Diam dan Tersembunyi

Pernah ada masa, di mana aku ingin menunjukkan kepada dunia, terutama kepada seseorang yang saat itu sedang aku sukai,
“aku sudah melakukan hal-hal ini” 
“aku mendapatkan ini dan itu”
“aku sedang berada di sini”
aku suka sama hal-hal ini loch, aku cute kan, aku pintar kan, aku gaul kan, aku so sweet kan
“rupaku sekarang seperti ini loch”
“coba tebak apa tempramenku”
“kalau dunia ini adalah film Harry Potter, menurutmu aku akan menjadi siapa”

Aku tidak ingin menjadi manusia munafik. Aku sadar bahwa, at some point, aku masih belum berbeda dari orang-orang normal di dunia ini. Dan sebagaimana menunjukkan-diri adalah sebuah kenormalan di dunia yang fana ini, aku tahu bahwa masih ada kecenderungan hatiku untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi kemudian aku sadar
Semua itu tidak benar-benar berguna bagi mereka
Mereka tidak benar-benar perlu untuk tahu seperti apa diriku sekarang
Itu tidak akan membangun mereka
Dunia tidak akan berakhir hanya karena tidak mengetahui update tentangku
Mereka tidak akan mati jika mereka tidak mengetahui hal-hal spesifik mengenai aku

Ketika aku mencoba untuk merenungkannya, aku mendapati diriku tidak bisa menemukan hal positif yang dapat kujadikan sebagai alasan untuk menunjukkan diriku, dalam hal ini di social media. Buat apa mereka tahu aku di mana? Buat apa mereka tahu, jika aku ada di dunia Naruto, maka aku akan menjadi tokoh siapa? Buat apa mereka tahu update tentang aku? Baiklah, aku rasa pertanyaan terakhir cukup layak untuk ditanyakan karena akan selalu ada masa di mana kita ingin ingin mengetahui kabar terbaru dari teman-teman lama kita yang kini telah jauh terpisah dari kita. Tetapi, kalau demikian kasusnya, kalau benar orang itu adalah teman yang berarti bagi kita, bukankah seharusnya update diri bisa dilakukan dari pribadi yang satu ke pribadi yang lain secara langsung? Bukankah itu bisa dilakukan dengan menelepon atau sms? Bukankah itu akan membuatnya lebih spesial dan sebagai hasilnya, akan lebih mengakrabkan dua teman lama? Jadi, buat apa update harus dilakukan melalui media sosial?

Aku rasa,  kecenderungan update diri di media sosial seperti itu tidak memberikan dampak apapun yang positif. Kalaupun ada, pengaruh positif yang ditimbulkannya pasti sangat kecil dan tidak signifikan dibanding potensi negatif yang bisa ditimbulkannya. Orang-orang akan merasa bahwa jika mereka eksis di dunia maya, maka mereka sudah benar-benar ada di realita. Tidak lagi diperlukan adanya tatap muka langsung selama masih ada kesinambungan dalam update status.

Orang-orang akan menjadi dahaga untuk menunjukkan dirinya. Orang-orang akan haus akan “like” dan lebih banyak lagi “like”. Orang-orang akan menjadi lebih senang jika dirinya dikenal sebagai orang yang berkarakter “Hermione” daripada dikenal sebagai dirinya sendiri. Kalau demikian kasusnya, kalau kecenderungannya lebih besar ke arah yang buruk, mengapa update diri semacam itu masih harus diteruskan?

Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk sekuat tenaga menahan segala keinginan untuk memperlihatkan. Sebelum aku benar-benar terlepas dari keinginan, sekecil apapun itu, untuk memperlihatkan diriku, apalagi jika caranya seperti itu, aku rasa aku belum benar-benar dewasa.

Mungkin dunia akan menyanggahku dengan pertanyaan:
“bagaimana jika seisi dunia berpikiran sama denganmu?”
“bagaimana jika tidak ada orang yang meng-update atau mem-publish keberadaannya?”
“bukankah itu akan membuat dunia maya menjadi sangat sepi?”
“bagaimana aku bisa tahu kabar teman-temanku saat ini?”
“bagaimana aku bisa menunjukkan kepada orang yang kusukai tentang seperti apa aku sekarang?”
“bagaimana aku bisa tahu update dari orang yang aku sukai saat ini?”
“ah, sepiii….!!!”

Itulah pertanyaan yang juga kutanya pada diriku. Kalau dipikir-pikir, benar juga, dunia mungkin akan terasa lebih sepi andaikan saja tidak ada social media di dunia ini. Coba kau bayangkan bagaimana dunia ini jika tidak ada Facebook, Twitter, atau media sejenis!

Tetapi kemudian aku tersadarkan. Justru kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu adalah bukti bahwa dunia ini tidak sedang benar-benar merdeka. Namanya saja sudah dunia maya, bukan realita, perlakukanlah itu sebagai dunia maya. Mengapa harus menderita tanpanya? Mengapa harus merasa begitu susahnya untuk mengendalikan diri terhadap godaan untuk menunjukkan diri melalui media? Kalau kita yakin bahwa kita benar-benar sudah dimerdekakan, maka tunjukkanlah kualitas hidup layaknya seorang yang benar-benar merdeka dari hal apapun yang fana.

Ujilah segala sesuatu, termasuk diri kita sendiri
Mari kita tes kedewasaan kita, kemampuan kita untuk mengendalikan diri
Mari kita tes pertumbuhan kita, kemampuan kita untuk melepaskan dan merelakannya
Selama kita masih menderita tanpanya, kita masih belum merdeka sepenuhnya

Keluarlah dari belenggu “menampilkan diri
Jika kita masih terus mengikatkan diri padanya, kita tidak akan pernah bertambah dewasa
Jangan penjarakan diri di level yang rendah seperti itu
Sebab pada level di atas sana…
Masih ada sangat banyak hal indah dan tugas yang lebih besar sedang menanti

Jika tidak ada hal baik yang bisa kuberitakan…
Jika cerita yang ada di kepalaku hanyalah cerita tentangku…
Lebih baik aku diam dan tersembunyi
Lebih baik orang-orang tidak tahu update mengenai diriku
Daripada tindakankan itu hanya akan mengalihkan pandangan mereka kepada kepadaku
Padahal yang seharusnya mereka lihat adalah Allah

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, 
pikirkanlah semuanya itu…
# Filipi 4 : 8

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Nice Made Up Story : Pemandu Museum

Adalah seorang pemuda yang bekerja sebagai pemandu di museum seni. Tugasnya sebagai pemandu sangatlah sederhana dan dapat diringkas hanya dalam satu kalimat: mengantar orang ke tempat lukisan dipamerkan, menjawan pertanyaan mereka, lalu mundur, membiarkan mereka menikmati lukisan-lukisan itu. Pada awalnya dia berhasil. Ia mengantar para kliennya kepada harta karun berbingkai itu, memperkenalkan senimannya, lalu melangkah mundur.

