Hal Terbaik mengenai Dunia dan Hidup ini

Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya,
tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
(1 Yohanes 2:17)

Salah satu hal terbaik mengenai dunia ini adalah bahwa dunia ini hanyalah sementara.
Salah satu hal terbaik mengenai hidup ini adalah bahwa hidup ini sementara adanya.

Apakah engkau juga berpikir demikian? Oh, aku tidak dapat membayangkan betapa tidak berartinya hidupku ini seandainya dunia ini akan berlangsung untuk selama-lamanya.

Tetapi “tidak” kata firman Tuhan.
Dunia ini akan berakhir.
Atau yang lebih tegas lagi: Dunia ini akan segera berakhir.
Ya, Petrus benar, kesudahan segala sesuatu sudah dekat (1 Petrus 4:7).

Dengarlah permohonan Musa kepada Allah:

Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu,
kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh…
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
(Mazmur 90 : 9 & 12)

Apakah yang Musa katakan? Ia mengatakan bahwa hati yang bijaksana akan dimiliki oleh mereka yang tahu bagaimana menghitung hari-hari mereka. Ia mengatakan bahwa hati yang penuh dengan hikmat bijaksana akan dimiliki oleh mereka yang sadar bahwa hidup dan dunia ini adalah fana dan akan segera berlalu.

Dan apakah hati yang bijaksana itu? Jika kita bertanya kepada dunia ini, maka kita akan mendapat berbagai macam jawaban yang bahkan terkadang bertolak belakang. Tetapi kita tidak butuh pandangan dunia ini untuk menjelaskan dan mengajarkan kepada kita tentang apa itu hikmat, apa itu bijaksana. Bagi kita, orang-orang percaya, hanya ada satu arti dari hati yang bijaksana. Bagi kita, hanya ada satu arti yang teguh dan pasti tentang hikmat yang sejati. Dan itu adalah ini:

Ayat - Kolose 2 3

Ya
Tuhan Yesus Kristus adalah Hikmat yang sejati.
Tuhan Yesus Kristus adalah Hati yang Bijaksana itu.

Dan bagaimana seseorang dapat memiliki Dia, Hati yang Bijaksana itu?
Musa berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian…”

Ya, ketika seorang anak manusia menghitung hari-harinya, ia akan menyadari bahwa dunia ini hanyalah sementara. Ia akan menemukan kehampaan di dalamnya. Ia akan menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang dikejar-kejar oleh umat manusia yang akhirnya akan berlalu, binasa, dan tidak lagi berarti. Oh, betapa malangnya. Lebih dari itu, ia juga akan menyadari bahwa hidupnya fana. Ia akan sadar bahwa ada sangat banyak hal yang ia perjuangkan dengan sekuat tenaga selama ini yang sesungguhnya tidak benar-benar berarti. Ia akan menyadari bahwa kesudahan segala sesuatu sudah dekat.

Dan apakah hasil dari kesadaran itu?

Orang itu akan putus asa dengan dunia ini. Ia bahkan akan putus asa dengan dirinya sendiri. Itu memang terdengar menyedihkan. Tetapi tidak apa, sebab itu adalah permulaan kehidupan. Ia kemudian menghadapkan wajahnya kepada Yang Kekal. Ia mengarahkan hatinya kepada Yang Mahakuasa. Ia merendahkan hatinya di hadapan-Nya. Ia memohon pengampunan-Nya. Dengan hati yang remuk, ia akan berseru, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku Jalan, Kebenaran, dan Hidup.” Dengan hati yang rendah, ia akan berkata, “Ya Allah, berikanlah kepadaku Hati yang Bijaksana.” Dan Allah, oleh kasih-Nya yang teramat sangat besar bagi para pendosa, akan memberikan kepadanya semuanya itu, yakni pengampunan, jalan, kebenaran, hidup, dan hati yang bijaksana di dalam dan hanya di dalam Yesus Kristus, Putra-Nya, Tuhan kita.

Ayat - 1 Korintus 1 30

Ya
Kristus Yesus, Tuhan kita
Dialah Sang Pemimpin kepada Hidup (Kisah Para Rasul 3:15)
Dialah Kebangkitan dan Hidup (Yohanes 11:25)

Hanyalah di dalam Dia
ada semangat hidup
ada pengharapan untuk hidup
ada arti hidup
ada tujuan hidup
ada terang hidup
ada hidup

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dunia ini hanyalah sementara dan akan segera tiada.
Ya, tetapi Kerajaan-Nya adalah dari selamanya sampai selamanya.

Hidup ini hanyalah sementara dan akan tiba kesudahannya.
Ya, tapi di dalam Dia ada hidup yang kekal.

Keindahan dan arti dari dunia dan hidup ini terletak pada kenyataan bahwa keduanya hanyalah sementara. Oh, terpujilah Allah karena kesementaraan dunia dan hidup ini. Sebab hanya dengan menyadari hal itulah seseorang bisa memiliki hati yang bijaksana. Hanya dengan menyadari hal itulah seseorang bisa memiliki hidup yang berarti, yang benar-benar berarti. Dan apakah itu hidup yang berarti? Hidup yang berarti adalah ini:

Hidup yang didedikasikan sepenuhnya
untuk kemuliaan Allah,
yang dari-Nya hidup ini ada,
dan untuk kebaikan umat-Nya,
yang untuknya Ia telah menyerahkan hidup-Nya.

Watson

Oh, besarkanlah nama Tuhan! Biarlah umat tebusan-Nya bersukacita dan bernyanyi memuliakan nama-Nya:

Siang, malam, musim, tahun gilir ganti melenyap;
bayang-bayangnya berlalu, tiada satu yang tetap.
Hidup kita menjalani jangka waktu dunia;
tak terulang yang terjadi, tinggal tanggung jawabnya.

Orang hidup ditinggalkan oleh pendahulunya,
kita pun menuju makam yang fana.
Dari bumi kita lahir dan kembali pada-Nya;
tanpa rahmat yang ilahi, apakah manusia?

Sungguh, Allah mengasihi dunia ciptaan-Nya:
dalam Putra-Nya sendiri Ia tinggal beserta.
Yang percaya kepada-Nya, tak binasa tenggelam,
tapi hidup selamanya dalam Dia yang menang.

Siang, malam, musim, tahun, biar kamu melenyap;
dalam suka dan dukaku rahmat Allahku tetap!
Tangan-Nya menuntun daku lewat zaman dunia
dan akhirnya ‘ku selalu tinggal dalam rumah-Nya.

