Menjadi Saksi Kristus

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,
dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem
dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
(Kisah Para Rasul 1:8)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Roh Kudus dicurahkan tidak untuk menjadikan kita sakti, melainkan untuk menjadikan kita saksi.

Adalah mudah bagi kita untuk bercerita tentang kesuksesan-kesuksesan hidup kita, atau tentang anak-anak kita, atau tentang hal-hal lain. Bahkan, adalah mudah bagi kita untuk bercerita tentang kejelekan orang lain. Namun, mengapa begitu sulit bagi kita untuk bercerita tentang Tuhan Yesus Kristus dan tentang kebaikan-Nya di dalam hidup kita?

~ Bapak Penginjil Winarto ~

Orang Kristen yang Sejati

(Geerhardus Johannes Vos, 1862-1949)

Menjadi seorang Kristen berarti menjalani hidup tidak hanya dalam ketaatan kepada Allah, tidak hanya dalam kebergantungan terhadap Allah, bahkan tidak hanya hidup demi Allah;

menjadi seorang Kristen berarti berelasi dengan Allah di dalam persekutuan yang sadar dan timbal-balik, menjadi sehati sepikir dengan Dia di dalam pemikiran, kehendak, dan tindakan, serta menerima sesuatu dari-Nya dan mempersembahkan kembali sesuatu kepada-Nya di dalam interaksi kuasa rohani yang tidak pernah pernah berhenti.

Pertanyaan ini, walaupun tajam, merupakan pertanyaan yang sangat sederhana:

Apakah kita mengasihi Allah demi Dia sendiri dan menemukan di dalam kasih ini inspirasi untuk melayani, ataukah kita merendahkan-Nya hanya sebagai mitra yang memiliki pengaruh yang di bawah naungan-Nya kita dapat mengerjakan seluruh aktivitas kita dengan lebih baik untuk melayani dunia?

~ Geerhardus Johannes Vos, Bapak Teologi Alkitabiah Reformed ~

Musuh Kita yang Sebenarnya

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah,
supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa,
melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,
melawan roh-roh jahat di udara.
(Efesus 6:11-12)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kau terlibat di dalam sebuah peperangan!
Kau ada di dalam sebuah peperangan!

Ini adalah medan perang. Perhatikanlah, sumber masalah yang sebenarnya adalah si Musuh, bukan budaya kita. Kita tidak sedang berperang melawan budaya masyarakat kita. Lupakanlah culture war!

Dengar! Ketika gereja tidak dapat melihat siapa musuh yang sesungguhnya, maka ia pasti akan memerangi musuh lain yang sejatinya bukanlah musuh yang sebenarnya.

Adalah seorang D. E. Hoste yang merupakan penerus dari Hudson Taylor, Direktur Jendral dari Overseas Missionary Fellowship, China Inland Mission. Dan ia berkata, “Saya tidak akan mengutus seorang pria atau wanita ke dalam ladang misi, kecuali ia telah belajar untuk bergulat melawan si Jahat, sebab jika mereka belum pernah belajar untuk bergumul dengan si Jahat, mereka akan bertarung melawan teman mereka sesama misionaris.”

~ Alistair Begg ~

Dixon Edward Hoste

Link khotbah Alistair Begg:
https://www.youtube.com/watch?v=9ZCdzYp2HlI&t=3s

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saudara-saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan kita, Yesus Kristus.

Akhir-akhir ini, ada begitu banyak kabar yang memberitakan tentang ketidakadilan, diskriminasi, kejahatan, bahkan penganiayaan yang ditujukan kepada saudara-saudara kita di dalam Kristus, hanya karena iman yang mereka peluk. Kejahatan-kejahatan itu dapat timbul dari segala arah, mulai dari teman sepermainan, guru dan dosen, rekan-rekan kerja, atasan, anggota keluarga, kelompok radikal garis keras, teroris, bahkan pemerintah. Hal ini dapat kita lihat terjadi di seluruh dunia dan sedikit banyak kita juga mengalami ketidakadilan tersebut sejak kecil.

