Tuhanlah Pendiri dan Penyatu

Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah,
sia-sialah usaha orang yang membangunnya;
jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota,
sia-sialah pengawal berjaga-jaga.
(Mazmur 127:1)

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku
dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.
(Matius 12:30)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jika bukan Allah yang membangun, bangunan itu tidak akan jadi.
Jika bukan Allah yang menjaga, kota itu tidak akan aman dan terlindungi.
Jika bukan Kristus yang menyertai dan menemani, perkumpulan apapun akan tercerai berai.

Marilah kita yang hendak membangun suatu perkumpulan antarsaudara-saudari seiman, entahkah itu sebuah rumah tangga, keluarga besar, hubungan percintaan, persekutuan, persahabatan, atau kerja sama usaha, marilah kita membangun, mengawal, dan mengumpulkan hasil-hasilnya bersama-sama dengan Tuhan. Di luar Dia kita akan menjadi lemah, runtuh, bahkan tercerai berai tetapi di dalam Dia kita akan menyatu dengan erat oleh kuasa Roh Kudus (Efesus 4:3) yang mengerjakan di antara kita kasih yang menyempurnakan (Kolose 3:14).


Segala kemuliaan hanyalah bagi Tuhan kita. Amin.

Satu-satunya Jalan

Petrus berkata:
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
(Kisah Para Rasul 4:12)

Yohanes berkata:
“Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”
(Yohanes 1:16-17)

Paulus berkata:
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka… Dia (Yesus) yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya (Allah) menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
(2 Korintus 5:19 & 21, dengan penambahan keterangan)

Allah berfirman:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
(Matius 3:17)

Tuhan Yesus Kristus sendiri berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
(Yohanes 14:16)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Inilah inti sari dari iman Kristen: Kebenaran dan keselamatan tidak berada pada satu daerah tertentu, atau satu bulan tertentu, atau satu bentuk ibadah tertentu. Kebenaran dan keselamatan hanya berada dengan berlimpah-limpah di dalam satu Pribadi, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17). Jika seseorang ingin benar dan berkenan di hadapan Allah, ia tidak perlu pergi ke suatu tanah suci tertentu  atau menanti suatu waktu tertentu untuk menjalankan suatu ibadah yang tertentu. Inilah yang perlu Ia lakukan: pergi kepada Yesus Kristus. Kepada Yesuslah Allah berkenan dan barangsiapa ada di dalam Yesus, iapun akan dikenan oleh Allah.

Yesuslah satu-satunya Jalan (Yohanes 14:6). Inilah inti dari Injil Yesus Kristus.

Segala kemuliaan hanyalah bagi nama-Nya. Amin.

Makanan untuk Hidup

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
(Matius 6:11)

Tuhan Yesus mengajar kita untuk senantiasa berdoa kepada Allah dan meminta agar Dia memberi kita makanan yang cukup setiap harinya sehingga kita dapat hidup dan beroleh kekuatan serta kesehatan.

Namun, Tuhan yang sama juga mengatakan,

“Ada tertulis:
Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
(Matius 4:4)

Sama seperti manusia membutuhkan makanan untuk kehidupan, kekuatan, dan kesehatan jasmaninya. Manusia juga membutuhkan firman Allah untuk kehidupan, kekuatan, dan kesehatan rohaninya.

Firman adalah makanan bagi jiwa. Tanpa makanan, manusia tidak akan hidup. Tanpa firman, manusia tidak akan benar-benar hidup.

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah kita. Amin.

Apa Makna Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Surga?

Pertanyaan:
Apa makna dari Hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus bagi orang Kristen?

Jawaban:
Dibandingkan hari-hari besar lain seperti Natal, Jumat Agung, dan Paskah, Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus mendapat perhatian yang relatif lebih sedikit dari banyak orang Kristen. Padahal, hari ini merupakan hari yang mengandung makna dan signifikansi yang sangat penting bagi orang-orang percaya.

Berikut adalah beberapa makna penting dari Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke sorga:

1. Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke sorga merupakan pembuktian bahwa Ia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Berdaulat atas seisi bumi dan sorga.

