Kepastian Berkat

“Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dari Mesir?

Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. Maka nama-Mu akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam, Allah Israel adalah Allah bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu. Sebab Engkau, ya Allahku, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. Oleh sebab itu, ya TUHAN, Engkaulah Allah dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.

Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.

Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.”

(1 Tawarikh 17:16-27)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Salah satu pilar kebenaran yang paling penting di dalam iman Kristen adalah kepastian keselamatan. Kepastian keselamatan adalah anugerah kekal Allah yang menjamin bahwa keselamatan umat-Nya bersifat permanen dan tidak akan pernah bisa hilang. Keselamatan itu Ia karuniakan kepada jemaat-Nya melalui iman di dalam Tuhan Yesus Kristus (Roma 3:20-24).

Keselamatan itu bersifat pasti dan permanen bukan karena mereka adalah orang-orang yang sempurna atau yang sanggup menjaga keselamatannya hingga akhir. Justru sebaliknya, sekalipun telah beroleh keselamatan dan dibawa ke dalam proses pengudusan hidup, mereka masih dapat jatuh ke dalam dosa dan masih mungkin meragukan-Nya pada suatu waktu di dalam hidup mereka. Jadi, mengapa keselamatan itu kekal? Keselamatan itu kekal karena karya-Nya di dalam hidup umat-Nya, yakni di mana Roh Kudus terus menerus mengerjakan kemauan dan pekerjaan baik di dalam hidup mereka (Filipi 2:13), memimpin mereka (Roma 8:14), dan memeteraikan mereka (2 Korintus 1:22), Kristus terus menerus menjadi Pengantara dan Pendoa syafaat bagi mereka (Ibrani 7:25, 1 Yohanes 2:1), dan Bapa terus menerus memegang mereka di dalam tangan-Nya yang kuat (Yohanes 10:27-30). Oleh sebab itu, biarlah kita teguh dan pasti akan hal ini, yakni bahwa keselamatan kita pasti, permanen, dan kekal adanya karena Dia sendiri yang meneguhkannya di dalam hati dan hidup kita, sebagaimana apa yang Rasul Paulus katakan, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Filipi 1:6)”.

MacArthur

Itu merupakan kabar baik yang luar biasa. Namun, doa Daud di dalam firman di atas membukakan mata kita akan janji luar biasa lain yang juga Tuhan sediakan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Janji itu juga merupakan sebuah kepastian. Namun, Daud tidak secara khusus berbicara mengenai kepastian keselamatan melainkan inilah yang ia ucapkan:

Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.

Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.

(1 Tawarikh 17:27)

Apakah yang Daud maksud? Ya, Daud berbicara tentang kepastian berkat. Daud bersyukur dan mengaku percaya di hadapan TUHAN, Allahnya dan Allah kita, bahwa Ia akan senantiasa memberkati mereka yang Ia berkati. Oh betapa indahnya penuturan Daud, “Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.” Pengakuan ini menyatakan kembali kepada kita akan dua karakter Allah kita, yakni bahwa Ia itu penuh kasih dan setia. Biarlah karakter-Nya ini menjadi bantal yang empuk bagi kita sehingga seberat apapun pergumulan kita di dunia ini, kita dapat berkata seperti Daud, “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman (Mazmur 4:9).”

Lawson

Kini, setelah kita menyadari dan mengimani bahwa TUHAN telah menaruh kepastian keselamatan di tangan kanan kita dan meletakkan kepastian berkat di tangan kiri kita, marilah kita merenung dan menjawab pertanyaan di dalam benak dan hati kita ini:

Berkat macam apa lagi yang masih kucari di dunia ini yang belum kuterima dari-Nya dan yang tanpanya aku belum menemukan kepuasan dan ketenangan?

Kemuliaan dan pengakuan seperti apa lagi yang masih perlu kukejar di dunia ini?

Apakah lagi yang perlu kutakutkan dan kukuatirkan di dunia ini?

 Apakah jawabmu untuk ketiganya? Semoga jawaban dari hatimu yang terdalam adalah “Tidak ada. Ya, tidak ada.”

Allah telah menganugerahkan segala sesuatu yang terbaik dan yang perlu bagi kita. Hanyalah orang bebal dan orang yang “mati” yang setelah mengetahui kabar yang sangat baik ini malah merasa bahwa ia adalah tuan sementara Allah hanyalah jin yang bertugas untuk melayani dan memberkatinya. Celakalah orang yang demikian dan hendaklah ia bertobat.

