Firman TUHAN – Api dan Palu Allah

Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN
dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?
(Yeremia 23:29)

Firman TUHAN itu seperti api.
Api yang menghangatkan jiwa yang dingin.
Api yang membakar semangat untuk bergerak melayani Tuhan.
Api yang memurnikan hati dari benih dan hasrat berdosa.

Firman TUHAN itu seperti palu.
Palu yang menghancurkan kekerasan kepala dan hati serta membuat keduanya tunduk kepada Allah.
Palu yang menghancurkan bukit batu kekuatiran dan ketidakpercayaan.
Palu yang meremukkan hikmat dunia dengan kebenaran dan bijaksana Allah.

Firman Allah bukanlah sekadar perkataan atau ucapan Allah. Firman merupakan kuasa dan pekerjaan Allah itu sendiri. Ia berinteraksi dengan umat-Nya melalui Firman. Ia bekerja di dalam dunia melalui Firman. Firman harus bekerja dan jika tidak, pekerjaan itu tidak akan selesai.

Amin

Advertisements

Iman Bertumbuh oleh Firman

Aku berdoa memohon iman, dan mengira bahwa suatu hari iman akan turun dan menyambarku seperti petir.  Namun, nampaknya iman tidak kunjung datang.

Suatu hari, aku membaca pasar ke-sepuluh dari Surat Roma:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran,
dan pendengaran oleh firman Kristus.”
(Roma 10:17)

Aku menutup Alkitabku dan berdoa memohon iman. Kini, aku membuka Alkitabku, dan mulai untuk belajar, dan iman pun bertumbuh sejak saat itu.

~ Dwight L. Moody ~

Firman-Mu Menghidupkan

Tetapi Yesus menjawab:
“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
(Matius 4:4)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

begg

Banyak orang berkata bahwa selama ada harapan, maka masih ada kehidupan. Perkataan itu baik namun tidak sepenuhnya benar sebab tidak semua harapan manusia akan berujung pada hidup. Tidak sedikit pengharapan manusia berujung pada jalan buntu, kesia-siaan, atau bahkan kebinasaan karena memang harapan sebatang kara tidak pernah mampu menjadi fondasi yang kokoh bagi kehidupan. Inilah yang harus setiap orang miliki jika ia ingin memiliki hidup yang sejati, Firman Allah.

Sama seperti makanan merupakan sumber kehidupan, kesehatan, kekuatan, dan kenikmatan bagi tubuh jasmani, Firman Allah merupakan sumber kehidupan, kesehatan, kekuatan, dan kenikmatan bagi jiwa manusia. Dan sama seperti orang yang tubuh jasmaninya sedang sakit akan mengatakan bahwa makanan kesukaannya tidak enak, demikian pula orang yang kerohaniannya sakit akan mendapati Firman Allah tidak menyukakan hati.

Oh ya Tuhan, jauhkanlah kami dari hati yang demikian. Biarlah lagu ini mengungkapkan kepada-Mu betapa besar kerinduan hati kami akan Firman-Mu dan juga menyimpulkan pengakuan kami di hadapan-Mu bahwa karena Firman-Mulah kami hidup sebab melalui firman-Mu kami mengenal Engkau dan mengenal Kristus Yesus, Anak-Mu, Tuhan yang telah mati bagi kami dan menjadi Sumber hidup baru yang kekal bagi kami.

Prepare our hearts, O God
Help us to receive
Break the hard and stony ground
Help our unbelief
Plant Your Word down deep in us
Cause it to bear fruit
Open up our ears to hear
Lead us in Your truth

Your Word is living light
Upon our darkened eyes
Guards us through temptations
Makes the simple wise
Your Word is food for famished ones
Freedom for the slave
Riches for the needy soul
Come speak to us today

Chorus:
Show us Christ, show us Christ
O God, reveal Your glory
Through the preaching of Your Word
Until every heart confesses Christ is Lord

Where else can we go, Lord?
Where else can we go?
You have the words of eternal life

Nyatakanlah Kritus melalui firman-Mu, ya Allah, hingga setiap hati mengaku di hadapan-Mu bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat bagi kemuliaan nama-Mu. Dengarlah doa kami, ya Allah, Bapa kami.

macarthur-2

Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna.
Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
(Yohanes 6:63)

