Corrie ten Boom, tentang Martir dan Kematian

Suatu kali Corrie Ten Boom menceritakan kisah tentang perbincangannya dengan ayahnya ketika ia masih kecil. Saat itu, Corrie kecil mengatakan kepada ayahnya bahwa ia merasa takut akan kematian dan bahwa ia cukup yakin bahwa ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadi seorang martir (seorang yang mati karena mempertahankan keyakinannya) demi Kristus. Mendengar hal ini, ayah Corrie, dengan penuh kebijaksanaan, mengingatkannya tentang pengalaman mereka bepergiaan dengan kereta ke kota Amsterdam. Ayah Corrie, Casper Ten Boom, mengatakan kepada Corrie:

“Ketika engkau pergi ke Amsterdam, kapan aku memberimu uang untuk membeli tiketnya? Apakah tiga minggi sebelumnya?”

Jawab Corrie:

“Tidak, Ayah. Engkau memberiku uang untuk membeli tiket sesaat sebelum kita naik ke kereta.”

Ayah Corrie menanggapi:

Itu benar. Dan begitu pula dengan kekuatan dari Allah. Bapa kita di Surga tahu kapan engkau membutuhkan kekuatan. Ia akan menyediakan apa yang kau perlukan tepat di saat engkau memerlukannya.”

Bertahun-tahun kemudian, Corrie, saudarinya, Betsie ten Boom, dan ayah mereka, dipenjarakan di kamp konsentrasi Nazi karena mereka menyembunyikan orang-orang Yahudi yang hendak dibunuh oleh Nazi di ruang rahasia di rumah mereka. Betsie dan ayah Corrie meninggal selama pemenjaraan tersebut sementara Corrie terbebas di Ravensbruck, karena adanya suatu kesalahan teknis, hanya seminggu sebelum wanita-wanita seusia Corrie dibunuh di kamp konsentrasi.

Corrie menjalani kehidupannya setelah itu dengan bepergian ke berbagai belahan dunia untuk memberitakan firman Tuhan dan untuk mengatakan kepada banyak orang bahwa sedalam-dalamnya lubang yang ke dalamnya seseorang terjatuh, kasih Allah jauh lebih dalam dari lubang itu. Corrie wafat pada usia 91.

Advertisements

Lagu yang Baru

cradock

Dr. Stinson mengatakan pada Anda bahwa saya pernah bekerja di Children’s Home di Alabama. Pada tahun 1994, Juli 1994, saya membawa anak-anak ke selebrasi 4 Juli (Hari Kemerdekaan Amerika Serikat) yang diadakan di suatu taman di Alabama.

Dan di situ ada satu paduan suara, paduan suara gereja, yang mengadakan konser “God in Country”. Dan pada lagu terakhir di konser tersebut, mereka menyanyikan, “Glory, Glory, Hallelujah” dan merekapun mulai menembakkkan kembang api.

Nah, masalahnya adalah kembang api tersebut berada terlalu dekat dengan paduan suara. Kembang api yang telah ditembakkan ke atas itupun akhirnya mulai bergerak turun mendekati kepala para paduan suara.

Hair spray dapat terbakar. Dan rambut seorang wanita di paduan suara itupun terbakar.

Suami wanita itu sedang berada di bagian orkestra. Tim orkestra berada tepat di samping tim paduan suara. Saya lupa alat musik apa yang dimainkan oleh sang suami. Saya rasa itu adalah trombon atau alat musik yang lain. Ia membuang alat musiknya. Ia kemudian melompat ke panggung sambil memegang lembaran musiknya. Dan ia mulai memukuli rambut dan kepala isterinya dengan lembaran musik itu.

Nah, wanita ini, rambutnya sedang terbakar, ia membungkuk, dan ia dipukul bertubi-tubi di bagian kepalanya oleh suaminya. Saya melihat kejadian ini tepat di sebelah pendeta saya.

Namun, apa yang menakjubkan adalah wanita tersebut tidak berhenti bernyanyi. Saya tidak tahu apakah itu hanyalah respon kepanikannya atau tidak. Namun, yang jelas, wanita itu mengucapkan lirik nyanyian “Glory, Glory, Hallelujah” sekalipun di sekitarnya sedang terjadi kekacauan.

Saya seringkali memikirkan hal ini. Sudah sekitar dua puluh satu tahun semenjak kejadian tersebut terjadi. Peristiwa ini terjadi sebelum adanya kamera video dan handphone padahal kalau bisa direkam, kejadian lucu ini pasti akan dibeli orang seharga jutaan dolar.

Dan tahukah kau?

Seperti inilah gambaran dari kehidupan seorang Kristen yang sejati.

Oleh karena Kerajaan Allah yang telah dinyatakan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus, oleh karena kelahiran baru yang telah terjadi oleh kemurahan dan karunia Allah di dalam hati kita oleh Roh Kudus, kita memiliki suatu lagu yang baru, lagu Anak Domba.

