Dua Berkat Malam Ini

Spurgeon (2)

Malam kemarin, Tuhan memberkatiku dengan dua berkat yang sangat indah.

Pertama, aku menikmati pendalaman Alkitab (PA) di gereja yang sangat memberkatiku. Sungguh, PA yang dilakukan berdasarkan prinsip yang Alkitabiah dan yang tidak bergantung pada interpretasi masing-masing orang, merupakan berkat yang luar biasa untuk setiap orang yang berada di dalamnya. Pendalaman Alkitab yang demikian tidak akan pernah membuang-buang waktu kita.

Hal itu dapat diibaratkan dengan kisah Maria dan Marta. Ketika Tuhan Yesus datang ke rumahnya, Maria memilih untuk hanya duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Dari satu sudut pandang, Maria terlihat seperti seorang pemalas yang membuang-buang waktu produktif yang dapat dipakainya untuk melayani Tuhan. Namun, hal itu sama sekali bukanlah buang-buang waktu. Justru sebaliknya, Tuhan Yesus berkata bahwa dengan demikian Maria “telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Lukas 10:42).” Maria tidak membuang-buang waktu dan tidak juga membuang bagian yang terbaik. Keterangan “yang terbaik” yang diucapkan oleh Tuhan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang kita abaikan. Ketika Tuhan Yesus mengatakan “yang terbaik” tentulah itu sungguh-sungguh merupakan yang terbaik dan Maria tidak menyia-nyiakannya.

Tidak demikian halnya dengan Marta. Marta juga tidak membuang-buang waktunya. Ia bekerja giat untuk melayani Tuhan. Ia tidak malas. Ia produktif. Namun, sekalipun tidak membuang-buang waktunya yang berharga itu, Marta tidak mendapat bagian yang terbaik yang seharusnya juga dapat ia miliki dan nikmati. Mengapa? Karena ia tidak duduk diam untuk mendengarkan firman Kristus yang sesungguhnya merupakan bagian terbaik untuk jiwanya. Sama seperti itulah sebuah pendalaman firman Tuhan yang Alkitabiah. Sebuah kegiatan PA yang dilakukan dengan Alkitabiah dan didengarkan dengan hati, telinga, dan kerelaan seorang Maria, tidak akan pernah membuang-buang waktumu, justru sebaliknya, menghadirkan kepadamu bagian terbaik untuk jiwamu yang tidak akan pernah diambil dari padamu selamanya seperti janji Tuhan kita.

Tripp

Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.
Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
(Mazmur 119:103-105)

Berkat luar biasa yang kedua terjadi setelah PA selesai. Setelah keluar dari gedung gereja dan berjalan kaki beberapa ratus meter, aku mencari ojek untuk pulang ke kosan sebab aku tidak memiliki kendaraan pribadi dan pada waktu selarut itu, angkot sudah sangat jarang. Awalnya, aku menatap dari kejauhan ke arah pangkalan ojek yang biasa aku datangi tetapi tidak terlihat ada tukang ojek yang sedang menunggu di sana. Akupun berjalan beberapa langkah lagi sampai aku melihat ada satu orang tukang ojek yang sedang duduk sambil menanti calon penumpang.

Bapak tukang ojek itupun akhirnya melihat aku yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Tanpa bermaksud mendramatisir tulisan ini, mata kami saling menatap. Ketika aku melihat tatapan matanya, aku melihat tatapan yang penuh harap. Dalam waktu yang sangat singkat, satu pikiran melintas di benakku, “Bapak ini tentu sedang sangat mengharapkan ada calon penumpang yang datang kepadanya. Ah, entah sudah seberapa lama bapak ini menanti di dalam ketidakpastian akan ada tidaknya penumpang dan sudah seberapa sering bapak ini kecewa di dalam penantiannya?” Tanpa butuh terlalu banyak berpikir, walau aku belum sepenuhnya yakin bahwa bapak ini dapat dipercaya sebagai tukang ojek yang aman, aku memutuskan untuk pergi pulang dengan ojek beliau.

Kau tahu apa yang kudapati saat itu? Satu lagi ekspresi yang selalu menggetarkan hati ini tiap kali aku melihatnya, yaitu tatapan mata penuh kelegaan dan senyuman kegembiraan dari si bapak yang akhirnya mendapat seorang penumpang untuk ojeknya. Mungkin ia hanya akan mendapat dua puluh ribu rupiah dariku tetapi ia sudah menjadi sangat senang dan lega, atau setidaknya itulah yang terpancar dari wajahnya. “Akhirnya saya mendapat penumpang setelah sangat lama menanti dan berharap.” mungkin itu yang beliau pikirkan waktu itu. Itulah ekspresi yang membawa kehangatan dan getaran di malam penuh berkat ini. Oh, terima kasih, ya Tuhan.

Malam hari kemarin, kembali kuakui bahwa sungguh benar firman Tuhan yang berkata:

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.
(Kisah Para Rasul 20:35)

Ya, Tuhan kita pernah berkata bahwa orang yang memberi akan lebih berbahagia dibanding orang yang menerima. Mengapa Ia berkata demikian? Mengapa Ia bisa mengatakan sesuatu yang begitu berbeda dengan prinsip dunia dan daging kita yang egois ini, yang memiliki kecenderungan hanya mau menerima? Aku yakin jawabannya adalah karena Ia sendiri telah melakukannya dan merasakannya. Ia adalah Tuhan yang menciptakan dunia ini. Ia tidak membutuhkan apapun dari siapapun. Ia tidak meminta sedikitpun dari umat manusia untuk mencukupi kebutuhan-Nya. Faktanya, Ia tidak pernah menerima sesuatu yang selayaknya Ia terima dari persembahan manusia. Namun, Ia tetap selalu memberkati umat manusia. Ia selalu memberi bahkan hingga titik di mana Ia menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk memberikan hidup kepada jiwa-jiwa manusia yang telah mati di dalam dosa. Dan di dalam semua itu, Ia berbahagia. Itulah sebabnya mengapa Ia bisa mengatakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Tuhan Yesus mengatakannya dan malam ini aku membuktikan dan menikmatinya. Sungguh, memberi dengan tulus, sekalipun itu membutuhkan pengorbanan yang seringkali tidak mengenakkan, akan membawa kebahagiaan yang lebih besar bagi jiwa kita dibanding jika kita hanya bisa dan hanya mau menerima. Tidak hanya itu, pemberian yang demikian juga akan membawa kita kepada ucapan syukur dan mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Sang Pemberi yang sejati. Dan di mana ada hati dan pikiran yang tertuju kepada Allah, ke sana akan ada berkat dan sukacita tercurah dari sorga.

Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.

Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan.

Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya.
(1 Tawarikh 29:14)

Ya, segala pemberian kita sejatinya adalah pemberian-Nya. Kita bahkan bisa mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita di dalam Kristus (1 Yohanes 4:19, Efesus 1:3-6). Inilah yang memotivasi kita untuk terus memberi dan mengasihi. Semoga Allah mengerjakan di dalam kita suatu kerinduan yang tulus untuk memberi dan kekuatan untuk mampu melakukannya di dalam hari-hari kita, menurut kerelaan-Nya dan demi kemuliaan-Nya.

Zacharias

Segala kemuliaan hanyalah bagi TUHAN kita. Amin.

Advertisements

My Heavenly Father Watches Over Me

Spurgeon (2)

Sore itu, hatiku begitu gelisah. Aku tidak tahu mengapa. Jiwaku berbeban berat dan gundah gulana. Benakku mengalir tak menentu. Aku takut. Aku menjadi begitu lemah. Ada sangat banyak hal yang harus dilakukan. Tetapi aku berakhir tidak melakukan banyak hal. Tepatnya, aku tidak melakukan apa-apa. Sungguh, pikiran yang tak damai dan tak tenang tidak dapat bekerja sebagaimana seharusnya.

Apa yang terjadi di dalam hatiku? Ada apa dengan hatiku? Bukankah hati ini milikku? Bukankah hati ini selalu bersamaku sejak aku lahir ke dunia ini? Tetapi, lihatlah! Aku tidak sanggup mengendalikan hatiku sendiri. Oh, lihatlah! Aku tidak berdaya mendamaikan hati yang kumiliki.

Ah, betapa malangnya aku.
Hatiku sendiri tak dapat aku kendalikan.
Siapakah yang bisa mengendalikan, menenangkan, menjinakkan, dan mendamaikan hati ini?

Aku berteriak di dalam hatiku,
“Tuhan, tolong aku! Tolong aku!”
“Tuhan berbicaralah!”

Dan suatu pikiran menghantam benakku,
PRAY!”

Aku tercelikkan. Aku bertanya pada diriku, “Wahai diriku, sejak awal hatimu gelisah tadi, sudahkah kau berdoa?” “Belum,” kata jiwaku.

“Apa?! Aku belum berdoa?” Akupun tertampar. “Mengapa aku belum berdoa? Mengapa aku lupa akan Dia di masa gundahku?” kata jiwaku. Aku memandang bersalah diriku sendiri. Aku malu kepada Tuhanku. Lalu akupun berdoa.

Kemudian, ketika aku memejamkan mataku dan mulai berdoa, terdengarlah olehku nyanyian dari laptopku:

I trust in God wherever I may be,
Upon the land, or on the rolling sea,
For come what may, from day to day,
My heav’nly Father watches over me.

Refrain:
I trust in God, I know He cares for me;
On mountain bleak or on the stormy sea;
Though billows roll, He keeps my soul;
My heav’nly Father watches over me.

He makes the rose an object of His care,
He guides the eagle through the pathless air,
And surely He remembers me;
My heav’nly Father watches over me.

I trust in God, for, in the lion’s den,
On battlefield, or in the prison pen,
Through praise or blame, through flood or flame,
My heav’nly Father watches over me.

The valley may be dark, the shadows deep,
But, oh, the Shepherd guards His lonely sheep;
And through the gloom He’ll lead me home,
My heav’nly Father watches over me.

