Jalan Terbaik Untuk Menjadi Kudus, oleh Thomas Brooks

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN,
“berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu,
dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”
(Yoel 2:12)

Jalan terbaik untuk menjadi kudus adalah dengan mendakwa, menuntut, menuduh, dan mempersalahkan dirimu sendiri atas ketidakkudusanmu. Merataplah benar-benar dan berdukalah karena ketidakkudusuanmu, karena kejahatanmu. Menyendirilah dan bersujudlah di hadapan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Kudus, dan menangislah dengan sedihnya atas:

ketidakkudusan naturmu
ketidakkudusan hatimu
ketidakkudusan kasihmu
ketidakkudusan intensimu
ketidakkudusan pikiranmu
ketidakkudusan kata-katamu
ketidakkudusan hidupmu.

Oh, siapakah yang dapat melihat dosa
…..sebagai sebuah kejahatan melawan Allah yang kudus,
…..sebagai pelanggaran terhadap Hukum yang suci
…..yang melukai dan menyalibkan Juruselamat yang kudus
…..yang mendukakan dan menyedihkan Sang Pengudus
dan tidak berduka karenanya?

Oh, siapakah yang dapat melihat
…..natur dosa yang begitu mengerikan
…..keberdosaan dosa yang teramat sangat
…..dosa yang begitu menjengkelkan
tetapi
…..hatinya tidak direndahkan
…..jiwanya tidak didukakan
…..semangatnya tidak dihancurluluhkan
…..matanya tidak mengalirkan air mata pertobatan
…..hatinya tidak penuh dengan sengsara pertobatan?

Orang Kristen berduka karena ia telah berdosa terhadap
…..Allah yang begitu agung
…..Allah yang begitu baik
…..Allah yang begitu murah hati
…..Allah yang penuh belas kasihan

Oh, betapa seharusnya seorang pendosa meneteskan air mata ketika ia melihat begitu besarnya kejahatannya, dan betapa kurangnya kekudusannya! Jika engkau ingin menjadi kudus, berdukalah karena ketidakkudusanmu.

Mereka yang tidak menangis karena dosa di sini – akan menangis di neraka kelak! Adalah lebih baik menangis dengan sedihnya karena dosa-dosamu di bumi, daripada menangis selamanya karena kebodohanmu di neraka.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
(Matius 5:4)

#Petikan dari tulisan Thomas Brooks, “The Crown and Glory of Christianity,
atau, HOLINESS, the Only Way to Happiness”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Thomas Brooks (2)“The most holy man are always the most humble man.”

Thomas Brooks lahir pada tahun 1608. Tujuh belas tahun kemudian, ia masuk ke Emmanuel College di mana para Puritan lain, seperti Thomas Hooker, John Cotton, dan Thomas Shephard juga berkuliah. Namun, beberapa catatan biografi yang ada mengindikasikan Brooks keluar dari kampus tersebut sebelum ia lulus. Pada tahun 1640, Thomas Brooks ditahbiskan untuk melayani di Church of England. Ia ditunjuk untuk melayani sebagai chaplain (pendeta) bagi armada laut parlemen. Pelayanan ini ia lakukan selama beberapa tahun. Perihal pelayanan ini, ia menulis dalam catatan pribadinya:

“Saya telah berada di laut selama beberapa tahun dan oleh anugerah saya dapat berkata bahwa saya tidak akan menukarkan pengalaman di laut ini dengan kekayaan Inggris.”

Setelah Perang Sipil di Inggris, tepatnya pada tahun 1648, Brooks menjadi pendeta di gereja St. Thomas the Apostle, Queen Street, di London. Di sini, ia melayani selama 3 tahun. Ia juga sering diundang untuk berkhotbah di Parlemen. Pada tahun 1652, ia menjadi Kepala Gereja St. Margaret’s, New Fish Street Hill, di kota London. Namun, di sini, Brooks menghadapi oposisi yang cukup besar dari pihak gereja sebab Brooks memegang teguh kebenaran yang murni dari Alkitab sementara gereja telah menyimpang cukup jauh dari ajaran Kitab Suci. Salah satu sumber masalah bagi Brooks adalah ia menolak untuk melaksanakan sakramen baptisan kudus serta perjamuan kudus bagi mereka, yang menurut Brooks, hidup tidak pantas sebagai orang Kristen sehingga mereka seharusnya belum diizinkan mengambil bagian di dalamnya. Di tahun-tahun berikutnya, Brooks disibukkan dengan pelayanannya, baik pelayanan berkhotbah maupun menulis.

Brooks

Sepert Puritan Thomas Goodwin dan John Owen, Brooks memegang paham Kongregasional. Pada tahun 1662, sama seperti banyak Puritan lain, Brooks juga diusir oleh pemerintah Inggris dari gereja tempat ia melayani karena keengganannya untuk patuh pada Act of Uniformity dari Church of England yang mengharuskan setiap hamba Tuhan untuk mematuhi beberapa peraturan tertentu, yang mencakup praktek doa dan sakramen, yang sebenarnya bertentangan dari ajaran yang sehat.

Setelah dikeluarkan dari mimbarnya, Brooks tidak menyerah. Ia masih meneruskan pelayanannya di London. Ia kemudian menjadi pendeta bagi jemaat di Moorfields. Tidak seperti banyak pendeta lainnya, Brooks memilih untuk tetap tinggal di London di masa-masa Great Plague (suatu wabah penyakit mengerikan di Eropa pada saat itu) di tahun 1665 demi dapat terus melayanji jemaat gembalaannya. Ia tidak membiarkan usia tua dan beratnya kondisi yang dihadapinya untuk menghentikan pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan untuknya. Ia punya keyakinan yang teguh, “Kebenaran itu perkasa dan akan menang.”

Brooks

Pada tahun 1672, Brooks mendapatkan izin untuk kembali berkhotbah berdasakan Declaration of Indulgence yang sayangnya ditarik kembali empat tahun kemudian. Pada tahun 1676, istri Brooks, Martha Burgess, seorang wanita yang saleh, wafat. Mengenai istri yang sangat ia kasihi ini, Brooks menulis:

“Ia berada dalam keadaan terbaiknya ketika ia paling dekat dengan Allah di pojok doanya. Ia seringkali berdoa seharian di hadapan Allah untuk mengungkapkan isi hatinya untuk Inggris, untuk Sion, dan untuk hal-hal yang begitu menjadi perhatian baginya.”

Satu atau dua tahun kemudian, Brooks menikah dengan seorang muda wanita yang takut akan Tuhan, yang bernama Patience Cartwright, yang menjadi teman dan penolong yang sangat berharga bagi Brooks sekalipun perbedaan usia di antara keduanya terlampau jauh.

Thomas Brooks wafat pada tahun 1680 dan dimakamkan di Bunhill Fields, suatu pemakaman para nonconformist seperti Puritan besar lain seperti John Owen, Thomas Goodwin, dan John Bunyan. Mengenai Brooks, John Reeve, yang berkhotbah di upacara pemakamannya, mengatakan “kodrat yang manis, daya tarik yang luar biasa, kasih yang besar, kesabaran yang menakjubkan, dan iman yang teguh.”

Brooks

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Brooks

Tidak banyak yang diketahui dari kehidupan Thomas Brooks. Namun, jika dilihat dari karya-karya tulisnya, kita dapat mengenal Brooks lebih jauh. Ada setidaknya empat hal yang menandai hidup dan pelayanan Brooks:

Hal pertama yang dapat kita simpulkan dari seorang Brooks adalah bahwa ia merupakan seorang yang memiliki banyak karunia dari Allah. Ia merupakan seorang pengkhotbah yang berkarunia. Brooks berkhotbah dengan sederhana dan praktikal. Ia memenuhi khotbahnya dengan firman Allah dan sebagai akibatnya, Allah memenuhi khotbah Brooks dengan kuasa-Nya. Brooks juga merupakan seorang penulis yang berbakat. Sementara beberapa Puritan, seperti John Owen, menulis dengan bahasa yang cukup berat untuk dimengerti, Brooks menulis dengan kalimat yang sangat mudah dimengerti. Mengenai Brooks, seseorang memberikan testimoni:

“Sebagai seorang penulis, Brooks menebar bintang-bintang dengan kedua tangannya. Ia memiliki serbuk emas: di tempat penyimpanannya terdapat banyak batu berharga. Orang jenius memang selalu menakjubkan, namun ketika orang jenius itu juga kudus, maka ia tidak ada bandingnya. Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan karunia yang lebih besar selain seseorang hidup berdasarkan karunia ‘sederhana’ yang ia miliki.”

Charles Spurgeon, yang dijuluki sebagai raja para pengkhotbah, merupakan penggemar berat tulisan-tulisan Brooks. Ia bahkan mengumpulkan perkataan-perkataan dan ilustrasi-ilustrasi yang pernah Brooks buat kemudian menjadikannya buku yang diberikannya judul, “Smooth Stones Taken from Ancient Books.” Di dalam kata pengantar buku tersebut, Spurgeon menulis:

“Seandainya Brooks adalah orang yang hidup duniawi, tulisan-tulisannya tentulah akan sangat berharga, namun karena ia merupakan seorang Kristen sejati, tulisan-tulisannya menjadi dua kali lebih berharga. Ia memiliki mata iman seperti mata elang, dan imajinasinya bak sayap elang. Ia melihat kiasan, metafora, dan alegori di dalam segala hal; namun itu semua dikuduskannya untuk pelayanan Tuannya.”

Hal kedua yang esensial untuk dicontoh dari Brooks adalah dia menegaskan betapa mengerikannya dosa dan betapa pentingnya kekudusan di dalam hidup orang-orang percaya. Ia tidak sama seperti banyak “hamba Tuhan” saat ini, yang sebenarnya adalah serigala berbulu domba, yang tidak pernah membahas tentang dosa dan kekudusan kepada gereja yang ia pimpin. Mereka adalah penipu yang hanya peduli pada kemakmuran jasmani tetapi tidak peduli pada keselamatan jiwa jemaatnya. Tetapi tidaklah demikian dengan seorang Thomas Brooks. Mengenai dosa, ia mengatakan:

“Dosa adalah wabah, ya, wabah yang paling buruk dan paling menginfeksi di seluruh dunia; namun, ah! betapa sedikit orang yang takut terhadapnya – yang berusaha menjauh darinya! (1 Korintus 5:6) – “Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan?” Segera setelah satu dosa menangkap hati Adam, semua dosa masuk ke dalam jiwanya dan memenuhinya.  Betapa satu dosa Adam menyebar ke seluruh umat manusia! (Roma 5:12) – “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”

Ah, betapa dosa ayah menginfeksi anaknya, dosa suami menginfeksi isterinya, dosa majikan menginfeksi pelayannya! Dosa yang ada di dalam hati seorang manusia dapat menginfeksi seisi dunia, dosa itu sungguh mudah menyebar dan menginfeksi.”

“Tidak ada dosa yang kecil sebab tidak ada Allah yang kecil yang kepada-Nya kita berdosa.”

Itulah peringatan Brooks yang sudah teramat jarang kita dengar disampaikan di gereja-gereja saat ini. Tetapi Brooks tidak hanya menekankan kengerian dosa. Ia juga menegaskan betapa pentingnya kekudusan di dalam hidup seorang Kristen.

Brooks

Hal ketiga mengenai Brooks adalah dia mengerti dengan baik realita dari peperangan rohani dan kemudian membagikannya melalui bukunya, “Precious Remedies Against Satan’s Devices*.” Ini merupakan hal yang sangat penting. Peperangan rohani, khususnya peperangan melawan iblis, merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan orang Kristen. Iblis tahu bahwa ia tidak akan dapat mengambil keselamatan orang-orang Kristen yang telah dijaga oleh di tangan Bapa (Yohanes 10:29), namun ia tahu bahwa ia mampu merenggut sukacita dan kepastian di dalam hati orang Kristen. Iblis mampu mengintimidasi orang-orang percaya, mencobai dan menggoda mereka untuk kembali hidup di dalam dosa-dosa lama kesukaan mereka, memicu rasa takut dan kuatir yang tidak wajar, membuat mereka ragu apakah Allah benar-benar telah mengampuni mereka atau tidak, dan berbagai bentuk serangan lain.

Mengapa iblis melakukan semua itu? Jika keselamatan orang Kristen tidak dapat hilang, mengapa iblis masih mati-matian menyerang mereka? Tentu saja jawabannya hanya satu, yaitu agar orang Kristen menjadi pelayan Kerajaan Sorga yang lemah dan tidak efektif sehingga tidak lagi menjadi ancaman bagi Kerajaan Iblis. Iblis tahu bahwa seorang Kristen yang penuh sukacita dan kepastian iman merupakan ancaman yang sangat berbahaya bagi kemajuan kerajaan mereka di bumi ini. Oleh sebab itu, mereka akan begitu giat menipu dan menyerang umat Allah.

Inilah yang membuat topik peperangan rohani merupakan hal yang sangat penting untuk dimengerti dan disampaikan di dalam gereja dan komunitas-komunitas orang percaya. Dan puji syukur kepada Allah, melalui Thomas Brooks, Ia membukakan kebenaran mengenai peperangan ini kepada gereja-Nya. Berikut sedikit kutipan dari buku Brooks,  “Precious Remedies Against Satan’s Devices” :

“Jika Daud bermegah akan pasukannya, Iblis akan memancingnya untuk menghitung jumlah mereka, sehingga ia menjadi semakin sombong (2 Samuel 24). Jika Petrus begitu diperbudak oleh rasa takut, Iblis akan menggodanya untuk menegur dan menyangkal Kristus, untuk menyelamatkan dirinya sendiri (Matius 16:22, Matius 26:69-75). Jika para nabi Ahab suka memperdaya, Iblis akan segera menjadi roh dusta di mulut keempat ratus orang dari mereka, dan mereka akan memperdaya Ahab menuju kebinasaannya (2 Raja-raja 22). Jika Yudas akan menjadi seorang pengkhianat, Setan akan segera masuk ke dalam hatinya, dan mendorongnya untuk menjual Tuannya demi uang, yang mana orang-orang lain tidak akan pernah melakukan pengkhianatan serendah itu (Yohanes 13:2). Jika Ananias ingin berbohong untuk kepentingannya, Setan akan menguasai hatinya sehingga ia akan berdusta kepada Roh Kudus (Kisah Para Rasul 5:3).

Iblis suka berlayar seturut hembusan angin, dan menyesuaikan cobaan untuk masing-masing orang dengan kondisi dan kecenderungan hati mereka. Jika mereka sedang berada dalam kemakmuran, ia akan mencobai mereka untuk menyangkal Allah (Amsal 30:9); jika mereka berada dalam masalah, ia akan menggoda mereka untuk meragukan Allah; jika pengetahuan mereka kurang, ia akan menggoda mereka untuk memiliki pemahaman yang rendah akan Allah; jika hati nurani mereka lembek, ia akan membuat mereka sangsi dan ragu-ragu; jika hati nurani mereka kuat, ia akan menggoda mereka untuk merasa aman karena kekuatan mereka sendiri; jika mereka pemberani, ia akan menggoda mereka untuk menjadi seorang yang penuh praduga; jika mereka pemalu, ia akan mendorong mereka ke dalam keputusasaan; jika mereka fleksibel, ia akan membuat mereka menjadi tidak konsisten; jika mereka kaku, ia akan membuat mereka keras kepala.”