Kita sudah mendapatkan semua itu namun di saat yang sama kita juga masih menantikan akhir dari segala sesuatu. Oleh karenanya, kekacauan masih tetap terjadi di sekitar kita sebagai seorang Kristen. Namun tanda dari seorang Kristen adalah ketika api bencana itu turun menaungi kita, kita tetap bisa melanjutkan untuk bernyanyi nyanyian baru Sang Anak Domba.

Catatan:
Ini adalah kesaksian dari Pendeta Brian Payne dalam khotbahnya yang berjudul “Our Table in the Wilderness” di Southern Baptist Theological Seminary

Ikutlah Aku, Sebuah Panggilan untuk Mati dan Hidup

Ikutlah Aku, Sebuah Panggilan untuk Mati dan Hidup

10525649_883439381683365_7402474272390863440_n
Ayan adalah salah satu orang dari kelompok suku yang membanggakan diri mereka sebagai 100 persen penganut “agama tertentu”. Menjadi bagian dari kelompok suku tersebut berarti menjadi seorang penganut agama itu. Identitas pribadi, kehormatan keluarga, posisi relasional, dan status sosial Ayan tak pelak lagi sangat terjalin erat dengan agama itu. Sederhananya, jika Ayan meninggalkan imannya, ia akan segera kehilangan nyawanya. Jika keluarga Ayan mendapati bahwa ia bukan lagi penganut agama itu, mereka akan menggorok lehernya tanpa pertanyaan atau keraguan.

Kini, bayangkan Anda memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Ayan tentang Yesus. Anda memulai dengan berbicara kepadanya tentang betapa besar Allah mengasihinya, sehingga Ia rela mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati di atas kayu salib sebagai Juruselamat atas segala dosanya. Ketika Anda sedang berbicara, Anda dapat merasakan bahwa hati Ayan semakin melembut dan ia menerima setiap perkataan Anda. Namun, pada saat yang sama, Anda dapat merasakan jiwanya gemetar ketika merenungkan apa yang akan dialaminya saat ia memutuskan untuk mengikut Kristus. Dengan rasa takut terpancar di mata dan iman di dalam hati, ia bertanya kepada Anda, “Bagaimana aku bisa menjadi seorang Kristen”?

Anda punya dua pilihan dalam menanggapi pertanyaan Ayan. Dan bisa memberitahunya betapa mudah menjadi seorang Kristen. Jika Ayan sepakat pada beberapa kebenaran pokok dan mengulangi sebuah doa tertentu, maka Ayan akan diselamatkan. Sesederhana itu.

Pilihan kedua Anda adalah memberitahu Ayan kebenarannya. Ada dapat memberitahu Ayan bahwa di dalam Injil, Allah sesungguhnya sedang memanggilnya untuk mati.

Mati secara literal.
Mati dari kehidupannya sendiri.
Mati dari keluarganya.
Mati dari kawan-kawannya.
Mati dari masa depannya.

Dalam kematian itu, ia akan hidup. Hidup di dalam Yesus. Hidup sebagai bagian dari keluarga global yang mencakup semua suku bangsa. Hidup dengan beragam kawan yang merentang dari berbagai usia. Hidup dalam sebuah masa depan di mana sukacita tidak akan pernah berkesudahan.

Ayan bukanlah kisah rekaan. Ia adalah perempuan nyata yang saya temui. Ia membuat pilihan nyata untuk menjadi seorang Kristen. Ia mati bagi dirinya sendiri dan hidup di dalam Kristus tak peduli berapapun harganya. Karena keputusannya untuk mengikuti Yesus, ia terpaksa meninggalkan keluarganya dan berpisah dari kawan-kawannya. Namun, saat ini ia bekerja secara strategis dan penuh pengorbanan demi penyebaran Injil di antara kelompok sukunya. Risikonya sangat tinggi ketika setiap harinya ia harus mati bagi dirinya sendiri demi hidup di dalam Kristus.

Kisah Ayan adalah pengingat yang jelas bahwa panggilan hidup bagi Kristus adalah sebuah panggilan tak terhindarkan untuk mati. Panggilan semacam ini sudah jelas sejak permulaan kekristenan. Empat orang nelayan berdiri di dekat pantai pada abad pertama ketika Yesus mendekati mereka. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Dengan panggilan itu, Yesus mengisyaratkan keempat orang ini untuk meninggalkan pekerjaan, harta, impian, ambisi, keluarga, kawan, kenyamanan, dan keamanan diri mereka. Ia meminta mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya SETIAP HARI dan mengikut Aku.”
(Lukas 9:23)

Itulah kata Yesus berulang-ulang. Di dunia di mana segala sesuatu berputar di sekeliling diri sendiri – lindungi dirimu sendiri, hiburlah dirimu sendiri, buatlah dirimu sendiri merasa nyaman, uruslah dirimu sendiri – Yesus pun berkata, “Salibkan dirimu sendiri”. Dan, tepat itulah yang terjadi. Menurut Kitab Suci dan sejarah, keempat orang nelayan ini membayar harga yang sangat mahal demi mengikut Kristus. Petrus disalib terbalik, Andreas disalib di Yunani, Yakobus dipenggal kepalanya, dan Yohanes dibuang ke pulau Patmos.

