Iblis, Sang Pemakan Iman

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Lawanlah dia dengan iman yang teguh,…

Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.
(1 Petrus 5:8-10)

Jadi, apa yang “singa” itu makan? Apa yang dimaksud dengan “ditelannya”?

Itu kemungkinan tidak berarti ototmu, dagingmu, atau tulangmu. Itu adalah imanmu, menurutku.

Iblis saat ini berada di ruangan ini. Ia benci dengan apa yang sedang terjadi saat ini di sini. Dan ia ingin memakan imanmu. Dan ia memiliki berbagai macam cara untuk menabur pikiran-pikiran tertentu di dalam benakmu yang akan membuat apapun yang saya katakan mengenai pembangunan iman sebagai sesuatu yang konyol. Ia ingin memakan imanmu. Dan jika ia dapat memakan imanmu, mengonsumsinya, dan menghancurkannya, ia tidak peduli dengan apapun yang akan kau lakukan.

-John Piper-

Link potongan khotbah dari John Piper, “Satan Eats Faith for Breakfast”:

Hanya oleh Roh Kudus

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria,
melonjaklah anak yang di dalam rahimnya
dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus.
(Lukas 1:41)

Di dalam hidupku, aku sudah beberapa kali membaca ayat Lukas 1:41. Namun, ketika aku membaca petikan ucapan Dr. Brown ini aku menjadi benar-benar takjub dengan kebenaran Allah. Aku tidak pernah menyadarinya sebagaimana aku menyadarinya saat ini. Benar juga, orang pertama yang mengenal Yesus secara rohani adalah seorang anak yang bahkan belum lahir, yaitu Yohanes Pembaptis yang masih berada di dalam kandungan. Pernyataan itu seakan-akan menyihirku. Ada luapan perasaan unik yang timbul di hatiku. Aku merasa terharu, sedih, sukacita, bersemangat, terpukau, dan rendah di saat yang sama.

“Apa yang hendak Allah ajarkan kepada kita melalui kebenaran ini?”
Ahaaa…,” kata hatiku. “Allah pasti ingin mengajarkan di sini sesuatu mengenai kerendahan hati. Salah satu topik yang datang lagi dan lagi di dalam Alkitab adalah kerendahan hati dan pasti bagian ini merupakan salah satunya.”

Ya, satu perikop ini pasti mengandung kebenaran yang luas, namun hal pertama yang langsung tertangkap olehku ketika membaca bagian ini adalah tentang kerendahan hati karena memang kerendahan hati merupakan atmosfer yang melingkupi seluruh kisah Natal. Kristus dengan rendah hati datang ke dunia, terlahir di kandang domba, oleh seorang anak dara, yang bukanlah seorang yang berada. Kabar sukacita ini diberitakan pertama-tama bukan kepada para raja, melainkan kepada kaum yang tidak diduga-duga, yaitu para gembala. Tema kerendahan hati menyelimuti sepanjang peristiwa Natal dan di bagian inipun tema kerendahan hati sekali lagi dikumandangkan dengan nyaring, setidaknya di telingaku.

Mengapa Allah ingin memperlihatkan bahwa, seperti kata Dr. Brown, pribadi pertama yang me-recognize Yesus sebagai Anak Allah dan yang bukan saja me-recognize-Nya tetapi juga yang melonjak kegirangan (Lukas 1:44) ketika berada di dekat-Nya, merupakan seorang anak yang bahkan belum lahir? Apa maksud Allah di balik ini? Kita mungkin rajin datang ke gereja setiap Minggu atau aktif melayani di persekutuan, tetapi apakah kita benar-benar telah mengenal dan mengakui-Nya sebagai Anak Allah sebagaimana bayi Yohanes mengenal-Nya? Kita mungkin suka mempelajari doktrin-doktrin Kekristenan, rajin membaca buku-buku rohani, dan sebagian dari kita mungkin bahkan menjalani studi dalam bidang teologi, tetapi apakah kita melonjak kegirangan karena Kristus sebagaimana Yohanes, yang bahkan belum pernah lahir itu?