Brooks

Luar biasa, bukan? Gereja membutuhkan hamba-hamba Tuhan yang mampu mengajarkan hal-hal ini dengan baik sehingga tiap-tiap jemaat dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis (Efesus 6:11) dan dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah mereka menyelesaikan segala sesuatu (Efesus 6:13).

Dan hal terakhir yang sangat penting, mungkin paling penting, untuk kita teladani dari hidup dan pelayanan Thomas Brooks adalah ia memusatkan seluruh hidup dan pelayanannya untuk memberitakan Kristus Yesus, Tuhan kita. Ini adalah dasar dan puncak dari pelayanan yang sejati. Semua pelayanan yang dikerjakan oleh umat Allah adalah karya dari Roh Kudus dan karya Roh Kudus yang utama adalah memuliakan Kristus. Oleh sebab itu, semua hamba Tuhan yang sejati, yang penuh dengan Roh Kudus, yang mana Thomas Brooks adalah salah satunya, akan senantiasa mewarnai seluruh pelayanan dan pemberitaannya dengan Kristus, Kristus, dan Kristus. Dengarlah apa yang dikatakannya:

“Dosa kita adalah hutang yang tak seorangpun dapat melunasinya kecuali Kristus. Bukanlah air mata kita, melainkan darah-Nya; bukanlah rintihan kita, melainkan deritanya-Nya, yang dapat memberikan kesaksian untuk membela kita dari dosa-dosa kita. Kristus harus membayar semuanya, atau kita akan menjadi orang-orang terpenjara selamanya.”

“Sebelum seseorang memiliki iman di dalam Kristus, pelayanan terbaik yang ia lakukan hanyalah sebuah dosa yang tampak indah.”

Brooks

Demikianlah sedikit hal yang dapat kita pelajari dari pribadi dan karya Thomas Brooks. John Piper pernah berkata, “Lebih baik kehilangan nyawa dibanding menyia-nyiakannya.” Brooks tidak menyiakan-nyiakan nafas hidup yang Tuhan berikan padanya. Ia memakai itu semua sekuat tenaga, hingga usia tuanya, demi kemuliaan Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Kristus ada di dalam hati Brooks, dan ia menjadi sebagaimana adanya dia, hamba Tuhan yang setia. Kristuslah alasan dari semua pekerjaan mulia yang terjadi di dalam dan melalui hidupnya. Kita, orang-orang percaya, memiliki Kristus yang sama. Oleh sebab itu, mari kita melanjutkan perjuangan Thomas Brooks, dengan sumber kuasa yang sama yang juga menaunginya, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, untuk meninggikan nama-Nya dan memberitakan keselamatan yang hanya dapat ditemukan di bawah kepada sayap-Nya.

Amin

*buku Precious Remedies Against Satan’s Devices dapat diunduh di internet dengan mudah

Untuk Para Pemberita Firman, oleh Jeremiah Burroughs

Terkadang banyak hamba Allah yang berkecil hati dan berpikir di dalam dirinya, “Tuhan, betapa kerasnya hati manusia dan betapa sulitnya untuk bekerja bagi hati orang-orang! Aku sudah berjuang dengan seluruh tenagaku. Aku telah belajar keras dan berusaha mencari argumen-argumen yang bisa kutemukan, argumen-argumen paling menyentuh hati yang bisa kubayangkan. Ketika aku sedang dalam pendalaman Alkitab, aku berpikir di dalam diriku, “Tentu saja jika Tuhan berkenan untuk memberkati kebenaran yang akan kusampaikan ini, maka kebenaran-kebenaran ini akan bekerja di dalam hati orang-orang.”

Namun ketika sampai dalam pemberitaan firman, mungkin hamba Tuhan itu akan menemukan bahwa tak satu orangpun tersentuh hatinya. “Mengapa, Tuhan, apalagi yang harus aku lakukan? Aku rasa aku tidak mampu lagi memikirkan pernyataan yang lebih tajam dari apa yang sudah aku sampaikan, tetapi bahkan itupun tidak membuahkan hasil apa-apa. Oleh sebab itu, aku kuatir aku tidak akan pernah menghasilkan buah apa-apa.”

Oh, tidak, janganlah berkata seperti itu dan janganlah berpikir seperti itu. Tuhan senang untuk terkadang menunjukkan kepada kita kesombongan kita sendiri melalui cara ini, untuk menegur kita. Banyak kali Tuhan tidak berjalan bersama seorang pelayan firman di saat-saat ia berusaha menunjukkan kuasa yang besar atau argumen yang paling tajam yang ia miliki, namun, di lain waktu, Tuhan berkenan untuk memberkati kalimat yang ia sampaikan dengan sambil lalu. Kalimat yang sambil lalu itu bisa dipakai Allah lebih daripada kalimatnya yang lain. Ada sangat sedikit hamba Allah, yang benar-benar teliti mencermati pekerjaan Allah di dalam pelayanan mereka, yang tidak menyadari hal ini.

Namun, hal ini bukan berarti setiap hamba Tuhan tidak perlu lagi belajar sekuat tenaga dan berusaha menyusun argumen yang paling tajam. Ia wajib melakukan semua itu di dalam pengabdiannya.

Ya, janganlah berkecil hati. Ia akan keluar sebagai pemenang setelah semua itu dan Allah, aku yakin, akan memberkati banyak hal yang ia kerjakan dan sampaikan. Dan oleh sebab itu, aku akan memberikan nasehat kepada mereka yang akan menyampaikan firman, dengan Pengkhotbah 11:6:

“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari,
dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari,
karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil,
atau kedua-duanya sama baik.”

Oleh sebab itu, hendaklah para hamba Tuhan terus maju dan menaburkan benihnya dan tetap berkhotbah… Janganlah berkecil hati; majulah terus dan taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari. Teruskanlah dan ajarkanlah firman Tuhan lagi dan lagi, dan hendaklah firman Allah disampaikan ke hadapan hati orang-orang. Walaupun itu tidak membuahkan hasil di suatu waktu, itu akan membuahkan hasil di waktu yang lain. Walaupun kau akan menjadi lemah dan semakin lemah, namun Allah akan justru semakin memberkatimu ketika kau berada di titik terlemah di dalam hidupmu. Di dalam 2 Timotius 2:25, rasul Paulus berkata kepada Timotius:

“dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan,
sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat
dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,”

Mungkin, hari ini, satu kebenaran akan disampaikan oleh Allah kepada satu jiwa – mungkin melalui teks firman yang ini, mungkin melalui teks firman yang itu, dan demikianlah jiwa akan dituntun ke dalamnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

JB

Jeremiah Burroughs (1600-1646) dibaptis pada tahun 1601. Ia dididik oleh Thomas Hooker, yang adalah seorang Puritan kenamaan. Pada tahun 1621, ia lulus dari Emmanuel College, Cambridge dengan gelar Bachelor of Arts dan tiga tahun berikutnya ia meraih gelar Master of Arts. Namun, ia harus keluar dari kampus tersebut karena masalah non-conformity, yakni ia menolak untuk patuh pada Act of Conformity yang dikeluarkan oleh Church of England yang mengharuskan para hamba Tuhan untuk melakukan beberapa praktek pelayanan tertentu yang bagi para Puritan telah melenceng dari kebenaran Alkitab.

Setelah lulus dari pendidikan lanjutnya, Burroughs ditahbiskan menjadi hamba Tuhan. Pelayanannya dapat dibagi menjadi empat periode. Periode pertama adalah tahun 1627 hingga 1631. Pada periode ini ia melayani sebagai asisten dari Edmund Calamy, yang juga adalah seorang pendeta Puritan, di Bury St. Edmunds, Suffolk. Keduanya adalah anggota di Westminster Assembly. Mereka sangat menentang Book of Sports yang dikeluarkan oleh Raja Charles (Raja Charles ini adalah raja Inggris yang meng-otorisasi Alkitab KJV). Salah satu topik yang dibahas dalam buku tersebut adalah bahwa setiap hari Minggu, atau yang lebih umum mereka sebut sebagai Hari Tuhan (Lord’s Day), kegiatan-kegiatan seperti berdansa, memanah, berkuda, dan berbagai bentuk olahraga lain merupakan hal yang diperbolehkan untuk dilakukan.

Perlawanan Jeremiah Burroughs ini merupakan hal yang wajar dilakukan oleh seorang Puritan sebab pada umumnya para Puritan sangat ketat dalam menjaga kekudusan Hari Tuhan. Perlu dicatat bahwa disiplin ini mereka lakukan bukan karena mereka memandang pengudusan Hari Tuhan sebagai Hukum Taurat yang menjadi syarat keselamatan, melainkan karena pengudusan Hari Tuhan merupakan hal yang memperkenankan hati Tuhan. Para Puritan meyakini bahwa jika seseorang benar-benar menguduskan Hari Sabat Tuhan, maka berkat, karunia, penyertaan, dan sukacita yang melimpah akan Ia berikan kepada orang itu dan ia akan diperlengkapi lebih lagi untuk menjadi hamba yang berkuasa di tangan-Nya.

Periode kedua pelayanan Jeremia Burroughs adalah dari tahun 1631 hingga tahun 1636 di mana ia menjadi kepala di Tivetshall, Norfolk, sebuah gereja yang masih berdiri hingga saat ini. Pada tahun 1637, ia dipecat dari gereja tersebut karena menolak untuk patuh pada Penilik Jemaat (Bishop) Matthew Wren, khususnya terkait sikap Burroughs terhadap Book of Sports dan terhadap praktek doa yang mengharuskan seseorang untuk tunduk dan membaca buku doa dan bukan menyatakan isi hati yang ingin didoakan. Burroughs sangat menentang praktek-praktek religius eksternal yang sama sekali tidak mencerminkan kondisi rohani manusia yang sesungguhnya seperti praktek-praktek yang demikian.

tivetshall_st_margaret1
Gereja di Tivetshall, Norfolk, tempat Jeremiah Burroughs pernah melayani

Periode ketiga adalah dari tahun 1638 hingga tahun 1640. Dalam rentang waktu ini, Burroughs tinggal di Belanda. Di sana, ia menjadi guru Injil untuk orang-orang Inggris berdenominasi Independent yang tinggal di Rotterdam, yang sebelumnya dilayani oleh William Ames yang juga adalah seorang Puritan. Bersama-sama dengan William Bridge dan Sidrach Simpson, Burroughss mengembangkan aliran Kongregasionalisme di kota tersebut.

Pada periode terakhir, yaitu dari akhir 1640 hingga wafatnya di tahun 1646, Burroughs menerima pengakuan yang baik sebagai seorang pengkhotbah dan Puritan terkemuka di kota London. Iapun kembali ke Inggris dan menjadi pastor di dua gereja terbesar di London, yaitu gereja Stepney dan gereja St. Giles di Cripplegate. Di Stepney, ia berkhotbah di pagi-pagi buta sehingga ia dijuluki sebagai “the morning star of Stepney.” Ia beberapa kali diundang untuk berkhotbah di House of Commons dan House of Lords. Thomas Brooks, yang juga adalah seorang Puritan yang sangat terkenal hingga saat ini, menyebutnya sebagai “a prince of preachers.”

Pada tahun 1646, dua minggu setelah terjatuh dari kuda yang ditungganginya, Jeremiah Burroughs wafat.

Selain melayani sebagai seorang pendeta, Burroughs juga adalah seorang penulis yang sangat produktif. Ia dipandang sangat baik oleh para Puritan di masanya dan setelah Burroughs wafat, beberapa rekannya masih tetap menerbitkan buku tulisannya. Sebagian besar buku Burroughs adalah kompilasi dari khotbah-khotbahnya. Beberapa buku karangan Burroughs yang direkomendasikan oleh para pecinta Puritan antara lain The Rare Jewel of Christian Contentment (bisa diunduh di internet), Gospel Worship, dan The Evil of Evils: The Exceeding Sinfulness of Sin. Sayang sekali, nampaknya karya berharga yang berasal dari tulisan tangan Jeremiah Burroughs ini belum saatnya tiba ke tanah air kita. Sayang sekali.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Burroughs

Ada beberapa teladan penting yang patut kita contoh dari Jeremiah Burroughs. Hal yang pertama dan yang terutama, sebagaimana yang dapat kita lihat dari pelayanan dan kesaksian hidup para Puritan yang lain, adalah Burroughs menjadikan Kristus sebagai pusat dari seluruh teologinya. Inilah yang ia katakan:

“Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan kepada Anda kemuliaan Allah yang memancar dari kebenaran ini: yakni bahwa Allah mengomunikasikan diri-Nya melalui Mediator, yaitu melalui Anak-Nya. Ini merupakan hal yang mutlak harus Anda ketahui jika Anda menghendaki hidup yang kekal. Adalah mungkin untuk tidak mengetahui beberapa kebenaran dan tetap diselamatkan namun kebenaran yang satu ini harus diketahui dan jika tidak, maka tidak akan ada keselamatan.

Banyak orang mengetahui bahwa mereka membutuhkan rahmat Allah dan tidak akan pernah bisa selamat tanpa rahmat-Nya. Terang alam meyakinkan kita akan hal ini. Namun, mereka tidak menyadari dan tidak melihat kebenaran ini: yakni bahwa Allah menyatakan rahmat-Nya melalui Seorang Mediator. Mereka gugur dan binasa selamanya sekalipun mereka berseru-seru akan rahmat Allah karena mereka datang kepada Allah namun tidak selalui Seorang Mediator.”

Burroughs menyampaikan kebenaran tentang Kristus dengan sangat tegas, jelas, dan mencengangkan. Tidak diragukan lagi, Kekristenan zaman ini butuh mendengar kebenaran mengenai Kristus dengan penyampaian yang sedemikian tegas supaya orang-orang yang mengaku diri Kristen tetapi tidak pernah benar-benar mengenal Tuhan Yesus Kristus dapat disadarkan, bertobat, dan menaruh percayanya hanya kepada Kristus Yesus, Tuhan kita, dan beroleh keselamatan dari Allah.

Burroughs

Selain meneguhkan sentralitas Kristus di dalam keselamatan manusia, Burroughs juga menyatakan keutamaan Kristus di dalam kepuasan dan rasa syukur yang sejati. Burroughs berpendapat:

“Kepuasan tidak diperoleh dengan penambahan, melainkan dengan pengurangan:
berusaha menambahkan sesuatu tidak akan membawa kepuasan.
Justru sebaliknya, mengurangi hal-hal dari dalam hasratmu
sampai kau menemukan kepuasan hanya di dalam Kristus,
itulah yang akan membawa kepuasan.”

“Pencobaan tidak akan menang terhadap seseorang yang menemukan kepuasan,
layaknya sebuah dart yang diluncurkan terhadap dinding yang sangat keras.”

