Belajarlah Pada-Ku!

Lalu kata-Nya kepada mereka:

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.
Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya,
lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku;
tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. (Matius 26:38, Lukas 26:38)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebesar-besarnya pergumulan yang kuhadapi saat ini, Tuhan Yesus pernah jauh lebih bergumul daripada aku. Sedalam-dalamnya kesedihan yang kurasakan, Tuhan Yesus pernah jauh lebih bersedih daripada aku. Segentar-gentarnya hatiku, Tuhan Yesus pernah jauh lebih ketakutan daripada aku. Sebesar-besarnya aku membutuhkan kekuatan dan pertolongan saat ini, Ia pernah jauh lebih membutuhkan kekuatan dan pertolongan daripada aku.

Namun, di saat-saat terberat di dalam hidup-Nya itu, Ia tetap percaya dan taat akan Bapa yang sanggup menyelamatkan-Nya (Ibrani 5:7).

Oh, biarlah hatiku selalu mengenang akan Dia yang begitu lemah dan bergumul di Getsemani setiap kali aku bergumul, ketakutan, dan berduka di dalam hari-hariku. Betapa damainya hatiku setiap kali aku mengingat Dia. Betapa kagum jiwaku untuk meneladani-Nya. Dan betapa manisnya ketika di telingaku terdengar Ia berkata: “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29)

Segala kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus, Tuhan kita. Amin.

Komitmen Iblis vs Komitmen Allah

Di seluruh bagian Alkitab, firman Tuhan tidak henti-hentinya memperingatkan setiap umat Tuhan untuk berjaga-jaga terhadap Iblis sebab ia tidak pernah lelah dan tidak pernah berhenti berusaha untuk menghancurkan iman mereka. Rasul Petrus menegaskan hal ini dengan berkata:

Sadarlah dan berjaga-jagalah!
Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum
dan mencari orang yang dapat ditelannya.
(1 Petrus 5:8)

Iblis sangat berkomitmen untuk menghancurkan hidup anak-anak Tuhan. Tidak hanya itu, ia berkomitmen untuk menghancurkan hidup seluruh umat manusia. Ia berusaha tiada henti menghasilkan berbagai ajaran sesat, memproduksi berbagai macam obat terlarang, merusak banyak rumah tangga melalui perselingkuhan, menghasut banyak orang untuk menjadi homoseksual, menggoda jutaan anak muda untuk mengkonsumsi pornografi, menimbun kebencian di dalam hati para teroris dan merampas belas kasihan dari hati mereka, mengeraskan hati dan membutakan mata para penguasa sehingga mereka bertindak sewenang-wenang dalam kekuasaannya, dan lain sebagainya. Daftar itu akan terus berlanjut dan kita tidak tahu kapan selesainya. Ia tidak pernah berhenti. Ia tidak pernah lelah. Oh, apalah arti kuasa dan hikmat kita jika dibandingkan dengannya?

Ini merupakan realita yang seharusnya membuat kita berjaga-jaga dengan selalu mengenakan perlengkapan senjata Allah supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihatnya yang setiap waktu ditargetkan untuk melumpuhkan kita (Efesus 6:13-18). Namun, kita tidak perlu takut sebab Iblis bukanlah pemeran utama, baik di Alkitab maupun di bawah kolong langit ini. Iblis memang memiliki komitmen yang teramat sangat tinggi, dan firman Tuhan bahkan mencatat bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasanya (1 Yohanes 5:18), tetapi ada Pribadi yang komitmen dan kuasa-Nya bahkan jauh melampaui Iblis. Pribadi itu adalah Allah kita dan Ia berkomitmen serta berkuasa untuk memberkati kita. Seluruh bagian Alkitab bersaksi tentang kuasa dan kesetiaan-Nya untuk mewujudkan komitmen-Nya itu menjadi nyata di dalam hidup setiap anak-Nya. Rasul Paulus berkata:

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

(Roma 8:28-29)

Iblis sangat berkomitmen untuk mendatangkan kehancuran di dalam hidupku dan hidupmu. Kita sama sekali tidak boleh menyepeleken fakta tersebut. Namun, kita juga tidak perlu kuatir, sebab setinggi-tingginya komitmen iblis untuk menghancurkan kita, lebih tinggi komitmen Allah untuk menyelamatkan dan membangun kita, sepanjang-panjangnya kesabaran iblis untuk melumpuhkan kita, lebih panjang sabarnya Tuhan untuk menopang kita dan berjalan bersama kita, dan sebesar-besarnya kuasa iblis, sungguhlah jelas bahwa lebih besar kuasa Allah kita.