Ketika Tuhan Yesus hendak naik ke sorga, Ia berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18). Hal ini tidak berarti bahwa Yesus bukanlah Tuhan yang sejati atau Ia hanya menerima kuasa atas sorga dan bumi dari Allah Bapa. Sebagai Sang Anak Allah dan Firman Allah yang kekal, Ia adalah pemilik segala sesuatu bersama-sama dengan Allah Bapa (Yohanes 16:15, Yohanes 17:5). Namun, sebagai seorang Yesus Kristus, yang adalah Sang Mesias, Sang Hamba Allah, dan Sang Anak Manusia, Ia menerima kekuasaan dan kedaulatan tersebut dari Allah setelah Ia menunaikan tugas pelayanan-Nya di bumi. Adalah Hari Kenaikan Tuhan ke sorga yang menjadi momentum dikumandangkannya penyerahan kekuasaan tersebut oleh Tuhan Yesus.

Tidak ada satupun makhluk ciptaan, entahkah itu malaikat ataupun nabi, yang memiliki hikmat dan kuasa yang cukup besar untuk mengemban kuasa dan kedaulatan tidak hanya atas seisi bumi tetapi juga seisi sorga. Tuhan Yesus bukanlah ciptaan; Ia adalah Maha Pencipta (Yohanes 1:1-3). Dan Ia tidak hanya menciptakan segala sesuatu, Ia juga menguasai dan menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3). Inilah kebenaran yang ditegaskan oleh Alkitab.

2. Hari Kenaikan Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa Ia pergi ke sorga untuk menyediakan tempat bagi kita.

Tuhan Yesus menjanjikan suatu tempat peristirahatan bagi umat-Nya ketika Ia berkata, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:2-3)

3. Hari Kenaikan Tuhan Yesus merupakan permulaan dari pelayanan-Nya yang baru yakni sebagai Imam Besar Agung dan sebagai Pembela bagi umat-Nya.

Tuhan Yesus tidak hanya berkarya sebagai Juru Selamat dan Penebus Dosa bagi orang-orang percaya. Setelah kenaikan-Nya ke sorga, Ia mengemban tugas pelayanan yang baru sebagai Imam Besar Agung (Ibrani 4:14-16) yang menjadi perantara antara kita dengan Allah. Tanpa melalui Yesus, tidak ada satupun orang dapat datang kepada Allah yang Maha Kudus (Yohanes 14:6, 1 Timotius 2:5). Sebaliknya, melalui Tuhan Yesus Kristus, kita dapat dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia Allah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibrani 4:16).

Tidak hanya itu, Ia juga menjadi Pembela bagi kita (Roma 8:34, 1 Yohanes 2:1) di hadapan Allah. Dengan demikian, ketika kita jatuh ke dalam dosa, “Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita.” (1 Yohanes 2:2). Allah tidak memberkati orang-orang berdosa dengan berkat-berkat rohani yang jiwa manusia butuhkan. Firman Tuhan berkali-kali menegaskan hal ini. Namun sebaliknya, Ia mengikat diri-Nya dengan janji yang kekal untuk senantiasa memberkati orang-orang yang benar dengan berkat-berkat sorgawi untuk menyelamatkan dan membangun jiwa mereka. Keberadaan Tuhan Yesus Kristus sebagai Pembela kita di hadapan Allah Bapa menjadikan kita senantiasa benar di hadapan Allah. Dengan demikian, Allah akan senantiasa memberkati kita (Roma 8:28) sebab di mata-Nya, kita adalah orang-orang benar oleh karena Tuhan Yesus Kristus.

4. Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus menjadi penegasan kembali bahwa Roh Kudus akan dicurahkan.

Sebelum naik ke sorga, Tuhan berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Pencurahan Roh Kudus merupakan anugerah yang tiada tara bagi kita yang bahkan dapat disejajarkan dengan karya penebusan dosa oleh Tuhan Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus, setiap orang percaya diperlengkapi dengan hikmat dan kuasa supaya mereka dapat menghidupi identitas mereka yang sejati, yaitu sebagai “saksi Kristus di Yerusalem, dan di seluruh Yudea, dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.”

5. Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus merupakan hari ditugaskannya Amanat Agung kepada setiap orang percaya.

Setelah menegaskan bahwa kepada-Nya telah diberikan segala kuasa baik di sorga maupun di bumi, Tuhan Yesus memberi tugas kepada murid-muridnya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28: 19-20).