“Saudara-saudaraku, alasan mengapa kau tidak pernah menemukan kepuasan dari hal-hal yang ada di dunia ini bukanlah karena kau tidak pernah mendapatkan cukup akan semua itu. Itu bukanlah alasannya. Alasannya adalah karena semua itu bukanlah hal yang mampu memuaskan jiwamu yang kekal yang mana hanya dapat dipuaskan oleh Allah sendiri.”
(dari buku The Rare Jewel of Christian Contentment)

Istimewa. Burroughs menekankan bahwa keselamatan di dalam Kristus tidak hanya berbicara tentang penyelamatan dari murka Allah atas dosa tetapi juga tentang pembebasan dan penyelamatan dari kepuasan palsu yang ditawarkan oleh dunia ini dengan menyodorkan kepada orang Kristen sumber kepuasan sejati, yang adalah Kristus. Ini merupakan hal yang sangat urgen untuk diajarkan kepada seluruh orang Kristen di zaman ini, khususnya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dari semakin maraknya ajaran teologi kemakmuran yang menyesatkan. Ajaran-ajaran yang menyimpang seperti itu hanya menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai pelayan yang bertugas untuk memuaskan tuannya, yang adalah manusia, dengan berkat-berkat jasmani dan kesembuhan fisik yang sebenarnya sama sekali tidak ada artinya dibanding berkat keselamatan dan kesembuhan rohani yang hanya dapat ditemukan ketika manusia memandang Kristus, bukan sebagai pelayan, atau sekadar pemberi berkat, melainkan sebagai Tuhan, Raja, dan Juruselamat.

Burroughs

Teladan berikutnya dari Jeremiah Burroughs adalah tekadnya untuk menjaga keutuhan di dalam tubuh Kristus. Burroughs adalah seorang Anglikan yang memeluk aliran atau denominasi Independent. Orang-orang dalam denominasi ini meyakini bahwa negara dan gereja harus terpisah dan bahwa gereja harus bersifat otonom dan berhak mengatur dirinya sendiri. Namun, sekalipun memeluk salah satu aliran, Burroughs adalah seorang yang cinta damai. Dalam masa yang penuh dengan pergolakan, khususnya dengan rekan-rekannya yang memeluk denominasi Presbiterianisme, ia memilih untuk tidak terlalu vokal dalam menyatakan pendapatnya.

Ia memiliki prinsip: Opinionum varietas et opinantium unitas non sunt hasustata, yang berarti “keberagaman dalam pendapat dan kesatuan dalam pendapat tidak selalu bertentangan.” Richard Baxter, seorang Puritan terkemuka pada saat itu berkata mengenai Burroughs, “Jika seluruh penganut Episkopalianisme adalah seperti Penilik Tertinggi (Archbishop) Ussher, dan seluruh penganut Presbiterianisme adalah seperti Stephen Marshall, dan seluruh Independents adalah seperti Jeremiah Burroughs, masalah keretakan di dalam gereja pasti akan segera terselesaikan. ”

Hingga akhir hidupnya, Burroughs terus memperjuangkan perdamaian dalam tubuh Kristus yang terpecah karena perbedaan denominasi. Khotbah terakhir yang ia bawa akhirnya diangkat menjadi bukunya yang berjudul Irenicum to the Loves of Truth and Peace yang ia tujukan untuk merekatkan kembali kubu-kubu orang percaya telah telah terpisah.

Burroughs

Ada begitu banyak hak baik yang dapat diteladani dari Jeremiah Burroughs namun hal terakhir yang dapat kami sampaikan mengenainya adalah bagaimana ia memahami jiwa-jiwa yang sedang berduka karena dosa. Kita tahu bahwa di dalam khotbah-Nya di atas bukit, Tuhan kita berkata:

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”
(Matius 5:4)

Dukacita yang Tuhan Yesus maksud adalah dukacita karena dosa. Ini merupakan salah satu tanda utama dari orang Kristen yang sejati. Ada begitu banyak guru palsu yang mengajarkan bahwa orang Kristen tidak perlu, bahkan tidak boleh lagi, merasa sedih atas dosa-dosanya karena mereka sudah diselamatkan. Mereka mengajarkan bahwa jika orang Kristen masih berduka karena dosa, maka mereka sedang merendahkan pengampunan Allah.

Ini merupakan ajaran yang sangat salah. Justru sebaliknya, sekalipun Kristen adalah orang yang paling bersukacita di dunia ini karena mereka telah diselamatkan, namun di saat yang bersamaan, orang Kristen adalah orang yang paling berdukacita karena dosa-dosa yang masih tinggal di dalam dirinya sebab merekalah satu-satunya kaum di dunia ini yang mengerti arti kengerian dosa. Ya, semua orang yang berada di luar Kristus tidak akan pernah memahami arti dosa; mereka mengabaikannya, mereka menikmatinya. Hanyalah orang Kristen yang mengerti arti dosa dan berduka karenanya. Dan dukacita yang kudus itu sesungguhnya adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus (Yohanes 16:8). Jika seseorang tidak memiliki tanda ini, yakni dukacita akan dosa, maka ia bukanlah orang Kristen yang telah menerima anugerah hati yang baru dari Roh Kudus. Orang-orang yang demikian, menurut Matius 5:4, tidak mendapat penghiburan dari Kristus Yesus sebab Tuhan kita hanya akan menghibur mereka yang berduka.

Ketika Allah mengerjakan dukacita akan dosa di dalam orang Kristen, hati orang itu remuk. Memang ini merupakan cara kesukaan Allah untuk membuat anak-anak-Nya rendah hati dan “takut” akan Dia. Namun, seringkali orang Kristen tidak berdaya di dalam proses pembentukan Tuhan tersebut. Mereka menjadi ragu akan kepastian keselamatan mereka, kehilangan sukacita, dan merasa begitu lemah. Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya untuk jatuh sedemikian dalam, Ia menyediakan obat dan pemulihan di dalam firman-Nya. Oleh sebab itu, mereka yang sedang berduka perlu dihibur oleh saudara seiman yang mengerti pengalaman dukacita seperti itu dan memahami firman Allah yang dapat menguatkan mereka dan membangkitkan sukacita dan kepastian mereka kembali. Dan Jeremiah Burroughs adalah salah seorang saudara di dalam Tuhan yang tepat untuk dijadikan tempat bertanya dan meminta nasehat di masa-masa ketika kita sedang mengalami dukacita yang mendalam karena dosa. Burroughs menulis:

“Kau mungkin berpikir bahwa kau hanya dapat melakukan hal yang sangat kecil bagi Allah, hai, kau yang memiliki jiwa yang penuh dosa dan malang, dan kau merasa lemah dan tidak dapat berbuat banyak, tetapi ketahuilah, kau masih mampu berduka; dan mengetahui bahwa, sebagaimana yang telah dijelaskan, dukacita yang demikian merupakan korban persembahan di hadapan Allah yang akan Ia terima sama halnya seperti persembahan lain yang dapat kau berikan kepada-Nya, seperti di dalam firman:

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur;
hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
(Mazmur 51:17)

Itulah yang menjadi persembahanmu. Oleh sebab itu, ketika kau tidak memiliki persembahan untuk di bawa ke hadapan Allah, bukankah kau masih dapat menyerahkan jiwamu yang remuk akan dosa?

Aku katakan, tidak ada hal apapun setelah darah Kristus, yang begitu dihargai oleh Allah, selain jiwa yang remuk akan dosa yang diserahkan kepada Allah. Dan oleh sebab itu, biarlah jiwamu beroleh ketenangan.

Burroughs

Oh, kebenaran ini sungguh mendatangkan sukacita, ketenangan, dan kedamaian bagi hati yang remuk. Tidakkah kau setuju denganku?

Itulah limpahan berkat yang dapat kita nikmati dari pelayanan Jeremiah Burroughs. Terpujilah Allah kita karena berkat-Nya. Tidak diragukan lagi, generasi ini membutuhkan hamba-hamba Tuhan seperti Burroughs, yang menjadikan Kristus sebagai pusat dari hidup dan pemberitaan mereka, yang mengerti arti kepuasan sejati di dalam Kristus, yang memperjuangkan kesatuan di dalam tubuh Kristus, dan memahami jiwa-jiwa yang sedang melewati lemah rohani di dalam hidup mereka. Kiranya Allah membangkitkan hamba-hamba-Nya yang demikian. Dan kiranya Tuhan membentuk kita lebih dan lebih lagi, menjadi hamba-hamba Tuhan yang disiplin dan radikal seperti diharapkan oleh Burroughs ketika ia berkata:

Kita harus memelajari Kristus, dan memuliakan Allah, dan melapangkan hati kita untuk Yesus Kristus. Inilah tugas setiap orang percaya yang kepadanya Allah telah menyatakan Kristus sebagai Pribadi yang Ajaib, supaya di dalam setiap perbincangan mereka, mereka menyatakan kemuliaan yang ajaib dari Yesus Kristus.

Kau harus berjalan di hadapan orang-orang sedemikian rupa untuk menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Juruselamatmu adalah Juruselamat yang Ajaib.”

Amin

#dikutip dari http://www.monergism.org

Memandang pada Yesus, oleh Isaac Ambrose

Oh, alangkah istimewanya hak yang tersedia ketika kita memandang pada Yesus. Inilah hal-hal yang tersedia bagi kita ketika kita hidup di dalam disiplin ini:

1) Kristus memberikan kepuasan kepada mereka yang memandang-Nya. Seperti mutiara memuaskan pedagang di dalam perumpamaan (Matius 13:44-46), demikianlah Kristus memuaskan jiwa umat-Nya. Mereka yang memandang Yesus dengan benar, dapat berkata seperti Yakub, “Aku mempunyai segala-galanya (Kejadian 33:11).”

2) Kristus memberikan kemuliaan kepada mereka yang memandang-Nya. Dia adalah permulaan dan obyek dari kemuliaan mereka. Dia adalah kemuliaan dari pembenaran mereka, sebagaimana pakaian adalah kemuliaan dari dia yang memakainya. Dia adalah kemuliaan dari penebusan mereka, sebagaimana penebus adalah kemuliaan dari dia yang tertawan. Dia adalah segala-galanya bagi mereka, “yang kepada-Nya mereka akan menyerahkan segala hormat, kemuliaan, dan kuasa, dan puji-pujian (Wahyu 5:13).”

3) Kristus memberikan damai sejahtera kepada mereka yang memandangnya. “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus (2 Korintus 5:19).” Mereka yang mendengar Kristus di dalam firman-Nya, atau yang memandang kepada Kristus dengan mata iman, memiliki damai sejahtera, sebab Kristuslah yang mewahyukan dan mengerjakan damai sejahtera di dalam seluruh anak-anak damai sejahtera.

4) Kristus memberikan hidup kepada mereka yang memandang-Nya. “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup (1 Yohanes 5:12).” Dia yang memiliki Kristus di dalam hatinya memiliki hidup yang penuh anugerah, dan ia sungguh-sungguh memiliki kemuliaan hidup itu.

5) Kristus membuat mereka merasakan kebaikan-Nya. Mereka tidak dapat melihat-Nya namun Ia membuat mereka bersukacita dengan merasakan hadirat-Nya dan Roh-Nya, dan inilah yang kemudian akan menjadi, “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Efesus 5:19).” Anugerah iluminasi (penerangan), regenerasi (kelahiran kembali), pengudusan, penghiburan, dan kebebasan rohani mengalir dari Kristus kepada jiwa orang-orang kudus-Nya, yang mana semua ini tersembunyi dari orang-orang yang hidup di dalam daging, yang belum pernah mengecap air hidup.

6) Kristus menaruh di dalam hati mereka benih kasih untuk mengasihi-Nya dengan tulus. Ketika dengan mata iman mereka memandang-Nya, hati mereka akan terbakar oleh api cinta. Demikianlah kemesraan antara Kristus dengan jiwa mereka, yakni seperti kasih di antara pasangan yang saling mencintai: kasih mereka kepada Kristus adalah seperti kasih Yonatan kepada Daud, kasih yang luar biasa, melampaui kasih para wanita. Mereka mengasihi-Nya sebagai mempelai pria yang kepada-Nya mereka akan menyerahkan hidup mereka, sebagai mutiara pilihan yang dengan-Nya mereka diperkaya, sebagai mentari yang menghiburkan, yang dengan pancaran sinar-Nya mereka dihiburkan, dan sebagai sumber mata air yang oleh-Nya hati mereka disegarkan dan hasrat mereka dipuaskan.

7) Kristus membuat mereka mampu merasakan kasih-Nya kepada mereka. Mereka tidak dapat memandang-Nya tanpa melihat bahwa Ia mengasihi jiwa mereka, mereka memandang-Nya membalut hati mereka yang remuk, mereka memandang-Nya, seperti Yakub, bekerja di panas terik dan dinginnya malam untuk Rahel; bekerja di tengah-tengah penderitaan, mulai dari palungan hingga salib-Nya, untuk mendapatkan “istri” bagi diri-Nya.

8) Kristus memberikan pengalaman akan kuasa-Nya kepada mereka. Mereka yang memandang kepada Kristus, merasakan kuasa-Nya di dalam jiwa mereka untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan Iblis, menyembuhkan penyakit rohani mereka, menopang dan menguatkan mereka di dalam berbagai-bagai penderitaan, dan memenuhkan jiwa mereka dengan kuasa dari sorga.

9) Kristus membuat mereka merasakan kebutuhan akan kebaikan-Nya. Di dalam memandang Yesus, mereka memandang diri mereka sendiri menyedihkan, mereka memandang hal-hal lain sebagai penghibur yang menyedihkan pula: mereka juga memandang keindahan Kristus melampaui keindahan bunga mawar dari Saron dan bunga bakung di lembah-lembah (Kidung Agung 2:1). Ia hadir kepada mereka dengan keindahan yang melampaui keindahan bunga-bunga di padang, melampaui semua batu permata di dunia, melampaui semua cahaya di cakrawala, dan melampaui semua orang kudus dan malaikat di sorga. “Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya (Mazmur 146:5)

10) Kita dapat menambahkan untuk yang terakhir, Kristus memberikan segala sesuatu kepada mereka. Kata rasul, “sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah (1 Korintus 3:21-23).”

Semua pelayan Kristus, mulai dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, “baik Paulus, atau Apolos, atau Kefas;” mereka adalah orang-orang yang berjaga-jaga atasmu untuk keselamatanmu (Ibrani 13:17). “Dunia” adalah milikmu; tentu saja dunia ini masih ada hingga saat ini untukmu; jika seluruh umat pilihan Kristus telah genap jumlahnya, maka dunia ini akan segera dibakar oleh api. “Hidup” adalah milikmu. Kehidupan yang sekarang adalah untuk mempersiapkanmu untuk hidup yang lebih baik, yaitu untuk kekekalan. “Kematian” adalah milikmu, sebab kau akan mati hanya di waktu yang terbaik untukmu. Maut hanya akan menjadi pelayan untuk kebaikanmu. “Baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang” adalah milikmu. Ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang (1 Timotius 4:8).

Aku akan menambahkan, Tuhan sendiri adalah milikmu. Lihatlah Allah, dan pandanglah Dia di dalam kemuliaan dan kuasa-Nya, ya Allah yang mulia itu, Tuhan atas dunia dan sorga adalah milikmu; Dia adalah milikmu, dan semua yang Ia punya adalah milikmu, dan segala sesuatu yang Ia lakukan adalah milikmu. Dia adalah Perbendaharaan dari semua kekayaan orang Kristen. Jika Kristus adalah milikmu, Bapa adalah milikmu, jika Kristus milikmu, Roh Kudus adalah milikmu, dan seluruh janji-Nya adalah milikmu, sebab di dalam Kristus semua itu diciptakan, dan untuk-Nyalah semua itu akan jadi. Oleh sebab itu, biarlah orang-orang sombong bermegah akan kehormatannya, orang-orang kuat bermegah akan keberaniannya, dan orang-orang kaya bermegah akan hartanya, namun biarlah orang Kristen menyatakan dirinya berbahagia, hanya berbahagia, sepenuhnya berbahagia, di dalam menikmati Kristus, di dalam “memandang kepada Yesus.”

