satupun dari mereka pernah menemukan kepuasan yang sebenarnya. Dan apakah yang dunia lakukan kepada orang-orang itu ketika mereka mengalami kehampaan hidup yang demikian? Ya, dunia meninggalkan mereka. Dunia mengabaikan mereka. Dunia berkhianat kepada mereka.

Cobalah bertanya kepada artis paling populer sejagad, atlet terkaya sedunia, mahasiswa yang memeroleh gelar summa cumlaude, ilmuwan yang menerima anugerah nobel prize, orang yang paling banyak mengunjungi negara-negara di dunia, atau kepada siapapun yang telah mencapai kebahagiaan menurut standar dunia ini. Tanyakanlah kepada mereka:

Apakah kau sungguh-sungguh berbahagia?
Seberapalamakah kebahagiaan itu bertahan?

Dan jawaban mereka akan mengecewakanmu. Atau, kau tidak perlu bertanya kepada mereka semua. Cobalah bertanya pada dirimu sendiri. Ketika kau berhasil mencapai sesuatu yang betul-betul kau inginkan, berapa lamakah kebahagiaan yang kau rasakan saat itu bertahan? Aku yakin, jika kau benar-benar jujur dengan dirimu sendiri, maka kau akan sadar bahwa kebahagiaan itu segera sirna bak embun yang terkena teriknya mentari.

Mengapa bisa demikian? Mengapa semua kebahagiaan itu tidak bertahan lama? Sungguh, kita tidak perlu kaget akan hal itu. Memang demikianlah adanya dunia ini. Memang seperti itulah kebahagiaan yang dunia ini tawarkan. Dunia ini hanya menolong manusia setengah-setengah. Dunia tidak mampu, sama sekali tidak mampu, memuaskan dan memenuhkan jiwa manusia yang dahaga. Inilah pesan Alkitab dari awal hingga akhir kepada setiap kita.

Lewis

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Mazmur 25

Tetapi terpujilah Allah sebab Ia merawat dan memelihara orang-orang yang disayangi-Nya tidak seperti dunia ini memperlakukan mereka. Sangat berbeda dengan dunia, Ia tidak berhenti hanya sampai dengan membebaskan umat-Nya dari kesesakan mereka. Ia tidak berhenti hanya dengan memberikan sedikit kebahagiaan yang akan segera sirna. Ia akan melakukan hal yang jauh lebih besar lagi. Ia tahu bahwa tanpa Dia, umat-Nya akan tersesat selamanya. Ia paham benar bahwa tanpa-Nya, para pengembara yang malang itu tidak akan pernah menemukan kota yang mereka tuju. Ia tahu bahwa jika Ia tidak membawa mereka menempuh jalan yang lurus itu, mereka hanya akan berputar-putar di padang gurun yang kering dan hampa itu dan pada akhirnya akan terjerumus kembali ke dalam kesesakan mereka. Ia tahu bahwa jika Ia tidak berjalan bersama-sama dengan mereka, apa yang menanti mereka hanyalah keputusasaan. Ia tahu bahwa tanpa Dia, mereka mati sekalipun mereka masih hidup.

Itulah sebabnya, seperti kata Pemazmur, TUHAN tidak hanya melepaskan umat-Nya dari kecemasan mereka, Ia juga membawa mereka menempuh jalan yang lurus sehingga mereka sampai ke kota tempat kediaman orang. Inilah janji Tuhan kepada orang-orang yang berseru-seru kepada-Nya. Inilah yang juga menjadi kesaksian orang-orang kudus di seluruh bagian Alkitab dan juga di sepanjang masa. Dengarlah apa yang Daud katakan:

Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
(Mazmur 23:3)

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum,
dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.
Segala jalan TUHAN adalah kasih setia
dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya
dan peringatan-peringatan-Nya.
(Mazmur 25:9-10)

Di Mazmurnya yang lain, Daud mengutarakan:

Ayat - Mazmur 16 11

Salomo turut memberikan kesaksian tentang Dia. Salomo berkata:
Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar,
yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
(Amsal 4:18)

Nabi Yesaya juga menceritakan perbuatan-Nya:
Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya.
(Yesaya 26:7)

Ayat - Mazmur 32 8

Itulah yang selalu Allah lakukan ketika Ia menyelamatkan orang-orang yang berseru-seru memanggil nama-Nya yang agung. Ia mengambil mereka dari kegelapan yang di dalamnya mereka tersesat dan terhilang kemudian menaruh mereka di jalan yang benar, yakni jalan yang lurus dan diterangi oleh cahaya wajah-Nya. Setelah mereka berdiri pada jalan yang tepat itu, Ia menunjukkan pula arah yang tepat yang harus mereka tuju supaya mereka dapat sampai ke kota tempat kediaman orang. Ya, seperti kata Daud, Ia mengajarkan jalan-Nya kepada mereka. Ia menasehati mereka. Mata-Nya tertuju pada mereka.

Dan pengajaran serta nasehat-Nya sangatlah jauh berbeda dengan apa yang dunia ini tawarkan di dalam hikmatnya yang fana. Dunia ini, dengan pikirannya yang gelap dan hatinya yang degil (Efesus 4:18), hanya dapat menipu dan menyesatkan manusia. Dunia ini mengajarkan teori-teori yang terdengar begitu tinggi tetapi tidak berdasar. Bagaimana mungkin manusia berasal dari kera? Bagaimana mungkin segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa ada dengan sendirinya tanpa adanya Pencipta? Bagaimana mungkin seluruh alam semesta yang teramat sangat teratur ini bisa timbul dari proses yang sangat acak, yaitu ledakan besar yang bernama Big Bang, tanpa perlu adanya Pengendali dari semua proses itu? Bagaimana mungkin dunia percaya akan semua itu kemudian dengan percaya diri menyatakan bahwa Allah hanyalah tokoh fiksi?

Oh, betapa dalamnya dunia ini telah terjatuh. Itulah yang dunia ini tawarkan. Itulah pengajaran dan jalan dunia ini. Teori-teori yang mungkin terdengar begitu hebat tetapi mengada-ada. Teori-teori yang tinggal menunggu waktu saja sampai para ilmuwan di masa yang akan datang menyatakan kekeliruan teori itu dan datang dengan teorinya yang baru. Selalu seperti itu. Dan ironisnya, mereka bangga dengan semua itu. Tetapi tidaklah demikian dengan jalan dan pengajaran Allah kita. Yesaya berkata, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yesaya 40:8).” Pemazmur bersaksi, “Dasar firman-Mu adalah kebenaran (Mazmur 119:160). Ya, jalan Allah kita adalah kekal dan benar. Dan tidak hanya itu, firman Tuhan juga berkata, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia (Mazmur 25:10).” Oh, bukankah itu luar biasa? Kekal, benar, dan penuh dengan kasih setia, itulah jalan Tuhan kita, itulah yang jiwa setiap manusia butuhkan.

Brainerd

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi kita perlu berhati-hati di sini. Tuhan tidak mau kita terbuai. Tuhan tidak ingin kita lengah. Tuhan tidak menghendaki kita menganggap sepele dan berpikir bahwa perjalanan yang akan kita tempuh adalah perjalanan yang menyenangkan menurut kacamata dunia. Tidak, tidak sama sekali. Jalan Tuhan bukanlah permainan, jalan Tuhan adalah peperangan. Peperangan melawan siapa? Peperangan melawan diri sendiri, melawan dunia ini, dan melawan ilah zaman ini. Dan itu sama sekali bukanlah hal yang mudah sekalipun Allah telah menempatkan kita di jalan yang lurus dan berjanji akan menyertai kita menempuhnya hingga kita sampai di tempat tujuan. Dengarlah peringatan Tuhan kita:

Masuklah melalui pintu yang sesak itu,
karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan,
dan banyak orang yang masuk melaluinya;
karena sesaklah pintu
dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan,
dan sedikit orang yang mendapatinya.
(Matius 7:13-14)

Inilah kebenaran mengenai jalan keselamatan-Nya. Jalan-Nya adalah jalan yang benar. Jalan-Nya adalah jalan yang lurus. Jalan-Nya adalah jalan menuju terang yang kian lama kian terang benderang. Jalan-Nya adalah jalan yang kekal. Jalan-Nya penuh dengan kasih dan setia. Jalan-Nya adalah jalan kehidupan. Semua itu terdengar begitu indah, dan memang sangat indah. Namun, sama seperti semua itu benar, inipun merupakan kebenaran, yakni bahwasanya pintu-Nya adalah pintu yang sesak dan jalan-Nya adalah jalan yang sempit.

Tahukah engkau mengapa demikian adanya?
Tahukah engkau mengapa pintu-Nya sesak?

Ya…
Pintu-Nya sesak karena tidak ada banyak pintu untuk menjadi pilihan.
Pintu-Nya sesak karena memang hanya ada Satu Pintu.
Dan Sang Pintu itu berkata mengenai diri-Nya:

Akulah Pintu

Dan tahukah engkau mengapa jalan menuju kehidupan itu sesak?

Ya…
Jalan-Nya sempit karena memang hanya ada Satu Jalan yang Allah berikan.
Dan tentang diri-Nya, Sang Jalan itu berkata dengan sangat tegas:

Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup

Ya, Tuhan Yesus Kristus, Dialah Pintu, Dialah Jalan. Dialah jalan menuju kota tempat kediaman orang-orang yang dicari oleh para pengembara yang putus asa itu. Dialah jalan menuju kehidupan. Dialah jalan menuju Kerajaan Allah. Dan Dia juga adalah Pintu Kerajaan Allah. Tak seorangpun dapat masuk ke dalam Kerajaan yang indah itu tanpa melalui Dia. Tetapi barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan melewati Sang Pintu Kehidupan dan beranjak dari padang belantara menuju padang rumput. Tiada satupun orang dapat datang kepada Allah jika tidak melalui Dia. Tetapi siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia beroleh jalan, dan kebenaran, dan hidup.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Yesaya 2 5

Teman-teman yang terkasih, kini izinkanlah aku bertanya padamu.
Apakah kau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus?
Apakah kau percaya dan menerima Dia sebagai Pintu yang sesak dan Jalan yang sempit itu?

Jika “ya” adalah jawabanmu, kukatakan padamu, berbahagialah engkau sebab Ia berjanji bahwa di dalam Dia, kau beroleh:

Jalan yang benar dan lurus sehingga kau tak lagi terombang-ambing oleh ajaran-ajaran sesat dan teori-teori para ateis yang terdengar begitu hebat tetapi menyangkal Allah dan dirinya sendiri.

Jalan yang diterangi cahaya fajar sehingga kau tidak lagi berdiang di dalam kegelapan dosa-dosa lama kesukaanmu (Yohanes 8:12).

Jalan yang penuh kasih setia sehingga kau menyadari bahwa kau tidak pernah sendiri di dalam hidup ini tetapi kasih dan setia-Nya, bahkan diri-Nya sendiri, selalu menyertaimu hingga akhir (Matius 28:20).

Jalan yang menuju padang rumput sehingga kau beroleh sukacita dan kepuasan yang sejati dan kau tidak perlu lagi menyukakan hatimu dengan hiburan-hiburan duniawi yang membutakan pikiranmu, mengeraskan hatimu, dan menyesatkan engkau dengan segala rupanya yang menipu.

Jalan kehidupan sehingga kau beroleh harapan yang baru, tujuan yang baru, kesukaan yang baru, hati yang baru, dan hidup yang baru yang tidak serupa dengan dunia ini tetapi yang hari demi hari kian disempurnakan menuju keserupaan dengan Kristus yang adalah gambar Allah.