Menurutku, ini merupakan pertanyaan yang perlu kita pikirkan lagi dan lagi di dalam hidup kita. Apakah kita benar-benar telah mengenal Kristus sebagaimana Ia seharusnya dikenal? Apakah kita benar-benar berbahagia berada di dekat-Nya? Kita mungkin telah mengenal-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebagaimana yang selalu kita dengar di gereja dan di persekutuan, tetapi sudahkah kita mengenal Dia sebagai Roti Hidup kita (Yohanes 6:35, 48, 51) yang tanpa-Nya jiwa dan intelektual kita akan terus kelaparan? Sudahkah kita mengenal-Nya sebagai Pokok Anggur kita (Yohanes 15:1) yang ketika jauh dari-Nya kita merasa lemah dan tidak mampu berbuah dalam hidup? Sudahkah kita mengenal-Nya sebagai Hidup kita (Yohanes 14:6) yang membuat kita bergairah untuk memusatkan seluruh detail dari hidup kita kepada Dia? Kita mungkin merasakan sukacita ketika kita bersama dengan kawan-kawan seiman, yang selalu kita temui di gereja dan di persekutuan, tetapi sudahkah kita bergirang dan bergembira hanya karena Kristus?

Datang ke gereja setiap Minggu, ikut serta di dalam pelayanan, mempelajari doktrin-doktrin, membaca buku-buku rohani, menempuh studi di bidang teologi, dan lain sebagainya memang dapat memberi kita pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus tetapi ketika semua itu berdiri pada dirinya sendiri maka pengenalan yang akan dihantarkannya kepada kita hanyalah pengenalan yang sifatnya kognitif. Pengenalan akan Kristus yang bersifat kognitif semata tidaklah cukup untuk membuat kita benar-benar mengenal-Nya secara pribadi dan spiritual. Pengenalan yang demikian bukanlah pengenalan yang menuntun kepada keselamatan sebagaimana yang Tuhan katakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3).”

Kita butuh pengenalan yang berbeda, suatu pengenalan akan Kristus yang juga dimiliki oleh bayi Yohanes, yakni yang membuatnya menyadari hadirat Yesus dan mendorongnya untuk bersukacita. Pengenalan macam apakah itu? Firman Tuhan berkata mengenai Yohanes: “Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya (Lukas 1:15).” Ya, Yohanes menyadari Yesus dan melonjak gembira kerena-Nya sebab sejak di dalam rahim Elisabet, ia sudah penuh dengan Roh Kudus. Hal yang sama pasti juga akan terjadi dalam hidup kita ketika kita dipenuhi oleh Allah Roh Kudus.

Ada banyak perbuatan besar yang dikerjakan oleh Roh sejak dari penciptaan dunia ini namun semenjak pembukaan era Perjanjian Baru, yang masih terus berlanjut sampai saat ini dan baru akan berakhir di akhir zaman, karya utama-Nya adalah untuk bersaksi di dalam hati orang-orang tentang siapa Yesus Kristus, mengerjakan di dalam hati mereka iman kepada Kristus, dan terus menerus bekerja di dalam hati mereka hingga mereka mengenal, mengasihi, dan memuliakan nama-Nya. Kita tidak mungkin dapat memandang Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita tanpa kuasa Roh Kudus (1 Korintus 12:3) dan kita juga tidak akan dapat sepenuhnya bersukacita akan Kristus jika Roh Kudus tidak ada di dalam kita untuk menghasilkan buah sukacita yang sejati itu (Galatia 5:22-23). Ya, pengenalan dan sukacita akan Kristus merupakan buah karya Roh Kudus di dalam hati setiap orang yang percaya. Aku pribadi sangat suka dengan penuturan Robert Godfrey berikut ini tentang pekerjaan Roh Kudus:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jadi, setelah menyadari semua ini apakah yang perlu kita lakukan? Setidaknya ada dua pelajaran yang dapat kita ambil, yaitu jadilah rendah hati dan penuhlah dengan Roh Kudus.

Firman ini merupakan panggilan Allah kepada setiap kita untuk menjadi rendah hati. Sadar atau tidak sadar, kita kerap jatuh ke dalam dosa kesombongan dalam perjalanan kerohanian kita. Kita seringkali berpikir bahwa kita dapat mengenal Allah dan Kristus dengan cara-cara dan kekuatan kita sendiri. Kiranya firman ini membuat kita rendah hati dan menyadari bahwa kita semua, baik yang rajin ke gereja maupun yang tidak, baik yang aktif melayani maupun yang tidak berbagian dalam pelayanan, baik yang memiliki pengetahuan doktrin dan teologi yang tinggi maupun yang awam, sama-sama mutlak membutuhkan Roh Kudus untuk mengenal Kristus dengan baik dan benar. Paulus menegaskan bahwa manusia tidak dapat mengenal Allah melalui hikmat dan kepandaiannya (1 Korintus 1:21) dan Tuhan Yesus mengajarkan bahwa manusia membutuhkan Roh Kudus untuk mengajarnya mengenai Kristus (Yohanes 15:26). Tidak hanya itu, Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa jika manusia hendak menyembah Allah, yang di dalamnya juga terdapat unsur pengenalan akan Kristus, maka ia harus menyembah-Nya di dalam roh dan kebenaran yang berarti bahwa orang itu harus berada di bawah kuasa dan pengaruh dari Roh Allah sendiri (Yohanes 4:23-24).

