Doa untuk Mereka yang Kukasihi

sibbes

Ketika kau sadar betapa kau mengasihi orangtuamu dan ketika kau sadar betapa kau ingin memeluk mereka dan menghadirkan kebahagiaan kepada mereka namun kau tidak bisa karena kau berada terlalu jauh, apakah yang kau akan lakukan?

Inilah yang perlu kau lakukan:

  1. Menangislah, sebab menangis akan melegakan jiwamu dan mengeluarkan luapan isi hatimu, sehingga kau tahu apa yang ada di dalamnya.
  1. Sadarilah, bahwa sekalipun engkau dekat dengan mereka, memeluk mereka seerat-eratnya, mencoba menghibur mereka dan membuat mereka tertawa, serta memberikan mereka hadiah sebanyak yang engkau mau dan mampu, kau tetap tidak akan pernah bisa membahagiakan mereka sebesar yang kau inginkan.
  1. Ketahuiah, bahwa hanya Kristus yang mampu memenuhi dan membahagiakan jiwa orangtuamu dengan sukacita yang tidak terkatakan.
  1. Berdoalah dan menangislah, sebab Ia mendengar seruan bibirmu dan menghitung tetesan air matamu. Berdoalah kepada Allah agar Ia menghadirkan sukacita dan kebahagiaan bagi orangtuamu.
  1. Percayalah, bahwa Ia pasti akan bertindak sekalipun kita tidak dapat melihat dan mengerti sepenuhnya bagaimana Ia bekerja.
  1. Bersukacitalah dan bersyukurlah kepada-Nya, sebab kau memiliki Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kuasa.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

(Efesus 3:16-21)

Itu jugalah doaku untukmu, Bapak dan Mamakku. Semoga Tuhan membelai kalian di dalam kasih-Nya.

Puji dan syukur kepada Allah dan Tuhan kita. Dialah yang memanggil kita untuk berdoa. Dialah yang memberitahu apa yang harus kita doakan. Dialah pula yang mengerjakan doa itu untuk menjadi nyata.

pink

Segala kemuliaan hanyalah bagi nama-Nya. Amin.

Advertisements

Penghibur di Kala Susah

Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu
guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu
dan turut terhibur oleh iman kita bersama,
baik oleh imanmu maupun oleh imanku.
(Roma 1:11-12)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

edwards

Keadaan kota Roma sewaktu Paulus menulis surat ini bukanlah kondisi yang aman dan menyenangkan bagi orang-orang percaya. Keadaan ini adalah kondisi yang penuh tekanan, mengguncang iman, dan bukan tidak mungkin mengancam jiwa bagi orang-orang yang menempatkan Tuhan Yesus Kristus, bukan kaisar, sebagai otoritas tertinggi di dalam hidupnya. Di masa-masa yang penuh kesukaran ini, orang-orang Kristen yang sedang gusar oleh berbagai-bagai tantangan dan ancaman sangatlah membutuhkan penghiburan. Mereka perlu dihibur.

Tetapi pertanyaannya, apakah yang dapat menghibur mereka? Siapakah penghibur bagi hati mereka yang susah? Apakah uang dapat menghibur mereka? Apakah itu seks? Apakah itu pelarian dari kenyataan? Apakah berbagai jenis entertainment yang diyakini oleh generasi masa kini dapat memuaskan jiwa dapat menghibur orang-orang Kristen pada masa itu?

Tidak! Bukan semua itu yang disebut oleh Paulus di sini. Perhatikanlah kata Paulus:

“… supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.”

Iman, inilah penghibur yang Tuhan sediakan. Iman adalah tali yang menghubungkan hati manusia dengan Allah. Iman juga adalah tali yang menghubungkan hati orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain. Oleh iman, setiap orang percaya terhubung satu sama lain sebagai sesama anggota tubuh dengan Kristus sebagai kepalanya (1 Korintus 12) dan sebagai sesama ranting dengan Kristus sebagai pokoknya (Yohanes 15). Iman, yang ditumbuhkan oleh Roh Kudus, bekerja sama dengan buah Roh (Galatia 5:22-23), yang juga bersumber dari Roh Kudus, untuk melahirkan penghiburan sorgawi di dalam hati setiap orang percaya. Melalui iman dan karena iman inilah sesama anak Tuhan dapat saling menghibur di dalam kasih dan damai sejahtera yang berasal dari Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 14:27) sekalipun berbagai-bagai pencobaan datang melanda. Umat Israel, gereja mula-mula, dan keberlanjutan sejarah gereja setelah itu telah membuktikan hal ini. Iman satu orang menjadi penguatan dan penghiburan bagi yang lain dan demikian sebaliknya. Kitapun dapat melihatnya di berbagai belahan dunia di mana Kekristenan begitu ditekan dan ditindas; umat Tuhan telah menjadi penghiburan bagi seorang akan yang lain.

Dunia tidak mengenal dan tidak pernah menikmati penghiburan yang indah dan yang sejati ini. Bagi dunia ini, iman orang percaya adalah sesuatu yang menjengkelkan, berlebihan, memecah belah dan mengusik, bukan menghibur. Tetapi tidaklah demikian dengan kita. Oh, berbahagialah kita yang dikaruniakan iman di dalam Kristus Yesus sehingga kita dapat mengecap penghiburan yang demikian dan kitapun dapat membawa penghiburan bagi yang lain di kala mereka susah.