Melihat dan merasakan semua itu, tidak sedikit dari kita akan bangkit berdiri untuk melakukan perlawanan dan pembalasan. Saya yakin firman Tuhan tidak melarang kita untuk melakukan perlawanan terhadap tindak kejahatan. Namun, firman Tuhan juga mencegah kita untuk melakukan perlawanan dengan salah dan yang berpotensi membuat kita berdosa. Firman Tuhan tidak melarang kita melawan, bahkan mendorong kita untuk berperang. Namun, firman Tuhan memberi tahu kita semua bahwa musuh kita yang sejati bukanlah “darah dan daging”, yang artinya adalah sesama kita manusia, melainkan si “pemerintah-pemerintah”, si “penguasa-penguasa” , si “penghulu-penghulu dunia yang gelap ini”, dan “roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:11-12).

Siapakah mereka yang Paulus sebut itu? Ya, mereka semua adalah Iblis yang telah menguasai dunia ini (1 Yohanes 5:19), tentunya sejauh yang Allah izinkan. Merekalah musuh kita yang sejati. Merekalah dalang di balik semua ketidakadilan dan kejahatan yang kita rasakan. Merekalah yang membutakan mata hati orang-orang akan kebenaran (2 Korintus 4:4) dan mempengaruhi pikiran orang-orang untuk mengikuti jalan-jalan mereka (Efesus 2:1-2).  Oleh sebab itu, sembari kita melakukan perlawanan terhadap orang-orang jahat dan tidak adil, yang mana semua itu harus kita lakukan dengan lemah lembut, penuh hormat, dan hati nurani yang murni (1 Petrus 3:15-16), kita juga harus ingat bahwa serangan utama kita haruslah ditujukan kepada Kerajaan Iblis.

Dan bagaimanakah kita melawan Iblis? Firman Tuhan memberi kita setidaknya tiga arahan ini:

  • Jangan berlari dari Iblis, kita harus melawannya dan ia yang akan berlari dari kita (Yakobus 4:7)
  • Kita berperang melawan Iblis dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani (Efesus 6:10-20). Tanpa semua persenjataan itu, niscaya kita kalah.
  • Kita dapat mengalahkan Iblis dengan darah Anak Domba dan dengan perkataan kesaksian kita di hadapan orang-orang tentang Yesus Kristus dan keselamatan yang ada di dalam Dia (Wahyu 12:11)

Biarlah ini menjadi perenungan kita untuk tetap berdiri teguh di zaman ini dan di dalam berperang melawan kejahatan. Biarlah kita seperti Paulus yang berkata, “Aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya (1 Korintus 9:26-27)”, supaya kita tidak salah memukul dan malah menyakiti sesama kita manusia, melainkan menyerang secara efektif Iblis dan Kerajaannya.

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah kita. Amin.

Iman Bertumbuh oleh Firman

Aku berdoa memohon iman, dan mengira bahwa suatu hari iman akan turun dan menyambarku seperti petir.  Namun, nampaknya iman tidak kunjung datang.

Suatu hari, aku membaca pasar ke-sepuluh dari Surat Roma:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran,
dan pendengaran oleh firman Kristus.”
(Roma 10:17)

Aku menutup Alkitabku dan berdoa memohon iman. Kini, aku membuka Alkitabku, dan mulai untuk belajar, dan iman pun bertumbuh sejak saat itu.

~ Dwight L. Moody ~

Ketika Kita Melakukannya Bersama

Berdua lebih baik dari pada seorang diri,
karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.

Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya,
tetapi celakalah orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!

Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas,
tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas?

Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan.
Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.
(Pengkhotbah 4:9-12)

Pekerjaan Allah meningkat secara eksponensial ketika kita melakukannya secara bersama-sama. Ketika kita bekerja bersama-sama, Allah memungkinkan kita untuk mencapai lebih dibandingkan jika kita melakukannya seorang diri.

~ Jim Richards ~

Mengapa Allah Mengizinkan Penderitaan, Pesan dari Kitab Ayub

Mengapa Allah mengizinkan penderitaan datang ke dalam hidup anak-anak Tuhan? Kitab Ayub memberi kita jawaban untuk pertanyaan tersebut. Kitab ini diawali dengan pernyataan Allah bahwa Ayub merupakan orang paling saleh dan jujur di muka bumi pada waktu itu. Mendengar hal itu, Iblis menjawab Allah dan mengatakan bahwa Ayub dapat hidup sedemikian saleh karena ia selalu diberkati oleh Allah. Seandainya Allah menghentikan berkat-berkat-Nya terhadap Ayub dan mengizinkannya menderita, Ayub pasti akan berbalik dari Allah dan menghujat-Nya, itulah yang dikemukakan oleh Iblis.

