Ketika Kita Melakukannya Bersama

Berdua lebih baik dari pada seorang diri,
karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.

Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya,
tetapi celakalah orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!

Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas,
tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas?

Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan.
Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.
(Pengkhotbah 4:9-12)

Pekerjaan Allah meningkat secara eksponensial ketika kita melakukannya secara bersama-sama. Ketika kita bekerja bersama-sama, Allah memungkinkan kita untuk mencapai lebih dibandingkan jika kita melakukannya seorang diri.

~ Jim Richards ~

Mengapa Allah Mengizinkan Penderitaan, Pesan dari Kitab Ayub

Mengapa Allah mengizinkan penderitaan datang ke dalam hidup anak-anak Tuhan? Kitab Ayub memberi kita jawaban untuk pertanyaan tersebut. Kitab ini diawali dengan pernyataan Allah bahwa Ayub merupakan orang paling saleh dan jujur di muka bumi pada waktu itu. Mendengar hal itu, Iblis menjawab Allah dan mengatakan bahwa Ayub dapat hidup sedemikian saleh karena ia selalu diberkati oleh Allah. Seandainya Allah menghentikan berkat-berkat-Nya terhadap Ayub dan mengizinkannya menderita, Ayub pasti akan berbalik dari Allah dan menghujat-Nya, itulah yang dikemukakan oleh Iblis.

Bagian permulaan dari kitab ini ditutup dengan Allah mengizinkan Iblis untuk mendatangkan pencobaan demi pencobaan di dalam hidup Ayub. Iblispun menghujani Ayub dengan berbagai macam pencobaan dan penderitaan, mulai dari kehilangan harta kekayaan, kematiaan putera-puteri yang dikasihi, penyakit aneh yang menggerogoti, serta istri yang membujuknya untuk menghujat Allah. Sungguh dahsyat kesengsaraan yang ditanggung oleh Ayub ini. Namun, firman Tuhan memberi kesaksian bahwa bagian awal dari penderitaan Ayub ini diakhiri dengan, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayub 2:10).”

Namun, nampaknya hal itu tidak bertahan lama. Lama-kelamaan, Ayub mulai berkeluh kesah, bahkan mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:1). Lembar-lembar berikutnya dalam Kitab Ayub diisi dengan pembelaan diri Ayub di hadapan Allah dan di hadapan teman-temannya yang tidak henti-hentinya mengatakan bahwa Ayub menderita karena dosa-dosa yang diperbuatnya sendiri. Ayub yang tidak menerima perkataan teman-temannya itu geram karena ia yakin bahwa ia tidak melakukan dosa yang membuatnya layak menerima semua ini dari Allah. Lebih jauh, di dalam sakit hatinya akan sikap Allah yang seolah-olah diam sekalipun Ayub tidak henti-hentinya berseru kepada-Nya, Ayub bahkan sempat mengatakan bahwa Allah-lah yang bersalah dan tidak adil karena telah menyiksa orang yang tidak bersalah.

Ayub benar-benar membutuhkan jawaban dari Allah saat itu. Namun, Allah tetap diam. Semakin lama Allah diam, semakin banyak Ayub bicara. Dan di dalam banyak bicara, Ayub mengatakan apa yang seharusnya tidak diucapkannya. Sungguh benar kata Kitab Amsal, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi (Amsal 10:19).”

Hingga akhirnya, TUHAN-pun menjawab Ayub. Di dalam struktur penulisan Alkitab, Allah berbicara dalam empat pasal, yakni dari dari pasal ke-38 hingga pasal ke-41. Allah terus menerus berbicara dan Ayub hampir-hampir tidak memiliki kesempatan untuk menjawab.  Kemungkinan tidak ada satupun bagian lain di dalam Alkitab yang berisikan ucapan mulut Allah yang lebih panjang dari bagian ini. Ini merupakan hal yang perlu menarik perhatian kita. Di dalam penderitaan umat-Nya, Allah memiliki sangat banyak hal untuk disampaikan kepada kita, sekalipun untuk sekian waktu lamanya Ia tampak diam.

Namun, apakah yang disampaikan Allah kepada Ayub di dalam jawaban-Nya yang sangat panjang itu. Jika kita sudah membaca Kitab Ayub sampai selesai, kemungkinan kita akan bingung melihat jawaban Tuhan. “Mengapa Allah menjawab seperti ini? Tuhan sebenarnya sedang berbicara tentang apa di balik kalimat yang begitu panjang ini?”