Kini, biarlah kita tetap memelihara iman yang telah Tuhan percayakan kepada setiap kita. Janganlah kita puas dengan iman yang kecil. Janganlah kita berhenti hanya dengan menjadi bayi rohani. Biarlah kita setia berdoa dan bekerja agar Allah senantiasa memurnikan, menumbuhkan dan menguatkan iman kita sebab iman yang murni, bertumbuh, dan kuat dapat Tuhan pakai menjadi penghiburan yang efektif bagi orang lain. Biarlah kita saling menghibur dan menguatkan. “Saudaraku yang terkasih di dalam Kristus, biarlah imanku menghibur hatimu dan imanmu menghibur hatiku.” Biarlah perasaan ini yang terjalin di dalam kita, yang adalah tubuh Tuhan kita, Yesus Kristus, di dunia ini.

mohler-2

Amin.

Kasih dan Buah Pertobatan

Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!

Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik,  akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” Orang banyak bertanya kepadanya:

“Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?”
(Lukas 3:7-10)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - 1 Yohanes 4 7

“Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Itu merupakan pertanyaan yang sangat tepat untuk ditanyakan oleh mereka yang mendengar khotbah Yohanes Pembaptis saat itu. Mereka pasti sangat bingung mendengar apa yang Yohanes serukan. Di dalam kebingungan yang sama, beberapa pertanyaan secara berderetan datang menghampiri pikiranku.

Mengapa Yohanes Pembaptis begitu keras?
Mengapa ia sampai memanggil orang-orang itu “keturunan ular beludak”?

Mengapa ia menyinggung “murka yang akan datang”?
Mengapa ia menyebut “kapak sudah tersedia pada akar pohon”?

Apakah pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik sampai harus ditebang?
Apakah sampai harus dibuang ke dalam api?
Mengapa seserius itu?

Sudah pasti ia benar-benar membawa pesan dari Allah.
Tetapi jika demikian, apakah benar Allah sudah sebegitu marahnya pada umat-Nya?

Di dalam khotbahnya, Yohanes Pembaptis menyinggung tentang buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Ini merupakan kehendak Allah bagi umat-Nya, baik bagi orang-orang yang mendengar Yohanes pada saat itu maupun bagi kita sekalian. Dan jika Allah sedang sangat murka kepada umat manusia dan melalui Yohanes Ia menyampaikan seruan yang begitu mendesak, maka hal yang terpikirkan adalah mungkin saja buah-buah yang Allah tuntut itu merupakan hal-hal yang berat untuk dilakukan.

Mungkin Allah akan meminta kita untuk mempersembahkan korban yang sangat banyak jumlahnya. Mungkin Ia akan meminta kita untuk mengadakan perayaan yang begitu besar seperti yang sering dilakukan dalam masa perjanjian lama. Mungkin Ia menghendaki kita untuk menjual seluruh harta kita untuk disumbangkan kepada gereja-Nya. Mungkin Ia menuntut kita untuk meninggalkan karir kita dan menjadi full timer dalam ladang pelayanan-Nya. Mungkin Ia memerintahkan kita untuk menjadi ahli teologi. Mungkin Ia menghendaki kita untuk menjadi orang yang sempurna dan tidak berdosa sedikitpun. Mungkin ini, mungkin itu, apapun itu, kedengarannya Allah sedang menuntut buah-buah pertobatan yang sangat berat untuk dipenuhi dan jika kita tidak dapat menyanggupinya, Ia akan murka, menebang, dan membuang kita ke dalam api.

“Celaka! Jika demikian, apakah yang harus kita perbuat? Apakah yang harus aku lakukan?” Itulah pikiran yang terlintas. Itulah pertanyaan yang timbul, yang mungkin sama dengan pertanyaan yang muncul pada benak orang-orang yang ada di dekat sungai Yordan itu. Tetapi, apakah pikiran-pikiran itu sejalan dengan apa yang sesungguhnya Tuhan pikirkan? Apakah tuntutan Allah memang sedemikian berat dan tidak realistis? Apakah sesungguhnya buah-buah yang sesuai dengan pertobatan itu? Dengarlah apa yang Yohanes Pembaptis katakan ketika Ia melanjutkan seruannya:

“Barangsiapa mempunyai dua helai baju,
hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya,
dan barangsiapa mempunyai makanan,
hendaklah ia berbuat juga demikian.”

“Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”

“Jangan merampas dan jangan memeras
dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”
(Lukas 3:11-14)

Sproul

Demikianlah jawaban Yohanes Pembaptis kepada setiap orang yang bertanya, termasuk kepada kita. Oh, kini aku menyadarinya. Allah tidak menuntut hal-hal yang terlalu berat untuk dilakukan oleh umat-Nya. Ia tidak menginginkan hal yang muluk-muluk atau tidak realistis. Buah-buah pertobatan yang Allah kehendaki untuk dihasilkan oleh umat-Nya, tidak lain dan tidak bukan, adalah supaya mereka mengasihi sesamanya. Sesederhana itu.

Ia mau kita mengasihi orang lain sama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Ia mau kita berbelas kasih kepada orang lain. Ia mau kita berbagi dengan orang lain. Ia mau kita berkorban untuk orang lain. Ia mau kita berdoa untuk orang lain. Ia mau kita peduli pada orang lain. Ia mau kita tidak menindas yang lemah tetapi menolong mereka. Ia mau kita tidak mencari keuntungan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia melainkan rendah hati dan menganggap orang lain lebih utama dibanding diri kita sendiri (Filipi 2:3). Inilah yang Allah mau. Inilah yang memenuhi hati dan pikiran Tuhan Allah kita. Inilah buah pertobatan yang Allah tuntut dari umat-Nya.

