7. Penghasilan yang Pasif dan Pemberian yang Aktif

Zaman sekarang adalah zaman di mana orang berlomba-lomba mengusahakan agar mereka mendapat sebanyak dan secepat mungkin passive income atau pendapatan pasif. Pendapatan pasif adalah penghasilan yang diperoleh tanpa perlu adanya pekerjaan khusus seperti yang harus dilakukan jika seseorang ingin mendapat gaji di tempat di mana ia bekerja. Seringkali hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan pendapatan pasif adalah menanamkan sejumlah modal atau uang yang kemudian akan “bekerja” dan “berkembang” untuk menghasilkan pemasukan pasif bagi si penanam. Bunga tabungan dan deposito merupakan dua contoh dari passive income ini.

Memiliki pendapatan pasif bukanlah hal yang negatif. Namun, pertanyaannya adalah: Setelah kita memiliki penghasilan pasif, bagaimana dengan pemberian kita kepada orang lain? Apakah kita menjadi semakin murah hati dalam memberi? Apakah pemberian kita tidak berubah? Atau lebih parah, apakah kita justru menjadi semakin pelit dan materialistis?

Perhatikan apa yang murid-murid Tuhan lakukan ketika lima roti dan dua ikan yang ada pada mereka dilipatgandakan oleh Tuhan Yesus dengan begitu luar biasa. Firman Tuhan mencatat:

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. (Matius 14:19-20)

Para murid membagi-bagikan kepada orang banyak apa yang sudah dilipatgandakan oleh Tuhan. Hal yang sama juga hendaknya terjadi dalam hidup kita yang tidak putus-putusnya menerima lipat ganda berkat dari Tuhan. Penghasilan pasif yang kita peroleh seharusnya menggerakkan pemberian aktif kita. Semakin banyak penghasilan pasif yang kita terima, semakin banyak pemberian aktif yang kita bagikan, itulah implikasi yang seharusnya.

Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh;
tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.
(Amsal 11:28)

6. Resolusi di Tahun Baru

As we approach the end of the year, many of us will take time to reflect on different areas in our lives. There is nothing magical about the turn of the calendar page. Yet if the flip from December to January causes us to think about what’s really important, I’m all for this little bit of common grace.
(The Gospel Coalition)

Well spoken, Sir!
Setuju!

^^

5. Kekuatan

Lewis (2)

Setelah menjalani hidup selama dua puluhan tahun ini,
aku sadar bahwa manusia sangat membutuhkan apa yang disebut “kekuatan.”

Kita butuh visi, ya. Kita butuh hikmat, ya. Kita butuh sukacita, ya. Tapi dinamika hidup yang tidak menentu, sifat orang-orang yang begitu banyak macamnya, suasana pelayanan dan pekerjaan yang tidak selalu menyenangkan, kondisi keluarga yang memiliki pergumulan, tempramen bawaan sejak lahir yang memiliki kelemahan, kondisi tubuh yang tidak selalu sehat dan bugar, perkembangan zaman yang begitu cepat, dan berbagai aspek lainnya membuat kita juga sangat membutuhkan kesabaran, ketahanan, ketekunan, kapasitas hati yang besar, serta kedisiplinan dan semua itu dapat dikemas dalam satu kata, kekuatan.

Kita butuh kekuatan. Kita sangat butuh kekuatan. Tanpanya, visi yang jelas tidak akan tercapai, hikmat yang tinggi tidak akan terpakai, sukacita yang besar tidak akan bertahan lama. Kita harus kuat. Kita butuh kekuatan. Kita butuh dikuatkan.

Dan itulah yang selalu mengisi daftar permohonanku kepada Allah. “Father, Father, God, give me strength, give me power, give me endurance, berilah kekuatan padaku, please!” Itulah seruan dan permohonanku kepada-Nya di dalam doa-doaku. Dan kau tahu apa yang kudapati? Inilah yang kudapati: Allah memberi kita kekuatan bukan dengan menurunkan kekuatan itu dari surga dan hinggap di hati kita. Apa yang Ia lakukan untuk menguatkan kita dengan kekuatan yang sejati dan ilahi adalah mengarahkan mata kita kepada Kristus. Itulah yang kuimani, kudapati, kualami, dan kunikmati .

Kekuatan ada ketika kita memandang kepada Kristus.
Kristus adalah Kekuatan kita.
Inilah sumber dan kunci kekuatan kita.

Ya, jika apa yang kita butuhkan di dunia ini hanyalah kekuatan, maka Kristus tidak perlu datang ke dunia ini, Ia cukup menganugerahkan kita kekuatan dari sorga. Tetapi tidak demikian Allah bekerja. Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia ini untuk kita. Dan tidak berhenti sampai di situ, hingga saat ini Allah masih memberkati kita, dengan segala yang kita perlukan: hikmat, sukacita, kasih, penyangkalan diri, visi, kekuatan, dan lain sebagainya, ketika kita memandang Kristus dengan mata hati yang telah dicelikkan dan dimurnikan oleh kuasa Roh Kudus. Ya, janganlah pernah ragu akan hal ini: kunci kemenangan kita dan kekuatan kita di dalam segala perkara terletak pada memandang Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, sebagaimana apa yang firman Tuhan katakan:

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita,
marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita,
dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus,
yang memimpin kita dalam iman,
dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan
(Ibrani 12:1-2)

Ya, Allah menyempurnakan iman kita, kekuatan kita, ketika mata kita tertuju pada Kristus. Oh, terpujilah Allah, Bapa kita, dan Tuhan Yesus Kristus, Raja dan Gembala Jiwa kita. Segala kemuliaan hanyalah bagi Dia untuk selama-lamanya!

