Kasih itu Menghancurkan

Memang akan selalu ada kisah di tempat ini. Tempat ini selalu mengajarkan sesuatu padaku. Sebelumnya, pelajaran itu datang padaku sebagai pelajaran pahit yang berwujud ikan goreng dan seekor kucing hitam kurus menyebalkan. Kali ini, aku kembali memetik hikmat di balik kejadianku, yang sayangnya, sama tidak menyenangkannya. Tetapi aku bersyukur dan tidak akan menyesalinya.

Kau akan mengerti hal ini jika kau bekerja di lapangan, terutama jika kau bekerja di lapangan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk. Biasanya, sebagai bentuk community service, sejumlah anak daerah akan dipekerjakan oleh perusahaanmu. Dalam kasusku, pegawai outsource yang berasal dari penduduk lokal biasanya bekerja sebagai sekuriti, mess boy, driver, dan operator. Kau akan bekerja di bawah atap yang sama dengan mereka.

Dan kau akan memahami apa yang aku rasakan jika kau bekerja di tempat yang sama denganku. Kau akan mendapati lehermu kelelahan. Ya, lehermu suatu saat akan letih. Letih bukan karena lelah akibat pekerjaan. Melainkan lelah karena pasti kau akan sering meng-geleng-geleng-kan kepalamu ketika melihat tingkah laku mereka yang juga membuat letih secara mental. Bagi kebanyakan rekan-rekanku, para sekuriti-lah yang paling menyebalkan. Bahkan suatu kali ada sekuriti yang berteriak kepada supervisor. Bayangkan! Sekuriti meneriaki supervisor, “Heh, dasar binatang!”

“Astaga, mengapa ada manusia yang kelakuannya seperti ini?” Itu adalah kalimat yang sangat sering aku ucapkan dalam hati ketika melihat sikap mereka. Aku adalah orang kota (sok keren, trus kenapa?). Aku lahir dan besar di kota tetapi sungguh belum pernah aku bertemu dengan orang-orang yang lebih serakah dan angkuh dibanding orang-orang desa ini. Mereka orang-orang desa lochWell, aku tidak bisa menceritakan semua yang mereka lakukan tetapi aku harap semoga kalian tidak berurusan dengan orang-orang seperti ini.

Inilah yang terjadi. Pagi-pagi, aku sampai ke lokasi. Dari jauh, aku melihat wajah Pak Sekuriti yang belum pernah kutemui sebelumnya. “Gawat, sekuriti baru,” kataku dalam hati. Maksudku adalah jika aku belum mengenal beliau, berarti beliau juga belum mengenal aku, dan biasanya mereka akan sangat angkuh kepada siapapun karyawan yang belum pernah menghadap mereka. Dan kali ini, hal itu terjadi padaku.

Sesuai peraturan, jika kau akan masuk ke area pekerjaan, maka kau harus menukar badge-mu dengan badge khusus area pekerjaan tersebut. Akupun melepaskan badge­-ku dan berniat menyerahkannya kepada beliau. Pada saat yang sama, beliau sedang meraih badge yang akan ditukarkan untukku. So far so good. But in the end, not good. Beliau bukannya dengan ramah mendekatkan badge yang dia pegang ke tanganku, malahan melemparkannya ke atas meja seolah-olah aku sama sekali tidak ada di sana. Memang lemparannya tidak jauh, tapi aku tahu persis bahwa dia bermaksud mengatakan bahwasanya dia tidak mau dan tidak merasa perlu untuk menyerahkan badge itu secara sopan kepadaku.

Aku sangat tidak suka dengan perlakuan seperti itu. Bos-ku saja tidak pernah melakukan hal yang serupa kepadaku. Mengapa justru harus seorang sekuriti yang melakukannya padaku? Jantungku berhenti dan aku tidak bernafas seketika. Pemantik api dinyalakan di dalam hatiku. Orang ini mencari gara-gara.

Aku mendekatkan badge-ku ke tangannya dan diapun mengambilnya dari tanganku. Kemudian aku mengambil badge pengganti yang baru saja ia lempar ke atas meja, mengucapkan terima kasih, dan masuk ke kantor. Aku memang mengucapkan terima kasih. Tetapi di dalam hati, aku berkata:

“Aku akan menghancurkan keangkuhan orang ini berkeping-keping.”

Selama beberapa saat aku memutar otakku. Orang ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Orang ini harus diberi pelajaran. Orang ini tidak tahu bahwasanya dia menjadi sekuriti karena dan hanya karena perusahaan kami dengan rendah hati mempekerjakan dia sebagai warga lokal. Secara kualitas, sebenarnya orang ini tidak memenuhi kualifikasi minimum seorang sekuriti. Orang ini bukan hanya sombong, dia tidak tahu cara berterima kasih. Dia lupa siapa dirinya. Orang ini tidak punya rasa hormat. Aku memberi diriku mission impossible untuk mengajarkan itu semua kepadanya.

Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku harus menemukan cara untuk menghancurkan kesombongannya. Sepertinya niatku terdengar baik, aku ingin menghancurkan kesombongan, aku ingin menghancurkan kejahatan. Tetapi seperti kata Martin Luther, ketika Allah membangun gereja, iblis membangun sebuah kapel kecil di dalamnya. Dan di dalam kasusku, dosa menyelinap masuk. Dia sampai ke gerbang alam pikirku, dan dia mengatakan:

“Hanya ada satu cara menghancurkan kesombongan.
Kau tegaskan dia siapa dirimu!
Kau ingatkan dia siapa dirinya!
Buar dia sadar betapa jauhnya jarak antara kau dan dia!
Dan dia akan mengerti.”

Wow, terdengar menggiurkan, bukan? Rencana yang jitu untuk menghancurleburkan keangkuhan seseorang. Aku pasti akan melakukannya.

Aku belum cukup rendah hati, Teman-teman. Aku belum sempurna. Sekali aku bertobat dan mengusir seekor iblis dari hatiku, dia pergi dan kembali sambil membawa serta ratusan ekor iblis lain untuk kembali menaklukkan hatiku. Aku lemah, Teman-teman. Tetapi satu hal kupercaya, aku dikasihi Tuhan. Dia menjadi kota benteng dan perisai hatiku. Allahku melindungi diriku yang lemah ini. Allahku bekerja bak prajurit yang setia. Dia berjaga di muka gerbang hatiku. Aku aman. Dan ketika iblis ingin menghancurkanku, membuat aku tunduk, Tuhan sudah ada di sana. Dan Dia berkata padaku:

“Richard, kasihi orang itu. Ampuni dia. Sebab kaupun telah dikasihi dan diampuni.
Keangkuhan orang itu memang perlu dihancurkan, tetapi jangan andalkan kekuatanmu.
Ini… Kuberi padamu kuasa untuk menghancurkannya.”

1959325_694295683939284_3950357204302996019_n

Hatiku yang mendidih langsung diguyur-Nya dengan es. Hatiku yang panas dihembus-Nya dengan angin sepoi. Hatiku diteduhkannya. Aku tenang bersama-Nya. Dia mampu mengendalikan diriku. Kunci hatiku ada di tangan-Nya. Dan dengan damai di hati, aku meraih “kunci” yang Dia berikan. Aku menerima kunci itu, “kuasa” untuk menghancurkan itu.

Akupun menyelesaikan urusanku di kantor dan bergegas untuk berangkat ke area sumur. Aku menghampiri pos sekuriti dengan hati tenang dan senyuman. Aku melepas badge yang kupakai, menyerahkannya. Beliau menerimanya dan mengembalikan badge-ku yang asli.

Richard : Pak, sepertinya kita belum saling kenal. Namanya siapa, Pak?  (hendak berjabat tangan)
Sekuriti : Lutfi, Mas. (membalas jabat tanganku)
Richard : Saya Richard yah Pak. Sehat, Pak? (sambil tersenyum)
Sekuriti : Sehat… sehat.. (membalas senyumanku)
Richard : Saya ke lokasi dulu ya, Pak. Terima kasih… Mari, Pak.
Sekuriti : Mari-mari, Mas.
Sekuriti2 : Mari-mari, Mas (daritadi sekuriti 2 juga memandangku sinis, tetapi diapun berubah)

Akupun masuk ke mobil sambil sambil tersenyum,
Membawa sukacita di hatiku,
Dan kemenangan di tangan kananku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-teman, Kebencian itu menghancurkan

Tetapi kuberitahu kau satu hal:

Kasih itu jauh lebih menghancurkan dibanding kebencian

Kebencian mampu menghancurkan banyak hal. Tetapi ada satu “kuasa” yang lebih besar dibanding kebencian sekalipun. Dan itu adalah kasih. Kebencian mampu menghancurkan, tetapi kasih mampu menghancurkan kebencian itu menjadi berkeping-keping. Itulah “kunci” yang Allah berikan kepadaku. Kasih, itulah kuasa yang Dia percayakan atasku.