Bukankah itu luar biasa? Sungguh, Tuhan itu baik dan murah hati. Di dalam hati-Nya, selalu ada kerinduan untuk kebaikan manusia. Ia tidak menuntut sesuatu semata-mata untuk diri-Nya sendiri. Ia bukanlah Allah yang rakus atau Raja yang otoriter. Ia adalah Allah yang baik dan Raja yang penuh dengan belas kasih. Selain untuk kemuliaan nama-Nya, kehendak-Nya selalu terhubung dengan kebaikan dan berkat untuk umat manusia. Ia telah merancang segala sesuatu sedemikian hingga kemuliaan-Nya tidak dapat dipisahkan dari kebaikan manusia. Ia akan dimuliakan dengan mengasihi dan memberkati manusia; manusia akan beroleh kasih dan berkat ketika Ia ditinggikan.

Chambers (3)

Demikianlah kita mengetahui bahwa hidup dan perbuatan kita mempermuliakan Tuhan, yaitu ketika kita mengasihi orang lain dan menjadi berkat bagi mereka. Tidak ada gunanya kita berdoa, membaca firman, serta terlibat dalam pelayanan dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya jika hal itu kita lakukan semata-mata untuk kepentingan kita sendiri. Hal ini telah sangat jelas disampaikan oleh Paulus dalam 1 Korintus 13: 1-3. Allah memberkati kita supaya kita juga dapat menjadi berkat dan saluran berkat-Nya bagi orang lain. Allah menyelamatkan kita di dalam Kristus supaya kabar keselamatan ini kita sampaikan kepada orang lain. Allah mengundang dan membawa kita ke dalam hidup supaya kita memancarkan hidup dan berbagi hidup dengan orang lain.

Demikian pula sebaliknya. Kita akan benar-benar mengasihi orang lain dan menjadi berkat bagi mereka, hanya ketika kita melakukan itu untuk memuliakan Dia. “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu (Matius 6:9)”, harus menjadi tema untuk umat-Nya. Tanpa motivasi yang tulus dan murni untuk memuliakan nama Tuhan, kita mungkin dapat berbuat apa yang “baik” untuk orang lain tetapi itu bukanlah hal yang “benar.” Tanpa motivasi yang kudus ini, kita mungkin dapat melakukan tindakan moral yang tinggi tetapi itu bukanlah kasih dan berkat yang sejati untuk orang lain. Mengapa? Sebab kasih yang sejati berasal dari Allah (1 Yohanes 4:7), merupakan buah yang ditumbuhkan oleh Roh Kudus (Galatia 5:22) dan berkat yang sejati diturunkan dari Bapa (Yakobus 1:17). Di luar Dia atau terpisah dari Dia, kita tidak dapat mengasihi maupun memberkati hidup orang lain.

Dengarlah firman Tuhan berkata:

Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.

Allah adalah kasih,

dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih,
ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
(1 Yohanes 4:16)

Allah adalah kasih.
Kasih, itulah nama-Nya.
Kasih, oh alangkah indahnya nama itu.

Dan karena di dalam dan melalui Tuhan kita Yesus Kristus,
Allah telah menjadi Bapa kita,
menjalin perjanjian abadi dengan kita,
tinggal di dalam kita,
bersatu dengan kita,
menjadi hidup kita,
maka kasih juga harus menjadi nama kita dan tema di dalam hidup kita.

Augustine

Semoga dengan mengasihi, kita semakin memuliakan Allah dan menikmati-Nya.
Semoga dengan memuliakan Allah dan menikmati-Nya, kita semakin mengasihi.

Soli Deo Gloria, segala kemuliaan hanyalah bagi Allah
Amin

Aku tidak tahu apakah aku mengasihi Tuhanku

Apakah aku mengasihi Allah?
Tentu aku akan menjawab, “TENTU, Aku mengasihi-Nya”

Kemudian aku menanyakan hal yang sama
Kedua
Ketiga
Keempat
Bahkan berkali-kali

Hingga akhirnya aku ragu bahwa aku mengasihi Dia

Bagaimana aku bisa tahu bahwa aku benar-benar mengasihi Dia?
Bagaimana aku bisa tahu apakah kasihku kepada-Nya adalah kasih yang sejati?

Oh Tuhan, Allahku, tolonglah aku!
Sebab aku bahkan tidak yakin apakah aku mengasihi-Mu

Oh Tuhan, Rajaku, kasihanilah aku!
Sebab aku bahkan tak tahu apakah kasihku pada-Mu adalah kasih yang benar

Oh Tuhan, Juru Selamatku, tolonglah aku
Beritahukanlah padaku Tuhan!
Apakah aku mengasihi-Mu, ya Allah-ku?