“Ini karya Monet”, tuturnya, lalu bergerak menjauh saat orang berdecak kagum serta mengajukan satu atau dua pertanyaan. Ketika mereka sudah puas, ia akan mengantar mereka ke adikarya yang lain dan mengulangi hal yang sama. “Ini karya Rembrandt.” Ia mundur ke belakang sementara para pengunjung mencondongkan tubuh mereka ke depan agar dapat melihat lukisan itu lebih dekat. Si pemandu berdiri; mereka menatap lukisan.

Tugas yang sederhana. Pekerjaan yang menyenangkan. Ia sangat bangga dengan pekerjaannya.

Terlalu bangga, mungkin bisa dibilang begitu. Sebab, tak lama kemudian, ia melupakan perannya. Ia mulai mengira orang datang untuk melihat dirinya. Bukannya menjauhkan diri dari karya seni itu, ia malah berlama-lama di dekatnya. Saat mereka berdecak kagum, ia tersenyum. “Sungguh senang melihat kalian menyukainya,” sahutnya dengan dada membusung dan wajah merona merah. Ia bahkan kadang-kadang mengucapkan “terima kasih” saat menerima pujian atas karya orang lain tersebut seolah-olah itu adalah karyanya.

Para pengunjung mengabaikan komentarnya. Tetapi, mereka tidak dapat mengabaikan gerak-geriknya. Berlama-lama di dekat lukisan masih kurang bagi si pemandu. Sedikit demi sedikit ia makin mendekati lukisan itu. Mulanya membentangkan tangannya hingga menutupi bingkai, lalu badannya menutupi sebagian kanvas. Akhirnya tubuhnya menutupi seluruh karya itu. Orang dapat melihatnya, tetapi tidak dapat melihat karya itu. Karya yang seharusnya disingkapnya malah ditutupinya.

Sangat-sedikit-di-edit-dari: It’s not about me, karangan Max Lucado

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana dengan kita?
Apakah kita sama dengan pemandu muda itu?
Apakah kita selama ini selalu berusaha untuk mencuri kemuliaan Tuhan?

Apakah kita haus akan pengakuan orang lain?
Menyebut nama tokoh-tokoh terkenal dan istilah-istilah rumit, agar terlihat pintar?
Memperlihatkan betapa banyak hal baik yang telah kita lakukan?

Apakah kita sering mengiklankan diri di hadapan manusia dan berupaya sekuat tenaga meyakinkan diri bahwa kita tidak sedang berusaha mencicipi, walaupun sedikit, kemuliaan yang seharusnya ditujukan pada Dia?

Mari menyelidiki dan menginstropeksi diri
Dalam lubuk hati yang terdalam, kau tahu bahwa kau pasti pernah, bahkan sering, melakukannya
Jangan takut dan malu untuk memulai merenungkannya, sebelum semua terlambat

Ketika kita merenungkannya, mungkin kita akan merasa malu, bahkan jijik atas dosa itu
Tapi tak apa, Tuhan tidak pernah memandang hina hati yang hancur
Yang Dia benci adalah hati yang sombong dan enggan meminta pengampunan

Dan setelah beroleh pengampunan-Nya, mari kita awali hidup yang telah diperbarui ini
Kita hidup untuk menyatakan kemuliaan Tuhan saja, bukan untuk mengiklankan diri
Kita adalah duta-dutaNya, cermin-cerminNya

Kita bulan dan Dia mataharinya
Kita tidak mencerminkan sinar kita sendiri, Dia-lah sumber terang itu

Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku;
Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
~ Yesaya 42:8

18. Penutup

This is who I am : Penutup

Aku telah disalibkan bersama Kristus; namun aku hidup,
tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,
melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
(Galatia 2 : 20)

Kini kita telah sampai di bagian akhir dari perjalanan singkat kita. Mungkin apa yang kita pelajari bersama belum sepenuhnya menjawab semua pertanyaan tentang siapa manusia dan untuk apa manusia ada. Aku rasa memang demikianlah sejarah manusia bekerja, manusia akan selalu menyisakan hal-hal yang misterius. Aku sendiri belum merasa menemukan atau memiliki semua jawabannya, tetapi aku bersyukur telah mengenal diriku jauh lebih dalam dengan menyusuri jalan-jalan setapak seperti yang aku uraikan dalam halaman-halaman ini.

Siapakah aku sebenarnya?
Untuk apa aku ada di dunia ini?
Pada akhirnya, kau harus menemukan jawaban itu sendiri

Aku tidak tahu jawaban atas pertanyaanmu
Tetapi aku tahu beberapa hal
Kau bukanlah budak dari apa yang kau sukai dalam hidup
Kau bukanlah seonggok daging dengan sepaket sifat-sifat yang kau miliki sejak kecil
Kau bukanlah alat dari tujuan hidupmu

Begitu banyak manusia di dunia ini hidup dengan cara yang tidak seharusnya mereka hidupi
Mereka salah mengenal diri mereka
Mereka memilih identitas yang salah untuk dikejar
Mereka ingin dikenal sebagai sosok yang pada akhirnya sia-sia

Mereka mengenal diri mereka sebagai “penggemar berat ini”. Mereka membatasi pengenalan dirinya hanya sejauh “orang-orang yang memang sifatnya begini”. Mereka merasa puas memperkenalkan diri kepada dunia sebagai “orang dengan cita-cita ini atau orang yang bekerja sebagai itu”. Mereka mengatakan, “this is who I am” sambil merasa dirinya begitu hebat ketika mengatakan itu padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan nilai dari diri mereka sendiri.