Dan yang mungkin paling aneh, setidaknya bagi saya, adalah ketika Allah berbicara tentang “kuda Nil” dan “buaya”. Sebenarnya, teks asli Kitab Ayub tidak memberi kejelasan apakah di bagian tersebut Allah benar-benar berbicara tentang kuda Nil dan buaya. Ada kemungkinan Allah berbicara tentang dua makhluk besar lain, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan behemoth (diterjemahkan menjadi kuda Nil) dan leviathan (diterjemahkan menjadi buaya). Namun, apapun hewan yang Tuhan maksud itu, itu bukanlah inti utama dari jawaban Tuhan ini. Jadi, kita dapat dengan aman menerima interpretasi yang umum diterima oleh banyak teolog yakni Allah sedang berbicara tentang kuda Nil dan buaya.

Kembali ke topik, ini merupakan hal yang, setidaknya bagi saya, sangatlah aneh. Allah tidak seperti biasanya dalam berbicara. Kata saya dalam hati, “What in the world yang Tuhan ingin sampaikan dengan membawa-bawa kuda Nil dan buaya, yang sama sekali tidak ada urusannya dengan semua penderitaan Ayub ini?” Dan di dalam penantian yang cukup lama akan jawaban yang tepat atas pertanyaan saya tersebut, akhirnya saya menemukan jawaban yang sangat membantu dan membuat saya paham mengapa Allah merasa perlu untuk membahas tentang kuda Nil dan buaya ketika Ia berperkara dengan Ayub yang sedang begitu menderita dan menanti jawaban-Nya. Jawaban itu diberikan oleh Derek Thomas, yang di dalam sesinya di konferensi Ligonier yang bertajuk “The Next 500 years”, mengatakan:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pernahkah kau melihat kuda Nil? Dan kau berkata dalam hatimu, “Apa yang Tuhan pikirkan ketika Ia menciptakan kuda Nil, karena hewan itu kelihatan mirip dengan seorang teman saya.”

Atau mari kita berbicara tentang buaya. Dan karena kita berada di Florida, mari kita cukup menyebutnya aligator. Jadi, mengapa Allah menciptakan aligator?

Saya menyumbang sejumlah dana untuk melestarikan beruang kutub. Saya menyumbang mungkin sepuluh dolar. Jika ada orang datang dan meminta kontribusi dana untuk melestarikan beruang kutub, saya mungkin akan menyumbang karena saya akan sangat sedih jika beruang kutub punah… Namun, aligator? Saya tidak akan menangis sedikitpun jika aligator punah.

Lalu, mengapa Allah menciptakan aligator?
Saya rasa untuk membuat sepatu atau ikat pinggang.

Atau marilah kita berpikir dengan lebih serius. Mengapa Allah menanyakan pertanyaan tersebut kepada Ayub? Pernahkah kau berpikir tentang leviathan? Pernahkah kau berpikir tentang buaya? Mengapa Allah menciptakan buaya?

Saya tahu jawabnya sebab saya menulis buku tentang Ayub, tepatnya 3 buku tentang Ayub. Jadi, saya tahu jawabannya. Jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa Allah menciptakan buaya?” adalah “Saya tidak tahu.” Sebenarnya itu bukanlah jawaban yang benar.

Ps: Derek Thomas memang kerap bercanda di dalam khotbah-khotbahnya.

Jawabannya adalah untuk kemuliaan Allah.
Dan itulah pula mengapa Allah mengizinkan penderitaan dan kesengsaraan.

Jika kau bertanya akan suatu penderitaan atau suatu kesengsaraan, “Mengapa?” Kemungkinan besar saya akan menjawabmu:

“Saya tidak tahu. Saya tidak punya jawaban untukmu, kecuali satu: untuk kemuliaan-Nya.”

Hanyalah orang Kristen yang dapat menjawab seperti itu. Orang yang tidak percaya tidak akan mungkin menjawab demikian untuk pertanyaan tersebut.

Untuk kemuliaan Allah yang Maha Kuasa. Tidaklah penting apakah saya mengerti atau tidak, yang penting adalah Ia mengerti dan saya percaya kepada-Nya.

Dan itulah pesan dari Kitab Ayub.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bravo. What a conclusion!
Itulah jawaban yang jiwaku butuhkan. Terpujilah nama TUHAN!