Aku pernah sangat membenci bapakku. Kebencian menjadi tembok dengan tebal tak terkira dan tinggi setinggi langit. Tembok itu mustahil untuk dihancurkan. Tetapi suatu ketika aku sadar bahwa Tuhan mengasihi orang paling hina sepertiku. Semua orang memusuhi dan menolak aku tetapi Dia tidak pernah melakukannya. Allah tahu betapa menjijikkannya diriku tetapi aku tetap diingat-Nya. Aku melawan Dia, meludahi-Nya, tetapi aku tetap ada di hati-Nya. Aku diampuni-Nya. Aku disayangi Tuhanku. Kebencianku tak berdaya di hadapan kasih-Nya. Kasih-Nya terlalu besar, aku tak sanggup melarikan diri dari-Nya.

Terima kasih ya Allah karena Kau telah menangkapku. Kini aku mengenal kasih itu. Aku menerima kuasa itu. Dengan kasih aku bisa menghancurkan tembok itu. Kata orang, akan selalu tersisa bekas. TIDAK. Kasih sudah melumat habis tembok kebencianku, tak berbekas sedikitpun. Kaupun bisa mengalami hal yang sama.

Kasih itu yang menghancurkan kejahatan. Kasih itu yang menghancurkan kebencian. Kasih yang merobohkan keangkuhan seseorang dan membuatnya rendah hati. Kasih yang menaklukkan ego. Kasih yang meluluhlantakkan kebenaran karena usaha pribadi. Kasih yang melembutkan prasangka sehingga kau tak akan memikirkan yang buruk mengenai saudaramu. Kasih yang akan meruntuhkan tembok yang membuatmu malas untuk memuridkan atau enggan menanyai kabar.

Kasih itu menghancurkan kedagingan
Kasih itu menghancurkan dosa
Kasih itu menghancurkan iblis
Kasih itu menghancurkan banget

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kasih, Teman-teman, Kasih
Dengan usahamu, kau mencoba memodifikasi dirimu menjadi lebih baik
Tetapi hanya kasihlah yang bisa men-transformasi-mu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Masalah dunia ini bukanlah kurangnya orang ber-“iman”
Malahan dunia ini penuh dengan mereka
Masalah dunia ini adalah kekurangan pengasih

Kasih, Teman-teman, Kasih
Bukanlah iman yang menyelamatkanmu
Kasih karunia-lah yang melakukannya untukmu

Jika iman adalah jendela, maka kasih ibarat cahaya mentari
Jika jendela tidak ada, bukan berarti cahaya matahari tidak memancar
Kasih itu sudah ada dan kasih itu melimpah
Dengan iman, kasih itu masuk ke dalam hatimu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Bukanlah pertobatan yang menyelamatkanmu
Kasih karunia-lah yang melakukannya untukmu

Kasihlah yang menumbuhkan iman di dalam hatimu
Kasihlah yang memberimu kuasa untuk tidak melakukan dosa dan bertobat

Kasih, Teman-teman, Kasih
Pencarian teman hidup bukanlah tentang menemukan siapa yang tepat
Melainkan tentang MENGASIHI

Tuhan menjadikanmu teman hidup bahkan mempelai-Nya
Itu bukan karena kau adalah orang yang tepat
Tetapi karena Dia mengasihimu

Kasih, Teman-teman, Kasih
Semua ini sebenarnya adalah tentang KASIH dan MENGASIHI

Terimalah kasih-Nya, Teman-teman
Kasih yang “Sudah Selesai”
Kasih yang sekali dan yang tidak berkesudahan

Kasih yang memerdekakanmu
Kasih yang mengubahmu
Kasih yang “menghancurkan”-mu

Dan kau tak akan sama lagi…

Kasih itu Menghancurkan

Advertisements

And I Mean It

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,
karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
~ Galatia 6 : 9

Dan untuk menutup kesakianku ini, aku ingin menggaris bawahi beberapa hal yang utama.

Yang pertama, janganlah jemu berbuat baik. Dunia mengartikan kasih sebagai suatu pemberian. Sesungguhnya makna kasih tidaklah sesederhana memberikan sesuatu kepada orang lain. Tetapi karena kita ingin menjangkau dunia ini, marilah kita merendahkan standar kita sejenak.

Karena dunia mengharapkan kasih yang diwujudnyatakan dengan pemberian, maka hendaklah kita memberi. Janganlah orang Kristen menjadi orang yang pelit. Berilah dengan murah hati. Keluarkan uangmu, bantulah mereka yang sedang membutuhkan. Tersenyumlah kepada orang-orang yang kita temui. Bisa jadi satu senyuman seseorang menjadi alasan orang lain tidak membunuh dirinya sendiri.

Janganlah jemu berbuat baik. Ketahuilah, pemberian yang tulus dan tidak membangkit-bangkit sangat besar pengaruhnya. Itu menyentuh hati, membuatnya tidak tenang, menular. Suatu kali, satu penumpang yang ada di mobil kami meminta izin sebentar untuk membeli sesuatu di mini market. Sekembalinya dari toko, ia datang dengan membawa teh kotak dingin untuk seluruh orang yang ada di mobil, termasuk aku. Kau tahu, aku benar-benar tersentuh dengan perbuatannya, aku menjadi tidak tenang. Bagaimana mungkin dia bisa sebaik ini sementara aku, anak Tuhan, barang sekalipun, tidak pernah berinisiatif untuk membelikan rekan-rekanku teh kotak, barang yang kalau dipikir-pikir, sangat murah. Ternyata aku belum murah hati. Sejak hari itu, ingatan itu terus menggelisahkanku. Aku seharusnya bisa lebih baik. Aku seharusnya bisa lebih murah hati. Sampai akhirnya resolusi itupun lahir bagiku.

Terutama kepada orang-orang yang bekerja untukmu, sekali lagi, untukmu, bukan denganmu, berbuat baiklah kepada mereka. Supir angkotmu, tukang ojekmu, pengemudi taksimu, pembantumu, siapa saja yang bekerja untukmu, berbuat baiklah pada mereka, jadilah murah hati. Supir taksi tidak hanya bekerja untuk mengantarkanmu dari satu tempat ke tempat lain. Dia bekerja untuk mengantarmu dengan selamat. Walau keselamatanmu ada di tangan Allah, practically, keselamatanmu ada di tangan supir itu. Jadi, belumkah itu cukup untuk mendapatkan ucapan terima kasih yang lebih darimu?

Siapa lagi? Dosenmu, gurumu, siapa saja, bahkan pemerintahmu, mereka bekerja untuk kebaikanmu. Maka berlaku baik dan hormatlah pada mereka. Tuhan kitapun mengajarkan demikian:

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
~ Yeremia 29:7

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya…
…. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu.
~ Roma 13 (harap baca ini sesuai dengan konteksnya)

Yang kedua, dari peristiwa ini aku menyadari satu hal.
Sebagaimana banyak orang tidak menyadari keindahan yang ada di sekelilingnya.
Mereka juga tidak menyadari bencana yang juga ada di sana.”

Aku terlalu fokus dengan makananku sehingga aku tidak menyadari bahwa makhluk kecil itu ada di sana. Bisa dibilang, bisa saja sebenarnya semua lauk pauk yang kumakan selama ini, juga memuat makhluk kecil itu, atau bahkan mungkin lebih parah, akunya saja yang tidak menyadarinya. Bukankah begitu?

Nah, terimalah kebenaran itu dengan besar hati dan jadilah waspada. Bencana ada di sekeliling, maut sedemikian dekatnya dari batang hidung kita. Tetapi, sedekat-dekatnya kehancuran pada kita, ingatlah, Tuhan ada lebih dekat kepada kita, lebih dari itu, Ia ada di dalam kita. Ia berjalan di depan kita. Ia melindungi jalan kita. Ia merancangkan apa yang baik bagi kita. Mungkin kejadian yang buruk bisa saja datang menimpa kita. Bagaimanapun, bencana memang sedekat itu, bukan? Tetapi jika hal itu menimpamu, aku punya dua hal untuk kau pegang.