Namun mereka percaya itu adalah harga yang pantas mereka bayar. Dalam Yesus, keempat orang ini menemukan Seseorang yang bagi-Nya mereka layak meninggalkan segala sesuatu. Dalam Kristus, mereka menjumpai kasih yang tak dapat dibandingkan melebihi apa pun, kepuasan yang mengatasi segala keadaan, dan tujuan yang melampaui segala pengejaran apa pun di dunia ini. Mereka dengan rindu, rela, dan penuh sukacita kehilangan nyawa demi mengenal, mengikuti, serta memproklamasikan Yesus. Dalam jejak langkah Yesus, para murid pertama ini telah menemukan sebuah jalan yang mereka bayarkan dengan segenap hidup untuk mengikuti-Nya.

Dikutip-dengan-sedikit-diedit-dari-buku: Follow Me, tulisan David Platt
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semoga pesan dari buku ini menjadi berkat bagi setiap kita yang membacanya. Dan semoga Allah memberikan kita hikmat dan pengertian untuk memahami makna sesungguhnya dari menjadi seorang Kristen serta menganugerahkan hati yang taat kepada-Nya.

10330346_695506950515752_4602832867323400051_n
Bagaimana?
Setujukah kita dengan pernyataan di atas?

Alangkah indahnya jika setiap kita benar-benar mengerti bahwa menjadi seorang Kristen berarti menjadi seorang Pengikut Kristus. Menjadi seorang pengikut Kristus berarti menjadi orang yang mengikuti Kristus ke manapun Dia pergi. Dia merendahkan diri dan lahir di kandang domba, kita ikut merendahkan diri bersama-Nya. Dia hidup dalam kekudusan, kita ikuti Dia dan berjuang untuk hidup kudus dengan kekuatan dari-Nya. Dia pergi memberikan berkat jasmani kepada setiap orang, kita juga rela berkorban demi memenuhi kebutuhan jasmani orang-orang yang bisa dan perlu kita tolong dengan menggunakan berkat yang sejatinya Dia berikan kepada kita. Dia pergi memberitakan Injil, kita juga pergi di belakang-Nya untuk memberitakan Injil. Dia menjalani via dolorosa, kita juga ikut menderita bersama-Nya memikul salib setiap hari. Dia di salib di Golgota, kita disalib bersama-Nya. Dia turun ke dalam maut, diri kita beserta dosa-dosa yang lama juga mati bersama Dia. Dia bangkit, kitapun bangkit. Dia naik ke sorga, kita juga akan pergi ke sorga bersama Dia.

1378792_10151687285932374_354835660_n

Tuhan Yesus memberkati

(8) Ayah, Aku Tidak Pernah Melanggarnya

Capture

Ini adalah percakapan biasa dengan putri saya yang berumur delapan tahun, Morgan, sebelum beranjak tidur. Tetapi, percakapan itu mengubah hidup dan gereja saya.

Saya sedang duduk di ranjangnya untuk doa bersama sebelum tidur. Tetapi, ia punya kejutan buat saya sebelum kami berdoa. Ia sudah meluangkan waktu untuk menghafal ayat dan ia ingin membacakannya bagi saya.

“Ayah,” katanya, “apakah Ayah mau mendengarku menghafalkan Sepuluh Perintah Allah?”
“Kau menghafalkan semuanya?”

Seulas senyum bangga mengembang di wajahnya.
Wow,” kata saya sambil tersenyum. “Biar Ayah dengar.”

Saya berbaring mendekatinya dan mendengarkan, sementara Morgan berjuang mengucapkan kesepuluh perintah sampai selesai.

Ia melakukan hal itu dengan cara menyanyikannya dalam sebuah lagu: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun…”

Dan seterusnya, sampai habis. Setelah ia selesai, insting mengajar saya muncul. Saya berkata, “Morgan, itu luar biasa! Sekarang, biar ayah bertanya, apakah kamu pernah melanggar salah satu dari perintah itu?”

Ia tersenyum lagi. Kali ini bukanlah senyum malu-malu karena ia mulai merasa bersalah. Saya bisa lihat betapa Morgan memikirkan sebuah jawaban yang jujur tanpa mengundang tuduhan terhadap dirinya. Saya memutuskan untuk membantu.

“Hm, begini,” kata saya, sambil menggosok-gosok dagu. “Apakah kamu pernah berbohong?”

Ia mengangguk perlahan.

“Apakah kamu pernah sangat mengingini kepunyaan orang lain sampai-sampai kamu berharap orang itu seharusnya tidak usah memilikinya?” Ia mengangguk, terlihat memahami bahwa ia sudah berdosa karena iri hati.

