Senjata Daud

Pula kata Daud:

“TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Kata Saul kepada Daud:

“Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya.

Maka berkatalah Daud kepada Saul:
Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.”

Kemudian ia menanggalkannya.

Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.
(1 Samuel 17:37-40)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pertempuran Daud melawan Goliat merupakan pertempuran bersejarah yang dicatat oleh Alkitab. Pertempuran ini sangatlah istimewa dari kacamata iman, bukan saja karena keajaiban di dalam kemenangan Daud melawan Goliat, tetapi juga karena peperangan ini merupakan gambaran dari cara berperang Tuhan Yesus Kristus dan setiap orang Kristen.

Sama seperti Daud yang justru terganggu dengan segala persenjataan mutakhir yang diberikan oleh Saul dan kemudian menanggalkannya, Tuhan Yesus tidak menggunakan persenjataan dunia ketika Ia berada di dalam dunia ini untuk memerangi Kerajaan Iblis dan orang-orang fasik. Ketika Ia disakiti, Ia tidak membalas menyakiti. Bahkan, ketika Ia disalibkan tanpa bersalah, Ia memanjatkan doa kepada Bapa demi pengampunan bagi mereka yang menganiaya Dia. Tuhan Yesus selalu membalas kejahatan dengan kasih dan kebaikan. Ini jauh sekali dengan taktik berperang yang dunia tawarkan. Jika ada satu senjata yang Tuhan Yesus hunuskan selama hidup-Nya di dunia ini, itu adalah firman Allah. Untuk satu senjata ini, Ia tidak pernah melepaskannya. Ia selalui memakainya tiap kali Ia berhadapan dengan Iblis dan dengan para imam, ahli Taurat, dan orang-orang Farisi.

Sebagai orang-orang percaya, kita juga dipanggil untuk berperang seperti Daud dan Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak dipanggil untuk bertempur melawan Iblis dan kejahatan dengan cara-cara dunia, yakni dengan kepintaran, kuasa, atau harta duniawi. Kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita tidak melawan kesombongan dengan balik menjadi sombong. Kita tidak membalas kata-kata kasar dengan kata-kata yang sama kasarnya. Kita tidak memerangi taktik Iblis dengan strategi yang bersumber dari hikmat dunia sebab keduanya adalah kegelapan. Sama seperti senjata Saul justru menyulitkan Daud, cara-cara dunia ini justru menghambat orang Kristen untuk berperang dengan efektif.

Peperangan melawan kejahatan pada hakekatnya bukanlah peperangan kemanusiaan atau peperangan yang diusung oleh sekelompok orang tertentu yang berinisiatif untuk menegakkan kebajikan. Peperangan melawan kejahatan merupakan peperangan yang diinisiasi langsung oleh Allah di Taman Eden (Kejadian 3:14-15). Ini merupakan perangnya Allah dan oleh sebab itu, jika kita ingin terlibat di dalam peperangan melawan kejahatan, kita harus berperang dengan taktik perang dan senjatanya Allah dan semua itu telah Ia ajarkan kepada kita di dalam firman-Nya. Dengan hal-hal inilah kita seharusnya mempersenjatai diri:

  • kebenaran (truth)
  • kebajikan (righteousness)
  • kerelaan untuk memberitakan Injil
  • iman
  • keyakinan akan keselamatan di dalam Kristus
  • firman Allah
  • doa
    (Efesus 6:14-18).

Lebih jauh, dari teladan orang-orang kudus di dalam Alkitab, kita juga didorong untuk berperang dengan mengenakan senjata:

  • hikmat (Kitab Amsal),
  • pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara seiman, dan kasih akan semua orang (2 Petrus 1:5-7), serta
  • kelemahlembutan dan kerendahan hati (Matius 11:29).

Demikianlah hendaknya kita berperang melawan Kerajaan si Jahat. Kita tahu dari firman Allah bahwa Allah untuk sekian waktu lamanya telah menyerahkan dunia ini di bawah kuasa Iblis (1 Yohanes 5:19). Iblis adalah penguasa dunia ini dan oleh karena itu hikmat, kuasa, serta harta yang berasal dari dunia ini tidak akan pernah mampu memberi kita kemenangan melawan kejahatan. Hanya ada satu senjata yang seharusnya kita pakai, yakni satu set perlengkapan senjata terang seperti yang kita temukan di dalam Alkitab.

Dan sebelum kita lupa, kita tidak akan dapat memakai seluruh persenjataan Allah itu jika roh dunia tinggal di dalam kita. Kita hanya dapat menggunakan senjata Allah jika Roh Allah berdiam, hidup, dan bekerja di dalam kita. Kita menerima Roh Kudus itu ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan oleh Roh itulah kita memiliki hidup (Roma 8:2). Paulus berkata, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25). Oleh sebab itu, marilah kita hidup di bawah pimpinan Roh Allah yang akan menuntun kita mengenakan seluruh senjata Allah untuk bertempur melawan Kerajaan Iblis yang menguasai dunia yang gelap ini.

Tanggalkanlah segala senjata dunia dan pakailah perlengkapan senjata sorga.
Matikanlah roh dunia dan hiduplah di bawah tuntunan Roh Allah.

Dan janganlah takut sedikitpun akan apa yang dapat dunia lakukan pada kita sebab firman Allah berkata, “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4). Biarlah lagu “O Church Arise” ini menjadi semangat yang berkobar di dalam hati kita:

“O church, arise, and put your armor on;
Hear the call of Christ our captain.
For now the weak can say that they are strong
In the strength that God has given.
With shield of faith and belt of truth,
We’ll stand against the devil’s lies.
An army bold, whose battle cry is love,
Reaching out to those in darkness.

Our call to war, to love the captive soul,
But to rage against the captor;
And with the sword that makes the wounded whole,
We will fight with faith and valor.
When faced with trials on every side,
We know the outcome is secure.
And Christ will have the prize for which He died:
An inheritance of nations.

Amin

Advertisements

Jangan Dengar Bisikannya

Pula kata orang Filistin itu:

“Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang,
supaya kami berperang seorang lawan seorang.”

Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Firman Tuhan dengan sangat cermat menunjukkan kepada kita bahwa sumber dari  kecemasan hati serta ketakutan luar biasa yang melanda Raja Saul dan segenap orang Israel adalah karena mereka mendengar perkataan Goliat. Mereka takut karena mereka mendengar apa yang seharusnya tidak mereka dengarkan.