Sebab aku tidak mengerti kedalaman hatiku sendiri
Dan hanya Engkaulah yang mengetahui kedalaman hati manusia

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;
manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
(1 Samuel 16:7b)


“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin… ”
(Yeremia 17:10)

Oh betapa malangnya aku
Sebab hatiku selalu ada bersamaku
Tetapi aku bahkan belum mengenal hatiku sendiri

Tetapi aku bersyukur kepada Allah
Sebab Dia yang mengenal hatiku
Dan Dia mengirimkan Roh-Nya yang kudus bagiku

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita;
sebab kita TIDAK TAHU, bagaimana sebenarnya harus berdoa;
tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah
dengan keluhan-keluhan yang TIDAK TERUCAPKAN.
(Roma 8:26)

Oh ya Allah-ku
Penolongku, Kota Bentengku
Penebusku, Rajaku

Yang memegang setiap waktuku di kepalan tangan-Nya
Yang meredakan badai di hatiku
Yang selalu berjalan bersamaku
Yang mengampuni semua dosaku
Hanya Engkaulah yang tahu apakah aku mengasihi-Mu

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,
ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
(Mazmur 139:23-24)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lalu Tuhan menjawabku
Dan inilah kata-Nya

 Background of wood

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya Allahku
Kuucapkan ini dengan takut dan gentar kepada-Mu:

Aku tidak tahu apakah aku mengasihi-Mu, Tuhan


Tetapi biarlah apa yang Engkau sendiri lakukan
melalui perbuatanku sehari-hari
Biarlah itu yang menyatakan rasa cintaku untuk-Mu

Kasih itu Menghancurkan

Memang akan selalu ada kisah di tempat ini. Tempat ini selalu mengajarkan sesuatu padaku. Sebelumnya, pelajaran itu datang padaku sebagai pelajaran pahit yang berwujud ikan goreng dan seekor kucing hitam kurus menyebalkan. Kali ini, aku kembali memetik hikmat di balik kejadianku, yang sayangnya, sama tidak menyenangkannya. Tetapi aku bersyukur dan tidak akan menyesalinya.

Kau akan mengerti hal ini jika kau bekerja di lapangan, terutama jika kau bekerja di lapangan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk. Biasanya, sebagai bentuk community service, sejumlah anak daerah akan dipekerjakan oleh perusahaanmu. Dalam kasusku, pegawai outsource yang berasal dari penduduk lokal biasanya bekerja sebagai sekuriti, mess boy, driver, dan operator. Kau akan bekerja di bawah atap yang sama dengan mereka.

Dan kau akan memahami apa yang aku rasakan jika kau bekerja di tempat yang sama denganku. Kau akan mendapati lehermu kelelahan. Ya, lehermu suatu saat akan letih. Letih bukan karena lelah akibat pekerjaan. Melainkan lelah karena pasti kau akan sering meng-geleng-geleng-kan kepalamu ketika melihat tingkah laku mereka yang juga membuat letih secara mental. Bagi kebanyakan rekan-rekanku, para sekuriti-lah yang paling menyebalkan. Bahkan suatu kali ada sekuriti yang berteriak kepada supervisor. Bayangkan! Sekuriti meneriaki supervisor, “Heh, dasar binatang!”

“Astaga, mengapa ada manusia yang kelakuannya seperti ini?” Itu adalah kalimat yang sangat sering aku ucapkan dalam hati ketika melihat sikap mereka. Aku adalah orang kota (sok keren, trus kenapa?). Aku lahir dan besar di kota tetapi sungguh belum pernah aku bertemu dengan orang-orang yang lebih serakah dan angkuh dibanding orang-orang desa ini. Mereka orang-orang desa lochWell, aku tidak bisa menceritakan semua yang mereka lakukan tetapi aku harap semoga kalian tidak berurusan dengan orang-orang seperti ini.

Inilah yang terjadi. Pagi-pagi, aku sampai ke lokasi. Dari jauh, aku melihat wajah Pak Sekuriti yang belum pernah kutemui sebelumnya. “Gawat, sekuriti baru,” kataku dalam hati. Maksudku adalah jika aku belum mengenal beliau, berarti beliau juga belum mengenal aku, dan biasanya mereka akan sangat angkuh kepada siapapun karyawan yang belum pernah menghadap mereka. Dan kali ini, hal itu terjadi padaku.

Sesuai peraturan, jika kau akan masuk ke area pekerjaan, maka kau harus menukar badge-mu dengan badge khusus area pekerjaan tersebut. Akupun melepaskan badge­-ku dan berniat menyerahkannya kepada beliau. Pada saat yang sama, beliau sedang meraih badge yang akan ditukarkan untukku. So far so good. But in the end, not good. Beliau bukannya dengan ramah mendekatkan badge yang dia pegang ke tanganku, malahan melemparkannya ke atas meja seolah-olah aku sama sekali tidak ada di sana. Memang lemparannya tidak jauh, tapi aku tahu persis bahwa dia bermaksud mengatakan bahwasanya dia tidak mau dan tidak merasa perlu untuk menyerahkan badge itu secara sopan kepadaku.

Aku sangat tidak suka dengan perlakuan seperti itu. Bos-ku saja tidak pernah melakukan hal yang serupa kepadaku. Mengapa justru harus seorang sekuriti yang melakukannya padaku? Jantungku berhenti dan aku tidak bernafas seketika. Pemantik api dinyalakan di dalam hatiku. Orang ini mencari gara-gara.

Aku mendekatkan badge-ku ke tangannya dan diapun mengambilnya dari tanganku. Kemudian aku mengambil badge pengganti yang baru saja ia lempar ke atas meja, mengucapkan terima kasih, dan masuk ke kantor. Aku memang mengucapkan terima kasih. Tetapi di dalam hati, aku berkata:

“Aku akan menghancurkan keangkuhan orang ini berkeping-keping.”