Dan aku percaya kepada-Nya. Badai di hatikupun reda. Sumbu yang hampir pudar nyalanya di hatiku kini berkobar kembali. Tenanglah kini hatiku. Tuhan memimpin langkahku. Terpujilah Tuhan.

Spurgeon (3)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apa yang kupetik dari peristiwa sore itu? Sungguh, kukatakan padamu: Manusia tidak mampu mengendalikan hatinya sendiri.

TUHAN-lah yang menciptakan hati manusia. Untuk-Nyalah hati manusia diciptakan. Hanya Dia yang sanggup mengendalikan dan menguasai hati manusia. Hanyalah Dia yang mampu menenangkan, menjinakkan, mendamaikan hati ini.

Dan ketika gundah gulana masuk ke dalam hatimu, awan gelap menaungi benakmu, beban berat menimpa jiwamu, sementara kau tak siap sedia, maka kau tidak akan berdaya. Percayalah, kau tidak dapat menenangkannya. Ajaran dan tips-tips dunia tidak akan menjadi jawabannya. Dunia, dengan hikmatnya yang fana, bahkan tidak dapat mendamaikan dirinya sendiri, bagamaina ia dapat menolong dan menasehatimu? Kau tidak akan pernah sanggup membebaskan hatimu dari lembah itu dengan pertolongan dunia. Kau tidak akan mampu dan menyelamatkan dirimu dari kegelapan itu sendirian. Dan ketika kau tiba di saat itu, siapakah yang akan kau harapkan? Siapakah pertolonganmu?

Ayat - Filipi 2 13

Kau butuh Roh Kudus. Dialah Penolongmu (Yohanes 14:16). Kau tidak sanggup melakukannya tetapi Ia sanggup. Kau tidak dapat mengendalikan hatimu tetapi Ia dapat. Ia akan mendorong hatimu untuk berdoa sekalipun dagingmu menolak melakukannya. Ia akan menguatkan hatimu untuk taat sehingga engkau mau berdoa. Dan hanya setelah engkau taat, kau baru dapat “mendengar suara-Nya.” Ia akan berbicara padamu dengan cara membuatmu memahami firman-Nya, mengingat kasih-Nya, dan percaya, bahkan bersukacita akan janji-janji-Nya yang indah dan menghidupkan. Itulah yang akan menjadi kekuatanmu, semangatmu, sukacitamu, ketenanganmu, kepastianmu, bahkan hidupmu.

Tetapi yang paling tinggi, yang menjadi puncak, dari pertolongan Roh Kudus itu adalah ini: Ia akan mengarahkan mata hatimu kepada Gembalamu yang setia, yakni Yesus Kristus, Tuhan kita.

MLJ

Dan ketika hal itu terjadi padamu, kau akan bernyanyi bersamaku, bersama semua orang kudus yang mengasihi-Nya, yang pikirannya dicellikan oleh Roh Kudus dan yang hatinya digerakkan Roh Kudus,  untuk bernyanyi bersama Charles H. Gabriel:

The valley may be dark, the shadows deep,
But, oh, the Shepherd guards His lonely sheep;
And through the gloom He’ll lead me home,
My heav’nly Father watches over me.

Amin

Cinta untuk Rumah-Mu

…sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku…
(Mazmur 69:10)

Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu
dari pada seribu hari di tempat lain;
lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku
dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.
(Mazmur 84:11)

Sore itu, ketika aku sedang berjalan kaki, melewati jalan yang sepi dan tenang menuju kosanku, aku memandang bangunan yang indah itu. Ah, betapa kucintai bangunan itu, rumah itu. Itulah rumahku. Itulah rumah Tuhanku.

Dari luar, aku melihat pintu gereja itu terbuka. Penasaran mulai timbul di dalam hatiku, “Ada ibadah apa di Jumat sore seperti ini?” Akupun melihat seorang laki-laki sedang duduk-duduk di teras rumah gembala gereja, tepat di samping bangunan gereja. Dari seragam yang ia kenakan, aku menduga ia adalah seorang supir, kemungkinan besar ia adalah supir gembala gereja ini.

Rasa ingin tahu mendorongku untuk masuk ke pekarangan gereja, melewati pagar gereja yang terbuka lebar. Aku mendekati pria itu. Aku punya satu pertanyaan besar yang selama ini kupendam tiap kali melewati gereja yang indah itu. Aku harap jawaban kudapatkan darinya, walaupun di dalam hati kecilku, aku rasa aku tahu apa jawaban untuk pertanyaanku. Dan inilah yang membuat hatiku gelisah, yaitu aku rasa aku tahu bahwa jawaban itu akan mengecewakan…

Akupun menyapa dan memperkenalkan diriku kepada orang itu. Aku memberitahunya bahwa aku adalah orang baru di kota ini dan aku sedang mencari gereja yang paling cocok untuk bertumbuh. Setelah sedikit obrolan untuk perkenalan, aku mulai menanyakan besar yang selalu hinggap di dalam benakku.

Aku                        : Di sini kebaktian berapa kali ya Bang?
Beliau                    : Dua kali Bang. Minggu jam 8 pagi sama jam 5 sore.
Aku                        : Oh oke-oke. Ada kebaktian lain Bang?
Beliau                    : Nggak ada Bang, cuma dua kali kebaktian itu saja.

Aku tahu itulah jawaban yang akan aku terima. Selama ini, itulah yang menjadi rasa penasaranku, atau yang mungkin lebih tepat, itulah kecurigaanku. Ah, alangkah baiknya jika kecurigaanku itu tidak benar. Tapi apa daya, itulah keadaan yang sebenarnya. Akupun menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya, sambil berharap ia mengganti jawabannya.

Aku                        : Oh, jadi kebaktian doa gitu ga ada Bang? Misal Rabu malam gitu?
Beliau                    : Ga ada Bang.

Hatiku hancur…

Aku                        : Oh, kalau begitu, sekarang ada acara apa di dalam?
Beliau                    : Sekarang kebaktian wanita, Bang.

Aku lega sekali mendengarnya. Sangat lega. Setidaknya, masih ada kaum wanita yang sadar bahwa persekutuan antaranak Tuhan merupakan sesuatu yang sangat penting dan ibadah Minggu yang hanya diadakan satu kali dalam seminggu tidaklah cukup untuk mengakomodasi urgensi untuk berkumpul, saling mendoakan, saling berbagi kasih, dan mendengarkan ajaran firman Tuhan. Oh, semoga Tuhan memberkati dan mempertahankan kebaktian itu. Semoga para ibu yang ada di dalamnya senantiasa diberkati dan disertai oleh-Nya. Semoga semangat dan kuasa Tuhan masih ada di dalam pertemuan itu.

Tapi sungguh aku belum puas. Bagiku, ibadah doa merupakan tanda dari gereja yang sehat. Ibadah doa merupakan bukti dari hamba Tuhan yang benar-benar bergantung pada kedaulatan dan kuasa Allah. Ibadah doa merupakan cerminan dari iman yang percaya bahwa Allah mampu menggerakkan hati jemaat-Nya untuk datang berkumpul dan berdoa di rumah-Nya sekalipun kebaktian itu diadakan bukan di akhir pekan.

Carson

Pertanyaan pertamaku terjawab dan jawaban itu mendukakan hatiku. Aku punya pertanyaan kedua yang sama besarnya, semoga aku tak kecewa kali ini.

Aku                        : Tapi ibadah pemuda ada kan Bang?
Beliau                    : Pemuda ada.
Aku                        : Oh, ada? Kapan, Bang?
Beliau                    : Tiap hari Minggu. Tapi ga di sini ibadahnya. Ibadahnya di rumah-rumah.

Aku tidak tahu harus senang atau harus sekali lagi, curiga. Sejujurnya, jawaban itu menimbulkan di hatiku rasa curiga yang lebih besar dibanding rasa senang. Aku curiga kebaktian pemuda di tempat ini tidak ada bedanya dengan di tempat-tempat lain. Aku curiga kebaktian pemuda di sini tidak lebih dari sekedar ajang berkenalan, berteman, aktualisasi diri, rekreasi, dan atau tempat mencari calon pendamping hidup. Aku curiga di sana tidak ada doa dan tangisan yang mengetuk pintu sorga. Aku curiga di sana tidak ada Firman Allah yang membalut luka. Aku curiga di sana tidak ada Roh Tuhan yang memberikan hidup. Ah, alangkah indahnya jika kecurigaanku itu tidak terbukti benar. Akupun hendak memastikannya.

Aku                        : Kenapa ga di gereja aja pemudanya, Bang?
Beliau                    : Ya begitulah. Mereka maunya begitu.
Aku                        : Oohh…
Beliau                    : Dulu rame Bang pemudanya. Tapi sekarang ya itu…
Aku                        : Kenapa Bang?
Beliau                    : Udah pada sibuk kan.

Hatiku hancur untuk kedua kalinya…

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya. Mungkin baginya apa yang sebentar lagi ia katakan merupakan sesuatu yang memberikan citra baik untuk kebaktian pemuda di sana. Tapi, entahlah, bagiku itu sama sekali tidak menggambarkan apa-apa, malahan menambah rasa curigaku. Inilah yang ia katakan:

Beliau                    : Pemuda di sini sering jalan-jalan, Bang.
Aku                        : Oh ya?
Beliau                    : Pernah ke sana, pernah ke Jambi, pernah ke situ. Jauh-jauhlah pokoknya.

Itu sama sekali bukan berita yang menggembirakan bagiku.

Ah, betapa indahnya jika mereka pergi ke tempat-tempat yang jauh itu untuk berdoa, bermisi, atau berbagi kasih kepada orang-orang yang sengsara. Tapi, apakah itu yang mereka lakukan? Aku tidak tahu. Aku hanya masih terlalu curiga. Ah, semoga saja yang terjadi adalah yang sebaliknya.