Diterjemahkan dengan sedikit adaptasi dari buku Looking unto Jesus, karya Isaac Ambrose

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

after Unknown artist, line engraving, published 1674

Isaac Ambrose (1604-1664) adalah seorang pastor Puritan. Ayahnya, Richard Ambrose, adalah seorang pendeta dari Ormskirk, Lancashire. Pada tahun 1621, di usianya yang ke-17, Ambrose melanjutkan studinya ke Brasenose College, Oxford. Tiga tahun setelah itu, ia lulus dengan gelar Bachelor of Arts dan diteguhkan menjadi hamba Tuhan. Ambrose menjadi pendeta di Castleton, Derbyshire pada tahun 1627, kemudian di Clapham, Yorkshire di antara 1629 hingga 1631. Pada tahun berikutnya, ia lulus dari studi lanjutannya dan mendapat gelar Master of Arts dari Cambridge.

Berkat pengaruh dari William Russel, Pangeran Bedford, Ambrose ditunjuk untuk menjadi salah seorang pengkhotbah keliling di daerah Lancashire. Tugas yang diembannya adalah untuk mengajarkan doktrin-doktrin Protestan di daerah-daerah yang sangat terpengaruh oleh ajaran Katolik Roma. Tidak lama setelah itu, Ambrose menikah.

Pada sekitar tahun 1640, Lady Margaret Hoghton memilih Ambrose untuk menjadi pendeta di gereja St. John di Preston. Selama tinggal di Preston, ia berhubungan baik dengan keluarga Hoghton. Setiap bulan Mei, Ambrose biasa mengambil waktu cuti dan tinggal di hutan atau menara milik keluarga Hoghton untuk membaca Alkitab, berdoa, dan merenungkan Allah. Khotbah Ambrose yang diberinya judul “Menebus Waktu” yang ia khotbahkan pada upacara pemakaman Lady Hoghton menjadi ingat-ingatan bagi warga Lancashire.

Pada masa reformasi, banyak orang di Preston, terutama orang-orang dari golongan atas, yang memeluk ajaran Katolik Roma. Ketika terjadi perang sipil di Inggris, Preston memilih untuk berpihak kepada raja. Sekalipun begitu, Ambrose yang adalah seorang Puritan Presbitarian cenderung berpihak kepada Parlemen.

Pada masa itu, Preston menjadi salah satu medan tempur antara pihak raja dan parlemen. Ambrose sempat dua kali dipenjarakan, yakni pada November 1642 dan Maret 1643, karena paham Presibitarianisme yang ia peluk. Namun, tidak lama setelah penahanannya, Ambrose dibebaskan kembali karena hubungan baiknya dengan keluarga Hoghton dan bangsawan lainnya serta karena reputasinya yang baik sebagai seorang yang saleh. Pada Mei 1644, Bolton jatuh ke tangan royalis (orang-orang yang berpihak pada raja). Hal ini memaksa Ambrose untuk mengungsi ke Leeds. Pada tahun 1648, pasukan Oliver Cromwell berhasil menaklukkan tentara royalis di Preston dan kemenangan itu mengakhiri perang sipil kedua.

Paham presbiterianisme berkembang dengan cukup baik di Lancashire oleh pelayanan Ambrose pada rentang tahun 1640 hingga awal 1650. Beberapa kali ia dipercaya menjadi moderator untuk Lancashire classis dan pada tahun 1648, ia ikut menandatangani Harmonious Consent beserta para pemimpin Presbiterian di Lancashire untuk menyatakan solidaritas dengan Westminster Assembly. Pada tahun 1649, untuk seketika waktu lamanya, ia dimasukkan ke dalam penjara dan setelah ia kembali untuk melayani di Preston, ia harus berhadapan dengan penganiayaan yang berat. Pada tahun 1654, selain karena tantangan dari banyak pihak, penyakit yang dideritanya membuat Ambrose memutuskan untuk melepaskan pelayanannya di Preston.

Dari sana, pada tahun 1657, Ambrose pindah ke daerah Garstang. Di sana, ia kembali melayani sebagai pendeta di suatu gereja. Namun, pada tahun 1662, karena Act of Conformity, Ambrose dan para pendeta Puritan lainnya harus merasakan pahitnya diusir dari gereja tempat mereka melayani, karena keengganan mereka untuk patuh pada Church of England yang menurut mereka telah banyak menyimpang dari ajaran Alkitab yang benar. Ambrose menjalani kehidupan pensiunnya di Preston sebagai seorang nonconformist. Pada 23 Januari 1664, ia pulang ke rumah Allah karena penyakit stroke yang dideritanya.

Mengenai Ambrose, orang-orang berkata, “Di dalam hidup ia kudus, di dalam mati ia bahagia, terhormat di hadapan Allah, dan dihormati oleh semua orang baik.” Edmund Calamy, seorang Puritan yang juga dikenal cukup baik hingga saat ini, pernah berkata:

Ambrose adalah seorang pria yang memiliki nilai hidup yang berharga, kesalehan yang tersohor, dan hidup yang patut diteladani, baik sebagai seorang hamba Tuhan maupun sebagai seorang Kristen, sehingga adalah hal yang patut disesalkan apabila dunia tidak dapat menikmati manfaat dari kenangan-kenangan akan dia.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ambrose

Selain melayani sebagai seorang pendeta, Isaac Ambrose juga adalah seorang penulis, seperti rekan-rekannya Puritan yang lain. Dari segi karunia dan keterampilan dalam menulis, Ambrose mirip dengan Thomas Watson yang memenuhi karya tulisnya dengan imajinasi yang segar namun jelas. Banyak orang, yang sekalipun tidak bersimpati pada ajaran-ajaran Puritan, tetap mengapresiasi keindahan dan kedalaman tulisan-tulisan Ambrose. Buku pertama yang ia tulis berjudul “Prima and Ultima” (1640). Prima menjelaskan tentang regenerasi atau lahir baru sementara Ultima membahas tentang kematian, penghakiman, surga, neraka, serta pandangan yang Alkitabiah mengenai api penyucian. Karya ini kemudian dilanjutkan dengan “Media” yang ditulis sepuluh tahun berikutnya. Di dalam Media, Ambrose banyak membahas tentang satu tahap dalam keselamatan, yaitu pengudusan (sanctification). Di sini, ia menjelaskan tentang tugas-tugas yang harus dijalankan oleh setiap orang percaya untuk bertumbuh di dalam anugerah serta untuk bersatu dan bersekutu lebih erat dengan Kristus.

Magnum opus (karya terbesar) Ambrose adalah Looking Unto Jesus yang ia tulis pada tahun 1658. Di dalam buku ini, ia memaparkan Kristus dalam sembilan perspektif, yaitu: mengenal Yesus, mempertimbangkan Yesus, menginginkan Yesus, berharap pada Yesus, percaya pada Yesus, mencintai Yesus, bersukacita di dalam Yesus, memanggil Yesus, serta menjadi serupa dengan Yesus di dalam aspek-aspek pelayanan-Nya. Buku ini menerima apresiasi yang sangat baik bahkan hingga saat ini dan popularitasnya menyamai tulisan-tulisan John Bunyan atau surat-surat Samuel Rutherford. Selama ia hidup, Ambrose menulis berbagai pengalaman rohaninya bersama Allah di dalam buku harian. Sayang sekali, buku-buku harian tersebut tidak dapat dipertahankan hingga saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ambrose

Memang benar bahwa tidak banyak hal yang dapat kita kenal dari sosok Isaac Ambrose. Hal ini, sayangnya, tidak terlepas dari kesalahan kita, sebagai tubuh Kristus di segala zaman, yang lalai dalam memelihara dan meneruskan karya-karya terbaik dari para pendahulu kita. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, puji syukur kepada Allah, kita masih bisa mengenalnya dan masih bisa menikmati berkat Allah yang Ia sampaikan melalui tulisan tangannya. Dan dari semua itu, kita dapat melihat beberapa hal utama yang menandai hidup dan pribadi Ambrose yang dapat kita teladani demi menjadi pelayan Tuhan yang Ia pakai untuk menyatakan kemuliaan-Nya dan menjadi berkat bagi umat-Nya. Teladan-teladan tersebut, antara lain:

1) Kehidupan dan pelayanan yang berfokus pada Kristus

Ini merupakan hal yang paling penting di dalam kehidupan Kristen yang kita jalani dan juga di dalam pelayanan kita yang lakukan. Ambrose mengawali bukunya yang sangat terkenal, Looking Unto Jesus, dengan perkataan yang fenomenal. Ia menulis:

Ambrose2

Pengakuan yang seperti ini, mungkin, sudah cukup asing kita dengar saat ini. Jangankan tulisan tentang Kristus, khotbah yang benar-benar berfokus tentang Diapun semakin hari semakin jarang kita dengar. Fokus banyak orang Kristen tidak lagi terletak pada Kristus. Sebagai gantinya, banyak orang yang berfokus pada masalah-masalah sosial, berkat-berkat Allah, aktivitas pelayanan dan penginjilan, atau karunia-karunia Roh Kudus. Tentu saja semua itu bukanlah hal yang buruk untuk dibahas oleh orang-orang Kristen. Namun, ketika semua hal tersebut ditempatkan lebih tinggi dibanding Kristus, kita tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Tetapi tidaklah demikian dengan Isaac Ambrose dan para Puritan lainnya. Kristus merupakan pusat dari teologi dan devosi mereka. Ambrose menulis:

“Kristus adalah kepenuhan dari kebahagiaan manusia –  Mentari untuk meneranginya, Tabib untuk menyembuhkannya, Tembok Api untuk melindunginya, Sahabat untuk menenenangkannya, Mutiara untuk menjadikannya kaya, Bahtera untuk melindunginya, dan Batu Karang untuk menopangnya menghadapi tekanan yang paling berat. Ia adalah tangga antara bumi dan sorga, Perantara antara Allah dan manusia, sebuah misteri yang ingin diketahui oleh para malaikat.”

2) Hidup di dalam kekudusan

Di dalam 2 Timotius 2:21, Firman Tuhan berkata, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” Kekudusan merupakan syarat mutlak untuk pelayanan yang berkenan kepada Allah. Seorang Kristen yang berkomitmen untuk melayani Allah namun tidak siap untuk menjaga kekudusan hidup, tidak akan menjadi alat yang efektif di tangan-Nya. Sebaliknya, seorang pelayan yang bergantung pada penyertaan Roh Kudus dan tekun menjalankan hidup yang kudus di hadapan Allah akan menjadi alat yang perkasa di tangan Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Hal inilah yang menjadi prinsip hidup bagi Ambrose. Perihal pentingnya kekudusan, Ambrose pernah mengatakan perkataan yang sangat tegas:

Ambrose

Ya, kedagingan merupakan hal yang sangat berbahaya bagi hidup yang kudus. Dan tentu saja, disiplin untuk hidup di dalam kekudusan tidak boleh dipisahkan dari prinsipnya yang utama yang adalah pemusatan hidup pada Kristus. Ambrose menulis:

“Jiwa manusia memiliki standar yang terlalu tinggi untuk dapat dipuaskan oleh hal-hal duniawi. Ia tidak dapat dipuaskan oleh para malaikat, melainkan oleh Allah sendiri. Ia melelahkan dirinya sendiri dengan melihat banyak hal namun tetap saja menginginkan hal-hal lain; namun ketika ia melihat kemuliaan Kristus, jiwanya akan tenang sepenuhnya dan dipuaskan.”

Kekudusan yang sejati di dalam hidup kita berasal dari Kristus, ditopang dan dipelihara oleh Kristus, dan pada akhirnya ditujukan untuk kemuliaan Kristus.

Ambrose

3) Disiplin mempelajari firman Allah, merenungkan Allah, dan berlibur bersama Allah

Pemazmur pernah berkata, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik (Mazmur 84:11).” Pengakuan yang demikian terbukti dari kehidupan Tuhan Yesus selama Ia melayani di bumi. Setelah selesai melakukan pelayanan yang cukup melelahkan, Ia sering menarik diri dari kerumunan orang untuk berdoa kepada Allah Bapa. Itulah rekreasi bagi Tuhan kita. Bagi-Nya, peristirahatan dan kenyamanan yang sejati tidak ditemukan pada hal-hal yang fana, melainkan hanya pada persekutuan yang intim dengan Allah di dalam doa dan perenungan.

Inilah yang juga dipraktekkan dengan disiplin oleh Isaac Ambrose. Seperti telah dibahas sebelumnya, ketika ia melayani di Preston, setiap bulan Mei ia mengambil waktu cuti dan tinggal di hutan atau menara milik keluarga Hoghton di mana ia akan menghabiskan waktunya untuk membaca Alkitab, berdoa, dan berkontemplasi merenungkan Allah. Dengan kacamata orang-orang masa kini, hal ini tentu saja terlihat tidak produkti dan membuang-buang waktu. Tetapi sungguh tidaklah demikian. Beristirahat dan berdua-duaan bersama Allah di waktu yang telah dikhususkan merupakan disiplin rohani yang sangat penting bagi semua orang Kristen.

Allah tidak menghendaki umat-Nya untuk menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja, bahkan untuk terus menerus tanpa istirahat bekerja di ladang pelayanan-Nya. Ia menyediakan hari Sabat di mana mereka dapat beristirahat dan menggunakan kelimpahan waktu istirahat itu untuk merenungkan Allah dan bersekutu dengan-Nya. Waktu peristirahatan bersama Allah tentu saja tidak terbatas pada satu hari di dalam satu minggu. Kapanpun waktu yang ada, asalkan waktu tersebut telah dikhususkan hanya untuk berdoa, merenungkan Allah, dan mempelajari firman-Nya, maka waktu itu adalah waktu peristirahatan yang di dalamnya Allah telah menyediakan berkat, karunia, dan sukacita yang berlimpah-limpah. Jika kita hidup dan setia di dalamnya, maka Allah akan memberkati kita dan menjadikan kita alat yang mulia untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Ambrose

4) Sikap yang benar terhadap kebenaran dan kesatuan di dalam tubuh Kristus

Kesatuan merupakan hal yang sangat penting di dalam tubuh Kristus. Rasul Paulus menulis, “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera (Efesus 4:3).” Tuhan Yesus juga, ketika Ia berdoa syafaat bagi domba-domba-Nya kepada Bapa di taman Getsemani, berkali-kali memohonkan “supaya mereka menjadi satu” (Yohanes 17: 11, 21, 22, 23). Oleh sebab itu, seluruh orang percaya harus berdoa dan dengan sekuat tenaga memperjuangkan kesatuan dan kasih di dalam gereja Kristus. Dan itulah yang juga dikerjakan oleh Ambrose di dalam hidupnya. Ia adalah seorang yang cinta damai. Di tengah-tengah situasi yang penuh dengan konflik teologis, ia berusaha sebisa mungkin menjauhi isu-isu yang kontroversial.