Allah menciptakan telinga, bukan supaya kita mendengar bisikan atau bualan si Jahat. Jika kita mendengarnya, maka roh ketakutan dan ketidakpercayaan, yang sangat dibenci oleh Allah itu, akan masuk melalui telinga kita dan tinggal di dalam hati kita. Amsal 4:23 berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” dan itu berawal dari mendengar apa yang baik dan dari segala yang baik yang dapat kita dengar, tidak ada yang lebih baik dan yang lebih indah dibanding firman Allah.

Allah menciptakan telinga agar kita mendengar firman Allah sebab Ia adalah Allah yang berbicara, bahkan Amsal 1:20-23 mengatakan bahwa Ia selalu berbicara dan tidak pernah diam. Jika kita mendengar firman Kristus, maka seperti kata Paulus dalam Roma 10:17, iman akan timbul di dalam hati kita dan bersama-sama dengan iman itu, hidup, hikmat, sukacita, kekuatan, pengharapan, damai sejahtera, dan karunia lainnya juga akan timbul, mengisi dan mewarnai hati kita, serta menyingkirkan roh ketakutan dan keraguan yang ada. Firman Tuhan berkata, “Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:6). Tanpa iman, Allah tidak akan menyertai kita. Tanpa iman, kita akan selalu mendengar Iblis dan menjadi ketakutan tiap kali pergumulan dan peperangan melanda.

Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan,
di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya,

di atas tembok-tembok ia berseru-seru,
di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.

“Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?

Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu.

(Amsal 1:20-23)

Daud adalah orang yang sangat senang mendengar firman Allah dan karena itu, ada iman di dalam hatinya. Itulah sebabnya ketika Daud mendengar bualan Goliat (1 Samuel 17:23), ia bukannya takut seperti Saul dan seluruh bangsa Israel, melainkan dipenuhi oleh amarah yang kudus serta kuasa dari Allah untuk segera menumbangkan prajurit gagah perkasa yang sombong itu. Inilah yang kita butuhkan, telinga yang selalu terbuka serta hati yang senantiasa haus akan firman Tuhan. Ketika kita mendengar firman Kristus, iman akan timbul di dalam hati kita dan dari hati yang penuh iman itulah akan terpancar kehidupan yang sejati dan penuh harapan.

Amin

Musuh Kita yang Sebenarnya

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah,
supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa,
melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,
melawan roh-roh jahat di udara.
(Efesus 6:11-12)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kau terlibat di dalam sebuah peperangan!
Kau ada di dalam sebuah peperangan!

Ini adalah medan perang. Perhatikanlah, sumber masalah yang sebenarnya adalah si Musuh, bukan budaya kita. Kita tidak sedang berperang melawan budaya masyarakat kita. Lupakanlah culture war!

Dengar! Ketika gereja tidak dapat melihat siapa musuh yang sesungguhnya, maka ia pasti akan memerangi musuh lain yang sejatinya bukanlah musuh yang sebenarnya.

Adalah seorang D. E. Hoste yang merupakan penerus dari Hudson Taylor, Direktur Jendral dari Overseas Missionary Fellowship, China Inland Mission. Dan ia berkata, “Saya tidak akan mengutus seorang pria atau wanita ke dalam ladang misi, kecuali ia telah belajar untuk bergulat melawan si Jahat, sebab jika mereka belum pernah belajar untuk bergumul dengan si Jahat, mereka akan bertarung melawan teman mereka sesama misionaris.”

~ Alistair Begg ~

Dixon Edward Hoste

Link khotbah Alistair Begg:
https://www.youtube.com/watch?v=9ZCdzYp2HlI&t=3s

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saudara-saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan kita, Yesus Kristus.

Akhir-akhir ini, ada begitu banyak kabar yang memberitakan tentang ketidakadilan, diskriminasi, kejahatan, bahkan penganiayaan yang ditujukan kepada saudara-saudara kita di dalam Kristus, hanya karena iman yang mereka peluk. Kejahatan-kejahatan itu dapat timbul dari segala arah, mulai dari teman sepermainan, guru dan dosen, rekan-rekan kerja, atasan, anggota keluarga, kelompok radikal garis keras, teroris, bahkan pemerintah. Hal ini dapat kita lihat terjadi di seluruh dunia dan sedikit banyak kita juga mengalami ketidakadilan tersebut sejak kecil.

Melihat dan merasakan semua itu, tidak sedikit dari kita akan bangkit berdiri untuk melakukan perlawanan dan pembalasan. Saya yakin firman Tuhan tidak melarang kita untuk melakukan perlawanan terhadap tindak kejahatan. Namun, firman Tuhan juga mencegah kita untuk melakukan perlawanan dengan salah dan yang berpotensi membuat kita berdosa. Firman Tuhan tidak melarang kita melawan, bahkan mendorong kita untuk berperang. Namun, firman Tuhan memberi tahu kita semua bahwa musuh kita yang sejati bukanlah “darah dan daging”, yang artinya adalah sesama kita manusia, melainkan si “pemerintah-pemerintah”, si “penguasa-penguasa” , si “penghulu-penghulu dunia yang gelap ini”, dan “roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:11-12).

Siapakah mereka yang Paulus sebut itu? Ya, mereka semua adalah Iblis yang telah menguasai dunia ini (1 Yohanes 5:19), tentunya sejauh yang Allah izinkan. Merekalah musuh kita yang sejati. Merekalah dalang di balik semua ketidakadilan dan kejahatan yang kita rasakan. Merekalah yang membutakan mata hati orang-orang akan kebenaran (2 Korintus 4:4) dan mempengaruhi pikiran orang-orang untuk mengikuti jalan-jalan mereka (Efesus 2:1-2).  Oleh sebab itu, sembari kita melakukan perlawanan terhadap orang-orang jahat dan tidak adil, yang mana semua itu harus kita lakukan dengan lemah lembut, penuh hormat, dan hati nurani yang murni (1 Petrus 3:15-16), kita juga harus ingat bahwa serangan utama kita haruslah ditujukan kepada Kerajaan Iblis.