Amin

Iman, Firman, dan Sang Firman

Charles Spurgeon

Orang benar tidak hidup karena moralnya, atau perbuatan baiknya, atau ibadah-ibadahnya, atau persembahannya, atau hikmatnya, atau perasaannya, atau berapa banyak orang yang mendoakannya, atau opini pribadinya tentang apa yang benar dan apa yang salah, atau apapun yang dapat ia beri atau lakukan. Manusia adalah makhluk berdosa (Roma 3:23). Dosa adalah identitas manusia. Lebih serius dari itu, dosa tidak hanya melekat sebagai identitas manusia, dosa juga melekat sebagai natur manusia. Dosa menyatu dengan manusia bahkan sejak ia berada di dalam kandungan (Mazmur 51:5, 8). Dan sama seperti badan yang kotor pasti akan mengotori pakaian yang dikenakan atasnya, dosa pasti akan mengotori semua praktek ibadah dan perbuatan baik yang dilakukan manusia untuk menutupi dosa-dosa tersebut. Tidak. Ibadah dan perbuatan atau niat baik manusia tidak dapat menyucikan dosa-dosa mereka. Justru sebaliknya, dosa manusia akan  mencemari ibadah-ibadah yang mereka lakukan sehingga terjadi apa yang bangsa Israel akui di dalam penyesalan mereka:

Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor…
(Yesaya 64:6)

Jika demikian kebenarannya, lalu dengan apakah manusia hidup di hadapan Allah?
Bagaimanakah orang benar itu hidup?

Hanya ada satu jawaban untuk itu dan Tuhan menegaskannya kepada kita melalui firman-Nya yang suci dan tahan uji yang Ia sampaikan melalui hamba-hamba-Nya:

Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17)

Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.” (Galatia 3:11)

Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38)

Ya, orang benar akan hidup bukan karena perbuatan baiknya, melainkan karena iman. Dan sebelum kita salah mengerti, kita perlu menyadari bahwa manusia tidak mampu menciptakan atau menimbulkan iman itu dari dalam hatinya. Iman bukanlah hasil usaha atau inisiatif manusia. Iman tidak berasal dari hati manusia, melainkan dari surga. Sama seperti tanah tidak dapat menciptakan tanaman, melainkan menerima bibit tanaman yang ditanam di dalamnya, demikian pula manusia tidak menimbulkan atau menciptakan iman, melainkan menerimanya sebagai anugerah Allah yang Ia berikan tanpa syarat menurut kasih dan hikmat-Nya sendiri (Efesus 2:8-9, Yehezkiel 36: 25-32, Roma 12:3, 1 Timotius 1:13-14, Kisah Para Rasul 16:14).

Kini pertanyaannya: Seperti apakah iman yang sejati itu sebenarnya?

Mari kita izinkan Puritan Samuel Ward memberi kita jawabannya yang sederhana:

Ward

Ya. Iman yang sejati selalu bergantung pada dua hal, yakni Kitab Suci dan Tuhan Yesus Kristus. Iman yang sejati selalu bergantung pada firman dan Firman Hidup. Manusia membutuhkan keduanya.

Jika kita membaca dan memahami firman dengan benar, firman itu akan berkata kepada kita: “Datang, berseru, dan percayalah kepada Yesus Kristus. Dialah Jalan dan Pintu dan Terang dan Roti dan Keselamatan dan Hidup dan Tuhan. Dialah Sang Firman Allah (Yohanes 1:1, Wahyu 19:13).”

Dan ketika kita sampai kepada Sang Firman Hidup, Ia akan berkata kepada kita:
“Baca, renungkan, percaya, dan taatilah firman-Ku. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32).”

Itulah arti iman yang sejati, yakni iman yang ditabur oleh Kristus, ditumbuhkan dengan tuntunan dan penerangan firman Tuhan, dan akhirnya, disempurnakan oleh Kristus (Ibrani 12:2). Itulah iman yang kita terima, iman yang menjadi channel antara jiwa kita dengan Allah kita di sorga, iman yang tanpanya kita mati.

Terpujilah nama Tuhan.
Amin

Keterikatan dan Kemerdekaan

Luther

Salah satu sifat dari kebenaran adalah kebenaran itu akan selalu memerdekakan. Dan salah satu bukti bahwa seseorang telah menemukan kebenaran adalah ia akan merdeka.

