Doa untuk Mereka yang Kukasihi

sibbes

Ketika kau sadar betapa kau mengasihi orangtuamu dan ketika kau sadar betapa kau ingin memeluk mereka dan menghadirkan kebahagiaan kepada mereka namun kau tidak bisa karena kau berada terlalu jauh, apakah yang kau akan lakukan?

Inilah yang perlu kau lakukan:

  1. Menangislah, sebab menangis akan melegakan jiwamu dan mengeluarkan luapan isi hatimu, sehingga kau tahu apa yang ada di dalamnya.
  1. Sadarilah, bahwa sekalipun engkau dekat dengan mereka, memeluk mereka seerat-eratnya, mencoba menghibur mereka dan membuat mereka tertawa, serta memberikan mereka hadiah sebanyak yang engkau mau dan mampu, kau tetap tidak akan pernah bisa membahagiakan mereka sebesar yang kau inginkan.
  1. Ketahuiah, bahwa hanya Kristus yang mampu memenuhi dan membahagiakan jiwa orangtuamu dengan sukacita yang tidak terkatakan.
  1. Berdoalah dan menangislah, sebab Ia mendengar seruan bibirmu dan menghitung tetesan air matamu. Berdoalah kepada Allah agar Ia menghadirkan sukacita dan kebahagiaan bagi orangtuamu.
  1. Percayalah, bahwa Ia pasti akan bertindak sekalipun kita tidak dapat melihat dan mengerti sepenuhnya bagaimana Ia bekerja.
  1. Bersukacitalah dan bersyukurlah kepada-Nya, sebab kau memiliki Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kuasa.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

(Efesus 3:16-21)

Itu jugalah doaku untukmu, Bapak dan Mamakku. Semoga Tuhan membelai kalian di dalam kasih-Nya.

Puji dan syukur kepada Allah dan Tuhan kita. Dialah yang memanggil kita untuk berdoa. Dialah yang memberitahu apa yang harus kita doakan. Dialah pula yang mengerjakan doa itu untuk menjadi nyata.

pink

Segala kemuliaan hanyalah bagi nama-Nya. Amin.

Doa yang Menopang

calvin

Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN,
dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan,
merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu;
apa yang kunazarkan akan kubayar.

Keselamatan adalah dari TUHAN!

(Yunus 2:7-9)

Tumbuhan berkayu memiliki batang yang sangat kuat yang terdiri dari lignoselulosa.
Namun, ketika angin topan menerpa, batang kayu yang kokoh itu dapat tumbang pula.

Manusia memiliki tulang yang sangat kuat yang terdiri dari kalsium.
Namun, ketika musibah kecelakaan menimpa, tulang itu dapat patah pula.

Gedung yang tinggi memiliki struktur yang sangat kuat yang terdiri dari beton.
Namun, ketika gempa dahsyat melanda, bangunan megah itu dapat runtuh pula.

Tidak demikian halnya dengan manusia batiniah yang dibangun dengan doa.
Sekalipun Kerajaan Maut datang dan mencobai dengan segala muslihat dan kedahsyatannya, ia tidak tawar hati sebab Tuhan telah menjadi kekuatannya (2 Korintus 4:16).

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,
tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah
dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal,
akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
(Filipi 4:6-7)

Saat Teduh di Pagi Hari

luther

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu,
supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.
(Mazmur 90:14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bersaat teduh di pagi hari, berdoa di pagi hari, menyembah di pagi hari, atau membaca firman Tuhan di pagi hari, bagi seorang Kristen bukanlah sebuah tugas atau beban, melainkan suatu hak istimewa dari Allah Semesta Alam. Itu adalah rumput yang segar dari Sang Gembala untuk domba-domba-Nya sebelum Ia melepas mereka keluar dari kandang, perbekalan dari Sang Raja untuk prajurit-prajurit-Nya sebelum mereka maju berperang, dan sarapan penuh cinta kasih dari Bapa untuk anak-anak-Nya sebelum mereka pergi ke sekolah kehidupan yang penuh dengan ujian dan tantangan. Doa pagi adalah berkat untuk mengawali dan menjalani hari.