Pertama, jika pertanyaan besar bagimu adalah “Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?” Kau bisa bertanya balik pada dirimu sendiri, “Memangnya kenapa ini tidak boleh terjadi padaku?” Aku harap kita semua belum lupa bahwa kita sesungguhnya layak masuk neraka. Kita pantas menerima hukuman yang jauh lebih buruk dari semua ini. Kita seharusnya mati di neraka, selamanya, tidak ada jalan keluar. Tetapi oleh kasih setia Kristus yang rela mati, menerima siksa neraka itu di kayu salib, kita beroleh kehormatan bahkan kepastian keselamatan dalam iman kepada dia. Jadi tanyalah pada dirimu balik, “Memangnya kenapa ini tidak boleh terjadi, wajar kok ini terjadi, aku kan memang pantas menerimanya.” Oleh sebab itu, janganlah bersungut-sungut dan hadapilah hidup bersama Allah. Bersikaplah layaknya seorang anak Allah dalam menghadapi kerasnya hidup di dunia yang Dia ciptakan ini.

Yang kedua, ketika kau terus bertanya-tanya mengapa ini terjadi, yakinkanlah dirimu bahwa sesungguhnya yang lebih parah bisa saja terjadi, tetapi tidak terjadi. Dompetmu dijambret orang? Bisa saja dia melukaimu, tetapi tidak. Kau sakit? Bisa saja terjadi lebih buruk, kau tahu itu. Aku mungkin memakan belatung itu bersama ikanku? Bisa saja terjadi lebih parah, aku bisa saja menghabiskan semuanya kalau saja Allah tidak bersegera membelah langit dan turun untuk melindungiku, menghindarkanku dari bencana yang bisa menghancurkan hariku itu. Hal yang lebih buruk selalu bisa terjadi, Kawan. Tetapi apabila hal yang lebih buruk itu tidak terjadi, jelaslah bahwa sesungguhnya Allah yang menjaga kita dari kejadian yang lebih buruk itu. Bukankah itu sangat pantas dijadikan alasan untuk bersyukur?

“Sebesar apapun kegundahanmu atas hal buruk yang menimpamu,
hendaklah lebih besar lagi rasa syukurmu atas semua hal yang-lebih-buruk yang tidak Tuhan izinkan terjadi dalam hidupmu.”

Percayalah pada Dia
Dia tidak pernah, sekalipun, merancangkan yang jahat pada kita

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
~ Yeremia 29 : 11


Dan yang terakhir, yang bagiku menjadi pesan inti dari semua ini.

Kuasailah hatimu!!!

Bukannya tanpa sebab mengapa penguasaan diri Dia jadikan buah Roh yang terakhir. Penguasaan dirilah yang pada akhirnya menjadikan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dan kelemahlembutan itu menjadi punya nilai.

Kendalikan dirimu. Kau mencintai seseorang? Kuasai hatimu, disiplinkan cintamu. Kau sukacita? Jaga sikapmu, jangan permalukan Allah dengan sikapmu yang terlewat bahagia. Kau merasa damai? Waspada dan berjaga-jagalah juga. Kau sabar? Kau harus tahu kapan untuk mengonfrontasi, karena banyak kejahatan perlu diperangi akhir-akhir ini. Kau murah hati? Pastikan uangmu kau salurkan ke orang yang benar-benar membutuhkan dan bukan pemalas. Jangan lupa, kau dan keluargamu juga butuh uangmu. Kau baik? Ya itu bagus, pastikan juga kau punya citra dan wibawa yang baik. Kau suami lemah lembut? Ingat, sosok ketegasan juga perlu kau tambahkan di dalamnya.

Aku pernah dengar seseorang yang bermaksud mengucapkan “Aku ketagihan berbuat baik
Jika kaulah orang itu, yang sedang membaca tulisanku ini, tolong, ubahlah cara berpikir seperti itu. Kalau memang maksud hatimu benar, maka setidaknya jangan gunakan kata “kecanduan atau ketagihan” di sana. Tidak ada yang baik dari berlebihan, tidak ada yang benar dari kecanduan atau ketagihan. Ketagihan berbuat kasih tidaklah lebih mulia dari berbuat kasih itu sendiri. Kalaupun ada yang lebih mulia dibanding berbuat kasih, hanya ada satu hal, yakni memberikan hidup dan mati bagi orang yang dikasihi (Yohanes 15:13)

Terlalu senang berbuat baik, terlalu haus melakukan kebaikan. Berhati-hati dan berjaga-jagalah. Akupun pernah merasakannya ketika aku ketagihan menulis blog karena aku pikir aku sedang menulis sesuatu yang membangun banyak orang. Aku terlalu haus, aku tergesa-gesa, aku tidak bisa mengendalikan keinginanku sampai-sampai aku menarik diri dari kerjasama yang penuh kasih bersama Allah. Aku mengambil jalanku sendiri. Aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Aku tidak lagi melibatkan Dia. Aku kira aku hanya sedang berinisiatif, tetapi aku sedang mengatakan bahwa aku tidak membutuhkan pertolongan Tuhan lagi. Kau tahu, itu adalah pikiran terbodoh yang bisa seseorang pikirkan. Alhasil, aku menulis dengan asal-asalan, tidak damai, dan tidak menyentuh hati.

Sama seperti kisahku ini. Itu terulang lagi, aku tidak mengandalkan Tuhan lagi. Aku buru-buru mengakhiri doaku yang sejak dari pertengahan saja aku sudah tidak konsentrasi. Alhasil, lihatlah, aku hampir saja memakan ikan kotor yang kupilih dengan kehendakku sendiri itu. Ikan itu adalah pilihanku sendiri, aku layak menerima konsekuensinya. Tetapi lihatlah, Ia setia, Ia tidak membenciku karena mengabaikan Dia bahkan sejak dari doa, Ia melindungiku dari bahaya.

Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia,
yang mengandalkan kekuatannya sendiri,
dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”
~ Yeremia 17:5


Demikianlah kisah kesaksianku. Dan karena kau sudah membawanya sejauh ini, aku merasa layak meminta satu hal padamu. Tolong jangan bully aku atas makhluk yang belum tentu aku makan itu. Akh, itu menjijikkan sekali lagi. Oke yah? Please, lupakan semua itu dan jangan mengungkit-ungkit itu lagi jika kau sedang berbicara denganku, hahahaha. Bagaimanapun, hal yang sama mungkin saja terjadi padamu, bukan? Hahahhaha

Okelah yah
Good night
yah teman-teman

Tuhan Yesus mengasihi kita semua
Itu pasti

~Selesai

It’s Just It

……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………………………….

“Richard… dia hanyalah seekor kucing.
Kamu lebih kuat darinya. Kau bisa menyakiti dia.
Tetapi lihatlah, kau juga bisa melakukan apa yang baik buat dia.
Mengapa tidak memberikannnya makan?
Ayolah, itu tidak akan menyakitimu!”

Sekali lagi, aku terkejut dengan suara hatiku itu. Kali ini aku tidak terlalu excited tetapi aku benar-benar menjadi tenang dan aku rasa aku tersenyum karena datangnya ide mulia itu. Akupun mendamaikan hatiku, berusaha menguasai hatiku yang sempat terusik, dan akhirnya kembali ke arah piringku untuk melihat apa yang bisa aku berikan kepada kucing itu. Ini adalah hal yang baik, bukan? Walau kucing itu meresahkanku, bukan berarti aku kehilangan alasan untuk berbuat baik padanya. Aku berbuat baik bukan karena orang lain melakukan hal yang sama padaku, aku berbuat baik karena hal itu adalah hal yang benar.

Okeeee, kucing hitam, aku menyerah.
Sekarang mari kita lihat apa yang bisa kuberikan padamu.
Hmm… aku punya ayam tetapi aku tidak mau membagikannya padamu.
Bagaimana jika ikanku saja. Sip, adakah potongan ikan di piringku?
Okeee, itu dia, potongan ikan itu tampaknya lezat, akan kuambil.
Here I cooomeeee…. heiiii, weeeeiiiittt a seccccc….
What is thaaaaaaaaat?

……..Inilah bagian yang membuatku malu untuk membagikannya di facebook……..
……..Bagian ini mungkin akan sangat menganggu, kau boleh berhenti jika kau mau……..

Akupun mendekatkan wajahku ke piring, aku menyelidiki, aku memelototi, aku menyoroti, aku fokus pada benda kecil yang sedang bergerak dalam potongan ikan yang baru saja kumakan.