Hidup manusia adalah hal yang sangat kompleks. Ada sangat banyak aspek yang terkait dengan hidup manusia. Di dalam setiap aspek tersebut, manusia hanya memiliki dua kemungkinan: ia tahu atau ia tidak tahu, dengan kata lain, ia benar atau ia salah. Untuk setiap ketidaktahuan atau kebodohan atau kesalahan manusia dalam masing-masing aspek, manusia terbelenggu dan terpenjara di dalamnya. Akan timbul ikatan yang menjeratnya. Namun, ketika manusia menemukan kebenaran, ia akan bebas, ia akan merdeka.

Mari kita menyelidiki hidup kita masing-masing! Apakah saat ini kita sedang berada dalam suatu ikatan atau belenggu? Apakah saat ini kita sedang ketagihan akan suatu hal dan kita tidak mampu melepaskan diri darinya? Apakah itu entertainment yang kita tahu tidak membawa manfaat bagi jiwa dan akal budi tetapi tetap saja kita nikmati dan kita seakan tidak berdaya meninggalkannya? Apakah kita tidak bisa move on dari seseorang? Apakah itu hubungan yang tidak sehat dengan lawan jenis atau sesama jenis? Apakah itu gaya hidup atau pola makan tertentu? Apakah itu karir, uang, atau ambisi? Apakah itu perasaan bersalah akan hal buruk yang terjadi di masa lampau? Apakah itu ketakutan akan sesuatu yang terus menerus menghantau pikiran kita?

Apapun manifestasinya, semua itu merupakan bentuk dari keterikatan dan setiap keterikatan bermula dari ketidaktahuan akan kebenaran. Oleh sebab itu, solusi untuk semua masalah itu bukanlah kepuasan jasmani yang bersifat sementara dan yang justru seringkali semakin menenggelamkan manusia di dalam keterikatan. Solusi utama untuk semua keterikatan adalah kebenaran yang dapat memerdekakan orang itu dari ikatan yang menjeratnya.

Ketidaktahuan akan kebenaran menghasilkan kebodohan. Kebodohan menghasilkan keterikatan. Keterikatan menghasilkan kebingungan, ketakutan, serta penderitaan dan seringkali berujung kepada kebinasaan. Sebaliknya, kebenaran akan memerdekakan kita. Di dalam kemerdekaan itu, kita bisa menemukan sukacita, kepuasan, kepenuhan, rasa syukur, hikmat, iman, pengharapan, damai sejahtera, visi hidup, penguasaan diri, produktivitas, dan efektivitas. Semua itu akan menyertai orang-orang yang telah menemukan kebenaran dan percaya akan kebenaran di dalam perjalanan mereka menuju hidup kekal yang pasti.

Jadi, apakah yang akan kita pilih? Tinggalkanlah permainan dan dongeng yang tidak menambah hikmat. Berlarilah menjauh dari sandiwara yang menarikmu menjauh dari kenyataan dan meracunimu dengan ekspektasi-ekspektasi yang tidak realistis. Pilihlah realita. Pilihlah kebenaran dan dekatkanlah dirimu kepadanya. Semakin banyak waktu yang kita berikan untuk kebenaran, semakin banyak belenggu yang akan terlepas dari diri kita. Semakin banyak rantai yang terlepas dari kita, semakin utuh kemerdekaan kita. Semakin utuh kemerdekaan kita, semakin utuh hidup kita, semakin penuh kebahagiaan kita, dan semakin kita tahu melakukan sesuatu yang benar-benar berarti di dalam hidup kita yang sementara ini.

Lecrae

Kini, pertanyaan yang timbul adalah “Di manakah kebenaran ditemukan?” Dan tentu saja jawaban untuk itu adalah Sang Sumber Kebenaran. Kita akan menemukan kebenaran dari Dia, yang menyebut diri-Nya sebagai Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6). Ya, kita akan menemukan kebenaran di dalam Tuhan Yesus Kristus yang pernah berkata:

Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,
kamu benar-benar adalah murid-Ku
dan kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.
(Yohanes 8:31-32)

Dialah Kebenaran. Dan sebelum akhirnya kita benar-benar dapat bertemu muka dengan muka dengan-Nya, Ia memerintahkan setiap kita untuk memandang wajah-Nya, mendengar suara-Nya, dan menikmati hadirat-Nya di dalam firman-Nya, yang adalah firman kebenaran (Efesus 1:13; Kolose 1:5; Yakobus 1:18), yakni firman yang memerdekakan kita dari ikatan-ikatan jahat di dalam hidup kita, dan firman yang memerdekakan kita dari kematian kekal.