Saya terus mendesak. “Ayah tahu kamu tidak pernah membunuh siapa pun, Morgan. Tetapi apakah kamu pernah merasa sangat, sangat marah pada seseorang di dalam hatimu? Sebegitu marahnya sampai-sampai pada saat itu kamu membenci orang itu?”

“Morgan, apakah kamu pernah, mungkin… ah, seperti… tidak menghormati ayah atau ibumu?”

Kami berdua tahu jawabannya.

Semua ini tidak berjalan sebagaimana yang ia kehendaki pada mulanya. Tetapi, yah, itulah yang terjadi kalau Anda terjebak dengan seorang pendeta yang kebetulan adalah ayah Anda. Ia menghela napas, yang segera saya sadari. Itu adalah respons yang sama yang saya terima dari seseorang ketika ia tidak lagi berminat pada khotbah saya. Bagi saya, itu tandanya saya harus berhenti berkhotbah dan mulai menawarkan ajakan.

Sebelum saya punya kesempatan, mata Morgan menyala terang dan ia berkata, “Ayah, aku tahu satu perintah yang tidak pernah kulanggar! Aku tidak pernah membuat patung berhala.”

Betapa saya benar-benar, maksud saya benar-benar, ingin menanggapi hal itu. Saya ingin memberitahu putri saya, bahwa yang terjadi justru kebalikannya. Itu adalah satu perintah yang paling sering kita semua langgar.

Saya ingin memberitahu putri saya apa yang pernah dikatakan Marthin Luther – bahwa Anda tidak akan pernah bisa melanggar Sembilan perintah lainnya tanpa terlebih dahulu melanggar perintah yang pertama. Tetapi, ketika saya mendekati putri kecil saya, saya putuskan bahwa yang terbaik adalah menyimpan pelajaran teologi itu untuk keesokan harinya.

Kami berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengutus Yesus untuk memikul semua dosa dan rasa bersalah kami. Saat saya pergi, saya memberinya senyuman dan sebuah ciuman di dahi, lalu berkata saya bangga padanya karena berhasil menghafal Sepuluh Perintah Allah.

Dikutip-dengan-sedikit-diedit-dari-buku: gods at war, tulisan Kyle Idleman

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hukum pertama dalam Hukum Taurat adalah “Jangan ada padamu allah lain di hadapanku.” Hukum kedua adalah “Jangan membuat berhala dan jangan sujud menyembahnya.” Benar, tidak bisa dipungkiri bahwa hampir seluruh bagian Alkitab, terutama Perjanjian Lama, berisi tentang larangan Allah terhadap praktek berhala.

Paulus pernah berkata dalam Kolose 3:5
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,
yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan,
yang sama dengan penyembahan berhala,

Yohanes berkata hal yang senada dalam 1 Yohanes 5:21
Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Aku kagum melihat orang-orang zaman dahulu. Di sini aku mati-matian bekerja dan mempelajari banyak teknologi untuk mencari minyak, tetapi zaman dahulu mereka sudah menemukan minyak tanpa perlu membaca textbook tebal seperti yang kulakukan. Ketika aku masih kuliah di teknik kimia, aku habis-habisan mempelajari proses pembuatan garam atau parfum yang sudah mereka temukan. Aku belajar mikroba dengan sangat berdarah-darah tetapi anggur dan ragi sudah dikenal pada zaman mereka. Ada juga kawanku di jurusan lain yang mungkin babak belur belajar proses pemurnian logam, pembuatan emas perak, dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang mencengangkan adalah, semua itu sudah ada pada zaman Alkitab sementara universitas, textbook, dan alat-alat canggih belum ada.

Woow, mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas. Tetapi yang tidak kalah mencengangkan adalah pada saat yang sama, orang-orang cerdas itu, justru menyembah patung-patung, pohon, langit, dan lain sebagainya. Apakah mereka bercanda? I mean, mereka cerdas atau bodoh sich sebenarnya?


Sepertinya tidak salah jika menyebut mereka orang primitif
Bodoh sekali mereka menyembah dewa-dewa tak bernyawa yang mereka buat sendiri
Kebodohan semacam itu tidak mungkin terjadi lagi dalam dunia masa kini
Kami, orang-orang modern, terlalu pintar untuk menyembah patung, please dech
Buat apa Alkitab panjang-panjang membahas berhala yang toh sudah ga da lagi, mending bahas yang lain

Mungkin hal-hal di atas menjadi hal yang pernah melintas dalam benak kita
Tetapi pertanyaan bagi kita saat ini

Apakah kita yakin bahwa kita bukan seorang penyembah berhala?
Bagaimana jika dewa-dewa itu sudah menjelma menjadi hal lain?

Bagaimana jika para dewa zaman dulu telah berubah menjadi uang, pacar,
tontonan, game, keluarga, jabatan, hobi, cita-cita, seks, makanan,
dan lain sebagainya?