(Kidung Jemaat: Siang, Malam, Musi, Tahun)

Amin

Advertisements

Memandang Arti dan Masa Hidup Ini, Bagian 2

Tolstoy

Kita harus menyadari bahwa hidup ini hanyalah untuk sementara.
Kita harus menghidupi bahwa hidup ini hanyalah untuk Allah.

Kita perlu menyadari bahwa kewarganegaraan kita ada di dalam sorga.
Kita perlu memikirkan perkara-perkara yang di atas.

Itulah unsur hara untuk pekerjaan yang mulia bagi kebaikan umat manusia.
Itulah bahan bakar untuk visi dan misi yang agung bagi kemuliaan Allah.

Itulah syarat agar kita dapat benar-benar berdampak bagi dunia ini.
Itulah syarat agar kita hidup, benar-benar hidup, di dunia ini.

Beberapa orang mungkin akan tidak setuju dengan pendapat di atas. Beberapa orang mungkin akan sangat terganggu dengan pernyataan di atas. Bagi mereka, Kolose 3:2 merupakan ayat yang seharusnya tidak ada di dalam Alkitab. Mereka akan berkata bahwa orang-orang Kristen adalah orang yang holy-holy atau tidak membumi sehingga tidak berdampak bagi masyarakat di mana mereka berada. Apakah engkau pernah mendengar komentar yang demikian? Bagaimanakah sikap kita terhadap pandangan yang demikian? Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus memberikan respon dan pertanggungjawaban dengan lemah lembut dan sopan (1 Petrus 3:15-16). Setidaknya ada dua hal yang perlu kita lakukan dalam menanggapi tuduhan-tuduhan seperti itu:

Pertama, mintalah mereka untuk membaca dan menyelidiki sejarah dengan sungguh-sungguh. Mintalah mereka untuk menginvestigasi apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Kristen seperti Augustine, John Wycliffe, Martin Luther, William Tyndale, John Calvin, Para Puritan, Blaise Pascal, Sir Isaac Newton, John Wesley, George Whitefield, Jonathan Edwards, David Brainerd, William Carey, Adoniram Judson, George Muller, David Livingstone, Hudson Taylor, Amy Carmichael, George Washington, Charles Studd, Jonathan Goforth, Nommensen, C.S. Lewis, Abraham Kuyper, John Stott, dan masih banyak lagi bagi dunia ini.

Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang yang sangat sadar bahwa kewarganegaraan mereka adalah di dalam sorga. Mereka adalah orang-orang yang sangat sadar bahwa hidup mereka di dunia ini hanyalah sementara. Seperti Rasul Paulus, mereka memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Mereka memiliki pola pikir sorgawi, dan beberapa bahkan sangat sorgawi.

Apakah mereka tidak bermanfaat bagi masyarakat di sekeliling mereka? Apakah mereka tidak berdampak bagi dunia ini? Apakah mereka tidak membumi? Oh, telusurilah sejarah dan selidikilah karya yang telah mereka sumbangkan bagi dunia ini. Tak satu orangpun yang benar-benar dengan tekun dan tulus mencari tahu kontribusi orang-orang itu bagi dunia ini dapat mengatakan bahwa mereka tidak berdampak. Setiap orang yang dengan hati yang murni mencari tahu apa dampak mereka bagi dunia ini akan mendapat kesimpulan yang sebaliknya, yakni bahwa orang-orang yang heavenly-minded yang telah disebutkan di atas adalah orang-orang yang sangat berpengaruh bagi bumi di mana mereka berpijak.

Dan tahukah engkau bagaimana mereka berpikir? Tahukah engkau apa yang mereka katakan? Berikut adalah beberapa di antaranya:

Martin Luther (1483-1546), bapak reformasi gereja yang berperan sangat besar dalam pembentukan bahasa Jerman modern ketika ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerma, berkata:
“Hiduplah seolah-olah Kristus mati di hari kemarin, bangkit di pagi hari ini, dan akan datang di esok hari.”

John Calvin (1509-1564), bapak reformasi gereja yang juga merupakan salah satu bapak demokrasi modern, berkata:

Calvin

David Brainerd (1718-1747), misionaris muda dan brilian asal Amerika, yang kehadirannya begitu berarti bagi orang-orang Indian yang ia layani dengan sepenuh hati, berkata:
“Saya siap melewatkan seluruh hidup saya hingga momen terakhir dengan tinggal di dalam liang-liang dan gua-gua di bumi ini, asalkan Kerajaan Kristus semakin dimajukan.”

William Carey (1761-1834), misionaris di India, yang menghentikan kebudayaan Sati di India yang mengharuskan seorang istri untuk ikut dibakar bersama jenazah suaminya yang telah meninggal, berkata:

Carey

David Livingstone (1813-1873), misionaris di Afrika, yang catatan hariannya mengenai alam dan peradaban di tanah Afrika berpengaruh sangat besar bagi kemajuan Afrika, pernah berkata:
“Aku tidak memandang berharga apapun yang aku miliki, kecuali yang ada hubungannya dengan Kerajaan Allah. Jika ada sesuatu yang kumiliki yang dapat memajukan Kerajaan Allah di dunia ini, itu akan kuberikan atau kusimpan, hanya apabila dengan memberikan atau menyimpannya aku dapat lebih lagi memuliakan Dia yang dari-Nya aku berhutang segala pengharapanku baik di dalam waktu maupun di dalam kekekalan.”

Jonathan Edwards (1703-1758), teolog dan filsuf Kristen terbesar dari Amerika, yang hingga saat ini pikiran-pikirannya masih relevan dan berpengaruh bagi peradaban Amerika, berkata:

Edwards

Dr. Inger Ludwig Nommensen (1834-1918), yang kepadanya orang-orang Batak di Indonesia berhutang budi, berkata:
“Ya Tuhan, hidup atau mati, biarlah aku berada di tengah-tengah bangsa batak ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu.”

Charles Studd (1834-1918), misionaris di Tiongkok, Amerika, India, dan Afrika, berkata:

Studd

Itulah yang mereka katakan dan pikirkan. Bukankah mereka terdengar holy-holy dan tidak membumi? Biarlah kita mengesampingkan terlebih dahulu apa definisi holy-holy dan tidak membumi yang kerap dituduhkan oleh dunia kepada orang Kristen. Apa yang kita tahu adalah bahwa mereka merupakan orang yang benar-benar serius di dalam menjaga kekudusan mereka. Apa yang kita tahu adalah bahwa mereka memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan perkara-perkara duniawi. Namun, sekalipun demikian, kita juga tahu bahwa mereka telah memberikan dampak positif yang begitu besar bagi dunia ini, bahkan lebih besar dari dampak yang telah diberikan oleh banyak orang yang selalu berpikir tentang dunia ini tetapi tidak memikirkan perkara yang di atas.