Namun, sekalipun menjunjung tinggi kesatuan di dalam gereja Tuhan, Ambrose bukanlah orang yang siap menerima semua ajaran dan penyimpangan yang masuk ke dalam gereja. Baginya, kesatuan yang sejati hanya akan terjalin jika didirikan di atas dasar kebenaran. Ya, kebenaran harus diutamakan lebih dari kesatuan. Mengapa? Sebab Iblis juga dapat memalsukan kesatuan di antara orang Kristen namun Iblis tidak akan pernah dapat memalsukan kebenaran. Itulah sebabnya, Ambrose memilih untuk tetap menjadi Puritan yang nonconformist terhadap peraturan Church of England sehingga dalam peristiwa The Great Ejection, ia termasuk di antara ribuan pendeta yang harus diusir dari gereja tempat mereka melayani. Ia tidak mau bertoleransi pada ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab.

Itulah sedikit dari hidup dan pelayanan Isaac Ambrose yang patut kita teladani. Tidak diragukan lagi, generasi ini membutuhkan hamba-hamba Tuhan seperti Ambrose, yakni hamba Tuhan yang senantiasa memandang kepada Yesus. Oleh sebab itu, marilah kita dengan setia dan tekun berdoa agar Allah membangkitkan hamba-hamba Tuhan yang demikian dan agar Dia juga menjadikan kita hamba yang demikian sebab seperti kata Tuhan dan Juruselamat kita, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5).”

Ayat - Ibrani 12 2

Amin

Pencobaan yang Mengusik Orang Percaya, oleh Richard Sibbes

Beberapa orang Kristen, yang sungguh-sungguh telah lahir baru, seringkali dihantui oleh pikiran-pikiran yang najis di dalam imajinasi mereka, dan oleh pikiran-pikiran yang hina dan tak pantas tentang Allah, Kristus, dan firman-Nya, yang, seperti lalat, menggelisahkan dan mengganggu kedamaian hati mereka. Pikiran-pikiran yang jahat ini dilemparkan ke dalam imajinasi mereka oleh Iblis. Memang di dalam setiap orang Kristen masih tertinggal natur yang jahat namun sifat, kuasa, keganasan, dan kengerian dari pikiran-pikiran jahat yang berasal dari Iblis itu berbeda dan dapat dibedakan dari pikiran jahat yang memang berasal dari natur dosa yang masih ada di dalam hati setiap orang percaya. Sama seperti Benyamin yang tidak tahu menahu ketika Yusuf, kakaknya, menaruh piala Yusuf ke dalam karungnya (Kejadian 44), orang-orang saleh tidak menyadari ketika Iblis diam-diam menabur bibit pikiran-pikiran busuk itu ke dalam benak mereka.

Para penulis yang saleh telah menganjurkan beberapa hal untuk dilakukan ketika pencobaan seperti itu menyerang, yaitu untuk membenci pikiran-pikiran itu dan segera mengalihkan perhatian kita dari godaan tersebut kepada hal-hal yang lain. Selain hal tersebut, tambahkanlah ini: mengadulah pada Kristus mengenai itu semua, berlarilah ke bawah naungan sayap perlindungan-Nya, dan mohonkanlah agar Ia membela kita dalam menghadapi musuh-Nya dan musuh kita itu. Jika setiap dosa dan hujatan manusia dapat diampuni, masakan pikiran-pikiran najis itu tidak dapat diampuni oleh-Nya? Kristus sendiripun pernah dicobai sedemikian supaya Ia dapat menolong jiwa-jiwa yang miskin yang sedang mengalami kondisi yang demikian (Matius 4:1, Ibrani 4:15).

Namun, ada perbedaan antara Kristus dan kita dalam hal ini. Iblis tidak memiliki apapun di dalam diri Kristus. Godaan-godaan Iblis tidak berpengaruh sama sekali terhadap natur-Nya yang kudus. Justru sebaliknya, sama seperti percikan api tercemplung ke samudera, cobaan Iblis kepada Kristus segera pudar. Namun, Ia menyerahkan diri-Nya untuk dicobai dengan cara ini sehingga Ia juga merasakan apa yang kita alami ketika kita dicobai oleh iblis dan melalui itu semua, Ia mengajar kita untuk menggunakan perlengkapan senjata rohani yang kita miliki, sebagaimana Ia memakainya. Kristus bisa saja mengalahkan Iblis dengan kuasa-Nya namun Ia memilih untuk mengalahkannya dengan firman Allah.

Berbeda dengan itu, ketika Iblis mendatangi kita, ia menemukan sesuatu yang adalah miliknya di dalam diri kita, yang terhubung dengannya dan mengenali suaranya. Pada kadar tertentu, di dalam diri kita, masih tertinggal kecenderungan untuk menentang Allah dan menentang apa yang baik, sebagaimana yang ada di dalam diri Iblis. Oleh sebab itu, setiap pencobaan yang Iblis arahkan kepada kita akan menodai kita. Dan kalaupun Iblis tidak datang menggoda kita, pikiran-pikiran yang penuh dosa masih dapat timbul dari dalam diri kita. Kita masih memiliki sisa-sisa kejahatan itu di dalam diri kita.

Jika pikiran-pikiran jahat itu tinggal cukup lama di dalam jiwa kita, semua itu akan mengisap dan menimba keinginan-keinginan jahat dari dan oleh jiwa kita dan akan menimbulkan perasan bersalah yang lebih besar di dalam jiwa kita. Itu semua akan mengusik persekutuan yang indah antara kita dengan Allah, mengganggu kedamaian hati kita, dan menaruh hasrat yang bertentangan di dalam jiwa kita. Itu semua dapat menjadi dosa yang lebih besar. Semua tindakan dosa adalah sebuah pemikiran pada awalnya. Pikiran-pikiran najis adalah seperti pencuri berbadan mungil yang menyelinap melewati jendela dan membuka pintu untuk pencuri yang berbadan besar. Pikiran adalah bibit dari tindakan. Semua ini membuat setiap orang Kristen hidup layaknya seorang martir yang menderita, khususnya ketika Iblis membuatnya semakin menjadi-jadi.

Dalam kondisi yang demikian, tidaklah tepat jika kita berpikir bahwa pikiran-pikiran jahat itu berasal dari natur kita sendiri, dan juga, adalah salah kalau kita berpendapat bahwa karena itu alamiah, maka wajar jika kita memikirkannya. Kita harus mengerti bahwa natur, yang berasal dari tangan Allah, tidak membuahkan pemikiran-pemikiran semacam itu. Jiwa, yang diinspirasi oleh Allah, tidak menghembuskan nafas yang menjijikkan. Namun, karena jiwa kita dikhianati oleh dirinya sendiri karena dosa, maka adalah hal yang wajar jika kita memiliki pikiran-pikiran yang hina dan menjadi tungku perapian yang memercikkan api yang jahat itu. Dan itu semua akan memperparah keberdosaan yang telah berakar begitu dalam dan menyebar begitu luas di dalam sifat kita.

Menyadari betapa luas dan dalamnya dosa kita akan membuat kita merasa begitu menjijikkan. Namun, kenyataan bahwa kita tidaklah gembira setiap kali pikiran-pikiran jahat itu timbul dari benak kita, mengajarkan kita satu hal: yaitu kita tidak sendirian dalam hal ini. Kita seringkali tergoda untuk berpikir bahwa hanya kita yang mengalaminya, dan banyak yang putus asa karena pemikiran itu, namun sesungguhnya tidaklah demikian. Banyak yang berkata, “Tidak ada orang yang memiliki sifat yang begitu menjijikkan ini selain aku.” Orang-orang berpikir demikian karena mereka tidak menyadari betapa luasnya dosa awal (original sin) telah menyebar, karena apakah yang dapat timbul dari hal yang najis selain hal yang najis? Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu (Amsal 27:19), setidaknya apabila tidak ada anugerah untuk mengubahnya.

Sebagaimana gangguan-gangguan lain yang berasal dari Iblis, jalan terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyampaikan pengaduan kita kepada Kristus, dan berseru bersama-sama Paulus:

Aku, manusia celaka!
Siapakah yang akan melepaskan aku dari TUBUH MAUT ini?
(Roma 7:24)

Setelah ia meluapkan segala kesengsaraannya itu kepada Kristus, ia segera menemukan kedamaian dan ucapan syukur, “Syukur kepada Allah!” (Roma 7:25). Dan hal baik yang dapat dipetik dari semua ini adalah kita akan semakin membenci tubuh maut ini, dan akan datang semakin dekat kepada Allah, sebagaimana pemazmur yang awalnya berkata “aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu” (Mazmur 73:22), akhirnya berubah dan berkata, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.” (Mazmur 73:28). Dengan cara ini, kita menjaga hati kita untuk tetap dekat dengan Allah dan membumbuinya dengan perenungan sorgawi di pagi hari. Kita menyimpan hal-hal yang baik sehingga hati kita menjadi perbendaharaan yang baik sembari kita terus memohon agar Roh Kristus yang Kudus melenyapkan arus terkutuk dari pikiran-pikiran najis itu, dan agar Ia menjadi mata air hidup yang mengalirkan pikiran-pikiran yang baik ke dalam hati kita.

Tidak ada hal lain yang lebih mempermalukan jiwa orang-orang kudus, yang keinginannya adalah untuk bersuka di dalam Allah, setelah mereka melepaskan diri dari kecemaran dunia, selain hal-hal najis yang tinggal di dalam diri mereka, sebab itu semua sangatlah bertentangan dengan Allah, yang adalah Roh yang murni.  Namun, hal yang sangat mengusik itupun akan menjadi penghiburan bagi orang-orang percaya pada akhirnya. Sebab segala kenajisan itu akan memaksa jiwa kita untuk berlatih secara rohani, untuk lebih waspada, dan untuk berjalan dekat dengan Allah. Itu semua akan mendesak jiwa kita untuk memikirkan hal-hal yang lebih tinggi, seperti kebenaran Allah, karya Allah, persekutuan orang-orang kudus, rahasia kesalehan, takut akan Allah, keistimewaan status orang Kristen, dan kehidupan yang berpadanan dengan semua itu. Itu semua akan membuat kita menyadari betapa kita membutuhkan anugerah yang membersihkan dan mengampuni kita hari demi hari, dan membuat kita sadar akan pentingnya hidup di dalam Kristus sehingga pada akhirnya semua pencobaan itu akan membuat kita lebih sering berlutut di hadapan Alllah.

Penghiburan kita yang terutama adalah ini, yaitu bahwasanya Juruselamat kita, sebagaimana Ia memerintahkan Iblis untuk enyah dari pada-Nya setelah Ia membiarkan keangkuhannya untuk sementara waktu (Matius 4:10), demikianlah Ia juga akan memerintahkan ia untuk pergi dari kita ketika waktunya telah tepat untuk kita. Dengan sepatah kata dari-Nya, Iblis akan segera pergi dari kita. Dan Kristus mampu dan ingin, di dalam waktu-Nya, untuk menegur hati kita yang memberontak kepada-Nya, dan Ia akan menaklukkan segala pikiran yang berasal dari dalam diri kita untuk tunduk kepada-Nya (2 Korintus 10:4).

Diterjemahkan dengan beberapa adaptasi dari buku The Bruised Reed, oleh Richard Sibbes

 *Jika Anda cukup kesulitan dalam memahami beberapa kalimat di dalam tulisan di atas, kemungkinan besar kesalahan bukan terletak pada Anda. Kesalahan ada pada penulis yang mengalami kesulitan dalam menerjemahkan teks yang ditulis dalam Bahasa Inggris klasik abad ke-16 yang cukup berbeda dengan Bahasa Inggris modern yang kita kenal saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sibbes

Sama seperti beberapa Puritan yang lain, Richard Sibbes berasal dari keluarga yang sederhana. Ia lahir di Desa Tostock, Suffolk, pada tahun 1577. Ayah Sibbes, Paul Sibbes, bekerja sebagai seorang pembuat roda. Paul mengharapkan anaknya untuk melanjutkan usahanya tersebut. Namun, Richard yang sejak kecil telah menunjukkan kecintaannya yang besar terhadap buku ini tidak memenuhi harapan ayahnya tersebut. Pada usia delapan belas tahun, Richard berkuliah di St. John’s College di Cambridge. Pada tahun 1599, ia berhasil lulus dengan gelar Bachelor of Arts dan tiga tahun berikunya, ia menyelesaikan pendidikan magisternya dan mendapat gelar Master of Arts.

Pada tahun 1603, yakni di usianya yang ke 25-26 tahun, Richard Sibbes bertobat dan menyerahkan dirinya pada Tuhan Yesus Kristus. Ia mengalami mujizat lahir baru oleh kuasa Roh Kudus setelah mendengar khotbah Paul Baynes, yang Sibbes sebut sebagai ayahnya dalam Injil. Paul Baynes sendiri adalah seorang Puritan yang cukup dikenal melalui tafsirannya untuk Surat Efesus dan ia merupakan penerus dari William Perkins, Bapak Para Puritan, di gereja St. Andrews di Cambridge.

Pada tahun 1608, Sibbes ditunjuk untuk melayani di Church of England di Norwich. Pada tahun 1611 hingga 1616, ia ditunjuk untuk menjadi pendeta di Gereja Holy Trinity di Cambridges. Khotbah-khotbah Sibbes membangunkan kerohanian di Cambridge yang telah lama pudar semenjak wafatnya William Perkins. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke gereja untuk mendengarkan Sibbes berkhotbah. Saking banyaknya simpatisan yang hadir, galeri tambahan harus dibangun di gereja tersebut sehingga jemaat yang datang dapat dilayani dengan baik. Puritan John Cotton dan Hugh Peters bersaksi bahwa mereka bertobat berkat khotbah-khotbah yang Sibbes sampaikan.

Berkat pengaruh teman-temannya, pada tahun 1617, Sibbes dipercaya untuk menjadi pengkhotbah di Gray’s Inn, London. Gray’s Inn ini merupakan satu dari empat Inns of Court yang masih ada hingga saat ini dan merupakan pusat studi hukum yang paling penting di Inggris. Pada tahun 1626, selain melayani di Gray’s Inn, Sibbes juga menjadi kepala di St. Catherine’s College, Cambridge. Di bawah pimpinannya, kampus itu menjadi lebih baik dibanding keadaan sebelumnya. Tidak lama setelah itu, Sibbes menerima gelar Doctor of Divinity di Cambridge. Ia kemudian sering dijuluki sebagai “The Heavenly Doctor” karena khotbah-khotbahnya yang Alkitabiah, penuh dengan hadirat Allah, dan hidupnya yang saleh. Mengenai Sibbes, Izaac Walton, rekannya, pernah memberikan testimoni:

Kepada pria yang diberkati ini, biarlah pujian ini diberikan:
Surga sudah ada di dalam dia, sebelum dia berada di surga.