Dan karena begitu besar berkat, penyertaan, dan kasih yang telah Allah sediakan bagi kita di dalam Kristus, maka satu-satunya cara hidup yang masuk akal untuk kita lakukan adalah apa yang pernah Allah katakan kepada Yosua sebelum bangsa Israel merebut tanah Kanaan:

Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh,
bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum
yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa;
janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri,
engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.
(Yosua 1:7)

Ya, hanya itulah cara hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah bagi setiap kita yang hidup di dalam Kristus Yesus. Jalan-Nya adalah jalan yang lurus. Jalan-Nya adalah jalan yang diterangi oleh terang tuntunan firman Tuhan (Mazmur 119:105). Seperti kata Daud, mungkin untuk sekian waktu lamanya kita akan berjalan dalam lembah kekelaman (Mazmur 23:4), tetapi itu tidak sama dengan kita berjalan di dalam kegelapan seperti orang yang buta atau orang yang tersesat. Tidak. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman yang penuh dengan penderitaan, penolakan, kegagalan, dan kebingungan dalam memutuskan pilihan-pilihan penting yang sulit dalam hidup, kita tidak dibutakan dan disesatkan oleh dunia dan iblis, melainkan kita beroleh terang hidup. Kita tahu jalan yang benar sebab di tangan kita, kita memiliki pelita yang adalah Firman Tuhan dan di dalam hati kita kita memiliki api yang adalah Roh Tuhan. Seperti perintah TUHAN kepada Yosua, kita tidak perlu lagi menghabiskan waktu kita yang berharga untuk melirik dan merasakan bagaimana jalan ke kiri dan ke kanan. Kita tidak perlu bertanya-tanya, “Sepertinya jalan di sisi kanan itu baik atau di sisi kiri itu baik, aku harus mencoba menapakinya.”

Perintah Allah sangatlah jelas: kita tidak boleh melewati jalan itu. Pernyataan-Nya sangatlah tegas: hanya ada satu jalan yang menuntun pada kebenaran dan hidup dan jalan itu adalah Kristus, Tuhan kita. Oleh sebab itu, biarlah setiap orang yang percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Jalan dan Keselamatan dan Hidup, bersama-sama dengan rasul Paulus berkata:

Ayat - Filipi 3 13-14

Tetapi…
Bagimu, kawan, yang belum percaya kepada Kristus…
yang belum percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup,
dengarlah peringatan dari Pemazmur mengenai orang-orang di padang belantara itu!

Oh, Dia adalah Allahmu, Dia adalah Penciptamu. Dia adalah Tuhan yang mau datang ke dunia, menjadi manusia, dan mati di kayu salib untuk menebus seluruh dosamu dan menyelamatkanmu. Dia adalah Terang Dunia. Dia adalah Roti Hidup. Dia adalah Gembala yang baik. Tidak ada satupun yang dapat memuaskan hatimu selain Dia.

Hidup tanpa Kristus adalah mimpi buruk. Di luar Dia, tidak ada jalan sama sekali. Di luar Dia, yang ada hanyalah padang belantara, lengkap dengan segala panas yang terik, dingin yang menyiksa, binatang dan perampok yang mengancam, rasa lapar, rasa haus, rasa lelah, dan semangat yang patah. Di luar Dia, kau harus menanggung semua beban dan konsekuensi dari segala dosamu dan suatu saat yang pasti kelak, kau harus mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Allah yang akan menghukum semua manusia berdosa di dalam api neraka yang kekal. Sungguh, tidak ada sukacita, kedamaian, arti dan tujuan hidup, kepuasan, dan kepenuhan di luar Kristus.

Tanpa Dia, tidak ada keselamatan.
Tanpa Dia, tidak ada hidup.

Tetapi jika engkau percaya kepada-Nya dan menerima-Nya, maka di dalam Dia, kau telah beroleh pengampunan dosa di hadapan Allah. Ia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Bersama-Nya, kau yang awalnya tersesat dan tidak memiliki arah hidup, akan menemukan jalan yang lurus yang membawamu ke “kota tempat kediaman orang” yang tidak lain adalah Kerajaan di mana Dialah yang menjadi Sang Raja. Bersama-Nya, kau yang awalnya terombang-ambing oleh ajaran dan rayuan dunia serta bisikan iblis, akan menemukan kepastian di dalam kebenaran-Nya yang teguh. Bersama-Nya, kau yang awalnya mati akan beroleh hidup yang baru dan yang kekal.

Oh, percayalah kepada-Nya.
Ia tidak hanya menunjukkanmu jalan yang benar.
Ia tidak hanya menuntunmu di jalan yang benar.

Ialah Jalan yang benar itu.
Dan Ia jugalah tujuannya.

Sunggulah benar, setiap orang yang percaya kepada-Nya akan bernyanyi dengan segenap hati:

All the Way My Savior Leads Me, by Fanny Crosby

Amin

#Bersambung

2. Dilepaskan-Nya Mereka dari Kecemasan Mereka

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,
dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.
(Mazmur 107:6)

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Piper

Setiap orang telah jatuh ke dalam dosa. Hal ini menimbulkan konsekuensi yang sangat mengerikan di dalam hidup setiap manusia. Celakanya, tak seorangpun manusia menyadari seberapa dalam mereka telah terjatuh ke dalam dosa. Orang-orang berpikir bahwa mereka dapat mengendalikan dosa mereka. Mereka berpikir bahwa mereka dapat memutuskan sampai sejauh mana mereka dapat melakukan dan menikmati dosa. Mereka mengerti bahwa terlibat dalam suatu tindakan dosa hingga tingkatan tertentu dapat berbahaya bagi mereka dan oleh sebab itu, mereka menetapkan suatu batas aman di mana mereka tetap bisa mengecap nikmatnya dosa itu sebanyak dan sesering yang mereka mau tanpa terancam oleh bahaya yang dosa itu dapat timbulkan jika berlebihan.

Misalnya saja ada begitu banyak orang yang merasa aman untuk menonton drama-drama komedi romantis seperti “Friends” atau “How I Met Your Mother” tetapi mereka sendiri menjaga diri untuk tidak sampai terjerumus dalam dosa menonton film porno. Dengan begitu, mereka tetap bisa mengecap nikmatnya dosa “ringan” yang ada di sepanjang episode drama komedi romantis tersebut tanpa terancam oleh dosa “besar” menonton film porno yang memang terbukti dapat berakibat fatal bagi mereka yang kecanduan menontonnya. Namun, itu adalah pemikiran yang sepenuhnya salah. Tuhan Yesus tidak setuju dengan hal tersebut. Ia berkata:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa,
adalah hamba dosa
(Yohanes 8:34)

Apakah maksud perkataan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus menegaskan kebenaran ini dengan sangat jelas. Inilah yang Ia maksud: Dosa jauh lebih berkuasa di dalam diri seseorang dibanding apapun yang baik yang ada pada orang itu. Dosa adalah dosa, titik. Terlepas dari apakah dosa itu tampak besar atau kecil, dosa selalu lebih kuat dibandingkan manusia dan dosa akan senantiasa memperbudak manusia. Seseorang mungkin memiliki intelektualitas dan moralitas yang sangat tinggi namun semua itu tidak lebih besar pengaruh dan kendalinya dalam hidup orang itu dibanding dosa yang tinggal di dalam hatinya. Ini merupakan salah satu kebenaran yang ditegaskan dengan sangat kuat oleh Alkitab dari awal hingga akhir.

Kita dapat membuktikan kebenaran ini dengan melihat sedikit contoh dari begitu banyaknya fakta yang ada. Pertimbangkanlah ini: (1) Rasa takut dapat membuat banyaknya pengetahuan yang ada pada seseorang menjadi tidak berarti. Seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang luas mengenai suatu hal yang penting. Secara teknis, pengetahuan orang itu seharusnya cukup untuk menolongnya mengerjakan hal penting itu dengan baik dan aman. Namun, karena pada dasarnya orang itu memiliki rasa takut dan rasa pesimis yang besar, ia memilih untuk tidak bertindak. Alhasil, banyaknya pengetahuan yang ada padanya menjadi tidak ia gunakan sama sekali hanya karena rasa takut yang merupakan manifestasi dari dosa yang menjajah dirinya. (2) Contoh yang kedua: Kemalasan dapat membuat orang yang sangat cerdas sekalipun menjadi bodoh dan gagal. Kita dapat melihat kenyataan ini di lingkungan sekitar kita. Kemalasan adalah dosa dan dosa yang satu ini telah menghancurkan begitu banyak generasi muda yang sebenarnya telah diberkati Tuhan dengan kecerdasan.

(3) Dan contoh yang terakhir: Hawa nafsu seks, ambisi, dan dendam dapat membuat seseorang yang religius dan bermoral sangat tinggi sekalipun bertindak dengan sangat tidak bermoral, baik di dalam pikiran maupun di dalam perilakunya. Untuk contoh terakhir ini, kita tidak perlu susah-susah melihat ke sekitar kita untuk melihat buktinya. Jika kita ingin bukti, kita dapat dengan mudah menemukannya dengan menyelidiki diri kita masing-masing. Beberapa dari kita adalah orang yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Beberapa dari kita adalah orang yang hidupnya cukup religius. Tapi cobalah jawab pertanyaan ini: Apakah pendidikan yang tinggi dan hidup yang religius itu menjamin pikiran kita sepenuhnya bersih dari hal-hal yang najis? Apakah pikiran kita benar-benar bersih dari bayang-bayang seksual, ambisi, dan kesombongan? Jika seseorang, selain keluarga kandungmu, mengenal dirimu secara sempurna, membaca pikiran dan isi hatimu, dan mengetahui perbuatanmu setiap hari secara detail, apakah ia akan tetap mengasihimu dan tetap kagum akan engkau ataukah ia akan segera lari dari padamu sekuat tenaga? Cobalah sejenak merenungkan semua itu dengan serius.Tentu saja, kita semua tahu jawaban universal seluruh umat manusia, termasuk kau dan aku, akan pertanyaan itu. Ya, kita adalah manusia yang penuh dengan dosa.

Itulah sedikit contoh yang menegaskan bahwa dosa jauh lebih besar kuasanya dan jauh lebih nyata kehadirannya dibanding pengetahuan, pengalaman, moralitas, kecerdasan, memori, kehendak, dan apapun yang ada pada seseorang. Tiga hal ini merupakan contoh nyata yang sering kita simak, atau bahkan kita alami setiap hari. Dan jika kita hendak meneruskan daftar dari bukti-bukti ini, maka tentu daftar kita tidak akan memiliki ujung. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh John Calvin:

Calvin (2)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah kengerian dosa. Tidak peduli setinggi apa pendidikan seseorang atau se-religius apa seseorang hidup, di luar Kristus, ia hanyalah hamba dosa. Kuasa dosa jauh lebih besar, lebih kuat, dan lebih nyata dibanding kuasa kehendak orang itu. Dosa menaklukkan kehendak manusia. Ya, dosa mengalahkan manusia. Orang-orang mungkin dapat berkata, “Baiklah, aku akan memuaskan hawa nafsuku sampai sebatas ini saja. Aku tidak mau terbawa jauh lebih dalam dari ini sebab hidupku bisa hancur karenanya.” tetapi dosa tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Orang-orang berpikir bahwa mereka dapat mengendalikan dosa-dosa mereka padahal apa yang sebenarnya terjadi adalah dosa merekalah yang mengendalikan mereka. Dosa memperbudak manusia. Dosa mengikat dan menguasai manusia. Tanpa pertolongan dari Allah, dosa akan menarik manusia semakin jauh ke tempat yang dosa itu inginkan sekalipun orang itu, dengan segenap kekuatan hatinya, memutuskan untuk berhenti.