Selama beberapa saat aku memutar otakku. Orang ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Orang ini harus diberi pelajaran. Orang ini tidak tahu bahwasanya dia menjadi sekuriti karena dan hanya karena perusahaan kami dengan rendah hati mempekerjakan dia sebagai warga lokal. Secara kualitas, sebenarnya orang ini tidak memenuhi kualifikasi minimum seorang sekuriti. Orang ini bukan hanya sombong, dia tidak tahu cara berterima kasih. Dia lupa siapa dirinya. Orang ini tidak punya rasa hormat. Aku memberi diriku mission impossible untuk mengajarkan itu semua kepadanya.

Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku harus menemukan cara untuk menghancurkan kesombongannya. Sepertinya niatku terdengar baik, aku ingin menghancurkan kesombongan, aku ingin menghancurkan kejahatan. Tetapi seperti kata Martin Luther, ketika Allah membangun gereja, iblis membangun sebuah kapel kecil di dalamnya. Dan di dalam kasusku, dosa menyelinap masuk. Dia sampai ke gerbang alam pikirku, dan dia mengatakan:

“Hanya ada satu cara menghancurkan kesombongan.
Kau tegaskan dia siapa dirimu!
Kau ingatkan dia siapa dirinya!
Buar dia sadar betapa jauhnya jarak antara kau dan dia!
Dan dia akan mengerti.”

Wow, terdengar menggiurkan, bukan? Rencana yang jitu untuk menghancurleburkan keangkuhan seseorang. Aku pasti akan melakukannya.

Aku belum cukup rendah hati, Teman-teman. Aku belum sempurna. Sekali aku bertobat dan mengusir seekor iblis dari hatiku, dia pergi dan kembali sambil membawa serta ratusan ekor iblis lain untuk kembali menaklukkan hatiku. Aku lemah, Teman-teman. Tetapi satu hal kupercaya, aku dikasihi Tuhan. Dia menjadi kota benteng dan perisai hatiku. Allahku melindungi diriku yang lemah ini. Allahku bekerja bak prajurit yang setia. Dia berjaga di muka gerbang hatiku. Aku aman. Dan ketika iblis ingin menghancurkanku, membuat aku tunduk, Tuhan sudah ada di sana. Dan Dia berkata padaku:

“Richard, kasihi orang itu. Ampuni dia. Sebab kaupun telah dikasihi dan diampuni.
Keangkuhan orang itu memang perlu dihancurkan, tetapi jangan andalkan kekuatanmu.
Ini… Kuberi padamu kuasa untuk menghancurkannya.”

1959325_694295683939284_3950357204302996019_n

Hatiku yang mendidih langsung diguyur-Nya dengan es. Hatiku yang panas dihembus-Nya dengan angin sepoi. Hatiku diteduhkannya. Aku tenang bersama-Nya. Dia mampu mengendalikan diriku. Kunci hatiku ada di tangan-Nya. Dan dengan damai di hati, aku meraih “kunci” yang Dia berikan. Aku menerima kunci itu, “kuasa” untuk menghancurkan itu.

Akupun menyelesaikan urusanku di kantor dan bergegas untuk berangkat ke area sumur. Aku menghampiri pos sekuriti dengan hati tenang dan senyuman. Aku melepas badge yang kupakai, menyerahkannya. Beliau menerimanya dan mengembalikan badge-ku yang asli.

Richard : Pak, sepertinya kita belum saling kenal. Namanya siapa, Pak?  (hendak berjabat tangan)
Sekuriti : Lutfi, Mas. (membalas jabat tanganku)
Richard : Saya Richard yah Pak. Sehat, Pak? (sambil tersenyum)
Sekuriti : Sehat… sehat.. (membalas senyumanku)
Richard : Saya ke lokasi dulu ya, Pak. Terima kasih… Mari, Pak.
Sekuriti : Mari-mari, Mas.
Sekuriti2 : Mari-mari, Mas (daritadi sekuriti 2 juga memandangku sinis, tetapi diapun berubah)

Akupun masuk ke mobil sambil sambil tersenyum,
Membawa sukacita di hatiku,
Dan kemenangan di tangan kananku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-teman, Kebencian itu menghancurkan

Tetapi kuberitahu kau satu hal:

Kasih itu jauh lebih menghancurkan dibanding kebencian

Kebencian mampu menghancurkan banyak hal. Tetapi ada satu “kuasa” yang lebih besar dibanding kebencian sekalipun. Dan itu adalah kasih. Kebencian mampu menghancurkan, tetapi kasih mampu menghancurkan kebencian itu menjadi berkeping-keping. Itulah “kunci” yang Allah berikan kepadaku. Kasih, itulah kuasa yang Dia percayakan atasku.

Aku pernah sangat membenci bapakku. Kebencian menjadi tembok dengan tebal tak terkira dan tinggi setinggi langit. Tembok itu mustahil untuk dihancurkan. Tetapi suatu ketika aku sadar bahwa Tuhan mengasihi orang paling hina sepertiku. Semua orang memusuhi dan menolak aku tetapi Dia tidak pernah melakukannya. Allah tahu betapa menjijikkannya diriku tetapi aku tetap diingat-Nya. Aku melawan Dia, meludahi-Nya, tetapi aku tetap ada di hati-Nya. Aku diampuni-Nya. Aku disayangi Tuhanku. Kebencianku tak berdaya di hadapan kasih-Nya. Kasih-Nya terlalu besar, aku tak sanggup melarikan diri dari-Nya.