Ini merupakan panggilan paling utama bagi setiap orang yang telah diselamatkan di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Tugas setiap orang Kristen adalah untuk memberitakan Injil damai sejahtera Kristus kepada segala bangsa, untuk membawa jiwa-jiwa untuk menjadi murid-Nya, untuk membaptis mereka di dalam nama Allah Tritunggal dan mengundang mereka menjadi satu tubuh dan satu keluarga di dalam Gereja Kristus, serta untuk memberitakan dan mengajarkan kebenaran Kristus yang nyata dari setiap firman-Nya. Ini merupakan tugas yang sangat besar dan tidak mudah. Faktanya, tak satupun manusia dapat menunaikan amanat tersebut hanya dengan kuasa duniawi. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mencurahkan Roh Kudus yang akan tinggal dan diam di dalam setiap umat-Nya sehingga mereka diperlengkapi dan dimampukan dengan kuasa sorgawi untuk menunaikan segala tugas mulia tersebut.

6. Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus merupakan hari di mana Tuhan Yesus berjanji bahwa Ia akan selalu menyertai umat-Nya hingga akhir zaman.

Tuhan Yesus tidak hanya menganugerahkan Roh Kudus kepada setiap orang percaya, Ia juga berjanji kepada setiap kita “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20).

Semua makna di atas memiliki signifikansi yang sangat besar yang seandainya setiap orang Kristen mau untuk terus menerus merenungkannya di dalam iman dan kerendahan hati, maka mereka tidak akan takut atau kuatir melihat dunia yang semakin hari semakin penuh dengan berbagai hal yang mengerikan ini. Kuasa Iblis dan kerajaanya memang mengerikan dan mereka tidak henti-hentinya berusaha untuk merusak dunia ciptaan Allah dan menghancurkan iman setiap orang percaya. Namun, seandainya kita memahami arti dari Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dan senantiasa merenungkannya, maka kita akan dikuatkan dan kita akan sadar bahwa semua kengerian dan kejahatan Iblis sama sekali tidak dapat disetarakan dengan kuasa dan kedaulatan Tuhan Yesus Kristus serta kedahsyatan Roh Kudus yang dapat dinyatakan melalui hidup setiap orang Kristen.

Biarlah kita terus menerus beriman kepada Tuhan Yesus Kristus oleh tuntunan Roh Kudus yang telah dicurahkan kepada kita dan biarlah doa Rasul Paulus ini menjadi nyata dalam hidup kita:

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” (Efesus 3:18-21)

Untuk referensi lain:
https://www.gotquestions.org/ascension-Jesus-Christ.html

Menjadi Saksi Kristus

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,
dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem
dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
(Kisah Para Rasul 1:8)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Roh Kudus dicurahkan tidak untuk menjadikan kita sakti, melainkan untuk menjadikan kita saksi.

Adalah mudah bagi kita untuk bercerita tentang kesuksesan-kesuksesan hidup kita, atau tentang anak-anak kita, atau tentang hal-hal lain. Bahkan, adalah mudah bagi kita untuk bercerita tentang kejelekan orang lain. Namun, mengapa begitu sulit bagi kita untuk bercerita tentang Tuhan Yesus Kristus dan tentang kebaikan-Nya di dalam hidup kita?

~ Bapak Penginjil Winarto ~

Orang Kristen yang Sejati

(Geerhardus Johannes Vos, 1862-1949)

Menjadi seorang Kristen berarti menjalani hidup tidak hanya dalam ketaatan kepada Allah, tidak hanya dalam kebergantungan terhadap Allah, bahkan tidak hanya hidup demi Allah;

menjadi seorang Kristen berarti berelasi dengan Allah di dalam persekutuan yang sadar dan timbal-balik, menjadi sehati sepikir dengan Dia di dalam pemikiran, kehendak, dan tindakan, serta menerima sesuatu dari-Nya dan mempersembahkan kembali sesuatu kepada-Nya di dalam interaksi kuasa rohani yang tidak pernah pernah berhenti.

Pertanyaan ini, walaupun tajam, merupakan pertanyaan yang sangat sederhana:

Apakah kita mengasihi Allah demi Dia sendiri dan menemukan di dalam kasih ini inspirasi untuk melayani, ataukah kita merendahkan-Nya hanya sebagai mitra yang memiliki pengaruh yang di bawah naungan-Nya kita dapat mengerjakan seluruh aktivitas kita dengan lebih baik untuk melayani dunia?

~ Geerhardus Johannes Vos, Bapak Teologi Alkitabiah Reformed ~

Musuh Kita yang Sebenarnya

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah,
supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa,
melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,
melawan roh-roh jahat di udara.
(Efesus 6:11-12)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kau terlibat di dalam sebuah peperangan!
Kau ada di dalam sebuah peperangan!

Ini adalah medan perang. Perhatikanlah, sumber masalah yang sebenarnya adalah si Musuh, bukan budaya kita. Kita tidak sedang berperang melawan budaya masyarakat kita. Lupakanlah culture war!