Allberry

Itulah kebenaran mengenai setiap manusia. Sebelum manusia menyadari bahwa ia berdosa dan betapa mengerikannya dosa itu, ia tidak akan pernah mengenal dirinya sendiri. Dunia ini mengatakan bahwa untuk mengenal diri sendiri, apa yang perlu seseorang lakukan adalah memandang cermin. Itulah sebabnya ada begitu banyak orang yang berpikir bahwa masalah terbesar di dalam hidupnya adalah hidungnya yang pesek, wajahnya yang berjerawat, kulitnya yang hitam, tubuhnya yang gemuk, dan penampilannya yang buruk. Namun, semua itu sama sekali bukanlah masalah yang sebenarnya sebab cepat atau lambat semua itu akan sirna. Masalah sebenarnya dari setiap manusia adalah dosa, yang tidak hanya tinggal di dalam dirinya tetapi juga mengendalikannya. Namun, tidak sampai di situ saja, lebih jauh, Rasul Paulus berkata:

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini,
karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa,
yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
(Efesus 2:1-2)

Rasul Paulus menambahkan bahwa manusia tidak hanya menjadi hamba dari dosa-dosanya sendiri tetapi pada saat yang sama, manusia juga sedang diperbudak oleh dunia dan penguasa kerajaan angkasa yang adalah iblis. Ya, manusia merupakan budak dari dunia dan iblis. Dunia dan iblis membawa manusia ke tempat yang mereka inginkan. Sekalipun manusia menyangkalnya atau tidak menyadarinya, inilah apa kata Tuhan kepada manusia. Inilah kebenaran mengenai semua manusia yang belum diselamatkan. Manusia di dalam dosa menyangka bahwa ia adalah makhluk yang bebas. Manusia menyangka bahwa ia memiliki kuasa penuh untuk mengatur dirinya sendiri. Namun, alangkah menakutkannya, di luar Allah,  tidak pernah sedetikpun manusia terbebas dari perbudakan.

Manusia di dalam dosa berpikir bahwa mereka mengenal diri mereka sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga mengizinkan dunia untuk memberita tahu kepada mereka siapa mereka. Dunia mengatakan, “Kamu adalah orang yang luar biasa. Kamu layak diperlakukan dengan baik oleh semua orang.” atau sebaliknya “Kau adalah produk gagal. Kau tidak layak hidup di dunia ini.” dan mereka percaya apa kata dunia tentang mereka. Namun, itu sama sekali tidak benar. Dengan hikmat dan pengalamannya sendiri, manusia sama sekali tidak dapat mengenal siapa dirinya yang sebenarnya. Sebelum mata rohani seseorang dicelikkan oleh Roh Kudus dengan terang firman Tuhan, orang itu tidak akan pernah mengenal siapa dirinya. Mengapa? Sebab identitas yang sejati dari setiap orang bukanlah apa yang tampak pada cermin, yakni apa yang dapat dilihat dengan mata jasmani, melainkan apa yang ada di dalam batin manusia, yakni yang hanya dapat dilihat dengan mata rohani. Dan mata rohani seseorang hanya dapat melihat ketika Roh Kudus mencelikkannya dan menuntunnya untuk memandang segala sesuatu dengan kacamata firman Tuhan. Sebelum hal itu terjadi, manusia tidak akan pernah berpikir sebagaimana mereka seharusnya berpikir mengenai diri mereka, manusia tidak akan pernah melihat diri mereka sebagaimana mereka sepatutnya melihatnya.

MLJ

Ya, tanpa Roh Tuhan dan Firman Tuhan, manusia tidak akan mengenal siapa dirinya. Tanpa Roh dan Firman Tuhan, manusia tidak akan pernah sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kendali tiga kuasa yang begitu mengerikan, yaitu kedagingan mereka sendiri, dunia, dan iblis. Ketiga kuasa inilah yang senantiasa membelenggu dan menyesatkan manusia. Ketiga kuasa inilah yang merupakan sumber dari segala kecemasan dan ketidakbahagiaan yang ada di dalam hidup manusia. Tidak hanya itu, ketiga kuasa ini tidak akan puas dan berhenti cukup dengan membuat manusia cemas. Ketiganya akan terus menerus bekerja di dalam hidup manusia untuk membuat mereka semakin hari semakin bertambah jahat, semakin mengeraskan hati, semakin tidak peka, dan yang paling mengerikan dari semua itu, semakin lupa dan menjauh dari Allah yang merupakan satu-satunya Pengharapan dan Penolong yang dapat melepaskan mereka dari kecemasan mereka.

Watson

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetapi terpujilah Allah kita sebab Ia bukanlah Allah yang acuh tak acuh. Justru sebaliknya, Ia adalah Allah yang mendengar, Allah yang melihat, Allah yang mengerti, dan Allah yang penuh perhatian. Ia tahu bahwa jika Ia tidak menolong, maka orang-orang yang tersesat di padang belantara itu tidak akan pernah menemukan “kota tempat kediaman orang-orang” yang mereka cari dan rindukan. Ia tahu bahwa jika Ia lepas tangan, maka semua manusia akan binasa. Dan puji Tuhan, Ia tidak menghendaki hal itu.

Untuk seketika waktu lamanya mungkin Ia akan terlihat diam. Namun, sedetikpun Ia tidak pernah diam, teman. Ia adalah Allah yang tidak pernah berhenti bekerja. Ia adalah Allah yang tidak pernah berhenti berbicara. Daud mengatakan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 19:1).” Ya, Ia senantiasa berbicara melalui alam semesta ini untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang besar, untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang layak dijadikan tempat berlindung. Tidak hanya itu, Tuhan Yesus berjanji, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. (Matius 16:18).” Ia akan selalu menopang gereja-Nya dan melalui gereja-Nya, Ia akan selalu berbicara kepada dunia ini untuk menunjukkan kepada mereka hidup dan keselamatan yang hanya ditemukan di dalam Dia. Sungguh, Allah kita bukanlah Allah yang diam.

Dan untuk seketika waktu lamanya mungkin Ia akan terlihat tidak mau menolong. Namun, Ia tidak pernah enggan menolong. Ia adalah Juruselamat. Menyelamatkan bukanlah sekadar apa yang Ia lakukan, menyelamatkan adalah bagian dari siapa diri-Nya. Oleh sebab itu, Ia tidak pernah berhenti menolong. Di mata kita yang memandang segala sesuatu berdasarkan waktu dan ekspektasi, Ia mungkin akan terlihat enggan menolong. Namun, Ia tidak bekerja menurut waktu dan ekspektasi kita, Ia bekerja menurut waktu dan keputusan kehendak-Nya. Di saat yang tepat menurut pengertian dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna dan tiada tara, Ia pasti akan turun tangan dan menolong.

Dan ketika Ia datang menolong, kita dapat yakin akan satu hal, yaitu bahwa hal pertama yang akan Ia lakukan adalah membuat orang yang akan ditolong-Nya menjadi rendah hati dan memohon belas kasihan dan pertolongan-Nya. Inilah yang menjadi pesan dari Mazmur kita ini. Inilah yang juga menjadi kesaksian Alkitab dari awal hingga akhir, yakni bahwa Allah berkenan pada orang-orang yang rendah hati. Salomo mengatakan, “Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya. (Amsal 3:34).” Ya, Allah berbelas kasih kepada orang-orang yang rendah hati. Dan rendah hati yang dimaksud di sini bukanlah sekadar rendah hati di hadapan manusia, seperti berbicara dengan sopan, berjalan tunduk ketika melewati orang tua, menolak pujian yang berlebihan, dan lain sebagainya, tetapi rendah hati di hadapan Allah.

Seperti apakah rendah hati di hadapan Allah itu? Seseorang yang rendah hati di hadapan Allah pertama-tama adalah orang yang sadar bahwa ia adalah orang berdosa. Tetapi tidak sampai di sana saja, ia juga menyesal dan remuk hati karena dosa-dosa yang telah dilakukannya. Ia sadar bahwa semua dosa itu tidak hanya menyakiti orang lain tetapi yang jauh lebih membuatnya berduka, semua dosa itu menyakiti hati Allah. Bukankah ini yang menjadi kesaksian dari Raja Daud setelah ia melakukan dosa yang sangat besar? Ya, ketika Nabi Natan menegurnya dan mengingatkannya akan kejahatannya yang telah meniduri Batsyeba dan merencanakan kematian Uria di medan pertempuran, apakah yang Daud katakan? Inilah yang menjadi seruan dari hatinya yang hancur: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu (Mazmur 51:6).”

Apakah yang dikatakan oleh Daud? Ia telah bersalah terhadap Batsyeba. Ia telah bersalah terhadap Uria. Ia telah bersalah terhadap bayi yang lahir karena hawa nafsunya yang jahat kepada Batsyeba. Ia telah bersalah terhadap isteri-isterinya. Ia telah bersalah pada seluruh bangsa Israel. Tentu saja Daud bersalah kepada mereka semua. Tetapi mengapa Daud berkata, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa…”? Hanya satu jawabannya: Sebab segala dosa tertuju langsung kepada Allah. Di dalam kasih, Allah telah menundukkan dan meremukkan hati Daud dan ia pun menunjukkan ekspresi kerendahan hati yang sejati itu di hadapan-Nya. Ia mengaku bersalah di hadapan Allah. Ia sadar bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah jahat di mata Allah dan itu semua mendukakan hati-Nya.

Sproul

Itulah tanda mula-mula dari kerendahan hati yang sejati di hadapan Allah. Tetapi itupun belum menggambarkan keseluruhan dari kerendahan hati yang berkenan bagi Allah. Orang yang rendah hati di hadapan Allah akan datang dengan hatinya yang hancur itu ke hadapan Allah, bersujud, menyembah di kaki-Nya dan memohon belas kasihan-Nya. Ia tidak akan memohon kasih sayang-Nya berdasakan kebaikan yang telah ia lakukan, melainkan semata-mata berdasarkan kemurahan-Nya yang begitu besar bagi para pendosa dan orang-orang yang memberontak melawan-Nya. Orang yang rendah hati akan berdoa sebagaimana Daud berdoa:

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu,
hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!
Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.
(Mazmur 51:3-5)

Dan seperti Daniel ketika ia berseru kepada-Nya:

Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu,
biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus;
sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami
maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.

Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya,
dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.

Ayat - Daniel 9 18

Ya Tuhan, dengarlah!
Ya, Tuhan, ampunilah!
Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh,
oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!”(Daniel 9:16-19)

Itulah doa dari seorang yang rendah hati. Itulah doa yang tidak akan diabaikan oleh Allah. Itulah doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang digambarkan oleh Pemazmur sebagai orang-orang yang mengembara di padang belantara ini. Pemazmur berkata, “Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka…” dan Tuhan pun menolong mereka. Ya, Allah mendengar dan menjawab doa orang-orang yang rendah hati. Lebih dari itu, Firman Tuhan melalui Nabi Yesaya berkata:

Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia,
yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya:

Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus
tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati,
untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati
dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.
(Yesaya 57:15)

Bukankah Ia sungguh luar biasa? Bukankah Ia begitu murah hati? Bukankah kasih-Nya tiada tara? Dengarlah dan perhatikanlah, Ia tidak hanya bersemayam di tempat tinggi dan tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati. Oh, betapa jauhnya Dia dengan dunia. Dunia ini mengaku bahwa ia mengenal dan memahami setiap manusia. Dunia ini mengaku bahwa ia mampu memuaskan jiwa setiap manusia di kala suka maupun duka. Tetapi, apakah dunia menepati janjinya? Tentu saja, tidak. Dunia ini tidak mengenal manusia. Dunia ini tidak memahami manusia. Dunia ini tidak dapat memuaskan kerinduan setiap manusia. Apa yang bisa dilakukan oleh dunia ini hanyalah menipu orang-orang dengan kenikmatan semu kemudian meninggalkan mereka di dalam kehancuran. Tetapi tidaklah demikian dengan Allah kita. Ia penuh dengan belas kasihan. Ia berlimpah dengan kasih dan sayang. Ia bersemayam dengan orang-orang berdosa yang telah remuk jiwanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hati yang remuk karena dosa, tangisan pertobatan, pengakuan tidak berdaya, dan kerendahan hati, itulah kunci dari segala perkenanan Allah. Sebelum seorang pendosa sampai ke titik itu, ia akan terus buta oleh kepekatan dosa dan keangkuhannya. Sebelum seorang manusia berdosa tiba di titik itu, ia tidak akan mengenal kasih dan belas kasihan Allah. Sebelum ia tiba di sana, ia tidak akan menemukan keselamatan yang dari Allah. Inilah yang menjadi pelajaran pertama dari semua orang yang ditebus oleh Allah, yaitu “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6).”