Kedua, kita tidak berhenti hanya sampai dengan memperlihatkan kepada mereka sejarah orang-orang yang telah dipakai oleh Tuhan secara luar biasa untuk menjadi berkat di dunia ini tetapi hendaklah kita berdoa agar Allah sekali lagi membangkitkan hamba-hamba-Nya yang juga akan berdampak besar bagi dunia ini untuk kemuliaan-Nya. Tidak hanya itu, hendaklah kita juga melatih dan menguduskan diri kita dengan lebih tekun lagi sehingga kita dapat menjadi alat yang akan Ia pakai untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan di atas semua itu, membawa kemuliaan bagi nama-Nya yang agung dan kudus (2 Timotius 2:21). Itulah definisi hidup, benar-benar hidup, menurut Alkitab.

Lewis

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan terakhir, biarlah kita menutup tahun 2015 ini dengan kembali merenungkan mengapa Tuhan Yesus datang ke dunia ini. Mengapa Ia datang ke dunia ini dan berkemah di dalamnya? Ya, untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Tetapi apakah kehendak Bapa? Inilah kehendak Bapa:

Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.
(Yohanes 6:40)

Ya, kehendak Bapa adalah agar kita diselamatkan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah alasan mengapa Tuhan kita datang ke dunia. Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10). Ia dibaptis di sungai Yordan, sekalipun Ia tidak berdosa, untuk mengidentifikasikan diri-Nya dalam hitungan orang-orang berdosa seperti kita (Yohanes 3:15). Ia merasakan kelemahan-kelemahan kita, baik kelemahan fisik maupun kepedihan jiwa kita, Ia bahkan turut dicobai oleh iblis seperti kita, supaya di dalam semua itu Ia bersimpati pada kita dan memahami penderitaan kita sepenuhnya, ya sepenuhnya (Ibrani 4:15). Ia menaati hukum Allah dengan ketaatan yang sempurna supaya oleh kesempurnaan ketaatan-Nya, Allah memandang kita sempurna. Ia menanggung hukuman Allah atas dosa dengan penundukan diri yang sempurna supaya oleh semua itu Allah mengampuni dan melupakan semua dosa kita selamanya.

Kristus telah melakukan segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan kita.

Ia lahir ke dunia untuk kita (Yesaya 9:5).
Ia hidup dan berkemah di dunia untuk kita (Lukas 19:10).
Ia mati dan turun ke dalam Kerajaan Maut untuk kita (Markus 10:45, Yohanes 15:13).
Ia bangkit di hari yang ketiga untuk kita (1 Tesalonika 4:14).
Ia naik ke sorga untuk mempersiapkan tempat tinggal bagi kita (Yohanes 14:2).
Ia akan datang kelak dan mendirikan Kerajaan-Nya juga untuk kita (1 Yohanes 3:2, Wahyu 22:20).

Dalam kedatangan-Nya yang pertama, Ia hidup dan berkemah di dunia hanya untuk sementara. Puncak di dalam hidup-Nya adalah ketika Ia bisa berkata, “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30), yakni ketika Ia menyelesaikan segala yang perlu untuk penebusan dosa kita di hadapan Allah. Oleh sebab itu, biarlah semua ini menjadi dasar bagi kita dalam memandang arti dan masa hidup kita di dunia ini. Hendaklah kita menyadari kesementaraan hidup ini. Hendaklah kita memandang hidup ini sebagai suatu perkemahan yang akan segera berlalu. Hendaklah kita hidup sedemikian rupa hingga suatu saat kelak kita dapat berkata kepada Allah Tritunggal yang kita kasihi, “Sudah selesai.”

Biarlah ini menjadi perenungan kita dalam menjelang tahun baru 2016.
Biarlah segala kemuliaan hanya bagi-Nya.

Ravenhill

Selamat tahun baru, 2016.
Tuhan Yesus memberkati.

Memandang Arti dan Masa Hidup Ini, Bagian 1

Elliot

Kini kita telah berada di penghujung tahun 2015. Sesaat lagi kita akan tiba di tahun yang baru, tahun 2016. Ada banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang dalam menjelang tahun yang baru ini. Ada yang membuat daftar resolusi yang akan dikerjakan di tahun depan. Ada yang membuat target dan cita-cita yang harus dicapai di kemudian hari. Ada yang mengenang setiap kejadian penting yang sudah dialami di sepanjang tahun 2015. Ada yang tidak memikirkan semua itu dan lebih memilih untuk menikmati saat-saat terakhir di tahun 2015 ini dengan berbagai macam hal, seperti melakukan perjalanan jauh, mengunjungi tempat-tempat wisata, bercengkerama dengan keluarga atau teman dekat, dan lain sebagainya. Dan yang pasti, ada pula yang tidak memiliki waktu untuk semua itu karena mereka harus bekerja membanting tulang demi mendapat sesuap nasi.

Ada bermacam-macam respon setiap orang dalam menantikan tahun 2016. Ada respon yang positif. Ada pula respon yang negatif. Namun, apapun yang telah kita rencanakan untuk dilakukan di pergantian tahun ini, tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan selain merenungkan kembali apa arti hidup ini dan bagaimana sepatutnya kita memandang masa hidup ini, berdasarkan firman Allah. Dan kali ini, firman Allah yang sangat baik untuk dijadikan landasan dalam mengevaluasi kehidupan kita adalah firman yang sudah sangat familiar di telinga kita, khususnya ketika hari Natal, yaitu:

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.
(Yohanes 1:14)

Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Bagian firman ini mengandung makna yang begitu mendalam. Pertama-tama, firman ini memiliki makna kedatangan Sang Firman Allah ke dalam dunia. Firman ini bermakna Hari Natal yang belum lama ini kita rayakan. Ia, yang adalah Sang Anak Allah yang kekal, oleh kasih-Nya yang begitu besar kepada dunia ini rela menjadi manusia, benar-benar menjadi manusia, dan hidup bersama umat manusia. Kita telah cukup familiar dengan interpretasi tersebut.

Namun, firman ini tidak hanya berbicara mengenai Hari Natal. Firman ini berbicara lebih banyak dari itu. Firman ini tidak hanya berbicara tentang kedatangan Sang Anak Allah ke dalam dunia tetapi juga tentang bagaimana Ia hidup di dalam dunia ini. Dan inilah yang menjadi dasar yang sangat baik untuk kita pelajari dan teladani supaya kita memiliki pengertian yang benar terhadap arti dan masa hidup kita di dunia ini.