Pada tahun 1633, Raja Charles I menunjuk Sibbes untuk tidak hanya berkhotbah di gereja Holy Trinity, tetapi juga untuk memimpin gereja tersebut. Hingga dua tahun kemudian, yaitu tahun di mana Richard Sibbes wafat, ia tetap melayani sebagai pendeta di Gray’s Inn, sebagai kepala di St. Catherine’s Hall, dan sebagai vikaris di Holy Trinity. Seminggu sebelum Sibbes wafat, ia berkhotbah dari Yohanes 14:2, yaitu:

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Ketika pada hari terakhirnya ditanyai tentang apa yang ia rasakan, Sibbes menjawab, “Aku akan sangat bersalah kepada Allah kalau aku tidak menjawab, Sangat Baik!” Richard Sibbes wafat pada 06 Juli 1635, di usianya yang ke-58 tahun.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kehidupan Richard Sibbes merupakan kehidupan yang begitu diberkati oleh Tuhan dan begitu menjadi berkat bagi orang-orang percaya di sekitarnya. Ia menjalani hidup yang efektif dan produktif menghasilkan buah-buah bagi Kerajaan Allah. Selama hidupnya, Richard Sibbes tidak pernah menikah. Sekalipun begitu, tidak berarti bahwa ia sendirian dan tidak memiliki penolong. Tuhan memberkati Richard Sibbes dengan persahabatan yang erat dan koneksi yang luas dengan rekan-rekan sesama hamba Tuhan, dengan para pakar hukum yang ternama, serta dengan beberapa pejabat di parlemen. Kehadiran mereka, sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan iman Sibbes dan kemajuan pelayanannya. Sibbes menulis pengantar untuk paling tidak tiga belas buku yang ditulis oleh rekan-rekannya, yang juga adalah para Puritan. Ini menunjukkan Richard Sibbes sebagai seseorang yang dapat dipercaya dan merupakan teman yang baik. Mengenai teman-teman sepelayanannya, Sibbes mengatakan sesuatu yang sangat penting untuk kita renungkan:

Sibbes

Semua itu merupakan salah satu tanda bahwa iman yang ada pada Sibbes adalah iman yang sejati dan bahwa ia sungguh-sungguh telah menerima anugerah keselamatan dari Allah. Sebab seperti kata Rasul Yohanes, orang yang sungguh-sungguh lahir dari Allah, pasti akan mengasihi saudari-saudari seiman dengan kasih yang sejati, yaitu kasih Kristus (1 Yohanes 4:7).

Dibanding para Puritan yang lain, yang seringkali terlibat dalam konflik doktrinal yang cukup panas dengan para pengajar yang menyampaikan ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab, Richard Sibbes relatif lebih cinta damai. Di masa yang penuh dengan pergolakan, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kontroversi. Namun, itu tidak berarti bahwa ia adalah orang yang rela berkompromi dengan ajaran yang salah. Ia dengan tegas menentang William Laud yang pada saat itu menjabat sebagai Archbishop (bishop tertinggi di Inggris). Ia juga secara umum menentang ajaran-ajaran gereja Katolik Roma dan Arminianisme. Di saat yang sama, Richard Sibbes juga menjadi inspirasi dan teladan bagi rekan-rekannya. Tiga denominasi gereja terbesar di Inggris saat itu, yakni Anglikan, Presbiterian, dan Independen, menikmati pengaruh baik darinya. Ia adalah “pendetanya para pendeta”, seorang pengkhotbah kenamaan yang lemah lembut dan rendah hati.

Richard Sibbes dikenal terutama karena khotbah-khotbahnya yang berfokus pada Kristus dan persuasif. Beberapa teolog dan sejarawan gereja menyebut khotbah-khotbah Sibbes sebagai persuasi yang paling brilian dan popular di antara seluruh Puritan. Menurut Sibbes, berkhotbah adalah sebuah pembujukan. Baginya, cakupan utama dari sebuah khotbah adalah untuk memikat pendengarnya kepada penghiburan yang hanya akan ditemukan di dalam pemerintahan Kristus yang lembut, aman, bijaksana, dan jaya.

Sibbes

Seperti para Puritan lainnya, Richard Sibbes juga menulis buku. Karya Sibbes yang paling terkenal, mungkin, adalah The Bruised Reed yang mengeksposisi secara mendalam Yesaya 42:3, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.” Richard Baxter mengatakan bahwa tulisan Sibbes ini berpengaruh besar dalam pertobatannya. Martyn-Lloyd Jones, pengkhotbah yang dipakai Tuhan luar biasa pada abad-20, yang juga adalah pengkhotbah favorit saya, pernah berkata:

“Saya tidak akan pernah berhenti berterima kasih kepada Richard Sibbes yang telah menjadi balsam bagi jiwa saya di saat-saat ketika saya terlalu banyak bekerja dan terlalu letih sehingga saya menjadi rentan pada serangan iblis. Di saat-saat yang demikian, Richard Sibbes, yang dikenal di London pada permulaan abad ke-17 sebagai Heavenly Doctor Sibbes, menjadi remedi yang tidak habis-habisnya. The Bruised Reed menenangkan, menghibur, menguatkan, dan menyembuhkan saya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sibbes (2)

Mengapa pria yang sederhana, yang menjalani hidup selibat, dan yang masa hidupnya begitu singkat (wafat di usia 58 tahun) seperti Richard Sibbes bisa begitu berdampak di dalam Kerajaan Allah? Ada beberapa hal utama di dalam kehidupan dan pelayanan Sibbes, yang menjadikannya demikian:

  • Khotbah-khotbah Sibbes sangatlah berfokus pada Kristus. Khotbah yang demikian cukup langka untuk ditemui di zaman ini.
  • Pikiran Sibbes penuh dengan Alkitab. Buku Sibbes yang berjudul The Bruised Reed sangat berlimpah dengan kutipan-kutipan firman Allah. Ini menunjukkan kecintaan dan keyakinan Sibbes kepada firman Allah serta kerendahan hatinya untuk menyadari bahwa apa yang dunia ini butuhkan bukanlah opini atau motivasi yang bersumber dari pemikiran-pemikiran manusia yang terbatas dan seringkali bernoda dengan dosa, melainkan pemikiran Allah sendiri yang tertuang di dalam firman-Nya.
  • Kasihnya untuk orang-orang kudus serta persekutuan dan kerjasama yang sangat baik yang ia jalin dengan saudara-saudara seiman. Hal ini merupakan hal yang sangat memperkenankan hati Tuhan. Ya, kesatuan di dalam tubuh Kristus merupakan salah satu prioritas paling tinggi yang Tuhan kita kehendaki untuk gereja-Nya sebagaimana doa-Nya kepada Bapa, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11).
  • Richard Sibbes menjalani hidup yang kudus dan saleh. Kebergunaan kita di tangan Allah demi Kerajaan-Nya dan demi kebaikan umat-Nya berbanding lurus dengan kekudusan hidup yang kita jalani sebagaimana firman Allah dalam 2 Timotius 2:21, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

Sibbes

Tidak diragukan lagi, generasi ini membutuhkan hamba-hamba Tuhan seperti Richard Sibbes. Kita memang tidak perlu berusaha menjadikan diri kita seperti Sibbes namun itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu belajar dari teladannya. Justru sebaliknya, kita sangat perlu meneladani iman dan ketaatan di dalam hidup Sibbes. Dan tidak hanya Richard Sibbes, ada begitu banyak orang kudus di sepanjang sejarah gereja, misalnya para Puritan, yang dapat dan perlu kita teladani sebagaimana firman Allah berkata:

Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu,
yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu.
Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.
(Ibrani 13:7)

Akan tetapi, tentu tidaklah bijaksana jika kita hanya belajar sejarah mengenai saudara-saudara yang telah mendahului kita itu. Kita perlu berdoa kepada Allah agar Ia menguatkan hamba-hamba-Nya untuk berdiri dan memberitakan kasih dan kebenaran-Nya di zaman yang jahat ini dan agar Ia memenuhkan setiap kita dengan harta terindah yang dapat diberikan oleh Bapa kepada kita, yaitu Roh Kristus, sehingga seperti kata Sibbes:

Sibbes

Amin

*Teman-teman, bacalah karya para Puritan

Pustaka:
http://www.monergism.com/

Rendah Hati di Hadapan Allah, oleh John Owen

Apakah berjalan dengan rendah hati bersama Allah merupakan kepedulian utama kita? Biarlah kita berusaha untuk membawa hati kita rendah hati di hadapan-Nya di setiap hari kita. Mengapa kita, pergi kesana kemari setiap hari, untuk sesuatu yang bukan “roti”?

Pusat hidupku bukanlah tentang –
apakah aku kaya atau miskin,
bijaksana atau tidak bijaksana,
terpelajar atau bodoh;

apakah aku akan hidup atau mati;
apakah akan terjalin perdamaian atau peperangan di antara bangsa-bangsa;
apakah rumahku akan berkembang atau layu;

apakah karuniaku banyak atau sedikit,
besar atau kecil;
apakah aku memiliki reputasi yang baik atau buruk di dunia ini;

melainkan hanyalah apakah aku berjalan dengan rendah hati bersama Allah atau tidak

Bagaimana hidupku dalam urusan ini, demikianlah keadaanku sekarang, demikianlah penerimaanku kelak. Aku telah melelahkan diriku akan banyak hal, namun hanya inilah yang perlu. Apakah yang TUHAN Allahku minta daripadaku, selain ini? Apakah panggilan Kristus untukku, selain ini? Untuk apakah seluruh karya pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam kehidupanku, selain supaya aku dapat berjalan dengan rendah hati di hadapan Allah?

oleh: John Owen

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Owen
“Be killing sin or it will be killing you”

John Owen (1616-1683) dikenal sebagai teolog terbesar yang dimiliki oleh Inggis. Ia dijuluki sebagai “Pangeran para Puritandan “John Calvin dari Inggris”. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai “Teolognya bagi para teolog”. Owen lahir pada tahun 1616 di kota Stadhampton, dekat Oxford, Inggris. Ia adalah putra kedua dari Henry Owen, seorang vikaris Puritan yang mengabdikan hidupnya untuk gereja Tuhan. Sejak kecil, Owen telah dididik oleh ayahnya tentang betapa pentingnya menyembah Tuhan.

Owen kecil merupakan seorang anak yang brilian. Pada usia dua belas tahun, ia menempuh pendidikan formalnya di Queen’s College, Oxford di mana ia mempelajari bahasa Inggris klasik, Matematika, filosofi, teologi, bahasa Ibrani, dan tulisan-tulisan para rabi Yahudi. Di sana, Owen begitu sibuk dan belajar dengan sangat keras. Tidak tanggung-tanggung, ia menghabiskan delapan belas hingga dua puluh jam dalam sehari. Inilah yang menjadi salah satu penyebab buruknya kesehatan Owen yang akan ia sesali di usia tuanya kelak. Pada tahun 1632, Owen meraih gelar Bachelor of Arts dan pada tahun 1635, Master of Arts.

Owen mulai menulis sejak usianya yang ke-26 tahun. Sejak saat itu, ia mulai dikenal sebagai penulis dan dalam empat puluh tahun ia telah menyelesaikan lebih dari 80 karya yang sebagian besar membahas topik Kekristenan. Melalui tulisan dan khotbah-khotbahnya, Owen menjadi sangat terkenal di seluruh Inggris. Setelah Raja Charles I yang jahat diturunkan dari tahta kerajaan dan dieksekusi mati, Oliver Cromwell diangkat sebagai pemimpin kerajaan. Cromwell yang dijuluki Lord Protector of England ini juga merupakan seorang Puritan dan ia berhubungan baik dengan John Owen. Karena kredibilitas baik yang Owen miliki, iapun diangkat untuk menjadi penasehat pribadi Cromwell.

Pada tahun 1644, Owen menikahi Mary Rooke. Mereka dikarunia sebelas orang anak namun sepuluh dari mereka wafat sebelum menyentuh usia dewasa. Di tahun 1640-an akhir, Owen menjadi semakin dikenal  baik melalui khotbah dan tulisan-tulisannya. Ribuan orang selalu berkunjung untuk mendengar ia berkhotbah. Namun, tidak jarang Owen menjadi sangat berduka melihat sedikitnya buah yang dihasilkan dari pelayanannya itu. Suatu kali, ia pernah membandingkan dirinya dengan John Bunyan dan berkata bahwa seandainya ia bisa memiliki karunia Bunyan dalam “menggenggam” hati orang-orang, maka ia akan dengan senang hati menukarkan semua pengetahuan yang ia miliki untuk karunia menyentuh hati seperti yang ada pada Bunyan itu. Pernyataan itu memang menunjukkan kerendahan hati Owen dan kerinduannya untuk melihat jiwa-jiwa diselamatkan namun tentu tidaklah sehat apabila seseorang harus terus hidup di dalam perbandingan seperti itu. Adalah hal yang bijaksana untuk bersyukur atas karunia yang telah Tuhan anugerahkan dan untuk memakai karunia itu sehabis-habisnya untuk kemuliaan Tuhan di jalan yang telah Ia tetapkan secara spesifik untuk masing-masing hamba-Nya.

Pada tahun 1650, Owen ditunjuk untuk menjadi pengkhotbah resmi negara. Tahun-tahun ini merupakan masa yang sangat produktif dalam pelayanan Owen. Tidak hanya itu, Cromwell juga memberi banyak kesempatan pada Owen untuk lebih terlibat dalam bidang politik dan pemerintahan di Inggris. Di tahun 1651, ia menjadi dekan di Christ Church College, Oxford dan satu setengah tahun berikutnya ia menjadi wakil rektor di Universitas Oxford. Melalui kuliah-kuliah teologi yang ia berikan, Owen membangun teologi reformed dan kesalehan hidup menurut tradisi para Puritan di universitas yang luar biasa tersebut. Di bawah kepemimpinan Owen, Oxford bertumbuh tidak hanya dari sisi teknikal tetapi juga dari sisi spiritual. Owen merupakan manager dan pemimpin yang efektif dan membangun.

Hubungan antara John Owen dengan Oliver Cromwell mulai merenggang ketika Owen menolak keinginan Cromwell untuk menjadi raja. Setelah Oliver turun dan digantikan oleh anaknya, Richard Cromwell, kehidupan Owen berubah drastis. Semenjak saat itu, kebebasannya untuk melayani dibatasi di sana-sini. Jabatannya sebagai wakil rektor di Oxford dicabut. Khotbah rutinnya di St. Mary’s Church dihentikan. Di tahun 1660, ia juga diberhentikan dari jabatan kepala di Christ Church. Owen juga menjadi satu dari ribuan hamba Tuhan non-conformist (tidak patuh kepada peraturan Church of England) yang diusir dari gerejanya dan dilarang untuk berkhotbah. Sekalipun demikian, sama seperti para Puritan yang lain, Owen masih melanjutkan pelayanan pemberitaan firman secara sembunyi-sembunyi.

Pada tahun 1676, isteri Owen, Mary Rooke meninggal. Delapan belas bulan kemudian, Owen menikahi seorang janda, Dorothy. Di masa tuanya, Owen menderita asma dan batu empedu. Kesehatannya sangatlah buruk sehingga ia cukup sering menyesali cara hidupnya di masa muda yang begitu giat dalam belajar hingga rela mengorbankan jam-jam tidurnya. Tubuh yang sedemikian lemah seringkali menghalangi Owen untuk berkhotbah namun ia tetap melanjutkan untuk menulis. Di dalam masa-masa ini, ia menulis karya-karyanya yang sangat baik yang mencakup doktrin pembenaran, pola pikir rohani, dan kemuliaan Kristus.

Pada tahun 1683, sehari sebelum hari wafatnya, Owen menuliskan ini ke seorang teman:

Aku akan pergi kepada Dia yang jiwaku kasihi,
atau yang lebih tepat, yang mengasihiku dengan kasih yang kekal
yang merupakan dasar dari seluruh penghiburanku…

Aku meninggalkan kapal gereja di dalam badai
namun selama Sang Pengemudi Kapal yang agung ada di dalamnya,
kepergian si pendayung lemah (Owen menunjuk dirinya sendiri) tidak akan berarti apa-apa.

Hiduplah dan berdoalah,
dan nantikanlah
dan harapkanlah,
janganlah putus asa,
janji-Nya tetap tak tergoyahkan,
yaitu bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita maupun mengabaikan kita.