Namun, satu hal perlu diperjelas di sini. Manusia tidak dapat mencapai titik kerendahan hati yang sejati itu dengan kekuatan dan kehendaknya sendiri. Di dalam dosa-dosanya, manusia “mati”, dan ia tidak memiliki apapun di dalam hati dan perbuatannya yang dapat memperkenankan hati Allah. Apa yang ada di hatinya adalah dosa dan kejahatan semata-mata, kata firman TUHAN (Kejadian 6:5, 8:21). Oleh sebab itu, satu-satunya cara agar manusia dapat merendahkan hati-Nya dan memohon dengan permohonan yang tulus dan agar permohonan itu didengar oleh Allah adalah apabila Allah sendiri, yang kaya akan rahmat, oleh kasih-Nya yang besar (Efesus 2:4), mengerjakan kerendahan hati itu dari dalam hati orang itu. Hal inilah yang juga ditekankan oleh Rasul Paulus ketika ia berkata:

Ayat - Filipi 2 13

Ya, inilah kebenaran mengenai karya penyelamatan Allah. Allah tidak hanya memerintahkan orang-orang untuk merendahkan hati dan berdoa memohon pertolongan, Ia sendiri yang mengerjakan kerendahan hati dan doa itu sebelum mereka mampu melakukannya. Bukankah itu merupakan suatu kabar yang indah? Bukankah itu menceritakan kepada kita betapa Ia adalah Allah yang murah hati? Bagaimana jika Ia tidak pernah mengerjakan kerendahan hati dan doa itu di dalam hati kita? Oh, betapa agung dan mulia Dia. Ia mengubah hati orang-orang berdosa. Ia membalikkan hati orang-orang yang tersesat. Ia membujuk dengan lembut dan menggerakan lembut hati orang-orang yang tertindas oleh dosa, dunia, dan iblis sehingga mereka ingat akan Dia dan berseru-seru kepada-Nya dengan rendah dan remuk hati di dalam kesesakan mereka. Dan ketika doa yang demikian sampai ke telinga-Nya, Ia tidak akan berlambat-lambat untuk menolong orang tersebut. Ia akan segera menolongnya pada waktu-Nya sesuai dengan janji yang Tuhan Yesus katakan:

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu;
carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
(Matius 7:7)

Di sepanjang sejarah, Allah selalu mendengar jeritan umat-Nya yang menderita di dalam kegelapan hidup mereka. Dan dengan kasih setia yang teramat besar, Ia selalu menolong mereka. Lihatlah sedikit dari apa yang telah dikerjakan-Nya. Ia mendengar keluh kesah Bangsa Israel yang ditindas oleh Bangsa Mesir dan Iapun mengutus Musa untuk membebaskan mereka (Keluaran 2:23-25). Ketika mereka telah menempati Kanaan, mereka masih terancam oleh bangsa-bangsa yang berusaha membinasakan mereka. Ia mendengar rintihan mereka yang gentar oleh orang-orang yang mendesak dan menindas mereka itu dan Iapun membangkitkan hakim-hakim-Nya untuk menyelamatkan mereka (Hakim-hakim 2:18).

Lihatlah juga Kitab Raja-Raja dan Tawarikh dan kita akan melihat betapa besar kesabaran, belas kasihan, dan kesediaan-Nya untuk menolong. Sekalipun umat-Nya berulang-ulang kali melakukan dosa yang sangat jahat dan begitu menyakiti hati-Nya, ketika mereka terhimpit dan merendahkan diri mereka di hadapan-Nya dan berdoa, Ia selalu menyelamatkan mereka. Di kala umat-Nya yang lemah berdoa kepada-Nya dan memohon agar Ia membela mereka dari bangsa-bangsa yang hendak menaklukkan mereka, Ia turun tangan dan memberikan kemenangan besar bagi mereka. Ia mempermalukan bangsa-bangsa yang memandang rendah nama-Nya dan umat-Nya. Ia menyelamatkan mereka ketika mereka sadar bahwa mereka tidak dapat selamat tanpa penyertaan-Nya. Sungguh, sangatlah tepat penuturan Pemazmur yang berkata, “Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Namun dari segala karya yang telah Ia lakukan, dari semua penyelamatan yang telah Ia kerjakan, dan dari semua penyataan kasih yang telah Ia tunjukkan…

Ada satu karya teragung
Ada satu penyelamatan paling mulia
Ada satu penyataan kasih yang terbesar
Dan semua itu nyata di dalam karya dan Pribadi Anak-Nya,
yakni Tuhan Yesus Kristus

Di dalam Kristus, Allah mengerjakan karya teragung-Nya. Di dalam Kristus, Allah mengerjakan keselamatan termulia. Di dalam Kristus, Allah menyatakan kepenuhan kasih-Nya kepada umat manusia yang berdosa. Lihatlah apa yang Kristus lakukan bagi manusia! Kristus menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21). Firman-Nya memerdekakan mereka dari segala keterikatan dan dosa yang membelenggu mereka (Yohanes 8:31-32). Barangsiapa ada di dalam-Nya, tidak akan pernah menerima penghukuman Allah atas dosa (Roma 8:1) sebab murka Allah atas mereka telah ditanggung-Nya seorang diri di atas kayu salib (1 Petrus 2:24) dan dengan demikian Ia telah mendamaikan dan menyatukan manusia berdosa dengan Allah yang kudus (2 Korintus 5:19).

Tidak hanya itu, Roh Kristus menganugerahkan hidup yang baru, yakni hidup Allah sendiri, kepada umat-Nya yang sebelumnya mati di dalam dosa. Roh-Nya membebaskan mereka dari hukum dosa dan hukum maut sehingga mereka tidak lagi menjadi budak dosa dan dimampukan untuk berperang melawannya.

Lebih jauh lagi, Tuhan kita tidak hanya menyelamatkan umat-Nya dari dosa. Ia mengatakan, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33).” Ya, Tuhan Yesus telah mengalahkan dunia. Dan karena Ia telah mengalahkan dunia, di dalam Dia, kitapun dapat mengalahkan dunia dan terlepas dari perbudakannya seturut dengan firman-Nya yang berkata:

Ayat - 1 Yohanes 5 4

Dan yang terakhir, Kristus tidak hanya menyelamatkan umat-Nya dari kengerian dosa mereka dan dari pengaruh dunia ini tetapi juga dari kuasa iblis. Rasul Yohanes berkata, “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. (1 Yohanes 3:8). Ya, sebagaimana janji yang Allah nyatakan kepada Adam dan Hawa, Sang Keturunan Hawa, yang adalah Tuhan Yesus Kristus, akan meremukkan kepala iblis sekalipun ia telah meremukkan tumit-Nya (Kejadian 3:15). Tuhan Yesuspun mengutarakan hal ini ketika untuk pertama kali-Nya Ia menampakkan diri kepada Saulus. Ia berkata:

Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain.
Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka,
supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah,
supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa
dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.
(Kisah Para Rasul 26:17-18)

Oh, inilah kabar sukacita bagi kita. Inilah berita kemenangan bagi kita. Ngeri benar kuasa iblis, tak seorangpun dapat bertahan di hadapannya dengan kekuatannya sendiri. Namun, Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, jauh lebih perkasa dibanding mereka. Kuasa-Nya tiada tara bagi mereka. Dialah yang akan membebaskan kita dari cengkramannya. Itulah mengapa di hari Natal yang sebentar lagi akan tiba kita bernyanyi:

God Rest ye Merry, gentlemen

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Itulah yang Tuhan kita, Sang Juruselamat dunia, kerjakan dalam karya penyelamatan-Nya. Ia menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Ia membebaskan mereka dari ikatan dunia yang buta. Ia melepaskan mereka dari perbudakan ilah zaman ini, yakni iblis, si ular tua. Di dalam Dia, Allah menggenapkan secara sepenuhnya apa yang Pemazmur nubuatkan ketika ia berkata “dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.Oh, sungguh benar firman Kristus ketika Ia berkata:

Ayat - Yohanes 8 36

Kini pertanyaannya:

Sudahkah engkau, hai orang yang berjalan di padang belantara, terlepas dari kecemasanmu?
Sudahkah engkau bebas dari ikatan dosa-dosa kesukaanmu?
Sudahkah engkau lepas dari kecanduan akan dunia ini?

Dunia ini mengikatmu dengan pujian-pujiannya.
Dunia ini mengintimidasimu dengan ejekan-ejekannya.
Dunia ini membuat hatimu tawar dengan teror dan ancamannya.
Sudahkah engkau lepas dari perbudakan dunia ini, teman?

Dan sudahkah engkau selamat dari kuasa setan yang menipumu dengan bujuk rayunya?

Jika “tidak”, oh kukatakan padamu:
Tundukkanlah hatimu, berlarilah ke kaki Kristus, dan katakan pada-Nya,
“Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Dan Ia akan menyelamatkanmu. Ia akan membebaskanmu dari kuasa dosa. Ia akan melepaskanmu dari kuasa dunia. Ia akan memerdekakanmu dari perhambaan iblis. Ia akan memberikan hati yang baru, harapan yang baru, dan hidup yang baru. Dan hari yang indah itu tiba padamu, marilah bersama-sama semua orang yang ditebus oleh Sang Anak Domba Allah kita bernyanyi:

Wesley

#Bersambung

1. Jiwa Mereka Lemah Lesu di dalam Diri Mereka

Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara,
jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan;
mereka lapar dan haus,
jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.

 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,
dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.
Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus,
sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya,
karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,
sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga,
dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.

(Mazmur 107:4-9)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kitab Mazmur merupakan kitab yang sangat indah. Di dalamnya, kita menyaksikan realita dari hidup yang setiap manusia jalani di bawah mentari dunia ini. Ya, di dalamnya kita menemukan kenyataan dan kebenaran, tidak seperti apa yang dunia ini tawarkan melalui kisah-kisahnya. Di dalam Mazmur, kita dapat menemukan berbagai jenis perasaan dan luapan hati yang juga kita rasakan setiap hari. Bahkan, kita juga dapat berkata bahwa di dalam Kitab Mazmur, kita dapat melihat diri kita sendiri dengan segala pergumulan dan sukacita yang kita alami di dalam hidup ini. Namun, di atas semua itu, ada satu hal yang paling penting yang membuat Kitab Mazmur menjadi suatu buku yang sangat indah, penting, up to date, dan juga relevan bagi setiap kita, dan itu adalah karena di dalam Kitab Mazmur kita dapat mengenal siapa dan seperti apakah TUHAN itu sebenarnya.

Ya, tidak ada yang lebih penting dari itu. Tidak ada yang lebih penting bagi manusia di dalam hidup ini, terlepas dari apakah ia menyadarinya atau tidak, selain pengenalan akan Allah. Kitab Mazmur, dengan caranya yang sederhana nan indah, memberikan kesaksian tentang ini dengan mengatakan, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Mazmur 84:11)”, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup (Mazmur 63:4)”, dan di bagian yang lain, Mazmur berkata kepada kita:

Ayat Mazmur 19 10-11

Oh, sungguh benar perkataan itu. Firman Allah lebih berharga daripada emas. Firman Allah lebih manis daripada madu. Alangkah baiknya jika setiap orang menyadari hal itu. Alangkah indahnya jika setiap orang memandang firman Allah jauh lebih berharga dibanding apapun yang dunia ini tawarkan. Sungguh alangkah baiknya, jika setiap orang membenarkan apa yang Tuhan kita nyatakan ketika Ia berkata:

Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
(Yohanes 6:63).