Dengar! Ketika gereja tidak dapat melihat siapa musuh yang sesungguhnya, maka ia pasti akan memerangi musuh lain yang sejatinya bukanlah musuh yang sebenarnya.

Adalah seorang D. E. Hoste yang merupakan penerus dari Hudson Taylor, Direktur Jendral dari Overseas Missionary Fellowship, China Inland Mission. Dan ia berkata, “Saya tidak akan mengutus seorang pria atau wanita ke dalam ladang misi, kecuali ia telah belajar untuk bergulat melawan si Jahat, sebab jika mereka belum pernah belajar untuk bergumul dengan si Jahat, mereka akan bertarung melawan teman mereka sesama misionaris.”

~ Alistair Begg ~

Dixon Edward Hoste

Link khotbah Alistair Begg:
https://www.youtube.com/watch?v=9ZCdzYp2HlI&t=3s

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saudara-saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan kita, Yesus Kristus.

Akhir-akhir ini, ada begitu banyak kabar yang memberitakan tentang ketidakadilan, diskriminasi, kejahatan, bahkan penganiayaan yang ditujukan kepada saudara-saudara kita di dalam Kristus, hanya karena iman yang mereka peluk. Kejahatan-kejahatan itu dapat timbul dari segala arah, mulai dari teman sepermainan, guru dan dosen, rekan-rekan kerja, atasan, anggota keluarga, kelompok radikal garis keras, teroris, bahkan pemerintah. Hal ini dapat kita lihat terjadi di seluruh dunia dan sedikit banyak kita juga mengalami ketidakadilan tersebut sejak kecil.

Melihat dan merasakan semua itu, tidak sedikit dari kita akan bangkit berdiri untuk melakukan perlawanan dan pembalasan. Saya yakin firman Tuhan tidak melarang kita untuk melakukan perlawanan terhadap tindak kejahatan. Namun, firman Tuhan juga mencegah kita untuk melakukan perlawanan dengan salah dan yang berpotensi membuat kita berdosa. Firman Tuhan tidak melarang kita melawan, bahkan mendorong kita untuk berperang. Namun, firman Tuhan memberi tahu kita semua bahwa musuh kita yang sejati bukanlah “darah dan daging”, yang artinya adalah sesama kita manusia, melainkan si “pemerintah-pemerintah”, si “penguasa-penguasa” , si “penghulu-penghulu dunia yang gelap ini”, dan “roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:11-12).

Siapakah mereka yang Paulus sebut itu? Ya, mereka semua adalah Iblis yang telah menguasai dunia ini (1 Yohanes 5:19), tentunya sejauh yang Allah izinkan. Merekalah musuh kita yang sejati. Merekalah dalang di balik semua ketidakadilan dan kejahatan yang kita rasakan. Merekalah yang membutakan mata hati orang-orang akan kebenaran (2 Korintus 4:4) dan mempengaruhi pikiran orang-orang untuk mengikuti jalan-jalan mereka (Efesus 2:1-2).  Oleh sebab itu, sembari kita melakukan perlawanan terhadap orang-orang jahat dan tidak adil, yang mana semua itu harus kita lakukan dengan lemah lembut, penuh hormat, dan hati nurani yang murni (1 Petrus 3:15-16), kita juga harus ingat bahwa serangan utama kita haruslah ditujukan kepada Kerajaan Iblis.

Dan bagaimanakah kita melawan Iblis? Firman Tuhan memberi kita setidaknya tiga arahan ini:

  • Jangan berlari dari Iblis, kita harus melawannya dan ia yang akan berlari dari kita (Yakobus 4:7)
  • Kita berperang melawan Iblis dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani (Efesus 6:10-20). Tanpa semua persenjataan itu, niscaya kita kalah.
  • Kita dapat mengalahkan Iblis dengan darah Anak Domba dan dengan perkataan kesaksian kita di hadapan orang-orang tentang Yesus Kristus dan keselamatan yang ada di dalam Dia (Wahyu 12:11)

Biarlah ini menjadi perenungan kita untuk tetap berdiri teguh di zaman ini dan di dalam berperang melawan kejahatan. Biarlah kita seperti Paulus yang berkata, “Aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya (1 Korintus 9:26-27)”, supaya kita tidak salah memukul dan malah menyakiti sesama kita manusia, melainkan menyerang secara efektif Iblis dan Kerajaannya.

Segala kemuliaan hanyalah bagi Allah kita. Amin.