Mari mengintrospeksi diri
Mari berjuang melepas semua keterikatan dan berhala dalam hidup kita
Mari saling mendoakan

Tuhan Yesus memberkati

(7) Kenapa Sekarang?

Saya belum lama benar-benar menyadari ini, ketika Amy (isteri sang penulis) dan saya berada di Hawaii. Saya sedang mengajar di suatu acara kepemimpinan di sana dan telah mengisi empat hari tanpa benar-benar ada waktu untuk kami berdua bersantai dan menikmati keindahan tersebut.

Akhirnya, semua tanggung jawab saya selesai, lalu Amy dan saya berjalan-jalan menyusuri pantai untuk beristirahat. Kami sudah di sana sekitar tiga puluh detika ketika tiba-tiba Allah memberi saya beban bagi seorang teman yang saya tahu sedang mengalami masa kesulitan. Beberapa menit kemudian, saya berkata, “Amy, maafkan aku; aku tahu bahwa sepanjang minggu ini telah diisi penuh dengan pelayanan, tapi aku merasa harus menelepon orang ini.”

Dia berkata, “Apa kau merasa Allah ingin kau melakukannya?

Saya menjawab, “Ya

Dia berkata, “Tunggu apa lagi? Telepon dia!

Jadi saya memencet nomornya dan langsung menyadari bahwa saya lupa perbedaan zona waktu kami; saat itu hampir tengah malam di tempat dia berada. Setelah beberapa deringan, teman saya mengangkat dan berkata, “Mengapa kau menelponku sekarang?”

Saya meminta maaf. “Maaf, aku lupa perbedaan waktu. Hanya ingin tahu keberadaanmu.

Dia berhenti sebentar dan berkata, “Kenapa sekarang?” dan suaranya terdengar gemetar dan gugup.

Aku sudah mengatakan bahwa aku hanya ingin tahu. Maaf kalau aku menelepon selarut ini, tapi aku merasa sepertinya…

Dan dia berkata, “Tidak! Kenapa sekarang?”

Yah, jujur saja, Allah benar-benar menaruh di hatiku.” Lalu saya mulai sadar. Saya berkata dengan tenang, “Kau sedang berpikir untuk mengakhiri hidupmu sekarang, bukan?”

Hening. Kemudian dia berkata pelan, “Ya.

Saya berkata, “Apa kau sedang memegang pistol?”

Ya.

Letakkan pistol itu, karena jelas Allah cukup peduli padamu sehingga Dia menyuruhku untuk meneleponmu pada waktu yang tepat. Keluarlah dari pintumu, pergi ke rumah tetanggamu, aku tidak peduli jam berapa sekarang, tekan belnya, dan kau tinggal di sana malam ini. Setuju?”

Dia ragu, dan saya berkata, “Tidakkah kau setuju bahwa Allah sangat peduli padamu sehingga Dia menyuruhku meneleponmu pada waktu yang tepat?”

Dia berkata, “Ya tentu.

Itu terjadi bebebrapa tahun yang lalu, dan teman saya telah membereskan semua masalahnya dan tidak dapat disangkal, sekarang dia berapi-api bagi Tuhan.

Diambil-dengan-sedikit-editan-dari buku : Altar Ego, karangan Craig Groeschel

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Salam, O dear friends, sebagai seorang teman, aku rasa aku tidak punya saran yang lebih praktis selain “belilah buku ini”. Aku tidak sedang berusaha mem-promosikan buku ini seakan-akan aku adalah seorang agen penjual buku. Aku hanya memberikan kesaksian bahwa aku mendapatkan banyak pelajaran dan kesaksian yang luar biasa dari buku ini. Aku membeli buku ini bulan lalu di Gramedia, tepatnya di deretan New Published sehingga aku cukup yakin kau bisa mendapatkan buku ini jika kau mulai mencarinya. Belilah, bacalah, dan jangan lupa siapkan bolpoin karena kau akan menggarisbawahi sangat banyak pelajaran dari buku ini.

Dan untuk menutup halaman kali ini, aku tidak habisnya berpikir betapa diberkatinya Craig Groeschel bisa beroleh kehormatan dari Allah untuk melakukan hal yang sedemikian luar biasa. Tidak semua orang dalam hidupnya pernah mengalami apa yang Craig alami. Dia menyelamatkan hidup seseorang pada waktu yang sedemikian tepatnya. Tidak sekadar menyelamatkan, dia membawa orang ini pada Kristus. Padahal, usaha apa yang Craig keluarkan? Dia hanya perlu mengeluarkan sedikit pulsa untuk menelpon dan mengorbankan sejenak waktu santainya bersama sang isteri, itu saja. Hanya itu pengorbanan yang dia lakukan tetapi lihatlah betapa besarnya dampak yang Tuhan jadikan dari pengorbanan yang kecil itu?