Di mazmur yang ditulisnya di padang gurun ini, Musa berkata bahwa kasih setia Allah di waktu pagi tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan bangsa Israel tetapi juga mengeyangkan mereka. Kepuasan dan kepenuhan akan kasih Allah itu membuahkan sorak-sorai dan sukacita yang tentu saja sangat penting untuk dapat menjalani satu hari yang penuh dengan rintangan; setidaknya bangsa Israel yang saat itu sedang berjalan di tengah-tengah gurun sangatlah membutuhkan sukacita yang demikian. Nehemia mengonfirmasi hal ini dengan berkata, “sukacita yang berasal dari TUHAN itulah kekuatan kalian” (Nehemia 8:10). Ya, sukacita adalah kekuatan dan oh alangkah lemahnya orang yang hatinya murung. Tetapi perlu diperhatikan bahwa Musa tidak berkata bahwa rasa kenyang yang berasal dari kasih setia Tuhan hanya dapat bertahan “selama satu hari kami”; Ia berkata “supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami”. Inilah perbedaan antara kepuasan yang berasal dari dunia dan kepuasan yang bersumber dari Allah. Kepuasan dari dunia akan lenyap sekejap dan terlupakan sementara kepuasan dari Allah dapat berlangsung semasa hari-hari kita.

John Piper pernah berkata, “Jika doa terlihat bagi kita seperti sebuah pengalihan dari produktivitas, ingatlah bahwa Tuhan melakukan jauh lebih banyak hal dalam lima detik dibanding apa yang bisa kita kerjakan dalam lima jam”. Apa yang dikatakan oleh Pak Piper sangat tercermin di dalam hidup Tuhan kita, Yesus Kristus. Di sepanjang sejarah dan sepanjang masa, tidak ada satupun orang yang lebih sibuk dibanding Kristus. Dialah Pribadi dengan tugas yang begitu berat dan waktu yang begitu singkat, baik untuk bekerja maupun untuk beristirahat. Jika ada orang di dunia ini yang paling menghargai produktivitas, Kristuslah orangnya. Namun firman Tuhan berkata bahwa setelah hari yang begitu melelahkan dan menjelang hari yang juga akan sangat melelahkan sekalipun, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Markus 1:35).”

Mengapa Kristus, yang adalah Allah yang Mahakuasa, berdoa, bahkan berdoa di pagi hari? Tuhan Yesus sendiri memberi jawabannya kepada kita ketika Ia berkata, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku (Yohanes 19:30).” Selama Tuhan kita melayani di dunia ini, Ia merendahkan diri-Nya dan sepenuhnya bergantung pada kehendak Bapa dan kuasa Roh Kudus. Untuk itu, Ia butuh berdoa. Inilah esensi dari manusia yang sejati, manusia yang baru, yang dimodelkan oleh Gembala kita, yaitu bergantung kepada kehendak Allah Bapa serta kuasa Allah Roh Kudus, melalui dan menurut gambar Sang Anak. Dan jika Ia, yang adalah Tuhan, Guru, Hikmat (1 Korintus 1:3), dan Model bagi kita (Roma 8:29) berdoa, bukankah itu menunjukkan kepada kita bahwa Ia mengajak kita untuk mengikuti teladan-Nya dan bahwa Ia mengundang kita untuk turut menerima satu berkat luar biasa yang Allah sediakan hanya di dalam doa di pagi hari?

boenhoeffer

Doa, khususnya berdoa di pagi hari, adalah hak istimewa bagi setiap orang percaya. Oleh sebab itu, janganlah kita menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang sedemikian berharga hanya karena kesibukan dan ambisi kita tetapi “marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibrani 4:16),” bahkan sejak dari awal hari kita.

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Titik Terendah dan Tertinggi Manusia

Untitled

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi
dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa
akan berkata kepada TUHAN:

“Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

(Mazmur 99:1-2)

Secara manusiawi dan duniawi, doa adalah titik terendah dan terlemah di dalam hidup manusia. Ya, lihatlah orang yang berdoa itu! Matanya tertutup. Ia tidak melihat apa-apa. Siapa saja dapat menyerangnya. Bibirnya terlihat komat-kamit. Dahinya mengerut. Ia seperti orang bodoh atau orang gila yang berbicara seorang diri. Ia tidak melakukan apa-apa. Ia diam. Bukankah ia sedang membuang-buang waktunya? Ia sangat tidak produktif. Ia lemah. Ia tidak pernah serendah dan selemah ketika ia sedang berdoa.