Oh, betapa kita membutuhkan Roh Kudus untuk mengenal Kristus dan bergirang-girang di dalam Dia. Oleh Roh Kudus, bahkan bayi yang belum lahirpun dapat me-recognize hadirat Tuhan Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus, jika Ia menghendakinya, bahkan batupun dapat berteriak-teriak memuliakan nama-Nya (Lukas 19:40). Demikianlah hikmat Allah yang bekerja di luar cara berpikir kita. Allah berkenan agar di dalam segala sesuatu, termasuk di dalam cara kita mengenal dan melayani-Nya, kita membutuhkan-Nya dan mengakui bahwa kita membutuhkan-Nya dan bukan Dia yang membutuhkan kita. Inilah kebijaksanaan Allah kita yang menentang orang yang congkak tetapi memberi anugerah kepada mereka yang rendah hati (Yakobus 4:6). Marilah kita menyadari kebutuhan kita akan Roh Kudus dan ketika kita sadar akan kebutuhan kita ini, maka kita akan sadar bahwa kita masih berkekurangan. Dan ketika kita sadar akan kekurangan kita, maka tidak akan ada tempat untuk hati yang angkuh, yang ada hanyalah kerendahan hati dan tangan yang kosong yang senantiasa terbuka untuk memohon belas kasih Tuhan.

Pelajaran yang kedua adalah ini: hendaklah kita senantiasa penuh oleh Roh Kudus (Efesus 5:8). Roh Kudus adalah Roh kerendahan hati yang dilambangkan dengan burung merpati. Tetapi jangan salah, memang Ia adalah Roh yang low-profile dan nampaknya cukup puas dengan berada hanya di balik layar, namun Ia adalah Roh yang lebih besar dari semua roh yang ada di dunia ini (1 Yohanes 4:4). Roh Kudus juga adalah Roh pengenalan akan Kristus. Bagaimana cara agar kita dipenuhi oleh-Nya? Tuhan Yesus memberi kita dua janji. Janji yang pertama adalah Allah akan memberi kita Roh-Nya ketika kita dengan rendah hati meminta kepada-Nya. Tuhan Yesus berkata:

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
(Lukas 11:13)

Ini merupakan janji yang luar biasa. Tidak ada satupun di dunia ini yang lebih berharga dari Roh Kudus tetapi Allah mau menganugerahkan Roh-Nya dengan begitu murah hati kepada setiap tangan yang meminta. Kiranya ini memotivasi kita untuk terus meminta kepada-Nya. Tetapi janji Kristus belum selesai sampai di situ. Tuhan Yesus juga berjanji bahwa Roh Kudus akan diberikan kepada kita ketika kita datang kepada-Nya. Dengarlah janji Tuhan kita:

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru:

“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya.
(Yohanes 7:37-39)

Demikianlah janji Tuhan kita. Oh, alangkah indahnya hubungan dan harmoni antara Tuhan Yesus Kristus dengan Roh Kudus yang juga dikenal sebagai Roh Kristus (Roma 8:9 dan 1 Petrus 1:11). Di satu sisi, Roh Kudus bersaksi dan memuliakan Kristus serta memberi spotlight kepada-Nya di hati setiap orang yang percaya. Di sisi lain, Tuhan Yesus bekerja di dalam hati setiap anak-Nya sebagai Tukang Ledeng yang ahli yang membuat sebuah sumur yang dari dalamnya akan terus menerus tercurah aliran Air Hidup yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Roh Kudus itu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin mengenal Kristus dengan pengenalan yang sejati serta bergirang karena-Nya sebagaimana Yohanes Pembaptis yang belum lahir itu? maka hendaklah kita dipenuhi oleh Roh Kudus. Apakah kita ingin dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus? maka hendaklah kita yang haus datang kepada Tuhan Yesus Kristus dan meminta kepada-Nya. Dan ketahuilah, semua ini hanya diberikan kepada orang-orang yang rendah hati.