Hanya sedikit pulsa dan sejenak waktu senggang, tetapi melalui itu Tuhan menyelamatkan satu hanya, dan belum lagi jika kita menghitung jiwa-jiwa yang Tuhan jangkau melalui teman Craig yang sudah bertobat itu.

Oh, alangkah indah dan bahagianya jika Tuhan memberikan kehormatan sedemikian rupa kepada aku dan kamu. Di saat seperti itu kita akan paham mengapa Tuhan menciptakan kita dan menempatkan kita di tempat kita berada saat ini.

Hidup yang berguna bagi orang lain 
Hidup yang berdampak bagi orang lain
Hidup yang menyentuh hati orang-orang
Hidup yang mengubahkan orang-orang
Hidup yang diinvestasikan di dalam kehidupan orang lain
Tidakkah engkau merindukan hidup yang demikian?
Hidup yang tidak sia-sia itu?

Jika iya, mari kita renungkan kembali ayat ini:

JIKA seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat,
ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia,
ia dikuduskan, DIPANDANG LAYAK
untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.
~ 2 Timotius 2:21

Mari kita hidup mengejar kekudusan dengan dilandasi oleh kasih dan setia kepada Allah.
Kemudian waspadalah, bisa jadi kau akan menyelematkan orang yang akan membunuh dirinya.

Untitled

Selamat hari Minggu
Tuhan Yesus memberkati

(6) Menemukannya

Beberapa pengalaman mengingatkan kita tentang perspektif kita dalam cara-cara yang sangat dramatis. Suatu kali, keluarga kami melakukan perjalanan dari Oklahoma ke Florida untuk bersenang-senang menikmati cahaya matahari. Sayangnya, kami ada di sana pada minggu ketika matahari tidak muncul dan cuacanya mengerikan. Hujan, hujan, dan hujan makin deras. Setelah beberapa hari beraktivitas dalam ruangan, saya benar-benar kecewa karena kami menghabiskan begitu banyak uang dan melakukan perjalanan melintasi banyak negara bagian untuk berlibur dalam cuaca yang lebih buruk dari area asal kami. Akhirnya, cuaca mulai sedikit membaik. Tidak banyak, tetapi cukup untuk bermain di pantai dan semacamnya.

Karena badai masih membandel, kami tidak membiarkan anak kami pergi ke bagian yang lebih dalam dari setinggi lutut di pantai. Gelombang, air pasang, dan arus bawahnya tampak terlalu besar bagi anak-anak kami yang masih kecil dan belia. Dengan keterampilan seperti penjaga pantai Baywatch, sambil diam-diam mengomel tentang cuaca buruk, saya menyaksikan setiap gerakan yang dilakukan anak-anak di laut.

Sesaat, pikiran saya mengembara, membayangkan hari yang paling indah di pantai, hari yang saya yakin akan muncul pada hari kami meninggalkan rumah. Ketika saya terjaga dari lamunan singkat saya, saya menghitung anak-anak. Satu, dua, tiga, empat, lima… lima? Mana yang nomor enam? Jantung saya berdegup kencang. Saya buru-buru mendata. Ada Catie, Mandy, Anna, Sam, dan Joy. Di mana Stephen?

Waktu membeku.

Saya lari dengan kecepatan penuh ke laut yang berombak, berteriak memanggil Stephen. Amy dan semua anak lainnya ikut panik bersama saya dan beralih ke posisi mencari dan menyelamatkan. Kami berteriak dan berdoa meminta belas kasihan Allah. Dengan doa-doa yang dinaikkan tanpa henti, kami terus memanggil dia, mengamati tanda apa pun dari anak bungsu kami di dalam air.

Tida ada sesuatu pun.

Detik berganti menit. Saat setiap detik berlalu, ketakutan kami membubung tinggi. Orang-orang datang berlari untuk ikut mencari. Kami takut kalau hidup kami akan berubah selamanya menjadi yang terburuk.

Saat itulah Catie, anak sulung saya, menunjuk pada gundukan pasir dan berteriak, “Stephen!” dengan kelegaan dalam suaranya. Si kecil Stephen berjalan pelan dari gundukan itu, menarik celana pendeknya ke atas, berusaha mengikat tali celana renangnya. Rupanya Stephen harus “ke belakang”, jadi dia mencari sebuah pohon dan menuntaskan panggilan alamnya.

Setelah melihat Stephen, saya bersyukur kepada Tuhan, memuji dan menyembah-Nya. Biasanya, saya akan memberitahu Stephen bahwa dia perlu memberitahu kami saat dia harus ke kamar mandi, tetapi pada waktu itu saya terlalu bersyukur sehingga tidak sempat menegurnya, dan hanya berterima kasih kepada Allah karena anak kami masih hidup.