Orang yang benar-benar telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus tidak akan berpikir demikian. Baginya, hal paling jahat yang dapat ia lakukan di dunia ini adalah memperlakukan Allahnya sebagai seorang pembantu atau sebagai jin pemberi berkat. Tidak, ia tidak akan mau berpikir serendah itu mengenai Allah yang telah begitu baik dan murah hati kepadanya. Justru sebaliknya, setelah ia mengetahui bahwa baginya telah Allah anugerahkan dua hal yang paling luar biasa, yaitu kepastian keselamatan dan kepastian berkat, ia akan merendahkan diri di hadapan Allah dan mengatakan bahwa ia hanya memiliki satu keinginan di dunia ini, yaitu untuk selalu melayani-Nya di dalam kebenaran, kerendahan hati, kasih, dan kesetiaan sekalipun seisi dunia menentangnya, merendahkannya, dan berusaha menghalangi komitmennya itu. Bersama-sama Rasul Paulus, ia akan berseru:

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
(Roma 11:36)

bersama-sama Pemazmur ia akan bernyanyi:

Aku tidak akan mati, tetapi hidup,
dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.
(Mazmur 118:17)

dan bersama Leonard Ravenhill, seorang Penginjil di abad 20 yang Tuhan pakai secara luar biasa, ia akan berkata:

Ravenhill

Terpujilah dan dikuduskanlah nama TUHAN kita, selamanya.
Amin

What is Your Life?

Suatu ketika ada seorang turis yang berkunjung ke suatu daerah. Di dalam perjalanannya, turis ini melihat ada sebuah rumah kayu yang sederhana. Dia mendekati rumah tersebut, mengetuk pintu, dan mendengar suara dari dalam yang mempersilakan ia masuk sehingga turis itupun masuk. Setelah masuk, turis itu  melihat sekeliling dan ia tercengang melihat betapa sederhananya rumah tersebut. Tidak ada pajangan, tidak ada pernak-pernik, tidak ada lemari, tidak ada barang-barang antik, hanya ada sepasang meja dan kursi di dalam rumah itu. Sang Kakek tua, pemilik rumah itu kemudian datang dari arah dapur dan merekapun saling berbicara.

Kakek    : Ada yang bisa kakek bantu, Nak?

Turis      : Wah, rumah Kakek kosong sekali. Mengapa Kakek tidak mengisi rumah Kakek?

Kakek    : Begitu pula denganmu, Nak. Penampilanmu sederhana sekali. Mengapa kamu tidak membawa pakaian yang lengkap?

Turis      : Kakek, saya ini turis. Saya hanya sementara di sini. Buat apa saya membawa banyak barang?

Kakek    : Begitu pula dengan kakek, Nak. Kakekpun hanya turis di bumi ini. Mengapa harus mengisi rumah yang sementara ini dengan banyak barang?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

86d11c723f1ffbad1ba53e6c3f633cb9

Hidup ini hanyalah sementara. Kalimat itu merupakan pernyataan yang begitu biasa kita dengar. Saking seringnya kita dengar, kalimat itu tidak lagi menjadi bermakna. Namun, bagaimanapun respon manusia terhadapnya, pernyataan itu tetap tidak akan pernah berubah. Entahkah umat manusia mau percaya atau tidak, entahkah mereka menanggapinya dengan serius atau malah mengabaikannya, itu tidak merubah apapun, hidup ini tetaplah sementara. Cepat atau lambat, akhir dari dunia ini akan mendatangi seluruh umat manusia, tidak terkecuali seorangpun.

Firman Tuhan dalam Yakobus 4:14 berkata:

James4.14

Namun bagaimana tanggapan dunia? Oh betapa bodohnya dunia ini. Dunia ini berpikir bahwa mereka masih punya banyak waktu, sangat banyak waktu. Dunia ini terus menerus mengikuti hawa nafsunya yang sia-sia sambil berpikir bahwa esok ia masih punya banyak kesempatan untuk bertobat. Akan tetapi, heeyy… wake up, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang tahu persis bahwa ia masih punya esok hari untuk bertobat.

Oh betapa bodohnya dunia ini. Bahkan iblispun sangat serius dalam mempergunakan waktunya di bumi ini. Iblis tahu bahwa “waktunya” sudah hampir tiba. Iblis tahu bahwa Yesus Kristus akan segera datang dan Ia akan melemparkan mereka semua ke dalam api neraka. Itulah sebabnya iblis kian hari kian gencar menyesatkan banyak orang dan memaksa orang-orang Kristen untuk menyangkal imannya, baik dengan kesenangan maupun dengan ancaman kematian. Iblis tahu bahwa kesempatannya semakin tipis dan dia bekerja kian hari kian giat. Tetapi apakah yang dunia lakukan? Oh, dunia berpikir bahwa hidup ini adalah selamanya.

Musa bermazmur:

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
(Mazmur 90:12)

 Daud bermazmur:

“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku,
supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(Mazmur 39:4)

Saudara-saudariku yang terkasih, hidup ini bagaikan uap, oleh sebab itu, hiduplah seperti uap. Ketahuilah bahwa hidup ini sangatlah singkat dan dengan pengertian itu, marilah kita mempersembahkan hidup kita yang fana ini sepenuhnya untuk melayani Tuhan. Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia ini tenggelam dalam hawa nafsunya. Dunia ini terhanyut dalam cita-citanya. Jika kita berlaku demikian, apakah bedanya kita dengan dunia ini?