Mengapa Firman Allah begitu penting? Tentu saja, karena Firman Allah menunjukkan kepada kita karya dan pribadi Allah. Sama seperti setiap orang menyatakan dirinya kepada orang lain melalui perkataan, Allah memperkenalkan dan menyatakan diri-Nya secara personal kepada manusia melalui Firman-Nya. Tanpa Firman Allah, manusia tidak akan dapat mengenal Allah. Melalui alam, sejarah, dan hati nurani kita memang dapat mengenal Allah namun pengenalan yang demikian hanyalah pengenalan secara umum dan tidak personal mengenai Allah. Pengenalan yang demikian tidaklah membawa seseorang pada keselamatan dan relasi yang intim dengan Allah. Hanyalah penyataan diri Allah melalui firman-Nya, dan yang mencapai puncaknya di dalam Pribadi Sang Firman, yakni Putera-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, yang akan membawa orang-orang pada pengenalan yang personal akan Allah dan pengenalan yang demikian menuntun mereka ke dalam keselamatan. Itulah sebabnya mengapa firman Allah, termasuk Kitab Mazmur, begitu penting bagi manusia, bahkan lebih penting dari apapun yang manusia miliki.

Lawson (5)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Firman Allah lebih berharga daripada harta
Rumah TUHAN lebih indah dari tempat menyenangkan manapun yang ada di dunia
Kasih setia Allah lebih baik daripada hidup

Pengakuan itulah yang akan kita temui di seluruh bagian Kitab Mazmur, tidak terkecuali Mazmur 107. Mazmur 107 merupakan salah satu Mazmur yang paling indah dan yang paling memperkenalkan TUHAN sebagai Allah yang penuh dengan belas kasihan kepada umat manusia yang menderita. Pada bagian mazmur ini, dikisahkan ada banyak orang yang sedang mengembara di suatu padang belantara. Pemazmur tidak memberita tahu kepada kita alasan mengapa orang-orang itu berada di padang belantara tersebut. Pemazmur juga tidak memberikan keterangan sedikitpun tentang asal usul mereka. Apa yang kita tahu hanyalah bahwa orang-orang ini berharap bahwa mereka bisa menemukan suatu kota yang didiami oleh orang-orang namun jalan ke kota tersebut tidak mereka temukan.

Nampaknya, mereka telah berjalan cukup lama. Mereka kehabisan makanan dan minuman sehingga mereka merasa lapar dan haus. Karena mereka berada di tengah-tengah gurun, maka siang hari akan terasa begitu panas dan malam hari akan terasa sangat dingin bagi mereka. Hidup mereka juga terancam oleh para bandit gurun dan binatang buas. Sungguh, suatu keadaan yang berbahaya bagi mereka. Namun, hal yang paling buruk dari semua itu adalah bahwa mereka hanya berjalan berputar-putar. Mereka tidak memiliki arah. Mereka tidak tahu arah. Tidak ada seorang pemandu yang dapat menunjukkan jalan yang benar kepada mereka. Kondisi ini membuat mereka mulai merasa putus asa. Tidak hanya tubuh mereka yang letih, Pemazmur juga mengatakan, jiwa mereka juga lemah lesu di dalam diri mereka. Oh, betapa mengerikannya kondisi yang demikian. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan semua kondisi itu, kehancuran.

Bunyan

Apakah yang Pemazmur hendak ungkapkan di balik gambaran yang begitu menyesakkan hati ini? Tidak dapat diragukan, Pemazmur sedang menggambarkan kondisi dunia ini kepada kita. Pemazmur sedang mengilustrasikan kondisi umat manusia yang mati di dalam dosa dan belum menemukan keselamatan di dalam Allah. Padang belantara di dalam mazmur ini menggambarkan tentang perjalanan hidup manusia, atau yang lebih dalam maknanya dari itu, padang belantara tersebut menggambarkan tentang perjalanan spiritual manusia. Setiap orang, tidak terkecuali siapapun, sedang berada dalam suatu perjalanan spiritual untuk menemukan apa yang Pemazmur gambarkan sebagai “kota tempat kediaman orang”. Kota itulah yang mereka rindukan. Kota itulah yang membuat hidup mereka memiliki arti. Namun, sebagaimana kebenaran yang Tuhan menyatakan melalui sang Pemazmur, inilah kenyataan mengenai setiap orang di dalam perjalanan spiritual mereka:

Mereka hanya berputar-putar
Mereka tidak memiliki arah
Mereka tersesat
Mereka terhilang
Mereka tidak memiliki harapan
Jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan…

Apakah arti dari “kota tempat kediaman orang” ini? Kita tidak dapat menerka secara pasti apakah yang ada di benak Pemazmur ketika ia menggunakan kiasan tersebut. Namun, nampaknya cukup aman jika kita memahami kota tersebut sebagai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah alam, negeri, atau “kota” di mana rajanya adalah Allah dan rakyatnya adalah orang-orang yang Ia tebus. Kerajaan Allah adalah suatu “kota” yang sempurna, ramai, dan sejahtera. Orang-orang kudus ada di sana. Para malaikat ada di sana. Oh, alangkah permainya kota yang indah itu. Di dalamnya, kau akan menemukan kebenaran, kekudusan, keadilan, kedamaian, sukacita, sorak-sorai, kasih, dan hidup selama-lamanya. Di dalamnya, kau akan menemukan segala yang menjadi hasrat jiwamu. Di dalamnya, kau akan mendapatkan apa yang engkau cari selama ini. Di dalamnya, kau akan menemukan Allah.

Ya, kota itulah yang setiap manusia tuju. Terlepas dari apakah manusia menyadarinya atau tidak, jauh di dalam lubuk hati setiap orang, ada kerinduan yang begitu mendalam akan Kerajaan Allah. Terlepas dari apakah manusia mau mengakuinya atau tidak, jiwa mereka merindukan Allah yang bertahta di dalam Kerajaan-Nya. Raja Salomo pernah menyiratkan kebenaran ini ketika ia berkata:

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,
bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
(Pengkhotbah 3:11)

Apakah itu kekekalan? Kekekalan merupakan kata yang sulit didefinisikan. Namun, satu hal yang pasti mengenai kekekalan adalah bahwa kekekalan merupakan sesuatu yang tidak ada batasnya. Dengan kata lain, di dalam hati setiap orang, Allah telah menciptakan suatu “rongga tidak terbatas”. Jika manusia hendak menemukan kepuasan, keutuhan, arti, dan tujuan di dalam hidup mereka, rongga tersebut harus dapat terisi penuh. Apabila ruang itu tidak terpenuhi dengan sempurna, manusia akan selalu merasa kekurangan di dalam hati mereka sekalipun mereka tidak selalu dapat menyadari apa yang kurang di dalam hidup mereka. Namun, kini pertanyaannya adalah: apakah yang sanggup mengisi rongga yang tidak berbatas itu? Hanya satu jawabannya, yaitu Allah dan Kerajaan-Nya. Tentu saja, apa yang tidak terbatas hanya dapat diisi oleh Yang Tidak Terbatas. C.S. Lewis dengan sangat bijaksana membahasakannya sebagai berikut:

Lewis

Augustine, juga mengutarakan hal yang sama:

Augustine

Namun, seperti kata firman Allah, “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).” Dosa mengakibatkan manusia kehilangan kemuliaan Allah. Dosa mengakibatkan manusia kehilangan kekudusan Allah yang merupakan syarat mutlak untuk dapat bersekutu dengan-Nya. Tanpa kemuliaan dan kekudusan Allah tersebut, manusia tidak dapat bersatu dengan Allah dan tidak dapat menjadi warga dari Kerajaan-Nya. Kerajaan Allah menjadi sesuatu yang sangat asing bagi manusia. Sekalipun jauh di dalam lubuk hati mereka mereka sangat merindukan “kota” itu, mereka tidak dapat melihatnya, merasakannya, menemukannya, bahkan mengenalnya pun tidak.

Alhasil, manusia berusaha mengisi rongga kekekalan yang ada di dalam hati mereka tersebut dengan sesuatu yang tidak akan pernah mampu memenuhinya. Hanya kebenaran yang dapat memenuhi kekekalan manusia tetapi mereka berusaha menggantinya dengan komik, game, drama, sandiwara, imajinasi, dan khayalan. Hanya kasih yang sejati yang dapat mengisi rongga yang tidak terbatas itu tetapi mereka berusaha mengisinya dengan hawa nafsu dan cinta akan diri sendiri. Demi mendapatkan kepuasan hidup, manusia berlari kepada harta, seks, dan hiburan-hiburan dunia. Demi menemukan keutuhan hidup, mereka bergantung pada pekerjaan, gelar, prestasi, pasangan hidup, dan keluarga. Karir yang baik, nama yang harum, pengakuan dunia, dan keluarga yang bahagia mereka samakan dengan arti dan tujuan hidup mereka. Mereka menciptakan, melakukan, dan membenarkan berbagai macam cara, bahkan segala cara, agar mereka dapat mengisi hati mereka hingga utuh sepenuhnya.

Apakah mereka berhasil? Apakah mereka akhirnya menemukan kepuasan dan keutuhan itu di dalam hidup mereka? Apakah semua itu memberikan arti dan tujuan bagi hidup mereka? Hanya ada satu jawabannya dan jawabannya adalah sesuatu yang pasti, TIDAK. Semua itu tidak berhasil. Semua itu tidak pernah berhasil. Semua itu tidak akan pernah berhasil. Tahukah engkau mengapa semua itu tidak akan pernah berhasil? Semua itu tidak akan pernah berhasil sebab semua itu tidak benar.

Lewis

Itulah kenyataan mengenai dunia ini. Itulah kenyataan mengenai orang-orang yang mengikuti jalan dunia ini. Di permukaan, mereka mungkin terlihat pasti dan penuh kepercayaan diri, tetapi mereka tidak memiliki arah dan tujuan. Mereka berusaha keras untuk meyakinkan diri mereka bahwa mereka sedang berada di jalan yang benar.  Mereka senang sekali membuai diri mereka dengan positive thinking, optimisme, dan berkata dalam hati mereka, “Aku tahu aku sedang berjalan menuju kota yang kuidam-idamkan selama ini.” Namun, mereka hanya menipu diri mereka sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi adalah mereka hanya berputar-putar di padang belantara rohani mereka. Lebih buruk dari itu, mereka bahkan tidak mengetahui identitas sebenarnya dari kota tersebut. Mereka hanya menciptakan kota khayalan mereka sendiri tetapi kota itu tidak memberikan kelegaan pada jiwa mereka. Alhasil, mereka meninggalkan kota khayalan yang satu dan pergi ke kota khayalan yang lain. Demikianlah mereka terus berputar-putar tanpa pernah menemukan ujung.

Panas terik dunia menyengat hati mereka. Dinginnya padang gurun membekukan jiwa mereka. Mereka lapar akan kebenaran tetapi kebenaran tidak ada pada mereka. Mereka haus akan kasih sayang tetapi kasih yang sejati tidak mereka rasakan. Jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. Semangat mereka patah. Mereka bosan. Mereka tersesat. Mereka tidak bahagia. Mereka menderita. Mereka tidak memiliki pengharapan.