Amin

Berbahan Bakar dari Sukacita di dalam Kristus

Paul exhorts believers towards a life of godliness,
fueled by joy in Christ and concern for others,
not personal gain and gratification.
~Jonathan C. Edwards~

Saya sangat menyukai frase yang dipakai oleh penulis, fueled by joy in Christ, yang mengibaratkan sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar yang olehnya kita dapat mengasihi orang lain dan bergerak untuk menyatakan kasih itu dalam bentuk tindakan. Benar sekali, sukacita di dalam Tuhan adalah bahan bakar yang memasok energi ke dalam hati kita yang terkadang beku, lemah, dan malas ini. John Piper menggunakan perumpamaan yang lain. Ia mengibaratkan sukacita di dalam Tuhan sebagai air yang terus menerus tercurah ke dalam suatu wadah. Lama kelamaan, wadah itu akan terisi penuh oleh air tersebut sehingga tidak dapat tertampung lagi dan airpun mulai bertumpahan keluar dan menjadi overflow yang mengairi daerah sekelilingnya. Demikianlah sukacita di dalam Tuhan, ketika sukacita Tuhan itu berlimpah-limpah di dalam hati kita, maka sukacita itu akan menjadi overflow yang tercurah kepada orang lain.

Hal yang mirip terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Pada saat itu, saya sedang bergumul akan satu dan lain hal. Kemudian, saya membaca firman dari Lukas 1:46-56 tentang Magnificat yang dinyanyikan Maria, ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Saya terpana khususnya pada bagian awal:

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.” (Lukas 1:46-48)

Pada saat membaca firman tersebut, ada sesuatu yang aneh di dalam hati saya. Pertama-tama, saya merasa bingung dengan Maria. Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia merasa begitu bersukacita sementara ia mengandung benih yang tidak berasal dari suatu hubungan pernikahan yang sah. Tidakkah seharusnya ia juga merasa takut, bimbang, atau lainnya? Tidakkah ia gusar kalau-kalau orang-orang akan menuduhnya telah melalukan tindakan yang berdosa dan yang mungkin dapat menyeretnya dalam hukuman rajam? Tidakkah ia cemas orang-orang akan mempertanyakan perutnya yang kian membesar dan kemudian merendahkannya? Tidakkah ia …?

Tetapi Maria merasa bersukacita. Dari Magnificat-nya, tampak bahwa sukacita ilahi melimpah-limpah di dalam hatinya. Sukacita Maria itu kemudian menjadi overflow yang mengalir, yang melampaui rentang waktu dua ribu tahun dan yang akhirnya sampai dan tinggal di hati saya. Sayapun berlimpah-limpah dengan sukacita yang berasal daripada Tuhan yang terlebih dahulu mengisi dan melintasi hati Maria ini.

Dan apakah yang muncul dalam benak saya ketika saya merasa begitu bersukacita? Ya, sukacita itu berubah menjadi kasih dan menjadi bahan bakar yang menggerakkan saya untuk mengasihi dan menyatakan kasih itu di dalam sebuah tindakan.

Itulah yang saya mengerti mengenai sukacita di dalam Kristus sebagai bahan bakar. Tentu saja kita tidak boleh puas jika sukacita atau kasih yang ada di dalam hati kita itu hanyalah sebatas feeling atau chemistry atau apapun yang memang terasa nikmat di hati namun tidak berkuasa menggerakkan tubuh kita untuk bertindak. Kita adalah orang Kristen. Kita hidup bukan oleh feeling atau chemistry atau circumstances atau yang lainnya. Kita hidup oleh iman dan kita tahu bahwa iman yang sejati itu adalah iman yang bertindak (Yakobus 2:17) dan yang bekerja di dalam kasih (Galatia 5:6) dan Allah telah menetapkan bahwa bahan bakar dari tindakan kasih itu adalah sukacita di dalam Kristus.

Amin

Pernikahan yang Kudus

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,
maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

(Matius 6:33)

“Hidup yang “kecil” tidak mampu menopang pernikahan yang besar.
Hidup yang “kecil” tidak mampu menopang pernikahan yang besar.

Jika engkau menikah karena alasan yang egois, yakni untuk memiliki hidup yang “kecil”, saya tidak peduli seberapa cantik, terkenal, dan kaya mereka, semua itu tidak akan bertahan lama. Namun, jika engkau menikah dengan seseorang yang bersama dengannya kau bisa mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka apa yang kau cintai dari orang itu akan menjadi semakin dalam, tiga-empat dekade ke depan di dalam pernikahan. Itu tidak akan luntur sekalipun secara fisik keberahian menurun seiring berjalannya waktu.”

-Gary Thomas-

Link khotbah Gary Thomas, “Sacred Marriage”

Dunia di Mata Kita

 

Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (Galatia 4:9)

Orang-orang Kristen memiliki mata rohani yang berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya. Di mata mereka yang tidak percaya, dunia ini, melalui berbagai cara, mampu menghadirkan kenikmatan, kenikmatan, dan arti hidup bagi mereka.