Di dalam Alkitab berbahasa Indonesia kita, ayat ini berkata, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” Kata “diam” pada ayat ini, dalam bahasa Yunani yang adalah bahasa aslinya, adalah “σκηνόω” (dibaca skay-no’-o) yang berarti berkemah. Itulah yang Sang Anak lakukan dalam kedatangan-Nya yang pertama ke dunia ini. Ia mengenakan natur manusia pada diri-Nya yang ilahi kemudian berkemah di antara umat manusia. Tidak diragukan lagi, keberadaan-Nya sebagai manusia Yesus Kristus di tengah-tengah umat-Nya merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari apa yang beribu-ribu tahun sebelumnya telah Ia lakukan di tengah-tengah Bangsa Israel di padang gurun. Apakah itu? Ya, berkemah di tengah-tengah mereka, tetapi bukan di dalam wujud manusia melainkan di dalam sebuah kemah, yakni Kemah Suci (Keluaran 25:8).

Tabernacle-Glory1

Namun, fokus kita kali ini bukanlah tentang Kemah Suci atau tentang bagaimana Kristus merupakan perwujudan atau penggenapan dari Kemah Suci yang melambangkan-Nya. Fokus kita adalah ini:
“Tuhan Yesus Kristus berkemah di antara kita, khususnya pada kata, berkemah.

Tuhan kita Yesus Kristus berkemah di antara kita. Ia turun dari sorga, menjadi manusia, datang ke dunia dan berkemah di dalamnya. Dan ketika dikatakan “berkemah”, kita mengerti bahwa Ia tidak berdiam di dunia ini untuk selama-lamanya. Ia tinggal dan berkemah di dunia ini hanya untuk sementara. Ia datang karena suatu misi dan jika misi itu sudah selesai Ia tunaikan, maka selesai jugalah masa perkemahan-Nya di dunia ini.

Untuk apakah Ia datang ke dunia ini? Misi apakah yang Ia emban itu? Tuhan Yesus sendiri telah menjelaskannya. Ia berulang-ulang kali mengatakan hal yang sama:

Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
(Yohanes 4:34)

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.
(Yohanes 9:4)

Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku,
tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
(Yohanes 6:38)

Itulah alasan mengapa Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia ini. Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Bahkan, menunaikan kehendak Bapa-Nya telah menjadi “makanan” bagi-Nya. Dengan demikian, apabila kita harus meringkas kehidupan Tuhan Yesus di dunia ini hanya ke dalam dua poin, maka dengan segala penghormatan kepada-Nya kita dapat meringkas dua hal ini, yaitu:

  • Ia memandang hidup-Nya di dunia ini sebagai suatu perkemahan yang sementara.
  • Ia memberikan hidup-Nya yang sementara di dunia ini seutuhnya untuk menjalankan kehendak Bapa.

Itulah arti hidup menurut Tuhan kita Yesus Kristus. Itu jugalah yang menjadi arti hidup bagi hamba-hamba-Nya. Kita dapat melihat kesaksian mereka, yakni tentang bagaimana mereka memandang arti dan masa hidup mereka di dunia yang fana ini. Dengarlah penuturan mereka:

Nabi Musa bermazmur:
Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,
di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
(Mazmur 90:6 & 10)

Raja Daud berdoa:
Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku,
supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(Mazmur 39:4)

Asaf, pemimpin puji-pujian itu, di dalam mazmurnya, mengatakan:
Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali.
(Mazmur 78:39)

Pemazmur, ketika ia sengsara dan lemah lesu, di dalam pengaduhannya kepada TUHAN, berkata:
Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang, dan aku sendiri layu seperti rumput.
(Mazmur 102:12)

Nabi Yesaya, menyampaikan apa yang Allah sendiri firmankan mengenai manusia:
“Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.”
(Yesaya 40:6)

Rasul Paulus menegaskan:
Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga,
dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
(Filipi 3:20)

Yakobus memperingatkan kita:

Ayat - Yakobus 4 14

Rasul Yohanes berkata:
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
(1 Yohanes 2:17)

Rasul Petrus berkata:
Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
(2 Petrus 1:13-14)

Itulah yang firman Allah katakan mengenai hidup manusia. Melalui Musa, Allah berkata bahwa hidup kita ibarat sebuah mimpi yang akan segera terlupakan. Melalui Daud, Allah menyiratkan bahwa hidup manusia di dunia ini fana adanya. Melalui Asaf, Allah mengatakan bahwa hidup kita seperti angin yang berhembus dan tak kembali.  Melalui Yesaya, Allah mengingatkan bahwa hidup manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Melalui Yakobus, Allah menyatakan hal yang lebih tegas lagi, yakni bahwa hidup manusia sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Melalui Yohanes, Allah menegaskan bahwa tidak hanya hidup manusia yang bersifat sementara tetapi bahkan dunia ini pun sementara adanya dan sedang lenyap menuju kebinasaan.

Demikianlah Allah mendeskripsikan kesementaraan hidup ini kepada umat manusia. Itulah sebabnya Allah mengajar kita untuk berpikir sama seperti Petrus, yaitu bahwa baik tubuh maupun kehidupan kita di dunia ini sejatinya adalah kemah yang cepat atau lambat akan kita tanggalkan dan tinggalkan. Dan Allah berjanji bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Allah di dalam hidupnya yang sementara ini, Ia akan menganugerahkan kepada orang itu hidup yang kekal. Inilah pandangan yang Alkitabiah tentang kehidupan. Alkitab berulang-ulang kali mengingatkan kepada kita bahwa hidup kita di dalam tubuh dan dunia ini hanyalah sementara. Hanya dengan memahami hal inilah kita dapat benar-benar memahami hidup ini.

Dan jika kita berpikir seperti apa yang Allah ingin kita pikirkan, maka seperti apakah seharusnya respon kita? Jika kita sadar bahwa hidup kita ini adalah ibarat uap yang akan segera berlalu, maka seperti apakah seharusnya kita hidup di dunia ini? Apakah kita akan berespon seperti dunia ini yang mengatakan, “Hidup ini hanya sekali dan singkat. Oleh sebab itu, lupakanlah Allah dan nikmatilah hidup ini.” Tentu tidak, bukan?