Tuhan Yesus berjanji  kepada setiap kita, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” (Yohanes 10:27-29). Biarlah janji Tuhan ini meneguhkan iman kita senantiasa selagi kita hidup dan berjalan di dalam dunia ini.

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah kita. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tulisan ini terinspirasi dari kalimat Jasmine Holmes dalam artikelnya yang berjudul, “I Wasn’t Ready for Marriage” di situs DesiringGod.org. Ia menulis:

“Walaupun kuasa yang sangat dahsyat ditargetkan untuk menghancurkan pernikahan, Allah adalah Sang Pencipta pernikahan, dan Ia jauh lebih berkomitmen untuk menumbuhkan dibandingkan Iblis untuk menghancurkannya.”

Sumber: http://www.desiringgod.org/articles/i-wasn-t-ready-for-marriage

Iman Bertumbuh oleh Firman

Aku berdoa memohon iman, dan mengira bahwa suatu hari iman akan turun dan menyambarku seperti petir.  Namun, nampaknya iman tidak kunjung datang.

Suatu hari, aku membaca pasar ke-sepuluh dari Surat Roma:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran,
dan pendengaran oleh firman Kristus.”
(Roma 10:17)

Aku menutup Alkitabku dan berdoa memohon iman. Kini, aku membuka Alkitabku, dan mulai untuk belajar, dan iman pun bertumbuh sejak saat itu.

~ Dwight L. Moody ~

Hati yang Rendah Hati adalah Istananya Allah

Kemegahanmu tidaklah baik.
(1 Korintus 5:6)

Banyak orang menjadi sombong akan kecantikan mereka. Tubuh hanyalah debu dan darah yang digabung menjadi satu. Salomo berkata, “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia.” Amsal 31:30. Namun, beberapa orang sangatlah sombong akan kesia-siaan! Patutkah debu membanggakan dirinya sendiri?

Banyak orang menjadi sombong karena karunia dan kemampuan yang mereka miliki. Dandanan dan perhiasan itu tidak membuat mereka berkenan di mata Allah. Seorang malaikat adalah makhluk yang memiliki kemampuan yang luar biasa; namun ambillah kerendahan hati dari seorang malaikat – dan ia akan menjadi seorang iblis. Allah mengasihi orang yang rendah hati. Bukanlah kelahiran agung kita, melainkan kerendahan hati kita, yang kepadanya Allah berkenan.

Oh, marilah kita menyelidiki adakah ragi kesombongan di dalam kita. Manusia secara kodratnya adalah seonggok daging yang sombong. Dosa kesombongan ini mengalir di dalam darah. Benih dosa kesombongan ini terdapat juga di dalam orang-orang Kristen yang paling tekun – namun orang yang saleh tidak akan membiarkan diri mereka berada di dalam dosa ini. Mereka berjuang untuk membunuh rumput liar ini dengan mematikannya.

Semakin tinggi nilai seseorang, semakin rendah hati dia. Bulu-bulu itu tidak bernilai dan mereka beterbangan di atas, sementara emas yang berharga tempatnya ada di bawah, yakni di dalam tanah. Sama dengan itu, orang kudus tidak mengejar tempat yang tinggi di atas, melainkan di bawah. Pandanglah Sang Juruselamat yang rendah hati – dan biarkanlah bulu-bulu kesombongan itu berlepasan.

Hati yang rendah hati adalah istananya Allah. “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya:

Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus
tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati
,
untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati
dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”
(Yesaya 57:15).