“Tid… Tid… Tiiiidaaaakkkkk…..
Jangan bilang itu belatung yang masih sangat kecillll!!!
Satu ekor… dua… astaga… tiga… empat, kumohon, aku tidak mau melihatnya lagiiiiiiii.”

Aku segera menarik diriku. Aku sangat shock. Aku baru saja menemukan empat makhluk kecil menjijikkan itu ada di ikanku. Astaga, aku sudah sempat mencicip sebagian ikan itu. Jangan-jangan aku sudah menelan beberapa ekor. Tidak mungkin, mengapa ini terjadi padaku? Aku terdiam sejenak. Memegang dahiku. Ah, ini hari yang sangat buruk. Aku memutuskan untuk berhenti makan.

Aku melihat wajah sang pelayan, nampaknya dia menyadari gelagatku yang tidak biasa ditampilkan pengunjung yang sedang menikmati hidangannya. Aku menduga dia tahu kalau aku baru saja menemukan benda aneh dalam piringku. Mungkin mereka merasa bersalah. Aku tidak ingin menyinggung perasaan mereka sehingga aku berpura-pura menghentikan makanku karena sudah kekenyangan. Aku memegang perutku ibarat orang yang perutnya kepenuhan, mengambil dompetku, membayar, kemudian pergi.

Aku tahu aku belum bertindak dengan bijaksana. Hal yang seharusnya kulakukan adalah memberitahu pada pelayan bahwa makanan mereka sudah tidak bersih lagi sehingga mereka bisa melakukan perbaikan. Tetapi dengan pembenaran bahwa aku terlalu shock dan tidak ingin membuat mereka tersinggung atau kecil hati, aku tetap saja pergi meninggalkan piring yang jelas-jelas masih ¾ penuh itu. Driver-ku yang sudah menyelesaikan makanannya kemudian menyusul.

Driver    : Kenapa makanannya Mas?
Aku        : Ada ulatnya, Mas. Sudahlah, jangan pernah ke sini lagi! Kita ke padang aja yah.

Aku berkata dalam hati, “Ya Tuhan, aku benar-benar butuh penjelasan dari-Mu mengapa semua ini bisa terjadi.”  Tentu saja, aku kesal. Dan sebagian kekesalan itu, salahnya, kuarahkan kepada Dia. Dan kamipun berangkat ke rumah makan padang, tempat di mana semua ini akan menjadi benar-benar jelas bagiku.

Kemudian sampailah kami di rumah makan yang tidak jauh jaraknya itu. Mas driver memilih untuk tetap di dalam mobil karena beliau sudah kenyang. Akupun memesan makanan dan setelah makanan itu terhidang, aku berdoa. Aku menaikkan doa dengan isi yang biasa kupanjatkan untuk doa makanku tetapi kali ini aku menutupnya dengan:

“Bapa, mengapa Engkau izinkan yang itu terjadi?
Apakah Engkau lupa kalau tadi aku sudah berdoa sebelum makan?
Itu menjijikkan sekali. Mengapa Engkau tega ya Tuhan?”

Dan kau tahu apa jawaban Tuhan yang Dia bersitkan dalam benakku? Sesungguhnya Dia tidak memberikan jawaban apapun, Dia hanya bertanya balik padaku. Dan pertanyaan-Nya itu membuat semua ini menjadi jelas.

“Kau berdoa? Memangnya apa yang tadi kau doakan?”

Aku terdiam. Jantungku sepertinya berhenti seketika. Satu pertanyaan dari-Nya cukup membungkamku. Satu tanggapan dari-Nya membuatku tidak memiliki daya sama sekali untuk mengajukan keberatanku atas semua yang baru saja terjadi ini.

“Apa yang aku doakan?
Astaga, aku tidak benar-benar berdoa.
Ketidakmampuanku mengendalikan diri untuk segera membelikan jus telah membuyarkan doaku.
Sesungguhnya aku tidak berdoa.

Segera setelah perenungan itu, hatiku menjadi tenang. Kini aku mengerti, Tuhan baik, akulah yang salah. Aku terlalu tergesa-gesa berbuat baik. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku ketagihan dengan ide-ide yang sesungguhnya mulia. Aku ingin segera berbuat baik. Aku ingin cepat sampai-sampai kecepatan itu memisahkanku dari kerja sama dengan Allah. Aku akhirnya melenceng, keluar jalan. Aku mengandalkan kekuatanku. Aku mengabaikan Allah yang kepada-Nya aku sedang berdoa. Aku tidak berbuat baik sama sekali karena aku memisahkan diri dari-Nya. Lagipula, aku sendirilah yang memilih ikan itu.

Dan lebih jauh, kini aku menjadi benar-benar sadar. Tuhan bukannya dengan jahat membiarkan aku, mungkin, memakan makhluk menjijikkan itu. Sesungguhnya, Dia justru mencegahku melakukannya. Dia buat aku terlalu tertarik dengan ayam sehingga aku berusaha menghabiskan ayamku dulu baru kemudian memakan ikanku. Kukatakan padamu, itu tidak pernah terjadi sebelumnya, aku selalu save the best for the last. Sewajarnya aku akan memakan ikan dulu baru ayam tetapi kali ini memang berbeda dari biasanya, kali ini luar biasa. [Aku sudah memeriksa ayamku dan ternyata clear]. Dan tidak lupa, Dia kirimkan kucing jelek itu untuk mengganggu makanku sehingga aku tidak terburu-buru menyentuh ikanku dan malah fokus memerangi tatapan kucing itu. Dia dorong hatiku untuk berbuat baik dengan memberi kucing itu makan. Kalau bukan karena kucing itu, aku tidak akan melihat ikanku dengan teliti, dan mungkin saja, aku akan melahap seluruh isi piringku, lengkap dengan makhluk putih kecil menjijikkan itu.

Tuhan baik
Bahkan ketika kita tidak menyadarinya
Bahkan ketika kita tidak mau menyadarinya
Tuhan baik

~Bersambung…

It is What It is

 

…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………

Baiklah akan kujelaskan mengapa aku membuka tulisan ini dengan deretan titik. Itu karena sesungguhnya aku tidak mau tulisan ini ter-publish ke facebook. Aku malu dengan kejadian yang sebentar lagi akan kalian baca. Tetapi walaupun begitu, aku rasa kerinduanku untuk membagikan pengalaman ini lebih besar dibanding keinginanku untuk mempertahankan image atau harga diri. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk tetap mempublikasikannya. Akan tetapi, aku tidak tahu harus memulai dengan kalimat apa sebab beberapa kalimat awal akan ikut terlihat saat aku publish ini di facebook. Akhirnya, untuk menjaga agar tidak terlalu mencolok, aku menetapkan untuk memulainya dengan titik-titik. Beberapa orang mungkin akan melihat posting-an ini di home mereka tetapi karena hanya melihat titik-titik, mereka menjadi tidak tertarik untuk membuka, dan finally hanya “the right man at the right time” saja yang membukanya. Setidaknya aku tidak mempermalukan diriku ke terlalu banyak orang.

Nah, aku akan memulainya. Baru-baru ini, tepatnya hari Rabu kemarin aku mengalami hari yang buruk. Aku sedang on schedule di lapangan yang jauh dari camp pusat. Fasilitas di area ini jauh lebih sederhana, kantin-pun tidak ada, itulah mengapa aku dan driver-ku harus mencari makan siang di luar.

Sudah menjadi budaya di perusahaan kami, terutama ketika schedule kerja di lapangan, di mana orang yang lebih atas akan mentraktir orang yang lebih bawah. Siapa yang merasa memiliki jabatan atau gaji paling tinggi, akan mentraktir semua rekan yang makan satu meja dengan dia. Budaya yang sama juga aku lakukan. Men-traktir rekan, apalagi yang lebih kurang beruntung dibanding kita, adalah hal yang baik, bukan? Tetapi belum lama ini aku merenungkan hal itu dan perenungan itu melahirkan apa yang orang sebut sebagai resolusi.

Ketika kurenungkan, aku menyadari bahwa selama in aku belum melakukan semua itu dengan sepenuh hati. Tampaknya aku kurang peka selama ini. Aku memang membayar mereka makan, tetapi sementara aku melengkapi menu makanku dengan jus buah, aku jarang sekali menawari mereka jus. Aku memesan makananku, di saat yang sama mereka memesan makanan mereka, kemudian setelah selesai, aku membayar biaya makan kami, itu saja. Sangat jarang aku menawari mereka jus padahal aku seharusnya tahu bahwa mereka tentu tidak akan mengatakan pada saya, “Mas, saya boleh nambah jus juga yah?” Mereka tidak mungkin mengatakan hal seperti itu, mereka pasti segan untuk memintanya. Jika mereka minum jus, haruslah itu karena aku yang berinisiatif membelikannya.