Ya, kacamata manusia dan dunia akan melihat orang yang berdoa sebagai orang yang begitu lemah. Tetapi, Allah dan seisi sorga tidak melihat apa yang manusia dan dunia lihat. Di kacamata Allah dan sorga, doa merupakan titik tertinggi dan terkuat di dalam hidup anak manusia.

Manusia tidak pernah selemah ketika ia berdoa. Ya, tetapi manusia baru tidak pernah sekuat ketika ia berdoa. Manusia tidak pernah berada di titik terendah selain ketika ia sedang memejamkan matanya, tidak melakukan apapun melainkan berdoa. Ya, tetapi seorang ciptaan baru tidak pernah berada di puncak tertinggi selain ketika ia sedang berdoa dan bersandar di kaki Kristus.

Mengapa bisa demikian?
Apakah doa itu sebenarnya?
Doa adalah kuasa tidak terhingga (Allah)
yang bersembunyi di bawah jubah kelemahan (manusia).

MLJ (3)

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
(2 Korintus 12:9)

Segala perkara dapat kutanggung
di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
(Filipi 4:13)

Amin

Ya Allah, Buatlah Aku Berdoa!

SpurgeonYa Allahku

Buatlah aku lemah di dalam diriku sendiri,
tetapi biarlah itu mendorongku untuk berlindung hanya di dalam-Mu.

Buatlah aku ragu akan diriku sendiri,
tetapi biarlah itu mengarahkan hatiku untuk percaya hanya kepada-Mu.

Buatlah aku gagal dan kecewa,
tetapi biarlah itu menuntunku untuk berserah dan bersandar kepada-Mu.

Singkapkanlah kepadaku semua kelemahanku, dan kehinaanku,
buatlah aku muak dan mual akan hatiku yang jahat dan sombong ini,
asalkan semua itu menggiringku untuk berharap dan berdoa kepada-Mu.

Sungguh, di dalam hati yang senantiasa percaya, berserah, berharap, dan berdoa kepada-Mu,
terletak keamanan, kedamaian, dan kemuliaan yang sejati bagi anak manusia.

Tetapi aku berseru kepada Allah,
dan TUHAN akan menyelamatkan aku.
(Mazmur 55:18)

Ya Allahku,
buatlah aku berdoa kepada-Mu.

Amin

Mata, Jiwa, dan Doa

Ryle (2)

Allah menganugerahkan kepada manusia dua harta untuk dapat melihat, menikmati, dan memahami dunia ini, yaitu mata dan jiwa. Keduanya sama-sama penting. Keduanya sama-sama berharga. Keduanya sama-sama vital. Namun, keduanya sama-sama lemah. Keduanya sama-sama rentan. Keduanya sama-sama terpapar dengan lingkungan berbahaya yang dapat memedihkan, mengotori, melukai, bahkan membutakannya.

Manusia memiliki dan melakukan banyak cara untuk menjaga mata mereka. Mereka rajin mengedipkan mata. Mereka rutin memejamkan mata. Mereka suka mengonsumsi makanan dan minuman yang menyehatkan mata. Mereka memakai kacamata atau alat lain untuk melindunginya.

Tetapi pelindung dan perisai jiwa kita
adalah doa yang tak putus-putusnya kepada Allah.

Seberapa rajin kita mengedipkan jiwa kita di dalam doa untuk memurnikannya?
Seberapa tekun kita memejamkan jiwa kita dengan doa teduh untuk menenangkannya?
Seberapa suka kita mengonsumsi doa untuk menyehatkannya?
Seberapa sigap kita memakai perisai doa untuk melindungnya?