10568868_10152663978938385_6511057788983353760_n

Banyak orang mengaku diri orang Kristen, tetapi mereka mengejar apa yang dunia kejar, mereka tonton apa yang dunia tonton, mereka cinta apa yang dunia cinta, mereka takuti apa yang dunia takuti. Mereka tidak suka baca Alkitab. Mereka tidak senang berdoa. Mereka tahan berjam-jam di tempat hiburan, tetapi selalu melihat jam ketika mendengar khotbah hari Minggu. Mereka hidup seperti dunia ini hidup. Tidak ada bedanya sama sekali.

Mereka berlambat-lambat dalam bertobat. Mereka pikir mereka punya banyak waktu. Mereka sangka Tuhan Yesus tidak akan datang. Lebih dari itu, mereka bahkan tidak ingin Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Dan itu bisa dilihat dari sikap hidup mereka yang enggan memberitakan Injil, padahal Tuhan Yesus baru akan datang setelah Injil diberitakan di seluruh dunia dan menjadi kesaksian bagi semua bangsa (Matius 24:14).

1-john-2-17

Saudara-saudariku, janganlah kita sama dengan mereka sebab mereka bukan orang Kristen yang sebenarnya. Mengapa? Sebab orang Kristen yang sejati, kata firman Tuhan, mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4). Dunia ini tidak menguasai orang Kristen yang sejati sebab Roh yang ada di dalam diri mereka lebih besar dari roh apapun yang ada di dunia ini (1 Yohanes 4:4). Oleh karena itu, hendaklah kita seperti seorang mempelai wanita yang menanti-nantikan kedatangan mempelai prianya, yakni Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita “mempercepat” kedatangan-Nya dengan semakin giat memberitakan Injil, pertama-tama kepada diri kita masing-masing, kepada anggota keluarga kita, teman-teman kita, dan kepada orang-orang lain yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.

Kawan-kawanku dalam Kristus, marilah bangun. Dunia ini berdosa dan firman Tuhan terus menerus mengingatkan kita bahwa orang yang hidup di dalam dosa adalah orang-orang yang “mati”. Dunia ini penuh dengan “mayat hidup”. Mereka bersukacita, mereka bermegah, mereka berpesta pora, mereka bahkan mengajarkan cara menikmati hidup ini atau bagaimana membuat hidup menjadi lebih hidup, padahal sedetikpun dalam hidup ini mereka belum pernah mengecap apa yang namanya hidup. Kawan-kawan, jika kita ada di dalam Kristus, sungguh kita telah beroleh hidup dan jika kita sudah hidup, mengapa lagi kita mengikuti teladan orang-orang “mati”?

Keluargaku yang terkasih di dalam Tuhan, dunia ini membenci TUHAN kita. Mengertikah engkau betapa seriusnya hal itu? Biar kusampaikan sekali lagi, dunia ini membenci TUHAN, dunia ini membenci Yesus Kristus. Jika demikian, mengapa kita masih berteman dengan dunia ini, melayani dunia ini, memperkaya dunia ini, memperluas kerajaan dunia ini?

Aku tidak berkata bahwa kita harus memisahkan diri dari orang-orang berdosa atau menarik diri dari peradaban dunia ini dan menjadi petapa di atas bukit. Tidak. Tuhan tidak menyuruh kita untuk menjauhi orang-orang berdosa, justru Dia mengutus kita bagaikan domba di tengah serigala untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik nan mulia yang dengannya nama TUHAN kita akan dipermuliakan. Kita tidak perlu mengasingkan diri, justru kita perlu hadir di dunia ini untuk menjadi wakil-Nya yang menyatakan kebenaran-kebenaran Allah serta kasih-Nya kepada umat manusia. Umat manusia perlu mendengar bahwa TUHAN merindukan mereka bagaikan induk ayam yang rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya (Matius 23:37).

2cf182e1e4580510709238679e14722e

Sekali lagi, Tuhan mengutus kita ke dalam dunia ini untuk membuat perbedaan dan bukan untuk menyamakan diri dengan dunia ini. Tuhan menugaskan kita untuk hidup di dunia ini supaya kita memberitakan nama-Nya dan kebenaran-Nya serta bersekutu dengan-Nya dalam penderitaan-Nya, dan bukan untuk menikmati hidup ini atau mengejar agenda-agenda pribadi kita sendiri.

Oh keluargaku dalam Tuhan, aku tidak tahu lagi harus menyampaikan apa. Tetapi tidakkah kau sadar, bahwa Tuhan Yesus sudah hampir tiba? Ya, Dia segera datang. Sudah siapkah engkau? Kesukaran, sakit penyakit, penderitaan, penganiayaan, bahkan kematian, akan datang mendahului Dia dan tidak dapat kita pungkiri, semua itu sudah ada di depan mata kita. Setidaknya, saudara-saudari kita di belahan bumi yang lain sedang berhadapan langsung dengannya. Tidak tahu kapan, cepat atau lambat, yang pasti penderitaan itu akan datang kepada kita.

Oleh sebab itu, sedilikilah diri kita.
Bagaimanakah pengharapan kita kepada-Nya?
Bagaimanakah iman kita terhadap-Nya?
Bagaimanakah cinta kita untuk-Nya?