Dan bagaimanakah kita melawan Iblis? Firman Tuhan memberi kita setidaknya tiga arahan ini:

  • Jangan berlari dari Iblis, kita harus melawannya dan ia yang akan berlari dari kita (Yakobus 4:7)
  • Kita berperang melawan Iblis dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani (Efesus 6:10-20). Tanpa semua persenjataan itu, niscaya kita kalah.
  • Kita dapat mengalahkan Iblis dengan darah Anak Domba dan dengan perkataan kesaksian kita di hadapan orang-orang tentang Yesus Kristus dan keselamatan yang ada di dalam Dia (Wahyu 12:11)

Biarlah ini menjadi perenungan kita untuk tetap berdiri teguh di zaman ini dan di dalam berperang melawan kejahatan. Biarlah kita seperti Paulus yang berkata, “Aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya (1 Korintus 9:26-27)”, supaya kita tidak salah memukul dan malah menyakiti sesama kita manusia, melainkan menyerang secara efektif Iblis dan Kerajaannya.

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah kita. Amin.

Komitmen Iblis vs Komitmen Allah

Di seluruh bagian Alkitab, firman Tuhan tidak henti-hentinya memperingatkan setiap umat Tuhan untuk berjaga-jaga terhadap Iblis sebab ia tidak pernah lelah dan tidak pernah berhenti berusaha untuk menghancurkan iman mereka. Rasul Petrus menegaskan hal ini dengan berkata:

Sadarlah dan berjaga-jagalah!
Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum
dan mencari orang yang dapat ditelannya.
(1 Petrus 5:8)

Iblis sangat berkomitmen untuk menghancurkan hidup anak-anak Tuhan. Tidak hanya itu, ia berkomitmen untuk menghancurkan hidup seluruh umat manusia. Ia berusaha tiada henti menghasilkan berbagai ajaran sesat, memproduksi berbagai macam obat terlarang, merusak banyak rumah tangga melalui perselingkuhan, menghasut banyak orang untuk menjadi homoseksual, menggoda jutaan anak muda untuk mengkonsumsi pornografi, menimbun kebencian di dalam hati para teroris dan merampas belas kasihan dari hati mereka, mengeraskan hati dan membutakan mata para penguasa sehingga mereka bertindak sewenang-wenang dalam kekuasaannya, dan lain sebagainya. Daftar itu akan terus berlanjut dan kita tidak tahu kapan selesainya. Ia tidak pernah berhenti. Ia tidak pernah lelah. Oh, apalah arti kuasa dan hikmat kita jika dibandingkan dengannya?

Ini merupakan realita yang seharusnya membuat kita berjaga-jaga dengan selalu mengenakan perlengkapan senjata Allah supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihatnya yang setiap waktu ditargetkan untuk melumpuhkan kita (Efesus 6:13-18). Namun, kita tidak perlu takut sebab Iblis bukanlah pemeran utama, baik di Alkitab maupun di bawah kolong langit ini. Iblis memang memiliki komitmen yang teramat sangat tinggi, dan firman Tuhan bahkan mencatat bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasanya (1 Yohanes 5:18), tetapi ada Pribadi yang komitmen dan kuasa-Nya bahkan jauh melampaui Iblis. Pribadi itu adalah Allah kita dan Ia berkomitmen serta berkuasa untuk memberkati kita. Seluruh bagian Alkitab bersaksi tentang kuasa dan kesetiaan-Nya untuk mewujudkan komitmen-Nya itu menjadi nyata di dalam hidup setiap anak-Nya. Rasul Paulus berkata:

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

(Roma 8:28-29)

Iblis sangat berkomitmen untuk mendatangkan kehancuran di dalam hidupku dan hidupmu. Kita sama sekali tidak boleh menyepeleken fakta tersebut. Namun, kita juga tidak perlu kuatir, sebab setinggi-tingginya komitmen iblis untuk menghancurkan kita, lebih tinggi komitmen Allah untuk menyelamatkan dan membangun kita, sepanjang-panjangnya kesabaran iblis untuk melumpuhkan kita, lebih panjang sabarnya Tuhan untuk menopang kita dan berjalan bersama kita, dan sebesar-besarnya kuasa iblis, sungguhlah jelas bahwa lebih besar kuasa Allah kita.

Tuhan Yesus berjanji  kepada setiap kita, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” (Yohanes 10:27-29). Biarlah janji Tuhan ini meneguhkan iman kita senantiasa selagi kita hidup dan berjalan di dalam dunia ini.

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah kita. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tulisan ini terinspirasi dari kalimat Jasmine Holmes dalam artikelnya yang berjudul, “I Wasn’t Ready for Marriage” di situs DesiringGod.org. Ia menulis:

“Walaupun kuasa yang sangat dahsyat ditargetkan untuk menghancurkan pernikahan, Allah adalah Sang Pencipta pernikahan, dan Ia jauh lebih berkomitmen untuk menumbuhkan dibandingkan Iblis untuk menghancurkannya.”

Sumber: http://www.desiringgod.org/articles/i-wasn-t-ready-for-marriage

Pencobaan yang Mengusik Orang Percaya, oleh Richard Sibbes

Beberapa orang Kristen, yang sungguh-sungguh telah lahir baru, seringkali dihantui oleh pikiran-pikiran yang najis di dalam imajinasi mereka, dan oleh pikiran-pikiran yang hina dan tak pantas tentang Allah, Kristus, dan firman-Nya, yang, seperti lalat, menggelisahkan dan mengganggu kedamaian hati mereka. Pikiran-pikiran yang jahat ini dilemparkan ke dalam imajinasi mereka oleh Iblis. Memang di dalam setiap orang Kristen masih tertinggal natur yang jahat namun sifat, kuasa, keganasan, dan kengerian dari pikiran-pikiran jahat yang berasal dari Iblis itu berbeda dan dapat dibedakan dari pikiran jahat yang memang berasal dari natur dosa yang masih ada di dalam hati setiap orang percaya. Sama seperti Benyamin yang tidak tahu menahu ketika Yusuf, kakaknya, menaruh piala Yusuf ke dalam karungnya (Kejadian 44), orang-orang saleh tidak menyadari ketika Iblis diam-diam menabur bibit pikiran-pikiran busuk itu ke dalam benak mereka.

Para penulis yang saleh telah menganjurkan beberapa hal untuk dilakukan ketika pencobaan seperti itu menyerang, yaitu untuk membenci pikiran-pikiran itu dan segera mengalihkan perhatian kita dari godaan tersebut kepada hal-hal yang lain. Selain hal tersebut, tambahkanlah ini: mengadulah pada Kristus mengenai itu semua, berlarilah ke bawah naungan sayap perlindungan-Nya, dan mohonkanlah agar Ia membela kita dalam menghadapi musuh-Nya dan musuh kita itu. Jika setiap dosa dan hujatan manusia dapat diampuni, masakan pikiran-pikiran najis itu tidak dapat diampuni oleh-Nya? Kristus sendiripun pernah dicobai sedemikian supaya Ia dapat menolong jiwa-jiwa yang miskin yang sedang mengalami kondisi yang demikian (Matius 4:1, Ibrani 4:15).