Oh, alangkah baiknya jika kita menyadari hal ini: yakni bahwasanya jiwa manusia jauh lebih lemah dan rentan dibanding mata mereka. Jiwa manusia jauh lebih mudah digelapkan dan dibutakan dibanding mata jasmani mereka. Dan ilah zaman ini, jauh lebih tertarik dan berambisi untuk merampas penglihatan dari jiwa manusia dibanding dari mata mereka.

Oleh sebab itu, berlindunglah dan berjaga-jagalah senantiasa di dalam doa kepada Allah, maka Dia,  yakni Tuhan yang menciptakan dan menjaga penglihatan, baik untuk matamu maupun jiwamu, tidak hanya akan menyinari harimu dengan sinar mentari dan bintang-bintang, tetapi juga melindungi jiwamu bahkan meneranginya oleh Yesus Kristus, Anak-Nya, yang adalah Terang Dunia (Yohanes 8:12) dan Bintang Timur yang gilang gemilang (Wahyu 22:16).

Bunyan (5)

Doa adalah perisai bagi jiwa.
Sungguh benar hal itu sebab Tuhan kita, Sang Pendoa Syafaat, pernah berkata:

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan;
roh memang penurut, tetapi daging lemah.
(Markus 14:38)

Amin.

Apakah engkau berdoa?
Apakah engkau melihat?

Keindahan Doa Syafaat

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu,
mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
(Yohanes 15:4-6)

Ayat - Yohanes 15 7

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Salah satu karakteristik dari seorang Kristen adalah senang berdoa. Dan salah satu karakteristik dari seorang Kristen yang dewasa di dalam iman adalah selain senang berdoa, ia juga senang berdoa syafaat atau berdoa untuk orang lain. Ia tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri atau untuk orang-orang terdekatnya tetapi juga bagi orang lain yang cukup jauh dengannya.

Mengapa kerinduan untuk berdoa syafaat menjadi penanda dari seorang Kristen yang telah cukup dewasa dalam iman dan pengalamannya bersama-sama dengan Allah? Kita dapat melihatnya dari beberapa sisi:

  • Orang yang dewasa di dalam iman adalah orang yang penuh dengan Roh Kudus. Orang yang penuh dengan Roh Kudus akan menghasilkan buah Roh yang lebih banyak. Kita tahu bahwa buah Roh adalah kasih (Galatia 5:22). Orang yang memiliki kapasitas mengasihi yang lebih besar dari Roh Kudus tentu akan tergerak hatinya untuk lebih sering berdoa bagi orang lain.
  • Orang yang dewasa di dalam iman tentu mengenal Kristus dengan lebih dalam dan lebih intim. Semakin ia mengenal Kristus, semakin ia jatuh hati kepada-Nya. Semakin besar kasih-Nya kepada Kristus, semakin kecil “kasih”-nya untuk dirinya sendiri, dan semakin besar kasihnya untuk orang lain. Dan semakin besar kasihnya untuk orang lain, semakin besar pula kerinduannya untuk berdoa bagi mereka.
  • Orang yang dewasa di dalam iman adalah orang yang di dalam dan melalui hidupnya kuasa dan pekerjaan Allah dinyatakan dengan lebih besar. Firman Allah berkata, “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. (Filipi 2:13). Hal ini berarti bahwa setiap pekerjaan baik dan pelayanan yang dilakukan oleh seorang anak Tuhan pada dasarnya berasal dari Allah. Kita tahu bahwa Allah menghendaki umat-Nya untuk berdoa kepada-Nya demi kebaikan orang lain (Yesaya 62:6b-7, Yakobus 5:16). Dengan demikian, orang yang dewasa di dalam iman akan lebih sering digerakkan oleh Allah untuk berdoa kepada-Nya untuk orang lain.

Pink

Itu hanyalah sedikit dari banyak alasan yang menjelaskan mengapa orang Kristen yang telah dewasa di dalam iman dan pengalaman akan memiliki kehidupan doa syafaat yang lebih berbuah dibanding saudara-saudarinya yang lebih muda di dalam perjalanannya bersama Kristus. Jika kita sungguh-sungguh adalah orang Kristen, yakni orang berdosa yang telah dilahirkan kembali oleh anugerah Allah melalui kuasa Roh Kudus, kita tentu memiliki satu kerinduan yang utama, yaitu untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya, bukankah begitu? Jika demikian adanya, bagaimana kerinduan ini dapat terwujud di dalam hidup kita? Bagaimana kita dapat memuliakan Allah dan menikmati-Nya?
Tentu saja, kehidupan yang ditandai dengan doa syafaat adalah jawabannya.