Bagian permulaan dari kitab ini ditutup dengan Allah mengizinkan Iblis untuk mendatangkan pencobaan demi pencobaan di dalam hidup Ayub. Iblispun menghujani Ayub dengan berbagai macam pencobaan dan penderitaan, mulai dari kehilangan harta kekayaan, kematiaan putera-puteri yang dikasihi, penyakit aneh yang menggerogoti, serta istri yang membujuknya untuk menghujat Allah. Sungguh dahsyat kesengsaraan yang ditanggung oleh Ayub ini. Namun, firman Tuhan memberi kesaksian bahwa bagian awal dari penderitaan Ayub ini diakhiri dengan, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayub 2:10).”

Namun, nampaknya hal itu tidak bertahan lama. Lama-kelamaan, Ayub mulai berkeluh kesah, bahkan mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:1). Lembar-lembar berikutnya dalam Kitab Ayub diisi dengan pembelaan diri Ayub di hadapan Allah dan di hadapan teman-temannya yang tidak henti-hentinya mengatakan bahwa Ayub menderita karena dosa-dosa yang diperbuatnya sendiri. Ayub yang tidak menerima perkataan teman-temannya itu geram karena ia yakin bahwa ia tidak melakukan dosa yang membuatnya layak menerima semua ini dari Allah. Lebih jauh, di dalam sakit hatinya akan sikap Allah yang seolah-olah diam sekalipun Ayub tidak henti-hentinya berseru kepada-Nya, Ayub bahkan sempat mengatakan bahwa Allah-lah yang bersalah dan tidak adil karena telah menyiksa orang yang tidak bersalah.

Ayub benar-benar membutuhkan jawaban dari Allah saat itu. Namun, Allah tetap diam. Semakin lama Allah diam, semakin banyak Ayub bicara. Dan di dalam banyak bicara, Ayub mengatakan apa yang seharusnya tidak diucapkannya. Sungguh benar kata Kitab Amsal, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi (Amsal 10:19).”

Hingga akhirnya, TUHAN-pun menjawab Ayub. Di dalam struktur penulisan Alkitab, Allah berbicara dalam empat pasal, yakni dari dari pasal ke-38 hingga pasal ke-41. Allah terus menerus berbicara dan Ayub hampir-hampir tidak memiliki kesempatan untuk menjawab.  Kemungkinan tidak ada satupun bagian lain di dalam Alkitab yang berisikan ucapan mulut Allah yang lebih panjang dari bagian ini. Ini merupakan hal yang perlu menarik perhatian kita. Di dalam penderitaan umat-Nya, Allah memiliki sangat banyak hal untuk disampaikan kepada kita, sekalipun untuk sekian waktu lamanya Ia tampak diam.

Namun, apakah yang disampaikan Allah kepada Ayub di dalam jawaban-Nya yang sangat panjang itu. Jika kita sudah membaca Kitab Ayub sampai selesai, kemungkinan kita akan bingung melihat jawaban Tuhan. “Mengapa Allah menjawab seperti ini? Tuhan sebenarnya sedang berbicara tentang apa di balik kalimat yang begitu panjang ini?”

Dan yang mungkin paling aneh, setidaknya bagi saya, adalah ketika Allah berbicara tentang “kuda Nil” dan “buaya”. Sebenarnya, teks asli Kitab Ayub tidak memberi kejelasan apakah di bagian tersebut Allah benar-benar berbicara tentang kuda Nil dan buaya. Ada kemungkinan Allah berbicara tentang dua makhluk besar lain, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan behemoth (diterjemahkan menjadi kuda Nil) dan leviathan (diterjemahkan menjadi buaya). Namun, apapun hewan yang Tuhan maksud itu, itu bukanlah inti utama dari jawaban Tuhan ini. Jadi, kita dapat dengan aman menerima interpretasi yang umum diterima oleh banyak teolog yakni Allah sedang berbicara tentang kuda Nil dan buaya.

Kembali ke topik, ini merupakan hal yang, setidaknya bagi saya, sangatlah aneh. Allah tidak seperti biasanya dalam berbicara. Kata saya dalam hati, “What in the world yang Tuhan ingin sampaikan dengan membawa-bawa kuda Nil dan buaya, yang sama sekali tidak ada urusannya dengan semua penderitaan Ayub ini?” Dan di dalam penantian yang cukup lama akan jawaban yang tepat atas pertanyaan saya tersebut, akhirnya saya menemukan jawaban yang sangat membantu dan membuat saya paham mengapa Allah merasa perlu untuk membahas tentang kuda Nil dan buaya ketika Ia berperkara dengan Ayub yang sedang begitu menderita dan menanti jawaban-Nya. Jawaban itu diberikan oleh Derek Thomas, yang di dalam sesinya di konferensi Ligonier yang bertajuk “The Next 500 years”, mengatakan:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pernahkah kau melihat kuda Nil? Dan kau berkata dalam hatimu, “Apa yang Tuhan pikirkan ketika Ia menciptakan kuda Nil, karena hewan itu kelihatan mirip dengan seorang teman saya.”

