Jangan Ikuti Perasaanmu!

Emosi atau perasaan adalah hal yang sangat kuat, namun perasaan mengungkapkan tidak lebih dari suatu informasi. Kita tidak pernah boleh dengan tanpa berpikir bertindak atas informasi tersebut tanpa mengevaluasinya terlebih dahulu.

Langkah terbaik untuk mengevaluasi emosi atau perasaan Anda adalah dengan membawa informasi itu kepada Tuhan. Ingatlah bahwa sebagai manusia, kita bukanlah sumber dari kebenaran. Jika kita mencoba untuk menetapkan keabsahan dari emosi-emosi dan pikiran-pikiran kita mengenai pasangan kita tanpa tanpa mengikutsertakan Allah ke dalamnya, maka kita terancam akan percaya kepada dusta.

Saya tidak ingin memercayai pemahaman dan persepsi saya sendiri tentang apa yang istri saya lakukan; saya ingin perspektif Allah karena pada akhirnya, Dialah Sumber Kebenaran.

~ Greg Smalley ~

Kata Yesus kepadanya: 

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.”
(Yohanes 14:6)

Link:
https://www.focusonthefamily.com/marriage/communication-and-conflict/to-resolve-conflict-open-your-heart

Advertisements

Tujuan Bersama di Dalam Pernikahan

Sebuah pernikahan yang tanpa arah akan segera menjadi pernikahan yang tanpa makna dan tujuan, oleh sebab itu, tetapkanlah suatu tujuan bersama.

Mungkin tujuan kalian mencakup melunasi utang, membuka suatu bisnis, meneruskan iman kepada generasi selanjutnya, bertemu muka dengan tetangga dekat, melayani bersama di gereja atau di sebuah dapur sup. Temukanlah beberapa tujuan bersama yang kalian berdua bergairah untuk mengejarnya bersama-sama.

~ Joshua Straub ~

Link:
https://www.focusonthefamily.com/marriage/communication-and-conflict/5-ways-to-stay-on-the-same-team

Penyebab Utama Perceraian

Seorang pakar di bidang relasi secara mencengangkan menyatakan bahwa penyebab utama perceraian bukanlah persoalan seks, uang, atau komunikasi, melainkan ekspektasi yang tidak terpenuhi.

Bukan hanya menjadi akar frustasi dalam pernikahan, ekspektasi yang tidak terpenuhi merupakan akar dari frustasi di seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sangatlah bijaksana jika kita tidak menaruh ekspektasi yang berlebihan dan tidak realistis di dalam pernikahan ke pundak pasangan kita. Pernikahan merupakan hal yang sangat besar dan berat. Jangankan pasangan kita seorang diri, kita berdua bersama pasangan kita pun tidak akan sanggup menopang suatu pernikahan dengan kekuatan kita.

Hanya ada satu Pribadi yang sanggup menopang pernikahan kita.
Hanya ada satu Pribadi yang sanggup memenuhi seluruh ekspektasi kita.
Dan Dia adalah Allah kita.

Turunkanlah ekspektasi kita kepada pasangan kita hingga batas yang sewajarnya dan yang dapat ditanggung serta dipenuhinya. Sebaliknya, tambah-tambahkanlah iman, pengharapan, dan ekspektasi kita kepada Allah sebab itulah yang Ia kehendaki dari kita dan hanya Dialah yang sanggup menanggung dan memenuhinya.

Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.
(Mazmur 62:9)

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
(1 Petrus 5:7)

Sebab itu janganlah kamu kuatir… Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
(Matius 6:31-33)

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
(Filipi 4:6-7)

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya.
(Efesus 3:20-21)

Amin

Apa yang Paling Dibutuhkan oleh Suami dan Istri

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain,
penuh kasih mesra dan saling mengampuni,
sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
(Efesus 4:32)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Apa yang selalu kami (David Mathis dan istrinya) paling butuhkan dalam sepuluh tahun pernikahan kami ini adalah menjadi seorang Kristen terhadap satu sama lain. Dan apa yang selalu paling menjadi katalis untuk itu adalah keramahan.

~ David Mathis ~

Pernikahan yang Kudus

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,
maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

(Matius 6:33)

“Hidup yang “kecil” tidak mampu menopang pernikahan yang besar.
Hidup yang “kecil” tidak mampu menopang pernikahan yang besar.