Ya. Allah akan dimuliakan di dunia ini jika pekerjaan-Nya dinyatakan. Allah akan dimuliakan di muka bumi ini ketika hamba-hamba-Nya bergerak untuk menunaikan misi yang Ia tugaskan kepada mereka bagi dunia ini. Dan kita tahu bahwa gerakan Kristen yang sejati selalu dimulai dan ditopang dengan doa. Jika suatu pelayanan dilakukan tanpa doa, kita dapat memastikan bahwa pelayanan itu bukanlah pelayanan yang dikehendaki oleh Allah. Allah tidak berjalan bersama mereka yang melupakan doa dan mengandalkan dirinya sendiri. Tetapi jika pelayanan itu dimulai, ditopang, dan terus menerus digerakkan oleh doa, kita tahu dengan pasti bahwa Allah bekerja di dalamnya dan Ia berjalan bersamanya. Dengan demikian, doa syafaat adalah bahan bakar dari hidup yang memuliakan Allah.

Itu mengenai memuliakan Allah. Lalu, bagaimana dengan menikmati-Nya? Sama seperti hidup yang memuliakan Allah akan terikat dengan doa syafaat, hidup yang menikmati Allah tidak mungkin terlepas dari doa yang dinaikkan untuk orang lain dan tidak berfokus semata-mata hanya untuk diri sendiri. Allah akan dinikmati ketika kita tidak lagi berpusat pada diri sendiri dan kenikmatan dunia ini. Allah akan menjadi begitu indah ketika hidup kita berfokus pada kemuliaan-Nya dan kebaikan umat-Nya. Dan semua itu, tidak mungkin tidak, akan ditandai dan dinyatakan oleh hidup yang diwarnai, dihiasi, dan dipenuhi dengan doa syafaat.

Hal ini dapat kita lihat dari kehidupan orang-orang kudus di dalam Alkitab. Ayub selalu berdoa syafaat bagi keluarganya (Ayub 1:5). Musa menaikkan tangannya dan berdoa syafaat bagi orang Israel agar Allah menganugerahkan kepada mereka kemenangan (Keluaran 17:11-13). Daud adalah seorang pendoa dan Allah menyebutnya, “orang yang berkenan di hati-Ku.” (Kisah Para Rasul 13:22). Yeremia adalah nabi yang terkenal dengan doa syafaatnya bagi umatnya yang sedang dimurkai oleh Allah (Yeremia 14:7-15:9). Daniel senantiasa bersyafaat bagi Yerusalem (Daniel 9). Hosea, Habakuk, Paulus, Yakobus, Yohanes, dan semua hamba Tuhan di dalam Alkitab adalah pendoa syafaat. Tetapi tidak terbatas hanya sampai zaman Alkitab, sejarah gereja dari awal hingga saat ini menceritakan satu hal kepada kita, yaitu hamba-hamba Tuhan yang sejati tentulah seorang pendoa syafaat. Mengapa bisa demikian? Sebab mereka tahu bahwa Allah dapat diandalkan, sebab mereka tidak berpusat pada diri mereka sendiri, dan sebab Allah-lah yang menggerakkan mereka untuk memanjatkan doa yang mulia itu.

one-before-god-moses-aaron_1299392_inl

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Biarlah perenungan di atas mendorong kita untuk merindukan dan memperjuangkan kehidupan yang ditandai dengan doa syafaat sambil tidak putus-putusnya memohon dorongan dan kekuatan Roh Kudus untuk mewujudkan kehidupan yang demikian. Selain itu, ada satu lagi hal yang sangat istimewa dan yang sangat penting yang dapat memotivasi kita untuk hidup di dalam doa syafaat. Motivasi itu adalah ini: Tuhan kita, Yesus Kristus, ketika Ia hidup di bumi ini sebagai manusia kira-kira 2000 tahun yang lalu, tidak pernah menolak permohonan seseorang yang datang kepada-Nya, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebaikan orang lain. Perhatikanlah firman Tuhan:

  1. Ibu Yesus meminta-Nya menyelamatkan pernikahan di Kana dari kehabisan anggur yang pasti akan sangat memalukan bagi pasangan yang menikah itu. Kristus mengabulkan permohonan ibu-Nya itu dan Ia menyelamatkan pernikahan itu. (Yohanes 2:1-11)
  1. Orang-orang datang kepada Tuhan kita dan memohon kesembuhan untuk seorang lumpuh yang digotong oleh empat orang di atas sebuah tilam. Kristus mengabulkan permohonan orang-orang itu dan menyembuhkan orang lumpuh itu. (Markus 2:1-12)
  1. Orang-orang yang ada di rumah Simon Petrus meminta kepada Yesus supaya menolong ibu mertua Simon yang sedang demam keras. Ia menjawab permintaan mereka dan menghardik demam dari wanita itu. (Lukas 4:38-39)
  1. Seorang perwira Roma, musuh dan penjajah orang-orang Israel, memohon kepada Tuhan agar Ia mau menyembuhkan hambanya yang sedang sakit keras. Apakah tanggapan Tuhan Yesus? Ya, Ia mengatakan, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” dan menyembuhkan hamba perwira itu. (Lukas 7:1-10)
  1. Yairus, seorang kepala rumah ibadat, datang menyembah-Nya dan memohon dengan sangat agar Ia membangkitkan putrinya yang baru saja meninggal. Tuhan kita mendengar permohonan Yairus, Ia datang ke rumahnya dan membangkitkan anak itu. (Lukas 8:40-56)
  1. Seorang perempuan Kanaan berseru kepada-Nya, memohon belas kasihan-Nya untuk menolong anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Kristus, setelah menguji iman wanita itu, berkata, “Hai ibu, besar imanmu…” Ia pun mengabulkan permohonan ibu itu dan menyelamatkan putrinya. (Matius 15:21-28)
  1. Seorang pria mendapatkan Yesus, menyembah-Nya, dan memohon agar Ia menyembuhkan anaknya yang sakit ayan dan menderita. Kristus mendengar permohonan pria itu dan Ia mengusir setan yang mengusai anak itu dan menyembuhkannya. (Matius 17:14-21)
  1. Orang-orang membawa anak-anak kecil kepada-Nya supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Para murid sempat memarahmi orang-orang itu dan mencegah mereka membawa anak-anak mereka yang mungkin akan menyibukkan Tuhan. Apakah yang Tuhan kita lakukan? Tentu saja, Ia memarahi murid-murid-Nya. Ia lalu mengabulkan permohonan orang-orang itu dan Ia memberkati anak-anak mereka. (Matius 19:13-15, Markus 10:13-16)

Lihatlah! Mujizat pertama yang Tuhan kita lakukan merupakan suatu jawaban untuk permohonan yang ditujukan untuk kepentingan orang lain, yaitu permohonan Maria untuk kebaikan pasangan yang menikah di Kana itu. Iman terbesar yang pernah Ia puji adalah iman dari dua orang yang datang kepada-Nya dengan membawa permohonan mereka untuk orang lain, bukan untuk diri mereka sendiri. Siapakah mereka? Mereka adalah perwira Roma yang  memohon kepada-Nya kesembuhan untuk hamba-Nya dan seorang wanita Kanaan yang datang kepada-Nya dan meminta dengan sangat agar Ia menyembuhkan anak perempuannya. Kedua orang itu tidak berasal dari bangsa Israel. Mereka berasal dari bangsa yang tidak terikat perjanjian dengan Allah. Namun, mereka memiliki hati dan iman yang besar dan itu ditandai dengan beban hati mereka bagi orang lain dan hal itu berkenan di hati Tuhan kita. Tidak hanya itu, salah satu reaksi paling keras yang pernah Tuhan Yesus tunjukkan adalah kemarahan-Nya kepada murid-murid-Nya yang mencegah agar orang-orang tidak membawa anak-anak mereka kepada-Nya. Semua itu menegaskan satu hal kepada kita, yaitu bahwa Tuhan kita sangat senang dengan permohonan yang dipanjatkan ke hadapan-Nya demi kebaikan orang lain.