Dunia ini menipu dirinya sendiri. Dunia ini membodohi dirinya sendiri dengan dongeng-dongeng isapan jempol mereka. Anak-anak dunia ini lupa bahwa “sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27).” Ya, penghakiman Allah yang tidak pernah salah menanti semua insan di dunia ini. Cepat atau lambat, setiap manusia akan mati dan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Sang Hakim yang tidak pernah menoleransi setiap pelanggaran terhadap hukum-Nya. Yohanes Pembaptis berkata, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (Matius 3:10). Tuhan Yesus menegaskan:

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
(Matius 7:24-27)

Oh, begitu tegas peringatan yang Ia sampaikan. Oleh sebab itu, seperti apakah seharusnya respon orang-orang percaya dalam menanggapi kehidupan yang hanya sekali dan begitu singkat ini? Respon yang masuk akal tentulah respon yang diberikan oleh Allah kepada kita di dalam firman-Nya, yaitu:

Kita harus hidup…

  • untuk mengumpulkan harta di sorga (Matius 6:20)
  • dengan mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Matius 6:33)
  • tanpa rasa kuatir (Filipi 4:6)
  • tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2a)
  • menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi perlombaan iman kita (Ibrani 12:1)
  • mengejar kekudusan (Ibrani 12:14)
  • dengan tekun berdoa, berjaga-jaga, dan mengucap syukur (Kolose 4:2)
  • memandang kematian sebagai sebuah keuntungan (Filipi 1:21)
  • dengan tujuan utama yaitu kemajuan pemberitaan Injil (1 Korintus 9:23)
  • dalam keseriusan, kedisiplinan, dan ketaatan untuk pekerjaan Allah (1 Korintus 9:24-27)
  • mengharapkan dan menantikan dengan sukacita kedatangan Tuhan kita (Titus 2:13)
  • seutuhnya bagi kemuliaan nama Tuhan (1 Korintus 10:31)

Dengan singkat, Rasul Paulus merangkum semua itu dengan menulis:

Ayat - Kolose (2)

Demikianlah hendaknya kita hidup di dunia ini. Hendaklah kita hidup menurut terang firman Tuhan kita. Hendaklah kita hidup sebagaimana apa yang pernah Richard Baxter katakan:

Baxter

#Bersambung

About Time

Paul-Mccartney-9390850-1-402

“Siapa yang tidak tahu dia? Dia adalah Paul McCartney, bassist sekaligus vokalis The Beatles, salah satu band favoritku………………………..”

Yup, cukup sampai di sana saja. Aku tidak akan melanjutkan kalimat itu karena aku, ya diriku, penulis tulisan ini, bukanlah seorang penggemar berat The Beatles. Aku memang cukup suka dengan The Beatles, tetapi tidak lebih dari itu dan aku tidak berani menyebut diriku sebagai penyuka berat mereka. Kalimat yang kutulis itu adalah hasil khayalanku. Aku hanya mengandai-andai apa yang akan dipikirkan oleh seorang yang suka menampilkan dirinya ketika mempunyai gambar ini. Beberapa orang yang suka menampilkan diri, dan aku rasa akupun pernah seperti itu, akan berkata misalnya, “aku suka banget sama The Beatles”, padahal mungkin dia hanya suka sekadar suka akan grup band itu. Mungkin mereka pikir, menjadi fans berat dari sosok yang terkenal, akan membuat mereka lebih menarik. Mungkin mereka pikir, menampilkan kesukaan diri pada sesuatu yang imut, akan membuat orang-orang memandangnya imut pula.

Citra diri, orang-orang haus untuk mencitrakan dirinya di hadapan orang lain. Orang-orang ingin dilihat indah dan memiliki daya tarik tertentu walaupun itu memaksa mereka untuk melebih-lebihkan diri mereka. Mungkin kamu adalah salah satu orang yang suka melakukannya. Jika iya, coba kau renungkan kembali rasa haus semacam itu. Jika bukan, coba kau bayangkan juga. Kuberi waktu 10 detik padamu untuk merenungkannya. Bagaimana? Nah, sekarang aku bertanya padamu…
“Menjengkelkan banget ga sih pemikiran pencitraan diri tak berkelas seperti itu?”

Dalam bahasa sehari-hari, mungkin bisa dibahasakan seperti ini:
“Tahu diri dong!”
Benar juga, kan? Orang yang selalu berusaha menampilkan dan melebih-lebihkan diri di hadapan orang lain pada dasarnya adalah orang yang tidak mengetahui dan memahami dirinya sendiri.

Kalau kau adalah orang yang pernah, atau mungkin sering melakukannya, maafkan aku. Aku mengatakan ini sungguh bukan untuk merendahkanmu. Dan kalau kamu adalah seorang yang tidak punya intensi sama sekali untuk melakukan pencitraan rendahan semacam itu, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu membenci orang-orang yang suka merendahkan dirinya sendiri dengan gaya pencitraan yang rendahan. Tapi aku mengatakan ini, supaya, aku, kamu, dan kamu yang di sana, sama-sama membenci dan meninggalkan dosa pencitraan diri yang sebenarnya hanyalah bualan dan kebohongan besar.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Ups, aku menulis terlalu panjang nampaknya. Sesungguhnya hal utama yang ingin kubagikan bukanlah hal itu. Melainkan tentang sesuatu yang bermula dari kekagetanku saat melihat aksi Paul di Grammy Awards 2014 baru-baru ini.

paul-mccartney1

“Astaga… betapa kaupun tidak berdaya di hadapan sang waktu. Look at you Paul, betapa waktu sudah menghabisimu dan membuatmu tua.”

Memang benar, Paul telah melakukan hal yang sungguh luar biasa. Di usia yang sudah setua ini, dia masih menjadi salah satu pemenang di acara bergengsi tingkat dunia itu. Tetapi bukanlah kesuksesan itu yang ada di mata dan benakku saat melihat Paul bernyanyi.

Ketika melihatnya…
Aku bukan merasa sedih
Aku bukan merasa kasihan
Aku tidak tahu perasaan apa yang melanda diriku saat itu
Mungkin istilah yang paling mendekati perasaan itu adalah
I felt so helpless…

Aku menghela nafas panjang. Aku mengerutkan dahiku. Aku menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Ah, sungguh itu kenyataan yang sangat pahit. Manusia, sampai kapanpun tidak akan bisa mengalahkan sang waktu. Manusia, akan selalu, dibuat babak belur oleh waktu. Mungkin di masa mudanya, seseorang bisa menjadi orang yang sangat terkenal di dunia ini. Tetapi itu hanyalah sementara, sepasti waktu akan terus berjalan maju dan bukan mundur, sepasti itu juga the time will knock him out.