Jika engkau menikah karena alasan yang egois, yakni untuk memiliki hidup yang “kecil”, saya tidak peduli seberapa cantik, terkenal, dan kaya mereka, semua itu tidak akan bertahan lama. Namun, jika engkau menikah dengan seseorang yang bersama dengannya kau bisa mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka apa yang kau cintai dari orang itu akan menjadi semakin dalam, tiga-empat dekade ke depan di dalam pernikahan. Itu tidak akan luntur sekalipun secara fisik keberahian menurun seiring berjalannya waktu.”

-Gary Thomas-

Link khotbah Gary Thomas, “Sacred Marriage”

Adoniram Judson – Surat Lamaran Terindah

Adoniram Judson (1788 – 1850)
adalah misionaris Amerika pertama yang diutus keluar negeri
Dia diutus ke Birma (Myanmar) dan melayani di sana selama sekitar 40 tahun

Keputusan untuk menjadi misionaris dia buat ketika dia berumur 24 tahun
Sebelum dia pergi, Tuhan mempertemukannya dengan seorang gadis, Anne Hasseltine
Ternyata gadis itu adalah gadis yang Tuhan rancang menjadi penolong bagi Judson
Mereka jatuh cinta
Dan Judson ingin membawa serta Anne ke ladang misinya
Pada saat itu, Anne masih 23 tahun
#Jika dibanding usiaku saat ini, 23 tahun
sangat jelas, aku sama sekali tidak ada apa-apanya dengan mereka

Sebelum membawa serta Anne
Judson perlu melamar Anne ke orangtuanya terlebih dahulu
Dan untuk itu, Judson menulis surat kepada sang Ayah

Inilah petikan surat itu

—————————
Kini saya harus bertanya, relakah Anda berpisah dengan putri Anda di awal musim depan
dan untuk tidak melihatnya lagi di dunia ini;
dapatkah Anda merelakan kepergiannya
dan pengabdiannya pada kehidupan misonaris yang sengsara dan menderita;
dapatkah Anda menerima betapa dekatnya ia dengan bahaya yang mengancam di samudera,
pengaruh iklim selatan India yang mematikan,
penganiayaan, dan mungkin kematian yang mengenaskan.

Dapatkan Anda merelakan semua ini,
demi Yesus yang telah meninggalkan rumah surgawi-Nya,
dan mati bagi putri Anda dan Anda sendiri;
demi jiwa-jiwa abadi yang nyaris binasa;
demi Sion dan demi kemuliaan Allah?

Dapatkah Anda menerima semua ini,
dengan harapan untuk segera menjumpai putri Anda di dunia kemuliaan,
dengan bermahkotakan kebenaran?
—————————

Sang Ayah menyerahkan semua keputusan kepada Anne
Dia tidak menahan Anne walaupun konsekuensinya
tidak akan bertemu dengan anak gadisnya lagi
Pengorbanan sang Ayah, sudah jelas, luar biasa

Akhirnya, Anne pun memutuskan untuk mengikuti Judson

Menurutmu apa yang akan dialami oleh Judson dan Anne?
Badai
Iklim yang sangat berbeda
Sakit penyakit
Kelaparan
Perbedaan bahasa
Ditolak
Dianiaya
Mungkin dibunuh

Tapi kok bisa yah mereka mau menjadi misionaris?

Aku tidak bisa berkomentar apa-apa
Jelas, mereka dalah pengikut Kristus
Mereka bukan sekadar penggemar-Nya yang penuh semangat

Mereka tidak sekadar duduk di bangku penonton
Dan melihat Yesus bekerja
Kemudian mereka hanya bersorak-sorak tanpa ikut serta

Tidak demikian mereka
Mereka adalah pengikut Kristus
Mereka bertiga, Judson, Anne, dan sang Ayah
mengorbankan apa yang sangat penting bagi mereka

Mereka menyangkal diri mereka
Mereka memikul salib mereka
Mereka “mati” atas keinginan dan nafsu mereka
Dan mereka mengikut kemana Yesus pergi

Bagaimana dengan kita?
Apakah kita benar-benar pengikut Kristus?
Atau hanya sekadar penggemarnya?

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”
Matius 16:24