Tetapi tidak demikian di mata setiap orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Di mata mereka, sebagaimana kata Rasul Paulus, roh-roh dunia adalah roh yang lemah dan miskin dan dengan demikian tidak akan menjadi sumber sukacita dan kepuasan bagi hati mereka atau menjadi tujuan hidup mereka. Sebaliknya, inilah yang indah dan berharga di dalam hidup mereka:

  • Pribadi TUHAN Allah (Ratapan 3:24) dan pribadi Tuhan Yesus Kristus (1 Petrus 2:7)
  • Firman Allah (Mazmur 119, Matius 4:4)
  • Kasih setia Allah (Mazmur 63:4)
  • Pelayanan kepada Allah (Yohanes 4:34, Roma 10:15)
  • Ibadah dan kebersamaan dengan umat Allah (Mazmur 133, Mazmur 16:3)

Bagaimanakah dengan kita? Apakah semangat dunia ini tampak menjanjikan dan indah di mata kita? Ataukah semua itu menjadi lemah dan miskin dan sedemikian tidak berarti bagi kita karena kita telah memiliki harta tak ternilai yang dianugerahkan Allah kepada kita? Biarlah kerinduan hati Paulus ini digenapkan di dalam hidup kita:

Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.

Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus… (Efesus 1:17-21)

Amin

Kristus, Gereja, dan Kita

Saya percaya Tuhan layak menerima kasih yang Ia kehendaki untuk-Nya
dan saya yakin Ia layak menerima kasih yang Ia kehendaki untuk gereja-Nya.

Dan dengan segala kejujuran, saya sangat terganggu dengan ide populer yang mengatakan bahwa engkau dapat memiliki hubungan pribadi dengan Kristus namun terpisah dari gereja-Nya. Itu merupakan diskoneksi yang sangat aneh dan tidak dapat diterima, yang sama saja seperti mengatakan, “Saya terhubung dengan Sang Kepala namun tidak terhubung dengan si tubuh.” Tidak masuk akal.

-John MacArthur-

Link khotbah John MacArthur, “Your Responsibility to the Church, Part 1”

https://www.youtube.com/watch?v=aTreWU-xXrU&t=6s

Penderitaan Menancapkan Kita pada Kristus

spurgeon3

Paku yang dihantam oleh seorang tukang kayu yang handal tidak akan bengkok, patah, atau hancur tetapi akan tertancap dalam dan kuat pada dinding. Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang percaya. Setiap ujian, tantangan, kesukaran, hantaman, kekecewaan, kegagalan, bahaya, penderitaan, bahkan ancaman kematian tidak ditujukan pada kita untuk membuat kita bengkok, patah, atau hancur melainkan untuk membuat kita tertancap makin dalam dan kuat pada Kristus Yesus, Tuhan kita.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
(Roma 8:28)

Allah tulut bekerja dalam segala sesuatu, dan seringkali “segala sesuatu” itu mencakup berbagai-bagai penderitaan dan pergumulan yang harus kita hadapi. Kata “untuk” di dalam ayat ini merupakan kata yang sangat penting sebab oleh kata “untuk” kita memahami dan diyakinkan bahwa semua penderitaan dan pergumulan itu datang kepada kita bukan secara kebetulan, melainkan karena satu tujuan yang baik dan spesifik dari Allah. Tujuan apakah itu? Ya, untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Allah, yakni mereka yang dipanggil sesuai rencana Allah, oleh kuasa Roh Kudus, untuk diselamatkan oleh Kristus, tinggal di dalam Kristus, ikut setiap langkah Kristus, dan menjadi serupa dengan Kristus.

Tidak ada satupun penderitaan yang Allah biarkan masuk ke dalam hidup kita tanpa terlebih dahulu “disaring” oleh hikmat-Nya yang selalu berfokus untuk kemuliaan-Nya serta untuk kebaikan dan kebahagiaan kita. Oleh sebab itu, janganlah kita takut akan apapun. Yang Mahakuasa adalah Bapa kita. Ia adalah Tukang Kayu yang Handal. Dan Kristus adalah Batu Karang yang pada-Nya kita tertancap oleh setiap hempasan yang diizinkan oleh Allah itu.

Semakin banyak tantangan yang kita alami, semakin dalam kita tertancap pada Kristus. Semakin dalam kita tertancap pada Kristus, semakin kita dekat dan menyatu dengan-Nya. Semakin kita dekat dan menyatu dengan Kristus, semakin teguh jaya kita berdiri dan semakin kekuatan-Nya yang tiada batas itu mengalir dan tercurah kepada kita.

keller

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati
dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
(Matius 11:28-29)

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
(2 Korintus 12:9)

Amin