The time will KO him. Waktu akan menghabisi orang itu. Waktu akan melucuti semua kebanggaan dan kebesarannya. Dia akan menjadi tua. Lemah. Keriput. Butuh pertolongan. Sudah tidak ada lagi orang yang satu era dengan orang yang pernah populer ini. Dia tidak terkenal lagi. Mata-mata yang pernah melihatnya bak melihat dewa kini telah tiada. Yang ada hanyalah mata-mata yang akan berkata, “ngapain lagi orang tua yang satu ini masih berusaha menjadi terkenal. Mundurlah kakek, kau terlalu mudah disingkirkan sekarang dan aku tidak mau membuatmu terlihat jelek di masa tuamu. Jadi pergi sana, hush hush!

Aku tidak sedang bermaksud untuk pesimis atau berpikiran sempit. Aku juga tidak bermaksud mengatakan bahwa menjadi tua adalah hal yang buruk atau mengatakan bahwa tidak ada harapan bagi orang-orang yang sudah menjadi tua. Tidak, bukan itu.

Yang kumaksudkan adalah betapa menjadi tua adalah sebuah kepastian (tentunya jika Tuhan memberi umur panjang). Ya, manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan sang waktu. Manusia tidak dapat menghentikan atau memutar balik waktu. Manusia akan menjadi tua dan lemah. Kesempatan manusia terbatas. Manusia memiliki jangka waktu.

Dan itu mengantarkanku kepada satu kalimat yang membakar hatiku:
Hidup ini hanya sementara…

Orang bodoh akan melanjutkannya dengan:
“…………. oleh sebab itu nikmatilah hidupmu dan lakukanlah segala sesuatu sesuka hatimu.”

Tetapi sungguh aku berdoa bagimu yang membaca ini, janganlah berpikiran demikian, melainkan:
“………….. kalau begitu, penderitaankupun hanya sementara…”
“………….. kalau begitu, keletihankupun hanya sementara…”

Kawanku, waktu kita terbatas. Waktu kita singkat. Temukanlah apa yang Tuhan ingin Dia kerjakan melaluimu dalam hidup ini. Dan ketahuilah, hidup ini terlalu singkat bagi kita untuk melakukan hal lain yang tidak berguna. Sebanyak detik yang kita habiskan untuk fokus yang lain, mengumpulkan harta, mengejar kepopuleran, sebanyak itu pula cadangan waktu kita untuk melakukan hal yang utama akan berkurang.

Ketika kuliah dulu, ada beberapa teman yang sering mengajakku untuk bermain. Aku sering menolak ajakan tersebut. Memang aku seringkali merasa gundah karena telah melewatkan banyak momen kegembiraan bersama mereka. Tapi satu prinsip yang menguatkanku:
“Boy, satu semester itu cuman 4 bulan. CUMAN 4 bulan.
Apa susahnya sih berjuang dan fokus selama 4 bulan toh setelah itu lu punya 2 bulan.
Bayangkan, 2 BULAN PENUH buat main-main sepuasnya. Jadi tahan-tahanlah dirimu untuk sebentar saja.”

Prinsip itu sangat sering meloloskanku dari banyak ajakan yang menggoda. Tetapi ada prinsip yang jauh melebihi itu. Prinsip utama tidak bermain pada skala 4 bulan-2 bulan saja. Prinsip yang utama berurusan dengan kekekalan.
“Hidupmu di dunia ini hanya sementara, Boy. Masa hidup di bumi itu cuma seiprit jika dibanding dengan kekekalan.”

Ya, kalau kau menghabiskan masa hidupmu di bumi hanya untuk menikmati hidup, mengumpulkan harta, menampilkan diri, menjaring kepopuleran, mengiklankan diri, menjual dirimu, aku yakin, kau akan menyesalinya di kekelakan nanti. Sungguh semua itu fana dan sia-sia. Lupakan, relakan, tinggalkanlah semua itu.

Sebaliknya, layanilah Tuhan, layanilah orang lain. Sangkallah diri, berkorbanlah. Setialah dalam setiap perkara kecil. Berikan hatimu dalam setiap hal yang kau kerjakan. Lakukan segala sesuatu sebaik mungkin walau hal itu akan membuatmu lelah. Ingat, hal baik yang kita lakukan, jika kita tidak sedang mengiklankan diri, akan bisa Tuhan pakai untuk kemuliaan-Nya.

Rendahkanlah hatimu, tidak usah menunjukkan diri, tidak usah melebih-lebihkan diri. Tidak apa kau tidak terkenal di dunia sebab semua ini hanya sementara. Ketahuilah, akan tiba masanya di mana kau akan dikenal di seluruh pelosok negeri. Bukan negeri di bumi ini, melainkan di negeri sorga kelak. Dan di atas semua itu, kau akan terkenal di hati Tuhan. Sebab Dia mengenal orang yang berkenan kepada-Nya, tetapi Dia tak mengenal orang-orang yang sombong dan melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Lakukan yang terbaik yang kau bisa dalam segala sesuatu, tak apa, keletihanmu hanya sementara. Sisihkan uangmu untuk orang miskin, tak apa, rasa laparmu hanya sementara. Fokuslah, mungkin kau akan bosan dan penat, tak apa, itu hanya sementara. Layanilah Tuhan, beritakanlah kabar baik tentang Tuhan, tak apa, penderitaanmu hanya sementara.

Hidup ini hanya sementara
Hidup ini adalah sebuah pertandingan

Aku berdoa agar kita semua menemukan panggilan hidup kita
Fokus dengan itu
Setia dengan itu
Hidup dengan itu
Bahkan mati dengan itu

Alangkah indahnya jika suatu saat nanti kita bisa berkata:
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, 
aku telah mencapai garis akhir  dan aku telah memelihara iman

Dan Allah berkata pada kita:
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia;
engkau telah setia dalam perkara kecil,
aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Tuhan Yesus memberkati

Kenyataan yang Menyakitkan [Bagiku]

Hari ini aku menemukan suatu kenyataan yang menyakitkan…

Di tahun keduaku bekerja sebagai engineer ini, aku semakin gencar untuk mencari segala informasi mengenai pendidikan magister. Sejujurnya, aku belum menemukan tujuan yang pasti mengenai bidang apa yang aku inginkan. Aku masih bimbang apakah aku akan menargetkan dunia petroleum atau dunia geothermal. Tetapi semakin ke sini, aku semakin intensif menelusuri dunia panas bumi karena aku rasa dunia, khususnya Indonesia, jauh lebih membutuhkan bibit-bibit muda yang menguasai bidang ini.

Akupun menenggelamkan diriku ke dunia maya untuk mencari handbook yang bisa aku unduh. Dengan memasukkan frasa kunci “geothermal reservoir engineering”, aku semakin mengerti betapa masih sangat minimnya ahli dan data mengenai dunia panas bumi ini.