Tidak
Siapa kita sebenarnya, jauh melampaui semua itu
You are an ambassadors for Christ (2 Korintus 5 : 20)
You are a temple of God (1 Korintus 3 : 16)
You are the salt of the earth (Matius 5 : 13)

Dan seperti orang gila aku ingin berteriak:
I am the light of the world

Dan kau juga
Kau, iya kau, kau adalah terang dunia

“Lelaki idaman semua wanita, bisa ini itu”
“Perpustakaan berjalan”
“Wanita cantik sangat”
“Batak tulen”
“Aktivis mahasiswa”
“Orang alim”

“Alkitab berjalan”
Atau identitas dan embel-embel lain
Itu semua tidak berarti dibanding identitas sebagai terang dunia
Tetapi mengapa masih ada yang mau menukarkannya hanya untuk identitas yang fana?

Dalam kitab Kejadian, Musa mencatat bahwa Allah menciptakan manusia sebagai “gambar dan rupa Allah”. Musa menggunakan istilah “gambar dan rupa” dipengaruhi oleh latar belakang zamannya saat itu. Musa dibesarkan di Mesir di mana dia bisa melihat banyak sekali patung. Pada zaman Musa, seorang raja memerintah untuk wilayah yang sangat luas. Berbeda dengan saat ini, saat itu tidak ada teknologi komunikasi dan informasi. Bagaimana seorang raja bisa tetap “hadir” dan tidak kehilangan respect dari rakyatnya yang ada di wilayah yang sangat jauh sementara raja itu tidak bisa selalu hadir secara badani di sana? Jawabannya adalah dengan mendirikan patung-patung tersebut.

Pada zaman itu, patung bukan berfungsi hanya sebagai hiasan semata. Lebih dari itu, patung adalah lambang kehadiran dari raja itu sendiri. Raja “memberikan otoritas” pada gambar dan rupa mereka itu. Ketika rakyat melihat semua patung itu, mereka memandang raja mereka. Mereka menjadi tahu siapa orang yang berkuasa di daerah itu dan mereka tahu kepada siapa mereka harus setia.

Nah, lihatkan apa yang bisa diperbuat oleh patung-patung itu? Walaupun hanya benda mati, patung-patung itu dengan baik mewakili sosok sang raja. Keberadaan patung itu memberikan dampak kepada orang-orang. Melihat patung sama dengan melihat sang raja sendiri. Lalu, jika benda mati saja bisa melakukan itu, kita sebagai manusia, dan lebih lagi, sebagai orang Kristen harus bisa melakukan yang jauh lebih besar dari semua itu. Keberadaan kita sebagai wakil Allah harus dirasakan oleh orang-orang. Apakah ketika orang-orang melihat kita, mereka melihat Allah? Aku bergumul berat untuk pertanyaan yang satu itu.

Sebagai penutup
Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah
Allah menciptakan kita untuk menjadi wakil-Nya di dunia yang sudah kacau balau ini
Allah menciptakan kita untuk menerangi dunia yang kian menggelap ini
Jangan berusaha menjadi sosok yang lain selain “terang dunia”

Orang-orang yang tersesat harus tahu bahwa hadirat Allah tersedia juga buat mereka
Itulah sebabnya Allah menempatkan kita di mana kita berada saat ini
Itulah alasan mengapa Allah mengizinkan kita masih bisa bernafas
Kita harus hadir sebagai Kristus di hadapan semua orang

Susah bukan?
Oh tentu saja susahnya minta ampun
Aku sesungguhnya tak layak mengatakan ini seolah-olah aku paling tahu
Tetapi memang demikian seharusnya
Kita harus hadir sebagai Kristus di hadapan semua orang

Dan karena itu susah, mengapa tidak segera saja kita berusaha untuk mengejar itu?
Mengapa kita masih memegang erat identitas yang kita pegang saat ini?
Lepaskan itu sekarang!
Dan mulailah mengejar apa yang sudah kita lupakan selama ini!
Mulailah kita “mengejar matahari”
Mulailah kita meraih kembali identitas kita yang terhilang
Wakil Allah
Terang Dunia

Tuhan Yesus memberkatimu

*Pesan Penulis:
Ini adalah akhir dari 18 judul “Gambar Diri”
Jika Tuhan menghendaki, semoga kita bisa belajar kembali mengenai Gambar Diri ini
Semoga semua ini bisa menjadi berkat bagi kita semua
Dan semoga Roh Kudus yang selalu menyertai hidup kita
Semoga nilai diri kita hanya kita gantungkan pada penilaian-Nya
Bukan pada penilaian kita sendiri
Bukan juga pada penilaian orang lain

17. Tu-ju-an bukan Tu-an

a

Dengan memiliki tujuan hidup untuk memuliakan Allah, I know who I am in this world. Aku bukan hamba dari tujuanku sendiri. Tujuanku bukanlah tuanku, Allah-lah Tuan yang harus kulayani. Aku adalah hamba Allah.

Identitasku menjadi semakin jelas  –> aku adalah hamba Allah
Tujuan hidupku menjadi jelas         –> melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah
Misiku menjadi jelas
–> menjadi dokter, dosen, pendeta, atau apapun sehingga kredit dan penghormatan akan diberikan kepada Allah

Aku tahu siapa diriku dan apa yang harus kulakukan…

Mungkin saat ini kau sedang sangat yakin bahwa Tuhan memanggilmu untuk sesuatu. Mungkin kau yakin bahwa “suara Tuhan” memastikanmu untuk menjadi dosen misalnya. Baiklah, aku tidak ingin mendebat keyakinanmu. Tetapi aku ingin mengingatkan kita semua:
“Mungkin Tuhan benar-benar memanggilmu menjadi dosen dan mungkin suatu saat nanti kau benar-benar menjadi dosen. Tetapi, bukankah Tuhan belum mengatakan bahwa engkau akan mengakhiri karirmu sebagai dosen? Bisa saja, kalau Tuhan mau, Ia bisa memintamu berhenti sebagai dosen dan beralih menjadi misionaris untuk diutus ke Afrika.”

Bagaimana? Tentu saja Tuhan berhak melakukan itu. Oleh sebab itu, hubungan yang akrab dan pengenalan akan Allah jauh lebih penting dibanding apa yang kita yakini sebagai tujuan hidup kita.

Dalam sejarah manusia, Tuhan jarang sekali membukakan rancangan-Nya secara gamblang. Tuhan memberikan petunjuk satu langkah demi satu langkah. Tuhan harus melakukan itu karena Tuhan tahu kecenderungan hati manusia yang tidak suka diatur. Jika Tuhan menunjukkan semua rencana-Nya serta jalan-jalan yang harus ditapaki oleh masing-masing orang, maka kebutuhan orang itu untuk “terus menerus berkomunikasi” dengan Allah menjadi semakin kecil.