Ketiganya akan menjadi minyak bagi pelita hidup kita. Dengan ketiganya, pelita kita menjadi terang. Dan nyalanya akan menerangi hidup kita dalam menjalani kegelapan zaman akhir ini. Tetapi lihatlah, kegelapan akan terus menerus menyerang kita. Iblis akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melemahkan hati kita bagaikan minyak dalam pelita yang semakin lama semakin menipis. Apakah persediaan minyak kita cukup? Ataukah pelita kita akan redup sebelum Tuhan Yesus datang?

Marilah kita menyelidiki hati kita masing-masing!
Tetaplah berjaga-jaga!

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.
Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. (1 Petrus 4:7)

Search me, O God, and know my heart: try me, and know my thoughts:
And see if there be any wicked way in me,
and lead me in the way everlasting.
(Psalms 139 : 23 – 24)

Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kita sekalian. Amin.

Jalan Hidup

Jalan Hidup

Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing
Setiap langkah seharusnya memberi arti

Tuhan adalah “Tuhan yang berbicara setiap saat”. Tuhan bukanlah “Tuhan yang diam”. Ibarat radio frekuensi X, terkadang kita mendengarnya, terkadang tidak. Tetapi ketika kita tidak mendengarnya bukan berarti radio frekuensi X itu berhenti mengudara. Dia tetap ada di sana, hanya saja pendengarnya yang berubah frekuensi, atau ada kondisi yang menyulitkan antena pendengar sehingga tidak mampu menangkap gelombang radio itu dengan baik.

Demikian juga dengan Allah. Dia selalu berbicara kepada anak-anak-Nya. Kadang mereka mendengar Dia, kadang tidak. Tetapi itu tidak berarti bahwa Allah tidak konsisten dalam berbicara. Dia sungguh-sungguh berbicara. Dia sungguh-sungguh ingin mereka mendengar suara-Nya dan mengerti apa yang Dia kehendaki. Tetapi terkadang anak-anak-Nya enggan mendengar. Mereka mengubah frekuensinya, mereka mencemplungkan diri pada banyak hal yang mengganggu tertangkapnya frekuensi itu, mereka lari, dan malah menyalahkan Dia dengan berkata “Di mana Engkau Tuhan? Tak peduli kah Kau padaku?”.

Benar, Allah sungguh-sungguh berbicara padamu. Kau bisa mendengar-Nya dalam setiap langkahmu. Langkah yang kau tapakkan di setiap detik jalan hidupmu. Bahkan dalam setiap inci jalan kakimu dan dalam tiap hembusan nafasmu, Allah berbicara.

Kemudian aku mengenang Bangsa Israel. Mereka melangkah, mereka berjalan, ke Tanah Kanaan, Tanah Perjanjian. Tuhan ada bersama-sama mereka. Dia memperdengarkan suara-Nya yang bagai gemuruh. Dia menampakkan “rupa-Nya” dalam kabut dan halilintar. Dia jelaskan setiap detail kehendak-Nya. Dia berikan pemimpin yang luar biasa untuk mereka, Musa dan Yosua. Dia turunkan manna tiap pagi, roti dari surga. Dia datangkan burung dara, untuk mereka makan. Ketika mereka haus, Dia keluarkan air dari batu. Saat siang, tiang awan menudungi langkah mereka. Saat malam, tiang api menghangatkan mereka. Mereka melihat 10 tulah Allah di Mesir, perkara-perkara yang luar biasa dahsyat. Mereka melihat laut terbelah. Mesir, bangsa yang kuat, dikalahkan tak berdaya di depan mata mereka.

Tapi… mereka tidak percaya
Bagaimana mungkin?
Ada yang salah dengan orang-orang ini


Tuhan murka. Dan kebebalan orang-orang Israel membuat mereka harus menempuh perjalanan hingga 40 tahun. Empat puluh tahun, yang seharusnya bisa ditempuh dalam hitungan hari. Empat puluh tahun, sampai Musa merenung dan berkata “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana“. Perjalanan Bangsa Israel, panjang sekali. Tetapi tak pernah barang satu haripun Allah meninggalkan mereka. Dia selalu menunjukkan mukjizat-Nya pada mereka.

Tapi mereka, tetap saja, tidak percaya

Mengapa? Padahal berkat melimpah selalu menyertai mereka? Mengapa mereka selalu merasa kurang, kurang, dan kurang? Mengapa mereka selalu mau kembali ke Mesir? Dan mengira di sana mereka bisa merasa hidup lebih nyaman?
Seolah-olah berkat Tuhan tidak cukup? Mengapa mereka membuat berhala, patung anak lembu emas? Dan memohon berkat pula dari benda itu? Seolah-olah berkat Tuhan tidak cukup?

Ahh…
Aku paham sekarang
Bukanlah “BERKAT” yang membuat seseorang percaya
Tetapi pada “MENCUKUPKAN DIRI”, di atasnyalah iman orang-orang percaya bertambah teguh

Ya Allah, Engkau cukup bagiku!
Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Mazmur 84:10)
dan sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup (Mazmur 63:3)

Kita masing-masing memiliki jalan hidup. Dan di sepanjang jalan itu, Tuhan berbicara. Dan dalam setiap perkataan-Nya, Dia ingin mengatakan “cukuplah Aku untukmu… bersyukurlah“.