MLJ

Itulah yang digambarkan oleh Pemazmur kepada setiap kita. Itulah analisis yang Pemazmur buat mengenai dunia dan zaman ini. Pemazmur hendak mengingatkan kita bahwa itulah yang pasti akan terjadi di dalam hidup setiap orang yang berjalan tanpa Allah dan tidak mengenal-Nya. Itulah dampak dari hubungan yang rusak antara manusia dengan Allahnya. Ketiadaan sukacita dan ketidakjelasan arah hidup merupakan hukuman yang Allah jatuhkan kepada setiap orang yang mengabaikan-Nya. Dan, kabar buruk yang harus setiap orang sadari adalah ini: yaitu bahwa firman Tuhan berkata mengenai setiap insan di dunia ini:

“Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”
(Roma 3:10-12)

“Tidak ada… Tidak seorangpun” Itulah kebenaran mengenai aku dan engkau, teman. Secara kodrat, tidak ada satupun di antara kita yang benar. Tidak seorangpun di antara kita yang berakal budi. Kita tidak mencari Allah. Kita telah menyeleweng. Kita tidak berguna. Tidak ada seorangpun yang berbuat baik. Oh, secara kodrat, kita adalah orang-orang yang tersesat di padang belantara itu. Secara kodrat, kita semua adalah manusia yang celaka sebab kita tidak mencari Allah dengan segenap hati dan murka-Nya telah siap sedia bagi kita semua, orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Namun, terpujilah Tuhan, sebab manusia yang celaka ini masih memiliki pengharapan. Pengharapan itu tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang pernah Nabi Habakuk utarakan di dalam doanya:

Ayat - Habakuk 3 2

dalam murka, ingatlah akan kasih sayang
Ya, itulah jalan yang tersisa bagi umat manusia yang celaka. Itulah satu-satunya pengharapan yang ada bagi umat manusia. Doa ini bukanlah doa yang Habakuk panjatkan dengan tidak berdasar. Habakuk berani memohon agar TUHAN ingat akan kasih sayang karena ia tahu bahwa TUHAN adalah Allah yang ingat akan kasih sayang sekalipun Ia sedang murka. Dan walaupun di dalam murka-Nya Ia menghukum orang-orang yang meninggalkan-Nya dan membuat mereka tidak bersukacita dan tidak memiliki arah hidup, di dalam itupun Ia sedang berbelaskasihan kepada mereka.

Mengapa kita bisa mengatakan demikian? Mengapa hukuman TUHAN itu dapat kita pandang sebagai tindakan belas kasih Allah kepada orang-orang yang Ia hukum? Sebab justru melalui dukacita dan kebingungan yang demikian, Allah hendak mengingatkan umat manusia untuk memohon pertolongan dari-Nya. Coba bayangkanlah apa yang akan terjadi apabila di dalam murka-Nya Allah selalu membiarkan seluruh pendosa untuk hidup tenang dan bahagia! Tentu saja, mereka tidak akan pernah sadar konsekuensi dari dosa. Mereka tidak akan menyadari bahwa mereka teramat sangat membutuhkan Juruselamat yang akan menyelamatkan mereka dari murka Allah. Dan jika mereka tidak pernah disadarkan akan hal itu, maka seluruh umat manusia akan binasa.

Tetapi terpujilah Allah sebab Ia tidak bekerja demikian. Ia menghukum orang-orang berdosa di dunia ini tetapi di dalam semua itu Ia menghendaki agar mereka sadar bahwa mereka membutuhkan Dia. Ia bekerja melalui dukacita, kegagalan, kebingungan, bahkan melalui kekuatiran untuk membuat orang-orang berdosa ingat akan Dia dan memohon kemurahan-Nya. Dan jika manusia, sekalipun ia telah melakukan dosa yang begitu besar dan begitu jahat, mau merendahkan hati, bertobat, dan berseru-seru memohon belas kasihan TUHAN, maka Ia pasti akan menolong orang itu. PASTI. Aku tahu, PASTI Ia akan menolong dan mengampuni.

Mengapa aku tahu?
Karena di dalam murka sekalipun, Ia ingat akan kasih sayang…
(Habakuk 3:2)

Mengapa?
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…
(Yohanes 3:16)

Mengapa?
Karena Ia lebih dahulu mengasihi kita…
(1 Yohanes 4:19)

Mengapa?
Karena Allah adalah kasih.
(1 Yohanes 4:8)

Spurgeon (2)

Dan inilah yang juga terjadi pada orang-orang tersesat yang Pemazmur ceritakan itu:

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka,
dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Buluh

Oh, betapa baiknya TUHAN itu. Ia adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan. Buluh yang patah terkulai tidak diputuskan-Nya, sumbu yang pudar nyalanya tidak dipadamkan-Nya. Ia menolong mereka yang tidak sanggup menolong dirinya sendiri. Ia mengampuni setiap orang yang memohon pengampunan-Nya. Barangsiapa datang kepada-Nya dengan rendah hati untuk memohon pengampunan akan Ia terima dan Ia perlakukan seolah-olah ia tidak pernah melakukan dosa sedikitpun. Seluruh bagian Alkitab, mulai dari awal hingga akhir, memberikan kesaksian tentang itu.

Daud mengutarakannya:
Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.
(Mazmur 86:5)

Penulis Kitab Tawarikh menulis perkataan-Nya:
dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini.
(2 Tawarikh 7:14-15)

Pemazmur dalam nyanyian ziarah bersaksi:

Ayat - Pengampunan

Yesaya menyatakannya:
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
(Yesaya 55:7)

Yeremia menjadi penyambung lidah-Nya:
Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,

Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu…
(Yeremia 29:12-14)

Mikha mengungkapkannya:
Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?
(Mikha 7:18)

Yohanes juga memberitakannya:
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1 Yohanes 1:9)

Oh, alangkah baik dan indahnya Dia. Biarlah ini menjadi kepastian yang memberikan pengharapan dan kekuatan bagi seluruh umat manusia, yang hidupnya telah dihancurleburkan oleh dosa, yaitu bahwa TUHAN adalah Allah yang baik, penuh belas kasihan, setia, kaya akan rahmat, dan adalah kasih. Jauh sebelum seseorang mengasihi-Nya, Ia terlebih dahulu mengasihi manusia (1 Yohanes 4:19). Jauh sebelum seseorang berseru-seru kepada-Nya, Ia sudah bersiap sedia untuk menolongnya. Dan ketika Ia menyelamatkan, Pemazmur mengatakan bahwa inilah yang akan Ia lakukan:

1) Ia akan melepaskan mereka dari kecemasan mereka
2) Ia akan membawa mereka menempuh jalan yang lurus
3) Ia akan memuaskan jiwa yang dahaga, jiwa yang lapar akan Ia kenyangkan dengan kebaikan

Ya, Allah selalu melakukan ketiga hal tersebut setiap kali Ia menyelamatkan seseorang dari kegelapan. Apakah maksud dari ketiga tindakan Allah tersebut? Kita akan menyelaminya di kesempatan berikutnya. Tetapi untuk kesempatan kali ini, biarlah kita menutupnya dengan suatu pengakuan iman yang teguh yang juga pernah diserukan oleh Nabi Mikha:

Ayat - Mikha 7 8

dan biarlah kita, bersama-sama dengan James Rowe, bernyanyi:

I was sinking deep in sin, far from the peaceful shore,
Very deeply stained within, sinking to rise no more,
But the Master of the sea heard my despairing cry,
From the waters lifted me, now safe am I.

Love lifted me!
Love lifted me!
When nothing else could help,
Love lifted me!

#Bersambung

Untuk Melihat Wajah dan Kemuliaan Allah

Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.”

Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?”

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.” Tetapi jawabnya:

Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.”

Tetapi firman-Nya: “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” Lagi firman-Nya:

Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku,
sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”

Berfirmanlah TUHAN:

“Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat…

Ayat - Lekuk Gunung

dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.”

(Keluaran 33:15-23)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Betapa indahnya kisah itu, ya TUHAN…

Di sepanjang Perjanjian Lama, Allah menampakkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai cara dan rupa. Di antara banyak kejadian yang dapat diselidiki, beberapa contoh yang cukup familiar bagi kita adalah ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre (Kejadian 18) sebelum Ia membinasakan Sodom dan Gomora, ketika Ia bergulat dengan Yakub di seberang sungai Yabok (Kejadian 32:22-32), ketika Ia bertemu dengan Gideon di dekat pohon tarbantin di Ofra (Hakim-hakim 6), ketika Ia dan para seraphim-Nya menampakkan diri pada Yesaya (Yesaya 6), dan ketika Ia menyertai Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (Daniel 2). Semua itu merupakan kejadian yang unik dan sangat luar biasa. Namun, ada satu keunikan yang hanya dapat ditemukan dalam peristiwa Musa melihat kemuliaan Allah. Keunikan apakah itu?

Di dalam kelima peristiwa yang telah disebutkan, Allah dapat dilihat dengan mata telanjang. Dan dalam kasus Yakub, Ia bahkan mungkin dapat dipukul dan dikunci oleh Yakub sebab Yakub bergulat dengan-Nya. Namun, ketika Musa mengutarakan keinginannya untuk melihat kemuliaan-Nya, Allah berkata,

Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku,
sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.

Apa? Siapakah Ia yang berkata-kata dengan Musa itu? Mengapa respon-Nya kepada Musa berbeda dengan respon-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang lain? Mengapa Abraham, Yakub, Gideon, Yesaya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dapat melihat Dia namun Musa tidak?

Satu jawaban yang kupercaya:
Abraham, Yakub, Gideon, Yesaya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berhadapan dengan Tuhan Yesus Kristus dalam rupa-Nya yang belum berinkarnasi,
sementara Musa berhadapan dengan Allah Bapa.
(Yohanes 6:46)

Menyadari hal itu saja cukup untuk membuat tubuh ini gemetar. Musa berhadapan dengan Allah Bapa. Musa berbicara dengan Allah yang Mahatinggi, tidakkah itu sungguh istimewa? Oh, itu sungguh tak terkatakan. Musapun mengajukan satu permintaan, yaitu permintaan yang juga merupakan hasrat terdalam bagi setiap orang yang percaya, yaitu melihat kemuliaan Allah.

Namun Allah berkata kepada Musa bahwa ia tidak dapat melihat wajah-Nya dan tetap hidup. Jikalau Musa melihat-Nya, maka Musa pasti akan mati. Lalu, apakah yang Allah lakukan untuk Musa? Pada akhirnya, sebagai ganti permintaannya, Allah memanggil Musa untuk berdiri di dekat-Nya, yaitu di atas GUNUNG BATU, kemudian Allah dengan seluruh kemuliaan-Nya akan melewati Musa. Selama Allah berjalan di depan Musa, Ia menempatkan Musa di LEKUK GUNUNG itu sehingga Musa dapat berlindung sembari Ia menundunginya dengan tangan-Nya. Setelah Ia melewati Musa, Allah menarik tangan-Nya sehingga Musa dapat melihat bagian belakang-Nya sampai seluruh keagungan-Nya lewat.

Demikianlah Musa menerima anugerah dan kehormatan dari Allah untuk dapat melihat sebagian kecil dari kemuliaan-Nya. Ah, betapa megah dan indahnya pengalaman Musa itu. Namun, ada satu firman Allah yang perlu kita perhatikan:

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah,
yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
(Yohanes 1:18)

Firman ini menegaskan bahwa sebaik apapun kehidupan yang Musa jalani dan setinggi apapun jabatan yang ia miliki di dalam jemaat Allah, itu tidak akan pernah cukup untuk membuat Musa melihat Allah. Tidak hanya Musa, dengan kesucian, kekuatan, hikmat, dan kehendaknya sendiri, tak satupun manusia dapat melihat Allah. Lalu, bagaimanakah jalan agar manusia dapat melihat Allah? Hanya ada satu jalan, yaitu apabila Allah sendiri yang memperlihatkan diri-Nya kepada orang itu. Dan lebih dalam dari itu, sebagaimana firman-Nya melalui Yohanes, Allah hanya akan menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui Anak Tunggal Allah. Dan ini berarti bahwa pada saat Musa berhadapan dengan Allah di atas gunung itu, Tuhan Yesus Kristuspun ada di sana untuk menyatakan Bapa kepada Musa. Ya, aku percaya, Tuhan Yesus berdiri menyertai Musa dan menguatkannya untuk teguh berdiri di hadapan kemuliaan dan kekudusan Allah yang membinasakan.