Alih-alih mendapatkan satu saja handbook yang tidak kunjung kutemukan, aku malah menemukan headline berjudul “Senior Reservoir Engineer” dari situs linkedin. Kau tahu situs ini bukan? Aku rasa tak perlu lagi kujelaskan situs apakah itu. Akupun masuk ke situs tersebut dan seperti yang kusinggung di awal, aku menemukan kenyataan yang menyakitkan.

Ooouuuucchhhh… That’s hurt and I mean it

Itu adalah kenyataan yang menyakitkan, sangat menyakitkan. Di situs ini, aku melihat deretan profil, sangat banyak profil, dari orang-orang yang bekerja dengan title “Senior Reservoir Engineer”. Aku melihat historikal mereka, pengalaman mereka, proyek-proyek yang pernah mereka kerjakan, bidang-bidang yang mereka menjadi ahli di dalamnya, serta software-software yang mereka kuasai.

Melihat semua itu, aku terdiam. Astaga, mereka semua dewa. Astaga, betapa aku masih sangat jauh dibanding mereka semua. Ternyata aku masih, seperti yang kata abang senior di sini katakan, walau aku masih meraba-raba artinya, masih cecunguk. Aku masih belum apa-apa. Aku bahkan tidak bisa menjamin aku bisa setidaknya menyamai pencapaian mereka.

Tetapi itu bukanlah hal utama yang menyakitkan bagiku
Bagiku yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa:
Mimpiku, untuk menjadi seorang, yang kusebut DEWA,
hanya akan membawaku dari kerumunan yang satu ke kerumunan yang lain

Mimpiku, untuk menjadi seorang ahli, hanya akan mengantarku dari level cecunguk reservoir engineer menjadi senior reservoir engineer. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih. Tidak berbeda. Tidak istimewa. Senior reservoir engineer, seperti ribuan orang di luar sana, seperti ribuan orang di masa lalu, seperti ribuan orang yang juga akan tampil di masa depan. Aku, jika benar aku mampu mencapainya, hanya akan menjadi satu dari kerumunan senior engineer. Okelah, aku ingin menjadi dosen. Tapi itu juga tidak akan menolong. Aku akan menjadi dosen, seperti jutaan orang di luar sana, di masa lalu, dan di masa yang akan datang.

Tidakkah itu menyakitkan bagimu?
Bagiku itu sangat menyakitkan
Mengetahui betapa kecilnya mimpi yang kita impikan selama ini, itu sangat ouuccchy

Lalu apa yang harus aku lakukan?
Apakah aku harus mengganti mimpiku jika demikian kasusnya?
Apakah aku harus mencari mimpi baru yang akan membuatku sebagai satu-satunya pemimpinya?

Aku rasa tidak
Aku yakin tidak
Karena aku sudah menemukan jawabannya
Jawaban agar mimpiku tidak mengantarkanku dari kerumunan ke kerumunan
Melainkan dari kerumunan ke puncak

Dan jawabannya adalah 3 hal
Tiga hal yang akan membuat mimpiku berbeda

Yang pertama, syarat mutlaknya adalah:
Kau harus mencintai apa yang kau kerjakan

Hari ini aku membaca satu buku yang menuliskan satu pesan yang sudah lama aku ketahui. Sudah lama kudengar pesan itu, tetapi somehow, pesan itu terasa sangat baru bagiku. Pesan itu adalah “kau mungkin tidak bisa melakukan hal-hal besar, tetapi kamu bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” Pada saat membaca itu, aku benar-benar merasakan kekuatan baru, sensasi aneh di hatiku. Aku tidak menyangka ternyata apa yang kubaca siang tadi itu, mengantarkanku kepada kesimpulan pertamaku malam ini.

Benar sekali, aku harus mencintai apa yang aku kerjakan. Aku harus menikmati saat-saat otakku diisi dengan ilmu-ilmu baru. Aku harus benar-benar merasakan sukacita, bahkan hingga masuk ke tulangku, setiap kali aku mengerjakan proyek-proyek yang menantang. Aku harus melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku harus menanamkan hatiku pada setiap buah karyaku.

Dengan kasih yang besar
Aku yakin, aku sangat yakin, mimpiku akan sangat berbeda
Karena, seperti yang kau tahu, love never fails

Yang kedua
Kau tidak boleh melakukannya untuk dirimu sendiri

Bekerja di bidang ini, tidak bisa dibantah lagi, akan memberikanmu uang yang relatif lebih banyak dibanding apa yang akan didapat oleh sebagian besar orang. Aku melihat begitu banyak orang telah terjerumus di dalamnya. Mereka menikmati uang banyak, uang itu mengantarkan mereka dari gaya hidup yang satu, ke gaya hidup yang lebih besar. Dan seperti yang kau sudah duga, gaya hidup baru itu menjadi perangkap bagi mereka. Mereka tidak lagi bebas, untuk melanjutkan kehidupan mereka, mereka minimal harus tetap berada di level itu. Kalau mereka turun, kalau pemasukan mereka turun, mereka akan sangat sangat kesulitan menghadapi dan menikmati hidup walaupun jika di lihat dari sudut pandang orang yang lebih bersahaja, mereka tetap saja hidup dalam kelimpahan.

Ya, aku sering sekali melihat orang yang kaya tetapi selalu saja mengatakan tidak cukup. Bagaimana tidak, ada seorang yang mengatakan gaji 70 juta masih tidak cukup. Astaga, apa lagi namanya kalau bukan perangkap. Gaji besar diberikan Tuhan bukan malah untuk membawamu ke dalam perangkap, tetapi justru seharusnya membebaskanmu, membebaskanmu untuk bisa semakin banyak memberi, dan dengan pemberianmu, kamu bisa membebaskan orang lain dari kesusahannya. Itu dia.

Itulah yang kumaksud dengan aku tidak boleh menjalani semua ini hanya dengan motivasi untuk mendapatkan lebih banyak uang atau hal-hal lain yang fana. Tidak. Aku tidak mau memiliki keinginan sekecil itu. Aku bekerja supaya aku bisa membantu orang banyak. Listrik padam yang pernah kualami telah menyadarkanku betapa dunia ini sangat membutuhkan energi. Kehidupan Jakarta yang selalu kelewati juga telah menyadarkanku, betapa dunia ini juga membutuhkan uang dan makanan. Oleh sebab itu, tidak cukup bekerja karena aku mencintai pekerjaan itu, tetapi melalui pekerjaanku, aku harus bisa, melakukannya dengan kesadaran penuh, bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang membawa kesejahteraan bagi orang banyak.