Alhasil, orang itu akan menjadi terlalu fokus dengan tujuan hidupnya dan malah mengacuhkan Sang Pemberi Tujuan itu. Orang itu berjalan jauh, berjalan terlalu jauh, berjalan keterusan sambil mengira bahwa dia berada di jalan yang tepat padahal Tuhan baru membukakan segelintir saja dari rancangan-Nya kepada orang itu. Orang itu menjadi tersesat dan menganggap Allah enggan memberi petunjuk padahal orang itulah yang bersalah karena tidak pernah lagi ingin bertanya pada-Nya.

Oleh sebab itu, milikilah suatu cita-cita. Tetapi, pastikan cita-cita itu tetap fleksibel karena Tuhan berhak untuk menginterupsinya. Milikilah keinginan untuk menjadi dokter, misalnya. Tetapi, berjaga-jagalah dan jadilah siap jika Tuhan memotong di tengah jalan dan memintamu menjadi pendeta.

Sekali lagi
Kita adalah hamba Allah.
Cinta kepada Allah harus berada di atas cinta kepada tujuan hidup.

Hosea adalah nabi Allah. Aku rasa menikahi seorang pelacur bahkan tidak pernah terlintas di benaknya. Tetapi sesuatu terjadi, Tuhan berkata padanya:
“Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal,
karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.”
~ Hosea 1 : 2

Hosea menikahi seorang sundal bukan untuk mempertobatkan wanita itu. Wanita itu dinikahinya memang karena memang ia ditugaskan untuk menikahi seorang pelacur. Lebih dari itu, anak-anak Hosea memang “harus” menjadi anak-anak sundal. Mustahil Hosea merencanakan semua ini pada mulanya. Tetapi itulah tujuan Allah dalam hidupnya. Dan Hosea taat menjalankan perintah itu karena dia tahu satu hal:
Dia adalah hamba Allah dan bukan hamba tujuan hidupnya.

Maria adalah gadis muda yang saleh. Aku cukup yakin dia sudah punya tujuan dan rencana hidup yang jelas bersama Yusuf, tunangannya. Tetapi, ayolah, ini adalah hari Natal, kau pasti belum lupa, Tuhan TIBA-TIBA datang dalam hidupnya
dan membuat rencana hidup Maria berubah habis-habisan. Dan apa kata Maria mengenai itu?
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
~ Lukas 1 : 38

William Wilberforce awalnya adalah pengusaha sekaligus politikus yang kaya raya. Dia adalah salah satu orang yang getol memperdagangkan manusia sebagai budak. Sesuatu terjadi dalam kehidupannya, Tuhan melawatnya dan dia bertobat. Tidak hanya itu, dia merasa cukup yakin bahwa dia terpanggil untuk menjadi pendeta. Astaga, hal ini saja sudah terdengar to good to be true. Tetapi, seandainya dia tetap bersikeras untuk menjadi pendeta, mungkin saja perdagangan manusia masih ada sampai sekarang. Seandainya dia tidak berpikir “aku ini hamba Allah, bukan hamba tujuan hidupku”, mungkin aku dan kamu adalah seorang budak sekarang ini.

Benar, seorang pendeta menasehati dia untuk tetap berada di jalur politik. Dan demikianlah akhirnya, melalui jalur inilah dia bisa melakukan sesuatu yang mengubahkan. Bukan saja mengubah hidupnya tetapi juga mengubah seluruh dunia. Berkat orang ini, perdagangan manusia dihapuskan.

Menemukan tujuan hidup, merumuskan rencana hidup, adalah sesuatu yang baik.
Tetapi yang melebihi semua itu adalah memiliki cinta sejati kepada Allah.
Dan bukti dari cinta sejati adalah menjadi vulnerable (rentan) di hadapan Dia yang kita cintai.

Cinta eros yang sejati dikukuhkan dalam hubungan badan suami istri. Dan hubungan suami istri, di mana kedua insan telanjang di hadapan satu sama lain, adalah momen di mana masing-masing pihak berada pada keadaan yang paling vulnerable di hadapan pihak yang lain. Hubungan ini menggambarkan apa yang seharusnya terjadi dalam hidup yang penuh oleh cinta sejati kepada Allah. Kita harus hidup telanjang, benar-benar terbuka, dan vulnerable di hadapan Allah. Dan wujud dari kerentanan itu adalah mengizinkan Tuhan untuk mengintervensi hidup kita, termasuk dalam hal menetapkan apa hal yang akan menjadi tujuan hidup kita. Itulah yang membuktikan bahwa cinta yang kita punya untuk Allah adalah cinta sejati.

To love is to be vulnerable
~ C.S. Lewis

Jadi, bagaimana kita akan menarik benang merah dari semua ini?
Dulu kita belajar bahwa cinta sejati mampu menumbangkan “bla bla bla kesukaanku
Kita juga telah belajar bahwa cinta sejati mengalahkan “sifatku memang kayak gini
Dan kini kita belajar bahwa cinta sejati harus berada di atas “aku tahu ini tujuan hidupku

Oleh sebab itu, marilah kita mulai menarik kesimpulan dari semua ini

#Bersambung

16. Jika Fokusnya Tepat

Ketika aku memiliki tujuan hidup, misalnya menjadi seorang dosen, untuk diriku sendiri
Maka sampai kapanpun aku tidak akan pernah merasa puas
Inilah kebenaran yang terlalu sering diabaikan oleh orang-orang:
Ketika diri kita sendiri yang menjadi fokusnya, maka kita tidak akan pernah puas
Kepuasan hanya akan ada ketika kita melakukan sesuatu untuk pribadi yang lain

Kurang lebih sama dengan itu
Ketika aku memiliki tujuan menjadi dosen dengan fokus utama untuk menolong orang lain,
maka akan tiba waktunya di mana orang yang butuh pertolonganku adalah orang yang nampaknya tidak layak ditolong
Jika demikian, apa yang akan terjadi padaku?