Dan di sini kita dapat melihat sebuah latar yang istimewa. Kita mengerti bahwa peristiwa ini benar-benar pernah terjadi di atas muka bumi sekitar 3500 tahun yang lalu. Kita tahu bahwa semua ini adalah fakta dan sejarah. Namun, di dalam hikmat dan pengertian yang Roh Kudus karuniakan kepada kita di dalam Injil Kristus dan terang Perjanjian Baru, kita dapat melihat sesuatu yang lain di dalam peristiwa ini. Kita tidak hanya melihat fakta atau sejarah di dalam kejadian ini tetapi kita juga dapat melihat sebuah gambar yang tersembunyi di baliknya. Gambar apakah yang dimaksud? Tentu saja, gambar dari Yesus Kristus, Gembala dan Juruselamat kita. Tidak diragukan lagi, Tuhan kita menyatakan diri-Nya di dalam peristiwa itu.

Dapatkah kau melihat-Nya?
Dengan apakah Ia menyatakan diri-Nya?
Dengan apakah Ia dapat kita kenali?

Di manakah Dia berada?
Di manakah Dia bersembunyi?
Di manakah Ia di dalam peristiwa yang agung ini?

Oh, tidakkah kau dapat melihat-Nya?
Dialah Gunung Batu itu.

Ya, Dialah Gunung Batu yang di atasnya Musa berdiri.
Dan lekuk gunung tempat Musa berlindung itu, itulah bilur-bilur-Nya.

Ayat - Samuel

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya, Yesus Kristus, Tuhan kita, Dialah Gunung Batu yang kokoh dan mulia, yang di atas-Nya Musa berdiri untuk bertemu dengan Allah. Roh Kudus berkata melalui Yohanes bahwa tidak seorangpun pernah melihat Bapa tetapi Kristus yang ada di pangkuan-Nya, Dialah yang akan menyatakan Bapa kepada kita (Yohanes 1:18). Tidak hanya itu, Tuhan kita sendiripun pernah mengatakan hal yang sungguh luar biasa:

Ayat - Matius 11

Ya, tidak ada satu orangpun, tidak peduli siapa dia, yang dapat mengenal Allah kecuali apabila Kristus dengan penuh anugerah dan belas kasihan memperkenalkan Bapa-Nya kepada orang itu. Musa tidak dapat bertemu dengan Allah di sembarang tempat, Allah sendiri yang memanggil Musa untuk datang ke gunung batu yang ada di dekat-Nya itu dan berdiri di atasnya. Sama dengan itu, kau dan aku tidak dapat bertemu dengan Allah di manapun yang kita mau. Kita tidak dapat melihat Allah dengan cara-cara kita sendiri. Kita tidak dapat mengenal-Nya dengan pemikiran kita sendiri. Mungkin ada banyak jalan menuju Roma, dan kukatakan ini: ada jauh lebih banyak jalan menuju maut, namun hanya ada satu jalan munuju Allah.

Hanya ada satu Gunung Batu yang di atas-Nya kita dapat berdiri teguh dan berhadapan dengan Allah. Hanya ada satu Jalan yang dengan melangkah di atas-Nya kita dapat mendekat dan sampai kepada Bapa. Hanya ada satu Kebenaran yang dengan mengenal-Nya kita akan mengenal dan mengerti Bapa. Hanya ada satu Kehidupan yang dengan tinggal di dalam-Nya kita akan hidup dengan Bapa. Pertanyaannya, siapakah Dia? Siapakah Jalan dan Kebenaran dan Hidup itu? Oh, Dialah Yesus Kristus yang pernah berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).

Tetapi tidak hanya itu, Musa tidak hanya perlu berdiri di atas gunung itu. Jika ia tetap berdiri di sana tanpa perlindungan, maka kemuliaan Allah tetap akan membinasakannya. Jadi, apakah yang Musa butuhkan? Musa membutuhkan adanya retakan pada gunung batu itu sehingga ia dapat bersembunyi dan berlindung di dalamnya. Dengan kata lain, gunung itu harus mengalami peretakan terlebih dahulu sehingga Musa dapat berteduh dengan aman dari kemuliaan-Nya. Tidakkah ini menjadi gambar yang luar biasa mengenai keindahan Injil Kristus? Tentu saja. Sebagaimana gunung batu tempat Musa berdiri merupakan gambar dari Kristus, lekuk gunung itu menggambarkan bilur-bilur-Nya.

Ingatkah engkau dengan peristiwa di malam sebelum Kristus menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan? Apakah yang Ia lakukan malam itu? Ia memecah-mecahkan roti kemudian berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu.” (Lukas 22:19). Ya, tubuh Tuhan kita dipecah-pecahkan untuk kita. Ia dibelenggu, dihantam, dicabik, dipaku, bahkan ditikam untuk kita. Untuk apakah semuanya itu? Hanya ada satu jawabannya, untuk menjadi “lekuk gunung batu” bagi kita. Jika gunung batu itu tidak retak, maka tidak ada tempat berlindung bagi Musa. Sama dengan itu, jika Juruselamat kita tidak menderita bagi kita, tidak ada pengharapan dan keselamatan bagi kita. Lekuk gunung batu, itulah tempat perteduhan Musa. Bilur-bilur Tuhan kita, itulah yang menyelamatkan kita, sebagaimana firman-Nya:

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,
padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,
tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
(Yesaya 53:4-6)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mengapa Kristus rela menyerahkan diri-Nya untuk kita? Mengapa Ia bersedia dipecah-pecahkan bagi kita? Hal hebat apakah yang telah kita lakukan untuk-Nya sehingga Ia rela menderita bagi kita? Hal istimewa apakah yang kita miliki sehingga Ia bersedia mati bagi kita? Tidak ada. Tidak satu pun.

Apakah yang Ia tuntut dari kita? Bukankah untuk berjalan bersama-Nya dengan rendah hati (Mikha 6:8)? Tetapi kita terlalu sombong dengan hikmat dan kehendak kita sendiri. Apakah yang Ia inginkan dari kita? Bukankah untuk mengenal-Nya secara pribadi (Hosea 6:6)? Tetapi bukan itu yang kita lakukan. Kita tidak ingin mengenal-Nya secara pribadi, kita hanya mau dikenal orang. Kita tidak mau mengerti Dia, kita hanya mau dimengerti oleh orang lain. Apakah yang Ia minta dari kita (Ulangan 6:5)? Bukankah untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati kita? Tetapi tidak, kita terlalu mencintai diri kita sendiri. Tidakkah engkau menyadari semua itu? Ia hanya mau hati kita. Apakah itu terlalu berat? Apakah itu terlalu egois? Salah apakah Dia terhadap kita sampai-sampai kita berontak terhadap-Nya? Lihat, tidak ada seorang rajapun di dunia ini yang hatinya begitu disakiti oleh umatnya, selain Raja di atas segala raja. Tidakkah kita sadar akan hal itu? Tidakkah itu membuat hati kita remuk?

Oh, tetapi lihatlah kasih setia-Nya. Sekalipun kita selalu membebani hati-Nya dengan duka, sekalipun kita menyakiti hati-Nya hari demi hari, Ia tidak dapat menyangkal hati-Nya sendiri. Ia ingat bahwa kita adalah domba-domba-Nya dan kita tersesat. Ia sadar bahwa tidak ada gembala lain selain diri-Nya. Dan di dalam kekekalan, Ia melihat kita. Ia melihat kita saling menghancurkan. Ia melihat kita menghancurkan diri kita sendiri dengan dosa-dosa kita. Dan Ia tidak dapat tinggal diam melihat semua itu. Sama seperti seorang Samaria yang iba melihat seorang yang hampir mati karena dirampok dan dihajar oleh para penyamun (Lukas 10:25-37), hati-Nya tergerak oleh belas kasihan melihat kita. Iapun datang ke dunia yang gelap dan fana ini untuk mencari dan menyelamatkan kita, domba-domba-Nya yang hilang (Lukas 19:10). Itulah Tuhan yang sejati. Itulah Tuhan kita. Firman-Nya berkata, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mazmur 136:1). Sungguh, tidak ada dusta di dalam firman-Nya.

156012_740753429322653_7772155005438022803_n

Dialah Tuhan yang menjadi Gunung Batu bagi kita. Dialah Gembala yang baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, domba-domba-Nya (Yohanes 10:11). Dialah Juruselamat, yang memberikan tubuh-Nya untuk dihancurkan demi menanggung murka Allah dan menebus kita dari dosa. Dan Ia menjadikan bilur-bilur-Nya menjadi sumber kesembuhan, perlindungan, dan hidup bagi kita.

Dan ketahuilah satu hal, yaitu keindahan Perjanjian Baru dibanding Perjanjian Lama. Musa adalah pemimpin tertinggi umat Allah dalam masa Perjanjian Lama tetapi sekalipun demikian, ia tidak mengenal Allah sebagai Bapanya, Ia tidak mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, Ia memang bersama-sama dengan Roh Kudus tetapi Roh tidak tinggal di dalamnya. Tidaklah demikian dengan kita. Kita mengetahui jauh lebih banyak hal dibanding Musa. Kita melihat rancangan penyelamatan Allah jauh lebih jelas dibanding Musa. Kita mengenal Allah sebagai Bapa kita, kita mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, dan Roh Kudus tidak hanya bersama-sama dengan kita, Ia tinggal di dalam diri kita (Yohanes 14:17; Roma 8:9; 1 Korintus 3:16).

Dan tidak hanya itu.
Musa berlindung dalam lekuk gunung batu tetapi ia tetap tidak dapat melihat wajah Allah.

Tidaklah demikian dengan kita, umat Perjanjian Baru.
Kita berlindung pada bilur-bilur Tuhan kita dan tentu saja, kita dapat melihat wajah Allah.

Ya.
Kita dapat melihat wajah-Nya.
Kita melihat kemuliaan-Nya.
Tahukah kau mengapa?
Sebab Tuhan Yesus sendiri pernah berkata:

Ayat - Yohanes 14 9

Tidakkah itu luar biasa?
Melihat wajah dan kemuliaan Allah melalui Kristus,
apakah yang lebih indah daripada itu? Tidak ada.

Kini pertanyaannya:
Sudahkah kau memandang kemuliaan-Nya?
Sudahkah kau melihat wajah Bapa?

Sudahkah kau berdiri di atas Gunung Batu Keselamatan, yaitu Kristus Yesus?
Sudahkah bilur-bilur-Nya menjadi tempat kedamaian dan perlindungan bagimu?

Jika “belum”, izinkanlah kukatakan ini padamu:
Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.

Maka Ia akan menjadi Gunung Batumu dan di atas-Nya kau akan berdiri teguh.
Ia akan melindungimu di dalam bilur-bilur-Nya.
Dan dari dalam-Nya, kau akan melihat wajah dan kemuliaan Allah.

dan kaupun akan bersorak dan bernyanyi:

Rock of Ages

Amin

4) Sudahkah Kau Berada dalam Bahtera Kristus?

A

Aku punya pertanyaan untuk kita semua jawab saat ini:
Sudahkah kau berada di dalam Bahtera Kristus?

Kebanyakan dari kita mungkin akan menjawab seperti ini:
Tentu saja, sebab aku sudah MENERIMA Kristus.

Hmm… Pernyataan itu merupakan pernyataan yang halus namun banyak di antara kita yang tidak menyadari bahaya tersembunyi yang terkandung di dalamnya. Biar kutegaskan maksudku dengan mengajukan satu pertanyaan lanjutan kepada kita semua:

Okelah kau sudah menerima Kristus. Lalu, menerima Dia sebagai apa?
Apakah kau menerima Dia sebagaimana keinginanmu?
Apakah kau menerima Dia sebagaimana kata orang kepadamu?
Apakah kau menerima Dia sebagaimana pikiran-pikiranmu sendiri?
Kau menerima Dia sebagai apa?”