Namun, ada perbedaan antara Kristus dan kita dalam hal ini. Iblis tidak memiliki apapun di dalam diri Kristus. Godaan-godaan Iblis tidak berpengaruh sama sekali terhadap natur-Nya yang kudus. Justru sebaliknya, sama seperti percikan api tercemplung ke samudera, cobaan Iblis kepada Kristus segera pudar. Namun, Ia menyerahkan diri-Nya untuk dicobai dengan cara ini sehingga Ia juga merasakan apa yang kita alami ketika kita dicobai oleh iblis dan melalui itu semua, Ia mengajar kita untuk menggunakan perlengkapan senjata rohani yang kita miliki, sebagaimana Ia memakainya. Kristus bisa saja mengalahkan Iblis dengan kuasa-Nya namun Ia memilih untuk mengalahkannya dengan firman Allah.

Berbeda dengan itu, ketika Iblis mendatangi kita, ia menemukan sesuatu yang adalah miliknya di dalam diri kita, yang terhubung dengannya dan mengenali suaranya. Pada kadar tertentu, di dalam diri kita, masih tertinggal kecenderungan untuk menentang Allah dan menentang apa yang baik, sebagaimana yang ada di dalam diri Iblis. Oleh sebab itu, setiap pencobaan yang Iblis arahkan kepada kita akan menodai kita. Dan kalaupun Iblis tidak datang menggoda kita, pikiran-pikiran yang penuh dosa masih dapat timbul dari dalam diri kita. Kita masih memiliki sisa-sisa kejahatan itu di dalam diri kita.

Jika pikiran-pikiran jahat itu tinggal cukup lama di dalam jiwa kita, semua itu akan mengisap dan menimba keinginan-keinginan jahat dari dan oleh jiwa kita dan akan menimbulkan perasan bersalah yang lebih besar di dalam jiwa kita. Itu semua akan mengusik persekutuan yang indah antara kita dengan Allah, mengganggu kedamaian hati kita, dan menaruh hasrat yang bertentangan di dalam jiwa kita. Itu semua dapat menjadi dosa yang lebih besar. Semua tindakan dosa adalah sebuah pemikiran pada awalnya. Pikiran-pikiran najis adalah seperti pencuri berbadan mungil yang menyelinap melewati jendela dan membuka pintu untuk pencuri yang berbadan besar. Pikiran adalah bibit dari tindakan. Semua ini membuat setiap orang Kristen hidup layaknya seorang martir yang menderita, khususnya ketika Iblis membuatnya semakin menjadi-jadi.

Dalam kondisi yang demikian, tidaklah tepat jika kita berpikir bahwa pikiran-pikiran jahat itu berasal dari natur kita sendiri, dan juga, adalah salah kalau kita berpendapat bahwa karena itu alamiah, maka wajar jika kita memikirkannya. Kita harus mengerti bahwa natur, yang berasal dari tangan Allah, tidak membuahkan pemikiran-pemikiran semacam itu. Jiwa, yang diinspirasi oleh Allah, tidak menghembuskan nafas yang menjijikkan. Namun, karena jiwa kita dikhianati oleh dirinya sendiri karena dosa, maka adalah hal yang wajar jika kita memiliki pikiran-pikiran yang hina dan menjadi tungku perapian yang memercikkan api yang jahat itu. Dan itu semua akan memperparah keberdosaan yang telah berakar begitu dalam dan menyebar begitu luas di dalam sifat kita.

Menyadari betapa luas dan dalamnya dosa kita akan membuat kita merasa begitu menjijikkan. Namun, kenyataan bahwa kita tidaklah gembira setiap kali pikiran-pikiran jahat itu timbul dari benak kita, mengajarkan kita satu hal: yaitu kita tidak sendirian dalam hal ini. Kita seringkali tergoda untuk berpikir bahwa hanya kita yang mengalaminya, dan banyak yang putus asa karena pemikiran itu, namun sesungguhnya tidaklah demikian. Banyak yang berkata, “Tidak ada orang yang memiliki sifat yang begitu menjijikkan ini selain aku.” Orang-orang berpikir demikian karena mereka tidak menyadari betapa luasnya dosa awal (original sin) telah menyebar, karena apakah yang dapat timbul dari hal yang najis selain hal yang najis? Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu (Amsal 27:19), setidaknya apabila tidak ada anugerah untuk mengubahnya.

Sebagaimana gangguan-gangguan lain yang berasal dari Iblis, jalan terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyampaikan pengaduan kita kepada Kristus, dan berseru bersama-sama Paulus:

Aku, manusia celaka!
Siapakah yang akan melepaskan aku dari TUBUH MAUT ini?
(Roma 7:24)

Setelah ia meluapkan segala kesengsaraannya itu kepada Kristus, ia segera menemukan kedamaian dan ucapan syukur, “Syukur kepada Allah!” (Roma 7:25). Dan hal baik yang dapat dipetik dari semua ini adalah kita akan semakin membenci tubuh maut ini, dan akan datang semakin dekat kepada Allah, sebagaimana pemazmur yang awalnya berkata “aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu” (Mazmur 73:22), akhirnya berubah dan berkata, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.” (Mazmur 73:28). Dengan cara ini, kita menjaga hati kita untuk tetap dekat dengan Allah dan membumbuinya dengan perenungan sorgawi di pagi hari. Kita menyimpan hal-hal yang baik sehingga hati kita menjadi perbendaharaan yang baik sembari kita terus memohon agar Roh Kristus yang Kudus melenyapkan arus terkutuk dari pikiran-pikiran najis itu, dan agar Ia menjadi mata air hidup yang mengalirkan pikiran-pikiran yang baik ke dalam hati kita.