Pada 24 Agustus 1683, Owen wafat pada usianya yang ke-67. Ia dimakamkan di Burnhill Fields, London, di mana juga dibaringkan rekan-rekannya, para Puritan, yang saat ini sudah menikmati indahnya perjamuan bersama Sang Anak Domba Allah, suatu perjamuan yang kelak akan turut kau dan aku nikmati, jika kita sungguh adalah murid-murid Tuhan Yesus Kristus.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Owen (3)

Tidak diragukan lagi, Kekristenan berhutang sangat banyak pada John Owen. Selama hidupnya, Owen telah menghasilkan karya-karya yang sangat berharga, yang masih menjadi berkat bahkan hingga saat ini, seperti The Glory of Christ, Communion with God, Faith and Its Evidence, Temptation and Sin, Sin and Grace, The Death of Christ, Continuing in Faith, dan The Church and The Bible.

Owen selalu berusaha untuk membahas pribadi, karya, dan keindahan Kristus secara mendalam. Karya yang demikian sangatlah jarang ditemukan hari-hari ini. Mengapa? Sebab pribadi dan Kristus tidak lagi menarik bagi banyak orang yang menyebut dirinya Kristen hari-hari ini. Mereka berbicara tentang berkat-berkat Tuhan, mereka berbicara  mengenai kesembuhan ilahi, mereka berbicara tentang karunia Roh Kudus, mereka berbicara tentang pelayanan, namun jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka sama sekali tidak terkagum-kagum oleh keindahan dan keutamaan Kristus. Itulah “Christless Christianity”, suatu Kekristenan palsu yang tentu akan ditentang mati-matian oleh Owen seandainya saja ia masih hidup hari ini.

Owen

Owen juga menulis beberapa karya penting tentang Roh Kudus, doktrin pembenaran hanya melalui iman (justification through faith alone), kesatuan orang percaya dengan Kristus (union with Christ), jaminan keselamatan bagi orang-orang percaya (assurance of salvation for believers), serta mengenai hidup dan tata tertib gereja. Magnum opus atau karya terbesar John Owen adalah eksposisi Kitab Ibrani yang ditulisnya dalam dua juta kata. Mengenai tulisan ini, J. I. Packer berargumen, “Tidak ada seorangpun, baik sebelum maupun sesudah Owen hingga saat ini, yang dapat menyamai pencapaian Owen ini.” Pendapat Packer ini menurutku cukup valid mengingat Alkitabpun secara keseluruhan hanya terdiri dari 807,361 kata (jika satu sumber yang saya lihat benar).

Owen juga menulis karya yang sangat baik, yang menurutku wajib untuk dibaca oleh setiap orang Kristen, yakni Mematikan Dosa (Mortification of Sin) yang membahas tentang betapa pentingnya arti kekudusan bagi orang percaya serta betapa buruknya dampak dari dosa yang dibiarkan, baik di dalam hidup orang-orang yang tidak percaya maupun di dalam hidup orang Kristen. Buku ini dapat dibeli di Toko Buku Momentum.

Owen (3)

Dipandang dari banyak sisi, misalnya saja dari karya tulis yang Owen hasilkan, keberagaman topik yang ia bahas, kedalaman teologi yang ia ajarkan, kehangatan devosi yang ia hidupi, dan dampaknya bagi Kekristenan baik di zamannya maupun hingga saat ini, John Owen merupakan seorang raksasa dan champion di dalam Kekristenan. Keteladanannya sungguh luar biasa. Aku mengatakan ini bukan untuk mengultuskan atau mengagungkan Owen tetapi untuk mengingatkan dan membuka mata kita semua akan satu hal yang pasti, yaitu bahwa:

Jika John Owen melakukan semua itu dengan kuasa Roh Kudus,
maka kita, yang memiliki Roh Kudus yang sama, juga dapat memberikan dampak yang berarti untuk kerajaan-Nya.

Kita tidak perlu membandingkan karunia yang kita miliki dengan Owen sebab karunia itu diberikan oleh Roh seturut kehendak-Nya secara unik untuk masing-masing orang percaya. Apa yang sangat perlu untuk kita teladani dari Owen adalah perjuangannya untuk mengenal Allah, perjuangannya untuk mencintai dan mengagumi Kristus, serta perjuangannya  untuk patuh dalam tuntunan Roh Kudus. Itu semua butuh kedisipilinan dan fokus. Orang  yang tidak memusatkan seluruh hidupnya untuk mengenal Allah, untuk hidup di dalam kekudusan-Nya, dan untuk menghidupi kebenaran firman-Nya, bukanlah orang Kristen yang sejati atau kalaupun ia benar-benar adalah orang Kristen, tentulah ia masih bayi rohani. Biarlah ini yang selalu menjadi pengejaran di dalam hidup kita, yaitu supaya hidup kita menyenangkan hati-Nya sebagaimana apa yang Tuhan kita sendiri katakan melalui Rasul Paulus:

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat;
karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,
bukan saja seperti waktu aku masih hadir,
tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu
baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
(Filipi 2:12-13)

Semoga Roh Kudus yang senantiasa memimpin Owen dan memampukannya untuk melakukan semua itu, juga menuntun hidup kita di jalan pelayanan yang Ia anugerahkan kepada kita seorang demi seorang.

Dan semoga Allah menganugerahkan kepada generasi yang jahat ini,
hamba-hamba-Nya yang mencintai-Nya,
yang mencintai firman-Nya,
yang mencintai gereja-Nya,
dan semoga Ia mempersiapkan kita semua untuk menjadi hamba-hamba Tuhan yang demikian.

Owen

Amin

*Teman-teman, bacalah karya para Puritan

Pustaka:
http://www.monergism.com/

Tanda Orang Kristen, oleh Samuel Rutherford

Kepada John Clark
dari Samuel Rutherford di Aberdeen

Kau adalah seorang Kristen yang sejati apabila kau memiliki tanda-tanda ini:

  1. Jika kau memandang berharga Kristus dan kebenaran-Nya seakan-akan kau siap menjual segala sesuatu yang kau miliki untuk membeli Dia dan rela menderita untuk itu.
  2. Jika kasih Kristus mencegahmu dari berbuat dosa dan jika kasih itu lebih mampu menjauhkanmu dari dosa dibanding hukum Taurat atau rasa takutmu akan neraka.
  1. Jika kau merendahkan hati dan menyangkal semua kehendakmu, kepandaianmu, nama baikmu, kesenanganmu, kehormatanmu, dunia ini, serta keangkuhan dan kebanggaan yang berasal dari semua itu.
  1. Imanmu tidak boleh kosong dan tanpa perbuatan-perbuatan baik.
  1. Kau harus, di dalam segala sesuatu, berjuang untuk kemuliaan Allah. Kau harus makan, minum, tidur, berbelanja, berjualan, duduk, berdiri, berbicara, berdoa, serta membaca dan mendengar firman Allah dengan tujuan hati supaya Allah dimuliakan.
  1. Kau harus menunjukkan dirimu sebagai seorang yang bermusuhan dengan dosa dan kau harus menentang semua perbuatan kegelapan, seperti kemabukan, sumpah serapah, dan dusta, sekalipun kawan-kawanmu membencimu karena hal tersebut.
  1. Tanamkanlah dalam benakmu setiap kebenaran Allah yang aku ajarkan padamu dan jangan pedulikan semua ajaran baru yang menyeleweng dan menyamar masuk ke dalam rumah Tuhan.
  1. Dengarkan hati nuranimu dalam setiap panggilanmu, dalam perjanjian, dalam berbelanja dan berjualan.
  1. Biasakanlah dirimu untuk berdoa setiap hari; serahkanlah semua rencana dan pekerjaanmu kepada Tuhan melalui doa, permohonan, ucapan syukur. Dan janganlah bersusah hati apabila kau dicela sebab Kristus Yesus telah terlebih dahulu dicela sebelum engkau. Ingatkanlah dirimu bahwa semua itu merupakan jalan menuju kedamaian dan penghiburan yang karenanya aku menderita saat ini. Aku bersedia menuju kematian dan ke dalam kekekalan bersamanya, sekalipun mungkin orang-orang akan melihat jalan yang lain. Ingatlah aku dan ingatlah keadaan gereja yang teraniaya ini di dalam doa-doamu. Semoga kasih karunia selalu bersamamu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

A

Humilty is a strange flower.
It grows best in winter weather and under storm of affliction.

Samuel Rutherford (1600-1661) merupakan seorang Covenanter dari Skotlandia. Ia lahir di desa Nisbet, Roxburghshire, Skotlandia. Tidak banyak yang diketahui mengenai masa kecil Rutherford. Samuel menempuh pendidikan formal di Jedburgh Grammar School kemudian melanjutkan studinya di Universitas Edinburgh. Ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam bahasa Yunani dan Latin. Pada usianya yang ke-21, ia lulus dari universitas tersebut dengan gelar Master of Art.

Pada tahun 1623, Rutherford menjabat sebagai Professor of Humanity di kampusnya dan menjadi pengajar bahasa Latin di sana. Kira-kira dua tahun tahun kemudian, ia bertobat dan menyerahkan diri-Nya pada Kristus. Sejak saat itu, ia mulai banyak mempelajari teologi di bawah binaan Andrew Ramsay. Pada titik itu, Rutherford berpikir bahwa ia telah menyia-nyiakan hidupnya dengan berada di luar Kristus. Iapun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya.

Pada tahun 1627, Rutherford dipercaya untuk melayani sebagai pastor di Anwoth, Kirkcudbrightshire. Di sana, ia melayani Allah dan jemaat gembalaannya dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga. Salah seorang yang mengenal Rutherford pernah memberikan kesaksian mengenainya, “Saya telah mengenal banyak hamba Tuhan yang baik dan luar biasa di gereja ini, tetapi untuk seonggok tanah liat seperti Tuan Rutherford, saya tidak pernah melihat satupun di Skotlandia ini yang seperti dia, yang kepadanya dianugerahkan karunia-karunia yang luar biasa, karena ia penuh dengan segala yang baik, istimewa, dan berguna. Dia selalu berdoa, selalu berkhotbah, selalu mengunjungi orang sakit, selalu mengajar, selalu menulis dan belajar… Seringkali saya berpikir ia akan melayang meninggalkan mimbar tiap kali ia berbicara tentang Yesus Kristus. Dia tidak pernah benar-benar berada dalam kondisi terbaiknya sebelum ia berbicara tentang Dia. Dia bahkan mungkin tertidur di ranjangnya sambil berbicara tentang Kristus.”

RutherfordSekalipun demikian, masa-masa pelayanan Rutherford di Anwoth merupakan masa yang sukar baginya. Selama satu tahun lebih isteri Rutherford, Euphame Hamilton, menderita penyakit yang kronis sebelum akhirnya meninggal dunia. Tidak lama setelah itu, Allah juga memanggil kedua anak mereka. Rutherford sendiri menderita demam yang serius selama masa yang penuh duka itu. Pada tahun 1635, ibu Rutherford, yang tinggal bersama mereka, juga wafat.

Semua hal tersebut sangat mendukakan hati Rutherford. Itu sangat tidak mudah baginya. Sekalipun ia adalah seorang yang taat dan saleh, ia masih sering bergumul dalam mengendalikan emosinya. Ia juga seringkali mengalami depresi. Tidak hanya itu, pergumulan juga datang dari jemaat yang Rutherford gembalakan. Pelayanannya di Anwoth dapat dianggap menghasilkan buah yang sedikit. Ia sendiri pernah menyebut masa-masa yang sukar itu dengan “musim dingin spiritual di Anwoth…” Namun, entah Rutherford menyadarinya atau tidak, sangatlah jelas bahwa melalui semua penderitaan yang Rutherford alami itu, Allah sedang mempersiapkannya untuk menjadi hamba-Nya yang nantinya akan membawa penghiburan bagi anak-anak-Nya, salah satunya tentu saja melalui surat-surat Rutherford yang akan ia tulis di kemudian hari.

Setelah sembilan tahun melayani sebagai pastor, pada Juli 1636, masalah yang cukup serius datang kepada Rutherford. Sebagai seorang presbitarian, ia tidak bersedia untuk tunduk (seringkali disebut non-conformist) pada peraturan gereja Skotlandia yang didominasi oleh teologi Arminian. Oleh karena ketetapan hatinya itu, Rutherford dipaksa untuk meninggalkan jemaatnya di Anwoth. Ia dilarang untuk berkhotbah di manapun di Skotlandi. Tidak hanya itu, ia juga diasingkan ke Aberdeen dengan jangka waktu yang tidak pasti.

Hal ini membawa penderitaan yang luar biasa bagi Rutherford. Baginya, dipisahkan dari jemaat yang ia kasihi merupakan penderitaan yang tak tertahankan. Namun, siapa sangka? Di dalam providensi Allah yang penuh kasih setia dan tidak pernah melupakan hamba-Nya, justru di dalam dua tahun pengasingan inilah Rutherford banyak menulis surat-suratnya yang sangat terkenal, yang tidak hanya menjadi berkat dan penghiburan bagi jemaatnya di Anwoth tetapi yang juga mampu menembus batas waktu dan memberkati banyak orang Kristen hingga sampai saat ini. Hal ini sekali lagi menegaskan kepada Rutherford dan kita sekalian, bahwa Allah seringkali bekerja di dalam setiap penderitaan untuk menunjukkan kasih dan kuasa-Nya yang jauh lebih dahsyat bahkan dibanding kegelapan penderitaan itu sendiri.

RutherfordSetelah revolusi besar di Skotlandia oleh para covenanter pada tahun 1638, Rutherford kembali ke Anwoth yang ia kasihi dan rindukan. Namun, itu tidak untuk waktu yang lama. Kirk atau gereja Skotlandia menunjuk Rutherford untuk menjadi Professor of Divinity di St Mary’s College, St Andrews. Tugas baru ini membuat Rutherford tidak lagi begitu leluasa untuk berkhotbah dan melayani jemaatnya. Rutherford menerima tanggungjawab tersebut dengan syarat ia diizinkan untuk berkhotbah secara rutin setidaknya satu kali dalam seminggu.

Pada tahun 1643, Westminster Assembly mengadakan suatu rapat besar. (Rapat inilah yang akhirnya menghasilkan dokumen-dokumen seperti Pengakuan Iman Westminster dan Katekismus Westminster yang sangat besar pengaruhnya bagi Kekristenan dan masih sangat banyak digunakan hingga saat ini). Samuel Rutherford merupakan satu dari enam orang wakil Skotlandia yang ditunjuk untuk hadir dan menyumbangkan pemikiran-pemikirannya di rapat tersebut. Rutherfod Di dalam pertemuan tersebut, Rutherford memberikan pengaruh yang besar, terutama dalam penyusunan Shorter Cathecism yang hingga saat ini masih banyak digunakan sebagai panduan praktis bagi hamba-hamba Tuhan atau jemaat yang benar-benar berhasrat untuk mengenal, memuliakan, dan menikmati Allah di dalam Kristus Yesus.