Kini aku mengerti mengapa Allah menciptakan kuda Nil dan buaya dan memaparkan keduanya kepada Ayub. Ada banyak jawaban untuk pertanyaan mengapa Allah menciptakan kuda Nil dan buaya namun di atas semua jawaban itu, jawaban dan penjelasan yang tertinggi adalah karena Allah ingin menunjukkan kemuliaan-Nya kepada manusia melalui kuda Nil dan buaya.

Dan sama halnya dengan itu, mengapa Allah mengizinkan penderitaan untuk datang kepada orang-orang percaya yang senantiasa berharap kepada-Nya? Kita memang tidak memiliki jawaban yang lengkap untuk menjawab pertanyaan tersebut sebab tentu ada banyak penjelasan mengapa Allah mengizinkan kita untuk menderita. Namun, sekalipun kita tidak punya jawaban yang komprehensif dan walaupun kita tidak memahami keseluruhan maksud Tuhan di balik penderitaan yang kita alami, kita tahu jawaban di atas segala jawaban tentang mengapa Allah mengizinkan kita menderita, yakni untuk kemuliaan nama-Nya di dalam hidup kita.

Apakah jawaban ini cukup bagimu?

Dan seperti kata Derek Thomas:
“Tidaklah penting apakah saya memahaminya atau tidak. Yang penting adalah bahwa Ia mengerti dan saya percaya kepada-Nya.”

Terpujilah nama TUHAN!
Amin

Link khotbah Derek Thomas: https://www.youtube.com/watch?v=gh70l-W79y4&t=2s

Iblis, Sang Pemakan Iman

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Lawanlah dia dengan iman yang teguh,…

Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.
(1 Petrus 5:8-10)

Jadi, apa yang “singa” itu makan? Apa yang dimaksud dengan “ditelannya”?

Itu kemungkinan tidak berarti ototmu, dagingmu, atau tulangmu. Itu adalah imanmu, menurutku.

Iblis saat ini berada di ruangan ini. Ia benci dengan apa yang sedang terjadi saat ini di sini. Dan ia ingin memakan imanmu. Dan ia memiliki berbagai macam cara untuk menabur pikiran-pikiran tertentu di dalam benakmu yang akan membuat apapun yang saya katakan mengenai pembangunan iman sebagai sesuatu yang konyol. Ia ingin memakan imanmu. Dan jika ia dapat memakan imanmu, mengonsumsinya, dan menghancurkannya, ia tidak peduli dengan apapun yang akan kau lakukan.

-John Piper-

Link potongan khotbah dari John Piper, “Satan Eats Faith for Breakfast”:

Pernikahan yang Kudus

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,
maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

(Matius 6:33)

“Hidup yang “kecil” tidak mampu menopang pernikahan yang besar.
Hidup yang “kecil” tidak mampu menopang pernikahan yang besar.

Jika engkau menikah karena alasan yang egois, yakni untuk memiliki hidup yang “kecil”, saya tidak peduli seberapa cantik, terkenal, dan kaya mereka, semua itu tidak akan bertahan lama. Namun, jika engkau menikah dengan seseorang yang bersama dengannya kau bisa mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka apa yang kau cintai dari orang itu akan menjadi semakin dalam, tiga-empat dekade ke depan di dalam pernikahan. Itu tidak akan luntur sekalipun secara fisik keberahian menurun seiring berjalannya waktu.”

-Gary Thomas-

Link khotbah Gary Thomas, “Sacred Marriage”

Kristus, Gereja, dan Kita

Saya percaya Tuhan layak menerima kasih yang Ia kehendaki untuk-Nya
dan saya yakin Ia layak menerima kasih yang Ia kehendaki untuk gereja-Nya.

Dan dengan segala kejujuran, saya sangat terganggu dengan ide populer yang mengatakan bahwa engkau dapat memiliki hubungan pribadi dengan Kristus namun terpisah dari gereja-Nya. Itu merupakan diskoneksi yang sangat aneh dan tidak dapat diterima, yang sama saja seperti mengatakan, “Saya terhubung dengan Sang Kepala namun tidak terhubung dengan si tubuh.” Tidak masuk akal.

-John MacArthur-

Link khotbah John MacArthur, “Your Responsibility to the Church, Part 1”

https://www.youtube.com/watch?v=aTreWU-xXrU&t=6s

Segala Kuasa Ada pada Yesus

Yesus mendekati mereka dan berkata:

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

(Matius 28:18-20)

Dan ketika Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”, Ia tidak sedang bergurau! Ia tidak sedang bercanda!

-Aaron Harvie-