Yang ketiga, oh aku sangat suka yang satu ini
Kau harus mengajarkannya
Dan kau harus menemukan seseorang yang akan meneruskan
perjuanganmu

Seberapapun hebatnya aku kelak, seberapapun dewa-nya (walau dewa bukan kata sifat) aku nanti, itu semua tidak akan banyak berfaedah jika aku tidak mengajarkannya kepada orang-orang. Aku harus menciptakan ahli-ahli berikutnya. Aku harus mencetak mereka-mereka yang suatu saat akan mengalahkan pencapaian yang telah kubuat. Dan lebih dari itu, aku harus menemukan dan membangun, dia atau mungkin mereka, yang akan meneruskan visiku, semangatku, bagi dunia ini.

Kepandaianku, keahlianku, dan lebih dari itu, hatiku, dan lebih lagi, hati Allah, itulah yang harus aku turunkan kepada murid-muridku kelak. Itu, itu dia. Itulah yang akan membuat mimpiku menjadi mimpi yang berbeda, mimpi yang istimewa, mimpi yang mulia, dan yang lebih lagi, mimpi yang kekaaaaaaalllll…..

Oh, alangkah leganya hati ini, masih ada kemungkinan bagiku terlepas dari kerumunan
Senangnya hati ini menyadari bahwa mimpiku bisa menjadi mimpi yang besar
Semangatnya hati ini mengetahui masih ada harapan bagiku membuat perbedaan di dunia ini

Mimpiku berbeda
Mimpiku istimewa
Mimpiku mulia
Mimpiku menyentuh hati anak manusia
Mimpiku mengubahkan hidup
Mimpiku kekaaaalllll

Tidak lagi oouuucccchhh… tetapi oooouuuuooohhhh
Masih ada harapan bagiku
Bagimu juga kawan-kawanku yang terkasih

Oleh sebab itu, marilah
Mari bersama-sama denganku
Kita ubah mimpi kita menjadi kenyataan
Kita tunggang balikkan dunia yang sudah bobrok ini

Amin

Kalimat Terakhirku

Bagi sebagian besar orang, kematian itu mengerikan

Adapun aku…
Aku tidak takut mati, aku tahu ke mana aku ‘kan pergi setelah aku mati

Tetapi bagaimanapun, tak akan kupungkiri bahwa aku sedikit gentar membayangkan kematian

  • Apakah aku akan mati karena sakit keras yang berkepanjangan?
  • Atau karena serangan jantung yang mendadak?
  • Atau karena ada orang bodoh yang meledakkan dirinya di dekatku?
  • Atau karena pesawat yang kutumpangi tiba-tiba kehabisan tenaga?
  • Atau karena truk yang menabrakku karena supirnya yang mengantuk?
  • Atau karena aku terjatuh dan kepalaku terhantuk batu?
  • Atau karena seseorang menghabisi nyawaku karena imanku?

Oh, maut betapa jarakmu begitu dekat
Membayangkan dengan cara apa aku akan mati, ah, misteri itu menggentarkanku

Tetapi ada satu hal
Satu hal yang membuatku jauh lebih siap menghadapi kematian
Dan hal itu adalah 


Menginginkannya

Jika kau menginginkan kematian, maka kematian itu tidak akan lagi menakutkan bagimu. Kini yang kau butuhkan adalah iman dan pembaharuan budi yang membuatmu menginginkan kematian itu. Kau butuh sebuah kepastian yang menyadarkanmu bahwa ada hal indah yang menantimu setelah kematian.


Keinginanku adalah meninggalkan hidup ini dan bersatu bersama Kristus karena itu jauh lebih baik
(Filipi 1:23)

Tetapi satu hal yang menjadi syaratnya. Aku boleh menginginkan kematian, jika dan hanya jika, aku sudah menyelesaikan tugasku di dunia ini.

Aku harus menyelesaikan tugasku di dunia ini
Tak ‘kan kusia-siakan detik yang kumiliki dalam hidup

Sebab semakin banyak detik yang aku sia-siakan, semakin besarlah penyesalanku di akhir nanti. Sebab setiap detik yang aku buang percuma akan menggiringku untuk menanyakan dan memohon, “Mengapa aku harus mati sekarang? Beri aku sedikit waktu lagi, Tuhan. Tolong, jangan biarkan aku mati sekarang. Aku belum selesai.” Dan aku tidak mau itu terjadi.

Tidak
Aku tidak mau kematian yang seperti itu
Yang kuinginkan adalah jika aku bisa mengatakan “sip, semua beres, syukur dah aku mati sekarang”
Dan hari-hariku akan kudedikasikan seluruhnya supaya aku bisa mengucapkannya
Mengucapkannya sebagai kalimat terakhirku


Hal yang paling mengerikan di dunia ini bukanlah kematian
Bukan pula
penyesalan
Melainkan kematian yang disertai penyesalan

 


Tuhan Yesus memberkati

Panggilan Hidup : Penutup

Sebagai penutup, ini adalah sebuah doa yang luar biasa yang aku dapat ketika aku membaca suatu buku.
Semoga doa ini menjadi berkat dan inspirasi bagi kita semua untuk lebih menggumulkan beban hati dan panggilan hidup kita.

Kiranya Allah memberkati Anda dengan ketidaknyamanan pada jawaban-jawaban mudah, setengah kebenaran, dan hubungan yang dangkal sehingga Anda dapat hidup mendalam di hati Anda

Kiranya Allah memberkati Anda dengan kemarahan terhadap ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi orang-orang sehingga Anda dapat bekerja untuk keadilan, kebebasan, dan kedamaian.

Kiranya Allah memberkati Anda dengan air mata yang ditumpahkan untuk mereka yang menderita karena rasa sakit, penolakan, dan kelaparan, sehingga Anda dapat mengulurkan tangan Anda untuk menghibur mereka yang menderita sakit mereka menjadi sukacita.

Dan kiranya Allah memberkati Anda dengan cukup kebodohan untuk percaya bahwa Anda dapat membuat sebuah perbedaan di dunia ini sehingga Anda dapat melakukan apa yang orang lain klaim tidak bisa dilakukan.

Kiranya Allah memberkati Anda dengan berkat yang mungkin teraneh, yakni beban ilahi-Nya

Demikian pelajaran kita bersama mengenai panggilan hidup
Selamat menemukan momen Popeyemu
Selamat menempuh panggilan hidupmu

Jadilah orang yang berbeda dari kebanyakan orang normal di dunia ini
Jadilah orang yang “aneh”
Because what that-kind-of-man do in this life, echoes in eternity

Tuhan Yesus bersama kita 🙂

P.S.: Terinspirasi dari buku “ANEH” karangan Craig Groeschel