Saya sadar bahwa sepuluh menit yang lalu, saya merana karena tidak menyukai cuacanya
Ketika perspektif saya berubah, saya tidak akan peduli apakah hujan setiap hari untuk seumur hidup saya
Satu-satunya hal yang penting adalah anak saya selamat

Perspektif yang benar adalah segalanya. Ketika satu-satunya yang bisa Anda pikirkan adalah apa yang ingin Anda keluhkan, Anda bisa sangat merana dan tidak bersyukur. Tetapi ketika Anda mengubah fokus Anda, hati Anda berubah. Alih-alih diracuni sikap hidup tidak bersyukur, Anda diubahkan oleh rasa syukur dan kecukupan diri.

Diambil-dengan-sedikit-editan-dari buku : Altar Ego, karangan Craig Groeschel

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dari kesaksian ini, aku pribadi mendapatkan satu pelajaran yang berharga.

Bahwasanya ada hal-hal paling utama dalam hidup ini, yang seandainya saja kita sadari,
akan membuat banyak hal lain menjadi tidak lagi sedemikian penting.
Rahasia hidup ini adalah menemukan “hal-hal paling utama” itu.

Ini adalah tentang sebuah visi dan satu pribadi.
Misteri hidup ini terletak pada menemukan keduanya.

Ketika kita tahu apa yang menjadi visi hidup ini, maka apapun yang kita kerjakan, cara kita memaknai hidup, dan bagaimana kita menggunakan waktu, akan benar-benar berbeda. Pada saat itulah mata kita akan benar-benar terbuka dan kita bisa mengatakan: “astaga, ternyata selama ini aku terlalu banyak menghabiskan waktuku untuk sesuatu yang tidak penting dan sia-sia.” Kita akan sadar bahwa kita terlalu melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung visi hidup kita atau terhanyut dalam perbincangan yang terlalu dibesar-besarkan. Kita akan terbangun dan menyadari bahwa selama ini kita mengeluh untuk sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan.

Seorang bijak berkata, semakin banyak yang kau tahu, semakin sedikit yang kau lakukan. Aku yakin hal yang dia maksud adalah tentang mengetahui apa yang benar-benar penting dalam hidup ini. Ketika kita tahu apa yang terutama, hal-hal lain akan menjadi tidak (sedemikian) penting, dan sebagai hasilnya, tidak perlu lagi menyita waktu dan nafas hidup kita. Kita akan hidup fokus. Kita akan hidup produktif. Kita akan hidup efektif.

Ini juga tentang menemukan seorang pribadi. Pribadi yang kepadanya hidup dan cinta akan kita persembahkan. Jika kita menemukannya, kita akan memandang hidup kita dengan berbeda. Hidup kita menjadi tidak sedemikian penting lagi karena dia akan menjadi lebih penting dari diri kita sendiri, bahkan, lebih penting dari apapun yang ada di bumi ini. Dia menjadi pusat hidup kita. Kita ingin selalu menyenangkan hatinya. Kita memandang kebahagiaan secara berbeda. Ketika dia bahagia, kita juga.

Ketika kita menemukannya, kita akan menjaga hati kita. Ketika kita mengetahui siapa dia, kita akan menjaga mata kita. Saat itulah pikiran kita menjadi benar-benar terbuka. Kita akhirnya tersadar dan tahu hal-hal apa saja yang bisa melukai hatinya. Kita berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi. Walau dia tidak sedang bersama kita, dan kita bisa saja melakukan hal yang bisa menyakitinya itu di belakangnya, tetapi karena dia selalu ada di dalam hati kita, kita tahu kita tidak boleh melakukannya lagi. Ketika kita menemukan dia yang kita cintai, banyak hal menjadi tidak (terlalu) penting lagi, banyak hal yang tidak akan lagi kita lakukan. Ketika kita berjanji untuk terikat bersamanya, kita melepaskan sangat banyak hal, dan kita rela melakukannya.

Visi dan Pribadi
Ketika kita menemukannya
Kita tahu kita akan selalu bisa bersyukur

Selamat berakhir pekan
Tuhan mengasihimu

(5) Menyerahkan Raket Terbaik

1303910604_192752084_5-Raket-Tenis-Head-YOUTEK-Six-Star-Jakarta

“Whoever is careless with the truth in small matters cannot be trusted with important matters”
~ Albert Einstein

Beberapa tahun yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk bermain tenis di perguruan tinggi NAIA yang termasuk dalam tim nasional. Selama musim panas, saya mengajar pelajaran tenis pada anak-anak untuk menambah uan saku. Semua anak yang saya ajar adalah pemula, dan pada akhir setiap kelas, kami akan bermain. Untuk mencairkan suasana, saya melemparkan tantangan ini: “Jika ada di antara kalian yang bisa mengalahkan saya, kalian akan mendapatkan raket tenis saya.”

Nah, raket saya ini sangat mahal dan benar-benar bagus, tetapi tentu saja mereka baru bermain tenis, jadi tak seorang pun akan memiliki kesempatan mengalahkan saya. Tetapi sekali lagi, untuk bersenang-senang, saya akan membiarkan pertandingan kami nyaris seimbang sebelum saya menghabisi mereka. Kami akan bermain sampai sepuluh poin. Saya akan membiarkan mereka mengimbangi saya sampai tujuh atau delapan poin, kemudian saya akan menghabisi mereka. Ini semakin seru, dan setiap orang tampaknya menikmati.