Apakah jalanku hanyalah jalan kesia-siaan?
Akankah jalanku sunyi tanpa suara-Nya?
Ataukah, jalanku adalah jalan yang bermakna?
Jalan di mana setiap saat aku bisa melihat-Nya, aku bisa merasakan-Nya, aku mendengar-Nya

I have decided to follow Jesus
No turning back

No turning back

Akan Dia bawa ke mana aku, aku tidak tahu
Aku sudah memutuskan untuk mengikut Yesus, tidak ada jalan kembali
Sekalipun penuh pengorbanan di sepanjang jalan, aku akan tetap ikut Dia

Sebab aku percaya bahwasanya bersama Dia,
Baik PERJALANAN maupun TUJUAN, sama-sama menyenangkan

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar,
yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
(Amsal 4: 18)

Tuhan Yesus memberkati 

Bagian yang Terbaik

Saudara-saudariku yang terkasih
Bagimu, yang letih lesu, tetapi tidak berbahagia dalam pelayanan yang dilakukannya
Renungkanlah, Tuhan Yesus suatu kali pernah berkata:

“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
tetapi hanya satu saja yang perlu:
Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Ada kalanya yang Tuhan inginkan adalah melayanimu dan bukan dilayani olehmu. Dan kita akan mengizinkan Dia untuk melayani kita ketika kita “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”. Itulah hal yang menyenangkan hati-Nya dan seperti kata-Nya, adalah bagian yang terbaik untuk kita.

Apa yang menjadi motivasi kita untuk melayani?
Apakah karena kita menguatirkan sesuatu, seperti Marta?
Apakah karena kita (Marta) kuatir akan kalah pamor dari Maria di hadapan Yesus?
Apakah karena kita kuatir Yesus tidak lagi punya perhatian terhadap kita?
Apakah karena kita kuatir dengan keberdosaan kita yang terlalu menumpuk?
Ataukah semua ini, hanya untuk membuat kita merasa diri kita lebih baik?

Dan mari kita selidiki hari-hari kita, apakah kita sedang menyusahkan diri dengan banyak perkara?
Apakah kita tak henti-hentinya melayani Dia dan malah menolak Dia yang ingin melayani kita?

Mari kita renungkan bersama

Tuhan Yesus memberkati

Pemimpi Terbesar

Capture

Kau punya cita-cita?
Seberapa besarkah keinginanmu untuk cita-cita itu terwujud?

Apakah itu sebesar keinginan seorang pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan? Atau sebesar keinginan seseorang untuk menemukan cinta sejatinya? Sebesar keinginan pasangan suami isteri yang bertahun-tahun belum juga dikaruniai seorang anak? Sebesar harapan Alpha Edison untuk menemukan bola lampu setelah ratusan kali percobaan yang gagal? Atau seperti harapan orang-orang terjajah untuk merdeka?

Aku bertanya-tanya dalam hatiku
Seandainya saja ada alat ukur dan besaran yang menyatakan besarnya keinginan seseorang Siapakah manusia yang memiliki keinginan terbesar di dunia ini?
Apakah hal yang dia inginkan?
Jika diurutkan, akankah aku berada di deretan 10 besar orang-orang bertekad terbesar sejagad?

Tetapi kemudian Tuhan memperhadapkanku pada suatu kisah
Dan kisah itu membuatku berpikir
Bisa jadi, pemimpi terbesar di dunia ini adalah seorang kusta

Untuk membuatmu mengerti dengan pertanyaanku itu, mari kita coba untuk memikirkan hal berikut. Mungkin kita tidak akan pernah mengerti penderitaan yang mereka alami. Dan semoga saja kita tidak perlu mengalaminya untuk bisa memahami. Tetapi jika aku mencoba membayangkan bahwa diriku adalah salah satu dari mereka, membayangkan bagaimana aku sendiri akan jijik tiap kali melihat sekujur tubuhku yang penuh dengan borok bernanah dan berdarah. Tiap kali aku hendak meraih dan memegang makanan untuk mengisi perutku yang kosong, aku akan selalu teringat bahwa aku sudah tidak memiliki jari lagi. Setiap kali melihat tanganku yang bengkak tetapi tanpa jari, aku menjadi begitu sedih, nafsu makanku sirna dalam sekejap, aku melupakan jeritan perutku yang semakin keras terdengar, aku membunuh diriku perlahan.

Hari demi hari, tubuhku semakin lemah, tetapi satu pertanyaan besar itu belum juga kutemui jawabannya, “kapankah aku mati, mengapa tidak hari ini saja?” Akupun tertidur, aku tidak pernah merasakan nyenyaknya tidur di tempat yang kotor, basah, bau, dingin, dan keras seperti itu. Belum juga aku benar-benar terpulas, aku merasakan ada sesuatu yang mengganggu tidurku.