Lanjut. Akhirnya sampailah kami (aku dan driver-ku) ke sebuah warteg yang direkomendasikan oleh rekanku yang lain. Seperti biasa, kami duduk, aku memesan makananku plus jus, beliau memesan makanannya, kami menerima makanan kami masing-masing, siap menyantapnya. Tentu saja, aku memulainya dalam doa. Dan sementara aku berdoa, ada suara dari hatiku berkata:

“Bro… Jangan lupa, kamu sudah beresolusi membelikan drivermu jus.”

Seperti biasanya, jika ada ide positif yang tiba-tiba datang padaku, aku menjadi terdiam dan kaget. Bagaimana mungkin ide brilian ini datang tiba-tiba. Aku sangat bersyukur dengan ide yang mengingatkanku itu. Ini kabar yang baik, bukan? Aku senang sekali. Akan tetapi, terkadang aku mendapati diriku over excited dengan ide-ide yang bermunculan itu. Kabar buruknya, over excitement itu terjadi hari ini. Pikiran dan suara lain datang menubruk…

“Waaahhh, inisiatif yang bagus sekaliiiiiii. Bagus-bagus, ini saatnya kita berbuat baik lagi.
Ayo pesan jusnya sekarang. Kita tunaikan resolusi kita pada Tuhan.
Ayo cepat pesan jusnya, segera akhiri doa ini, dan mari kita beli jusnya sekarang.
Ini luar biasaaaa.”

Kau mulai bisa menebak ke mana arah cerita ini, bukan? Benar sekali, aku menjadi tidak konsentrasi dalam doa makanku. Keinginanku untuk berbuat baik menjadi sedemikian besar. Aku tidak lagi bisa mengendalikan diriku. Aku ingin segera melakukan kebaikan itu. Aku menjadi terlalu excited hingga akhirnya aku lupa bahwa aku sedang berbicara dengan Allah, Raja Semesta Alam. Doaku buyar. Di tengah sukacita yang menipu itu, aku segera mengakhiri doaku. Aku masih ingat, ketika mataku pertama kali terbuka aku benar-benar bertanya pada diriku apakah aku sudah mengucapkan amin atau belum. Tetapi aku mengabaikan pertanyaan hatiku itu dan cepat-cepat berkata pada pelayan, “Mba, es jeruknya tadi satu, bikin dua saja yah!”

Lega karena telah memulai resolusi seumur hidup ini, aku mulai menyantap makananku. Selagi aku menikmati makananku, seekor kucing kemudian datang mendekat. Seperti selama ini, aku tidak pernah suka ada kucing yang menginginkan makananku. Itulah hal yang tidak kusukai dari kucing, mereka merasa diri mereka adalah tuan, mereka pikir mereka bisa menipu orang yang sedang makan dengan ke-imut-an mereka, mereka pikir mereka layak diberi makan. Ah, aku tidak suka tatapan tajam kucing hitam kurus yang sedang kelaparan itu. Tentu saja, aku berusaha mengusir kucing itu sambil memastikan aku tidak menyakitinya.

Dia menghindar dan menjauh, walau hanya beberapa sentimeter saja. Kemudian, seperti kucing normal lainkucing itu memelototiku seolah-olah ada rencana besar di benaknya untuk merampas makanan lezat ini dariku. Aku merasa dia sangat offensive, aku terusik olehnya, aku menatap dia, dan mencoba membayangkan rencana besar apa yang tersembunyi di balik sorotan tajam mata dan kepolosan wajah itu. Aku menganggapnya sebagi musuhku sampai akhirnya “suara” itu datang lagi….

~Bersambung

I Have a Dream

I Have a Dream

#Gambar ini memuat sejuta makna

Aku punya satu mimpi

“Aku ingin menciptakan para pahlawan”

Aku ingin memberitahu pada anak-anak itu, bahwasanya menjadi pahlawan bukanlah hal yang tidak mungkin. Setiap orang bisa menjadi pahlawan. Apa yang kau butuhkan hanyalah kesediaan untuk menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentinganmu sendiri, itu saja.

Aku beberapa kali mengunjungi kampusku setelah sekian lama. Aku begitu menikmati waktu yang kuisi dengan melewati jalan yang indah itu. Setiap kali aku melihat suatu titik, terkenang kembali apa yang pernah kulakukan di titik itu. Tak terhitungan berapa tawa kecil dan sesekali tangisan bahagia yang kuhasilkan setiap kali tempat dan kenangan itu melintas di benakku.

Tentu saja, aku melihat banyak orang di sana, aku melihat anak-anak itu. Dan tiap kali melihat mereka, aku berkata pada diriku sendiri, “wah, mereka sedang mengalami waktu-waktu yang sangat indah dan berharga dalam hidup mereka.” Selama mereka ada di kampus, aku tahu apa yang sedang dan akan mereka kerjakan atau hadapi. Dan untuk itulah, suatu saat nanti, aku akan mengajarkan mereka bagaimana membuat waktu-waktu mereka yang sangat indah dan berharga itu, menjadi jauh lebih indah dan jauh lebih berharga lagi.

Aku ingin menjadi sangat pintar karena aku tahu kepintaran (seharusnya) membuatku menjadi rendah hati. Orang yang bijaksana, orang yang berhikmat, orang yang memiliki kepandaian dengan benar pastilah orang yang rendah hati. Semakin banyak hal yang kutahu dan kulihat, aku akan menjadi semakin menunduk. Kau tahu, itulah apa yang orang-orang katakan, ilmu padi. Hanya orang bodohlah yang merasa tahu segalanya. Hanya rookie-lah yang bersegara merasa dirinya lebih banyak tahu. Aku harus menjadi rendah hati sehingga aku bisa mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak itu.

Aku ingin memiliki pengetahuan setinggi langit. Aku ingin menjadi apa yang orang-orang katakan “kalau soal ini, dia ahlinya”. Aku sangat menginginkan hal itu karena aku yakin Allah yang ada dalam hatiku akan menjaga dan memagari aku, sehingga pengetahuan dan keahlian itu kugunakan untuk sesuatu yang berguna bagi orang lain dan memuliakan nama-Nya. Aku percaya Allah mengasihiku, Dia memimpin langkahku, kepintaran ini akan aman di tanganku. Dan suatu saat nanti, aku ingin semua itu bisa dipetik oleh anak-anak itu. Anak-anak yang kuharapkan akan menjadi pahlawan-pahlawan bagi bangsa dan dunia ini.

“Nah, teman-teman, kalau di buku memang seperti ini, tetapi nanti kalau kalian sudah kerja dan melihatnya sendiri di lapangan, kira-kira akan seperti ini yah.”
Ah, betapa bangganya hatiku jika suatu saat nanti aku bisa (terus menerus) mengatakannya. Itu keren dan legendary sekali. Puji Tuhan, aku sedang berada di jalan yang tepat untuk mewujudkan perkataan itu, setidaknya itulah yang aku yakini hingga saat ini.

Aku mengasihi bangsa ini, sangat. Walau bangsa ini, dan tentu saja anak-anaknya, sering menyakiti hatiku, sering membuatku kecewa, aku tetap mengasihi bangsa ini. Aku melihat bangsa ini begitu indah. Entah bagaimana, aku bisa melihat ada masa depan yang indah bagi bangsa ini. Bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar. Anak-anak Tuhan akan menjadi berkat yang tidak bisa diabaikan di negeri ini. Dan aku ingin menjadi salah satu dari orang-orang itu. Aku ingin melakukan suatu hal yang indah bagi bangsa ini. Bapaku ingin Dia bersinar di bangsa ini melalui aku. Aku ingin mereka mengenal Bapaku ketika mereka melihatku. Aku ingin memancarkan terang-Nya. Saking terangnya, aku sendiri tak mereka lihat karena yang mereka bisa lihat hanyalah terang itu sendiri. Dan dari kampus ini, aku ingin mewujudkan semua itu.