Tidak ada hal lain yang lebih mempermalukan jiwa orang-orang kudus, yang keinginannya adalah untuk bersuka di dalam Allah, setelah mereka melepaskan diri dari kecemaran dunia, selain hal-hal najis yang tinggal di dalam diri mereka, sebab itu semua sangatlah bertentangan dengan Allah, yang adalah Roh yang murni.  Namun, hal yang sangat mengusik itupun akan menjadi penghiburan bagi orang-orang percaya pada akhirnya. Sebab segala kenajisan itu akan memaksa jiwa kita untuk berlatih secara rohani, untuk lebih waspada, dan untuk berjalan dekat dengan Allah. Itu semua akan mendesak jiwa kita untuk memikirkan hal-hal yang lebih tinggi, seperti kebenaran Allah, karya Allah, persekutuan orang-orang kudus, rahasia kesalehan, takut akan Allah, keistimewaan status orang Kristen, dan kehidupan yang berpadanan dengan semua itu. Itu semua akan membuat kita menyadari betapa kita membutuhkan anugerah yang membersihkan dan mengampuni kita hari demi hari, dan membuat kita sadar akan pentingnya hidup di dalam Kristus sehingga pada akhirnya semua pencobaan itu akan membuat kita lebih sering berlutut di hadapan Alllah.

Penghiburan kita yang terutama adalah ini, yaitu bahwasanya Juruselamat kita, sebagaimana Ia memerintahkan Iblis untuk enyah dari pada-Nya setelah Ia membiarkan keangkuhannya untuk sementara waktu (Matius 4:10), demikianlah Ia juga akan memerintahkan ia untuk pergi dari kita ketika waktunya telah tepat untuk kita. Dengan sepatah kata dari-Nya, Iblis akan segera pergi dari kita. Dan Kristus mampu dan ingin, di dalam waktu-Nya, untuk menegur hati kita yang memberontak kepada-Nya, dan Ia akan menaklukkan segala pikiran yang berasal dari dalam diri kita untuk tunduk kepada-Nya (2 Korintus 10:4).

Diterjemahkan dengan beberapa adaptasi dari buku The Bruised Reed, oleh Richard Sibbes

 *Jika Anda cukup kesulitan dalam memahami beberapa kalimat di dalam tulisan di atas, kemungkinan besar kesalahan bukan terletak pada Anda. Kesalahan ada pada penulis yang mengalami kesulitan dalam menerjemahkan teks yang ditulis dalam Bahasa Inggris klasik abad ke-16 yang cukup berbeda dengan Bahasa Inggris modern yang kita kenal saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sibbes

Sama seperti beberapa Puritan yang lain, Richard Sibbes berasal dari keluarga yang sederhana. Ia lahir di Desa Tostock, Suffolk, pada tahun 1577. Ayah Sibbes, Paul Sibbes, bekerja sebagai seorang pembuat roda. Paul mengharapkan anaknya untuk melanjutkan usahanya tersebut. Namun, Richard yang sejak kecil telah menunjukkan kecintaannya yang besar terhadap buku ini tidak memenuhi harapan ayahnya tersebut. Pada usia delapan belas tahun, Richard berkuliah di St. John’s College di Cambridge. Pada tahun 1599, ia berhasil lulus dengan gelar Bachelor of Arts dan tiga tahun berikunya, ia menyelesaikan pendidikan magisternya dan mendapat gelar Master of Arts.

Pada tahun 1603, yakni di usianya yang ke 25-26 tahun, Richard Sibbes bertobat dan menyerahkan dirinya pada Tuhan Yesus Kristus. Ia mengalami mujizat lahir baru oleh kuasa Roh Kudus setelah mendengar khotbah Paul Baynes, yang Sibbes sebut sebagai ayahnya dalam Injil. Paul Baynes sendiri adalah seorang Puritan yang cukup dikenal melalui tafsirannya untuk Surat Efesus dan ia merupakan penerus dari William Perkins, Bapak Para Puritan, di gereja St. Andrews di Cambridge.

Pada tahun 1608, Sibbes ditunjuk untuk melayani di Church of England di Norwich. Pada tahun 1611 hingga 1616, ia ditunjuk untuk menjadi pendeta di Gereja Holy Trinity di Cambridges. Khotbah-khotbah Sibbes membangunkan kerohanian di Cambridge yang telah lama pudar semenjak wafatnya William Perkins. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke gereja untuk mendengarkan Sibbes berkhotbah. Saking banyaknya simpatisan yang hadir, galeri tambahan harus dibangun di gereja tersebut sehingga jemaat yang datang dapat dilayani dengan baik. Puritan John Cotton dan Hugh Peters bersaksi bahwa mereka bertobat berkat khotbah-khotbah yang Sibbes sampaikan.

Berkat pengaruh teman-temannya, pada tahun 1617, Sibbes dipercaya untuk menjadi pengkhotbah di Gray’s Inn, London. Gray’s Inn ini merupakan satu dari empat Inns of Court yang masih ada hingga saat ini dan merupakan pusat studi hukum yang paling penting di Inggris. Pada tahun 1626, selain melayani di Gray’s Inn, Sibbes juga menjadi kepala di St. Catherine’s College, Cambridge. Di bawah pimpinannya, kampus itu menjadi lebih baik dibanding keadaan sebelumnya. Tidak lama setelah itu, Sibbes menerima gelar Doctor of Divinity di Cambridge. Ia kemudian sering dijuluki sebagai “The Heavenly Doctor” karena khotbah-khotbahnya yang Alkitabiah, penuh dengan hadirat Allah, dan hidupnya yang saleh. Mengenai Sibbes, Izaac Walton, rekannya, pernah memberikan testimoni:

Kepada pria yang diberkati ini, biarlah pujian ini diberikan:
Surga sudah ada di dalam dia, sebelum dia berada di surga.