Aku membuka mataku yang tidak pernah benar-benar tertutup karena perih tiap kali kelopaknya bersentuhan. Aku buka mataku, aku memaksa diriku untuk bangun, hanya untuk mengetahui bahwa gangguan itu berasal dari tikus-tikus yang hendak memakan jari kakiku yang terakhir. Dia hampir berhasil melahapnya, kakiku berlumur darah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku menyerah dengan kuatnya tekad tikus-tikus itu menggerogoti tubuhku. “Mengapa mereka tidak kenyang-kenyang juga, padahal setiap hari aku berbagi piring dengan mereka?”, kataku dalam hati sambil menangis.

Aku selalu dalam kesedihan, aku tidak pernah melihat keindahan selain orang-orang yang sama buruk rupanya denganku. Aku jijik melihat rupa mereka, tetapi apa daya, fisikku bahkan lebih menjijikkan dari mereka. Tetapi itu bukanlah kesakitan yang terdalam. Kesakitan yang terdalam adalah ketika aku tidak lagi bisa bersama orang-orang yang kukasihi dan yang seharusnya mengasihiku. Aku kesepian. Aku menanti, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tahun, hingga bertahun-tahun aku kira aku bisa sembuh atau setidaknya ada orang yang mengunjungiku di tempat pengasingan ini, tetapi tak ada satupun dari mereka yang rela.

Aku kesepian
Aku sudah lupa caranya tertawa
Aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya disentuh

Mungkin itulah yang mengisi, bahkan menghantui, detik-detik di dalam kehidupanku jika aku harus mengalami penyakit itu. Itulah hal yang mereka rasakan, para penderita kusta di zaman Alkitab. Orang-orang Yahudi mengasingkan mereka dari peradaban. Tidak hanya itu, mereka akan berteriak, “Najis, najis” setiap kali mereka melihat orang kusta sebagai tanda peringatan bagi yang lain. Seakan semuanya belum cukup parah, semua orang di zaman itu, termasuk para penderita kusta sendiri hidup dengan keyakinan bahwa Allah membenci mereka, Allah mengutuk orang-orang kusta itu. Para kusta hidup menderita di bumi dengan keyakinan bahwa jika mereka mati, mereka pasti masuk neraka. Mungkin itu juga yang menahan mereka untuk bunuh diri. Apa yang lebih buruk dari itu?

Tetapi, cobalah sekarang kita membayangkannya lagi. Di suatu hari. Hari yang mereka kira tidak akan ada bedanya dengan hari-hari pedih sebelumnya, tiba-tiba salah seorang dari mereka berlari dan berteriak pada mereka semua:
“Hei, kalian tahu? Di sana ada orang baik hati yang bernama Yesus.
Dia baru-baru ini menyembuhkan banyak orang, bahkan membangkitkan orang mati.
Masih ada harapan, masih ada harapan, masih ada harapaaan!!!”

Kira-kira, apakah yang mereka rasakan saat itu?
Aku rasa…
Detik di mana mereka mendengar kabar tentang Kristus
Adalah detik yang melahirkan kembali harapan mereka untuk bisa sembuh
Detik itu adalah detik yang menjadikan mereka pemimpi terbesar di seluruh dunia

Lukas 17 : 11-19 mencatat kisah itu. Kala itu, ada sepuluh dari sekian banyak orang tidak beruntung itu yang berhasil bertemu dengan Kristus. Mereka berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami.” Cobalah kita renungkan, seberapa dalamnya maksud hati mereka saat mereka berkata, kasihanilah kami. Yesuspun dengan iba dan tanpa merasakan jijik sama sekali berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dalam perjalanan mereka untuk bertemu dengan para imam, mereka akhirnya sadar bahwa mereka telah sembuh. Yesus menyembuhkan mereka. Alangkah terkejut mereka. Betapa secara tiba-tiba hati mereka dipenuhi dengan sukacita yang tiada tara. Mimpi mereka terwujud. Akhirnya, mereka menjadi “manusia” kembali.

Tetapi kita tahu bersama apa yang kemudian terjadi
Aku menduga kusta pasti tidak hanya menggerogoti tubuh luar mereka saja
Kusta pasti sudah memakan habis “hati” mereka
Bagaimana mungkin hanya satu dari mereka yang kembali pada Yesus dan berterima kasih?
Sembilan orang itu pasti sudah tidak memiliki hati lagi

Yesus telah mengabulkan harapan terbesar dalam hidup mereka
Harapan terbesar dalam hidup mereka
Tetapi sebegitu cepatnya mereka lupa kepada-Nya
Ternyata para pemimpi terbesar-pun tidak tahu caranya bersyukur

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejarah menjadi saksi mimpi-mimpi yang terwujud. Bukan hanya sang sejarah, kita pun pernah melihat atau bahkan pernah merasakan cita-cita besar yang terkabul. Ada begitu banyak mimpi yang Ia wujudkan di dunia ini. Tetapi mengapa terlalu sedikit ucapan syukur yang kembali pada-Nya?

Para penderita itu pasti memenuhi hidup mereka dengan pertanyaan:
“Mengapa kesakitan ini menimpaku?”

Tetapi setelah sembuh, apakah mereka pernah bertanya:
“Mengapa kesembuhan ini boleh kuterima?”