MLJ

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pembaca yang terkasih…

Melalui pesan singkat ini, aku sama sekali tidak memandang diriku layak untuk menggurui. Aku juga sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa aku sudah sempurna atau patut diteladani untuk hal yang satu ini. Sejujurnya, aku justru masih memiliki banyak kelemahan, apalagi dalam kaitannya dengan masalah ini. Tapi inilah beban dan keluhan yang ada di dalam hatiku dan yang menjadi ajakanku untuk kita sekalian:

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan…
Mari kita doakan gereja-gereja kita.
Mari kita doakan gembala dan pendeta kita.
Mari kita bangun gereja lokal kita.

Banyak gereja yang mati, Kawan.
Banyak gereja yang tak lagi berdoa.
Banyak gereja yang tak lagi mendalami firman Tuhan.
Banyak gereja yang tak lagi bermisi.

Banyak gereja yang terhanyut dunia, Kawan.
Banyak yang hanya mementingkan jumlah pemasukan dan pengunjung gereja.
Banyak yang hanya mementingkan relasi dan fellowship.
Oh, relasi yang erat tetapi dengan kebenaran yang dangkal apalah artinya?

Dan lebih buruk dari semua itu
Oh… betapa banyak gereja
yang tidak lagi memandang Tuhan Yesus Kristus
sebagai Roti Hidup, untuk dimakan setiap hari
sebagai Air Hidup, untuk memuaskan dahaga tiap pagi
sebagai Jalan yang lurus,
sebagai Kebenaran yang tertinggi,
sebagai Hidup yang baru dan yang kekal,
sebagai satu-satunya Harapan bagi semua orang berdosa,
dan Jalan Keluar bagi dunia yang perlahan sirna

Banyak gereja mengecilkan dan melupakan Tuhan Yesus
Banyak gereja tidak lagi memandang-Nya sebagai yang terutama dan satu-satunya

Oh, Kawan…
Jangan katakan kalian tidak melihat semua itu.
Aku yakin kita semua adalah saksi hidup akan “runtuhnya” gereja-gereja kita.

Mari kita bangun, Rekan terkasih.
Janganlah lagi kita acuh tak acuh.”

Lawson

Sungguh, adalah sesuatu yang baik jika kita melayani di PMK, di LP, di sekolah, atau di lembaga Kristen lainnya. Tapi menurutku, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan kita untuk tidak melayani atau menjadi pasif di gereja lokal kita masing-masing.

Sesungguhnya, gereja lokal tidak bisa disejajarkan dengan semua itu. Gereja lokal adalah satu-satunya lembaga yang Tuhan Yesus dirikan di Alkitab, yang pembangunannya dimulai sejak peristiwa Pentakosta di mana Roh Kudus diutus dan dicurahkan dengan limpahnya kepada murid-murid-Nya. Gereja lokal adalah satu-satunya organisasi yang struktur kepemimpinannya di atur oleh Allah sendiri, melalui arahan dan instruksi dari para rasul yang terkasih. Gereja lokal adalah satu-satunya gerakan yang di dalamnya bisa kau temukan diaken (deacon), penatua (elder), penilik (bishop), pengajar (teacher), penginjil (evangelist), dan gembala (pastor). Itu sama sekali bukanlah hal yang sepele atau formalitas belaka. Itu merupakan struktur yang Tuhan atur sendiri di Alkitab sehingga tidaklah bijaksana jika kita menyepelekannya. Dan juga, hanyalah gereja lokal yang menunaikan tugas-tugas khusus yang juga diatur oleh Alkitab, seperti baptisan dan perjamuan kudus. Sungguh, Tuhan sendirilah yang mendirikan gereja-gereja lokal milik-Nya. Alangkah baiknya jika kita, anak-anak-Nya, tidak mengabaikan gereja-Nya.

“Oleh sebab itu, Kawan…
Berdoalah bagi gereja kita.
Menangislah di depan pintu Tuhan
untuk meminta berkat dan penyertaan-Nya bagi gereja-gereja.

Mintalah hikmat-Nya tentang apa yang harus kita lakukan bagi gereja-Nya.
Kemudian marilah kita belajar sangkal diri.

Aku tahu tidak semua orang merasa nyaman melayani di gereja.
Hal itu juga menjadi pergumulan bagiku.

Tapi biarlah cinta untuk rumah-Nya menghanguskan hati kita,
menyalibkan daging kita, dan
membakar roh kita.

Biarlah gereja-gereja mendidik.
Biarlah gereja-gereja memperhatikan orang-orang yang miskin dan sengsara.

Biarlah gereja-gereja menentang budaya yang bobrok di bangsa ini.
Biarlah gereja-gereja menentang semua bentuk kefasikan di tanah air ini.

Biarlah gereja-gereja bersatu dan saling menguatkan.
Biarlah gereja-gereja berdoa.

Biarlah gereja-gereja mengajarkan firman Tuhan.
Biarlah gereja-gereja memberitakan Injil Damai Sejahtera.

Biarlah gereja-gereja bangkit.
Biarlah gereja-gereja hidup.

Watson (2)

Biarlah gereja senantiasa memandang kepada Sang Kepala Gereja

yang tidak datang untuk orang benar,
melainkan untuk orang-orang berdosa

yang menebus mereka dari neraka dengan darah-Nya
yang menyelamatkan mereka dari murka Bapa-Nya

yang menghibur hati yang berduka
yang menguatkan jiwa yang sengsara
yang membalut mereka yang terluka
yang mencelikkan mereka yang buta

yang membangkitkan mereka dengan hembusan Roh Kudus-Nya
dan menganugerahkan mereka kelahiran yang kedua 

10922789_798709676842854_3088351075276070973_n

yang menjadikan mereka bayi-Nya, buah hati-Nya,
biji mata-Nya, kesayangan-Nya,
anak-anak-Nya, para ahli waris-Nya

yang mengukir firman-Nya di benak mereka
yang menulis hukum-Nya di hati mereka
yang berdiam di dalam diri mereka

yang menghiasi kepala mereka dengan mahkota sorga-Nya
yang memakaikan pakaian kekudusan kepada mereka untuk pesta-Nya
yang memasangkan cincin kepada mereka, untuk menjadi mempelai-Nya

Siapakah Dia?
Oh, Dia adalah Tuhan Yesus Kristus
yang pernah berkata:

Ayat - Rock

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Di Doa Ibuku

Salah satu kebahagiaan terbesar di dalam hidupku adalah mengetahui dan meyakini bahwa mamaku sudah lahir baru. Wahai dunia, mamaku sudah diselamatkan dan aku melihat buah-buahnya. Oh alangkah senangnya hatiku melihat karya Tuhan di dalam hidupnya. Betapa dahsyatnya Tuhan Yesus mengubah hidupnya sedemikian luar biasa. Hatiku bergirang-girang mengetahui bahwa aku akan selalu bersama mamaku, tidak hanya di dunia ini, tetapi juga di sorga kelak.

Dan demikianlah hari ini, kembali hatiku bersorak-sorai ketika aku berbicara dengannya. Oh, hikmat Allah sungguh ada padanya. Iman bak seorang anak kecil Tuhan anugerahkan ke dalam hatinya. Dan inilah yang dia katakan ketika kami sedang membicarakan tentang ayahku yang sampai saat ini masih merasakan sesak di jantungnya pasca operasi beberapa waktu yang silam:

Bang, mama selalu berdoa buat bapakmu
Inilah yang mama doakan sama Tuhan
Selalu mama bilang gini:

“Ya Bapa, aku ini hanya debu tanah, ga bisa aku sembuhkan suamiku…
Hanya Engkaulah yang bisa menyembuhkan suamiku

 Kaulah ya Tuhan yang menciptakan seisi dunia ini
Kaulah ya Tuhan yang menciptakan bintang-bintang
Gada apa-apanya penyakit jantung suamiku itu bagi-Mu

Sembuhkanlah yah Tuhan suamiku
Karena aku masih menyayanginya
Karena anak-anakku masih membutuhkannya
Karena aku masih ingin mengobrol dengannya…”

“Iman seorang anak kecil”, iman itulah yang selalu kulihat ada pada mamaku. Iman itulah yang membuatku bersorak-sorai di hadapan Yesus, My Beloved Master, karena aku tahu bahwa aku akan bersama-sama dengan mamaku di sorga kelak. Iman itulah yang selalu aku inginkan, agar menjadi kalung di leherku, dan mahkota di kepalaku.

Tetapi Yesus berkata:
“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku;
sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
(Matius 19:14)

Aku Takut Mati

philippians_1_22_by_tsumench-d39q2b8

Tidak selalu, tetapi aku sering kali memikirkan bagaimana aku akan mati kelak. Secara daging, tentu saja aku mengharapkan kematian yang, you know, tidak menyakitkan. Aku ingin mati dalam damai, dikelilingi orang-orang yang kukasihi, aku memberikan nasehat-nasehat terakhir kepada mereka, dan mereka mendoakan aku. Akan tetapi, hmm I don’t know, setiap kali aku membayangkan kematian yang demikian, aku merasa bahwa diriku sangatlah egois. Bahkan Tuhan Yesus, Rajaku, dipermalukan, disiksa habis-habisan, dan dibunuh di atas kayu salib, bagaimana mungkin aku bisa seegois itu mengharapkan kematian yang menyenangkan?

Kau mengerti arah dari pembicaraanku ini? Apa yang kumaksud bukanlah kematian biasa, melainkan tentang kematian karena iman di dalam Kristus.

2666
Dalam benakku, aku sering memikirkan perkataan-perkataan ini:

BERBAHAGIALAH kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus,
sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
(1 Petrus 4:15)

Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita,
maka itu adalah KASIH KARUNIA pada Allah.
(1 Petrus 2:20)

Sebab kepada kamu DIKARUNIAKAN bukan saja untuk percaya kepada Kristus,
melainkan juga untuk MENDERITA untuk Dia,
(Filipi 1:29)

Mengertikah engkau, saudaraku? Menderita bagi dan karena Kristus adalah suatu karunia. Akan kuulangi sekali lagi, itu KARUNIA. Itu berkat. Wooowww… Turut menderita untuk Kristus, adalah suatu karunia. Itu merupakan suatu kehormatan. Kehormatan bagi setiap orang yang benar-benar mencintai-Nya, lebih dari apapun, bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Itulah yang terus-menerus terngiang di kepalaku. Oh, alangkah indahnya jika aku diberikan kehormatan oleh Rajaku, Majikanku yang kulayani, untuk mati bagi Dia dan memproklamasikan nama-Nya yang indah di hadapan semua pembenci-pembenci-Nya.