Pada tahun 1633, Raja Charles I menunjuk Sibbes untuk tidak hanya berkhotbah di gereja Holy Trinity, tetapi juga untuk memimpin gereja tersebut. Hingga dua tahun kemudian, yaitu tahun di mana Richard Sibbes wafat, ia tetap melayani sebagai pendeta di Gray’s Inn, sebagai kepala di St. Catherine’s Hall, dan sebagai vikaris di Holy Trinity. Seminggu sebelum Sibbes wafat, ia berkhotbah dari Yohanes 14:2, yaitu:

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Ketika pada hari terakhirnya ditanyai tentang apa yang ia rasakan, Sibbes menjawab, “Aku akan sangat bersalah kepada Allah kalau aku tidak menjawab, Sangat Baik!” Richard Sibbes wafat pada 06 Juli 1635, di usianya yang ke-58 tahun.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kehidupan Richard Sibbes merupakan kehidupan yang begitu diberkati oleh Tuhan dan begitu menjadi berkat bagi orang-orang percaya di sekitarnya. Ia menjalani hidup yang efektif dan produktif menghasilkan buah-buah bagi Kerajaan Allah. Selama hidupnya, Richard Sibbes tidak pernah menikah. Sekalipun begitu, tidak berarti bahwa ia sendirian dan tidak memiliki penolong. Tuhan memberkati Richard Sibbes dengan persahabatan yang erat dan koneksi yang luas dengan rekan-rekan sesama hamba Tuhan, dengan para pakar hukum yang ternama, serta dengan beberapa pejabat di parlemen. Kehadiran mereka, sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan iman Sibbes dan kemajuan pelayanannya. Sibbes menulis pengantar untuk paling tidak tiga belas buku yang ditulis oleh rekan-rekannya, yang juga adalah para Puritan. Ini menunjukkan Richard Sibbes sebagai seseorang yang dapat dipercaya dan merupakan teman yang baik. Mengenai teman-teman sepelayanannya, Sibbes mengatakan sesuatu yang sangat penting untuk kita renungkan:

Sibbes

Semua itu merupakan salah satu tanda bahwa iman yang ada pada Sibbes adalah iman yang sejati dan bahwa ia sungguh-sungguh telah menerima anugerah keselamatan dari Allah. Sebab seperti kata Rasul Yohanes, orang yang sungguh-sungguh lahir dari Allah, pasti akan mengasihi saudari-saudari seiman dengan kasih yang sejati, yaitu kasih Kristus (1 Yohanes 4:7).

Dibanding para Puritan yang lain, yang seringkali terlibat dalam konflik doktrinal yang cukup panas dengan para pengajar yang menyampaikan ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alkitab, Richard Sibbes relatif lebih cinta damai. Di masa yang penuh dengan pergolakan, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kontroversi. Namun, itu tidak berarti bahwa ia adalah orang yang rela berkompromi dengan ajaran yang salah. Ia dengan tegas menentang William Laud yang pada saat itu menjabat sebagai Archbishop (bishop tertinggi di Inggris). Ia juga secara umum menentang ajaran-ajaran gereja Katolik Roma dan Arminianisme. Di saat yang sama, Richard Sibbes juga menjadi inspirasi dan teladan bagi rekan-rekannya. Tiga denominasi gereja terbesar di Inggris saat itu, yakni Anglikan, Presbiterian, dan Independen, menikmati pengaruh baik darinya. Ia adalah “pendetanya para pendeta”, seorang pengkhotbah kenamaan yang lemah lembut dan rendah hati.

Richard Sibbes dikenal terutama karena khotbah-khotbahnya yang berfokus pada Kristus dan persuasif. Beberapa teolog dan sejarawan gereja menyebut khotbah-khotbah Sibbes sebagai persuasi yang paling brilian dan popular di antara seluruh Puritan. Menurut Sibbes, berkhotbah adalah sebuah pembujukan. Baginya, cakupan utama dari sebuah khotbah adalah untuk memikat pendengarnya kepada penghiburan yang hanya akan ditemukan di dalam pemerintahan Kristus yang lembut, aman, bijaksana, dan jaya.

Sibbes

Seperti para Puritan lainnya, Richard Sibbes juga menulis buku. Karya Sibbes yang paling terkenal, mungkin, adalah The Bruised Reed yang mengeksposisi secara mendalam Yesaya 42:3, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.” Richard Baxter mengatakan bahwa tulisan Sibbes ini berpengaruh besar dalam pertobatannya. Martyn-Lloyd Jones, pengkhotbah yang dipakai Tuhan luar biasa pada abad-20, yang juga adalah pengkhotbah favorit saya, pernah berkata:

“Saya tidak akan pernah berhenti berterima kasih kepada Richard Sibbes yang telah menjadi balsam bagi jiwa saya di saat-saat ketika saya terlalu banyak bekerja dan terlalu letih sehingga saya menjadi rentan pada serangan iblis. Di saat-saat yang demikian, Richard Sibbes, yang dikenal di London pada permulaan abad ke-17 sebagai Heavenly Doctor Sibbes, menjadi remedi yang tidak habis-habisnya. The Bruised Reed menenangkan, menghibur, menguatkan, dan menyembuhkan saya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sibbes (2)

Mengapa pria yang sederhana, yang menjalani hidup selibat, dan yang masa hidupnya begitu singkat (wafat di usia 58 tahun) seperti Richard Sibbes bisa begitu berdampak di dalam Kerajaan Allah? Ada beberapa hal utama di dalam kehidupan dan pelayanan Sibbes, yang menjadikannya demikian:

  • Khotbah-khotbah Sibbes sangatlah berfokus pada Kristus. Khotbah yang demikian cukup langka untuk ditemui di zaman ini.
  • Pikiran Sibbes penuh dengan Alkitab. Buku Sibbes yang berjudul The Bruised Reed sangat berlimpah dengan kutipan-kutipan firman Allah. Ini menunjukkan kecintaan dan keyakinan Sibbes kepada firman Allah serta kerendahan hatinya untuk menyadari bahwa apa yang dunia ini butuhkan bukanlah opini atau motivasi yang bersumber dari pemikiran-pemikiran manusia yang terbatas dan seringkali bernoda dengan dosa, melainkan pemikiran Allah sendiri yang tertuang di dalam firman-Nya.
  • Kasihnya untuk orang-orang kudus serta persekutuan dan kerjasama yang sangat baik yang ia jalin dengan saudara-saudara seiman. Hal ini merupakan hal yang sangat memperkenankan hati Tuhan. Ya, kesatuan di dalam tubuh Kristus merupakan salah satu prioritas paling tinggi yang Tuhan kita kehendaki untuk gereja-Nya sebagaimana doa-Nya kepada Bapa, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11).
  • Richard Sibbes menjalani hidup yang kudus dan saleh. Kebergunaan kita di tangan Allah demi Kerajaan-Nya dan demi kebaikan umat-Nya berbanding lurus dengan kekudusan hidup yang kita jalani sebagaimana firman Allah dalam 2 Timotius 2:21, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

Sibbes

Tidak diragukan lagi, generasi ini membutuhkan hamba-hamba Tuhan seperti Richard Sibbes. Kita memang tidak perlu berusaha menjadikan diri kita seperti Sibbes namun itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu belajar dari teladannya. Justru sebaliknya, kita sangat perlu meneladani iman dan ketaatan di dalam hidup Sibbes. Dan tidak hanya Richard Sibbes, ada begitu banyak orang kudus di sepanjang sejarah gereja, misalnya para Puritan, yang dapat dan perlu kita teladani sebagaimana firman Allah berkata:

Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu,
yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu.
Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.
(Ibrani 13:7)

Akan tetapi, tentu tidaklah bijaksana jika kita hanya belajar sejarah mengenai saudara-saudara yang telah mendahului kita itu. Kita perlu berdoa kepada Allah agar Ia menguatkan hamba-hamba-Nya untuk berdiri dan memberitakan kasih dan kebenaran-Nya di zaman yang jahat ini dan agar Ia memenuhkan setiap kita dengan harta terindah yang dapat diberikan oleh Bapa kepada kita, yaitu Roh Kristus, sehingga seperti kata Sibbes:

Sibbes

Amin

*Teman-teman, bacalah karya para Puritan

Pustaka:
http://www.monergism.com/

Menanti-nantikan TUHAN

Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya
hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu;
sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu.

Sebab TUHAN adalah Allah yang adil;
berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!
(Yesaya 30:18)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Siapakah orang yang suka menunggu? Siapakah orang yang senang hidup di dalam sebuah penantian? Dengan cukup yakin kita dapat berkata, tidak ada. Menunggu merupakan hal yang tidak menyenangkan dan membosankan. Sekalipun mungkin ada beberapa orang yang memiliki kapasitas bersabar di atas rata-rata, secara naluriah, semua orang ingin supaya apa yang mereka harapkan dapat segera terjadi di dalam hidup mereka. Tidak dapat kita pungkiri, kita sebagai orang Kristen pun tidak luput dari hal ini.

Namun, ada satu hal yang membedakan orang Kristen dari seluruh umat di dunia ini terkait dengan sebuah penantian. Perbedaan itu terletak pada apa yang Allah Israel sampaikan kepada umat-Nya melalui perantaraan nabi-Nya, Yesaya. Allah berfirman:

berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

Ini merupakan pernyataan yang sangat aneh. Di sini, Allah tidak berkata, “berbahagialah semua orang yang mendapatkan Dia” atau “berbahagialah semua orang yang bertemu dengan Dia” melainkan “berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia.” Apakah yang Allah maksud? Apakah yang hendak Ia sampaikan kepada kita melalui firman-Nya ini? Dan jawabannya sangatlah jelas:
penantian terhadap Allah adalah berkat bagi setiap orang percaya.

Dengan kata lain, menantikan Allah bukanlah sesuatu yang yang karenanya kita patut berduka atau merasa bosan. Menantikan jawaban Allah, yang sepertinya diam dan tidak berminat untuk menanggapi seruan dan permohonan kita, bukanlah sesuatu yang karenanya kita patut berpikir bahwa Ia membenci, menolak, dan meninggalkan kita. Justru sebaliknya, jika kita mampu bertahan dan tetap menantikan Dia, sekalipun hadirat dan jawaban-Nya terasa begitu jauh, maka itu berarti bahwa sebenarnya Allah tidak pernah meninggalkan kita. Mengapa? Sebab Dialah yang membuat kita dapat bertahan. Dialah yang membuat hati kita masih terus merindukan dan menantikan hadirat dan jawaban-Nya. Sungguh, menunggu Allah adalah tanda bahwa Allah selalu memberkati dan menyertai kita. Menanti-nantikan Allah adalah penyembahan yang sejati dan upah untuk penyembahan yang demikian adalah “berbahagialah engkau.”

Ini merupakan janji yang sangat menentramkan hati, terutama apabila kita mengerti apa yang akan kita alami ketika kita dipanggil dan dilahirkan kembali oleh Allah untuk menjadi anak-anak-Nya. Ini merupakan janji yang mendamaikan jiwa, terutama apabila kita menyadari konsekuensi yang harus kita hadapi ketika Allah menjadikan kita orang Kristen.

Siapakah kita? Siapakah orang Kristen itu sebenarnya? Orang Kristen adalah anak-anak terang (1 Tesalonika 5:5). Orang Kristen adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah yang Ia panggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib untuk melakukan satu tugas yang besar, yaitu memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang Ia lakukan (1 Petrus 2:9). Orang Kristen adalah orang yang memiliki Roh Allah di dalam dirinya dan oleh Roh itu, ia menjadi anak Allah (Baca Roma 8:9-16).

Itulah definisi dari orang Kristen yang sejati. Menganut agama Kristen sama sekali tidak menjadikan seseorang Kristen, memiliki orang tua beragama Kristen, atau memberi diri dibaptis di gereja, atau mengucapkan pengakuan iman Kristen di bibir juga tidak menjadikan seseorang Kristen. Tak satupun manusia dapat menjadikan dirinya Kristen dengan kuasanya sendiri, tak seorangpun dapat menjadi Kristen karena kehendaknya sendiri (Yohanes 1:13). Lalu, bagaimanakah seseorang menjadi Kristen? Seseorang menjadi Kristen hanya ketika Allah sendiri yang berinisiatif untuk menyatakan diri-Nya kepada orang itu dan mengubahnya menjadi manusia yang baru melalui kuasa Roh-Nya yang kini dianugerahkan kepadanya dan tinggal di dalamnya. Ya, Allah sendirilah yang membuat seseorang menjadi Kristen.

Namun, semua itu barulah definisi secara positif. Dalam banyak perkara, kita juga perlu memahami definisi orang Kristen dari sudut pandang yang negatif. Siapakah kita? Siapakah orang Kristen itu sebenarnya? Orang Kristen adalah orang yang akan selalu berada di dalam permusuhan dan peperangan melawan Kerajaan si Ular Tua yang adalah Iblis (Kejadian 3:14-15). Orang Kristen adalah orang yang akan selalu dikonfrontasi dan diintimidasi oleh penghulu-penghulu dunia yang gelap ini dan oleh roh-roh jahat di udara (Efesus 6:12). Orang Kristen adalah orang yang hari demi hari terlibat dalam peperangan rohani melawan kedagingan mereka sendiri, melawan dunia yang telah diliputi oleh kegelapan, dan melawan Kerajaan Si Jahat. Atau, untuk membuat semua ini lebih jelas, orang Kristen adalah orang yang paling dibenci dan paling ingin dihancurkan oleh Setan.