Sembari menjadi dosen teknik, aku juga ingin menjadi dosen agama di kampus terindah itu. Tidak ketinggalan, besar sekali harapanku untuk bisa menjadi pembina di PMK. Ah, setiap kali membayangkannya, tawa manis mewarnai hatiku. Itu indah dan manis sekali. Aku tahu apa yang akan kusampaikan dan kukerjakan ‘pabila aku ada di kelas agama itu atau ada di depan mereka, berkhotbah, saat kebaktian rutin mahasiswa PMK. Dan aku yakin, ketika aku berhadapan dengan mereka, aku sedang berhadapan dengan orang-orang yang “paling berbahaya” di kampus itu. Mereka harus menjadi orang benar. Mereka harus menjadi pahlawan yang sesungguhnya bagi bangsa ini. Bapa harus terlihat melalui hidup dan karya mereka. Bangsa ini perlu merasakan keberadaan Allah melalui keberadaan mereka.

Kampus ini harus menjadi tempat menimba ilmu, belajar tentang sains, seni, dan teknologi
Kampus ini harus menjadi tempat bertanya dan tempat jawaban itu ditemukan
Kampus ini harus membentuk watak dan kepribadian anak-anak itu
Kampus ini harus mencetak para pelopor pembangunan
Pelopor persatuan dan kesatuan bangsa
Pelopor para pahlawan

Wahai kampusku
Kau tak ‘kan pernah tergantikan, selalu menjadi salah satu hal terindah di hatiku

Wahai kampusku
Aku yakin kau belum lupa akan janjiku padamu
Tunggulah aku!
Kau tahu, kau bisa percaya padaku, kau bisa mengandalkan aku

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku, seorang lulusan Institut Teknologi Bandung
Demi Ibu Pertiwi

Berjanji akan mengabdikan ilmu pengetahuan
Bagi kesejahteraan Bangsa Indonesia
Perikemanusiaan dan perdamaian dunia

Aku berjanji akan mengabdikan
Segala kebajikan ilmu pengetahuan
untuk menghantarkan Bangsa Indonesia
ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur
yang berdasarkan Pancasila

Aku berjanji akan tetap setia
Kepada watak pembangunan kesarjanaan Indonesia
dan menjunjung tinggi susila sarjana,
Kejujuran serta keluhuran ilmu pengetahuan
di mana pun aku berada

Aku berjanji akan senantiasa menjunjung tinggi
Nama Baik Almamater Kami
Institut Teknologi Bandung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jayalah selalu ITB-ku, rumah-ku
Aku ingin selalu bisa bersamamu
Bersama, kita, menciptakan para pahlawan

Tetapi sebelum semua itu terjadi
Terimalah selamat ulangtahun dariku

In Harmonia Progressio … Gloria in excelsis Deo…

Gebrakan Besar di Hari Valentine

“Ketika kau melakukan sesuatu yang penting, lakukanlah itu dengan grand style”

Itulah yang selama ini menjadi prinsipku. Jika aku melakukan sesuatu yang menurutku cukup penting dan bukan sekadar rutinitas, aku sebisa mungkin melakukannya dengan grand style. Dengan demikian, aku bisa menciptakan momen-momen bersejarah dan legendaris yang pasti akan membuatku tersenyum tiap kali aku mengenangnya. Bukan untuk dilihat oleh orang lain, karena memang kebanyakan dari momen-momen paling penting dalam hidup ini tidak bisa dilihat oleh orang lain, melainkan untuk dikenang oleh diriku sendiri. Aku sarankan kau juga mencobanya.

Dibandingkan menjalani hari-hari yang biasa saja, tidak enak untuk diingat, bahkan terlalu mudah terlupakan, mengapa tidak buat hari-harimu menjadi legenda?

Beberapa momen yang dirasa biasa saja bisa menjadi jauh lebih signifikan dan memiliki daya tarik apabila dilakukan pada tanggal-tanggal yang penting. Dan setiap tahunnya, tanggal paling awal yang memiliki keistimewaan adalah 14 Februari, yakni Hari Valentine. Kabar baik bagiku, aku sudah punya rencana besar untuk menjadikan Hari Valentine di tahun ini menjadi salah satu legenda dalam hidupku.

Sebelumnya, Valentine sudah menjadi hari penting bagiku walau maknanya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang berpacaran. Hari Valentine, 5 tahun lalu, adalah kali pertama aku selesai membaca Alkitab. Tentu saja itu tidak terjadi secara kebetulan, aku merencanakannya. Aku suka dengan angka 7, orang-orang menyebutnya “Lucky Seven”. Hari Valentine terjadi di tanggal 14 bulan ke-dua. Empat belas dibagi dengan dua adalah 7. Dan kala itu adalah tahun 2009, ada angka 2 dan 9 di sana. Sembilan dikurang dua akan menghasilkan angka 7. Wah, aku menemukan banyak angka tujuh. Kemudian, untuk membuatnya sempurna, aku mengeset agar kata terakhir untuk menyelesaikan Alkitabku akan kubaca pada pukul 7 pagi, menit ke-7, detik ke-7, di hari tersebut. Dan voila, aku khatam membaca Alkitab. zehahahahahaaa….

Mungkin kau akan mengernyitkan alis dan dahimu saat membaca ini. Kedengarannya aku terlalu memaksakan diri, bukan? Tidak apa, seperti yang kukatakan sebelumnya, banyak dari momen-momen penting dalam hidup ini memang tidak untuk dilihat oleh orang lain atau membuat mereka merasa itu juga penting bagi mereka. Yang terutama adalah kerjakanlah sesuatu sedemikian hingga dirimu di masa depan akan sangat berterima kasih padamu karena kau sudah melakukannya dengan sangat baik dan dalam grand style a.l.a dirimu sendiri.

Dan kabar yang lebih baik dibanding Valentine 5 tahun yang lalu, Valentine tahun ini memiliki kombinasi angka yang lebih nyentrik untuk kukenang, 14-02-2014. Sempurna. Angka 14, angka 2, kemudian 2 lagi, dan 14 lagi. O I love it so much, ahahaha. Dan tidak hanya itu, pada hari yang sama, PMK sedang mengadakan regenerasi pengurus baru. Kepengurusan ini adalah kepengurusan yang mana aku masih mengenali beberapa personilnya, terutama sang Ketua. Akan berbeda dengan tahun depan, aku rasa aku tidak akan mengenal Pengurus PMK di tahun-tahun mendatang. Tapi biarlah itu terjadi, yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan momen ini sebagai legenda dalam hidupku. Dan seperti yang sudah kusinggung sebelumnya, I did it.

Dan momen bersejarah itu adalah:
Untuk pertama kalinya aku secara serius dan nyata membuat langkah besar untuk mencapai visiku

Aku bukannya tidak menghargai upaya-upaya lain yang sudah kulakukan sebelumnya mengenai visiku. Hanya saja kali ini untuk pertama kalinya aku benar-benar menempatkan diri di daerah yang benar-benar sensitif bagiku. Itu adalah pada saat aku masuk ke kantor tata usaha Program Studi Teknik Perminyakan ITB dan bertanya kepada si Ibu:

“Bu, bagaimana yah caranya kalau saya mau menjadi dosen di sini.
Saya alumni ITB, tapi Teknik Kimia, Bu. Tapi saya sekarang bekerja sebagai Petroleum Engineer.
Bagaimana yah Bu?”

Ah, seandainya saja aku bisa merekam percakapan itu, itu pasti akan legendary-banget, tetapi…

Ah, biasanya aku senang dengan kata “tetapi”, kali ini tidak demikian, karena aku harus berkata
“Memang momennya legendary-banget , tetapi jawaban yang kuterima sangat menohok hatiku”

Aku sebenarnya sudah menduga beberapa hal yang mungkin menjadi jawaban dari si Ibu. Hanya saja, aku tidak mau memikirkan “jawaban yang satu itu” secara mendalam karena jawaban itu tidak terlalu menarik bagimu. Sayangnya, itulah yang menjadi jawaban si Ibu atas pertanyaanku.

“Oh di sini ga ada daftar-daftaran, Mas.
Biasanya dosennya yang langsung rekomendasiin yang mau jadi dosen.
Dulu pernah ada juga, dia anak TK ITB, tapi S2 dan S3 di luar negeri dan jurusan minyak,
pas wawancara di sini, ga diterima juga tuh Mas buat jadi dosen.”

Yap, ini adalah wake-up-call bagiku. Sepertinya selama ini aku terlalu terbuai dengan mimpi-mimpi indah yang kuciptakan sendiri, menjalani jenjang master di daratan Britania dan menaklukan Negeri Paman Sam saat jenjang doktoral. Baiklah, change of plan, Bro, change of plan besar-besaran.