Begg (6)

Amin!
Puji Tuhan!

Obat Bagi Jiwa

Flavel

Ketika gundah gulana hatiku,
ketika kasih seakan meninggalkan hatiku,
ketika semangatku pudar,
ketika aku tertekan,
ketika aku bingung,
ketika aku tidak yakin,
ketika aku kuatir,
ketika aku takut,
ketika aku kalah,
ketika aku berada di titik yang terendah di dalam hariku…

hanyalah firman Allah yang dapat menjadi obat bagi jiwa (Mazmur 107:20)
dan firman-Nya tidak pernah gagal (Yesaya 55:11).

Lihatlah! Ketika hatiku lemah, Ia, Allahku dan Pengharapanku, datang. Oleh Roh-Nya yang kudus, Sang Penolongku (Yohanes 14:16), Ia menghampiriku. Di dalam kelembutan dan kesederhanaan Ia datang tetapi dengan kuasa yang besar Ia bekerja. Ia menerangi hatiku yang gelap. Ia membangkitkan jiwaku yang lemah lesu. Ia meluruskan pikiranku yang berbelat-belit dan membuatku ingat akan dua firman-Nya yang menyembuhkanku:

  • Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Flipi 4:6).
  • Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok… (Matius 6:33-34).

Ia bekerja melalui firman-Nya. Ia ber-“suara” melalui firman-Nya.

Tetapi tidak berhenti sampai di sana. Firman-Nya tidak hanya menghidupkan sukacitaku. Firman-Nya mengarahkan mataku kepada satu tujuan. Firman-Nya menguatkan kakiku yang sempat lumpuh untuk berjalan menuju satu tujuan. Firman-Nya mencondongkan hatiku kepada satu tujuan. Firman-Nya mengingatkan dan menuntunku kembali kepada tujuan hidupku di dunia ini. Firman-Nya menuntunku kepada Sang Firman, yaitu Yesus Kristus (Yohanes 1:1, Wahyu 19:13). Dialah Gembala dan Pemelihara jiwaku (1 Petrus 2:25) dan akulah domba-Nya. Dialah alasan sekaligus tujuanku. Dialah Hidupku. Aku dibangkitkan supaya aku dapat mengikuti-Nya dan bekerja bagi-Nya.

Ayat - Yohanes 10 27

Even the smallest word uttered by Jesus,
is more precious than all the diamonds in the world.
(Charles Spurgeon)

Ya, tak kuragu sedikitpun akan hal itu.

Terpujilah nama-Nya.
Amin

Bagian yang Terbaik

Saudara-saudariku yang terkasih

Bagimu, yang letih lesu, tetapi tidak berbahagia dalam pelayanan yang dilakukannya

Renungkanlah, Tuhan Yesus suatu kali pernah berkata:

“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,

tetapi hanya satu saja yang perlu:

Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Ada kalanya yang Tuhan inginkan adalah melayanimu dan bukan dilayani olehmu. Dan kita akan mengizinkan Dia untuk melayani kita ketika kita “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”. Itulah hal yang menyenangkan hati-Nya dan seperti kata-Nya, adalah bagian yang terbaik untuk kita.

Apa yang menjadi motivasi kita untuk melayani?

Apakah karena kita menguatirkan sesuatu, seperti Marta?

Apakah karena kita (Marta) kuatir akan kalah pamor dari Maria di hadapan Yesus?

Apakah karena kita kuatir Yesus tidak lagi punya perhatian terhadap kita?

Apakah karena kita kuatir dengan keberdosaan kita yang terlalu menumpuk?

Ataukah semua ini, hanya untuk membuat kita merasa diri kita lebih baik?

Dan mari kita selidiki hari-hari kita, apakah kita sedang menyusahkan diri dengan banyak perkara?

Apakah kita tak henti-hentinya melayani Dia dan malah menolak Dia yang ingin melayani kita?

Mari kita renungkan bersama

Tuhan Yesus memberkati