Dan di atas semua itu, Tuhan kita, Yesus Kristus adalah Pendoa syafaat terbesar sepanjang masa. Baca dan renungkanlah doa-Nya yang agung di taman Getsemani yang Ia panjatkan kepada Bapa demi para rasul dan bagi setiap orang Kristen di sepanjang masa, maka kau akan mengetahui lebih dalam isi hati-Nya. Dengarlah seruan syafaat-Nya yang sangat indah yang Ia naikkan dari atas kayu salib di bukit Kalvari ketika Ia berkata kepada Allah, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).” Dan ketahuilah satu hal, yaitu bahwa hingga detik ini, Kristus masih berdoa bagi kita di hadapan tahta Allah Bapa (Roma 8:34, Ibrani 7:25, 1 Yohanes 1:21). Sungguh, Tuhan kita adalah seorang Pendoa syafaat dan salah satu tujuan utama kita hidup adalah agar kita menjadi serupa dengan-Nya. Terpujilah nama Tuhan.

Ayat - Ibrani 7 25

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Phelps

Saudara-saudariku yang terkasih di dalam Tuhan Yesus,
apakah kesimpulan dari semua ini?

Kenallah Allah dan kau akan mengenal-Nya sebagai Allah yang berkenan kepada doa syafaat umat-Nya. Kenallah dirimu, yang sekalipun adalah orang yang lemah dan berdosa, tetapi di dalam Kristus telah diampuni sepenuhnya (Roma 8:1), dipindahkan dari kuasa kegelapan ke dalam Kerajaan Sang Anak Allah (Kolose 1:13), bahkan diangkat dan diadopsi menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Status yang baru, kewarganegaraan yang baru, dan hubungan yang baru dengan Allah itu telah menjadi jalan yang bebas bagi kita untuk dapat datang kepada-Nya dengan keberanian percaya yang disertai kerendahan hati untuk memanjatkan permohonan kita kepada-Nya, khususnya kerinduan kita bagi kebaikan orang lain. Dan kenallah juga orang-orang di luar sana. Kenallah mereka sebagai sesama manusia yang juga mengalami kelemahan kita, yang juga terus menerus dilukai oleh dosa, dunia, serta iblis, dan yang pasti, yang juga teramat sangat membutuhkan Kristus dan tidak memiliki pengharapan tanpa-Nya.

Berdoalah bagi mereka.
Berdoalah bagi teman-temanmu.
Berdoalah bagi kekasihmu.
Berdoalah bagi kakak dan adikmu.
Berdoalah bagi orangtuamu.
Berdoalah bagi pasanganmu.
Berdoalah bagi pendetamu dan keluarganya.
Berdoalah bagi gerejamu.
Berdoalah bagi rekan-rekan sepersekutuanmu.
Berdoalah bagi para pemimpinmu.
Berdoalah bagi bangsa dan negaramu.
Berdoalah bagi musuh-musuhmu.
Berdoalah bagi mereka yang membencimu.
Berdoalah bahkan bagi mereka yang merencanakan kebinasaanmu.

Dan ketahuilah satu hal:
Doa yang demikian pasti didengar dan berkenan di hati Tuhan kita.

Dan ingatlah satu hal:
Ketika kita berdoa kepada-Nya, kita datang kepada Seorang Raja.
Oleh sebab itu, biarlah permohonan kita besar sebesarnya,
bukan untuk diri kita sendiri
tetapi untuk kemuliaan nama-Nya dan kebaikan umat manusia.

Dan syukurilah satu hal:
Kristus sedang berdoa bagi kita, bahkan pada detik ini.
Ia akan senantiasa berdoa syafaat bagi kita di hadapan Allah Bapa
hingga kelak kita bertemu dengan-Nya
dan menatap wajah-Nya muka dengan muka.

Spurgeon (2)

Amin