Suatu sore ketika kami sedang bermain, saya membiarkan seorang anak sampai ke poin 8-8, seperti biasanya. Saya berniat membuatnya mati kutu dalam dua poin selanjutnya. Tetapi pada ayunan dia yang berikutnya, bolanya terselip melewati bagian atas jala dan jatuh di samping saya. Itu hanya lemparan untung-untungan, hampir tidak pernah terjadi pada tingkat pemula. Dia berjingkrak kegirangan, teriaknya, “9-8! 9-8! Aku menang!”

Saya tertawa dan memberitahu bahwa tembakannya benar-benar bagus. Kemudian saya berkata dalam hati. “Tentu saja, aku akan menyisihkanmu. Kuharap ibumu ada di rumah. Kau akan berlari menghampirinya ketika aku menghabisimu dalam pertandingan ini.”

Pada poin selanjutnya, dia melakukan hal yang sama persis. Sekali lagi! Bolanya mengenai jala, bergulir melewati bagian atasnya, dan jatuh ke samping saya. Dia mengangkat kedua lengan dan berlari keliling, berteriak. “10-8! Aku menang! 10-8! Kau harus memberiku raketmu!”

Semua anak lainnya menghampiri, menyoraki dia yang berputar-putar menari sepertinya baru saja memenangkan Wimbledon. Sementara itu, di benak saya berkecamuk pikiran yang tidak kudus, “Argghhh! Anak nakal itu! Raket terbaikku! Apa yang mesti kulakukan!”

Pikiran saya berpacu mencari solusi. “Oh, ya benar, akan kuberikan raketku. Kau bisa memiliki raket kuno yang murah dan berdebu di garasiku. Atau mungkin aku akan memberikan raketku yang lain, tetapi bukan yang satu ini.” Tetapi suara lain menghantui saya, “Craig, ketika kau memiliki integritas, itu sangat sangat berarti.

Saya menelan pahit kenyataan itu, menghampiri anak tersebut, memberikan raket saya padanya, dan mengatakan setulus mungkin dengan kertakan gigi, “Ini raketnya. Aku …. harap kau menikmatinya.”

Saya pikir kisah ini sudah berakhir, sampai beberapa tahun lalu. Saya baru saja berkhotbah di gereja kami, dan ketika ibadah selesai, saya berdiri dekat bagian depan, menemui orang-orang. Seorang pemuda menghampiri saya untuk berbicara pada saya. Wajahnya kelihatan tidak asing, tetapi saya tidak bisa mengingatnya. Saya menjabat tangannya dan berterima kasih atas kedatangannya.

Kata-katanya mulai meluncur cepat, “Wow, rasanya Anda berbicara langsung pada saya pagi ini. Saya baru saja menaikkan doa yang kau tuntun untuk kami naikkan (red. altar call). Saya memberikan hidup saya kepada Kristus! Saya merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam.”

Sebelum saya bisa meresponi, dia tersenyum dan berkata, “Anda tidak ingat saya, kan?”

Saya berkata, “Yah, kau kelihatan tidak asing, tapi maaf, saya tidak ingat.”

“Bertahun-tahun yang lalu. Anda mengajari saya pelajaran tenis pada suatu musim panas….”

Saya tidak menunggu dia menyelesaikan kalimatnya. “Kau yang mendapatkan raket saya!”

Dia tertawa. Tidak, tidak! Itu bukan saya. Saya tidak memiliki raketmu. Tapi saya ada di sana ketika itu terjadi. Anda tahu, tak seorang pun dari kami berpikir kau akan benar-benar memberikan raket terbaikmu pada orang itu! Rasanya kami tidak percaya ketika Anda melakukannya! Lagi pula, ketika saya datang ke sini hari ini dan mengenali Anda, saya ingat apa yang Anda lakukan bertahun-tahun silam. Kemudian saya tidak bisa tidak berpikir bahwa jika Anda orang yang menepati perkataan waktu itu, maka mungkin Anda orang yang menepati perkataan Anda sekarang. Jadi saya benar-benar memercayai segala sesuatu yang Anda katakan tentang Yesus hari ini. Itulah sebabnya saya memilih untuk memberikan hidup saya kepada Dia.”

Diangkat-dengan-beberapa-editan dari kesaksian Pastor Craig Groeschel dalam buku karangannya sendiri:
Altar Ego

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya tidak punya komentar tambahan mengenai kesaksian ini.
Saya percaya teman-teman pasti bisa menangkap, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari kisah nyata yang sangat indah ini.

Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? 
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
….. yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
…. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
~ Mazmur 15 : 1-5

Selamat hari Minggu
Tuhan Yesus memberkati