Jika tujuanku adalah untuk orang lain, mungkin aku bisa setia dan bertahan
Tetapi menjadikan orang lain sebagai fokus itu berarti:
Aku harus siap dikecewakan oleh orang-orang yang kutolong setiap hari

Seperti kata Band Dewa, manusia itu tempatnya salah
Manusia itu mengecewakan karena memang demikianlah mereka
Mungkin aku bisa bertahan tetapi hidupku akan penuh dengan kekecewaan
Apa indahnya hidup dengan tujuan hidup seperti itu?

Akan tetapi
Apabila tujuanku menjadi dosen adalah untuk memuliakan Allah
Maka aku tidak akan pernah kehilangan tujuan intiku
Tanah yang kupijak jelas dan tidak tergoyahkan
Karena aku tahu bahwa Dia-lah dasarku melakukan semua ini

Orang-orang yang akan kutolong mungkin akan mengecewakanku
Tetapi aku tak akan kehilangan sukacita karena sukacitaku ada dalam melayani tujuan Allah
Orang-orang yang akan kutolong mungkin akan menolakku
Tetapi itu tak akan menghancurkanku sebab prioritas rohaniku berada di urutan yang tepat

Lagipula
Jika benar kita rindu melakukan sesuatu yang baik demi kebaikan orang lain,
maka seharusnya niat kita adalah benar-benar memberikan yang terbaik, bukan?

Nah, jika kita menjadikan orang lain sebagai fokus dari tujuan hidup kita,
maka kecenderungan kita adalah memberikan sesuatu dengan standar “sepertinya segini sudah baik untuk mereka”
Dan kemungkinan besar itu bukanlah standar dari apa yang disebut TERBAIK

Hello, bukannya tadi kau bilang kau ingin memberikan yang terbaik?

Akan tetapi, ketika melayani Allah adalah tujuan utamanku
Maka kecenderunganku adalah memberikan sesuatu yang benar-benar terbaik dariku

Biar kuberikan satu contoh, aku ingin menjadi dosen, tepatnya di ITB. Anggaplah aku sudah mendapat gelar doktor tetapi somehow ada kendala dalam proses penerimaan dosen di ITB. Karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu, aku melamar ke kampus lain sebagai tenaga pengajar sementara sembari menunggu panggilan untukku dari ITB. Nah, kualitas mahasiswa di kampus yang baru ini nampaknya jauh di bawah ITB. Dan di sini intinya, apabila fokusku adalah untuk kebaikan mahasiswa di kampus itu, aku akan cenderung berpikir, “standar anak-anak ini relatif rendah, maka aku juga akan jauh menurunkan standar kualitasku dalam mendidik, seginipun sudah baik kok buat mereka.”

Sudah menangkap maksudku bukan?
Aku menurunkan standarku
Aku tidak memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan
Pikirku aku ingin mengajar demi kebaikan mereka,
tetapi tindakanku mencerminkan bahwa aku tidak mengerti arti “demi kebaikan mereka”

Hal yang berbeda akan terjadi jika fokusku adalah untuk kemuliaan Allah
Aku akan senantiasa terpacu untuk memberikan yang terbaik kepada mereka
Aku akan melampaui batas-batas diriku
Aku akan terus memutar otak bagaimana caranya supaya walaupun gap antara aku dengan anak-anak di kampus ini jauh, tetapi mereka tetap bisa mendapatkan yang terbaik dariku

Aku akan hidup dalam kesadaran penuh bahwa Allah sedang mengawasiku
Dan Dia siap setiap saat untuk mengingatkanku:
“Son, you promised me remember? Give your second best never!!!”

Tahun ini aku bekerja di perusahaan kecil, dua tahun lagi mungkin aku sudah pindah ke perusahaan besar
Bos yang kulayani, ada yang mengayomi, ada yang selalu membentak
Mahasiswa yang kudidik, angkatan ini sopan, angkatan tahun depan bikin geleng-geleng kepala
Pasien yang kutangani, ada yang mampu membayar, ada yang tidak mampu membayar
Jemaat yang mendengar khotbahku, tahun ini mungkin gereja penuh, tapi bisa jadi tahun depan gereja hanya diisi 5 orang
Orang-orang yang aku tolong, ada yang pantas dan terkadang ada yang tidak pantas ditolong
Mereka semua berubah-ubah

Dan jika mereka adalah fokus tujuan hidupku
Maka apa yang kuanggap “terbaik” juga akan berubah-ubah sesuai standar dan kondisi penerimanya
Aku akan sering menaikkan dan menurunkan standarku
Yang mana itu berarti aku tidak memberikan yang terbaik demi orang lain seperti yang awalnya menjadi sumpahku

Tetapi apabila melayani Allah adalah tujuan utamaku
Kualitas pelayananku tidak akan berubah
Standar performaku tidak akan berubah
Karena Allah tidak pernah berubah

Standarku tentang apa yang “terbaik” untuk orang lain, tidak akan kudasarkan pada kondisi dari orang lain
Tetapi aku akan menggantungkan standar terbaik di hadapan Allah
Sehingga setiap saat tubuh dan jiwaku akan terlatih untuk mengejar apa yang terbaik dan melakukan yang terbaik

Kurasa itulah yang dibutuhkan untuk memiliki mental juara, mental terbaik
Pola pikir itulah membawaku terus naik level menuju kemampuanku yang sebenarnya
Pada akhirnya, Tuhan senang, mereka senang, aku senang, semua senang bukan *___*

Tetapi carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya
Itulah kunci untuk memberikan yang terbaik untuk orang lain
Itulah syarat utama untuk membangun orang lain
Itulah dasar utama dari sebuah tujuan demi kebaikan orang lain

Aku harap kau belum lupa bahwa artikel ini bukanlah tentang tujuan hidup saja melainkan juga tentang pengenalan diri
Oleh sebab itu, aku akan mengulangnya lagi:

Tetapi carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya
Itulah kunci untuk memampukan kita melampaui limit kita setiap hari
Itulah yang diperlukan agar setiap saat kita bisa naik level
Itulah kunci untuk MENGENAL DIRI KITA

Menolong diriku atau menolong orang lain bukanlah tujuan utama dalam hidup ini
Memuliakan Allah, itulah tujuan utama dalam hidup

Give your second best never!
~ Charles Spurgeon

#Bersambung

15. Terdengar Ironis Memang

Seperti kata orang, di atas langit masih ada langit. Memiliki tujuan hidup tentu saja lebih baik dibandingkan tidak memilikinya sama sekali. Namun, ada yang lebih baik dari sekadar memiliki tujuan hidup. Apakah itu? Itulah memiliki tujuan hidup untuk kebaikan orang lain. Akan tetapi, masih ada lagi yang melebihi semua itu.
Itu adalah memiliki tujuan hidup untuk melayani Allah

Segala sesuatu yang kita lakukan, harus kita lakukan UNTUK dan BERSAMA Tuhan. Untuk” dan “Bersama”, keduanya harus ada. Seseorang bisa saja berpikir melakukan sesuatu untuk Tuhan, tetapi tidak bersama Tuhan. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan fanatik sempit. To be exact, inilah yang dilakukan oleh begitu banyak manusia di dunia ini, termasuk aku.