Itulah manusia. Itulah setiap kita. Penuh dengan keluhan tetapi sangat jarang mensyukuri segala hal yang diterimanya. Aku rasa ada yang salah dengan kita. Ketika hal yang buruk menimpa hidup kita, kita selalu bertanya-tanya dan mengeluh mengapa semua itu harus terjadi pada kita. Mengapa tidak terjadi pada orang lain saja. Tetapi, jika hal yang sebaliknya terjadi, jika hal baik dan membawa sukacita menghampiri hidup kita, tak pernah sekalipun terlintas pertanyaan di benak kita mengapa semua itu boleh terjadi dalam hidup kita. Mengapa tidak orang lain saja yang menerima hal yang baik ini.

Setiap kita merasa tidak layak untuk mendapatkan yang buruk
Tetapi merasa berhak atas hal-hal yang baik saja
Kita sepenuhnya lupa bahwa kita semua pantas masuk neraka

Sembilan orang yang lain pasti merasa dirinya berhak untuk disembuhkan oleh Kristus. Karena mereka merasa layak untuk pemulihan itu, mereka merasa tidaklah harus untuk berterima kasih pada-Nya. Mereka merasa dirinya layak untuk sembuh. Kau pasti setuju denganku jika aku berkata bahwa pasti ada yang salah dengan orang-orang ini. Tetapi itulah yang sebenarnya terjadi pada kita setiap kali kita lupa bersyukur, mengasihani diri sendiri, enggan berbagi, dan tak henti-hentinya mengeluh.

Merasa layak dan pantas untuk menerima sesuatu
Itulah awal dari kematian rasa syukur

Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan sama seperti kebanyakan orang di dunia ini?
Apakah kita akan sama seperti sembilan orang kusta yang tidak tahu bersyukur itu?
Apakah kita adalah orang yang merasa diri berhak atas SEGALA SESUATU yang kita terima?

Ataukah kita akan hidup berbeda?
Hidup dalam kesadaran penuh, hari demi hari, bahwa sesungguhnya kita tidak layak menerima semua itu, yang terkecil sekalipun
Kita hanya terlalu dikasihi oleh Allah sehingga Ia memberikan segala hal yang baik walau kita cepat sekali lupa untuk bersyukur

Apakah kita akan seperti yang seorang dari sepuluh itu?
Hidup dengan perspektif bahwa SEGALA SESUATU adalah ANUGERAH dari Bapa kita
Dan datang kepada Sang Pemberi, bersyukur, melayani Dia seumur hidup kita?

Tuhan Yesus memberkati
Salam

Kemakmuran???

Waktu Yesus sedang lewat,
Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya:
“Rabi, siapakah yang berbuat dosa,orang ini sendiri atau orang tuanya, 
sehingga ia dilahirkan buta?”

Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,
tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
#Yohanes 9 : 1-3
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

[4] Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata:
“Penyakit itu tidak akan membawa kematian,
tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah,
sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”

[6] Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit,
Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;

[14] Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati;
tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu,
sebab demikian lebih baik bagimu,
supaya kamu dapat belajar percaya.
#Yohanes 11
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setidaknya dua kisah di atas sudah cukup menjelaskan kepada kita
Bahwa hidup Kristen tidak menjamin kenyamanan hidup secara jasmani
Tuhan bisa saja mengizinkan kegagalan, kemiskinan, sakit penyakit,
bahkan penganiayaan, dan kematian

Tuhan tidak menjanjikan segala sesuatu yang kita inginkan
Tuhan tidak menjanjikan kenyamanan jasmani selalu bersama kita
Yang Dia janjikan adalah yang terbaik
Dan tentu saja, yang terbaik menurut versi dan waktu-Nya

Yakobus pernah berkata:
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,
apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu,
bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Selama ini aku tidak terlalu menggapnya luar biasa penting
Aku merasa aku tidak perlu melakukan apapun untuk melawan konsep ini
Tetapi akhir-akhir ini,
aku semakin concern terhadap “Teologi Kemakmuran dan Kesuksesan”
Teologi yang mengajarkan kalau hidup bersama Kristus pasti makmur
tidak hanya rohani, tetapi juga jasmani

KKR dengan membayar karcis masuk
Lagu sekuler Natal dijadikan lagu penyembahan saat ibadah Natal
Pendeta korupsi
Pendeta bercerai dengan alasan “mendengar suara Tuhan”
Pendeta dengan jas seharga ratusan juta, hotel berbintang lima
Sementara jemaatnya miskin dan sengsara
#Sedih sekali hati ini mendengarnya

Selama ini aku belum tahu posisiku yang jelas
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, apa yang bisa kulakukan
Tetapi firman Tuhan menegaskan padaku:

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
“Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan,
tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya,
lalu ia dilemparkan ke dalam laut,
dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.