Tetapi aku takut…
Tetapi aku sangat takut…
Tetapi aku terlalu takut…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku adalah orang lapangan. Lapangan di mana aku bekerja ada di pulau yang berbeda sehingga untuk sampai ke sana, aku harus mengambil perjalanan via udara. Dalam setahun, bisa dibilang frekuensi penerbangan yang kuambil cukup tinggi. Dan aku tidak tahu apakah semua orang yang sering naik pesawat memikirkan hal yang sama, tetapi aku selalu membayangkan bahwa hari di mana aku terbang adalah hari terakhir dalam hidupku. Kau mungkin tertawa membaca pengakuanku ini tetapi aku sungguh-sungguh membayangkan hal itu dan tidak bisa kupungkiri, ada sedikit ketakutan di dalam hatiku. Bukannya aku takut kalau-kalau aku belum menerima keselamatan dari Allah, yang aku takutkan adalah penderitaan jasmani seandainya pesawat yang kutumpangi meledak, menabrak, jatuh, atau apapun.

Akan tetapi, perjalanan tempo hari sedikit berbeda. Setelah mengambil boarding pass, aku berjalan menuju ruang tunggu. Seperti biasa, pikiran itu muncul lagi, “OK Richard, bagaimana jika pesawatmu celaka, ditembak, atau whateversakit loch.” Berbeda dengan sebelumnya, kala itu aku tidak terlalu bermasalah dengan pikiran itu. Aku tidak membiarkan diriku tenggelam dalam ketakutan yang demikian. Namun, terbebas dari ketakutan itu tidak menjamin hatiku menjadi semakin tenang, sebab justru setelah itu aku membayangkan hal yang lebih menakutkan:

“Wahai diriku, betapa indahnya jika kau disiksa dan mati bagi Kristus…”

Aku tidak bisa mengatakan bahwa pikiran itu adalah pikiran yang kudus. Aku tidak tahu darimana datangnya pikiran itu. Apakah pikiran itu datangnya dari Allah atau iblis yang sedang menyuarakannya untuk membuat hatiku menjadi gentar dan tidak damai sejahtera. Dan memang, tiap kali memikirkan hal itu, aku menjadi bersusah hati, berbeda seperti apa yang Yesus sampaikan ketika Dia berkata, “Janganlah gelisah hatimu” (Yohanes 14:1).

Aku tidak tahu mengapa aku sering memikirkan hal itu. Aku tidak tahu mengapa aku memikirkan hal itu pada saat itu. Dan aku juga tidak tahu dari siapakah pemikiran itu muncul. Akan tetapi, aku tahu satu hal terjadi pada saat itu, dan itu indah, sebab ketika hatiku gentar, ada “suara” lain datang kepadaku. Dan suara itu berkata:

Richard, jangan takut.
Bahkan keberanianpun adalah anugerah dari-Ku.
Itu bukan hasil usahamu.”

O My God. Itu sungguh indah. Itu sungguh-sungguh istimewa. Aku tidak menyangka hikmat yang demikian bisa datang kepadaku di sebuah bandara. Tetapi aku tidak peduli, entahkah aku ada di bandara, atau di pesawat, atau di kantor, atau di lembah kekelaman sekalipun, Allahku akan selalu berada bersamaku.

Apakah aku akan mati ditembak?
Dipenggal? Diracuni? Disiksa sampai mati?
Digantung? Dirajam batu? Dimasukkan dalam gas chamber?
Aku tidak tahu, tetapi aku tahu bahwa:
Dia akan menganugerahkan KEBERANIAN dan SUKACITA yang CUKUP untuk menjalaninya

Itu sungguh indah. Itu tak terkatakan. Itu menjawab semua pergumulan dan ketakutanku. Aku tidak perlu kuatir dengan apakah aku akan bisa menjalani masa-masa penderitaan demi Kristus. Aku tidak perlu bersusah hati karena berpikir bahwa aku tidak akan pernah menjadi cukup berani. Aku tidak perlu memusingkan diri memikirkan cara apa yang bisa kulakukan supaya aku bisa lebih berani.

sproul-meme

Aku hanya perlu berserah kepada Kristus. Aku hanya perlu menanti pertolongan-Nya. Keberanian itu bukan berasal dari diriku sendiri. Keberanianpun adalah anugerah Allah dan bukan hasil usaha manusia. Aku yakin, anugerah Allah cukup untuk setiap waktu. Aku yakin, ada anugerah Allah yang khusus untuk setiap perkara. Aku juga yakin, pasti ada anugerah “untuk berani menjalani penderitaan bahkan kematian karena mempertahankan iman di dalam Kristus.”

Dipuaskan oleh hikmat dari Allah, akupun melanjutkan langkahku. Pesawatku siap, aku naik pesawat. Aku duduk, aku membaca bukuku. So far so good. Hingga akhirnya sesuatu terjadi. Oh kukatakan padamu, aku tidak pernah mengalami penerbangan yang lebih menakutkan dibanding penerbangan tempo hari. Pesawat yang kunaiki goyang benar-benar goyang. Guncangan itu benar-benar berbeda dari biasanya, setidaknya bagiku. Aku tidak sedang mengada-ngada. Semua orang tampak ketakutan pada saat itu, tidak terkecuali aku. Tetapi satu hal, sekalipun aku takut, aku tidak tenggelam dalam ketakutan itu. Sebaliknya, aku tenggelam dalam pengharapan, dan pengharapan itu indah, sangat indah, dan di dalam hatiku, aku berdoa:

I’m ready to see My Lord.

Singkat cerita, Tuhan belum mengizinkanku untuk kembali ke rumah-Nya saat itu. Pesawat kami sampai ke tujuan dengan selamat. Aku tidak jadi, ya… tidak jadi mati. Tetapi puji Tuhan, penerbangan yang mengerikan itu benar-benar memberikan pelajaran yang berbekas dalam hatiku.

Sayang sekali, ya mungkin aku bisa mengatakan “sayang sekali”, nampaknya Tuhan masih belum menyatakan bahwa tugasku di dunia ini sudah selesai. Tuhan masih ingin melaksanakan rancangan-Nya yang belum tunai sepenuhnya di dalam dan melalui hidupku. Oleh sebab itu, aku harus hidup. Dan sekalipun aku masih harus terpisah untuk sementara waktu dari Rajaku, tidak apa sebab aku masih diberi-Nya kesempatan untuk bekerja bersama-Nya mencari “domba-domba-Nya”, yang dengan kata lain adalah “saudara-saudara-Ku”, yang masih terhilang.

Bekerja Memberi Buah

Dan aku tidak tahu, apakah suatu saat nanti, Yesus, Rajaku, akan mengizinkankanku untuk mati bagi nama-Nya. Aku tidak tahu kapan gilirannya anak-anak Tuhan di Indonesia akan disiksa dan dibunuh, maksudku benar-benar disiksa, diburu, dan dibunuh seperti yang sedang gencar-gencarnya terjadi di belahan bumi yang lain. Aku tidak tahu apakah masa yang penuh penderitaan itu akan datang pada masaku atau tidak. Yang aku tahu, masanya sudah dekat. Sangat dekat. Sebab dunia sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda kedatangan masa itu. Oh dunia, betapa bobroknya engkau. Tetapi tidak apa, sebab kebobrokanmu yang nyata itu menjadi pertanda yang jelas bahwa Yesus, Raja kami, akan datang dengan segera.

Aku tidak tahu kapan aku akan mati. Aku tidak tahu bagaimana aku akan mati. Tetapi aku tahu bahwa orang yang mati bagi nama Kristus akan sangat sangat sangat, maksudku SANGAT BERBAHAGIA. Itu adalah sebuah anugerah. Kasih karunia. Dan pada saat yang sama, itu merupakan suatu kehormatan tak terkatakan yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

 “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga,
sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”
(Matius 5:12)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penerbangan tempo hari begitu menyeramkan. Tetapi puji Tuhan, Dia menguatkan hatiku. Dan walaupun kengerian di pesawat waktu itu terhitung masih belum seberapa, aku rasa aku mulai mengerti seperti apa rasanya menerima anugerah keberanian dalam menghadapi kematian. Aku yakin, suatu saat kelak, di detik-detik terakhir dalam hidupku, anugerah itu akan datang kepadaku, dan dalam menjelang kematianku, entah bagaimanapun cara aku akan mati kelak, aku akan menghadapinya dengan iman, pengharapan, dan terutama KASIH kepada Rajaku yang kubanggakan, dan aku bisa berkata:

“It’s only by Your blood
It’s only through Your mercy

Lord, I come.

Maaf, Tapi Ini Bukan Hari Ulangtahunku

Masih teringat jelas di benakku, kejadian di tahun yang lalu. Pagi itu, aku sendirian di sebuah kamar yang menurutku berada in the middle of nowhere. Aku sendirian, tanpa internet. Ponsel? Iya, aku membawanya bersamaku, hanya saja kartu yang ada di dalamnya adalah kartu baru yang tak seorangpun tahu kecuali keluargaku. Tak satupun kawanku yang akan menyapa atau memberikan ucapan selamat padaku.