Sebaliknya, orang juga bisa berpikir melakukan sesuatu bersama Tuhan, tetapi tidak untuk Tuhan. Bukankah ini yang diajarkan oleh Injil Kemakmuran? Bukankah ini yang dikejar oleh banyak sekali orang Kristen yang berorientasi pada berkat dan bukan pada Pemberi Berkat itu?

Merenung, menelusuri diri, berdoa, dan berpuasa untuk menemukan tujuan hidup adalah baik. Tetapi ada yang melebihi semua itu. Dan itu adalah mempersembahkan dan meletakkan semua itu di bawah kaki Tuhan kita, Yesus Kristus.

Kita mungkin bisa berkata, “Aku yakin inilah jalan hidupku, aku akan menjadi dosen.
Atau, “Tekadku sudah bulat, aku akan menulis sesuatu untuk membangun orang lain.”

Itu baik tetapi sayang belum yang terbaik. Yang terbaik adalah ini:
“Tuhan aku telah menggumulkannya, aku ingin menjadi dosen/aku ingin menulis.
Tetapi di atas keinginanku itu, aku lebih ingin melakukan sesuatu yang Kau perintahkan.
You just tell me what You want and I’ll be that for You.”

Terdengar ironis memang. Kita berlelah-lelah mengenal diri kita dan mencari tahu apa tujuan hidup kita. Untuk pada akhirnya, menyerahkan semua itu pada Tuhan. 
Dan mengizinkan-Nya untuk meng-editnya sebagian.
Atau bahkan mungkin untuk menulisnya kembali dari nol.
Itu adalah hak-Nya, bukan?

Terdengar ironis memang. Tetapi jangan pernah lupa: Allah terlalu mengasihi kita untuk tidak memberikan yang terbaik. Dia ingin agar kita menyerahkan semua tujuan hidup kita kepada-Nya karena Dia tahu bahwa itulah hal yang terbaik dan pada akhirnya akan membawa sukacita pada kita. Dia tahu bahwa pada akhirnya, kita tidak akan menyesal telah menyerahkan semua pada-Nya

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,
maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
(Matius 6:33)

Terdengar ironis memang. Kita sudah sejauh ini berjalan dan berlelah-lelah mengejar semua itu. Sementara Tuhan hanya menyaksikan semua itu dan MENUNGGU sampai akhirnya kita sendiri yang bertanya pada-Nya. Saat datang pada-Nya, kita berharap Dia akan berkata, “Kau sudah melakukan yang seharusnya kau lakukan, Nak. Good job, buddy.” Tetapi, oh, alangkah pedihnya ketika Dia berkata:
“No, no, no, you have gone too far… carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.

A : Carilah DAHULU Kerajaan Allah dan kebenarannya? Bukankah itu berarti kemungkinan besar aku harus memulainya lagi dari awal?
B : Well, bisa jadi.
A : Huaaaaaaa, tidaaaaaaakkkk. Masa harus kembali lagi dari awal? 
B : Tapi tidak selalu kok harus mengulang dari awal, mungkin kau hanya perlu memperbaiki motivasimu.
A : Iya tapi tetap aja itu ironis, tetap aja ada yang harus kuubah padahal sudah sejauh ini dan selama ini aku kira aku benar, hu hu hu hiks hiks hiks

Terdengar ironis bukan? Iya tentu saja akan sangat ironis, tetapi itu hanya akan menjadi ironis jika kita menutup telinga dari janji yang mengikutinya. Apakah janji yang mengikutinya?
Inilah janji itu: Maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

#Bersambung

14. How the Mighty Fall

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku:
Tuhan, Tuhan bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, 
dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata:
Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
~ Matius 7 : 23

Berbuat sesuatu bagi orang lain adalah sesuatu yang baik
Tetapi terkadang sesuatu yang baik belum tentu benar untuk dilakukan
Dan yang lebih sering terjadi, sesuatu yang baik belum tentu yang terbaik

Izinkan aku, untuk terakhir kalinya, menceritakan sesuatu tentang diriku
Yakni saat Tuhan mempermalukanku habis-habisan
Saat aku melihat Dia mengacuhkan semua hal baik yang kukira kulakukan untuk-Nya
Semoga sisi gelap yang pernah aku alami membukakan sesuatu di benak dan hatimu
Sebab mungkin kau pun pernah mengalaminya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Awalnya aku adalah seorang yang tidak suka menulis
Tetapi sesuatu terjadi di dalam hatiku
Aku harus menulis dan aku memutuskan untuk menulis
Waktupun berlalu dan here I am, I’ve changed, kini aku senang menulis

Tetapi itu bukanlah akhir dari segalanya
Aku semakin menyukai menulis hingga batas yang seharusnya tidak kulampaui
Aku semakin menyukai berbagi firman dan membangun orang lain
Sampai akhirnya itu bukan lagi menjadi satu-satunya alasanku menulis
Ada kalanya aku menulis hanya untuk menjaga waktuku tetap produktif
Ada kalanya aku menulis untuk menjaga otakku terus berjalan bahkan di waktu-waktu yang paling membosankan sekalipun

Menulis bukan lagi menjadi suatu pengorbanan bagiku karena kini aku menyukainya
Menulis malah menjadi alat untukku melayani diriku karena aku memang menikmatinya
Aku seharusnya sudah menduganya dari awal, tetapi aku membiarkan pertahananku melemah
Dan seperti orang yang terlalu polos, aku tak sadar itu adalah gerbang kejatuhanku

Semakin hari aku “semakin harus” menulis
Aku tidak boleh tidak menulis
Aku tidak bisa tidak menulis
Tuhan, apa yang terjadi padaku?