Amin

4. Waktu dan Produktivitas

Bagaimanakah seharusnya orang Kristen menggunakan waktu?
Harus se-produktif apakah orang Kristen hidup?

Hanya ada satu jawaban untuk itu:

Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus,
tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu,
maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.
(Yohanes 21:25)

Tuhan kita, ketika Ia hidup di muka bumi ini sebagai manusia, hanya melakukan pelayanan-Nya selama tiga tahun. Ia bahkan hanya berusia tiga puluh tiga tahun sebelum akhirnya Ia meninggalkan dunia ini. Apakah yang bisa seseorang lakukan di dalam rentang waktu yang sesingkat itu? Sejarah mencatat dan masa depan akan menjawab bahwa hanya ada sedikit orang yang dapat melakukan banyak hal signifikan untuk dunia ini dalam waktu dan usia yang sedemikian pendek. Tetapi tidak demikian halnya dengan Tuhan kita. Dalam waktu dan usia yang singkat, Ia dapat melakukan banyak hal, begitu banyak hal hingga seandainya semua itu ditulis satu per satu di atas kertas atau di atas permukaan apapun yang di atasnya dapat ditulis sesuatu, agaknya alam semesta ini tidak dapat menampungnya.

Ya, Tuhan kita, Yesus Kristus, adalah orang yang paling menghargai waktu sepanjang masa. Ia adalah orang yang paling produktif sepanjang masa. Dunia ini tidak cukup luas untuk memuat catatan tentang Dia dan pekerjaan-Nya. Bibir semua yang dapat berbicara di alam raya ini tidak cukup banyak untuk menceritakan tentang buah dan karya-Nya. Ia adalah Tuhan yang melakukan semua itu untuk umat-Nya. Dan karena kita diselamatkan untuk menjadi serupa dengan Dia (Roma 8:29, 2 Korintus 3:18), maka kita juga harus sangat menghargai waktu dan menghendaki serta mengejar hidup yang produktif dan berbuah (Yohanes 15:8) di dalam waktu singkat yang telah Allah anugerahkan kepada setiap kita. Dengan perkataan lain, karena Kristus adalah Awal hidup kita, Jalan hidup kita, dan Tujuan hidup kita, maka kita juga dipanggil dan dipersiapkan oleh Allah untuk hidup sebagai orang-orang yang paling disiplin dan paling produktif di dunia ini.

Spurgeon (2)

Bagaimanakah cara kita menghidupi hidup yang sedemikian disiplin dan berbuah? Hikmat dunia ini tidak akan dapat memberi jawabannya untuk kita. Hanyalah firman Tuhan yang hidup yang mampu menerangi hati dan pikiran kita serta menunjukkan kepada kita bagaimana caranya. Kita dapat hidup seperti Kristus, jika:

  • Kita juga dikuatkan oleh Roh yang menguatkan Kristus, yakni Roh Kudus (Lukas 3:21-22; Markus 1:12; Yesaya 11:1-3; Yesaya 61:1; Kisah Para Rasul 1:8)
  • Kita juga memakan makanan yang dimakan oleh Kristus, yaitu melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yohanes 4:34)
  • Kita hidup di dalam Kristus dan berdoa di dalam nama Kristus (Yohanes 15:1-8)

Dengarlah firman Tuhan kita:

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.
Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,
sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu,
mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan,
yaitu jika kamu berbuah banyak
dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
(Yohanes 15: 5, 7-8)

“dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”
Bukankah itu panggilan terindah yang ingin kita dengar dari bibir Tuhan kita?

Segala kemuliaan hanyalah bagi Tuhan dan Rajaku, Yesus Kristus.
Amin

3. Doa

Karena itu berdoalah demikian:
Bapa kami yang di sorga…
(Matius 6:9)

Salah satu hal yang paling penting untuk diingat ketika kita berdoa adalah
bahwa ketika kita berdoa, kita sesungguhnya sedang berbicara dengan seorang Pribadi,
yang adalah Bapa atau Ayah kita sendiri.

2. Hidup yang Sejati

Apakah hidup yang sejati itu sebenarnya?

Hidup yang sejati adalah hidup yang direncanakan oleh Allah,
yang dikaruniakan kepada orang-orang percaya di dalam Yesus Kristus,
dan dikenakan kepada mereka oleh kuasa Roh Kudus.

Hidup itu adalah hidup yang berdasarkan pada kehendak Allah
yang dijalani berdasarkan tuntunan Alkitab
dengan hikmat, kuasa, dan pimpinan dari Roh Kudus
dengan tujuan menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus
untuk memberitakan dan memperlebar Kerajaan Allah
di dalam setiap area hidup manusia
dan kepada jiwa setiap manusia.

1. Visi

Jika kita ingin sampai ke suatu tempat,
maka kita harus tahu arah untuk sampai ke tempat itu.

Apakah yang kita inginkan?
Kita ingin memiliki pelayanan yang memuliakan Tuhan?
Kita ingin memiliki pelayanan yang memberkati banyak orang?
Kita ingin pernikahan yang teguh dan bahagia?
Kita ingin anak yang cinta Tuhan dan cinta orang tua?
Kita ingin hubungan kita menyenangkan Tuhan dan menjadi berkat bagi teman-teman kita?
Kita ingin pekerjaan kita sukses?
Kita ingin menjadi orang yang berpengaruh dan membangun orang lain?
Kita ingin menjadi pemimpin yang menjadi teladan?

Jika demikian, maka, tidak bisa tidak, kita butuh visi.