Aku sendirian, literally but not spiritually, sebab aku bersama Allah dan Alkitabku (tepatnya, buku sateku). Dan aku bersyukur, sekalipun aku sendirian dan hampir-hampir kesepian, aku akan selalu tahu bahwa Dia akan selalu ada bersamaku. Dan justru terkadang di hari-hari kesendirian seperti itulah aku bisa semakin mengerti bahwa aku adalah milik-Nya dan Dia ada di pihakku. Dan pagi itu, Tuhan sekali lagi membuktikannya padaku. Aku mengawali hari jadiku di pagi itu dengan doa:

Ya Tuhan… Jadikanlah aku…
Orang yang selalu bersyukur
Orang yang murah hati dan senang memberi

Jadikanlah aku berkat, tapi jangan sampai aku mencuri kemuliaan-Mu
Jadikanlah aku seorang pendoa

Ya Tuhan, ingin rasanya aku bisa memberitakan Injil lagi
Aku ingin hidup menggenapi visi yang sudah Kau taruh di hadapanku

Aku berdoa dengan sepenuh hatiku, hingga akhirnya sesuatu menghentikanku di dalam doaku. “Mengapa aku berhenti? Mengapa aku kehabisan kata-kata?” tanya hatiku kaget. Perasaan itu sungguh aneh. Tidak biasanya aku berdoa seperti ini. Lebih tepatnya, tidak biasanya aku tidak bisa berdoa seperti ini. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang bukan dari diriku sendiri yang membuatku tidak lagi sanggup menyambung kalimat demi kalimat di dalam doaku.

“Tuhan, apa yang terjadi di dalam diriku? Ini hari ulangtahunku, tapi mengapa pagi-pagi seperti ini aku sudah tidak bisa berdoa? Apa yang salah denganku? Tuhan, tolonglah aku menjadi berkat, menjadi pendoa, menjadi pengasih, hmmm… lalu apa lagi yah Tuhan, aku tidak tahu lagi mau meminta apa, huummm… oh ya, jadikan aku pemberi… hhmm, lalu apa lagi Tuhan, katakanlah padaku Engkau ingin aku menjadi apa lagi sebab sekarang aku sudah kehabisan ide untuk meminta.”

Aku memanggil Dia di dalam doaku. Tapi aku belum menerima jawaban. Aku mencari dan terus mencari Dia. Tapi Dia masih juga diam. Aku terus mempertanyakan apa yang salah denganku pagi itu. Sayangnya, aku terlalu terpaku pada ketidakmampuanku untuk melanjutkan doa sampai akhirnya aku merasa sendirian di dalam doaku sendiri. Dan di dalam rasa sendiri itu, aku memanjatkan doa terakhirku minta tolong, “My Lord, jangan tinggalkan aku, dengar dan tolonglah anak-Mu ini!” Dan sebelum aku benar-benar merasa terintimidasi, Dia bersegera menjawabku…

“Cukuplah semua permintaanmu itu, Richard!
Kau tak perlu meminta hal sebanyak itu.
Yang Ku-inginkan dari engkau hanya satu, jadikanlah ini permintaanmu!
Jika engkau mau meminta, mintalah agar kau menjadi SERUPA DENGAN KRISTUS!”

Aku kaget. Dari mana datangnya hikmat itu? Mustahil itu datang dari diriku sendiri, apalagi dari iblis. Aku yakin Roh Kuduslah yang berkata-kata dalam hatiku. Aku sangat ingin tahu bagaimana ekspresi wajahku ketika menerima jawaban itu di hatiku. Apakah dahiku mengerut? Apakah aku tersenyum? Jangan-jangan wajahku tak berekspresi? Aku tidak tahu. Apa daya, aku tak mungkin bisa melihat ekspresiku sendiri sebab aku tidak sedang berada di depan cermin. Lagipula, saat itu aku sedang memejamkan mataku, kan aku sedang berdoa. Tetapi walaupun aku tidak bisa melihat ekspresi wajahku, aku tahu benar yang terjadi di hatiku.

Dan di dalam dunia hatiku,

Tanah yang kupijak bergetar

Gunung-gunungpun goyang

Langit berguncang

Gelombang laut menerjang

Badai dan halilintar menyambang

Lihatlah… Dia datang!

When I call on Jesus
Mountains are gonna fall
‘Cause He’ll move heaven and earth to come rescue me when I call

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan saat ini, sudah genap satu tahun setelah kejadian itu terjadi. Satu tahun yang begitu luar biasa telah kujalani. Satu tahun yang membuatku berbeda hari demi hari. Satu tahun yang tidak saja membuatku lebih baik, sekalipun aku pernah terjatuh, tetapi juga membuatku BARU. Dan demikianlah hari demi hari kulewati, hingga akhirnya, sampailah juga aku di malam hari kemarin, beberapa saat menjelang hari jadiku. Di dalam hati aku percaya, bahwa kali inipun Dia akan menuntun hatiku, sama seperti yang Dia lakukan di tahun yang lalu, sama seperti yang Dia lakukan senantiasa.

Dan malam itu,
Aku tidak pernah menyangka sebelumnya
Bahwa aku akan kehilangan seseorang yang begitu dekat denganku…

ME : Richard, kau tahu hari ini hari apa?

MS : Memangnya kenapa?

ME : Come on, kamu itu Richard. Kamu suka melakukan segala hal dengan grand style.

MS : Grand style? Grand style apa maksudmu?

ME : Jangan katakan kalau kau lupa bahwa besok adalah hari ulang tahunmu!

MS : Iya, aku tahu, besok adalah hari ulang tahunku. Lalu kenapa?

ME : Ayolah, kita jelang hari esok dengan grand style. Kita buat legenda untuk dikenang.

MS : Tidak, aku rasa kita harus mengakhiri semua ini.

ME : Wait, what do you mean?

MS : Hidup ini bukan tentang kita. Ini tidak pernah dan tidak akan pernah tentang kita.

*ME: me , MS: my self

Aku hanya bisa terdiam menyaksikan perbincangan antara aku dan diriku di dalam alam pikiranku. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu saat aku bisa berpikir seperti itu. Aku percaya, hikmat itu bukanlah dari diriku. Aku percaya, Allah-lah yang menuntun hatiku untuk memutuskannya. Dan di dalam hikmat itu, aku tahu aku harus mengucapkan selamat tinggal pada seseorang. Aku tidak menduga bahwa malam itu adalah malam terakhirku bersama salah satu serpihan dari diriku. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa hari ulang tahunku akan menjadi hari kematian bagi sebagian dari diriku.

Aku yang dahulu ada orang yang selalu memikirkan cara bagaimana agar aku bisa melakukan semuanya dengan grand style. Aku mau apa yang kukerjakan tetap ada di ingatanku sehingga kelak ketika aku memandang ke belakang aku bisa tersenyum dan berkata, “Wahai diriku satu tahun yang lalu, terima kasih Bro, jasamu besar, you are our legend!”

Aku yang dahulu selalu memikirkan apa yang harus kulakukan menjelang ulang tahun, hari Natal, Tahun Baru, bahkan Hari Valentine. Aku pernah melalui hari-hari yang luar biasa di antara semua itu dan tak akan pernah kusesali grand style yang pernah kubuat. Tetapi aku rasa, sudah saatnya aku menutup buku atas semua itu. Sudah saatnya aku berubah. Mengapa?

Karena siapa bilang hidup ini adalah tentang aku?

Hari ini adalah hari ulangtahunku, itu benar, terus kenapa? Apakah karena ini adalah hari ulang tahunku maka aku harus menjadikannya lebih istimewa dibanding hari-hari lain yang juga diberikan Allah kepadaku? Apakah karena ini adalah ulang tahunku maka aku harus mencari ide yang muluk-muluk untuk membuat grand style yang melegenda?

TIDAK!

Ini bukan tentang aku

Ini tidak lagi tentang aku

Ini tidak pernah tentang aku

Apakah akan ada orang yang memberi ucapan selamat untuk ulang tahunku? Apakah aku akan disukai dan diterima banyak orang? Apakah orang-orang akan membicarakan atau menanyakan tentang aku? Apakah statusku akan di-like? Apakah tulisan di blog-ku akan diapresiasi?

Hidup ini BUKAN TENTANG ITU loch!

Hidup ini bukan tentang aku

Aku bukan tokoh utama di dalam hidup ini

Apakah akan ada orang yang menyakiti perasaanku? Apakah aku akan tertolak? Apakah aku akan dibanding-bandingkan dan aku kalah? Apakah ada orang yang lebih bertalenta, pintar, dan saleh dibanding aku? Apakah ada orang yang terlalu populer hingga perlahan aku terlupakan dan tak lagi ada? Apakah suatu saat ketidakadilan akan menimpaku? Apakah sakit penyakit atau bahkan bencana alam akan menghantamku?

AKU TIDAK PEDULI!

Sebab hidup ini bukanlah tentang aku

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku akan berpikir seperti ini. Aku yakin hikmat ini bukan berasal dari diriku sendiri, melainkan dari Allah. Hikmat ini, menjadi salah satu dari dua pernyataan yang paling MEMERDEKAKAN di dalam hidupku. Dan kalau aku boleh menyimpulkan seluruh isi Alkitab, dua pernyataan ini bisa menyimpulkannya, yakni bahwa:

Tuhan Yesus mengasihiku dan di dalam Dia aku beroleh pengampunan dosa

 dan

Hidup ini bukanlah tentang aku

Lalu tentang siapakah semua ini? Ini semua adalah tentang Dia. Ini tidak pernah selain tentang Dia. Dialah Allah yang penuh kasih, yang mengoyakkan langit dan memindahkan gunung untuk menolong aku ketika aku berteriak minta tolong. Dialah Allah, Sang Manna Hidup, yang turun dari langit, hidup di bumi, menderita bahkan mati di kayu salib untuk menghapus segala dosaku.

Aku dikasihi-Nya dan kasih itu melahirkan kasih di dalam hatiku. Aku mengasihi-Nya dan kasih itu yang memampukanku untuk sedikit demi sedikit melupakan keinginan-keinginanku. Aku hidup hanya untuk memuliakan Dia, bukan untuk mencari kemuliaan bagiku sendiri. Ini adalah tentang Dia dan bukan tentang aku. Dia harus makin besar, aku harus makin kecil bahkan terlupakanpun tak apa.