Terima kasih ya Allah karena Kau telah menangkapku. Kini aku mengenal kasih itu. Aku menerima kuasa itu. Dengan kasih aku bisa menghancurkan tembok itu. Kata orang, akan selalu tersisa bekas. TIDAK. Kasih sudah melumat habis tembok kebencianku, tak berbekas sedikitpun. Kaupun bisa mengalami hal yang sama.

Kasih itu yang menghancurkan kejahatan. Kasih itu yang menghancurkan kebencian. Kasih yang merobohkan keangkuhan seseorang dan membuatnya rendah hati. Kasih yang menaklukkan ego. Kasih yang meluluhlantakkan kebenaran karena usaha pribadi. Kasih yang melembutkan prasangka sehingga kau tak akan memikirkan yang buruk mengenai saudaramu. Kasih yang akan meruntuhkan tembok yang membuatmu malas untuk memuridkan atau enggan menanyai kabar.

Kasih itu menghancurkan kedagingan
Kasih itu menghancurkan dosa
Kasih itu menghancurkan iblis
Kasih itu menghancurkan banget

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kasih, Teman-teman, Kasih
Dengan usahamu, kau mencoba memodifikasi dirimu menjadi lebih baik
Tetapi hanya kasihlah yang bisa men-transformasi-mu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Masalah dunia ini bukanlah kurangnya orang ber-“iman”
Malahan dunia ini penuh dengan mereka
Masalah dunia ini adalah kekurangan pengasih

Kasih, Teman-teman, Kasih
Bukanlah iman yang menyelamatkanmu
Kasih karunia-lah yang melakukannya untukmu

Jika iman adalah jendela, maka kasih ibarat cahaya mentari
Jika jendela tidak ada, bukan berarti cahaya matahari tidak memancar
Kasih itu sudah ada dan kasih itu melimpah
Dengan iman, kasih itu masuk ke dalam hatimu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Bukanlah pertobatan yang menyelamatkanmu
Kasih karunia-lah yang melakukannya untukmu

Kasihlah yang menumbuhkan iman di dalam hatimu
Kasihlah yang memberimu kuasa untuk tidak melakukan dosa dan bertobat

Kasih, Teman-teman, Kasih
Pencarian teman hidup bukanlah tentang menemukan siapa yang tepat
Melainkan tentang MENGASIHI

Tuhan menjadikanmu teman hidup bahkan mempelai-Nya
Itu bukan karena kau adalah orang yang tepat
Tetapi karena Dia mengasihimu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Semua ini sebenarnya adalah tentang KASIH dan MENGASIHI

Terimalah kasih-Nya, Teman-teman
Kasih yang “Sudah Selesai”
Kasih yang sekali dan yang tidak berkesudahan

Kasih yang memerdekakanmu
Kasih yang mengubahmu
Kasih yang “menghancurkan”-mu

Dan kau tak akan sama lagi…

Kasih itu Menghancurkan

Love – The First Love

Love - The First Love

Apakah cinta itu? Apa kasih itu?
Apakah syarat kasih itu ada?
Apakah kasih itu diciptakan?

Jika kasih diciptakan, berarti pada mulanya kasih itu tidak ada
Jika kasih diciptakan, berari pada mulanya Sang Pencipta kasihpun tidak memiliki kasih
Dan jika Dia tidak memiliki kasih dari semula, mengapa Dia ingin menciptakan kasih?
Tidak mungkin Pribadi yang tidak memiliki kasih ingin menciptakan kasih

Oh, kini aku mengerti, kasih itu tidak diciptakan

Kasih itu tidak diciptakan
Kasih itu sudah ada bahkan sebelum segala sesuatu ada
Kasih itu ada bersama-sama Sang Pencipta sejak dari semula
Sebab tidak mungkin Sang Pencipta ingin menciptakan apapun jika Dia belum memiliki kasih

Dengan demikian, Sang Pencipta adalah sumber dari kasih itu
Dia-lah Sang Pengasih paling pertama di seluruh dunia ini

Lalu, apa syarat sesuatu bisa disebut sebagai kasih?
Yang aku yakini, syarat mutlak dari kasih adalah adanya PIHAK LAIN

Orang yang hidup sendiri sepanjang hidupnya, tidak mungkin memiliki kasih
Sebab ada atau tidaknya kasih pada dirinya hanya bisa dibuktikan jika ada orang lain
Kalaupun dia mengasihi diri sendiri, itu juga bukanlah tindakan kasih yang sejati
Orang yang hanya mengasihi diri sendiri justru adalah orang yang jauh dari kasih

Oh, dengan demikian, pastilah sejak dari semula, Pencipta TIDAK SENDIRIAN

Pencipta tidak mungkin sendirian
Karena jika Dia sendirian, bagaimana mungkin Dia memiliki kasih?

Lalu, siapa yang bersama dengan Pencipta itu?
Apakah dia malaikat? Apakah dia manusia?