Aku tidak suka dengan jawaban itu. Tetapi aku bersyukur sudah lebih dini mendengar jawaban tersebut sehingga aku bisa mengubah rencanaku dan mempersiapkan diriku lebih lagi. Setiap waktu yang kujalani tanpa jawaban itu, hanya akan menjadi waktu yang dibumbui mimpi-mimpi yang tak akan terjadi. Itu adalah kesia-siaan. Dan tentu saja, pada akhirnya, Hari Valentine tahun 2014 benar-benar menjadi hari bersejarah nan legendaris dalam buku kehidupanku karena di hari itu bukan saja aku sudah MEMULAI, tetapi juga untuk pertama kalinya MEREVISI grand design perjalanan hidupku.

Aku sadar, semua ini mirip dengan membuat tugas akhir semasa di kampus, akan penuh dengan revisi. Kini setelah aku menyadari hal tersebut, aku tidak boleh sama lagi. Aku tidak boleh membiarkan diriku terhanyut dalam mimpi. Ketika aku menemukan suatu tanda tanya dalam perjalanan meraih visiku, aku harus bersegera menemukan jawabannya. Aku tidak boleh menghindar dari pertanyaan tersebut hanya karena aku takut akan jawabannya.

Aku juga harus siap sedia merevisi rencana-rencana dalam hidupku dan tidak boleh menggerutu akan hal itu. Berdasarkan rencanaku sebelumnya, seharusnya aku bisa mendapatkan dua tahun pengalaman studi di Scotland/England sebelum akhirnya menempuh pertempuran sebenarnya di Amerika untuk meraih gelar doktor. Dengan blue print seperti itu, aku pastinya sudah fasih dalam berbahasa Inggris, telah beradaptasi dengan budaya luar dan hawa dingin, serta memiliki kapabilitas a.l.a orang luar negeri. Jika dipikir-pikir, itu adalah hal yang sangat luar biasa dan sangat disayangkan, aku harus merelakan kesempatan 2 tahun studi master di sana.

Dan sebagai gantinya, aku harus melanjutkan studi magister di ITB supaya aku bisa melakukan pendekatan dengan Pak Dosen yang rekomendasinya aku butuhkan untuk bisa menjadi seorang dosen di Prodi TM ITB sebagaimana yang menjadi visiku. Dengan blue print ini, aku kehilangan kesempatan untuk fasih berbahasa Inggris dan keterampilan untuk survive di luar negeri. Aku juga mungkin akan mendapatkan pendidikan dengan standar yang lebih rendah dibanding pendidikan yang bisa kudapatkan di Eropa.

Tetapi seperti yang sudah kusadari, aku tidak boleh bersungut-sungut. Aku harus bersyukur. Dan tentu saja, ke-dewa-an-ku (demikian aku menyebutnya) tidak boleh kusandarkan pada lembaga mana yang mendidikku. Entahkah aku akan kuliah di luar negeri atau tetap di ITB, aku akan tetap menjadi master, aku akan menjadi dewa.

Dan mungkin bukan itu saja. Dua tahun tambahan untuk studi di Indonesia, apa saja bisa terjadi. Bukan tidak mungkin aku akan bertemu dengan orang-orang yang penting, bahkan mungkin seorang yang paling penting, dalam hidupku ketika aku melanjutkan studi master di negeriku sendiri. Kau tahu, orang penting yang akan kau temui jika kau kuliah di luar negeri hanyalah dosen pembimbingmu seorang, selebihnya orang-orang lain tentu tidak akan terlalu berpengaruh dalam hidupmu. Jadi, alangkah indahnya jika aku bersyukur dengan revisi itu dan tidak membuang-buang waktuku dengan menyesali nasib. Ah, aku menjadi bersemangat. Beberapa bagian dari kabut masa depanku kini sudah menjadi lebih jelas terlihat.

Di atas semua itu, kita hidup bukan untuk menjadi hamba dari visi atau cita-cita kita. Menjalani visi hanyalah sarana untuk menyelesaikan sesuatu yang jauh lebih mulia, yakni melayani Allah. Visi hidup, bagaimanapun komitmen dan keyakinan kita, tidak boleh bersifat mutlak. Ketika kita membuatnya menjadi mutlak, bisa jadi itu membuat kita tidak lagi merasa tergantung dengan suara Allah. Alhasil, kita tidak lagi rindu berdoa karena kita merasa jalannya sudah jelas terlihat, tinggal dijalani saja dan tidak lagi perlu membuang-buang waktu untuk menanyakan petunjuk dari Bapa kita. Aku bisa pastikan, perjalanan seperti itu akan berujung pada penyesalan.

Jadi, walaupun sejauh ini, aku merasa semuanya jelas, bekerja di perusahaanku hingga meraih exp. 5 years (biasanya dunia akan menganggap seseorang berpengalaman jika dia telah menjalani bidang itu setidaknya 5 tahun tanpa berhenti), dilanjutkan dengan 2 tahun tambahan studi di ITB, dan menjalani 3 – 5 tahun studi doktoral di Amerika (Amiiiiiiiiinnnnnn to the Max), aku tidak boleh menjadikan semua itu mutlak. Yang mutlak hanyalah ini, hidup untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan apa yang Dia inginkan kita kerjakan.

C. S. Lewis berkata, to love is to be vulnerable. Aku mengasihi Allahku dan kasih itu diwujudnyatakan dalam kerentananku di hadapan-Nya. Aku rentan, aku menyerah pada-Nya. Aku mengizinkan Dia campur tangan dalam hidupku, merevisi sebagian jalan hidupku, atau bahkan mengubahnya total. Walaupun mungkin aku akan merasa sakit, aku harus bertahan dalam iman dan pengharapan bahwa Dia tidak pernah merancangkan apapun yang jahat bagiku. Aku ada dalam kasih-Nya. Aku tenang. Aku pasti berhasil. Aku akan mengakhiri hidupku dalam kepuasan sejati dan sukacita ketika Dia menuntun langkahku.

Nah, bagaimana denganmu? Aku sangat mengapresiasi kesediaanmu untuk membaca hingga sejauh ini. Jika kau masih kuat membaca deretan huruf-huruf di paragraf ini, aku asumsikan kau juga sedang bergumul dalam visi hidupmu. Well, aku harap kisah singkatku ini (aku tidak yakin ini singkat) bisa menjadi inspirasi buatmu. Dan biarlah kusimpulkan poin-poin paling utama di sini:

  1. Jika kau mau melakukan sesuatu yang penting dan bukan sekadar rutinitas, lakukanlah dengan grand style.
  2. Jika kau bisa membuat sejarah dan legenda dalam hidupmu, mengapa harus membiarkan hari-harimu berlalu begitu saja menjadi just-another-day?
  3. Jangan terbuai dalam mimpi, segera buat satu langkah besar dalam perjalananmu meraih visi!
  4. Jika langkah besar itu adalah sebuah tanda tanya, maka jangan berlama-lama, segeralah tanyakan kepada orang yang paling mampu menjawabnya. Tanyakan kepada tata usaha jika kau ingin menjadi dosen. Tanyakan kepada pendeta jika kau ingin menjadi pendeta di gereja yang beliau gembalai. Tanyakan kepada pacarmu jika kau harus menunda pernikahan karena ingin studi di luar negeri. Jangan buang-buang waktu, segeralah temukan jawabannya!
  5. Jika setelah kau bertanya, mendapat jawaban, dan mau tidak mau harus membuat revisi, maka buatlah revisi. Jangan bersungut-sungut. Ambil waktu sejenak dan renungkan. Lihatlah sisi baiknya. Dan temukanlah alasan untuk bersyukur karena revisi tersebut. Percayalah, kau pasti bisa menemukan sisi baik dan alasan untuk bersyukur.
  6. Visi hidup tidak boleh mutlak. Yang mutlak adalah mengenal-Nya, mengenal suara-Nya, dan melayani Dia.
  7. Terakhir, akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3 : 6).

Aku tidak peduli apakah aku bisa sampai ke sana atau tidak
karena perjalanan ke sana saja sudah sangat menyenangkan dan bermakna.