John 3-30Aku hidup namun aku terlena. Kemudian aku bertanya-tanya, apa makna hidup ini. Aku mencari dan mencari tapi tak satupun dalam hidup ini bisa menjelaskan apa makna hidup kepadaku. Kemudian di tengah keputusasaanku, Dia datang dan berkata, “Jika kau ingin tahu apa makna kehidupan, janganlah mencarinya di dalam kehidupan, melainkan carilah di dalam Aku!” Aku percaya hal itu dengan segenap hatiku, sebab sungguh kasih karunia-Nya lebih baik bahkan dibanding kehidupan itu sendiri.

ps63_3

Tepat sekali, ini memang bukan tentang aku. Haleluya, sungguh luar biasalah Dia. Dialah yang mengundangku untuk hidup, benar-benar hidup, bukan sekadar exist di dunia ini. Dia yang dengan penuh kasih setia menunjukkan padaku bahwa untuk sampai kepada hidup, aku harus melalui “kematian”. Untuk hidup seutuhnya bersama Dia, aku harus melepaskan hidup yang kupertahankan selama ini. Untuk hidup, aku harus “mati”.

Matthew 10 39 NKJV

“It’s not about me”, itu adalah suatu rahasia. Rahasia yang tidak bisa dimengerti oleh semua orang. Orang-orang mencari apa arti hidup tetapi mereka tidak menemukannya. Mereka rela memberikan segala yang mereka punya untuk bisa mengetahui alasan mengapa mereka tercipta di dunia ini tetapi mereka tak kunjung memahaminya. Mengapa? Karena itu adalah sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang hanya bisa dipecahkan dalam hidup bersama Yesus.

Bagi dunia, it’s all about me, it has to be about me. Kau harus menyukaiku. Kau harus menerimaku. Kau harus setuju denganku. Ayo-ayo, tanya sesuatu tentang aku sebab aku suka ditanyai. Dan apa yang terjadi? Mereka hanya mendapati diri mereka berakhir di padang gurun. Mereka bahkan tak ingat mengapa mereka bisa sampai ke sana dan bagaimana cara untuk pulang.

Bagi dunia, it’s not about me adalah tanda kekalahan dan ucapan selamat tinggal pada kesenangan hidup. Tetapi coba tebak! Yesus menaruh rahasia dan harta karun hidup yang melimpah di dalam suatu peti yang tertutup rapat. Peti itu tidak memiliki kunci. Satu-satunya cara untuk membuka peti itu adalah dengan mengucapkan kalimat sandinya. Dan kau tahu apa? Kalimat sandi itu adalah:

Maaf, Tapi Ini Bukan Hari Ulangtahunku

Hanya dalam Kristuslah, “It’s not about me” justru menjadi jalan menuju hidup yang seutuhnya!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tulisan ini kupersembahkan untuk

King of kings, Lord of lords,
My Wonderful,
My Counselor,
My God Almighty
My Everlasting Father,
My Prince of Peace,
My Immanuel,
My Holy Trinity,

Whom I serve in the name of Jesus Christ, My Lord
It’s about You, My Lord
It’s not about me, it will never be


dan kepada semua temanku
Sungguh suatu kehormatan bisa mengenal kalian semua

Terima kasih atas semua ucapan selamat yang diberikan kepadaku. Aku benar-benar berterima kasih atas doa dan sanjungan kalian. Aku tidak tahu bagaimana bisa membalasnya tetapi sejauh ini, dan mungkin sampai kapanpun, aku rasa tidak ada hal yang lebih berarti untuk kuberikan kepada kalian pribadi lepas pribadi selain dua hal tadi, yakni bahwa Yesus mengasihimu sepenuh hati-Nya dan bahwasanya hidup ini bukanlah tentang engkau.

Dan mengenai judul dari artikel ini,

Hmmm… Bagaimana yah?

Sungguh ini bukanlah hari ulang tahunku. Ini memang adalah birthday-ku tetapi ini jelas bukan hari ulang tahunku. Mengapa? Sebab aku yakin aku tidak pernah merasakan hidup seperti ini sebelumnya. Hari ini tidak pernah ada sebelumnya dan hari ini bukanlah ulangan dari hari-hari di tahun sebelumnya. Dengan demikian, ini bukan hari “ULANG”-tahunku.

Ini adalah hari yang baru bagiku. Dan terhitung dari hari ini, setiap hari akan menjadi hari yang baru dan luar biasa di dalam Dia. Jadi kalau kalian ingin mengucapkan selamat padaku, lebih baik ucapkan saja SELAMAT TAHUN BARU, sebab hari ini benar-benar adalah hari yang baru bagiku, ha hi hu he ho…

Tapi kalau kalian tetap mau mengucapkan “Selamat Ulang Tahun”, ya gapapa juga sih.

Mengapa? Karena ya itu tadi…

Karena toh ini bukan tentang aku

Bertemu Saksi Yehuwa di Car Free Day

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa hari ini akan datang…

Puji Tuhan hari ini aku bangun lebih awal dari sebelumnya. Aku sebenarnya ingin kembali tidur tetapi aku memutuskan untuk tetap bangun. Aku yakin, jika kau bangun lebih awal, maka kau akan punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan harimu. Entah mengapa, satu jam di pagi buta terasa lebih panjang dibanding 1 jam di siang atau malam hari. Dan seakan teoriku benar, entah bagaimana aku rasa aku melakukan cukup banyak hal hanya dalam waktu satu jam di pagi hari tadi. Dan demikianlah aku mengawali segalanya.

Aku berangkat untuk olahraga di car free day lebih awal dibanding minggu-mingguku sebelumnya. Pada awalnya aku sempat pesimis CFD kali ini akan menjadi CFD yang biasa-biasa saja dan tidak berkesan. Ternyata, aku salah. Hal istimewa pertama yang kutemui adalah Jupe. Tepat sekali, Julia Perez. Di sana, dia bersama rekan-rekannya sedang melakukan kampanye anti narkoba. Akupun mengambil beberapa gambar dan video dari momen itu. Setelah merasa sudah cukup memotret, aku melanjutkan berlari menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Sesampai di area Bundaran HI, aku melihat ke sekeliling dan menyimpulkan bahwa tidak ada yang istimewa. Akupun memutuskan berbalik untuk pulang. Dan karena aku berangkat lebih awal, aku punya waktu lebih banyak untuk berjalan lambat sambil merenung. Ahh, aku suka sekali momen-momen di mana aku bisa merenung di car free day seperti ini.

Aku merenung dan menghayal, terhanyut dalam benakku, sangat lezat, sampai akhirnya aku melihat suatu pemandangan yang membuatku berkata dalam hati, “Wah, indah sekali!

Pemandangan apakah itu? Itu adalah dua sosok pria yang sudah cukup tua yang memegang beberapa tabloid tipis untuk dibagikan. Mereka berdiri di tepi jalan sambil memegang papan bertuliskan:
“Bacaan Umum Berdasarkan Alkitab, GRATIS.”

Aku terpukau. Mereka adalah pembawa kabar baik yang berani. Aku penasaran dari gereja manakah mereka. Sungguh gereja yang benar-benar bermisi, pikirku. Orang-orang percaya di seluruh dunia, di Indonesia terutama, harus belajar dari dua pria ini. Akupun mendekati mereka sambil berharap bisa mendapatkan buku gratis itu. Aku juga ingin mengobrol lebih banyak hal dengan mereka. “Siapa tahu aku bisa semakin dikuatkan untuk melakukan misi seperti mereka”, kataku dalam hati. Dan baru melangkahkan kaki beberapa meter dari tempat semula aku berdiri, alarm hatiku berbunyi. Aku rasa Tuhan hendak memperingatkanku.

“Hati-hati Richard. Cobalah dekati dan ajak ngobrol mereka.
Persiapkan hatimu. Bisa jadi orang-orang ini adalah Saksi-Saksi Yehuwa.”

Sebelum benar-benar berada tepat di hadapan mereka, aku masih punya beberapa meter untuk ditapaki. Dalam jarak yang pendek itu aku menguatkan hatiku dan berdoa. Oh, sungguh, detik-detik awal memang akan sangat mempengaruhi segalanya.

Setelah sampai tepat di muka mereka, akupun bertanya kepada mereka, “Wah, dari mana, Pak?”

Kami dari Saksi Yehuwa, Mas. Gereja kami di bla bla bla.” Dugaanku benar.

“Oh ya? Saksi Yehuwa? Di mana gerejanya, Pak?” saking kagetnya aku lupa kalau mereka baru saja menyebutkan asal gereja mereka. Merekapun mengulang sekali lagi di mana gereja mereka berada tapi saat menulis ini, aku sudah lupa gereja apa yang mereka sebutkan. Aku lupa mungkin karena aku tidak peduli di mana gereja itu.

Akupun meminta tabloid yang mereka bagikan secara gratis itu. Aku merasakan ada dorongan yang kuat dari dalam hatiku untuk segera membahas firman Tuhan dengan mereka. Ini adalah kali pertama, setelah aku benar-benar mengenal Allah, di mana aku berhadapan dengan Saksi-Saksi Yehuwa.

Perasaanku bercampur aduk, antara berdoa memohon tuntunan Allah, dan bersegera menghimpun semua pengetahuan dan ingatan yang kupunya mengenai doktrin yang benar. Apapun yang terjadi di hatiku kala itu, saat ini aku bisa berkata bahwa aku memang berdoa memohon tuntunan Allah tetapi nampaknya aku lebih banyak mengandalkan kekuatanku sendiri dalam perbincangan yang sebentar lagi terjalin di antara kami.

Akupun membuka lembar demi lembar dari tabloid itu, berharap bisa menemukan satu topik untuk diperbincangkan. Halaman pertama adalah tentang penciptaan dunia ini, aku pikir aku tidak akan memakai momen super langka seperti ini untuk membahas tentang penciptaan. Lagipula itu bukan core value dari iman Kristen. Halaman berikutnya adalah tentang uang, tentu saja aku skip halaman itu. Aku membuka halaman demi halaman hingga akhirnya pandanganku berhenti ke halaman yang bertajuk, “Enam Mitos Mengenai Kekristenan.”