Waktu ini terlalu berharga jika digunakan untuk bermain-main, aku harus menulis
Aku harus membuat sesuatu yang berguna dan membangun
Ada banyak orang di luar sana yang mungkin bisa kubantu dengan tulisanku
Aku tidak boleh berhenti menulis
Dan suara hatiku mulai berkata lagi:
Ada yang salah denganku… Aku seperti terbelenggu… help me!

~~~~~~~~~~
Dan pergolakan batin terjadi dalam diriku:
A : Richard, stop it… stop it… Please… Stop writing… You can’t be like this

B  : Aku ga bisa berhenti, orang jahat saja ga pernah berhenti, kenapa aku harus berhenti?

A : Ya kau benar, tapi tidakkah kau sadar kau seperti orang yang terpenjara sekarang?
      Menulis telah memenjarakanmu.

B  : Tetapi… tetapi aku melakukan semua ini untuk orang lain

A : Ya, mungkin untuk orang lain, tetapi kau sedang tidak melakukannya untuk Allah.
       Remind me again why we started doing it!

B : No no no, you’re getting me wrong, Tuhan yang menyuruhku untuk menulis.

A :
No no no, you’re getting Him wrong
He didn’t ask you to write
He asked you to do SOMETHING FOR HIM
And more importantly… to do something WITH HIM
~~~~~~~~~~

Tetapi aku terlalu keras kepala
Aku melanjutkan kebiasaanku menulis
Dan nampaknya itu membuat Allah harus turun tangan

Suatu ketika aku sedang menulis sesuatu tentang penyangkalan diri (catat: Penyangkalan Diri loch)
Aku menulis tentang menyangkal diri
Aku tahu bagaimana dan kapan harus menyangkal diri
Tetapi kali ini, nampaknya aku hanya tahu sekadar tahu

Saat aku sedang menulis itu… saat aku menulis itu… pas sekali waktunya…
Handphone-ku berdering pertanda sms masuk
Akupun membaca isi sms yang aku belum menyimpan nomor dari pengirimnya itu 
Isinya sederhana, kurang lebih seperti ini:
Richard, besok apa bisa menjadi gitaris untuk ibadah sekolah minggu?

“Astaga
Mengapa harus sekarang???”

SMS itu membuatku keringat dingin dan menelan ludah di kerongkonganku
Sudah kuduga Tuhan akan turun tangan langsung untuk membuatku berhenti menulis
SMS itu membuatku hatiku lemas
Aku tahu benar bahwa Tuhan menyindirku habis-habisan hanya dengan sebuah SMS

Kau mungkin tidak mengeri maksudku
Biar aku jelaskan

Di Jakarta ini, seorang teman mengajakku untuk melayani di sekolah Minggu sebagai gitaris
Awalnya aku ingin menolak, aku tahu bagaimana diriku
Aku bukanlah orang yang dapat dengan mudah bergaul dengan anak kecil
Pelayanan ini akan menjadi luar biasa sulit bagiku
Jika aku ingin melayani di sini, pasti aku menyangkal diriku habis-habisan

Tetapi aku meneguhkan hatiku saat itu, aku ingin melakukan sesuatu yang baru bagi Tuhan
Lagipula, aku tidak sesibuk masa kuliah dulu, aku pasti bisa menyempatkan waktu untuk melayani Sekolah Minggu
Akhirnya aku memutuskan bersedia menjadi pelayan di Sekolah Minggu GII Semanggi

Aku sempat beberapa kali menjadi gitaris
Kuakui itu bukan pengalaman yang buruk, justru membangunku
Aku kagum melihat kakak-kakak sekolah Minggu-nya
Pikirku, hebat sekali mereka rela menghabiskan waktunya untuk menceritakan firman di depan anak-anak bayi itu?

Aku rasa pelayanan Sekolah Minggu tidaklah se-“suram” itu
Walau aku sering mendapati diriku salah tingkah di depan anak-anak yang sangat kecil itu, aku rasa aku bisa bertahan

Tetapi itu semua tidak bertahan lama
Semakin hari aku semakin sering ke lapangan
Aku tidak bisa lagi melayani di Sekolah Minggu
Dan otomatis, adaptasi yang sudah kubangun untuk Sekolah Minggu itu kini mulai melemah
Belum lagi aku sangat menyukai car free day

Dan inilah saatnya SMS itu datang
Aku baru saja sampai di Jakarta hari Rabu
Kamis dan Jumat aku bekerja di kantor seperti biasa
Dan harus berangkat lagi hari Seninnya
Which meantaku sangat sangat butuh refreshing dan itu hanya bisa dilakukan di Sabtu dan Minggu
Dan lagi, aku sangat kangen dengan suasana car free day hari Minggu yang sudah jarang aku temui

Dan di atas semua itu
Aku akui aku belum siap untuk bertemu dengan anak-anak itu lagi
Aku belum siap lagi untuk tersenyum manis di depan mereka dari awal sampai akhir
Adaptasiku sudah runtuh dan aku belum siap membangunnya kembali
Aku belum siap menyangkal diriku lagi… I need some time…

Ya Tuhan…
Seandainya ini adalah Kebaktian Pemuda, aku pasti siap Tuhan
Seandainya SMS-nya tidak dadakan, aku pasti bisa mengumpulkan semangatku Tuhan
Seandainya hari Senin aku tidak ke lapangan, aku pasti bersedia Tuhan

Tuhan, mengapa terlalu mendadak?
Tuhan… aku mau melepas penatku… aku kangen sekali car free day
Please Tuhan, jangan minta ini dariku, please
Aku siap melakukan hal lain tapi kumohon jangan ini

Aku menggumulkan semua itu dalam hati sembari mengetik SMS bahwa aku tidak bisa melayani 
Yap… dengan penuh rasa malu…
Aku mengaku aku gagal menyangkal diriku kali ini

Lalu Tuhan menegurku:
~~~~~~~~~~
Lihat apa yang sedang kau tulis saat ini di laptopmu!
Kau menulis tentang Penyangkalan Diri, that’s right… Penyangkalan Diri
Tetapi apa yang kau lakukan?
Kau sama sekali enggan menyangkal dirimu sendiri
Kau tahu semua itu tetapi kau tidak melakukannya, apa gunanya?

Aku tidak memintamu untuk menulis
Aku tidak memintamu untuk menyangkal diri dalam hal lain
Kali ini, aku cuma memintamu memberikan diri untuk Sekolah Minggu, itu saja
Tetapi kau enggan

Okelah kau menulis banyak hal
Okelah mungkin ada orang-orang yang merasa senang dan terberkati melalui tulisanmu
Tetapi kalau Aku tidak senang dengan itu, kau mau apa?
~~~~~~~~~~

Hatiku hancur sekali
Aku merasa seakan-akan Tuhan melempar semua tulisanku seperti seorang dosen melempar kertas ujian mahasiswanya
Tuhan benar-benar membuatku tertunduk malu dengan diriku sendiri
Aku sendiri muak melihat diriku yang lemah dan munafik ini
Mengapa aku tidak bisa menyangkal diri kali ini?
Mengapa susah sekali?