Tidak mungkin dia malaikat atau manusia, sebab jika demikian, berarti dia diciptakan
Dan pada mulanya, Pencipta tidak bersama ciptaan sebab ciptaan itu sendiri belum diciptakan

Oh aku mengerti sekarang, berarti yang bersama Sang Pencipta pastilah Sang Pencipta juga

Tapi… tapi…
Bukankah firman yang Sang Pencipta sampaikan, berkata:
TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu ESA!
(Ulangan 6 : 4)

Ohhhh, tunggu tunggu, aku bisa menjawabnya sendiri sekarang

Satu hari bagiku, tidaklah sama dengan satu hari di mata Sang Pencipta
Jauh dan dekat bagiku, tidaklah sama dengan jauh dan dekat di hadapan Sang Pencipta
Banyak dan sedikit bagiku, tidaklah sama dengan takaran yang dipakai Sang Pencipta

Jarak, massa, jumlah, bahkan waktu sekalipun, hanyalah besaran yang dipakai oleh manusia
Tidak mungkin ukuran manusia bisa dipakai untuk mengukur Dia, Sang Pencipta

Kesimpulannya:
Esa, yang aku mengerti, tidaklah sama dengan Esa yang Dia maksud

Sejak semula, kasih sudah ada bersama-sama Sang Pencipta
Sejak semula, Sang Pencipta tidaklah sendirian, Dia bersama Sang Pencipta (Pribadi yang lain)
Dan seperti firman-Nya, Sang Pencipta dan Sang Pencipta (yang lain) adalah Esa
Dengan demikian, aku akan menerima ke-Esa-an Sang Pencipta sebagaimana adanya Diri-Nya

Aneh aku melihat umat manusia
Mereka bisa menerima kebenaran bahwa Allah ada dengan sendirinya, tidak diciptakan
Mereka bisa menerima kebenaran bahwa Allah tidak bisa dibatasi oleh waktu
Mereka bisa menerima kebenaran bahwa Allah bisa hadir di mana saja pada waktu yang bersamaan

Tetapi mengapa mereka tidak bisa menerima kebenaran bahwa :
Allah adalah Allah Tritunggal?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagi siapapun yang membaca ini
Dengan ketulusan hati aku mengajakmu untuk mengenal siapa Allah yang sesungguhnya

Aku tidak peduli apa agamamu atau apa agamamu kelak
Aku tidak berbicara mengenai agama di sini
Aku hanya ingin engkau mengenal Allah sebagaimana Dia yang sebenarnya
Dia sangat mengasihimu, siapapun dirimu, sehingga Dia ingin engkau mengenal-Nya dengan benar

Jangan batasi Dia dengan nalarmu
Jangan kecilkan Dia hanya sebesar akalmu yang terbatas
Pertimbangkanlah apa yang aku bagikan ini dengan sungguh-sungguh dan hati yang tenang

Dia tidak terbatas, Kawanku yang terkasih
Dia tidak dibatasi oleh ukuran bahasa, waktu, massa, jumlah, dan waktu yang kau mengerti
Dia lebih dari semua itu
Dan untuk mengenal-Nya, engkau tidak boleh bergantung sepenuhnya pada akalmu yang terlalu terbatas

Dia ingin engkau mengenal-Nya dengan benar, sebagaimana adanya Dia yang sebenarnya
Sebab jika engkau salah mengenal Dia, apalah arti semua usaha dan ibadahmu?
Sebab jika engkau salah mengenal Dia, lalu siapa Allah yang selama ini engkau layani?

Dan camkan ini
Kalau kau sudah mendengar tentang siapa Yesus Kristus
Kalau kau sudah pernah mendengar tentang Bapa, Putra, dan Roh Kudus
Percayalah pada-Nya, atau setidaknya, mulailah untuk mencari tahu dengan motivasi yang tulus murni

Dan aku berdoa, supaya suatu saat engkau akan mengetahui kebenarannya, yakni bahwa
Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus, ketiga-nyalah Allah yang Esa itu

Salam

Love – To Love

Love - To Love

Benar, ayat di ataslah yang telah kukatakan sangat mengguncang hatiku dan entah mengapa, aku seakan baru pertama kali ini mendengarnya. Yang begitu menggelisahkan dan membuat hatiku bertanya-tanya adalah ayat ini disampaikan oleh Petrus. Ya, Petrus yang kita kenal. Petrus, sang mantan nelayan. Petrus yang pernah sangat keras, sombong, bahkan menyangkal Yesus. Petrus yang memotong telinga seorang prajurit yang akan menangkap Yesus (aku rasa niat Petrus yang sebenarnya adalah menebas kepalanya, mungkin dia terpeleset).

Aku berani bertaruh. Coba saat ini juga engkau membayangkan sosok Petrus. Aku yakin yang tersirat dalam benakmu adalah sosok pria pemberani, radikal, lantang, dan kuat. Sosok Petrus, somehow, sedikit jauh dari sosok seorang yang penuh kasih dan sayang, bukankah begitu? Gambaran dan ingatan tentangnya seakan-akan membuatku tidak percaya bahwa Petruslah yang sedang mengajarkan tentang kasih sebagai hal yang terutama. Astaga, apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup orang ini?

Nah, coba kita memikirkannya lebih serius lagi. Seseorang hanya akan berani mengatakan sesuatu seperti yang Petrus katakan ini jika dan hanya jika dia benar-benar melakukannya dalam hidupnya. Oleh karena dia sudah mempraktekkannya, maka dia beroleh keberanian untuk mengucapkan itu. Ini berarti Petrus benar-benar hidup di dalam kasih sehingga dia dengan yakin menasehatkan murid-muridnya untuk saling mengasihi. Sebab apabila Petrus tidak mengasihi, justru dia akan dicacimaki oleh karena dia sendiri tidak mengerjakan apa yang dia lakukan.