Mulai dari sini aku mulai berhati-hati. Aku buka halaman lebih perlahan hingga akhirnya aku sampai ke suatu topik yang cukup membuat hatiku sontak. Topik itu berjudul, “Mitos 4 : Allah Itu Tritunggal.” Ketika membaca judul tersebut, aku tahu apa yang harus segera kubahas dengan kedua pria ini. Aku boleh men-skip pembahasan tentang penciptaan tapi tak akan kulewati topik mengenai Tritunggal ini sebab justru Tritunggal-lah letak perbedaan inti antara Kekristenan dengan Saksi Yehuwa.

Lagipula, aku pernah mendengar kabar bahwa pengikut Saksi Yehuwa merupakan orang-orang yang menguasai Alkitab dengan sangat baik. Sebentar lagi aku akan menguji kebenaran kabar tersebut. Dan bagiku, entah apapun kabar yang beredar tentang kehebatan Saksi Yehuwa dalam menghafal isi Alkitab, selama mereka masih memegang kepercayaan mereka itu, mereka sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang isi Alkitab.

Akupun menguatkan hatiku. Aku tidak akan gentar sekalipun mereka adalah orang paling berhikmat atau sarjana Alkitab sekalipun. Sejak kecil, Allahku sendiri yang membesarkanku dengan Alkitab ini. Allahku sendiri yang mengajariku isi Alkitab ini dengan penuh kasih. Aku tidak akan kalah di Alkitabku sendiri.

“Pak, apa maksudnya ini yah? Bisa tolong dijelaskan Pak, mengapa Saksi Yehuwa tidak percaya pada Tritunggal?”

“Silakan dibaca sendiri, Mas. Tabloidnya boleh dibawa pulang.”

Oh, tolong dijelaskan sedikit saja dong, Pak. Soalnya saya tidak mengerti nih apa maksudnya.”

“Coba silakan dibaca dulu sambil membaca Alkitabnya, Mas.” Aku cukup tercengang. Aku kira mereka akan dengan penuh semangat menjelaskannya padaku. Akan tetapi, mungkin hari ini misi utama mereka hanya untuk menyebar tabloid itu. Mereka belum siap melayani banyak pertanyaan.

Akupun menanggapi, “Oh, tapi seharusnya Bapak bisa dong membahas sedikit saja. Begini, Pak. Bapak meng-klaim di papan Bapak bahwa tabloid ini berdasarkan Alkitab. Bagaimana mungkin Bapak menyebut nama Alkitab di sini padahal yang Bapak ajarkan sama sekali bertentangan dengan Alkitab?”

Merasa tertantang olehku, salah seorang dari mereka akhirnya angkat bicara, “Tritunggal itu tidak ada di Alkitab, Mas. Makanya kami tidak percaya.” Aku kembali meragukan mitos tentang keahlian Saksi Yehuwa dalam hal Alkitab. Aku kira mereka akan memberikan argumen yang lebih biblikal dari itu sebab jawaban mereka barusan adalah tanggapan yang sangat mainstream diberikan oleh semua penolak Tritunggal. Itu adalah jawaban yang terlalu biasa dan tak kusangka Saksi Yehuwa juga menggunakannya. Tanggapan seperti itu mudah sekali ditemukan di internet dan tidak sulit untuk disanggah. Dan itulah yang kulakukan selanjutnya.

Akupun menjawab mereka, “Pak, Tritunggal tidak disebut di Alkitab tapi itu tidak berarti bahwa Tritunggal itu hanyalah konsep buatan manusia. Yesus sendiri berkata Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Ada tiga Pribadi Allah, Pak di sini. Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Mendengar aku menyebut Roh Kudus, aku yakin alarm hati mereka menyala. Mereka kemudian mengatakan, “Mas, firman Tuhan menyebutkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan kita harus percaya pada 2 Pribadi. Bapa dan Yesus, itu saja.” Aku kembali menanggapi, “Lalu di mana Roh Kudus, Pak?”

Roh Kudus itu hanya kuasa, Mas. Roh Kudus itu bukan pribadi.

Aku tentu saja tidak setuju. Aku mengingatkan kepada mereka mengenai firman Tuhan yang tercatat di Yohanes 14:16. Aku hanya menyampaikan isi ayatnya saja kepada mereka dan tidak bisa menyebut alamatnya di mana sebab aku tidak ingat. Aku rasa inilah salah satu faktor yang menyulitkanku untuk membuat mereka percaya.

Aku akan minta kepada Bapa,
dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain,
supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Aku menekankan kepada mereka, “Penolong” dan “yang lain”. Penolong jelas-jelas bukanlah sekadar kuasa atau tenaga. Penolong itu menunjukkan personal yang bekerja untuk menolong. Penolong itu pribadi dan bukan kuasa. Tetapi mendengar perkataanku, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka. Mereka menolaknya.

Mereka kemudian berkata, “Mas, baca di Kisah Para Rasul 2 : 1-3, di situ tercatat bahwa Roh Kudus itu adalah kuasa yang memampukan mereka sehingga mereka bisa berbahasa dengan bahasa yang tidak bisa dipahami.” Aku kaget dengan cara mereka memaknai firman tersebut karena sesungguhnya firman itu sama sekali tidak memberi penjelasan bahwa Roh Kudus adalah tenaga. Justru menurutku ayat itu malah menguatkan pemahaman bahwa Roh Kudus adalah Pribadi yang berkarya di balik semua kejadian itu.

Akupun menanggapi, kali ini dengan lebih santai, “Pak. Nama-Nya Roh Kudus. Namanya saja sudah Roh. Roh itu pribadi Pak, bukan kuasa. Ketika Bapak menyebut Roh, otomatis yang Bapak maksud sudah pastilah seorang pribadi, bukan kuasa. Kalau kuasa, namanya bukan roh.” Aku yakin mereka menangkap dan mengerti apa yang aku maksud. Sebab Allah adalah Roh dan Allah itu Pribadi. Iblis-pun adalah roh dan iblis adalah sesosok pribadi. Sama halnya dengan roh manusia. Mungkin itulah yang mereka pikir di benak mereka sebab nampaknya mereka mulai goyah. Tapi sekali lagi mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil melengkungkan bibir mereka seperti sabit yang menandakan mereka tidak percaya pada argumenku.

Dari sikap tersebutlah, aku yakin bahwa mitos yang menyebutkan Saksi Yehuwa sebagai orang-orang yang ahli dalam Alkitab, sesungguhnya hanyalah omong kosong. Mereka tidak ahli dalam Alkitab, mereka hanya ahli dalam 2 hal:
Mereka ahli dalam menghafal ayat-ayat tertentu yang sudah menjadi template, dan
mereka juga ahli dalam menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka melanjutkan, “Mas itu harus belajar sejarah Tritunggal dulu baru bisa berbicara tentang Tritunggal.” Mereka kemudian berniat menguji aku, mereka meminta aku menjelaskan apa definisi Tritunggal. Mereka berkata, “Coba Mas. Coba Mas jelaskan dulu apa Tritunggal yang Mas tahu. Apa definisi Tritunggal Mas? Ayo coba!”

“Aslilah, gua dites!” kataku dalam hati. Mereka jelas-jelas memandangku sebagai orang yang tidak tahu menahu mengenai Tritunggal. Mungkin inilah yang ditanamkan kepada semua umat Saksi Yehuwa, yakni bahwasanya rata-rata orang Kristen sesungguhnya tidak banyak tahu mengenai doktrin Tritunggal sebab di gerejapun topik ini jarang sekali dibahas. Jelas sekali dari raut wajahnya mereka menyangka aku tidak tahu dan berharap aku segera melakukan kesalahan ketika aku mencoba mendefinisikan Tritunggal. Akupun menjawab:

Tritunggal adalah Allah yang hadir dalam 3 Pribadi, yakni Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus. Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah tetapi ketiga-Nya tidak membentuk tiga Allah melainkan satu Allah. Tiga Pribadi tetapi dalam satu Substansi.”

“Naaaahhh, Mas!!!” mereka memotong. Aku benar-benar kaget saat itu. Jangan-jangan aku sedang ngelantur selagi menjelaskan definisi Tritunggal. Aku balik bertanya, “Saya salah, Pak? Lalu apa yang benar?”

“Tritunggal itu adalah paham yang menganggap Bapa = Anak = Roh Kudus, Mas.”

Aku tahu seharusnya aku tidak melakukan apa yang sebentar lagi menjadi reaksiku. Aku menjawab mereka, “Astaaagaaaaaa, Paaakkk. Tritunggal itu bukan itu, Paakkk.” Aku sama sekali tidak bermaksud merendahkan mereka. Reaksiku memang berlebihan, aku tahu itu. Tapi saat itu aku benar-benar kaget. Aku tidak menyangka bahwa mereka sebegitu-tidaktahunya tentang Tritunggal. Aku sangka pengetahuan mereka lebih baik dari itu tapi jawaban mereka menunjukkan betapa mereka sama sekali tidak tahu menahu mengenai konsep yang selama ini mereka perangi. Bagaimana mungkin memerangi konsep Tritunggal sementara apa itu Tritunggal saja mereka masih asal-asalan?

Rasa ibapun muncul di hatiku sebab aku rasa orang-orang ini benar-benar membutuhkan pertolongan. Mereka tidak berniat untuk menyesatkan atau menipu orang-orang. Motivasi mereka sebenarnya adalah tulus untuk mengenal Allah dan memperkenalkan Allah yang mereka percaya. Hanya saja iblis telah menipu dan menyesatkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka malah tidak mau mengenal Allah yang benar. Mereka anti akan pemberitaan kebenaran yang sejati yang disampaikan pada mereka. Oh, kita harus berdoa bagi keselamatan mereka, Teman-teman. Allah mengasihi mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka sedang perbuat.