Atau mari kita berbicara tentang buaya. Dan karena kita berada di Florida, mari kita cukup menyebutnya aligator. Jadi, mengapa Allah menciptakan aligator?

Saya menyumbang sejumlah dana untuk melestarikan beruang kutub. Saya menyumbang mungkin sepuluh dolar. Jika ada orang datang dan meminta kontribusi dana untuk melestarikan beruang kutub, saya mungkin akan menyumbang karena saya akan sangat sedih jika beruang kutub punah… Namun, aligator? Saya tidak akan menangis sedikitpun jika aligator punah.

Lalu, mengapa Allah menciptakan aligator?
Saya rasa untuk membuat sepatu atau ikat pinggang.

Atau marilah kita berpikir dengan lebih serius. Mengapa Allah menanyakan pertanyaan tersebut kepada Ayub? Pernahkah kau berpikir tentang leviathan? Pernahkah kau berpikir tentang buaya? Mengapa Allah menciptakan buaya?

Saya tahu jawabnya sebab saya menulis buku tentang Ayub, tepatnya 3 buku tentang Ayub. Jadi, saya tahu jawabannya. Jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa Allah menciptakan buaya?” adalah “Saya tidak tahu.” Sebenarnya itu bukanlah jawaban yang benar.

Ps: Derek Thomas memang kerap bercanda di dalam khotbah-khotbahnya.

Jawabannya adalah untuk kemuliaan Allah.
Dan itulah pula mengapa Allah mengizinkan penderitaan dan kesengsaraan.

Jika kau bertanya akan suatu penderitaan atau suatu kesengsaraan, “Mengapa?” Kemungkinan besar saya akan menjawabmu:

“Saya tidak tahu. Saya tidak punya jawaban untukmu, kecuali satu: untuk kemuliaan-Nya.”

Hanyalah orang Kristen yang dapat menjawab seperti itu. Orang yang tidak percaya tidak akan mungkin menjawab demikian untuk pertanyaan tersebut.

Untuk kemuliaan Allah yang Maha Kuasa. Tidaklah penting apakah saya mengerti atau tidak, yang penting adalah Ia mengerti dan saya percaya kepada-Nya.

Dan itulah pesan dari Kitab Ayub.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bravo. What a conclusion!
Itulah jawaban yang jiwaku butuhkan. Terpujilah nama TUHAN!

Kini aku mengerti mengapa Allah menciptakan kuda Nil dan buaya dan memaparkan keduanya kepada Ayub. Ada banyak jawaban untuk pertanyaan mengapa Allah menciptakan kuda Nil dan buaya namun di atas semua jawaban itu, jawaban dan penjelasan yang tertinggi adalah karena Allah ingin menunjukkan kemuliaan-Nya kepada manusia melalui kuda Nil dan buaya.

Dan sama halnya dengan itu, mengapa Allah mengizinkan penderitaan untuk datang kepada orang-orang percaya yang senantiasa berharap kepada-Nya? Kita memang tidak memiliki jawaban yang lengkap untuk menjawab pertanyaan tersebut sebab tentu ada banyak penjelasan mengapa Allah mengizinkan kita untuk menderita. Namun, sekalipun kita tidak punya jawaban yang komprehensif dan walaupun kita tidak memahami keseluruhan maksud Tuhan di balik penderitaan yang kita alami, kita tahu jawaban di atas segala jawaban tentang mengapa Allah mengizinkan kita menderita, yakni untuk kemuliaan nama-Nya di dalam hidup kita.

Apakah jawaban ini cukup bagimu?

Dan seperti kata Derek Thomas:
“Tidaklah penting apakah saya memahaminya atau tidak. Yang penting adalah bahwa Ia mengerti dan saya percaya kepada-Nya.”

Terpujilah nama TUHAN!
Amin

Link khotbah Derek Thomas: https://www.youtube.com/watch?v=gh70l-W79y4&t=2s