Hati yang rendah hati bermegah di dalam ini – yakni bahwa hati yang demikian adalah ruang di mana Allah yang agung dan mulia berada!

~~~~~~

Apa itu Kerajaan Allah?

Pertanyaan:
Apa itu Kerajaan Allah?

Jawaban:

Kerajaan Allah merupakan tema yang sangat penting di dalam Alkitab. Tidak hanya itu, Kerajaan Allah merupakan tema yang paling sering diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus ketika Ia melayani selama sekitar tiga setengah tahun di dunia ini (misalnya  Markus 1:1510:1515:43Lukas 17:20).

Kerajaan Allah tidak dapat dipahami dengan semata-mata membatasinya pada suatu periode waktu tertentu ataupun suatu wilayah geografis tertentu, melainkan lebih kepada suatu lingkungan di mana Allah memegang kekuasaan penuh. Alistair Begg mendefinisikan Kerajaan Allah sebagai “umat kepunyaan Allah, di wilayah kekuasaan Allah, di bawah pemerintahan Allah, yang menikmati berkat-berkat dari Allah”.

Untuk referensi lain:
https://www.gotquestions.org/kingdom-of-God.html

Ketika Allah Bekerja, Kita Bekerja

Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN;
kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri
, demikianlah firman TUHAN;

bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!
(Hagai 2: 5-6)

~~~

TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda,
dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar,
dan semangat selebihnya dari bangsa itu
,

maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.
(Hagai 1:14)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dua firman di atas nampaknya menunjukkan suatu kontradiksi. Di satu bagian dikatakan bahwa TUHAN memerintahkan Zerubabel dan rekan-rekannya untuk menguatkan hati mereka (Hagai 2: 5-6). Namun, di bagian lain, dikatakan bahwa TUHAN-lah yang menguatkan hati Zerubabel dan rekan-rekannya (Hagai 1:14). Jadi, bagian manakah yang benar? Apakah mereka yang menguatkan hati mereka ataukah TUHAN yang menguatkan hati mereka? Bukankah kedua hal ini menunjukkan kontradiksi di dalam Alkitab? Tidak, kita percaya bahwa firman Allah itu sempurna (Mazmur 19:8, Yakobus 1:25) dan di dalamnya tidak terdapat kontradiksi. Justru sebaliknya, kedua firman ini menunjukkan kepada kita realita pekerjaan Allah di dalam hidup umat-Nya.

Ketika Allah menciptakan alam semesta ini, menebus dosa manusia dan menganugerahkan kelahiran baru, serta menciptakan dunia yang baru kelak, Ia bekerja seorang diri, tidak seorangpun menjadi asisten-Nya dalam karya-karya tersebut. Namun, hampir di seluruh karya-Nya yang lain, Ia selalu bekerja bersama-sama dengan umat-Nya. Hal ini tidak berarti bahwa Allah bergantung kepada manusia, melainkan bahwa Ia begitu mengasihi umat-Nya dan Ia ingin mendatangkan kebaikan bagi mereka melalui partisipasi aktif mereka di dalam karya-karya yang Ia kerjakan di dunia ini (Roma 8:28).

Hal itulah yang ditunjukkan di dalam kedua firman yang sekilas nampak bertentangan ini. Memang benar bahwa Zerubabel dan teman-temannya menguatkan hati mereka. Namun, sama benarnya dengan itu, TUHAN-lah yang menguatkan hati mereka dan menggerakkan mereka. Inilah keindahan karya Allah; Ia tidak bekerja seorang diri dan membiarkan umat-Nya berpangku tangan, namun Ia juga tidak duduk diam saja di sorga dan membiarkan umat-Nya melakukan seluruhnya dengan hikmat dan kekuatan mereka sendiri. Ketika Allah bekerja, Ia menggerakkan umat-Nya untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, ketika Allah bekerja, umat-Nya pun bekerja bersama-Nya, itulah cara Allah bekerja.