Di Westminster, London ini, Rutherford juga melayani sebagai pengkhotbah selama paling tidak empat tahun. Pada periode ini, Rutherford menulis dan mempublikasikan lima bukunya yang paling penting. Buku yang menjadi magnum opus atau karya terbesar Rutherford berjudul “Lex Rex” yang berarti “Hukum dan Raja” dipublikasikannya pada tahun 1644. Di dalam buku tersebut, Rutherford menentang kedaulatan dan kekuasaan raja yang tidak terbatas dan berpendapat bahwa rakyat seharusnya berhak untuk mengangkat seseorang menjadi raja atau menurunkannya dari tahta kerajaan. Pada tahun 1647, Rutherford kembali ke St. Andrews dan pada tahun 1651, ia menjadi rektor di St Mary’s. Ia menghabiskan empat belas tahun terakhir dalam hidupnya dengan mengajar dan berkhotbah di St. Andrews.

Pada tahun 1660, setelah Oliver Cromwell, pejuang Inggris terbesar itu, wafat dan Charles II diangkat menjadi raja, pemerintahan Inggris dikembalikan menjadi sistem monarki. Dalam kondisi tersebut, sudah bisa dipastikan bahwa siapapun yang menulis buku “Lex, Rex” akan mendapat masalah yang sangat besar karena buku tersebut tidak sesuai dengan sistem pemerintahan monarki. Pada tahun 1661 (satu tahun sebelum peristiwa The Great Ejection), raja memerintahkan pemerintah setempat untuk untuk memusnahkan semua buku “Lex, Rex” dan untuk membawa Rutherford ke meja pengadilan dengan tuduhan pemberontakan terhadap raja. Ancaman hukuman yang menanti pemimpin besar seperti Rutherford adalah hukuman gantung. Rutherford tahu akan hal itu dan menganggap bahwa merupakan suatu kehormatan bagi dirinya apabila ia harus mati demi Juruselamatnya.

Namun, ketika Rutherford akan segera diadili, kondisi tubuhnya sudah sangat buruk. Ketika diminta untuk memenuhi panggilan pengadilan, ia menolak. Dari ranjang tempat dirinya terbaring, Rutherford berkata kepada orang-orang yang hendak menangkapnya:

Aku sudah lebih dahulu diminta untuk menghadap Hakim dan Pengadilan yang Agung.
Aku harus memenuhi panggilan pertamaku itu.
Dan sebelum hari persidangan yang kalian adakan untukku,
aku sudah berada di suatu tempat
di mana para raja dan orang-orang besar berkumpul
.”

RutherfordApa yang Rutherford katakan benar-benar terjadi. Pada tanggal 30 Maret 1661, sebelum pengadilan kerajaan berhasil membawa Rutherford ke meja persidangan, Tuhan telah terlebih dahulu memanggil Rutherford untuk pulang ke istana-Nya.

Seperti para Puritan lainnya, Rutherford juga menghasilkan banyak karya tulis. Selain Lex, Rex dan 365 surat-suratnya, tulisan lain seperti The Covenant of Life Opened, The Power of Faith and Prayer, dan The Trial and Triumph of Faith juga masih banyak beredar hingga saat ini.

Rutherford merupakan seorang hamba Tuhan yang penuh dengan Roh Kudus. Allah menganugerahkannya talenta, karunia, hikmat, dan kasih yang berlimpah sehingga ia dapat menjadi alat yang efektif di tangan-Nya untuk memperkokoh Kerajaan-Nya di bumi, khususnya di tanah Skotlandia. Satu hal yang menjadi jangkar bagi semua itu, yakni kecintaan Rutherford kepada Juruselamatnya, yakni Tuhan Yesus Kristus.

Kasih kepada Kristus itu tidak berasal dari Rutherford sendiri. Tuhanlah yang menanamkan kasih itu dan memampukannya untuk tetap setia dan mengasihi Anak-Nya. Itu semua adalah anugerah. Dan apabila itu adalah anugerah, itu berarti kau dan akupun bisa memiliki rasa cinta yang sedemikian besar pada Kristus, Tuhan kita. Oleh sebab itu, marilah kita berdoa agar Allah menanamkan kasih itu ke dalam setiap hati kita.

Marilah kita meminta kepada-Nya…
Dan apabila Ia belum memberikannya, mari kita mencari-Nya…
Dan jika Ia belum juga menganugerahkannya, mari kita datang ke pintu sorga-Nya…
Mari kita ketuk dan berkata:

Tuhan Yesus Kristus, aku membutuhkan Engkau!
Aku sadar satu hal:
Aku tidak mengasihi-Mu sebagaimana seharusnya aku mengasihi-Mu

Oleh sebab itu, ya Tuhan
Satu hal yang kurindukan, buatlah aku mencintai Engkau.

Semoga Allah membangkitkan hamba-hamba-Nya seperti Samuel Rutherford, yang tidak hanya penuh kuasa, tetapi juga rendah hati.

Rutherford
Amin…

*Pembaca yang terkasih, bacalah para Puritan

Dokter Terbaik, oleh Thomas Watson

Kristus adalah dokter terbaik.

Kristus merupakan dokter yang paling mahir. Tidak ada penyakit yang terlalu berbahaya bagi-Nya. “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu.” (Mazmur 103:3). Ia mampu menyembuhkan kebusukan dosa di dalam hati. Ia mampu meluluhkan hati yang keras dan membasuh hitamnya dosa dengan darah-Nya. Tidak ada keputusasaan di dalam setiap kasus yang Kristus tangani. Ia memiliki salep, minyak, dan balsam yang mampu menyembuhkan penyakit yang terburuk sekalipun.

Kristus adalah dokter yang paling murah. Sakit penyakit tidak hanya menghabiskan tubuh, tetapi juga uang (Lukas 8:43). Para dokter menarik biaya, tetapi Kristus memberikan kita obat secara gratis. Ia tidak menarik biaya sedikitpun. “Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” (Yesaya 55:1). Ia mau kita datang tanpa membawa apapun, selain hati yang remuk; dan setelah Ia menyembuhkan kita, Ia tidak menginginkan apapun dari kita selain kasih yang kita miliki, dan setiap orang yang sudah Ia sembuhkan pasti akan berpikir bahwa itu merupakan pemberian yang sangat masuk akal.

Kristus menyembuhkan dengan lebih mudah dibanding dokter manapun. Dokter-dokter lain memakai pil atau obat. Kristus menyembuhkan dengan lebih mudah. Kristus membuat iblis pergi hanya dengan perkataan (Markus 9:25). Jadi, ketika jiwa seseorang sedang dikuasai si jahat, Ia mampu menyembuhkan orang itu hanya dengan firman-Nya. Tidak hanya itu, Ia juga mampu menyembuhkan hanya dengan tatapan mata. Ketika dosa Petrus kambuh dan ia terjatuh dalam kesombongannya, Kristus memandangnya dan ia menangis. Tatapan mata Kristus meluluhkan hati Petrus dan membawanya kepada pertobatan; tatapan mata-Nya merupakan tatapan yang menyembuhkan.

Dokter-dokter yang lain mampu menyembuhkan mereka yang sakit – Kristus menyembuhkan mereka yang mati. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” (Efesus 2:1)

Kristus tidak hanya menyembuhkan penyakit tetapi juga kecacatan. Dokter mampu menyembuhkan orang sakit; tetapi apabila ia cacat, sang dokter tidak mampu membuatnya elok. Kristus tidak hanya memberikan kesembuhan tetapi juga keindahan. Dosa telah membuat kita menjadi buruk rupa dan cacat. Obat dari Kristus tidak hanya melenyapkan penyakit kita tetapi juga kecacatan kita. Ia tidak hanya membuat kita utuh tetapi juga indah. Ia tidak hanya menyembuhkan tetapi juga mempercantik.

Terakhir, Kristus adalah dokter yang paling murah hati. Para pasien lain memperkaya dokter-dokter mereka; tetapi Kristus memperkaya kita. Kristus memajukan semua pasien-Nya. Ia tidak hanya memulihkan mereka tetapi juga memahkotai mereka (Wahyu 2:10). Kristus tidak hanya membangkitkan orang sakit dari tempat tidur tetapi juga membawanya kepada singgasana. Ia tidak hanya memberikan kepada orang sakit kesehatan tetapi juga sorga.

Oh, alangkah indahnya kasih dari Dokter sorgawi. Kristus sendiri yang meminum cawan pahit yang seharusnya kita minum, dan karena Ia meminumnya, kita disembuhkan dan diselamatkan. Oleh karena itu, Kristus telah menunjukkan kasih yang lebih besar dari apapun yang pernah diberikan seorang dokter kepada pasiennya.

Dikutip dari khotbah Thomas Watson, “The Soul’s Malady and Cure

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Thomas Watson

“If you would have peace,
make war with sin.”

Thomas Watson (1620-1686) merupakan seorang pendeta Puritan sekaligus penulis. Sangat sedikit hal yang diketahui mengenai keluarga dan kehidupan masa kecilnya. Tanggal lahir dan wafatnya pun tidak diketahui dengan pasti. Namun, tidak diragukan lagi bahwa Thomas Watson merupakan seorang Puritan yang paling banyak digemari. Siapa saja yang mendengar khotbahnya atau membaca karyanya, akan merasakan bahwa Watson memiliki karunia dan talenta yang unik yang membuat setiap pesannya, entah mengapa terasa lebih menyentuh, hangat, dan mudah dimengerti, dibanding para Puritan lain yang juga terkenal seperti John Owen dan Richard Baxter (ini pendapatku pribadi by the way).

Watson menempuh pendidikan di kampus yang sangat terkenal, yaitu Emmanuel College, Cambridge. Kampus ini sering disebut “School of Saints” karena banyak dari lulusan sekolah ini yang Tuhan pakai menjadi penginjil dan pelayan yang sejati di tengah-tengah masa yang gelap dan penuh dengan penderitaan itu. Setidaknya ada sekitar delapan puluh Puritan yang berasal dari sekolah ini, termasuk di antaranya tokoh yang juga cukup dikenal baik seperti Thomas Brooks dan Stephen Carnock. Di kampus yang penuh dengan orang yang sungguh-sungguh ingin melayani Tuhan ini, Watson dikenal sebagai mahasiswa yang paling rajin dan paling keras dalam bekerja. Watson lulus dari sekolah ini dengan gelar kehormatan.

Watson

Pada tahun 1646, Watson dipercaya untuk menjadi pendeta di gereja St. Stephen’s Walbrook di kota London. Di sana, Watson melayani selama kurang lebih enam belas tahun. Sekitar tahun 1647, Watson menikah dengan Abigail Beadle, putri seorang Puritan dari Essex. Tuhan mengaruniakan mereka tujuh orang anak namun empat dari mereka meninggal dunia di umur mereka yang masih sangat belia.

Selama masa Perang Sipil, Watson memegang paham Presbitarian. Ia cenderung berpihak pada pemerintahan yang sedang berjalan. Tidak seperti kebanyakan Puritan, Watson tidak setuju dengan keinginan Oliver Cromwell untuk merebut pemeritahan dari Raja Charles I yang terkenal begitu sombong dan jahat. Setelah Raja Charles ditangkap dan dieksekusi mati, Watson tetap berusaha untuk menurunkan Cromwell dari kekuasaan. Pada tahun 1651, bersama dengan beberapa rekannya seperti Christopher Love dan William Jenkyn, yang juga Puritan, Watson berusaha untuk mengangkat Charles II sebagai raja. Namun, usaha mereka gagal dan mereka tertangkap. Love dijatuhi hukuman mati sementara Watson dan rekan-rekannya dijebloskan ke penjara.

Pada 30 Juni 1652, setelah Cromwell wafat dan Charles II berhasil meraih kekuasaan, Watson akhirnya dibebaskan dari penjara setelah ia mengajukan permohonan pengampunan. Setelah itu, Watson kembali dipercaya secara sah untuk menjadi hamba Tuhan di St. Stephen’s Walbrook di mana ia menjadi pengkhotbah yang begitu terkenal.

Pada tahun 1662, Charles II mengeluarkan Act of Uniformity yang mewajibkan semua pastor untuk mematuhi serta menyelaraskan diri dengan peraturan yang diterapkan oleh Church of England, salah satunya yaitu untuk menganut ajaran yang tertuang dalam Book of Common Prayer. Sebagai seorang Puritan yang berhasrat memurnikan ajaran Kekristenan, yang saat itu telah banyak dinodai oleh tradisi Katolik Roma, untuk kembali (reform) kepada ajaran Alkitab, Watson tentu menolak perintah tersebut. Sebagai akibatnya, Watson menjadi salah seorang pastor yang harus mengalami pahitnya peristiwa yang dikenang sebagai The Great Ejection, di mana ia dan lebih dari dua ribu pastor lain, yang tidak bersedia untuk berkompromi akan kebenaran, terpaksa harus meninggalkan gereja di mana mereka melayani.

Tidak menyerah dengan peristiwa yang begitu memilukan itu, Watson diam-diam melanjutkan pelayanan pribadinya di tempat-tempat seperti lumbung-lumbung, rumah, bahkan hutan ketika ada kesempatan yang aman untuk berkhotbah.

Watson

Angin segar Allah berikan pada tahun 1672 melalui dikeluarkannya Declaration of Indulgence. Dengan peraturan baru ini, Watson diizinkan untuk kembali berkhotbah dan ia dipercaya untuk melayani jemaat di suatu aula yang besar di Crosby House. Di sana, Watson melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raganya hingga akhirnya kesehatannya menjadi sangat buruk. Pada tahun 1686, Watson memutuskan untuk pensiun dan ia pindah ke Barstorn di Essex. Di tahun yang sama, Tuhan kita memanggil Watson untuk pulang ke rumah-Nya ketika ia sedang sendirian berdoa. Watson dimakamkan pada 28 Juli 1686.

Seperti para Puritan lain, Thomas Watson juga menulis beberapa buku. Beberapa karyanya yang sangat terkenal antara lain The Body of Divinity (magnum opus atau karya terbaik Watson), The Mischief of Sin, The Godly Man’s Picture, dan Heaven by the Storm.

Watson merupakan pria yang sangat brilian. Ia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam berbahasa Latin, Yunani, dan Ibrani. Dalam setiap khotbah dan tulisannya, Watson sering mengutip banyak ayat Alkitab, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yang menunjukkan bahwa ia memahami, menguasai, dan menghapal Alkitab dengan sangat baik – suatu kemampuan yang sangat sulit dimiliki di zaman yang tidak mengenal komputer dan google itu.

Watson juga memiliki wawasan yang sangat luas dalam biadang sejarah, botani, medis, fisika, logika, mitologi, ekonomi, dan natur manusia. Pengetahuan yang luas itu sering sekali dipakai oleh Watson untuk membuat kiasan (word picture) untuk menggambarkan setiap hal yang ingin ia sampaikan. Ketika banyak pendeta membutuhkan kalimat yang panjang untuk menjelaskan hal-hal teologis yang sulit dimengerti, Watson membutuhkan kiasan dan kalimat yang jauh lebih sedikit. Ia menyampaikan firman Tuhan dengan begitu imajinatif dan seringkali melalui puisi. Mungkin itulah sebabnya pesan-pesan Watson menjadi begitu indah, hangat, dan sederhana namun di saat yang sama juga sangat jelas dan tajam. Pengajaran Watson menyentuh dan menetap di pikiran dan hati setiap pembaca dan pendengarnya.

Tidak diragukan lagi, dunia ini membutuhkan hamba Tuhan seperti Thomas Watson.

Watson 3

*Guyz, percayalah padaku akan satu hal ini:
Bacalah Puritan!
Belilah buku mereka di Momentum!
Dengarlah khotbah mereka di Youtube!