Itulah hal yang perlu kita sadari sebagai orang-orang percaya. Tidak seorang pun dari kita dapat hidup nyaman di dunia ini. Hanyalah orang yang telah tertipu oleh iblis dan dibutakan oleh kegelapan hawa nafsunya, atau orang yang mencintai dosa dan bersahabat dengannya, yang akan hidup nyaman di dunia yang tidak memuliakan Allah ini. Hanyalah orang-orang yang demikian yang merasakan kenikmatan itu, sekalipun cepat atau lambat mereka akan menyadari bahwa semua itu adalah semu, tipuan, dan racun yang menuntun mereka kepada kebinasaan.

Akan tetapi, kita tidaklah demikian. Kita tidak diselamatkan untuk hidup yang demikian. Kita tidak ditebus untuk cara hidup yang demikian. Kita adalah prajurit Allah di dunia ini. Kita hidup di dalam peperangan antara Kerajaan Allah dan Kerajaan Iblis. Kita akan selalu bertempur. Kita akan senantiasa diintimidasi, diancam, dibenci, diserang, dan dikonfrontasi oleh si Jahat. Dan kita tahu, lawan kita itu jauh lebih pandai dan perkasa dibandingkan setiap kita. Tidak ada satu orang pun yang ada di dunia ini, bahkan para imam, raja, nabi, dan rasul sekalipun, yang dengan kekuatannya sendiri, dapat bertahan ketika berhadapan dengannya. Tidak seorangpun berdaya di tangannya.

Tidakkah kau percaya akan hal itu? Lihatlah apa yang terjadi pada Ayub. Lihatlah bagaimana setan mengusik hidupnya. Lihatlah juga Daud. Lihatlah bagaimana setan mampu membangkitkan begitu banyak orang, bahkan putera Daud sendiri, untuk membencinya dan berniat membunuhnya. Keduanya adalah orang yang saleh dan hatinya melekat pada Allah, apakah mereka selalu hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan? Tidak. Justru sebaliknya, mereka mungkin adalah orang-orang yang mendapatkan serangan paling hebat dari dunia dan dari iblis.  Apakah mereka selalu bisa tertawa di dalam pencobaan mereka? Tidak. Di dalam banyak perkara, mereka berduka, mereka menangis, mereka putus asa, mereka kalah, mereka bahkan merasa ditinggalkan sendirian oleh Sumber Pertolongan mereka, satu-satunya Tuhan yang mereka kenal dan layani, yang kepada-Nya seluruh pengharapan mereka terpaut.

Dan sekarang, katakanlah padaku,
tidakkah kau juga sedang dan sering mengalami hal yang sama?

Tidakkah kau juga merasakan adanya kuasa yang begitu membencimu?
Tidakkah kau juga merasakan adanya pribadi yang sangat ingin menjatuhkanmu ke dalam dosa?

Tidakkah kau menyadari panah si jahat tidak henti-hentinya diarahkan padamu?
Tidakkah kau menyadari bahwa ia menantimu bangun dan bersiap-siap merenggut sukacitamu?

Tidakkah kau pernah berduka dan merasa putus asa?
Tidakkah kau pernah merasa ditinggalkan sendirian oleh Dia, yang adalah Pertolonganmu?

Tidakkah kau menunggu dan menunggu Dia terus?
Tidakkah setiap hari kau menanti-nantikan wajah-Nya?
Tidakkah kau selalu berseru kepada-Nya,
“TUHAN, aku membutuhkan-Mu. Aku menantikan-Mu.
Itu masih terlalu jauh. Datanglah lebih dekat lagi.”

Oh, jika kau juga merasakannya, maka dengarlah firman Tuhan kita:

Berbahagialah semua orang yang MENANTI-NANTIKAN Dia!
(Yesaya 30:18)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ayat - Yesaya

Itu adalah janji Tuhan kita kepada kita. Itulah kepastian bagi setiap kita. Itulah pengharapan kita dan kita tahu bahwa pengharapan itu merupakan jangkar yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19).

God is with us. Janganlah kita takut, janganlah kita gemetar sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang berjalan menyertai kita. Dia berjanji tidak akan membiarkan kita atau meninggalkan kita (Ulangan 31:6). Dan Ia mengucapkannya sekali lagi kepada kita, yaitu melalui Anak-Nya yang berjanji, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dan lebih lagi, Ia tidak hanya berjalan bersama-sama dengan kita, Ia sendiri tinggal dan hidup di dalam setiap kita melalui Roh-Nya yang kudus. Dan Roh yang telah dianugerahkan kepada kita itu lebih besar dari roh apapun yang ada di dunia ini (1 Yohanes 4:4). Yes, God is with us.

Bersama-Nya, kita hidup. Bersama-Nya, kita berdiri teguh dan akan terus teguh. Bersama-Nya, kita berjalan di dalam terang dan menuju Terang yang sejati. Bersama-Nya, kita akan menang. Bersama-Nya, kita bahkan lebih dari para pemenang (Roma 8:31-39). Demikianlah Tuhan kita selalu menyertai kita. Demikianlah Tuhan kita selalu menjaga kita.

Ayat - Mazmur 116

Kini, hanya tertinggal suatu pertanyaan besar:
Bagaimanakah kita tahu bahwa kita sungguh-sungguh adalah orang yang disertai oleh Tuhan?
Bagaimanakah aku tahu bahwa Tuhan selalu menyertaiku?

Oh, aku tidak akan menjawabnya dengan sebuah jawaban. Aku akan menjawabnya dengan sebuah pertanyaan:

“Wahai jiwaku, ketika kau takut,
ketika kau lemah
ketika kau berduka,
ketika kau menangis,
ketika kau kecewa,
ketika kau dikalahkan oleh si Jahat,
ketika kau hampir kehilangan pengharapan,
ketika kau merasa ditinggalkan sendirian oleh Kota Benteng dan Gunung Batumu,
apakah kau masih MENANTI-NANTIKAN Dia?”

Jika kau masih setia dan terus menanti-nantikan Dia,
sekalipun penantian itu terasa begitu pedih dan menguras air matamu,
oh, kukatakan padamu, wahai jiwaku, “berbahagialah engkau.”

Sebab Alkitabku mengatakan bahwa itulah tanda
dari orang yang sungguh-sungguh disertai oleh TUHAN, Allah dan Bapanya,
dan telah bertemu dengan Tuhan Yesus Kristus, Imam Besar yang nama-Nya CINTA .

Tozer
Amin