Itulah juga yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam ayat yang cukup terkenal, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar sebab Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12-13)”. Inipun merupakan perintah yang aneh sebab Paulus mendorong kita untuk mengerjakan keselamatan kita namun di kalimat yang sama ia menegaskan bahwa sebenarnya Allahlah yang mengerjakan semua itu di dalam diri kita. Jadi, siapakah yang bekerja, kita atau Allah? Kini kita tahu jawabannya, Allah bekerja dengan menumbuhkan kemauan dan kemampuan di dalam kita sehingga kita pun terdorong untuk bekerja seturut dengan kehendak-Nya. Kita bekerja karena Ia terlebih dahulu bekerja di dalam kita.

Bagaimanakah kita mengetahui bahwa Allah sedang bekerja di dalam dan melalui hidup kita? Kita dapat mengetahuinya melalui pekerjaan yang kita lakukan. Jika Allah bekerja, maka itu akan terbukti dengan kita turut bekerja. Jika kita tidak bekerja, maka itu membuktikan bahwa Allah tidak sedang bekerja di dalam atau melalui hidup kita.

Oleh sebab itu, sebagai umat Allah, kita tidak memiliki alasan untuk bermalas-malasan, tidak bekerja, tidak berdoa, tidak belajar, tidak berbuah, tidak melayani, putus asa, atau berlari dari masalah. Semua tindakan itu merupakan zona di mana Allah enggan untuk bekerja di dalam atau melalui hidup seseorang. Jika kita memilih untuk bermalas-malasan dan mengabaikan Allah, itu sama saja dengan kita secara sadar menjauhkan diri dari pertolongan dan karya-Nya di dalam hidup kita. Kita juga tidak dapat berpangku tangan di dalam hidup ini kemudian menganggap bahwa kita sedang menanti-nantikan pertolongan Tuhan. Tidak, penantian yang sejati akan Tuhan, sebagaimana kata Nabi Yesaya, tidak akan membuat kita pasif, melainkan akan memberi kita kekuatan baru dan membuat kita aktif (Yesaya 40:31).

Jadi bagaimana, apakah kita akan memilih zona nyaman dan zona aman kita yang pasif dan mengabaikan perintah Tuhan? Atau sebaliknya, kita akan datang kepada Zona Nyaman dan Zona Aman yang sejati, yaitu Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Matius 11:28, Yohanes 10:28-29). Di dalam Dia, tidak ada penantian yang pasif sebab Ia memanggil kita untuk mencari secara aktif Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6:33). Di dalam Dia, tidak ada pula kemalasan sebab Ia memanggil kita untuk bekerja dan menghasilkan buah bagi-Nya (Yohanes 15:16, Filipi 1:22).

Ibarat seorang pribadi memiliki roh dan tubuh, Allah kita adalah Roh dan kita semua adalah badan-Nya di dunia ini. Ibarat tubuh terdiri dari kepala dan anggota-anggota tubuh, Tuhan adalah Kepala (Kolose 1:18) dan kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya di bumi ini (1 Korintus 12:27, Efesus 4:16). Ia adalah Sang Kepala yang di dalam segala sesuatu bekerja dengan rancangan dan kehendak-Nya (Efesus 1:11) sementara kita adalah tubuh yang bekerja dengan taat dan bergerak sesuai perintah-Nya. Bukti bahwa tubuh menyatu dan terkoneksi langsung dengan kepala adalah jika tubuh itu bergerak sesuai dengan komando si kepala. Sama halnya dengan itu, bukti bahwa kita ada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita adalah jika kita bekerja seturut dengan kehendak-Nya yang bekerja di dalam kita.

Di dalam hidup-Nya di dunia ini, Tuhan Yesus Kristus memiliki satu moto hidup, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga (Yohanes 5:17).” Panggilan hidup kita adalah agar kita menjadi serupa dengan Dia (Roma 8:29). Oleh sebab itu, hendaklah moto hidup Tuhan Yesus ini menjadi moto hidup kita juga: Allahku bekerja sampai sekarang, maka akupun bekerja juga.

Lakukanlah sesuatu bagi kemuliaan nama Allah! Segala kemuliaan hanyalah bagi Dia. Amin.