Mungkin hal ini terdengar biasa bagimu. Tapi coba renungkan baik-baik kasusku ini:
Bayangkan saat ini kau sedang berdiri di depan podium
Kau sebentar lagi akan mengucapkan satu saja pesan ke depan semua orang di muka bumi
Di sana ada orang-orang ini:
Orang yang pernah memusuhimu, teman-teman sekelasmu
Peminta-minta yang kau lewati setiap hari, kasir Indomar*et yang kau temui setiap pagi
Pramusaji di tempatmu makan setiap hari, semua orang yang satu kost denganmu
Semua orang, sekali lagi, semua orang siapapun dia

Nah, apakah kau merasa berani dan cukup pantas untuk mengatakan:
“Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain.” 

Kalau kau bertanya padaku, jujur saja aku belum merasa pantas. Seandainya aku mengucapkannya di depan semua mata, aku takut kalau-kalau ada yang membalas, “Halah, kamu saja tidak pernah memberikan sedekah padaku.” Mungkin akan ada yang memotong, “Kasih? Jangan bercanda Richard, kamu menegur aku saja tidak pernah!” Atau “Kamu munafik Richard, apa kamu lupa kamu pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan dan belum meminta maaf?”

Seandainya di masa depan nanti, akan ada poster yang menuliskan “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, by: Richard Arnold”, mungkin akan banyak orang yang mengira bahwa sang pembuat poster sedang salah mengetik nama. Mungkin akan banyak yang mengernyitkan dahi dan berkata, “Hah? Richard? Berani ngomong seperti ini? Pleaseeee…” Atau akan ada yang bertanya, “Richard? Siapa dia? Memangnya apa yang sudah orang ini lakukan?

Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku bukanlah seorang pengasih. Tentu saja aku mengasihi, aku bukan orang jahat loch. Tentu saja aku mendoakan teman-temanku, tentu saja aku mengasihi teman-temanku. Tetapi tetap saja, aku rasa jangkauan kasihku masih terlalu sempit. Aku masih belum bisa sepenuhnya mengutamakan orang-orang yang menggangguku, membenciku, atau orang-orang yang sama sekali tidak berkenaan denganku walaupun setiap hari aku berpapasan dengannya. Intinya, aku merasa tidak layak untuk menyuarakan:
“Hai dunia, akan kuberitahu pada kalian apa yang terutama?
Yang terutama adalah kasihilah dengan sungguh-sungguh seorang akan yang lain.”

Steve Jobs terus menerus mengajakan, “Love what you do and do what you love.
Walt Disney berkata, “If you can dream, you can do it.
Benjamin Franklin menyampaikan, “Time is money.
Winston Churchill mengucapkan, “Never, never, never give up.
Oprah Winfrey berkata, “When your life is course with purpose, you are most powerful.
Dan Einstein, “You have to learn the rules of the game. And then you have to play better than anyone else.

Seandainya aku berada di podium, di depan semua orang, dan akan mengatakan hal-hal yang mereka sampaikan, maka aku akan dengan sangat yakin dan tanpa ragu-ragu mengatakannya. Tanpa mereka ajarkanpun aku sudah tahu semua hal itu dan memang sudah kujalani dalam hidup. Aku rasa cukup banyak orang yang berpendapat sama denganku mengenai ini. Aku juga tidak akan ragu mengatakan hal-hal seperti, percayalah kepada Kristus. Bersaat teduhlah pagi dan malam. Utamakanlah Kristus. Bacalah firman setiap hari. Beribadahlah setiap Minggu. Kejarlah pengenalan akan Allah. Dan lain sebagainya.

Mencintai pekerjaan, menggunakan waktu dengan bijak, bermimpi setinggi langit, berdoa tiap hari, membaca Alkitab tiap hari, pergi ke gereja tiap minggu, itu semua tidaklah sulit untuk dilakukan. Mengapa tidak sulit? Karena semua itu hanya terkait erat dengan diri kita sendiri, kecil sekali hubungannya dengan orang lain.

Akan tetapi lain halnya dengan mengasihi. Ketika kamu mengasihi, kamu tidak berbicara tentang dirimu saja tetapi juga orang lain. Dan tidak hanya sampai di sana, ketika kamu mengasihi, kamu sedang mengutamakan orang lain. Apabila kamu berbuat baik kepada orang lain tetapi kamu mengharapkan imbalan, atau kau berbuat baik karena dirimu juga akan diuntungkan, ketahuilah itu sangat-sangat jauh dari kasih yang sebenarnya.

Kasih selalu terikat erat dengan keberadaan orang lain.
Kasih selalu menjadikan orang lain lebih utama.
Kasih adalah tentang orang lain, bukan tentangmu.
Kasih dipertanggungjawabkan di depan orang lain.
Itulah hal yang membuat diriku pribadi sangat-sangat pesimis apakah aku pantas untuk berbicara kepada dunia:
“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain,”

Akhh, apa yang harus aku lakukan?
Aku masih sangat jauh dari kesempurnaan yang diinginkan Allah
Bagaimana orang seperti Petrus bisa sedemikian berubah?
Bagaimana sesungguhnya mengasihi itu?
Apa kasih itu?

Bagaimana denganmu?
Apakah kau seorang pengasih?
Jika iya, maka ketahuilah, dunia sangat butuh orang sepertimu.
Maka mulailah untuk mengajarkannya pada orang-orang!
Sebab jika kau belum juga mengajarkannya, apa kau benar-benar seorang pengasih?

~Bersambung