Tuhan Yesus memberkati

 

Resolusi oh Resolusi

Di awal tahun 2014 ini aku membuat suatu resolusi, suatu janji kepada diriku sendiri, yakni jika aku melihat seseorang merokok di tempat umum, maka aku akan menegurnya. Resolusi itu terdengar penuh ketegasan dan kekuatan, setidaknya di telingaku. Resolusi itu juga nampaknya feasible untuk dikerjakan dan tidak terlalu menakutkan atau membahayakan jiwa, menurutku. Itu berarti seharusnya aku bisa menjalankannya secara konsisten. Akan tetapi, aku tidak menyangka bahwa baru di bulan pertama saja, resolusiku itu sudah terguncang.

Adalah ketika aku off dari pekerjaan dinasku di lapangan. Setiap karyawan off, kami akan menaiki travel (mobil off-road) yang akan mengantar kami dari lokasi ke perhentian sebelum akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju kota. Tempat perhentian berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari lokasi. Seperti biasa, aku mengambil bangku paling depan supaya aku bisa membaca buku dengan tenang. Sayangnya, harapanku itu tidak terwujud kali ini. Bagaimana tidak, orang-orang di belakangku tidak henti-hentinya berbicara. Sempat terbersit olehku pikiran bahwa lelaki yang banyak omong itu ternyata jauh lebih menyebalkan dibanding wanita dengan kebiasaan yang sama. Tetapi itu bukanlah masalah utamaku saat itu, masalah utamaku adalah ini…

Aduh, kalian sih ngajak saya ngomong terus. Saya jadi jenuh nih, hahaha. Mas dibuka yah jendelanya!“, kata Pak Supir.

Oke, Pak“, kataku yang setuju membuka jendela supaya udara segar pagi hari masuk ke dalam mobil sebagai ganti hawa dingin dari AC. Aku bahkan membukanya dengan penuh semangat. Ternyata aku terlalu polos. Bapak supir kemudian menyalakan rokoknya.

Ini nih kalau saya diajak ngobrol terus. Saya jadi harus mikir sambil nyetir. Jadi pusing. Harus merokok deh, hahahaa“, kata Pak Supir yang pasti memikirkan hal yang sama seperti yang para perokok lain pikirkan.

Whaaaaaaaaaatttttttttttttttttttttttttt“, kataku, tapi dalam hati.

Saat itu, aku sangat sangat terganggu. Di satu sisi aku sangat tidak membenarkan kelakuan itu. Mana boleh merokok di dalam mobil seperti itu. Sekalipun cuma aku yang terganggu, mobil ini tetaplah sarana umum sehingga tidak diperbolehkan merokok di dalamnya.

Tetapi di sisi lain, aku merasa harus bisa memberi toleransi karena kasihan juga si Bapak kalau harus tetap fokus menyetir di jalan off road selama 3 jam padahal seperti pengakuannya, kepalanya sudah jenuh (udah butuh rokok banget). Bapakku, sebelum terkena serangan jantung dan dioperasi, juga adalah seorang perokok berat. Hal ini membuatku sedikit banyak tahu apa yang seorang perokok rasakan ketika dia berkata, “otakku udah jenuh.” Akan tetapi, di antara semua kegundahan dan kekesalan itu, aku paling sebal terhadap diriku sendiri yang tidak berani mengambil keputusan saat itu. Aku tidak berani menentukan di mana posisiku seharusnya berdiri. Such a hame.

“Richard, ingat resolusimu!
Look at yourself, kamu bahkan sampai menulis resolusimu itu di blog
Tapi lihatlah, baru bulan Januari kamu sudah melanggarnya
Ayo, beranilah, tetapkan pendirianmu!

Ayo, kamu tahu mana putih mana hitam, mana salah mana benar

Tetapi pengetahuanmu akan sia-sia kalau kamu tidak berani mengambil tindakan.

Richard, ayooo, masakan kamu mau membiarkan yang salah berdiri di atas yang benar.
Richard, kalau begini saja kamu sudah takut, bagaimana kamu mau mengubah dunia?

Richard… pendidikanmu jauh di atas si Bapak loh
Richard… secara struktural, kamu itu bos-nya si Bapak loh
Percuma tahu kamu sudah tinggi-tinggi kuliah, percuma juga Tuhan kasih kamu kesempatan punya jabatan sedemikian rupa, tapi sama bawahanmu yang tidak benar kamu malah memble. Sama bawahan itu ga boleh sombong atau keras, tapi kalau mereka salah, kamu punya kuasa dan kesempatan untuk menegur dan memberikan contoh yang benar.”

Itulah bagaimana sisi diriku yang radikal sedang lecturing sisi diriku yang penakut. Sayangnya, untuk beberapa saat, sisi penakutku masih lebih dominan. Hingga akhirnya salah seorang dari kami meminta mobil diberhentikan karena harus buang air kecil. Semua penumpang keluar dan menyelesaikan urusannya dan seperti yang sudah kuduga, momentum itu digunakan si Bapak untuk merokok lagi.

Si Bapak punya momentumnya. Aku juga punya momentumku, zeehahahahaha.“, tawaku licik (yang positif) dalam hati. Aku tidak boleh gagal kali ini. Aku punya prediksi dan rencana menuju kesuksesan.

Dan prediksiku ternyata benar, si Bapak masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan, sambil memegang rokok yang masih tersisa setengah potong lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sudah mengantisipasi apa yang akan terjadi. Aku sudah punya rencana. Aku sudah belajar dari pengalaman. Aku sudah menguatkan dan meneguhkan hatiku untuk menentukan di mana aku akan berdiri, tetapi tidak sampai di situ saja, kini aku mendapatkan keberanian untuk menyuarakan apa yang benat. Aku bersyukur sekali karena aku yakin saat itu Tuhan sedang memberikan kesempatan kedua bagiku untuk memperbaiki kesalahan. Aku punya KUASA dan KESEMPATAN untuk menghentikan kegilaan ini. Dan puji Tuhan, aku menggunakannya kali ini.

“Pak, kalau merokoknya masih belum selesai, tolong merokok di luar saja ya Pak. Ga baik soalnya, Pak.”

Aku tahu apa yang kukatakan mungkin akan menggangu penumpang di belakangku sebab mereka tidak keberatan dengan asap rokok itu dan mereka sangat ingin segera pulang. Dan yang jelas, perkataanku pasti sangat menganggu bagi si Bapak. Mungkin aku akan dicap sebagai orang yang sombong atau sok suci. Tapi aku tidak peduli, bahkan aku sangat bahagia, karena saat itu aku berhasil melakukan apa yang kuyakini benar, dan yang memang benar.

Sisa perjalanan itu kami lewati tanpa asap rokok
Tetapi masih ada satu asap yang mengitariku
Itu adalah asap dari persembahan hati ini
Aku membakar zona nyamanku
Aku membakar sikap pengecutku yang takut dianggap sombong atau sok suci
Dan mempersembahkannya kepada Allah-ku yang kucintai dan kuhormati
Semoga persembahanku berbau harum di hadapan-Nya

Hari itu aku belajar satu hal. Menggenapi resolusi, dan lebih dari itu, melakukan apa yang benar, tidaklah semudah mengucapkannya. Tetapi aku juga belajar hal lain yang bahkan lebih penting. Yakni walaupun sulit, menegakkan kebenaran bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Kau butuh 2 hal untuk itu. Pertama, kau butuh pengetahuan yang jelas untuk membedakan mana yang benar dan yang mana yang salah. Kedua, kau butuh keberanian dan kesiapan untuk dibenci ketika kamu menegakkan kebenaran itu.

Semakin lama, tantangan melakukan resolusi dan menegakkan kebenaran akan semakin sulit. Jika kepada masalah dan tantangan yang kecil saja kita sudah memberi toleransi, hampir bisa dipastikan kita akan tenggelam ke zona abu-abu sejak dini. Jika hal itu terus dibiarkan, akan semakin banyak kejahatan yang subur berkembang di dunia ini karena semua manusia terus memberikan toleransi. Lebih parah, mungkin akan tiba masanya di mana kejahatan berkembang bukan karena manusia memberikan toleransi, melainkan karena manusia sudah buta sepenuhnya untuk membedakan mana yang benar dan yang mana yang salah.

Dan aku tidak ingin dunia menuju ke arah itu
Aku benci dunia yang seperti itu
Dan kalau kamu adalah salah satu orang yang akan membawa dunia ke arah itu
Atau kalau kamu adalah salah satu orang yang akan terus memberikan toleransi bodoh itu
Aku berdoa supaya suatu saat kita berhadapan karena aku ingin memberimu pelajaran

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.
~ Edmund Burke

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.
Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
~ Jesus Christ