Hampir-hampir aku terintimidasi dan merasa Bapa pasti membenciku selama ini
Tetapi Roh Kudus dengan manis menghiburku
Justru karena Bapa sangat mengasihiku makanya Dia menegurku, bahkan menyindirku, dengan cara sepedih ini
Justru karena Bapa sangat mengasihiku makanya Dia tidak mau aku melenceng lebih jauh lagi
Justru karena Bapa sangat mengasihiku makanya Dia mau supaya aku kembali melayani UNTUK-NYA dan DENGAN-NYA

Aku menjadi segan, benar segan kepada Allah
Aku merasakan apa yang Daud rasakan ketika Daud melihat Allah membunuh Uza yang hendak mencegah Tabut Allah jatuh
Saat itu, Daud menjadi takut, Dia tidak berani dan tidak jadi membawa Tabut Allah ke kediamannya
Daud menjaga jarak dengan Allah, Daud menjadi segan dengan Allah
Daud ingin mendefinisikan ulang betapa jauhnya dirinya dengan Allah

Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN,
lalu katanya: “Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?”
Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud

~ 2 Samuel 6 : 9 – 10

Dia adalah Allah, aku tidak bisa main-main dengan Dia
Aku ini pelayan
Aku tidak bisa seenaknya menulis dan merasa bahwa aku sedang melakukan itu untuk-Nya
Aku cuma pelayan, kalau Tuanku tidak menyuruhku menulis, aku tidak boleh menulis
Aku akan menulis jika dan hanya jika Tuhan menyuruhku

Benar sekali apa yang Tuhan katakan
Okelah aku menulis, okelah aku melakukan sesuatu untuk orang lain
Tetapi kalau Tuhan tidak menjadi alasan utama dari semua itu
Kalau Tuhan tidak senang dengan semua itu, aku mau apa?
Habislah sudah semua usahaku kalau pada akhirnya Tuhan tidak disenangkan dengan semua itu

Aku harus berubah
Aku belajar untuk melakukan segala sesuatu UNTUK-NYA dan DENGAN-NYA
Next time, mungkin Tuhan akan TIBA-TIBA lagi datang untuk memintaku menyangkal diri
Aku harus belajar menjadi lebih rendah hati

Aku harus belajar lebih lagi untuk menanggalkan egoku
Aku harus siap menyangkal diriku lagi dan lagi tiap kali Allah memintanya

Terus terang, ada hal-hal yang paling aku takut kalau-kalau Tuhan memintanya dariku
Aku paling takut kalau Tuhan memintaku menyangkal diri untuk melakukan itu
Mungkin itu juga yang pemuda yang kaya itu rasakan
Ketika Yesus berkata:
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, 
maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Tetapi sampai kapan aku harus lari kalau Tuhan memintaku menyangkal diri seperti itu
Sampai kapan aku akan menolak kalau tiba-tiba SMS untuk menjadi gitaris di Sekolah Minggu itu datang lagi?

Ya Tuhan, aku ingin sekali melayanimu dengan segala apa yang ada padaku
Tetapi aku akui kadang kala permintaan-Mu begitu sulit kupenuhi
Terkadang aku menolak-Mu
Aku tahu bahwa tiap kali aku menolak-Mu, hatikupun sakit sekali

Tetapi inilah aku Tuhan, yang masih terlalu lemah
Yang masih terlalu mencintai diriku untuk menyerahkan semuanya pada-Mu
Aku mungkin siap memberi uangku pada-Mu, tetapi apa aku siap ketika Kau meminta waktuku?
Aku mungkin siap memberi pikiranku pada-Mu, tetapi apa aku siap jika Kau meminta kesehatanku?
Aku mungkin siap menyangkal diri untuk suatu hal, tetapi apa aku selalu siap jika Kau meminta hal lain?

Tolong aku Tuhan
Ternyata benar aku tidak bisa berjalan sendiri untuk melayani-Mu

Tolong aku Tuhan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana denganmu Kawan?

  • Bagaimana kalau Tuhan meminta sesuatu darimu secara MENDADAK?
  • Apakah kau pernah melakukan sesuatu, sesuatu yang baik, tetapi Dia tidak menjadi alasan dari semua itu?
  • Pernahkah kau merasa sedang melakukan pelayanan tetapi tidak merasa ada Tuhan di dalamnya?
  • Pernahkah kau merasa bahwa pelayanan itu memenjarakanmu atau hanya menjadi rutinitas?

Ingat, jangan sampai sesuatu yang baik sedang mencegahmu melakukan yang terbaik?

Pernahkah kau mengalami hal yang sama denganku?
Yakni ketika kau merasa sudah melakukan banyak hal baik untuk orang lain
Tetapi Allah tiba-tiba datang dan memintamu menyangkal diri untuk sesuatu yang lain
Dan ternyata kau gagal?
Pernahkah?

Adakah sesuatu yang paling kau takuti kalau-kalau Allah memintanya darimu?

Atau jangan-jangan…
Semua pelayananmu merasa menyenangkan tanpa ada sedikitpun pengorbanan?

Guyz… hati-hati… sangatlah hati-hati dengan kondisi itu
Karena dari awal sampai akhir Alkitab mengajar bahwa tidak mungkin tidak ada pemuliaan tanpa pengorbanan
Hati-hati, bisa jadi pelayanan semacam itu tidak membawamu ke manapun

Apakah kau melakukan segala sesuatu UNTUK-NYA
Apakah kau melakukan segala sesuatu DENGAN-NYA

Sungguh
Kau tidak akan mau suatu saat Tuhan menolak semua hal baik yang pernah kau lakukan
Dan kau hanya bisa mengelus dada dan berkata:
Hufff… how the mighty (something good that you think you do for Him) fall”

#Bersambung