Sejauh yang kurenungkan,
Yesus tidak pernah memakai intonasi dan kosakata seperti ini
Tetapi untuk yang satu ini, Yesus berkata-kata sangat pedis
Itu berarti Yesus sangat benci terhadap penyesatan
Dan itu hendaknya memacu kita,
untuk terus mengambil bagian dalam memberitakan kebenaran

Ingat… banyak saudara kita sedang berada di ambang penyesatan
Salah satunya karena teologi kemakmuran ini

Iblis tidak bodoh
Iblis jauh lebih pintar dari yang kita bayangkan
Akan sangat bodoh jika iblis membiarkan penyesatan itu jelas
Iblis pasti merancang penyesatan yang mulus dan samar-samar
Yang tidak disadari oleh anak-anak Tuhan

Iblis menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14)
Dia memberitakan firman Tuhan, dia memberitakan Injil
Hanya saja, dia memutarbalikkan kebenaran
Sama seperti yang dia lakukan saat dia bersilat kata,
dan memutar balikkan firman kepada Adam dan Hawa
Sampai pada akhirnya, perlahan tapi pasti
Anak Tuhan itu tenggelam
dan berhasil disesatkan

Suatu quotes dari Bob Marley, sangat menyentuh
Karya-karyanya dia abdikan untuk kebaikan
dan ketika ditanya, “mengapa kau melakukan semua ini?”
Bob Marley menjawab:
“Karena orang-orang mencoba membuat dunia ini menjadi lebih buruk.
Dan mereka tidak pernah libur.
Kalau demikian, mengapa aku harus berlibur?”

Semangat yang sangat indah dari Bob Marley
Benar sekali, iblis tidak pernah berlibur, Kawan
Bahkan dia sedang dalam proyek besar ‘tuk menyesatkan anak-anak Tuhan
Jika demikian, jika iblis saja tidak pernah libur
Mengapa kita harus libur dalam menyatakan kebenaran?

Mari teman-teman, kita ambil bagian dalam peperangan ini,
kita berpartisipasi menurut bagian yang telah ditetapkan bagi kita masing-masing
menurut talenta dan keterampilan yang kita bisa
Mari kita terus memberitakan kebenaran

Jangan perangi orang berdosa
Tetapi perangilah dosa itu dengan memberitakan kebenaran
Sekecil apapun karya kita,
asalkan dikerjakan dengan kerendahan hati,
hati yang tulus, dan dalam penyertaan Tuhan
itu pasti menyenangkan hati Tuhan

To be continued

Keledai di dalam Sumur (Kisah Inspiratif)

310092_337466182991860_209146552_n

Suatu hari, seekor keledai seorang petani jatuh ke dalam sumur
Keledai itu stres dan menangis pilu selama berjam-jam
Petani itu kemudian menemukan si keledai dan memikirkan cara untuk menyelamatkan keledai itu

Setelah cukup lama berpikir, petani itu menilai keledai itu sudah tua…
sehingga akan sulit untuk mengangkatnya dari atas…
cara yang paling baik adalah dengan menimbun sumur dengan tanah
sehingga permukaan tanahnya meninggi dan keledai dapat naik hingga ke atas

Petani tersebut kemudian mengundang semua tetangga untuk datang dan membantunya.
Mereka semua memegang sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada awalnya, keledai tersebut menyadari apa yang terjadi dan semakin keras berteriak gelisah

Akan tetapi, tiba-tiba keledai tersebut berubah menjadi tenang sekali
Hal ini membuat semua orang takjub
Setelah beberapa kali menyekop tanah ke dalam sumur, petani tersebut melihat ke bawah
Dia terheran-heran melihat apa yang dilihatnya.
Dengan setiap sekop tanah yang menimpa punggungnya, keledai tersebut melakukan sesuatu yang menakjubkan.
Keledai tersebut akan bergerak-gerak membersihkan tubuhnya dari tanah
dan kemudian melangkah naik, satu demi satu

Sekopan tanah terus diturunkan…
Keledai terus membersihkan diri dan naik ke atas
hingga akhirnya sumur penuh dengan tanah sehingga keledai dapat naik ke atas
Keledai itupun segera berlari ke alam bebasnya… ^__^

Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

Hidup ini penuh dengan ‘kotoran’ yang akan diarahkan kepada diri kita
cobaan, godaan, hinaan, kekecewaan, dianggap remeh, ditolak
difitnah, disalahpahami, dihina, dihajar, dianiaya, kegagalan
dipermainkan, ditipu, diadu domba… semuanya adalah pergumulan…
Pergumulan yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita

Mungkin ketika pertama kali pergumulan itu melanda kita, kita akan berteriak histeris penuh gelisah
seperti keledai itu
akan tetapi, hendaklah kita segera sadar dan menenangkan diri

“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24 : 10)
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30 : 15)

Lalu, segeralah kita membersihkan diri kita dari ‘kotoran’ itu
dan kotoran itu akan terjatuh… terjatuh dari punggung dan kepala kita…
dan justru akan menjadi pijakan bagi kita…
sehingga kita bisa naik…  selangkah demi selangkah…
tanpa terhenti… tidak pernah menyerah… hingga akhir
kita keluar dari sumur pergumulan kita…
dan naik lebih tinggi lagi…
naik terus… seperti rembang tengah hari … dan seperti elang yang mengatasi segala badai

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
(Amsal 4:18)

537836_10151404844501530_1683529811_n