Aku melanjutkan, “Pak, yang baru saja Bapak sebut itu namanya paham Unitarian. Bukan paham Tritunggal. Tuh kan Bapak saja sebenarnya tidak tahu mengenai Tritunggal ini tapi kok sudah berani mengajarkan kalau Tritunggal itu salah.” Dari raut wajah mereka, jelas sekali mereka mulai merasa terdesak.

Masih dalam perbincangan itu, aku tiba-tiba merasakan intervensi Allah. Sesuatu terjadi di dalam hatiku. Aku mulai merasakan mekarnya kasih, yang nampaknya belum ada sejak awal perbincangan kami. Wow, sensasi dari kasih itu benar-benar luar biasa. Aku tidak bisa menggambarkannya. Yang bisa kukatakan adalah kini aku memandang mereka dengan penuh kasih. Di hatiku, tumbuh kerinduan agar mereka percaya dan diselamatkan. Ini adalah tentang keselamatan mereka, ini adalah tentang mengenal Allah, dan bukan sekadar perdebatan mengenai doktrin Tritunggal.

Aku kemudian memandang salah seorang dari mereka. Aku memegang lengannya, dan berkata, “Pak, percayalah.” Wajah sang Bapak berubah menjadi lebih lembut. Aku seakan menangkap pancaran matanya yang seperti mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin untuk percaya pada apa yang kusampaikan. “Pak, firman Tuhan berkata, jika engkau mendengar suara-Nya, jangan keraskan hatimu. Pak, jangan keraskan hatimu. Aku mengatakan apa yang benar, Pak. Percayalah kepada Yesus Kristus. Keselamatan itu sudah tersedia, Pak asalkan kita percaya.”

Kemudian rekannya memotong apa yang kusampaikan, “Benar. Tapi kita harus percaya kepada Allah yang benar. Yesus itu bukan Allah. Yesus itu ciptaan.” Sekejap, Bapak yang baru saja kupegang, menjadi kuat kembali dalam keyakinannya. Ia menjauh dariku. Aku rasa inilah kekuatan dari berdua-dua. Mereka saling mendukung. Kita tidak bisa melakukannya sendirian, Kawan.

“Mas harus baca Kolose 1:15!” kata beliau. “Oke, Pak. Silakan yuk kita baca sama-sama.”
Akupun memegang pundak beliau, layaknya seorang teman.

Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,
yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,

Si Bapak lagi-lagi asal mengartikan ayat Alkitab. Baginya, ayat ini menegaskan bahwa Yesus adalah ciptaan. Tetapi bagiku justru sebaliknya. Ayat ini menjelaskan bahwa Yesus adalah “yang sulung” dan Yesus lebih utama dari segala yang diciptakan dan itu sama sekali tidak menjelaskan bahwa Yesus diciptakan. Lagipula terusan dari ayat itu malah lebih jelas lagi menjelaskan ke-ilahi-an Kristus. Entah mengapa, hikmat itu seperti tertutup dari benak mereka.

Oleh sebab itu, alih-alih membahas panjang lebar di ayat yang mereka tawarkan, kali ini aku mengajukan ayat tawaranku sendiri. Aku meminta mereka untuk membuka Yohanes 17. Benar, aku mengatakan hanya Yohanes 17 sebab sesungguhnya aku lupa ayat yang mana. Tetapi walaupun begitu, ketika aku mengatakan ayat Alkitab seperti itu, mereka nampaknya cukup kaget. Mungkin mereka kaget karena tidak biasanya ada orang Kristen yang menghafal ayat Alkitab apalagi di car free day seperti ini. Teman-teman, nampaknya citra orang Kristen benar-benar sudah runtuh di benak Saksi Yehuwa. Mereka pasti mengira semua orang Kristen malas membaca Alkitab. Hendaklah ini menjadi teguran bagi kita semua.

Kamipun membaca bersama-sama Yohanes 17. Aku men-scan cepat perikop itu dan menemukan ayat yang kumaksud:

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
(Yohanes 17:5)

“Ini dia, Pak. Bapak tahu maksud ayat ini apa?” aku bertanya pada mereka. Bapak yang tadi aku pegang dengan kasih itu mulai menunjukkan wajah penasaran. Akan tetapi, Bapak yang satu lagi kemudian menanggapi, “Yesus itu mulia. Yesus memang mulia, Mas. Tapi dia bukan Allah.”

“Biarkan saya jelaskan dulu, Pak. Kalau kita membaca bahasa sebenarnya dari ayat ini, maka kita akan mengerti, sebab apa yang ayat ini sebenarnya maksudkan adalah seperti ini:

Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang SAMA-SAMA Aku dan Engkau miliki sebelum dunia ada.”

Aku menegaskan kepada mereka bahwasanya kemuliaan yang Yesus maksud dalam ayat ini adalah kemuliaan yang sama-sama dimiliki oleh Bapa dan Anak. Bapa tidak memiliki kemuliaan itu sendirian. Anakpun memilikinya bersama-sama dengan Bapa. Kemuliaan yang dimiliki Anak dan Bapa sebelum dunia ada adalah kemuliaan yang sama, yang satu, yang dimiliki secara bersama-sama. Dengan demikian, ayat ini menjelaskan keilahian dari Kristus. Dan ini berarti Yesuspun adalah Allah bersama-sama dengan Bapa. Mendengarkan penjelasanku, mereka terlihat kehabisan sanggahan. Dan sekali lagi, entah mengapa, keduanya kembali melakukan hal itu. Mereka kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil melengkungkan bibir.

Dan kau tahu apa?
Setelah kira-kira 30 menit panjang lebar membahas Tritunggal, mereka kembali berkata:
Mas, Tritunggal tidak ada tertulis di Alkitab!!!

Aku serasa dilempar dari langit ketujuh dan dibanting hingga ke tubir laut. Lalu apa yang daritadi kami perbincangkan? Apa gunanya semua pembahasan itu kalau-kalau mereka pada akhirnya kembali berkeras hati dan mengatakan bahwa Tritunggal itu tidak ada tertulis di Alkitab.

Tanpa menyerah, akupun kembali ke argumen awalku, “Pak, sekalipun tidak secara terang-terangan tercantum di Alkitab, itu bukan berarti Tritunggal itu tidak benar. Lagipula, ada banyak hal di dunia ini yang sekalipun tidak ada di Alkitab tapi benar-benar ada. Jadi kita tidak bisa memakai argumen seperti itu untuk menyanggah Tritunggal, Pak.”

Akan tetapi akhirnya beliau berkata, “Yasudahlah, Mas. Kita ga bisa melanjutkan perbincangan ini”. Beliau akhirnya pergi meninggalkanku dan berkumpul dengan rekan-rekannya yang lain yang daritadi menonton perdebatan di antara kami bertiga. Aku hanya bisa terdiam bersama hatiku yang campur aduk. Aku tidak bisa memikirkan hal lain. Yang tersisa hanya serpihan kecil kasih yang Allah boleh tanamkan di dalam hatiku dan kasih itu yang akhirnya menggerakkanku untuk berkata:

“Pak, saya berdoa semoga Bapak pada akhirnya akan mengenal Allah yang sebenarnya.”

Aku tulus mengatakan hal itu. Dan akhirnya, aku melanjutkan perjalananku pulang dengan perasaan yang tidak bisa kugambarkan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang hendak aku maksudkan di balik semua ini, Teman-teman?

Maksudku adalah ini:
MILIKILAH KASIH!

Allah mengasihi semua umat manusia. Allah tidak menghendaki kebinasaan manusia ciptaan-Nya. Allah ingin manusia mengenal Dia. Tetapi apa yang terjadi? Iblis tidak henti-hentinya melakukan segala cara untuk menyesatkan umat manusia. Iblis bekerja mati-matian, hari demi hari, agar sebisa mungkin tidak ada orang yang diselamatkan. Allah sangat mengasihi seluruh manusia tetapi iblis sebegitu besarnya ingin membunuh, membinasakan, dan memusnahkan iman kita hingga hancur lebur.

Dan untuk itulah kita diutus. Milikilah kasih sebab kita sudah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Kasih itulah yang memampukan kita berperang melawan iblis. Kasih itu yang mendorong kita untuk memberitakan kebenaran kepada setiap orang.

Saksi-saksi Yehuwa ini, oh, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sungguh, niatan mereka adalah mengenal Allah tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka mengabaikan Penebus mereka dan menjadikan-Nya tidak lebih dari manusia biasa. Mereka menutup mata kepada Roh Kudus, Sang Penolong yang sangat rindu menolong mereka, dan mereka hanya menganggap-Nya sebagai tenaga aktif Allah.

Janganlah kita membenci mereka. Bencilah iblis, bencilah dosa tetapi kasihilah Saksi-saksi Yehuwa. Kasihilah orang-orang berdosa dan berdoalah untuk keselamatan mereka. Lebih dari itu, berdoalah agar keselamatan itu Allah kerjakan juga melalui perantaraan setiap kita sebab memang untuk itulah kita diutus.

Dan jangan pernah lupakan, hendaknya firman Tuhan ada di dalam hati setiap kita. Bacalah firman Tuhan sebab firman itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut Allah sendiri. Firman itulah makanan dan yang menjadi penuntun kita. Tidak hanya itu, mengenal dan memahami firman Tuhan akan memberikan modal lebih untuk menolong rekan-rekan yang belum percaya. Bagaimana Saksi-saksi Yehuwa mau percaya kepada kita jika pengetahuan Alkitab kita tidak lebih baik dari mereka? Bagaimana mereka bisa dibebaskan dari pemahaman yang salah yang selama ini mereka pegang jika kita tidak memahami firman itu? Bukankah kita dipersiapkan untuk itu? Bukankah kita diutus untuk membebaskan orang-orang tawanan?

Terakhir, mari sekali lagi kita merenungkan ayat ini:

Saksi Yehuwa di Car Free Day
Setialah di dalam Tuhan, Teman-Teman
Aku berdoa untukmu, berdoalah juga untukku
Selamat hari Minggu
Tuhan Yesus memberkati