Di dalam kehidupan orang Kristen yang sejati, mengatakan “Aku sudah menerima Kristus” saja tidak cukup. Pernyataan itu sama sekali belum mencerminkan apa arti Kristus di dalam kehidupannya. Ia mungkin mengaku telah menerima Kristus di dalam hatinya namun bisa saja ia menerima Kristus sebagai tamu tak diundang, sebagai orang asing yang tidak berhak mengubah hidupnya, atau yang lebih buruk dari itu, sebagai Kristus yang berbeda dari Kristus yang ada di Alkitab.

Ketika seseorang diselamatkan dan mengalami mujizat lahir baru, ia menjadi hidup kembali. Maksudku adalah ia menjadi benar-benar hidup. Mata rohaninya yang sebelumnya tertutup kini telah terbuka sehingga ia memandang Kristus dengan pandangan yang sepenuhnya baru. Sebelumnya, ia mengakui Kristus sebagai Tuhan hanya dengan pengetahuan intelektualnya, tidak lebih. Namun, setelah ia terlahir kembali, ia menyadari keindahan Kristus dan Kristus menjadi harta yang paling berharga di dalam hidupnya. Ia memiliki hubungan dan rasa cinta yang baru terhadap Kristus. Di dalam hatinya, ia akan berkata, “Ternyata seindah inilah rasanya memiliki Tuhan dan dimiliki oleh Tuhan.” Ia tidak hanya akan mengatakan, “Aku sudah menerima Kristus.” Ia akan berkata, “Aku sudah menerima Kristus sebagaimana Dia menyatakan diri-Nya di dalam firman Allah.”

Lalu, bagaimanakah firman Allah memberikan kesaksian tentang Kristus?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kristus adalah Roti Hidup (Yohanes 6:51). Ia mengisi hati umat-Nya. Ia mengenyangkan jiwa domba-domba-Nya. Ia memuaskan anak-anak-Nya sehingga mereka tidak lagi bergantung pada dunia untuk menemukan arti sukacita.

Sudahkah kau memandang Tuhan kita sebagai Roti di dalam hidupmu dan sudahkah Ia menjadi makananmu setiap hari? Sudahkah Kristus memuaskan rasa lapar bagi jiwamu sehingga kau tidak lagi merasa perlu menerima makanan kotor yang dunia sediakan? Ataukah kau merasa dirimu sudah menerima-Nya namun ternyata kau masih mengais-ngais mencari makanan untuk hatimu di dalam setiap hal dan hiburan yang dunia tawarkan padamu? Masihkah kau berlibur kesana kemari, membeli ini dan itu, berganti-ganti hobi, menonton film ini dan itu untuk mengisi ruang di dalam hatimu?

Rajawali

Kristus adalah Terang Dunia (Yohanes 8:21). Ia menerangi hidup orang-orang yang mengasihi-Nya. Ia menuntun jalan setiap orang yang percaya pada-Nya. Hukum-Nya terukir di dalam hati mereka. Pengetahuan, hikmat, dan kebijaksanaan Ia berikan kepada mereka yang takut akan Dia.

Sudahkah Kristus menjadi terang di dalam hidupmu? Sudahkah firman-Nya menjadi pelita bagi kakimu? Sudahkah hukum-Nya menjadi kecintaan bagi jiwamu? Ataukah kau meyakini dirimu sudah menerima Dia namun ternyata kau masih berada di dalam kegelapan dan kau masih malas membaca, mendengarkan, dan merenungkan setiap firman-Nya? Masihkah kau menjadikan hikmat-hikmat dunia sebagai terang di dalam hidupmu?

10365603_10153417611779240_1710477875665808147_o

Kristus adalah Bahtera Keselamatan yang sejati. Ia menyelamatkan umat-Nya dari murka Allah. Ia menyelamatkan mereka dari kuasa perbudakan dosa. Ia menyelamatkan mereka dari cara hidup yang jahat. Ia menjaga hati mempelai-Nya dari kuasa iblis. Ia berjaga di gerbang hati mereka layaknya seorang prajurit. Ia adalah pintu yang tertutup untuk keselamatan domba-domba-Nya, tidak akan Ia biarkan satupun dari mereka keluar dari-Nya dan terhilang kembali.

Sudahkah kau menerima undangan-Nya untuk masuk ke dalam Dia, berlindung, dan bersekutu dengan-Nya? Sudahkah keyakinan itu ditandai dengan hidup yang penuh dengan doa dan penyerahan hidup total di hadapan Allah? Sudahkah kau mengakui ketidakberdayaanmu dan Ia menjadi satu-satunya sumber pertolongan dan keamanan bagimu? Ataukah kau masih merasa bahwa kau adalah bahtera itu sehingga kau selalu berlindung di balik kuasa, kepintaran, nama baik, dan sumber daya yang kau miliki sementara Tuhan tidak pernah benar-benar menjadi tempat pertolongan bagimu? Ingatlah, firman Tuhan berkata bahwa mereka yang mengandalkan kekuatannya sendiri adalah orang-orang yang terkutuk (Yeremia 17:5).

10246750_10151998904101286_613080069766543609_n

Kristus adalah Nuh yang sempurna. Ia bukan semata-mata Bahtera Keselamatan, Ia jugalah yang membangun dan mengerjakan keselamatan itu sebagai “Nuh yang Sempurna”. Ketika di atas salib Ia mengatakan “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30), Ia sedang menyatakan kepada seluruh umat manusia bahwa bahtera keselamatan itu sudah selesai Ia bangun. Tidak ada seorangpun dapat menambah-nambahkan syarat, tanda-tanda, atau pekerjaan lain untuk menyempurnakan keselamatan yang telah Ia sediakan itu. Kini, apa yang perlu kau dan aku lakukan adalah percaya pada-Nya dan pada apa yang telah Ia kerjakan. Marilah kita meninggalkan tempat di mana kita berada, menerima undangan-Nya, masuk ke dalam Dia, dan berserah penuh pada-Nya untuk pengampunan dosa dan keselamatan kita.

Sudahkah Ia menjadi Nuh yang sejati di dalam hidupmu? Sudahkah Ia menjadi Juruselamat di dalam hatimu? Ataukah kau masih merasa bahwa kaulah Nuh di dalam hidupmu sehingga kau menempatkan diri sebagai juruselamat untuk dirimu sendiri? Apakah kau masih berusaha sekeras dan sesempurna mungkin untuk berbuat baik dan melayani Tuhan sebab kau merasa bahwa dengan demikian Ia akan lebih mengasihimu, menerimamu, dan mungkin akan memandangmu cukup layak untuk Ia selamatkan?

Ingatlah satu hal, yakni keselamatan bukanlah tentang siapa dirimu saat ini, siapa dirimu kelak, apa yang kau rasakan, apa yang kau pikirkan, atau apa yang AKAN kau kerjakan untuk-Nya melainkan tentang siapa Kristus serta apa yang TELAH dan SEDANG Ia kerjakan untukmu.

10548067_10152823455892866_3114912986789948647_o

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saudara-saudariku yang terkasih, ketahuilah:

Christ is infinitely enough…

Kau tidak perlu lagi menaruh beban berat di pundakmu dan berusaha keras melakukan ini itu untuk membuat hati Allah tergerak dan menyelamatkanmu. Kuberi tahu kau satu hal: Kau tidak akan pernah bisa melakukan apapun yang menjadikanmu cukup baik atau cukup layak untuk diselamatkan. Kau bukan juruselamat. Kau tidak akan pernah bisa menjadi juruselamat bagi dirimu sendiri. Hanya Kristus yang bisa melakukan semua itu sebab hanya Dia yang tidak berdosa dan hanya Dia yang berkenan di mata Allah Bapa. Oleh sebab itu, apa yang harus kau dan aku lakukan bukanlah berusaha mengejar perkenanan hati Tuhan dengan cara-cara kita sendiri, melainkan memohon pengampunan dosa dan belas kasihan dari Allah, percaya dan berlari kepada Kristus, dan berlindung di bawah kepak sayap-Nya.

Dia sudah melakukan apa yang perlu untuk keselamatanku dan keselamatanmu. Dia cukup untuk keselamatanku dan keselamatanmu. Karya-Nya sempurna, tak seorangpun perlu “membantu” Dia untuk menyelamatkan siapapun. Terimalah undangan agung-Nya dan datanglah kepada-Nya. Percayalah pada-Nya dan bertobatlah. Mari kita mempercayakan seluruh hidup kita di dalam tangan-Nya. Biarlah kita ada di dalam Dia dan Dia ada di dalam kita. Itulah satu-satunya cara untuk dibenarkan di hadapan Allah dan diperdamaikan dengan-Nya. Tetapi tidak hanya sampai di situ, keselamatan dalam Kristus tidak hanya sampai pada titik di mana Allah diperdamaikan dengan umat-Nya tetapi lebih jauh dari itu, keselamatan di dalam Kristus menjadikan umat tebusan-Nya menjadi anak-anak-Nya sendiri (Yohanes 1:12).

IMG_570202785931964

Christ is absolutely better…

Kristus tidak hanya menyelamatkan kita dari penghukuman Allah, Kristus juga menyelamatkan kita dari jeratan dan kuasa dosa yang selama ini menjadi belenggu berkedok kenikmatan di dalam hidup kita. Ia bukan saja cukup untuk keselamatan kita, Ia juga cukup untuk memuaskan dahaga jiwa kita selamanya. Dia cukup untuk mengisi semua ruang di dalam relung hati kita. Dia jauh lebih baik dibanding semua hal yang selama ini kita pikir membuat kita bahagia.

Percayakah kau akan hal itu? Percayakah kau pada-Nya? Percayakah kau bahwa Ia cukup dan Ia jauh lebih baik dari apapun yang ada di dunia ini? Dan maukah engkau mengorbankan semua kesenangan yang semu dan fana yang ada padamu saat ini untuk menerima sukacita sorgawi yang kekal yang hanya ada di dalam Dia?

37104_777900745607921_4859655576686665285_n

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

10173818_10152910519439558_4801942110173492740_n

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan,

Kristus, Dialah Tuhan kita, Dialah Bahtera Keselamatan yang sejati milik kita
Pandanglah Dia
Percayalah dan datanglah kepada-Nya
Berikanlah hatimu hanya untuk-Nya

Dan mintalah Dia untuk memberikanmu hidup
Supaya engkau beroleh hidup
Hingga suatu saat nanti, ketika seseorang bertanya padamu
“Sudahkah kau menerima Kristus? Kau menerima Dia sebagai apa?”

Kau akan menjawab:

“Ya… aku sudah menerima Kristus.
Aku menerima Dia sebagai Roti, jiwaku kenyang hanya karena-Nya.
Aku menerima Dia sebagai Air Hidup, hatiku senantiasa segar oleh-Nya
Aku menerima Dia sebagai Harta, hatiku berada di dalam-Nya.
Aku menerima Dia sebagai Terang, aku menilai dunia berdasarkan firman-Nya.
Aku menerima Dia sebagai Jalan, yang sekalipun sempit, aku berjalan di atas-Nya.

1-8_jesus-is-the-ark
Aku menerima Dia sebagai Bahteraku, aku berlindung di dalam-Nya.

Aku menerima Dia sebagai Tabib, hatiku yang remuk dan terluka dibalut oleh-Nya.
Aku menerima Dia sebagai Gembalaku yang baik, aku ikut tuntunan suara-Nya.
Aku menerima Dia sebagai Rajaku yang kekal, di hatiku telah terukir hukum-Nya.
Aku menerima Dia sebagai Tuhanku, aku mencintai-Nya lebih dari hidupku sendiri.

Aku milik-Nya dan Ia milikku.”

10354821_10152485940273423_509666931778142636_n

*Kisah berikutnya: Abraham